Cari Blog Ini

Minggu, 24 September 2017

Wawancara dengan Gabriel


Pagi itu, di suatu Minggu di bulan Agustus 2014 di tengah teriknya Macondo, aku berkesempatan untuk mewawancarai Gabriel, setelah menunggu beberapa lama. Tidaklah sulit untuk menemukan rumah di tepi sungai itu, karena disana hanya ada beberapa rumah.


Rumahnya bercat putih bersih, dengan namanya tertera di pintu depan. Di dalam rumah, aku duduk di kursi kayu dekat jendela. Aku melihat sekeliling ruangan itu dan melihat bahwa kursi-kursi dan perabot lainnya diberi label dengan huruf tinta dengan nama benda tersebut: kursi, meja, pintu, jendela dan sebagainya. Tampaknya pemberian label nama itu diwariskan sejak masa wabah Hilang Memori itu.

Wabah itu menyebabkan semua penduduk Macondo kehilangan memori begitu saja. Mereka lupa nama-nama bermacam benda di kehidupan mereka, bahkan nama-nama barang sepele sehari-hari, seperti kursi, meja, pintu, jendela, semua mereka lupa, sehingga harus memberi label nama benda-benda itu dengan nama masing-masing, supaya bisa diingat. Label-label itu dibiarkan melekat di perabotan di rumah ini sampai saat ini.

Ketika ditanya mengenai hal ini, Gabriel menghela napas dan bercerita:

“Wabah itu menyebabkan semua orang kehilangan memori, semua tanpa kecuali, tua dan muda, kolonel dan prajurit, kaya dan miskin, hakim dan narapidana, mereka semunya hilang memori. Mereka tidak dapat mengingat bahkan nama-nama barang sepele sehari-hari, seperti meja, kursi, pintu, jendela dan sebagainya. Binatang juga harus diberi label dengan nama masing-masing: sapi, anjing, keledai, dengan mengalungkan label itu di leher masing-masing, jika tidak orang tidak bisa mengingat namanya.

Wabah yang aneh yang belum pernah menyerang sebelumnya dalam sejarah. Demikian hal nya masa kini, ketika hal-hal tidak berfungsi sesuai namanya lagi, orang akan lupa akan namanya. Kalau kursi tidak lagi dipakai sebagai tempat duduk, orang akan lupa bahwa itu adalah kursi dan lupa bahwa nama barang itu adalah kursi. Kalau pintu-pintu tidak bisa dibuka lagi, ia akan berhenti dinamai pintu. Ketika sungai kehabisan air, ia berhenti sebagai sungai. Rumah yang tidak lagi menjadi tempat tinggal yang aman dan damai, berhenti dinamai rumah. Nama-nama kemudian menghilang dan terlupakan semenjak kehilangan artinya.

Demikian pula, ketika manusia tidak lagi befungsi sesuai namanya, orang-orang akan lupa namanya dan tidak memakainya lagi. Orangtua, guru, penulis yang tidak lagi bertindak sebagai orangtua, guru, penulis, tidak lagi akan dinamai demikian, lalu namanya akan kehilangan arti dan terhapus dari memori manusia selamanya. Ketika penulis tidak lagi menulis cerita-cerita yang menarik, maka nama penulis tidak akan lagi dianggap sebagai mana mestinya, lalu lambat laun akan hilang dan terlupakan.

Ketika wartawan tidak lagi menulis kebenaran, maka nama wartawan kehilangan arti, lalu nama itu tidak lagi dipakai. Sesungguhnya, pada awal mulanya, nama-nama diberikan sesuai relasinya dengan obyek. Nama memanggul relasi dengan obyeknya dan menjadikan fungsi obyek itu sesuai namanya. Dengan memakai nama wartawan, menuntutnya menulis kebenaran. Kalau tidak, orang itu tidak lagi dipanggil wartawan, sehingga orang akan melupakannnya, lalu tidak lagi membaca tulisannya. Masyarakat akan melupakannya dan tidak lagi membaca tulisannya.

Ketika semua wartawan tidak lagi menulis kebenaran, maka nama wartawan akan kehilangan artinya, dan lambat laun menghilang dari dunia dan terlupakan. Begitulah wabah yang mengancam kita kini, terhapuskannya nama dari memori, karena realitas tidak lagi sesuai dengan namanya, sehingga realitas terhapus beserta namanya.”


Aku berkata:

“ Di Seratus Tahun, tampaknya wabah Hilang Memori itu menyerang kembali beberapa generasi kemudian. Masa kini, orang-orang Macondo telah hilang memori akan hal yang mengerikan di masa lalu. Tidak seorangpun dapat mengingat pembantaian menghebohkan di stasiun kereta api. Sejarahnya terlupakan sama sekali, terhapus dari realitas.”


Gabriel:

“ Betul, orang tidak ingat sama sekali pembantaian 3,000 orang lebih di hari Jum’at di muka stasiun kereta api. Mereka adalah buruh perkebunan pisang, dengan wanita dan anak-anak menunggu kereta api yang tak akan kunjung datang. Setelah menunggu lama sejak pagi buta hingga siang hari, jelaslah mereka menjadi lelah dan frustasi ketika mendengar kabar angin bahwa kereta akan ditunda hingga ke esokan harinya.

Khawatir akan kemarahan kelompok ini akan mempengaruhi mogok kerja para buruh perkebunan pisang dan menjadikan mereka beringas, kapten tentara mengumumkan agar kerumunan membubarkan diri selekasnya dalam waktu lima menit. Dia telah menerima kewenangan dari jenderal Carlos untuk menembak guna membubarkan kerumunan itu. Tapi semua mereka tidak bergerak, mereka tidak ada yang menyangka bahwa tentara akan demikian tega menembak mereka.

Pada saat satu menit melampaui batas waktu lima menit yang diberi, empat belas senjata mesin mulai menembaki mereka. Lebih dari 3,000 orang terbunuh, mayat-mayat ditimbun di dalam kereta api, seperti halnya menimbun onggokan pisang untuk dikirim dengan kereta api itu.

Seorang anak yang diselamatkan oleh Jose datang untuk bercerita tentang pembantaian itu bertahun-tahun kemudian, namun tak seorangpun mempercayainya. Mereka bilang tidak seorangpun mati disana. Mereka tidak ingat dan menyanggah hal itu terjadi, mengubur sejarah seluruhnya, bak ke 3,000 orang lebih yang dibunuh, dilempar ke tengah lautan.

Bahkan adik Jose membantahnya, kisah resminya adalah bahwa para buruh perkebunan meninggalkan stasiun kereta api dan pulang ke rumah dalam rombongan dengan damai…..”


Gabriel terdiam sejenak dan menghirup kopinya yang tak bergula, yang mengingatkan aku akan keluarga Beundias yang juga suka minum kopi tak bergula.



Lalu aku bertanya:

”Di Seratus Tahun, anda menggabungkan dunia magis dengan realitas dunia nyata, dari mana datangnya ide tersebut? ”


Gabriel:

” Kisah itu ditulis dengan fenomena realitas magis, di dalam kejadian yang bagai mimpi, namun diceritakan secara meyakinkan, seperti gaya nenek saya bercerita ketika masa kanak-kanak ku dulu. Ia bisa berkisah mengenai hal-hal magis, supra natural dan fantastis dengan wajah dan nada datar, sehingga terdengar sungguh-sungguh nyata.”


Aku berkata:

” Narasi Seratus Tahun memang terdengar seperti suara seorang narrator di sebuah filem Disney, suara yang meyakinkan kita dan membuat kita terlena dalam buaiannya seakan-akan kita berada di dalam cerita itu. Cerita itu menjadi dunia nyata bagi para pemirsa.”


Gabriel:

“ Sebuah cerita adalah persepsi penulis tentang dunia dan ditanggapi oleh pembaca dengan memberi persepsi terhadapnya, dengan demikian terjadilah interaksi antara penulis dan pembaca terhapap realitas. Cerita itu membentuk persepsi kita akan dunia, realitas adalah sebuah refleksi.

Dunia magis di satu sisi adalah refleksi dari fantasi, harapan dan kegelisahan di dalam dunia nyata kita, dan melalui interaksi antara penulis dan pembaca dunia magis cerita itu menjelma menjadi realitas. Dengan bercerita dari generasi ke generasi, ia akan menjadi bagian dari kehidupan kita, bagian dari kebudayaan kita.”


Aku berkata:

“ Di dalam Seratus Tahun, kematian sangat tragis, kehudidupan penuh skandal, realitas dibumbui fenomena magis, dan tahyul menjadi realitas.”


Gabriel:

“Setiap orang punya harapan, kegusaran, dan kepercayaan yang dipanggul sejak masa kanak-kanak menuju dewasa. Bagi mereka, dunia magis dan dunia impian masa kecil adalah realitas, itu adalah dunia sebagaimana seorang anak memandangnya. Dunia itu kemudian dipanggul ke dalam dunia dewasanya dalam perspektif yang berbeda.

Cerita itu berkisah tentang yang lemah, yang bersedih dan yang kuat, kupu-kupu kuning dengan si Cantik Remedios, kegelapan masa itu, wabah Hilang Memori, peramal nasib, serta tentang hal tahyul yang menjadi realitas ketika bayinya terlahir dengan buntut babi. Elemen-elemen tersebut adalah harapan kita, kegusaran, dan kepercayaan, bagian dari dunia kita, realitas kita.”


Aku berkata:

“ Seratus Tahun dengan jalur cerita yang kompleks, dramatis dan penuh skandal, mengingatkan saya akan telenovela- telenovela yang sangat popular di negeri ini, Amerika Latin dan bahkan di seluruh dunia, karena telenovela-telenovela tersebut penuh dengan intrik, skandal, perkelahian, pertualangan, pesta dan penderitaan manusia.

Seratus Tahun juga melibatkan banyak elemen-elemen ini, tragedy-tragedi diturunkan dari generasi ke generasi, dunia penuh fantasi, kejutan, intrik, dan pertualangan, itu semua dapat memubuat Seratus Tahun menjadi serial telenovela yang sangat menarik.”



Gabriel:

“ Memang benar telenovela sangatlah populer karena ia menjadi bagian dari hidup kita, bagian dari kebudayaan kita. Fantasi setiap orang, harapan dan kegusaran membentuk kehidupan nyata kita dan ini tercerminkan di dalam telenovela. Masyarakat berminat akan intrik-intrik tersebut, skandal, tragedy dan pertualangan karena mereka bisa menhubungkannya dengan dunia mereka, hal itu berada dalam dunia mereka. Hal itu menjadi populer dan menjadi dunia kita, realitas kita.”


Aku bertanya:

“ Lalu apakah anda bersedia Seratus Tahun dibuat menjadi telenovela?”


Gabriel:

“ Tidak juga, telenovela dan filem adalah dunia visual yang tidaklah dapat mewakili novel itu sepenuhnya. Demikian pula sebaliknya sebuah novel tidak selalu dapat mewakili dunia visual.”


Aku berkata:

“ Ada bagian-bagian dari cerita itu yang bisa ditayangkan dengan menakjubkan dan dramatis, semisalnya penampakan kupu-kupu kuning itu……”


Gabriel:

“ Ya, kupu-kupu nya Meme dan Muricio…”


“ Dan, perkawinan Aureliano dengan Remedios…”


“Dan, pembunuhan massal di stasiun kereta api, yang mengingatkan kita akan kejadian- kejadian yang kita hadapi sesungguhnya……”


“Pada hari Sofia menemukan colonel yang sudah mati, tayangan dengan burung-burung pemakan bangkai…..”


“ Kenaikan si Cantik Remedios ke surga…”


“Bayi yang dilahirkan dengan buntut babi…”



Gabriel:

“ Hal-hal demikian akan fantastis untuk ditayangkan, saya bisa membayangkan, akan tetapi beberapa bagian akan suilt, semisalnya pemulaan novel tersebut: Bertahun-tahun kemudian, ketika ia menghadapi regu penembak, Kolonel Aureliano Buendia mengenang suatu siang ketika ayahnya membawa nya untuk menemukan es.”


Aku berkata: “Dan juga, ketika sang kolonel menyadari sesaat sebelum ia ditembak bahwa ia seharusnya menganjurkan menamai anaknya Remedios sebelum ia gugur dikandungan, seandainya bayi itu perempuan ….. “


“ Dan rasa bersalah Amaranta akan kematian Remedios….”


“ Kesedihan Pietro ketika Rebecca ingin menikah dengan Jose…”


“Kesedihan Pietro ketika Amaranta menolak menikah dengannya…”


“ Ursula meratapi nasib anak-anaknya….”


“ Hari-hari kelam sang kolonel seusai perang….”


“ Selama Seratus Tahun ……”




Ini adalah wawancara imajiner mengenang: Gabriel Garcia Marquez