Cari Blog Ini

Senin, 02 Juli 2018

Wawancara dengan Victor


Pada Jum’at pagi itu aku buru-buru menuju kafe Le Consulat untuk berbincang-bincang dengan Victor. Aku sangat bersemangat untuk menemuinya karena aku punya banyak pertanyaan tentang novelnya yang terkenal The Hunchback of Notre-Dame (Si Bongkok dari Notre-Dame). Ketika aku sampai dia sudah di sana menyeruput kopi une noisette yang hangat.


Aku berkata:
Bonjour Monsiuer, terimakasih untuk meluangkan waktu di tengah kesibukan anda. Saya punya banyak pertanyaan, mudah-mudahan kita bisa mendiskusikannya semua dan menyelesaikannya tepat pada waktunya.

Victor:
“Katakanlah, mon amie…”

Aku berkata:
“Monsiuer, judul asli dari novel anda yang terkenal “The Hunchback of Notre-Dame” sebenarnya adalah “The Notre-Dame of Paris” (Notre-Dame di Paris). Dengan judul asli ini apakah anda ingin menekankan kesejarahan Notre-Dame ataukah drama kemanusiaan yang dipanggungkan di Notre-Dame?”

Victor:
“Seperti yang diceritakan di Buku 3 bab 1 katedral Notre-Dame telah menua disebakan oleh banyaknya degradasi dan pengrusakan yang disebakan baik oleh waktu maupun oleh tindakan manusia. Waktu telah menyayat permukaannya di sana sini, dan menggerogoti dimana-mana; revolusi politik dan agama telah mengoyak jubahnya yang indah,  ukir-ukiran dan patung-patungnya, memecahkan jendela mawarnya, merusakkan kalung arabesques dan hiasan-hiasan mungilnya, menggulingkan patung-patungnya.
Lalu usaha restorasi membuatnya bahkan lebih norak dan dungu. Restorasi itu telah menerapkan, atas nama selera tinggi, pada luka-luka bagunan arsitektur gothic ini, kenorakan yang menyedihkan, pita-pita dari marmer, bola wool dari metal, ornamen berbentuk telur yang diliputi kusta sebenarnya, aksara-aksara asing, lingkaran spiral, gorden-gorden, karangan bunga, bingkai-bingkai, api batu, awan tembaga, malaikat cupid yang tembam, malaikat bocah berpipi gemuk.

Namun Notre-Dame adalah juga rumah bagi Quasimodo, si Bongkok buruk rupa dengan hati emas, juga rumah bagi Claude Frollo, pastor yang alim yang berubah menjadi setan, yang mengadopsi Quasimodo yang ditelantarkan orangtuanya selagi kecil di sebuah tempat tidur di Notre-Dame. Dan Esmeralda mengambil perlindungan Notre-Dame untuk beberapa saat bersembunyi dari kejaran tentara kerajaan. Notre-dame adalah juga panggung dimana Esmeralda, Frollo dan Jehan jatuh mati dengan tragis.”

Aku berkata:
“Penderitaan Quasimodo, si Bongkok dalam novel ini, sangat keterlaluan diluar kemanusiaan. Sebagai anak kecil dia ditelantarkan karena buruk rupanya, badannya bengkok, Cuma punya satu mata, kepalanya terletak langsung di punggungnya, tulang belakangnya melengkung, tulang dadanya menonjol, dan kakinya bengkok.
Para ibu yang melihat anak ini di tempat tidur Notre-Dame begitu terperanjat sehingga salah seorang bertanya: “Apakah ini, mbak?”, dan ibu yang lain berkata: “ apakah yang yang akan terjadi terhadap kita, kalau demikianlah anak-anak dinuat sekarang?”  dan yang seorang lagi: “pastilah berdosa untuk melihat anak ini.”

Victor:
“ Dia kemudian kehilangan pendengarannya sebagai pembunyi lonceng Notre-Dame, lonceng-lonceng itu telah merusakkan gendang telinganya, dia menjadi tuli.
Namun penderitaannya tidak sebanding dengan penderitaan Stephen Hawking. Dia didiagnosa dengan penyakit amyotrophic lateral sclerosis (ALS), suatu bentuk penyakit syaraf penggerak, ketika berumur 22 tahun dan tidak diharapkan untuk bertahan hidup beberapa tahun lagi. Penyakit ini menyebabkan kelemahan dari syaraf penggerak atas atau bawah, atau keduanya. Dia tidak bisa jalan, bergerak dan harus duduk di kursi roda, juga tidak bisa menulis dan berbicara. Dia lalu mulai menggunakan menu yang dikontrol oleh sistem komputer untuk berkomunikasi.

Aku berkata:
“Namun orang-orang menghormati dan menyayangi Stephen Hawking karena kecerdasannya, dimana hidupnya digunakan untuk memecahkan misteri alam semesta melalui fisika. Saya bisa membayangkan betapa menjengkelkannya buat dia untuk mempunyai penyakit yang menghambat pergerakannya dalam pencariannya akan “teori untuk semua hal.”
Dalam hal Quasimodo berbeda, orang-orang mengolok-oloknya selalu, dia bahkan dimahkotai Paus Orang-Orang Dungu waktu Festival Orang-Orang Dungu.”

Victor:
“Yang paling sulit baginya adalah kesadaran akan buruk rupanya di depan Esmeralda, dipandang oleh wanita yang dia sayangi dan cintai amat sangat… Di Buku 9 Bab 2 dia berkata kepada Esmeralda: “Aku menakutkan kamu. Aku sangat buruk, bukankah begitu? Janganlah memandang aku; dengarkan aku sajalah.”

Aku berkata:
“Ya, itu kejadian yang sangat menyayat hati, untuk merasa tidak nyaman di depan wanita yang dia sangat cintai hingga dia menyabung nyawa untuk menyelamatkan wanita ini dari hukuman mati, dan menggotongnya ke tempat suaka Notre-Dame sebagai pelarian.”

Victor:
“Lebih dari itu, di Buku 9 Bab 4 diceritakan: “Suatu saat Quasimodo datang pada saat Esmeralda sedang membelai Djali, kambing kesayangannya. Dia berdiri tak bergerak untuk beberapa menit di depan persektuan anggun dari kambing dan wanita gypsy ini; lalu akhirnya ia berkata, menggelengkan kepalanya yang besar dan salah bentuk, --“Nasib tak beruntung aku bahwa aku masih tampak teralu banyak seperti manusia. Aku akan sangat suka untuk menjadi hewan seperti kambing itu.”  Wanita itu memandangnya dengan penuh keheranan.”

Mendengar itu, aku terdiam sejenak… dan kemudian seakan ingin menghibur Quasimodo akan nasibnya yang tak beruntung aku berkata:
“Saya tak dapat melupakan kejadian di Buku 8 Bab 6, ketika Quasimodo menyelamatkan Esmeralda dari hukuman mati, yang dengan sergap menuju ke ke dua orang algojo seperti seekor kucing yang jatuh dari atap, menonjok mereka dengan tinjunya yang besar, menggotong Esmeralda dengan satu tangan, seperti seorang anak memegang bonekanya, dan berlari balik ke dalam Notre-Dame dengan satu tujuan, menggotong gadis muda di atas kepalanya dan berseru dengan suara lantang, ----“Suaka!”
Dan lalu ,”Suaka! Suaka!” para penonton bersorak-sorak; dan tepuk tangan beribu tangan membuat mata tunggal Quasimodo bersinar dengan kegembiraan dan kebanggaan.”

Victor:
“Ya di masa abad pertengahan hukum menyatakan bahwa Notre-Dame adalah tempat kebal hukum. Esmeralda tidak bisa dilukai oleh para algojo asalkan ia tetap tinggal di dalam dinding-dinding Notre-Dame.”

Aku berkata:
“Namun Notre-Dame adalah juga rumah dan tempat suaka bagi Claude Frollo pastor alim yang berubah setan. Orang ini pada mulanya adalah bagaikan malaikat yang mengadopsi Quasimodo walaupun cacat, buruk rupa, demi kasihnya bagi Jehan adik kecilnya sedarah.”

Victor:
“Dan Buku 4 bercerita: “Belas-kasih Claude bertambah dengan pandangan butuk rupa ini; dan ia bersumpah dalam hatinya untuk memelihara anak ini demi kasihnya akan adiknya, agar, apa saja kesalahan Jehan di masa depan, ia akan memiliki di sampingnya amal kasih ini yang dilakukan demi dia.
Ketika masih kecil, Quasimodo sering mencari pengungsian di antara kaki Claude Frollo, ketika anjing dan anak-anak menggonggong kepadanya. Claude Frollo juga mengajarnya berbicara, membaca dan menulis. Kita bisa berkata kemudian, karena rasa terimakasihnya Quasimodo mengasihi pastor ini melebihi seekor anjing, seekor kuda, seekor gajah menyayangi tuannya.”

Aku berkata:
“Lalu bagaimana jadinya pastor yang penuh kasih ini, malaikat ini, berubah menjadi  setan tukang sihir?”

Victor:
“dari dalam biara, reputasinya sebagai orang terpelajar terdengar oleh orang-orang. Dia belajar obat-obatan, astrologi dan ilmu kepercayaan. Obsesi terbarunya adalah ilmu kimia karena ia ingin membuat emas dari batu. Di masa abad pertengahan kita bisa bilang bagaimanapun, bahwa ilmu pengetahuan dari Mesir, tentang kerasukan dan sihir, bahkan yang paling putih, telah dianggap sebagai tindakan sihir.”

Aku berkata:
“Namun malaikat ini berubah menjadi setan sebenarnya, setelah dia jatuh cinta sedalamnya dengan Esmeralda, atau lebih tepatnya setelah dia terperangkap nafsu akan Esemeralda.”

Victor:
“Di dalam hatinya Claude Frollo percaya bahwa kejadian yang akan menimpa Esmeralda adalah takdir, di Buku 7 bab 5 diceritakan bagaimana Claude Frollo berkata dengan suara yang seperti datang dari kedalaman keberadaannya: “Lihatlah ini sebuah simbol bagi semuanya. Wanita itu terbang, ia gembira, ia baru dilahirkan; ia mencari mata air, udara terbuka, kebebasan: oh ya! namun biarkan ia bersentuhan dengan jaringan berbahaya, dan laba-laba yang timbul dari sana, laba-laba yang bersembunyi! Penari yang malang! malang, nasib lalat yang telah ditakdirkan! Biarkan hal-hal demikian terjadi, tuan Jacques, itu adalah takdir! Aduh! Claude engkaulah laba-laba itu.”

Aku berkata:
“Saya bisa melihat bahwa di babak ini Claude Frollo berbicara tentang bagaimana lalat itu mencari udara terbuka, sinar di hari yang terang, tapi tidak melihat kaca jendela yang menghadang ke dunia luar. Lalat itu tidak memiliki indera untuk menyadari jebakan sarang laba-laba di muka jendela dan ia terbang langsung dengan kepala di muka ke jaringan laba-laba.”

Victor:
“Kemudian ia berkata: “ Dan kalaupun engkau dapat meloloskan diri dari jaringan laba-laba yang ketat itu, dengan sayap mungilmu, engkau percaya akan bisa mencapai cahaya di luar? Aduh! kaca itu ada di depan, hadangan yang tak kelihatan, dinding kristal itu, lebih keras dari tembaga, yang memisahkan semua filsafat dari kebenaran, bagaimana engkau akan melampauinya? Oh, kesombongan ilmu! berapa banyaknya orang cerdik pandai terbang dari jauh, untuk menabrakan kepalanya kepadamu! Berapa banyak sistem sia-sia melemparkan diri mereka berdengung terhadap panel kekal itu.”

Aku berkata:
“Demikian pula kejadian yang menimpa Esmeralda, dia selamat dari hukuman mati karena Quasimodo melepaskan dan menyelamatkannya, membawanya ke suaka di Notre-Dame. Juga ketika para gelandangan menyerbu Notre-Dame, ia diselamatkan oleh Pierre Gringoire. “suaminya di atas kertas”, namun ia ternyata ia dijebak dan tertangkap lagi oleh Frollo.
Suster Gudule, ibunya yang sebenarnya, berusaha membebaskan Esmeralda dari jebakan Frollo, namun usaha ini gagal ketika Esmeralda tiba-tiba mengetahui bahwa Phoebus, lelaki yang ia cintai, berada di dalam pasukan yang mencarinya, shingga Esmeralda berteriak memanggil namanya agar menyelamatkan dia. Kejadian ini membuat pasukan kerajaan mengetahui persembunyian Esmeralda dan menangkapnya. Dengan demikian nasibnya telah ditentukan.”

Victor:
“Seperti bagaiman Dante menggambarkan Beatrice sebagai “Si Cantik dalam jubah putih”, demikian pula si cantik Esmeralda mati, dalam jubah putih. Esmeralda mati karena tindakannya sendiri karena cinta, walaupun bertepuk sebelah tangan, sebenarnya hanyalah cinta naksir. Mereka hanya bertemu beberapa kali, seperti halnya Dante dengan Beatrice, hanya beberapa kali. Tapi Phoebus tidak mencintai Esmeralda, ia hanya ingin tidur dengannya. Dia tidak mendengar Esmeralda memanggil namanya minta tolong dari tempat persembunyiannya, kejadian ini menyebabkan Esmeralda tertangkap menuju kematiannnya, dalam jubah putih.”

Aku berkata:
“ Anda tahu, Stephen Hawking yang menghabiskan hidupnya mengejar “teori untuk semua hal”, suatu saat ketika ditanya hal apakah yang paling banyak dipikikannya sehari-hari, dia berkata: “Wanita. Mereka adalah sebuah misteri yang utuh.”

Ini adalah wawancara imajiner mengenang Victor Hugo





Tidak ada komentar:

Posting Komentar