Cari Blog Ini

Sabtu, 05 Mei 2018

Nara, di Kuil Todai-ji.



Nara adalah ibukota daerah Nara yang terletak di daerah Kansai, Jepang. Nara pernah menjadi ibukota Jepang dari tahun 710 ke 794, sehingga periode ini dinamai periode Nara.

Todai-ji atau Kuil Timur Agung, yang terletak di kota Nara, adalah sebuah kompleks kuil Buddhis yang dulunya merupakan salah satu dari Tujuh Kuil Agung yang berkuasa.  Todai-ji adalah kompleks bangunan-bangunan yang mencakup bangunan kayu yang terbesar di dunia, yang ruang utamanya diisi patung tembaga Buddha yang kolosal.


Pengaruh Buddhisme berkembang di era Nara selagi pemerintahan Kaisar Shomu dan permaisurinya Komyo yang menggabungkan doktrin Buddhis dengan kebijaksanaan politik – mempromosikan Buddhism sebagai pelindung utama Negara.
Di tahun 741, menurut laporan diperintahkan oleh keinginan sang Permaisuri, Kaisar Shomu memerintahkan semua kuil–kuil dan biara-biara untuk dibangun di seluruh 66 propinsi Jepang dibawah pengawasan kerajaan baru Todai-ji yang akan dibangun di ibukota Nara.
Kuil Todai-ji yang luas dibangun sebagai simbol kekuasaan kerajaan, dan dibutuhkan lebih dari 15 tahun untuk menyelesaikannya dengan biaya besar. Motif kaisar Shomu untuk membangun Kuil Todai-ji dalam skala demikian besar nampaknya merupakan gabungan antara yang spritual dan yang pragmatis: dalam usahanya mempersatukan berbagai kelompok di Jepang dan di bawah pemerintahan sentralistisnya, Kaisar Shomu juga mempromosikan kesatuan spriritual.
Todai-ji kemudian akan menjadi kuil utama dari sistem biara-biara dan menjadi pusat dari ritual nasional. Pembangunannya mengumpulkan tenaga ahli  bangunan di Jepang  dengan teknologi mutakhir. Bangunan itu adalah arsitektur untuk mengagumkan orang-orang – mempertunjukkan kekuasaan, prestise dan kealiman kerajaan Jepang.
Di tengah kuil Buddhis ini, anda akan menumukan patung Buddha Agung yang terbesar, atau Daibutsu, terbuat dari tembaga. Tinggi patung ini 15 meter dan beratnya 500 ton.
Sang Buddha duduk bersila dengan tapak tangan kanan terjulur ke muka. Sikap ini berarti “ jangan takut” dan “ pengalihan rasa cemburu dan iri” menjadi kebijaksanaan menyeluruh.
Menjangan, yang dianggap juru bicara dewa-dewa dalam agama Shinto, berkeliaran dengan bebasnya di lapangan. Menurut legenda seorang dewa mitologis, Takemikazuchi, turun ke Nara dengan menjangan putih untuk melindungi ibukota Heijokyo.
Menjangan-menjangan yang berada di Nara adalah menjangan Sika atau menjangan bertotol yang juga dikenal sebagai menjangan menunduk karena sering kali menundukkan kepalanya ketika diberi makanan.
Anda akan menemukan banyak menjangan di sini dan anda dapat memberinya makanan, namun anda perlu membeli makanannya dulu.
Sumber: Wikimedia





Tidak ada komentar:

Posting Komentar