Cari Blog Ini

Jumat, 23 Maret 2018

Wawancara dengan Leonardo



Aku duduk dengan Leonardo di suatu siang yang benderang di sebuah kafe di Milan, di Piazza Mercanti. Piazza itu berasal dari abad ke 12 dan ke 13 dan merupakan pusat komersil kota Milan.
Dapat dibayangkan dulunya berbagai pedagang, seperti tukang roti, pematung dan penjahit menjalankan bisnisnya di sini.
Leonardo, seperti biasanya berdandan dengan gaya dandy dan dengan aroma parfum, mengenakan tunik merah jambu. Dia nampaknya nyaman dengan dirinya sendiri, menghirup cappuccino-nya.
Aku berkata:
“Hal pertama yang orang-orang ingin ketahui adalah tentang lukisan Mona Lisa. Orang-orang tidak tahu siapa dia, siapakah dia sebenarnya?”

Leonardo:

 “Dia adalah Lisa, seorang wanita kelahiran Florence yang kawin di umur belasan tahun dengan seorang pedagang kain dan sutera, yang kemudian menjadi pegawai pemerintah, dia adalah ibu lima anak dan hidup sebagai kelas menengah biasa yang nyaman. Anda bisa lihat pakaiannya rada sederhana dan biasa dan gaunnya, syal yang melingkari lehernya tidak menunjukkan kedudukan ningratnya.”
Aku berkata:
“Mona Lisa sangat terkenal oleh senyumannya. Namun ada orang yang melihat senyuman samarnya sebagai senyum sedih.”
Leonardo:
“Saya melukisnya dengan teknik “sfumato” yang kalau diterjemahkan berarti ‘tanpa garis atau batas, seperti sifat asap.’ Dengan teknik ini saya tidak memakai outline, tapi dengan menggunakan perbedaan nada dan bayangan cat untuk menciptakan ilusi cahaya dan bayangan. Mulai dari warna yang gelap saya membangun ilusi karakteristik 3 dimensi mengunakan lapisan-lapisan tipis yang semi transparan. Gunakan bayangan yang lebih gelap untuk menonjolkan suatu elemen dan pinggiran sebuah subyek.” 
Aku berkata:
“Mungkin karena teknik sfumato ini menjadikan kedua matanya dan mulutnya sebagai elemen yang menonjol. Ketika pemirsa melihat kedua matanya, mulutnya jatuh ke dalam lingkup pinggiran pandangan mata sehingga penampakan mulutnya tidak terlalu jelas, ditambah dengan bayangan kabur di tulang pipinya membuat mulutnya seperti tersenyum. Namun ketika pemirsa memfokuskan pandangan ke mulutnya, senyumnya menghilang, seakan-akan mulutnya tidak bermaksud untuk tersenyum.”
Leonardo:
“Barangkali karena itu sementara orang melihat senyumnya seperti senyum sedih.” 

Aku berkata:
“Selain lukisan, anda juga terkenal dengan ide-ide anda tentang engineering, anatomi, geometri, dan pemahaman ilmiah akan keadaan alam.
Anda suatu saat menghadiahi Raja Francois dari Perancis dengan sebuah robot singa dari koleksi anda. Singa robot itu adalah hasil engineering yang mengagumkan, kepalanya bisa bergerak, ekornya bisa bergoyang dan bisa membuka gerahamnya. Ketika Francois diminta untuk menyentuh singa itu dengan pedangnya, badan singa itu terbuka dan memperlihatkan banyak bunga lili.” 

Leonardo, berbicara agak bangga:
“Saya juga bilang ke Ludovico Sforza, the Duke of Milan, bahwa saya bisa berbagi rahasia senjata perang penemuan saya, saya bisa membangun jembatan-jembatan yang sangat ringan dan kuat yang mudah dipindahkan untuk mengejar dan mengalahkan musuh-musuh…. Saya juga bisa membuat sejenis kanon yang ringan dan mudah dipindahkan, yang dengannya bisa menyemprotkan batu-batu kecil bak hujan…. Saya bisa membuat tanpa banyak ribut menuju ke titik manapun lorong-lorong bawah tanah- baik lurus maupun melengkung- kalau perlu lewat di bawah saluran air atau sungai….. Saya bisa bikin kendaraan lapis baja untuk mengangkut artileri, yang bisa menembus pertahanan musuh yang paling berlapis. Dalam masa damai, saya percaya saya bisa memberi anda suatu kepuasan bagi semua orang di dunia konstruksi, baik umum maupun pribadi, dan dalam mengalirkan air dari satu tempat ke tempat lain. Saya juga bisa membuat patung dari tembaga, marmer atau tanah liat. Dan, dalam melukis, saya bisa membuat sebaik siapapun dia.”
Aku berkata:
“Bravo, namun anda juga dikenal sebagai pelukis yang lambat kerjanya dan terkenal suka meninggalkan pekerjaan anda tak terselesaikan seperti misalnya “Perawan Maria dengan anak dan Santa Anna ”, “Santo Jeremias di hutan belantara”, “ Pemujaan Magi” dan Kuda Tembaga yang ditugaskan oleh Ludovico Sforza. Reputasi anda untuk tidak menyelesaikan pekerjaan anda berarti anda tidak lagi mendapat tugas-tugas yang besar.”
Leonardo:
“ Detail-detail membuat kesempurnaan, dan kesempurnaan bukanlah suatu detail. Contohnya,  dari pengalaman menunjukkan kita bahwa langit pastilah memiliki kegelapan di luarnya namun langit selalu tampil biru. Kalau anda mebuat sejumlah kecil asap dari kayu kering dan sinar matahari jatuh ke asap itu,  dan kalau anda meletakkan di belakang asap itu selembar kain beludru hitam yang tidak memantulkan cahaya matahari, anda akan melihat bahwa semua asap yang berada di antara mata dan kain hitam itu akan nampak sebagai warna biru yang indah. Dan kalau bukannya kain hitam melainkan anda meletakkan asap kain putih, yaitu asap yang terlalu tebal, ia akan menghalangi, dan kalau asap nya terlalu tipis tidak akan, menghasilkan warna biru yang indah itu.”
Aku berkata:
“Anda nampaknya sangat mencintai alam. Lukisan Mona Lisa memiliki latar belakang pemandangan alam yang alami, ada jalan meliuk dan sebuah jembatan. Pemandangannya nampak liar dan ada daerah berbatuan yang tidak berpenghuni dan air yang terbentang ke horison, segaris dengan mata Mona Lisa.”
Leonardo:
“Tidak ada satu hal yang berasal dari satu tempat yang tidak ada mahluk, tanaman dan kehidupan rasional; bulu tumbuh pada burung dan akan berganti tiap tahunnya; rambut tumbuh pada hewan dan berganti tiap tahunnya, kecuali beberapa bagian, seperti juga halnya rambut janggut singa, kucing dan sebagainya. Rumput tumbuh di sawah, dan daun tumbuh di pohon, dan setiap tahun sebagian besarnya, berganti. Jadi kita bisa mengatakan bahwa bumi memiliki semangat untuk bertumbuh; bahwa dagingnya adalah tanah, tulang-tulangnya adalah tataran dan rangkaian batuan yang membentuk gunung, sumsumnya adalah batuan kapur, dan darahnya adalah curahan air. Genangan darah di sekitar jantung adalah lautan, dan napasnya, dan percepatan atau perlambatan denyut darah di dalam nadi, diwakili di bumi oleh aliran dan pusaran laut; dan hangatnya semangat dunia adalah api yang menjelajahi bumi, dan tempat bertengger mahluk vegetatif adalah dalam api, yang di berbagai tempat di bumi disemburkan ke dalam kolam dan sumber sulfur, dan guning berapi, seperti pada Gunung Aetna di Sicilia, dan banyak tempat lainnya.” 
Aku berkata:
“Anda juga dikenal sebagai sangat menyayangi binatang, anda bahkan mempertanyakan moralitas memakan binatang ketika itu tidak dibutuhkan bagi kesehatan. Sekedar ide yang memperbolehkan adanya penderitaan yang tidak perlu, bahkan mencabut nyawa, adalah menjijikkan bagi anda. Giorgio Vasari bercerita kepada kami bagaimana di Florence ketika anda melewati tempat penjualan burung anda sering mengambil mereka dari kandang dengan tangan anda sendiri, dan setelah membayar anda melepaskan burung-burung itu ke udara, memberikan kembali kebebasan mereka.”  
Leonardo, wajahnya berseri:

 “Selain itu saya juga berpikir tentang bagaimana membuat pesawat terbang dengan mempelajari pergerakan dan konfigurasi sayap burung. Apakah perbedaan tekanan udara di atas dan di bawah sayap burung, dan bagaiman pengetahuan ini bisa membuat manusia membuat pesawat terbang? Pesawat terbang haruslah meniru kelelawar saja, karena kerangkanya yang dengan keterpaduannya memberi senjata, atau kekuatan kepada sayap-sayapnya.
Kalau anda meniru sayap burung berbulu, anda akan menemukan struktur yang jauh lebih kuat, karna sayapnya permeabel; yaitu, bulu-bulunya merenggang and udara menembus memlaluinya. Namun kelelawar dibantu oleh kerangka yang menghubungkan semuanya dan tidaklah permeabel.” 

Aku berkata:
“Perjamuan Akhir dilukis ratusan kali, dalam arti harafiah, sepanjang sejarah seni, oleh berbagai seniman dalam berbagai gaya. Perjamuan Akhir anda nampak lebih alamiah dan dinamis dari yang lainnya. Yudas terangkum dalam kelompok, dan bukannya dipisahkan, dan orang-orangnya terlibat dalam interaksi yang hidup.”
Leonardo:
“Lukisan itu adalah saat Yesus berkata “Salah seorang dari kamu akan mengkhianati saya……..”
Lukisan itu menunjukkan rasa kasih, ketercengangan, dan kemarahan, atau lebih tepatnya kesedihan, atas gagalnya para raul untuk mengerti apa maksud Yesus.
Bartolomeus yang sehabis minum meletakkan gelasnya di situ dan menoleh ke Yesus.
Yakobus, melambaikan menekuk jari-jari tangannya bersamaan menoleh dengan alis mengkerut ke Andreas.
Dan Andreas, dengan kedua tapak tangannya terbuka, mengangkat bahunya sampai ke telinga dengan mulut tertegun.
Thomas maju dengan mengangkat jarinya seakan meminta Yesus menerangkan lebih jelas.
Petrus berbicara ke telinga Yohanes dan selagi Yohanes mendengarnya, Petrus menggenggam pisau di tangannya.
Yudas menggenggam sebuah kantong kecil berisi 30 mata uang perak yang didapatkannya untuk pembayaran pengkhianatan kepada Yesus dan menggulingkan pot garam- sebuah simbol lain untuk pengkhianatan.

Filipus bertanya: “Guru, apakah itu saya?” Yesus menjawab, “Dia yang mencelupkan tangannya bersama saya ke dalam pinggan, dialah yang akan mengkhianati saya.” Kita melihat Yesus dan Yudas bersama-sama meraih ke suatu pinggan yang berada di antara mereka, walaupun Yudas menarik kembali tangannya membela diri.”

Aku berkata:

“Terimakasih Leonardo untuk perbincangan ini, saya melihat bahwa anda akan diingat sejarah sebagai “Teladan manusia Renaissance.”
Ini adalah wawancara imajiner mengenang  Leonardo da Vinci.





2 komentar: