Mendarat di Dubai jam enam pagi, selagi masih sejuk, di bandara kelas
dunia, membuat kita serasa sampai di sebuah oase modern di tengah gurun
pasir. Debu- debu pasir tidaklah
terlihat, tak seorangpun nampak berkeringat, dan bau parfum yang dipakai
oran-orang local berpakaian jubah tradisional menyerbak di udara, seperti bau asap hio.
Ketika keluar dari bandara, saya menyadari bahwa bandara itu terletak
di dalam kota, mobil-mobil mulai mengisi jalanan dengan cepat karna orang-orang
ingin menhindari macet yang akan datang beberapa jam lagi, dengan teriknya
hari.
Tak lama kemudian saya bisa melihat mengapa Dubai dikatakan pusat
bisnis Timur Tengah, Hongkong nya Timur Tengah.Penghasilan dari minyak membantu mempercepat pertumbuhan kota ini, yang
sudah menjadi pusat perdagangan, namun sumber minyak dari Dubai terbatas dan
tingkat produksinya rendah: saat ini kurang dari 5% penghasilan emirat ini
berasal dari minyak.Perekonomian Dubai
sekarang bergantung pada penghasilan perdagnagan, pariwisata, penerbangan, real
estate dan jasa keuangan. Hotel-hotel , restoran-restoran, taman rekreasi dan
tempat tamasya pantai yang paling ekstravagan semua dibuat agar kita dapat
menikmati hidup yang terbaik yang bisa ditawarkan.
Salah satu tujuan untuk plesiran dan berbelanja adalah Dubai Mall yang
menarik pembeli kaya dari seluruh penjuru dunia.Menampilkan lebih dari 1,200 toko retail,
termasuk jaringan Bloomingdale dan Galeries Lafayette, ratusan tempat makan dan
minum, yang mencakup area lebih dari 1 juta m2.Dubai Mall adalah shopping mall terbesar kedua di dunia, kompleks
raksasa dilengkapi dengan akuarium,virtual-reality
theme park, ice skating berukuran olimpiade, pertokoan emas dan ratusan
boutique dan restoran mewah.
Dubai Mall dirancang seperti sebuah kota, dengan jalan-jalan pedestrian
internal, simpang-simpang dan bangunan penting, yang terintegrasi dengan
disainnya dan di atur dengan boulevard yang lebar dan lurus yang berujung ke
persimpangan yang dihias dengan indah menghubungkan banyak toko-toko.Anda bisa berjalan di bawah sejuknya udara
dari Sega ke Kidzania ke bioskop, dari Versace ke Gucci di Fashion Avenue ke
toko-toko elektronik dan minum, makan di banyak restoran dan kafe di antaranya.
Setelah capek belanja dan kenyang makan anda bisa nonton filem di
bioskop-bioskopyang nyaman. Rasanya benar-benar berjalan di tengah kota di oase
di tengah gurun pasir, di mana anda tak melihat seorangpun haus atau
berkeringat walaupun udara di luar mall di atas 40 derajat C.
Penulis Perancis yang terkenal, Emile
Zola, mengunjungi Lourdes pertama kalinya di September 1891 dan terkesima oleh
banyaknya pejiarah yang mengunjungi Lourdes. Dia kembali di bulan Agustus tahun
berikutnya yang merupakan saat yang paling sibuk bagi pejiarah, dan meluangkan
waktu dengan pejiarah, melakukan wawancara dan pengamatan yang menjadi basis
bagi novelnya ‘Lourdes’ yang terbit di tahun 1894.
Dalam kunjungannya Zola menyaksikan
prosesi Ave Maria di malam hari dan menggambarkannya di novelnya: “Tigapuluh
ribuan cahaya lilin membakar di sana, tegar dan senantiasa berkeliling, mempergegas
kilauannya di bawah keheningan mega di mana planet-planet telah pucat. Kilauan
cahaya menanjak bergandengan dalam kekangan lagu yang tak henti-henti. Dan gaung
nyanyian yang tak henti-henti mengulangi refrain ‘Ave, Ave, Ave Maria’ itu seakan suara percikan api lilin-lilin dalam doa-doa agar jiwa-jiwa dapat
diselamatkan.”
Setiap hari di antara bulan April dan
Oktober di jam 5 sore pejiarah Lourdes menjawab permintaan Santa Maria dengan
berkumpul untul Prosesi Ekaristi. Prosesi itu bermula dari altar udara terbuka
di lapangan rumput di seberang sungai dari gua (grotto) dan diawali oleh
pejiarah-pejiarah yang sakit dan diikuti oleh pastor, uskup atau kardinal yang
memanggul Ekaristi Suci.
Lalu pada jam 9 malam para pejiarah dari
berbagai tempat di dunia berkumpul untuk prosesi Ave Maria Lourdes. Prosesi itu
bermula dari dekat gua dan berlanjut disekitar boulevard sampai di Rosary
Square.
Prosesi ini diawali oleh para pejiarah
yang sakit yang diikuti oleh para voluntir yang memanggul replica patung Santa
Maria. Fokus dari prosesi dengan cahaya lilin ini adalah doa rosario. Kelima dari sepuluh butiran rosario didoakan,
diasanya dalam berbagai bahasa. Lagu Lourdes Hymn juga dinyanyikan, dalam
bait-bait dengan berbagai bahasa. Mungkin ada doa-doa permohonan yang diikuti
dengan lagu Laudate Mariam.
Dalam keheningan malam, setiap pejiarah
membawa permohonan pribadinya ketika lagu Ave Maria dinyanyikan ber-ulang-ulang
selama prosesi yang disinari cahaya lilin. Seperti yang ditulis Elie Zola di
novelnya: “Gaung suara yang tak henti-henti mengulangi refrain 'Ave, Ave, Ave
Maria’ itu menembus kulit seseorang sungguh-sungguh. Saya merasa seperti
seluruh tubuh saya pada akhirnya ikut menyanyikannya.”
Lourdes adalah sebuah kota dagang kecil
yang terletak di kaki pegunungan Pyreness di Perancis. Berada pada ketinggian
420 meter dan di lokasi sentral yang dilalui sungai Gave de Pau yang mengalir
deras. Setiap tahun, Lourdes didatangi jutaan pejiarah, mereka datang untuk
melihat lokasi dimana peristiwa penampakkan yang tersohor dialami seorang gadis kecil bernama
Bernadette Soubirous.
Para pejiarah bisa berkunjung untuk
dibersihkan dari dosa-dosa dan disembuhkan dari penyakit mereka. Dipercayai
bahwa air dari muara air dari gua itu bisa menyembuhkan orang-orang yang
sakit.Jutaan pengunjung dating ke
Lourdes setiap tahunnya dengan harapan agar disembuhkan. Salah satu alas an
bagi pejiarah untuk berkunjung ke Lourdes adalah untuk mandi di mata air, untuk
berendam sepenuhnya dan minum untuk pembersihan dan penyembuhan. Permandian itu
adalah symbol pembaptisan dan juga penguatan iman para pejiarah.
Sejarahnya berawal di tanggal 11
Februari 1858, ketika Bernadette Soubrious, gadis local berumur 14 tahun, pergi
keluar dengan saudarinya Toinette, dan seorang kawan Jeanne, untuk mencari kayu
api dekat gua di lokasi itu. Sekonyong-konyong, seorang wanita menampakkan diri
mengenakan jubah putih cemerlang yang diikat dengan pita biru; tubuhnya
diselebungi kerudung putih panjang sampai ke kakinya. Wanita itu kemudian
memperkenalkan diri sebagai “the Immaculate Conception” yang merupakan salah
satu gelar Santa Maria.
Santa Maria kemudian menampakkan diri 18
kali ke Bernadette, dan pada tanggal 25 Febuari Santa Maria meminta gadis itu
untuk menggali sebuah mata air di tempat yang tidak pernah ditemukan
sebelumnya. Santa Maria menyuruhnya “Pegilah dan minum dari mata air dan
cucilah dirimu di sana.”Walaupun tempat
itu berlumpur, keesokan harinya, dari tanah itu mengalir air yang jernih. Tak
lama kemudian dilaporkan adanya penyembuhan dari air yang diminum darinya, dan
sejak saat itu banyak orang disembuhkan dari pembasuhan dan minum air itu.Mata air Lourdes menjadi terkenal karena
mujizat-mujizat yang dihubungkan dengannya.
Hal yang amat menonjol di mata para
pengunjung awam adalah banyaknya orang-orang sakit dan cacat yang hadir di
Lourdes. Semua yang didera oleh hidup dapat menemukan sekadar penghiburan di
Lourdes.Resminya, 80,000 an orang sakit
dan cacat dari berbagai negeri dating ke Lourdes setiap tahun. Walaupun
menderita penyakit atau cacat, mereka merasa berada di surga kedamaian dan suka
cita.
Aku beruntung “dianugrahi” wawancara dengan Giuseppe, dia
terkenal sebagai seorang yang sangat tertutup, yang menganggap para wartawan,
biografer, dan juga tetangganya di Busseto, sebagai orang-orang yang suka
mencampuri urusan orang, yang terhadap rasa ingin tahu mereka ia harus melindungi diri. Jadi, aku
menerka bahwa aku dapat mewawancarai dia karena dia menganggap aku sebagai
wartawan yang tidak terlalu terkenal, bukanlah seorang yang suka
mengendus-endus dan bukan pula tipe tukang gosip, makanya dia kira aku tidaklah
akan menimbulkan kesulitan baginya. Tapi, kupikir bagaimanapun aku musti
hati-hati untuk tidak bertanya terlalu mendalam tentang ikhwal pribadinya.
Jadi sesuai perjanjian, aku bertemu dengannya sehabis
pertunjukan opera Un Ballo in Maschera (Sebuah Pesta Dansa Bertopeng) di
Bolshoi theatre di Moscow. Kami duduk disebuah café dekat Karl Marx squaredi malam yang dingin di bulan April.
Aku membuka percakapan:
“Saya terheran-heran bahwa anda mau datang ke Moscow untuk
menyaksikan salah satu opera anda, apa yang mendorong anda sekonyong-konyong datang
ke sini?”
Giuseppe:
“Bolshoi theatre di Moscow memiliki sejarah yang panjang sebagai
penyelenggara berbagai opera perdana yang bersejarah. Sayangnya kebakaran besar
terjadi di tahun 1853 yang menghancurkan seluruh bangunan, teater itu harus
ditutup selama tiga tahun untuk perbaikan, dan membuka pintunya lagi setelah
renovasi pada saat yang tepat untuk upacara pengangkatan Tsar Alexander II. Lalu teater ini kena bom di tahun 1941, lalu direnovasi beberapa kali karena berbagai
kerusakan. Rekonstruksi terakhir berlangsung selama 6 tahun dan di tahun 2011
teater yang telah diperbaiki itu membuka pintu kembali. Jadi saya gembira
datang ke sini untuk menyaksikan Bolshoi yang baru yang menjadi ajang
pertunjukan opera Un Ballo in Maschera.”
Aku berkata:
“Saya melihat bahwa Alessandra Premolidan Davide Livermore mengarahkan pertunjukan
opera ini dengan sangat baik, dengan panggung yang diperkaya oleh layar digital
yang impresifoleh Gio Forma dan video
desain oleh D-wok.Tertampak
burung-burung gagak yang berterbangan dan hinggap menunggu mangsa sebagai latar
belakang digital yang didominasi hitam dan putih itu, yang menghantui para
warga dengan ramalan buruk dari sang dukun Ulrica.
Pertunjukan malam ini membuka mata saya akan pengalaman
baru. Hal itu membuat opera semakin menarik, yang dapat membawa penonton yang
muda belia, member alternatif-alternatifbagi seniman kreatif dan para teknisi, dan mungkin juga mengurangi
biaya.”
Giuseppe:
“ Saya hanya bisa berharap lebih banyak. Layar digital itu
bisa sangat indah, tapi bisa juga mengalihkan perhatian penonton.Sebenarnya tergantung pada produksi macam
apakah pertunjukan itu. Tentunya sangat cocok untuk pertunjukan tertentu tapi
secara keseluruhan saya memilih pertunjukan opera yang tradisional. Tapi
produksi- produksi modern tertentu bisamendapatkan manfaat darilayar
digital ini. Yang jelas tidak seorangpun bisa bilang layar digital itu selalu
harus dipakai, atau jangan pernah dipakai.”
Aku berkata:
“Anda terkenal dengan kebesaran anda, mencari jalan untuk
berbicara kepada penonton yang tak terbatas, dan metoda anda untuk meresapkan
diri anda seluruhnya ke dalam karakter-karakter lakon anda. Anda tidak pernah menggubah musik
hanya demi music, setiap nada memiliki implikasi dramatis yang sesuai. Adegan-adegan
yang paling luar biasa dalam karya anda adalah adegan di mana suara-suara yang
bersatu bersama menjadi suatu paduan yang terpendam seperti suara-suara di
akhir “Un Ballo”, yang terlambungkan oleh kebesaran spiritual seorang yang
sedang sekarat.”
Giuseppe:
“Adegan itu terjadi ketika Riccardo mendekati ajalnya, ia
mengaku kepada Renato: ‘Engkau harus mendengar saya, isterimu masih suci: dalam
pelukan kematian, ketika Tuhan mendengar kata-kata aku, aku bersumpah tentang
itu (Ella è pura: in braccio a morte Te lo giuro, Iddio m’ascolta)’. Riccardo yang sedang sekarat itu mengakui,
bahwa walaupun ia jatuh cinta kepada Amelia , isteri Renato, Amelia tidak
pernah melanggar sumpah perkawinannya. Lalu ia memperlihatkan kepada Renato
surat perintahnya agar kedua suami isteri itu dipindah ke Inggeris, sebagai
tanda Riccardo mengampuni Renato dan para pemberontak. Para kerumunan meratapi
kehilangan akan gubernur yang baik hati itu sementara Renato dirundung
penyesalan.”
Aku berkata:
“Salah satu opera anda yang paling sukses adalah La Traviata,
yang berarti “wanita yang terjatuh” atau “seorang yang salah jalan” dan dalam konteksnya memberi konotasi
hilangnya kemurnian seksual. Hal ini mewakili keadaan jamannya ketika hubungan
seksual di luar perkwainan dianggap tak bermoral dan kumpul kebo menjadi bahan
skandal.
Saat itu Paris, di dalam dunia orang kaya dan berkuasa aturan
sosial mengikat semua orang untuk memiliki gaya hidup yang benar pada
permukaan, namun di bawahnya terdapat dunia lain di mana para bangsawan bisa
menikmati melimpahnya kekayaan mereka termasuk berteman dengan berbagai
wanita,para wanita penghibur yang
diharapkan juga menemaninya pergi ke teater dan opera.”
Giuseppe:
“Cerita opera ini adalah sebuah subyek masa kini. Saya telah
bertekad untuk menggunakan opera untuk meraih simpati bagi yang terbuang,
jenis-jenis orang yang kita hindari ketika berpapasan di jalanan. Seperti kisah
“The Lady of the Camellias” karya Alexandre Dumas yang novelnya dan dramanya
menjadi dasar opera ini,saya ingin
memprotes eksploitasi wanita, dan membuatnya dalam bingkai kontemporer.”
Aku berkata:
“Memang, di dalam La Traviata anda bukan hanya memanggungkan
kisah yang penuh tangisan, tapi anda juga menempatkanya dalam musik
kontemporer; waltz dan polka yang waktu itu merupakan music-musik yang mengiringi
kenikmatan pelampiasan nafsu dari minuman keras dan sensualitas. Yang paling
termasyur adalah Brindisi drinking song di babak pertama, Alfredo bernyanyi
waltz “Libiamo” – “marilah mabuk”, pada dasarnya.Lagu itu adalah sebuah duet yang terkenal
dengan paduan suara, salah satu melodi opera yang paling terkenal dan pilihan
popular bagi pertunjukan penyanyi-penyanyi tenor termasyur.
Giuseppe, menirukan Alfredo dalam Brindisi, the drinking
song :
“Libiamo, libiamo ne’lieti calici Marilah minum dari
cawan-cawan kegembiraan
che la belleza infiora.dihiasi
kecantikan,
E la fuggevol ora s’inebrii dan waktu yang
berkilas hendaknya dihiasi
a
voluttà.dengan
kenikmatan.”
Aku berkata:
“Dibutuhkan kepribadian yang sangat kokoh untuk hidup
seperti yang anda jalani; untuk memelihara pada saat usia senja minat yang segar,
tekad yang demikian kuat untuk mencapai hasil. Memproduksi opera berarti
negosiasi dengan seorang impresario, mendapatkan hak cipta dan mengedit
naskahnya, mencari dan memilih penyanyi-pnyanyi, menggubah musiknya, mengawasi
latihan-latihan,memimpin beberapa
pertunjukannya, menangani para penerbit, dan banyak lagi. Apakah yang mendorong anda untuk begitu bersemangat
memproduksi opera-opera?
Giuseppe:
“Jawabannya sebagian mungkin dapat diketemukan di latar
belakang saya yang sederhana, asuhan orang tua yang sederhana. Ayah saya mempunyai
sebuah losmen kecil dan toko kelontong di desa Roncole. Dia tidaklah kaya, tapi
mampu untuk memberikan putranya pendidikan musik yang komplit.Ayah mengatur saya belajar musik ketika saya
berumur empat tahun. Ketika berumur baru sebelas tahun, saya menggantikan kedudukan
guru saya, dengan gaji tigapuluh enam franc per tahun! Saya memiliki seratus
franc ketika saya pergi 6 tahun kemudian, tapi selama itu saya jalan kaki
setiap hari Minggu dan liburan dari Busseto, berjarak 3 mil, untuk pendidikan
umum saya.”
Aku berkata:
“Di Busseto waktu itu ada seorang musikus amatir, bernama
Barezzi. Dia menerima andadi rumahnya
di gudang, dan membolehkan anda untuk latihan piano. Barezzi mempunyai putri
yang juga main piano. Dapat ditebak dalam situasi ini anda saling jatuh cinta
dan menikah di tahun 1835.”
Giuseppe:
“Waktu itu saya miskin sampai-sampai saya harus menggadaikan
perhiasan isteri saya untuk sewa rumah. Margherita melahirkan dua anak, Virginia dan
Icilio. Keduanya meninggal ketika masih kanak-kanak ketika saya mengerjakan
opera saya yang pertama Oberto pada umur 26 tahun.
Malam perdana yang dipanggungkan di La Scala Milan di
November 1839, Oberto cukup sukses dan teater impresario Bartolomuo Merelli
cukup berminat untuk menawarkan kontrak untuk dua opera lagi.”
Aku berkata:
“Anda menjalani kehidupan dengan lebih banyak saat-saat
tragedy dibandingkan dengan yang bisa dihadapi kebanyakan orang . Sebagai
seroang pemuda anda kehilangan kedua anak anda pada usia balita, dan isteri
anda meninggal tidak lama kemudian di tahun 1840 karena encaphilitis. Hal itu
terjadi ketika anda baru saja menerima permintaan untuk menulis sebuah opera
komik, Un giorno di regno (Raja dalam Sehari) dan anda meneruskannya ketika
hati anda terluka. Opera itu gagal dan kami tidaklah heran mengapa opera itu
gagal.
Dengan kehidupan pribadi anda berantakan dan karya
professional anda terhalang karena duka cita, anda terpuruk duduk dengan
kegusaran dan terdiam untuk setahun atau lebih, tidak bertemu dengan siapapun,
seakan mendeklarasikan bahwa hidup tak berguna untuk dijalani.”
Giuseppe:
“Saat itu saya sendirian! Sendirian yang tak tergantikan!.... Keluarga
saya telah musnah!... Dan untuk memmenuhi janji yang telah saya buat, pada saat
yang paling keruh dalam kehidupan saya, saya harus menulis Un giorno di regnoyang kemudian tidak disukai penonton….
Tersiksa dengan kesengsaraan keluarga saya, yang diperberat dengan kegagalan
karya saya, saya yakin bahwa seni tidak akan membawa penghiburan, dan saya
memutuskan untuk berhenti menulis music!.....”
Aku berkata:
“Lalu di suatu hari di musim dingin yang suram di tahun 1841
setelah pertemuan kebetulan dengan Bartolomeo Merelli, impresario dari La
Scala, dia member ada sebuah manuskrip untuk Nabucco karya Temistocle Solera.”
Giuseppe:
“Saya bawa pulang manuskrip itu, dan melemparkannya ke atas
meja dengan agak kasar…. Ketika jatuh, buku itu terbuka dengan sendirinya;
tanpa saya sadari mata saya tersorot ke halaman yang terbuka dan sebuah kalimat
tertentu: 'Va pensiero, sull' ali dorate' yang berarti ‘Pergilah, kenangan,
dengan sayap keemasan’.
Saya membaca kalimat-kalimat berikutnya dan sangat
terhanyut, apalagi karena tulisan itu seperti sebuah kutipan dari Alkitab,
bacaan yang selalu menghibur saya. Saya membaca dengan antusias bagian demi
bagian tulisan itu. Lalu, dengan tekad untuk tidak akan menulis opera lagi,
saya memaksa diri untuk menutp manuskrip itu dan pergi tidur. Tapi tidak ada
gunanya – saya tidak bisa menghapus Nabucco dari kepala saya. Tidak bisa tidur,
saya bangun dan membaca manuskrip itu, bukan sekali, tapi dua atau tiga kali,
sehingga di pagi hari, saya hampir hafal manuskrip Solera itu. Namun saya tetap
menolak untuk menggubah musiknya dan mengembalikan manuskrip itu ke sang
impresario di keesokan harinya. Tapi Merelli tidak mau menerima sebuah
penolakandan langsung memasukan tulisan
itu ke kantong saya kembali dan, bukan hanya mengusir saya dari kantornya, tapi
membanting pintu di hadapan saya dan mengunci dirinya di dalam.
Lalu lambat laun saya bekerja menulis musiknya, syair ini
hari ini, besoknya yang itu, di sini sebuah nada, di sana seluruh bagian, dan
sedikit demi sedikit opera itu tertuliskan, dan di musim gugur tahun 1841
tulisan itu selesai.”
Aku berkata:
“Kemudian tidak perlu dibilang apa yang terjadi kemudian,
malam perdana Nabucco pada tanggal 9 Maret sukses besar, dan karya ini menjadi
karya abadi anda yang pertama. Bagi anda opera ini menjadi titik balik dari
keputusasaan menuju “Viva Verdi, Viva Verdi…….”.
Seakan lirik dari 'Va pensiero, sull' ali dorate' yang
diilhami Mazmur 137:
‘atau biarkan Tuhan mengilhami konsert
Yang mungkin dapat menanggung kesengsaraan kita.’ “
TAMAT
Ini adalah wawancara
imajiner mengenang Giuseppe Verdi.