Jumat, 17 April 2020

Wawancara dengan Sulli


Photo: Wikimedia
Aku datang langsung dari airport Incheon menuju kantor pusat yang baru dari SM Entertainment di daerah Cheongdam-dong di Seoul untuk berjumpa dengan aktris dan penyanyi yang sangat populer, Sulli. Sebenarnya aku tercengang mendapatkan tugas mewawancarai bintang ini, berhubung publikasi kami biasanya tidak mencakup artikel-artikel tabloid seperti ini. Tapi, hei, jaman berganti dan kita musti beradaptasi dengan jaman dong.

Bagaimanapun, akan sangat menggairahkan untuk bisa bertemu dengan para selebritis di episenter industry K-Pop, penggerak “Hallyu” atau “Gelombang Korea”. Kalau untung aku bisa menjenguk BoA, TVXQ, Super Junior, SNSD,  Shinee, f(x), EXO, Girls’ Generation, dll. Ikuti saja suara jeritan para fans dan aku akan dapat menemukannya.

Sulli nampak sebagai seorang gadis yang berperilaku sederhana, terlalu sederhana bagi persona panggungnya. Berpakaian seperti seorang gadis-gadis Korea biasanya, kuning dengan sulaman bunga yang melekat  ke roknya, seakan ia akan pergi ke pesta perkawinan. Senyumannya manis, yang ia tutupi dengan tangan kalau tertawa, seperti gadis ABG pemalu yang betemu dengan cowok keren. Sangat berbeda dengan caranya berpakaian dan bergoyang di panggung, di dalam video klip ataupun sebagai pecandu narkoba yang diperankannya di filem terbarunya.

Kulitnya seputih susu, seperti gadis-gadis Korea pada umumnya, rambutnya dicat pirang kemerahjambuan, seperti selebritis Korea lainnya. Matanya keliatan rada sembab seperti yang bisa kita lihat di banyak foto-fotonya dan di Instagram, kelopak mata bawahnya yang sembab itu agak kehitaman, mungkin karena dipoles kosmetik, aku tidak pasti.

Bagaimanapun, sangat menyenangkan untuk bertemu dengannya, dia sangat bersahabat dan santai, tidak ada tingkah ‘diva’ dalam kelakuannya. Juga tidak tampak seperti Sulli gadis yang kontroversial yang menggemparkan sosial media dengan penampilannya dan pernyataan-pernyataannya, melainkan dia berbicara dengan lemah lembut dan sering tersenyum dan tertawa.

Kemudian, setelah tegur sapa, aku langsung menelusuri check list yang kupersiapkan, dengan tidak membuang waktu:

“Sulli, anda memulai karir anda sebagai trainee di umur sangat muda belia 11 tahun di tahun 2004, dan lalu memerankan Putri Seonhwa dari Silla di filem drama Ballad of Seodong. Selanjutnya, sebagai aktris muda anda bermain di dalam filem drama seperti ‘Vacation’, ‘Punch Lady’, ‘Babo’. Kemudian anda berdebut dengan group gadis penyanyi f(x), sementara itu anda meneruskan karir akting anda dan  mencapai puncaknya di drama televisi serial ‘To the Beautiful You’. Di dalam drama serial ini anda mendapat penghargaan New Star Award di tahun 2012 untuk peran anda sebagai gadis yang menyamar sebagai laki-laki agar bisa bertemu idola atletik, yang diperankan Choi Minho dari Shinee. Apa yang saya bisa katakan, karir yang sangat mengkagumkan, Sulli, anda pastinya mendapat beban yang sangat berat untuk meraih semua itu saat usia muda.”

Sulli:
“Saya kira karena saya aktif semenjak masih muda belia, tak banyak orang yang menganggap saya sebagai anak belia. Ada banyak saat-saat yang menakutkan. Jika mereka menyuruh saya sesuatu, saya turuti saja, saya bahkan tidak mengetahui mengapa saya harus begitu. Pada suatu saat, saya mulai berpikir, ‘Mengapa saya harus melakukan ini?’ Saya tidak merasa hal ini sesuai bagi saya. Saya berada dalam banyak tekanan. Saya sering merasa ketakutan.”

Aku berkata:
“Anda meninggalkan group gadis penyanyi f(x) di tahun 2014, diberitakan karena kelelahan mental dan fisik dan agar anda bisa focus di karir akting anda. Apa yang sebenarnya terjadi…?”

Sulli:
“Waktu itu saya berjuang melawan intimidasi internet, dan berjuang melawan gangguan kepanikan, fobia sosial selama seluruh kehidupan saya….. Saya mengalami gangguan kepanikan sejak usia belia. Ada saat saat ketika orang-orang terdekat saya…. Teman-teman dekat saya meninggalkan saya. Orang-orang melukai saya, jadi segalanya runtuh. Saya tidak merasa sebagai seorang yang memiliki seorangpun yang berpihak di sisi saya atau seorang yang mengerti keadaan saya.  Jadi karena itu saya rubuh. Saya ketakutan dan tak pasti akan masa depan saya, jadi saya rasa saya berusaha melindungi diri saya sejauh mungkin. Saya berusaha melindungi diri saya, jadi ada rasa mendesak. Tidak ada orang yang mendengar saya ketika saya menjalani masa sulit. Saya merasa saya dibiarkan sendiri di dunia.”

Aku berkata:
“Ada juga gossip yang mengatakan bahwa anda menarik diri dari dunia entertainmen karena tekanan gossip mengenai hubungan anda dengan Choiza dari Dynamic Duo. Kalian berdua kemudian mengkonfirmasikan hubungan kalian. Perbedaan usia 14 tahun antara anda yang ketika itu 20 tahun dan juga kesan akan Choiza yang kasar dan berandal menhancurkan image pop idol anda yang imut-imut – yang menimbulkan kemarahan para fans anda. Apakah Choiza adalah tipe ideal anda?”

Sulli:
“Tipe ideal saya adalah seorang yang bisa diandalkan, yang tidak bertingkah manis selalu dan mendengar apa saja yang saya katakan. Akan baik jika ia selalu berada di tempat yang sama.  Dan ia harus berambut lurus, pakaiannya rapi, seksi, dan seorang bermartabat dan berpikiran terbuka.”

Aku berkata:
“Dan Choiza berkata di sebuah wawancara bahwa tipe idealnya bukanlah wanita yang cantik atau muda. Dia tidak pernah tertarik kepada wanita yang cantik dan muda, namun dia berpacaran dengan intim dengan anda, Sulli. Anda berdua banyak persamaan. Dia juga berkata bahwa dia mengambil inspirasi dari hubungannya dengan anda. Dia bilang, adalah benar bahwa beberapa kenangan terpatri di lagu-lagunya. Salah satu lagu yang ditulisnya saat berhubungan dengan anda adalah ‘Eat, Do It, Sleep’ menerima banyak kritikan dari pemirsa Korea karena liriknya yang seksual dan sugestif, dan banyak orang menganggap bahwa lagu itu tentang anda.”

Sulli:
“Waktu itu saya biasanya mengunggah gambar-gambar dari kencan-kencan kami. Namun ketika saya mengunggah salah satu gambar ciuman kami, para haters menyerbu Instagram saya, berkata ‘Apakah anda harus mengunggah gambar ini?’, ‘Cepatlah kawin. Keliatannya kamu harus begitu.’
Tapi saya mengacuhkan apa yang mereka bilang. Saya sedang jatuh cinta dan saya ingin menunjukkannya. Mengapa saya tidak boleh menampilkan foto kami berciuman di Instagram?”

Aku berkata:
“Anda banyak disemprot hujatan untuk unggahan-unggahan anda di Instagram, yang dianggap banyak orang terlalu seronok. Di dalam beberapa foto anda, anda mengenakan pakaian dalam yang tipis, no bra, yang menonjolkan puting anda. Komentar-komentar apa yang anda terima dari para netizens tentang foto-foto ini?”

Sulli:
“ Bunyinya seperti, ‘Apakah kecantikan Sulli itu asli?’, ‘Kecantikan yang tercela’, ‘Aku tak bisa berhenti melihat walaupun aku berusaha untuk tidak melihat’, ‘Dia adalah figur publik. Apakah dia tidak bisa sedikit menahan diri?’ , ‘Kamu sangat ingin bertelanjang, hah?’, ‘Siapa sih yang berbuat begini? Siapa yang mengambil foto begini dan mempostingkannya?’, dan banyak lagi….”

Aku berkata:
“Di dalam Reality TV show Night of Hate Comments, di mana selebritis Korea berkumpul untuk membahas hujatan-hujatan di dunia maya dengan cara membacakan dan mendiskusikan komentar-komentar yang menghujat, anda bisa berbicara dengan tertawa ringan mengatakan bahwa anda duduk di show itu tanpa menggunakan bra. Mengapa anda memilih pakaia tanpa bra?”

Sulli:
“Itu adalah kebebasan individual. Bra tidak baik bagi kesehatan, karena ada kawatnya, bra tidak baik buat organ pencernaan, dan saya ada masalah dengan pencernaan makan. Karena lebih leluasa untuk tidak memakainya, saya tidak memakai bra. Saya rasa dengan begini rasanya lebih bebas dan cantik.  Saya juga menganggap bra sebagai asesori. Bra cocok untuk beberapa jenis pakaian dan kalau ada pakaian yang kelihatan tidak bagus kalau pakai bra, maka saya tidak memakainya.  Ketika pertama kali saya posting foto no bra saya, muncul banyak percakapan tentang hal itu. Saya ketakutan dan ingin bersembunyi, namun saya tidak bersembunyi karena saya ingin merubah pandangan masyarakat tentang hal itu. Dalam hati saya juga ingin berkata ‘Ini bukan masalah besar’. Saya mendengar bahwa kini semakin banyak orang pergi keluar tanpa mengenakan bra.”

Aku berkata:
“Apakah anda mengajukan pengaduan pidana ke pengadilan terhadap orang-orang yang menulis komentar-komentar yang menghujat anda?”

Suli:
“Ada, saya mengadukan seseorang ke pengadilan pidana. Tapi, saya kemudian mengetahui bahwa orang itu akan masuk ke perguruan tinggi terkenal dan usianya sama dengan saya. Kalau saya tidak bertindak lunak terhadap seseorang yang akan masuk perguruan tinggi yang bagus itu, orang itu nantinya akan menjadi bekas narapidana. Orang itu akan mendapatkan masalah ketika mencari pekerjaan. Saya menerima surat yang panjang dari pemberi komentar menghujat itu. Katanya dia menyesal dan tidak menyadari bahwa hal ini menjadi hal yang besar, dan ingin melampiaskan stressnya pada saya. Saya merasa segan menjebloskan sesorang seusia saya yang nantinya menjadi bekas narapidana dan saya memutuskan untuk bersikap lunak kepadanya.  Tapi, kalau saya harus mengajukan pengaduan lagi, saya tidak akan bersikap lunak …… (tertawa, menutupinya dengan tangan).”

Aku berkata:
“Kontroversi lainnya yang anda timbulkan adalah tentang komentar ada mengenai pembatalan undang-undang anti aborsi di Korea Selatan. Pada tanggal 11 April 2019 pemerintah menganggap undang-undang anti aborsi yang telah berumur 66 tahun sebagai tidak konstitusional. Undang-undang anti aborsi ini membikin perbuatan aborsi sebagai kejahatan kiriminal dan dapat dihukum sampai 2 tahun penjara.”

Sulli:
“Pada hari itu, saya mempostingkan sebuah foto bunga-bunga di Instagram dan mengatakan,  ‘Perundangan aborsi sebagai kejahatan telah dibatalkan. Ini adalah hari yang patut dihormati. Berilah pilihan kepada semua wanita.”

Aku berkata:
“Mempertimbangkan bahwa isu aborsi itu selalu kontroversial, ada baiknya bagi para selebritis untuk mungkin lebih menahan diri dalam menunjukan perasaan anda. Walaupun isu ini bukanlah isu yang asing bagi dunia Barat, kepercayaan Korea yang konservatif dan kebudayaannya menyebabkan anda dicaci-maki oleh publik.”

Sulli:
“Maaf, saya tidak ingin memberi komentar lebih lanjut tentang pendirian saya mengenai masalah ini.”

Aku berkata:
“Ada orang-orang yang mencurigai anda menggunakan obat bius setelah melihat foto-foto Instagram anda, dimana pupil mata anda meredup. Apakah betul?”

Sulli:
“Ada orang-orang yang mengunggah foto-foto untuk membandingkan pupil mata saya dengan foto-foto orang-orang yang benar-benar pencandu obat bius. Saya bermain di filem berjudul ‘Real’ dan ada adegan yang menunjukkan penggunaaan obat bius disitu. Saya banyak melakukan riset waktu itu dan menonton 5 filem-filem tentang obat bius dalam satu hari. Lalu, teman saya bilang:’ Apakah kamu Heath Ledger atau sebangsa itu?’ Saya bilang ‘Apakah saya tidak boleh berakting secara metodologis juga? Saya mempelajari ini agar saya bisa berakting dengan baik.’ Saya bisa ambil sehelai rambut saya sekarang untuk ditest apakah saya menggunakan obat bius.”

Aku berkata:
“Benar, pemeriksaan sel rambut adalah satu-satunya test narkoba yang bisa memeriksa pemakaian narkoba 90 hari sebelumnya. Tapi anda telah mencat rambut anda dan alismata…”

Sully:
“Kalau begitu saya ambil bulu kaki saya…. (tertawa, menutupinya dengan tangan). Saya tidak melakukan sesuatu yang illegal, saya bertindak bebas di dalam pagar-pagar hukum.”

Aku berkata:
“Anda menyebut filem ‘Real’, yang anda bintangi dengan aktor papan atas Kim Soo Hyun di tahun 2017, tapi filem itu sebenarnya gagal di box office. Menurut anda mengapa menjadi seperti itu?”

Sulli:
“ Plotnya yang rumit dan liku-likunya sulit dimengerti dan segala usahanya untuk mempesona para penonton gagal. Dalam kata-kata Kim Soo Hyun, filem itu sebenarnya bukanlah jenis filem yang orang-orang akan langsung menyukainya, jadi butuh waktu untuk menyerapinya. Tapi ulasan-ulasan para kritikus sangat melecehkan hingga membuat Kim Soo Hyun berlinang air mata waktu berpidato pada event promosi filem itu. Tapi air matanya tidak lama, dia dengan cepat menguasai dirinya dan menyelesaikan pidatonya.”

Aku berkata:
“Sebetulnya, adegan kematian anda di bak mandi karena overdosis dalam pelukan Kim Soo Hyun cukup menyentuh dan berkesan. Adegan-adegan yang anda mainkan di filem ini tidaklah banyak tapi mendapat komentar-komentar yang baik dari penggemar-penggemar anda. Jadi walaupun ‘Real’ banyak mendapat komentar negatif, anda berhasil memerankan suatu peranan yang tidak konvensional dan penuh risiko, yang telah membuka berbagai pintu-pintu bagi karir akting anda.
Tapi, entah bagaimana adegan yang menjadi viral adalah adegan permainan seks anda dengan Kim Soo Hyun yang eksplisit, buah dada anda yang bugil nampak disana, apakah adegan ini benar-benar perlu untuk cerita filem itu?”

Sulli:
“Ya, adegan-adegan seks yang explisit itu perlu bagi cerita filem itu. Saya pikir adegan itu tidaklah mudah. Adegan itu sangat menantang saya, dari segi akting dan dari segi lain. Adegan itu sukar dan saya membuat saya sangat khawatir, tapi hal itu menyenangkan. Saya rasa saya punya banyak ambisi dalam berakting. Hal itu berkembang ketika saya bermain di filem ini. Saya merasa meraih suatu prestasi ketika bermain di filem itu.”

Aku berkata:
“Setelah anda meninggalkan group gadis penyanyi f(x) di tahun 2014 untuk beristirahat, karena keadaan anda yang lelah mental dan fisik dari komentar-komentar menghujat terus menerus dan gossip-gossip palsu, di tahun 2017 anda memperbaharui kontrak anda dengan SM Entertainment untuk beberapa filem-filem dan program lainnya. Lalu di tahun 2019 anda kembali ke dunia K-Pop idol, berdebut solo dengan single album Music Video berjudul ‘Goblin’. Anda membantu menulis lirik dari tiga lagu-lagu disini.

Lagu ‘Goblin’ bercerita tentang monolog internal seorang wanita, yang anda perankan, bercakap-cakap dengan tiga kepribadian, yang satu baik, yang satu lainnya buruk dan yang ketiga adalah diri anda sendiri yang normal. Mereka bercakap-cakap agar mereka dapat diterima oleh wanita itu karena dia memiliki gangguan mental menghadapi realitas. Dengan segala kontroversi yang menyangkut anda belakangan ini, orang-orang dengan mudah menganggap bahwa lagu ini memang berbicara tentang anda dan pengalaman anda.”

Sulli:
“Ketiga kepribadian itu bukanlah monster atau goblin, dan wanita itu bahkan menghibur mereka dengan berkata ‘janganlah takut, saya hanya ingin bilang: hai.’  (bersenandung lagu itu)…. Janganlah terlalu kejam pada saya, saya bukanlah orang jahat (mencoba tersenyum di dalam kesenduannya). Janganlah salah mengerti.

Tahukah anda, nama saya Sulli, Sul berarti salju, dan Li berarti bunga dari pohon Callery pear yang berasal dari China dan Vietnam, bunganya putih kecil-kecil dengan 5 daun bunga, jadi saya mungkin akan ber-reinkarnasi menjadi bunga yang walaupun kecil, memiliki vitalitas penuh.”

Aku berkata:
“Terima kasih Sulli buat wawancara yang menarik ini, tapi saya ada permintaan terakhir, bolehkah….ehm…. saya memeluk anda…?”

Sulli bilang “Tentu saja” dengan senyum manis dan meraih untuk memeluk. Wanginya  seperti aroma mawar dari parfum ‘Romance’ dari Ralph Lauren……

TAMAT
Ini adalah wawancara imajiner untuk mengenang Sulli.

Sumber:






Sabtu, 28 Maret 2020

Seoul, di Gwanghwamun Square


Berjalan dari Gwanghwamun gate (istana Gyeongbokgung) menuju kota, saya melihat ada sebuah avenue yang asyik dan gembira. Avenue ini dikelilingi Gedung-gedung tinggi, dan dinamakan Gwanghwamun Square. Mengamati avenue ini, lalu saya teringat inilah lokasi dari filem action Iris, filem serial drama TV yang popular di Korea, dimana aksi kejar-kejaran yang mendebarkan, dan perkelahian terjadi. Kim Hyeon-jun (Lee Byung-hun) dan Kim Sun-hwa (Kim So-yeon) berada di Gwanghwamun Square untuk mencari bom yang ditanam oleh teroris disini di episode 17.

Avenue yang menuju istana sudah ada sejak Seoul menjadi ibukota Korea. Avenue in lebar buat perjalanan raja dan romobongannya dari istana ke tujuan lainnya. Di abad ke 20 avenue itu masih lebar, dengan 16 jalur mobil, namun di tahun 2009 Pemerintah memutuskan untuk membuat lapangan nasional dengan mengubah 10 jalur menjadi lapangan untuk publik untuk bergembira dan bersosialisasi. Demikianlah terjadinya Gwanghwamun Square.

Di tengah lapangan ini berdirilah patung dari Raja Sejong yang Agung, raja ke-empat dan yang paling dihormati dari dinasti Joeseon dan pencipta Hangeul, alphabet Korea. Kebetulan saya melihat filem The King’s Letters di penerbangan dengan Asiana, sebuah filem sejarah yang menggambarkan Raja Sejong mengambil risiko mempertaruhkan reputasinya untuk menciptakan Hangeul, alphabet Korea bagi rakyatnya. Filem itu cukup menarik untuk ditonton, menimbang topic yang membosankan dan akademis tentang pembentukan bahasa Korea tertulis. Pastilah tidak mudah membuat filem yang menarik dari topic yang demikian.

Lebih jauh, terdapat patung Admiral Yi Shun-shin, komandan angkatan laut yang terkenal akan kejayaannya terhadap angkatan laut Jepang ketika penyerbuan Jepang ke Korea (1592-1598) dan seorang pahlawan bagi rakyat Korea. Di depan patung itu terdapat miniature kapal kura-kura yang dibuat sang Admiral, dan disetiap pojok ada gendang yang dipakai untuk meningkatkan moral para prajurit menuju medan perang.

Pada bulan Oktober itu, ‘Hi Seoul Festival’ sedang berlangsung di Gwanghwamun Square. Festival itu adalah festival besar tahunan bagi pertunjukan kesenian untuk mempromosikan kebersatuan international dengan memungkinkan orang-orang berkomunikasi melalui music dan pertunjukan non-verbal, melampaui batas-batas bahasa, ras dan usia. Ratusan pertunjukan dari kelompok-kelompok dari seluruh dunia dipanggungkan selama seminggu festival ini.

Namun, festival ini bukan hanya perayaan. Berhubung tragedy kapal Sewol baru terjadi beberapa bulan sebelumnya, ada kenangan bagi korban-korban tenggelamnya kapal itu dipertunjukan disana. Ada poster-poster yang menggambarkan kesedihan orang tua, kawan dan saudara-saudara para korban, beberapa poster menunjukan kemarahan atas cara pemerintah menangani tragedi ini.

Dari ke 476 penumpang dan awak kapal, 304 meninggal di kecelakaan itu, yang terbanyak adalah para pelajar sekitar 250 orang dari SMA Danwon, kota Ansan. Tenggelamnya kapal MV Sewol menimbulkan reaksi sosial dan politik yang meluas di Korea Selatan. Banyak orang mengkritik kapten dan sebagian besar awak kapalnya. Juga dikritik operator kapal ferry itu dan pemerintah yang mengawasi operasi kapal itu, termasuk pemerintahan presiden Park Geun-hye akan tindakannya untuk mengendalikan bencana itu.

TAMAT
Sumber: Wikipedia






Jumat, 06 Maret 2020

Seoul, di Istana Gyeongbokgung



Ketika saya memasuki ruang pertemuan utama dari Istana Gyeongbokgung, saya menatap ke langit-langit dan saya takjub melihat ornamen warna warni, merah, biru dan hijau, yang berbunga-bunga di bagian sudut-sudut atap.  Saya bisa melihat gambaran agung dari naga-naga di langit-langit itu, menunjukan dua ekor naga kuning terbang di langit. Di dalam tradisi Timur, warna kuning diasosiasikan dengan lokasi sentral, jadi kuning adalah warna pusat kekekuasaan.

Sejak jaman dulu naga-naga adalah bagian dari mitologi Timur, dan juga simbol utama bagi kekuasaan dan martabat raja. Naga yang terbang ke angkasa melambangkan yang diharapkan agar seorang yang bijaksana akan naik takhta. Hal ini berasal dari mitologi dimana seekor naga yang sudah lama disembunyikan di laut bangkit dan terbang ke atas menuju langit.  Jadi naga-naga terbang yang digambarkan di langit-langit, dan juga yang di kanopi di atas takhta raja melambangkan posisi sentral raja, dari mana ia memerintah dunia sekitarnya dengan kekuasaan dan martabat.

Berjalan sekeliling situ, saya juga melihat banyak lagi figur hewan-hewan di istana itu, hewan-hewan ini merupakan simbol keberuntungan yang menandakan panjang umur, kedamaian dan kesejahteraan, dan kebahagiaan. Termasuk diantaranya qilin, gajah, rusa, dan bangau terpatri di ruang pertemuan dari Istana Gyeongbokgung. Ada pula hewan-hewan yang diaksudkan untuk mengusir roh-roh jahat dan menghindarkan ketidakberuntungan. Diantaranya adalah cheollok yang terlihat di jembatan Yeongjegyo di Istana itu, ketika roh-roh jahat atau orang jahat menyeberangi jembatan itu, hewan-hewan mitologis ini menyerang dan mengusir mereka.

Raja Taejo, raja pertama dan pendiri dinasti Joseon, di tahun 1392 memutuskan untuk memindahkan pemerintahan ke Hanyang (Seoul sekarang) di tahun ketiga pemerintahannya, dan memulai pembangunan Istana Gyeongbokgung di tahun 1394. Lokasinya dikelilingi 4 gunung, gunung Bugaksan di sebelah Utara, gunung Namsan di Selatan, gunung Naksan di Timur dan gunung Imwangsan di Barat. Tata letak gunung-gunung ini dipercayai akan member fengshui yang bagus bagi Gyeongbokgung.

Pembangunan dari istana mulai di bulan Desember 1394 dibawah pengawasan Jeong Do-jeon, seorang menteri pemerintahan yang berpengaruh, dan rekannya Sim Deokpu. Jeong Do-jeon yang juga adalah sarjana Confusius yang terkemuka, merancang istana itu mencerminkan filosofi dari Confusianisme. Dia ingin merefleksikan prinsip-prinsip dinasti Joseon berdasarkan idealisme Confusius. Menurut  Confusianisme seseorang haruslah melatih jiwa dan badannya sebelum dia bisa mengajar orang lain dan memerintah dunia.

Karenanya Jong Do-jeon menyarankan bahwa istana itu janganlah menjadi simbol kedaulatan kekuasaan, tapi sebuah tempat dimana raja mengolah jiwanya dan memerintah rakyatnya dengan bantuan pegawai pemerintah yang baik. Dia ingin membangun istana yang bukannya megah atau menawan, tapi rada sederhana dan anggun. Membangun istana yang mewah bukanlah salah satu nilai dari Confusianisme.

Jong Do-jeon also gave name to the palace Gyeongbokgung, which means the ‘Palace of Shining Blessings’. ‘Gyongbok’ is a word borrowed from one of the Confucian scriptures which means ‘to enjoy good fortune and prosper’. The word ‘gung’ means palace, so ‘Gyeongbokgung’ suggested good wishes to the new dynasty.

Jong Do-jeon juga memberi nama istana itu Gyeongbokgung, yang berarti ‘Istana dengan Rahmat bersinar’. ‘Gyongbok’ adalah kata yang diambil dari salah satu kitab Confucius yang berarti ‘nikmati keberuntungan dan makmur.’ Kata ‘gung’ berarti istana, jadi ‘Gyeongbokgung’ menyarankan harapan baik bagi dinasti yang baru.

TAMAT

Sumber: kto.visitkorea.or.kr ; https://artsandculture.google.com/theme/animals-in-the-palaces/xQIy6nRWUZs6JA?hl=en ;







Rabu, 05 Februari 2020

Wawancara dengan Emile


Photo: Wikimedia
Salah satu tulisan Emile yang kontroversial adalah novel “Lourdes” mengenai konflik antara agama dan naturalisme yang dipanggungkan di lokasi ziarah terkenal Lourdes, Perancis. Setelah membaca novel ini saya terdorong untuk berbincang-bincang dan mengkonfrontasikannya dengan kontroversi yang ditimbulkan oleh novel itu. Saya berusaha untuk menghubunginya banyak kali, namun dia tampaknya sibuk dan sedang berkelana di Perancis.


Lalu, saat saya berkunjung ke Lourdes di bulan Agustus, saya dengar bahwa Emile juga sedang di sana di tengah ribuan peziarah yang datang dari segala penjuru dunia. Saya sangat heran dia mau datang ke sini, mempertimbangkan reputasinya sebagai pendiri pergerakan kesusasteraan baru ‘Le Naturisme’, kembali kepada alam, sebuah bentuk realisme yang ekstrim yang menerangkan segala sesuatu berdasarkan gejala alamiah dan menyangkal segala suatu yang supranatural atau dicampurtangani ilahi.

Dengan tekad menemuinya, saya bertanya kepada orang-orang di sana mengenai keberadaanya, tapi tidaklah mudah. Setiap orang yang datang kesini memiliki minat tersendiri, dan tentunya mengincar selebritis bukanlah minat utama mereka. Namun, dengan sedikit keberuntungan, setelah pencarian panjang saya melihatnya ditengah sekelompok kecil peziarah yang sedang bernyanyi dan menari, dekat Grotto di samping sungai Gave de Pau.

Dia sepertinya sedang bergembira di sana dan ternyata orangnya ramah dan mudah didekati.  Setelah saling bertukar ‘Bonjour’, dan ‘bolehkah saya berbicara dengan anda’ dengan sopan,  dia setuju untuk berbincang di sana di pinggir sungai Gave de Pau. Saya tidak menyangka-nyangka, kepala saya meledak membayangkan pujian-pujian dan hadiah-hadiah yang akan saya dapat dari penerbit ‘stenote’.

Lalu saya buru-buru membuka perbincangan:
“Monsieur, Lourdes saat ini tampaknya sudah sangat jauh berkembang dibandingkan dengan saat Bernadette Soubirous hidup. Dulunya adalah perkampungan hijau dengan beberapa ratus penduduk, jauh dari jalan besar, pada masa Bernadette. Sekarang, lihatlah, ada sebuah basilica yang megah di pusatnya, dan gua Massabeille yang liar tempat penampakan Santa Maria sekarang di rapikan dan dihiasi bunga-bunga, dan banyak hotel-hotel dan restoran-restoran bagus yang mengelilingi tempat ini.”

Emile:
“Benar, di buku saya, saya menulis tentang perbandingan keadaan Lourdes masa kini dengan rumah Bernadette di Rue des Petits Floses yang dibiarkan sama seperti keadaan aslinya. Rumah itu tampak sederhana dan menyedihkan di daerah yang suram, dengan bagian muka yang sedih yang jendela-jendelanya tidak pernah terbuka. Di dalamnya seperti ruang gelap yang rendah, dindingnya yang rapuh, plesterannya lembab dan bernoda, rontok sedikit demi sedikit, penuh dengan retak-retak, dan menghitam seperti langit-langitnya. Ya, inilah ruangannya, dari sinilah semua asal muasalnya, 3 tempat tidur untuk 7 orang anggota keluarga Soubirous mengisi tempat kecil ini. Semuanya hidup di sini tampa udara, cahaya, dan hampir tanpa roti! Sungguh kesengsaraan yang mengerikan! Betapa hinanya, kemiskinan yang perlu dikasihani!”

Aku berkata:
“ Tak dapat dihindari bahwa orang-orang mengkritik Lourdes masa kini dalam hal hubungannya dengan praktek-praktek bisnis masa kini, komersialisasi. Sekitar 5 juta peziarah dari seluruh penjuru dunia mengunjungi Lourdes setiap tahunnya, membuatnya kota kedua di Perancis yang paling banyak dikunjungi, setelah Paris. Ada kekhawatiran bahwa dengan menjadi tempat ziarah yang melayani pengunjung masal, aktivitas komersial yang mengitari perziarahan akan meluruhkan kesucian tempat ini.”

Emile, mengutip bukunya:
“Tapi, memang, saya musti bilang bahwa anggota komunitas religious seharusnya tidak memiliki hotel. Tidak, tidak, itu tidaklah benar. Bukankah seharusnya mereka dari komunitas biarawati Blue Sisters, mereka dari Sisters of the Immaculate Conception, membatasi diri mereka ke fungsi mereka yang sebenarnya, pembuatan roti untuk sakramen, memperbaiki dan mencuci kain-kain gereja?

Alih-alih begitu, mereka malah mengubah biara mereka menjadi losmen yang besar, di mana wanita-wanita yang datang ke Lourdes sendirian dapat menemukan kamar tersendiri dan bisa makan di kamarnya maupun di ruang makan umum. Semuanya tentulah sangat bersih, diatur sangat rapih dan tidak mahal, berkat ribuan keleluasaan yang didapatkan para biarawati; kenyataannya tidak ada satupun hotel di Lourdes yang bisnisnya melebihi ini.”

Aku berkata:
“Karena formasi modernnya, bahkan ada tudingan bahwa Lourdes sudah menjadi sebuah Disneyland bagi orang dewasa. Kalau dipikir-pikir, boulevard-boulevard dan taman-tamannya mirip dengan yang di Disney town,  Rosary Basilica dapat dibandingkan dengan Istana Cinderella, prosesi Ave Maria bisa dibandingkan dengan karnaval “Happiness is here” di Disneyland, dan lilin-lilin yang dipakai di prosesi malam bisa dibandingkan dengan kembang api di Disneyland.”

Emile:
“Disneyland di Hong Kong memiliki kereta api khusus menuju tempatnya yang terpencil di pulau Lantau. Seluruh kereta dihiasi dengan Mickey Mouse luar dalam, semua bermotif wajah Mickey. Tempat duduknya diatur seperti ruang keluarga sehingga penumpang dapat merasa nyaman. Jendela-jendelanya berbentuk Mickey, pegangan tangan untuk penumpang berbentuk kupingnya Mickey, dan interiornya dihiasi patung-patung Mickey, Donald dan Goofy. Sehingga anda sudah merasa suasana Disney walaupun belum sampai ke theme park nya.

Di satu sisi, Gereja juga menggunakan kereta api secara inovatif untuk meningkatkan jumlah peziarah ke Lourdes. Mereka mengkoordinasikan kereta api khusus bagi peziarah, merancang gerbong-gerbong untuk mengangkut peziarah yang sakit dan yang cacat, dan mendapatkan diskon 20 hingga 30 persen bagi tiket kelas ekonomi.

Seperti yang saya tulis di buku saya, kereta-api kereta-api ke Lourdes adalah rumahsakit rumah sakit beroda bagi penderita penyakit tahap akhir, yang berisi penderitaan manusia yang bergegas akan harapan penyembuhan, dengan gencar mencari penghiburan di antara serangan-serangan penyakit  yang keparahannya meningkat terus, selalu dibayangi oleh ancaman kematian -  kematian yang bergegas, melaju di bawah kondisi yang mengerikan, seakan berada di tengah-tengah gerombolan penyamun.”

Aku berkata:
“Anda bergabung dengan sebuah kereta api ke Lourdes kala itu untuk melihat sendiri kondisi kereta api dan berdasarkan pengalaman ini anda menulis di buku anda penderitaan, gairah dan harapan para peziarah. Kesakitan, kekhawatiran dan kematian tersebut adalah pengalaman nyata anda di kereta api itu.”

Emile:
“Ya, misalnya Elise Rouquet adalah gadis 18 tahun yang nyata, ia menderita penyakit lupus yang memangsa hidung and mulutnya.  Lukanya telah menyebar, dan menyebar dalam setiap jam – dengan singkat semua gejala mengerikan penyakit ini sudah berkembang sepenuhnya. Dia menutupi seluruh wajahnya dengan syal untuk menyembunyikan penyakit itu. Dia hanya bisa makan potongan-potongan kecil roti, yang dihirup berhati-hati kedalam mulutnya yang sudah hilang bentuknya. Ketika dia membuka syalnya untuk makan, orang-orang bisa melihat wajahnya dengan lubang-lubang menganga yang sepertinya merupakan wajah kematian. Semua orang di gerbong itu menjadi pucat ketika menyaksikan penampakan yang mengerikan itu. Dan pikiran yang sama bangkit di dalam hati orang-orang yang penuh harapan itu. Oh Perawan Penuh Rahmat, Perawan Berkuasa, betapa akan menjadi mujizat benar jika penyakit ini disembuhkan!”

Aku berkata:
“Lalu, seperti yang anda tulis di buku anda, Elise Rouquet merasa tidak perlu pergi ke piscinas (tempat pemandian atau pembasuhan peziarah) untuk memandikan luka mengerikan yang memakan wajahnya, membasuh mukanya dengan air disitu sebagai lotion, setiap 2 jam sejak kedatangannnya pagi itu. Dokter Bonamy, yang menganjurkannya untuk meneruskan pemakaian air itu sebagai lotion dan menyuruhnya kembali setiap hari untuk diperiksa, setelah beberapa saat melihat ada tanda-tanda pemulihan – yang tak tersangkalkan. Jelas nampak bahwa penyakit lupus yang memakan wajahnya, menunjukan tanda-tanda pemulihan.

Elise Rouquet, sekarang lukanya sudah mulai sembuh, lalu membeli cermin kantung, yang bundar besar, di mana ia tidak usah gusar mengamati wajahnya, karena ia menganggap wajahnya cukup cantik dan mengamati dari menit ke menit kemajuan pemulihannya, saat wajahnya sekarang sudah manusiawi kembali, dan lalu dengan genitnya memoncongkan bibirnya dan mencoba berbagai senyuman.

Tapi, Monsieur, walaupun anda mengamati dan menulis tentang kesembuhan penyakit lupus ini, anda menyangkal bahwa ini adalah mujizat. Anda bahkan menampik untuk mengamati wajah Elise yang sedang dalam pemulihan dari dekat seperti yang dianjurkan dokter Bonamy, dan bahkan menjawab :’Bagi saya wajahnya masih jelek.’ Bagaimana and bisa menampik hal ini?”

Emile:
“Seperti yang saya tulis di Pendahuluan buku saya, saya mengakui bahwa saya menjumpai beberapa kasus penyembuhan yang nyata. Banyak kasus gangguan syaraf yang disembuhkan tanpa keraguan, dan ada kasus kesembuhan lain yang mungkin disebabkan oleh kesalahan diagnosis dari dokter-dokter yang memeriksa pasien-pasien tersebut. Kesembuhan yang begini didasarkan atas keteledoran profesi medis.

Seperti yang dikatakan doker Chassaigne para ahli medis menduga banyak penyakit-penyakit ini disebabkan olef syaraf. Ya, mereka menemukan bahwa banyak keluhan seperti ini sering disebabkan buruknya nutrisi pada kulit. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini belumlah dipelajari dan dimengerti dengan baik!  Beberapa ahli medis mulai membuktikan bahwa iman yang diteguhkan bahkan dapat menyembuhkan penyakit, di antaranya beberapa jenis lupus. Bagaimanapun sains adalah sia-sia, sains adalah lautan ketidaktentuan.”

Aku berkata:
“Anda datang ke Lourdes untuk mempelajari fenomena mujizat dari sudut pandang skeptis, namun tak teduga-duga anda mengamati 3 mujizat dalam satu kunjungan anda, sementara bagi banyak orang mereka tak mendengar satu mujizatpun, atau penampakan seakan mujizat, di banyak kunjungan-kunjungan ke sini.

Anda menulis tentang mujizat-mujizat itu dengan terperinci, selain Elise Rouquet ada gadis cilik petani Sophie Couteau yang kembali berkunjung ke Lourdes setelah ia disembuhkan setahun sebelumnya. Dia menderita selama 3 tahun luka menganga yang mengerikan di kakinya, kakinya bengkak dan sudah tak berbentuk. Kakinya selalu diperban karena selalu ada cairan kotor yang keluar dari luka itu. Doker yang membuka kakinya untuk melihat ke dalam, mengatakan bahwa ia harus mengeluarkan sebagian tulang; dan hal ini, cukup pasti akan menjadikan Sophie lumpuh seumur hidup.

Namun dia sembuh dalam sekejap setelah membasuh kakinya di piscina; dimana semua perbannya jatuh terlepas, dan seluruh kakinya sembuh seperti kondisi sehat semula.”

Emile:
“Saya menyelidiki hal ini secara mendalam. Saya dibilangi ada 3 atau 4 wanita di Lourdes yang dapat menjamin fakta-fakta seperti yang dibilang oleh Clementine Trove, nama asli Sophie. Saya mencari wanita-wanita itu. Namun tak seorangpun bisa menjamin apapun, tak seorangpun menyaksikannya, dan saya tak mendapatkan sesuatupun pembenaran akan cerita gadis cilik ini. Tapi gadis ini tidak kelihatan seperti pembohong, dan saya yakin dia sungguh percaya penyembuhannya adalah mujizat. Fakta-fakta lah yang berdusta.”

Aku berkata:
“Ada kasus lain lagi yang anda alami, penyembuhan Marie Lebranchu, anda namai La Grivotte di buku anda. Wanita 36 tahun ini menderita tuberculosis paru-paru yang mematikan selama 2 tahun, dan sudah sampai stadium akhir penyakitnya.”

Emile, mengutip bukunya:
“La Grivotte menangis deras ketika orang-orang tidak mau memandikannya di piscina. Mereka bilang penyakitnya mematikan, dan mereka tak dapat merendam seseorang dengan penyakit mematikan seperti ini ke dalam air yang dingin itu. Lalu ia sampai lelah berkata kepada mereka selama setengah jam bahwa mereka hanya menggusarkan Perawan Penuh Rahmat, karena ia yakin ia akan disembuhkan. Dia mulai menyebabkan skandal hingga salah seorang pastor datang dan mencoba menenangkannya. Lalu setelah mendapat ijin khusus dari pastor Forcade, dia mengharuskan dirinya untuk memohon dan meminta-minta dengan terisak-isak agar mereka merendamkannya.

Dan lalu terjadilah apa yang La Grivotte katakan akan terjadi. Belum lagi direndam selama 3 menit di air sedingin es itu – semua orang khawatir oleh detak penyakit mematikannya – ketika dia mendapatkan kekuatan kembali ke badannya seperti cambuk mencambuki seluruh badannya. Lalu kegembiraan yang berkobar-kobar merasukinya; berseri-seri, berjingkrak-jingkrak, dia tak bisa berdiam. Di malam sebelumnya dia terlihat terbaring di kursi roda, punah, batuk dan meludahkan darah, dengan wajah pucat pasi.”

Aku berkata:
“ Pada akhir buku itu, anda menulis bahwa La Grivotte kembali jatuh sakit dengan penyakitnya yang mematikan itu dan dalam keadaan sekarat di kereta api perjalanan balik ke rumah, yang menyarankan bahwa kesembuhannya tidaklah permanen dan bukanlah supranatural, tapi cuma kasus sugesti automatis di tengah suasana religious yang histeris.

Namun anda terus berhubungan dengan wanita itu lama sesudah kesembuhannya, dan pasti mengetahui bahwa penyakitnya tidak pernah kambuh lagi. Marie Lebranchu, nama asli La Grivotte, hidup sehat sampai tahun 1920.

Dokter Boissarie, atau doker Bonamy di buku anda, Presiden dari Medical Bereau, mempertanyakan kejujuran anda akan cerita anda, merujuk kepada perkataan anda bahwa anda datang ke Lourdes untuk melalukan penyelidikan yang imparsial.”

Emile:
“Saya menjawab dokter Boissarie bahwa sebagai seniman saya bisa berbuat apa saja dengan tulisan saya. Saya menulis untuk mengungkapkan pandangan saya tentang agama penderitaan manusia, penebusan rasa sakit, kemanusian yang menangis putus asa dengan penderitaan, seolah seperti orang lumpuh yang putus asa, kelumpuhan yang tak tersembuhkan, dan yang mana hanya mujizat dapat menyelamatkannya.”

Aku berkata:
“Hampir 7,000 kesembuhan didokumentasikan di perairan Lourdes. Gereja menyelidiki dengan seksama semua kasus ini dan mengakui hanya 67 di antaranya. Ke-67 kasus ini juga disetujyui sebagai mujizat oleh International Medical Committee of Lourdes (CMIL).

Ketiga mujizat yang anda amati, dari Clementine Trove (Sophie Couteau di buku anda), Marie Lemarchand (Elise Rouquet) dan Marie Lebranchu (La Griovote),  semua termasuk dalam 67 mujizat yang disetuhui oleh Gereja dan CMIL.”

Emile:
“Mujizat-mujizat Lourdes tidak dapat dibuktikan ataupun disanggah. Tidak satupun mujizat yang saya amati saya bisa menemukan bukti nyata yang menunjang atau menyanggah bahwa penyembuhan itu adalah mujizat. Bahkan jika saja saya menyaksikan semua orang sakit disembuhkan di Lourdes, saya tetap tidak akan percaya akan mujizat.”

Aku berkata:
“Monsiuer, terlepas dari kepercayaan anda, novel anda telah merangkum dengan baik rasa kasih sayang manusia, tragedinya, harapannya dan drama pejiarah penderita sakit, yang disembuhkan dan yang tak disembuhkan. Pemaparan tentang kenekatan dan rasa putus asa penderita penyakit, yang diabaikan oleh sains dan manusia, mengarahkan diri ke pada Kuasa yang lebih tinggi mengharapkan bantuan. Di sini fenomena Lourdes ditulis dan diamati dengan sangat baik, buku ini menggambarkan Lourdes dari segala aspek. Ada sekitar seratus karakter yang anda tulis, penderita sakit, pejiarah, pastor, suster, perawat, semua mereka terasa hidup dalam tulisan anda.

Lalu, bolehkah saya bertanya untuk terakhir kali, apakah benar Sophie bercerita: ‘Saya tidak membawa cukup perban untuk kaki saya, jadi sang Perawan Penuh Rahmat sangat berbaik hati menyembuhkan saya di hari pertama, karena saya akan kehabisan pembalut di keesokan harinya.”


Emile hanya tersenyum…..


TAMAT

Ini adalah wawancara imajiner mengenang Emile Zola.