Cari Blog Ini

Jumat, 24 November 2017

Wawancara dengan Vincent


Pada hari itu, dengan kereta api lambat, aku mengikuti jejak Vincent dari Paris ke Arles di Selatan Perancis, mencari cahaya, warna dan kehangatan di Provence.

Perjalan itu adalah sebuah pesta buat mata, melihat perkampungan indah, dan kota-kota, pemandangan penuh warna. Vincent mencintai tempat ini, pemandangannya, cahayanya dan orang-orangnya.

Langkah pertama baginya adalah untuk menemukan sebuah rumah dan lalu menyiapkan studio di situ. Ia menemukannya di sebuah rumah kecil bewarna kuning di Place Lamatine nomor 2 untuk 15 francs per bulan.

Aku menemukan rumah kuning itu dengan daun jendela hijau, yang dihuni Vincent dan Paul untuk membuat lukisan-lukisan mereka.

Ketika aku bertemu Vincent, ia kelihatan segar dan berseri, tampaknya cahaya matahari  sehat di Arles membuatnya demikian.


Aku:

“Kami melihat bahwa lukisan-lukisan anda belakangan ini diliputi berbagai warna cerah, meriah, cukup berbeda dari warna gelap suram lukisan-lukisan yang anda buat beberapa tahun yang lalu.”


Vincent:

“Ya betul, kesegaran udara di Arles sini mempengaruhi bagaimana saya melihat kehidupan, orang-orang, alam, sinar matahari, pemandangan yang indah, ladang gandum yang mengeriting, bunga matahari yang bergetar, langit biru yang berombak, semua hal itu tertangkap dalam lukisan-lukisan saya. Lihatlah rumah kuning saya, kamar tidur saya yang biru hijau, langit biru, bunga matahari kuning keemasan, buah apel merah, semuanya itu menarik buat saya.

Terima kasih ke Theo, adik saya, yang menyarankan saya peindah ke Arles sini untuk mengerjakan lukisan-lukisan saya. Dia memberi saran yang baik.”


Aku:

“Jadi anda sudah meninggalkan masa gelap suram di Bornage ?”


Vincent:

 “Walaupun saya sudah meninggalkan Borinage, tempat itu istimewa bagi saya. Lukisan-lukisan yang saya buat di sana gelap dan suram, tapi itu adalah refleksi sebenarnya dari kehidupan pekerja tambang batubara. Warna gelap merefleksikan tambang batubara, merefleksikan orang-orang  miskin, yang menderita, yang lapar , perjuangan pekerja tambang sehari-hari. Mereka bejalan di kegelapan, di pusat bumi, di tambang hitam batubara.

Tambang- tambang ini adalah pemandangan yang menyolok mata, 300 meter dibawah muka tanah, kemana setiap hari kelompok-kelompok pekerja turun kedalam, yang layak mengungkit rasa hormat dan simpati kita. Pekerja tambang adalah tipe spesial Borinage, baginya sinar matahari tidak ada, dan kecuali di hari Minggu ia tidak pernah melihat sinar matahari.

Dia bekerja keras di dekat lampu yang cahanya pucat dan redup, di dalam terowongan sempit, badannya tertekuk dua lipat dan kadang-kadang dia harus merangkak sepanjang terowongan itu; dia bekerja untuk mendulang dari usus bumi zat mineral yang kita ketahui banyak kegunaannya; dia bekerja di tengah ribuan bahaya yang selalu mengancam.

Suatu hari, para pekerja tambang pulang ke rumah di sore hari  sebelum gelap merupakan satu-satunya pemandangan di tengah keputihan salju. Orang-orang ini kehitaman saat muncul ke terang hari dari dalam tambang gelap, tampak seperti sapu-sapu cerobong asap.

Tempat tinggal mereka biasanya kecil dan lebih patut disebut pondok; tersebar sepanjang jalan-jalan yang terbenam, di hutan-hutan dan di lereng bukit. Di sana-sini kita masih bisa melihat atap–atap ditutupi lumut, dan kala petang hari ada cahaya bersahabat bersinar dari celah-celah jendela-jendala berbingkai kecil itu.”


Aku:

 “Saya paham, salah satu lukisan anda yang paling menyolok adalah “Para Pemakan Kentang”. Petani-petani makan di ruangan gelap dan suram, wajah dan tangan mereka gelap dan kasar mengekspresikan sulitnya kehidupan mereka.”


Vincent:

 “ Itu adalah lukisan yang akan menarik di dalam emas- saya pasti itu. Tapi akan sama menariknya jika dipajang dinding berkertas sewarna bayangan kelam dari jagung matang.

Saya mencoba mengemukakan ide bahwa orang-orang yang makan kentang di dekat cahaya lampu telah menggali bumi dengan tangannya sendiri, tangan yang sama yang mereka masukkan ke piring, yang menyarankan pekerja kasar dan- makanan yang dihasilkan secara jujur.

Saya ingin menyarankan sebuah gambar kehidupan yang sangat berbeda dengan kehidupan kita, orang-orang beradab. Jadi saya tidak ingin orang-orang mengagumi atau menyetujui lukisan ini tanpa mengetahui sebabnya.

Saya telah menyimpan benang kain selama musim dingin dan mencari corak yang pasti – dan walaupun sekarang ia adalah kain yang keliatannya kasar, benang-benangnya adalah benang-benah terpilih dengan hati-hati menurut suatu aturan. Dan mungkin ia telah menjadi lukisan petani yang orisinil. Saya tahu demikian adanya. Tapi bagi orang yang memilih melihat para petaninya yang keliatan halus mulus, itu adalah yang paling sesuai bagi dirinya sendiri.

Secara pribadi, saya yakin bahwa dalam jangka panjang orang akan mendapat hasil yang lebih baik dengan melukiskan mereka dengan kekasaran mereka, daripada mengemasinya dengan kemanisan masa kini. Seorang gadis petani dengan baju biru bertambal dan berdebu dan korset yang telah memudar dengan cuaca, angin dan panas matahari, kelihatan lebih menarik - menurut  saya – dari pada seorang wanita yang rapi.  Tapi kalau ia memakai pakaian wanita yang rapi, maka keasliannya hilang. Seorang petani dengan pakaian sekenanya bekerja di ladang, keliatan lebih baik dari pada ketika ia pergi ke gereja di hari Minggu dengan pakaian rapi.

Demikian pula, menurut pendapat saya, adalah tidak patut membuat lukisan kehidupan petani dengan polesan masa kini. Jika lukisan petani berbau daging kering,  asap , uap kentang, baiklah-  itu bukannya tidak sehat – kalau kandang berbau sampah kotoran hewan – baiklah, begitulah keadaan kandang hewan– kalau sebuah ladang bebau jagung matang atau kentang atau pupuk kandang – itu sehat sesungguhnya, terutama buat orang kota. Lukisan kehidupan petani mungkin dapat menolong mereka. Namun lukisan kehidupan petani janganlah ditaburi pewangi.”


Aku:

 “Sepasang Sepatu adalah salah satu lukisan yang sangat impresif yang bahkan mencengangkan Heidegger, seorang filsuf terkenal. Namun tanpa mennimbangkan interpretasi dari Heidegger, lukisan itu benar-benar dapat menceritakan banyak kisah tentang sepatu-sepatu kumal, yang diabaikan, lembab, kedinginan dan kesepian.”


Vincent:

Adalah baik untuk menyukai segala macam hal sebanyak mungkin… saya melihat lukisan-lukisan atau gambar-gambar di pondok-pondok yang paling miskin, di pojok-pojok yang paling kotor. Dan pikiran saya secara spontan tertarik ke hal-hal  seperti ini.

Puisi mengelilingi kita di mana saja, tapi menaruhnya di atas kertas, celakanya, tidak semudah seperti melihatnya. Saya memimpikan lukisan saya, dan saya melukis impian saya. Menjadi spiritual adalah menjadi hormat akan misteri agung kehidupan dan melihat jejak jejari sang Mahakuasa dalam hal-hal yang sangat biasa.


Aku:

Marilah berbicara mengenai lukisan potret yang anda buat. Di dalam lukisan-lukisan itu hampir semua orang tidak tersenyum. Dokter anda tampak seperti sangat gundah, lukisan-lukisan potret  diri anda juga tidak pernah tersenyum.


Vincent (masih tanpa senyum):

“Sepanjang sejarah seni, sangat jarang ditemukan lukisan potret diri yang tersenyum, dan saya tidak ingin merubah tradisi ini. Dr. Gatchet keliatan seperti itu karena saya pikir ia lebih penyakitan dari saya,  tapi saya menemukannya sebagai teman sebenarnya , seperti seorang saudara, sehingga kita keliatan serupa secara fisik dan mental.”


Aku:

“Namun, lukisan potret ibu anda tampak dengan senyum bangga.”


Vincent:

“Saya membuat lukisan potret ibu saya untuk saya sendiri, dari foto hitam putih. Saya tak menyukai foto tak berwarna itu, dan mencoba melukisnya dengan warna harmonis, seperti kenangan saya . Dia memperkenalkan saya ke dunia seni, ia sendiri seorang artis amatir.

Saya buat beberapa karya saya yang saya kira ibu saya paling suka, tentang bunga-bunga dan  latar belakang pemandangan alam.”


Aku:

“Anda melukis beberapa “Bunga Matahari”, yang sangat dikenal orang sebagai karya anda. Adik anda dan Paul menyukainya. Bunga-bunga itu kelihatan kuno namun ceria, warna kuning cerahnya seakan menyebarkan kebahagiaan.”


Vincent:

Itu adalah jenis lukisan yang karakter nya berubah-ubah, dan menjadi semakin kaya semakin lama anda memandangnya. Sebagian besar lukisan saya pada dasarnya hampir berupa jeritan kegelisahan, walapun dalam kekunoannya bunga matahari  dapat melambangkan rasa syukur.


Aku:

“Bagaimana hubungan anda dengan Sien?”


Vincent:

“Saya bertemu dengannya di musim dingin, dia sedang hamil, ditinggalkan lelaki  yang adalah ayah bayi yang dikandungnya. Seorang wanita hamil berjalan di tengah jalan di musim dingin- ia harus mencari suatu penghasilan, dan anda tahu bagaimana. Saya mengambilnya sebagai model lukisan saya dan bekerja dengannya sepanjang musim dingin.  Saya tak mampu membayarnya sepenuhnya, tapi saya tetap membayarnya, jadi sejauh ini, syukur Tuhan, saya dapat menyelamatkan dia dan anaknya dari kelaparan dan kedinginan dengan membagi santapan saya dengannya. “


Aku:

“Mungkin, anda melihatnya sebagai Maria Magdalena?”


Vincent:

“Saya benar-benar lengket dengannya dan dia lengket dengan saya –  ia adalah sobat loyal yang membantu, yang pergi kemana saya pergi – dan yang lama-kelamaan  tak tergantikan. Saya dan dia adalah dua orang tak berbahagia yang menemani masing-masing dan berbagi beban, dan itu adalah yang membuat ketidak-bahagiaan berganti menjadi kebahagiaan, dan yang tak-terpanggulkan menjadi terpanggul.

Pada mulanya saya berniat untuk memberinya dukungan parktis, namun juga membantu saya lekas berdiri.  Tapi lambat laun kami berubah – kami menjadi saling mebutuhkan, sehingga dia dan saya tak terpisahkan – kehidupan kami semakin menyatu, lalu menjadi cinta.”


Aku:

“Dalam “Kepedihan”,  tampaknya anda melukis Sien dengan penampilan alami tanpa riasan.”


Vincent:

“Dia agak bopeng, jadi tidak lagi cantik, namun lekuk tubuhnya sederhana dan bukannya tak lembut. Dan ia berguna bagi saya ya karna ia tidak cantik lagi, tidak muda lagi, tidak lagi centil, dan tidak lagi bodoh. Perasaan diantara Sien dan saya adalah nyata, bukanlah mimpi, adalah nyata. Saya pikir itu adalah rahmat besar bahwa pikiran dan energy saya menjurus ke satu tujuan dan memiliki arah yang pasti.”


Aku:

“Bagaimana proses kelahirkan bayinya?”


Vincent:

“Sien menjalani persalinan yang sangat sulit, namun syukur Tuhan ia selamat dan juga dengan bayi laki-laki yang mungil. Ibunya dan anak perempuan kecilnya dengan saya pergi bersama – anda dapat bayangkan bagaimana gelisahnya kami, tanpa mengetahui apa yang akan  kami dengar ketika kami bertanya kepada petugas rumah sakit tentang keadaannya. Dan bertapa bahagianya kami ketika mendengar: “ Diurus tadi malam… tapi anda jangan bicara terlalu lama dengannya….”  Saya tak mudah melupakan bahwa “anda jangan bicara terlalu lama dengannya”; karena itu berarti “ anda masih bisa bicara dengannya,” ketika hal itu bisa dengan mudah bisa menjadi , “anda tidak pernah bisa bicara dengannya lagi.”

Saya sangat bahagia melihatnya, berbaring dekat jendela yang menghadap taman dengan cahaya matahari  dan kehijauan, sedikit mengantuk karena kelelahan antara tidur dan bangun, lalu ia mendongkakkan kepala dan melihat kami semua. Ia mendongkakkan kepala dengan sangat gembira setelah melihat kami 12 jam setelah kelahiran itu.”


Aku:

“Jadi selain dia, apakah anda banyak punya pacar-pacar lainnya?”


Vincent:

“Dengar, saya memang bukanlah orang baik dimata seorang pendeta. Saya sangat tahu, sejujurnya, pelacur-pelacur adalah tidak baik, tapi saya merasakan sesuatu yang manusiawi dalam mereka yang mencegah keengganan saya untuk bergaul dengan mereka; saya tidak melihat suatu kesalahan besar dalam mereka.  Kalau masyarakat kita murni dan beradab, benar, mereka adalah penggoda nafsu; tapi sekarang, menurut pendapat saya, orang-orang lebih sering menganggap mereka  seperti biarawati-biarawati pengasih.”


Aku:

“Lalu ada seorang pacar anda, yang anda kasi potongan kuping anda, masyalah, apa sebenarnya yang anda perbuat?”


Vincent:

 “Saya pikir saya kehilangan akal setelah berkelahi dengan Paul, sesungguhnya saya tidak bisa ingat.

Saya mengambil silet dan memotong sebagian kuping kiri saya. Polisi menemukan darah di seluruh rumah, dengan karpet belumur darah di studio dan jejak tangan berdarah sepanjang dinding menuju ke atas. Mereka bilang saya mengambil kuping itu dan membungkusnya dengan kertas koran. Dengan topi menutupi luka saya, saya dengan kuping di tangan, pergi menuju suatu “maison de tolerance”, sebuah bordil dekat rumah.

Disitu saya mencari seorang perempuan yang lalu saya beri kuping itu. Saya tidak ingat apa yang saya bilang, namun dia berkata bahwa saya bilang :”Jagalah barang ini dengan hati-hati.”

Setelah saya sembuh, saya datang mengunjunginya. Saya diberi tahu bahwa hal seperti itulah bukanlah suatu yang janggal di sana. Dia terkejut karena hal itu lalu pingsan,  tapi kemudian sudah tenang kembali.”


Aku:

“Apakah anda tidak khawatir bahwa lukisan-lukisan anda tidak laku dijual?”


Vincent:

“Begini, masalahnya adalah bahwa kemungkinan bekerja tergantung dari penjualannya, karena ada ongkos pengeluaran – semakin banyak seseorang bekerja, ongkosnya semakin banyak juga (walaupun tidak selalu demikian halnya). Ketika seseorang tidak bisa menjual barangnya dan tidak punya penghasilan lain, tidaklah mungkin baginya untuk maju.

Saya berterima-kasih kepada Theo, adik saya, yang menunjang hidup dan pekerjaan saya. Saya banyak berhutang kepadanya, namun,  kalau ini berlangsung terus akan memperburuk keadaan saya.

Orang-orang terpandang di sini yang saya tidak kenal sama sekali sering bertanya kepada saya sekurangnya tiga kali seminggu, “Mengapa kamu tidak bisa menjual lukisan-lukisanmu?”

Mungkin lukisan-lukisan saya tidak akan pernah terjual seumur hidupku, mungkin kalau mereka mengerti mereka bisa menghargainya lebih baik.”


Aku:

“Terima kasih banyak Vincent untuk interviewnya, semoga berhasil dengan pekerjaanmu dan semoga sehat selalu.”


Vincent (dengan jabatan tangan):

“Adieu. “




Ini adalah wawancara imajiner mengenang: Vincent van Gogh




Tidak ada komentar:

Posting Komentar