Cari Blog Ini

Sabtu, 16 Juni 2018

Paris, di Montmartre


Sebagai orang asing anda hanya dapat menebak apa arti Montmartre, mudah ditebak bahwa “Mont” berarti “Mount’ (Bukit) karena tempat ini adalah sebuah bukit yang besar di Paris. Naumn “martre” bisa kedengaran sepert “mother” (bunda), jadi anda mungkin berpikir itu artinya Maria, bunda Yesus. Asosiasi ini mungkin timbul setelah kunjungan anda ke Notre-dame, yang berarti “Bunda Kita”. Jadi mungkin Montmartre berarti “Bukit Bunda”, anda berpikir.

Seorang Indonesia mungkin berpikir bahwa “martre” berarti “matre” atau materialistis. Namun orang tidak akan menamakan tempat ini sebagai “Bukit Materialistis”, jadi tidak mungkin begitu artinya. Montmartre dulunya adalah tempat dimana para seniman, penulis dan perantau bohemian tinggal, bekerja dan berkumpul di kafe dan bars, ketika mereka masih miskin. Tempat sewa kamar yang murah menarik seniman yang dulunya cukup-cukupan,  sekarang lukisannya terjual jutaan dollar, seperti Renoir, Degas, Picasso, Toulouse-Lautrec, dan Utrillo. Jadi dengan pertimbangan ini, Montmatre seharusnya lebih berarti sebagai “Bukit Seni” dari pada “Bukit Materialis”, bukankah begitu menurut anda?

Sebenarnya daripada menebak-nebak lebih mudak buka kamus, Montmartre dalam bahasa Perancis berarti “Bukit Para Martir”, karena nama itu dikaitkan dengan Uskup paris di abad ke 3. Uskup Denis ditangkap oleh orang Romawi dan dihukum mati karena menyiarkan ajaran Kristiani.  Banyak versi kemartiran Uskup ini. Salah satunya ialah bahwa ia dipancung di bukit itu, yang kemudian badannya mengangkat kepalanya dan membawanya berjalan ke daerah yang sekarang dinamai daerah Saint Denis di luar kota Paris. Badan Uskup yang terpancung diletakkan di puncak bukit yang sekarang dinamakan Montmartre.

Masa kini, sebuah landmark di Montmarte, adalah Sacré-Cœur Basilica yang terletak di puncak bukit, titik tertinggi di kota ini. Sacré-Cœur berarti “Hati Kudus” yang dipersembahkan untuk Hati Kudus Yesus, yang saat itu pandangan akan Kristus yang penuh kasih dan simpati menjadi semakin populer. Basilika ini didisain oleh Paul Abadie. Konstruksinya mulai di tahun 1875 dan diresmikan di tahun 1919.

Dulunya di Montmartre ada 30 kincir angin, yang dipakai untuk memeras anggur dan menggiling gandum. Saat ini salah satu kincir angin itu masih berdiri, “Kincir Angin Merah” yng terkenal - teater kabaret Moulin Rouge. Ketika dibuka di tahun 1889, nightclub yang penuh sorak sorai itu seakan menggambarkan masa pencari kenikmatan belle époque, periode di saat perkembangan kesenian dan kebudayaan sedang subur-suburnya.

Tak mungkin terluputkan kalau anda menjelajahi Monmartre adanya bangunan dengan kincir angin merah yang berputar di atapnya, Moulin Rouge tak akan terlupakan akan campuran warna warninya, gerakan dan suara. Pertunjukan kabaret yang dilakoni gadis-gadis belia menari tarian Can Can yang sexy, adalah magnet bagi semua orang Paris.  Pertujukan yang menampilkan penari topless yang cantik, terkenal di seluruh dunia.


END




Tidak ada komentar:

Posting Komentar