Apalagi yang bisa dikatakan tentang istana
Grand Palace di Bangkok, sebegitu banyaknya hal-hal yang dapat dilihat dan
difoto, patung manusia serupa hewan, dinding-dinding dan atap yang cemerlang
keemasan, taman-taman, lukisan-lukisan, tiang-tiang menjulang, stupa keemasan,
barisan Garuda yang tak berujung, dan tak lupa menyebut Emerald Buddha yang
sangat dihormati. Tidak mengherankan bahwa Grand Palace menjadi pusat seni
budaya Thailand selama berabad-abad dan dianggap sebagai acuan bagi segala
jenis kesenian Thailand. Istana ini dianggap sebagai cermin dari identitas
Thailand.
Ketika Raja Rama I memerintahkan pemindahan
ibukota ke distrik Phra Nakhon di tahun 1782, dia mendirikan Grand Palace
sebagai pusat kerajaan yang baru. Dia mengambil inspirasi dari istana di
Ayutthaya, ibukota Siam yang lama, yang dihancurkan tentara Burma di tahun
1767.Istana Grand Palace diletakkan
dengan strategis di tepi sungai Chao Phraya untuk meniru istana di Ayutthaya.
Tata ruang Grand Palace, yang merangkum area seluas 213,677 m2, juga meniru
istana lama di Ayutthaya dengan lapangan-lapangan, tembok-tembok, gerbang dan
benteng yang terpisah. Berbagai zona di kompleks istana ini mencakupi the Outer
Court, the Central Court, dan the Inner Court dan juga Kuil Emerald Buddha.
Untuk mendapatkan material yang diperlukan untuk membangun Grand palace, Raja
Rama I memerintahkan rakyatnya untuk pergi ke Ayutthaya yang sudah hancur,
untuk mencabut dan memngambil batu bata dan batuan-batuan lainnya yang dengan
susah payah dikirim dengan kapal kearah hulu sungai untuk membangun istana yang
baru itu.
Bagian dari kompleks Grand Palace, kuil Wat
Phra Kaeo (Kuil Emerald Buddha) adalah kuil yang paling sakral di Thailand dan
rumah bagi Emerald Buddha. Chaophraya Chakri, yang kemudian menjadi Raja Rama
I, mengambil Emerald Buddha dari Vientiane ketika ia menaklukkan kota ini di tahun 1778.
Dia membangun kuil dan mengabadikan Emerald Buddha disitu sebagai simbol
kembalinya kebangsaan Siam.
Kisah sejarah dan mitos patung ini menciptakan
kepercayaan yang penting mengenai Emerald Buddha. Dipercayai bahwa patung ini
melindungi sebuah kerajaan, kota mereka atau ibukota. Jika seorang raja turun
tahta dengan paksa atau dikalahkan di suatu peperangan, Emerald Buddha akan
dirampas dan diletakkan di ibu kota pemenang peperangan. Patung ini dianggap
memiliki kekuatan spiritual dan dijadikan ikon yang sangat penting bagi rakyat
Thailand.
Tapi saya tercengang melihat Emerald Buddha
yang legendaris ini tampak begitu kecil, tingginya 66 cm, yang bertengger di
ketinggian pada sebuah panggung setinggi 9 meter yang hampir mencapai
langit-langit kuil itu. Emerald Buddha, yang diukir dari sebuah batu tunggal
jade berwarna hijau keabu-abuan, ditinggikan dari kepala pengunjung sebagai
tanda penghormatan. Anda juga musti duduk dengan kaki yang mengarah ke belakang
sebagai tanda penghormatan.
Bagi saya yang paling mengesankan dari Kuil
Emerald Buddha adalah tembok-tembok luarnya yang penuh dekorasi. Tembok-tembok
itu dihiasi
dengan lukisan-lukisan dinding dalam pemerintahan Raja Rama I yang menampilkan
adegan-adegan dari Ramakien, yang merupakan versi Thailand untuk epic Hindu,
Ramayana. Di dalam Ramakien, nama-nama, kebudayaan, alat-alat perang dan bahkan
topografinya dihubungkan dengan kerajaan Thailand. Rama yang merupakan
inkarnasi dari dewa Hindu Wisnu, di dalam Ramakien dia adalah inkarnasi dari
Buddha. Kerajaannya Ayodhya di dalam epic Ramayana digantikan dengan Ayutthaya,
ibu kota purba dari Thailand.
Sepanjang
jalanan di Bangkok, kita bisa melihat bahwa kota ini adalah surge konsumerisme.
Papan-papan iklan ada dimana-mana, besar dan terang benderang, mengiklankan
bisnis-bisnis dari Samsung hingga Toyota. Bahkan bangunan-bangunan tinggi
ditempeli dengan papan-papan iklan raksasa. Dalam satu hal iklan-iklan itu
tampak mengagumkan.
Juga di
stasiun kereta metro, anda tak bisa menjadi bosan menunggu kereta layang karena
ada banyak layar-layar iklan warna warni dengan wajah cantik para artis
menawarkan kosmetik, jus buah, dan, tentu saja, berbagai pakaian. Kelihatannya
para ‘influencers’ ini seperti mengikuti kita kemana saja seperti para pedagang
asongan di jalanan menawarkan barang dagangan mereka, dan mengejar anda kala
anda tidak memberi perhatian kepada mereka, mulai ketika anda menunggu kereta
hingga anda sampai ke tujuan. Dan, iya, bahkan di dalam kereta ada banyak layar
televise menampilkan iklan-iklan. Para artis di situ merupakan penjaja dagangan
virtual, dengan senyum lebar dan gigi putih, menari dan melompat-lompat dengan
dinamis yang mengikuti anda kemana saja, kontras dengan para pedagang asongan
jalanan dengan pakaian kusut, muka terbakar matahari, yang menawarkan barang
dengan wajah iba seakan mengemis.
Ketika
kereta layang tiba di stasiun persimpangan Siam, baiklah kita lupakan para
pedagang asongan itu, karena kita tiba di shopping mall Siam Paragon, suri
teladan (paragon) segala shopping mall. Menempati salah satu lokasi
persimpangan yang paling sibuk di kota ini, shopping mall ini mengambil
keuntungan akan lokasinya yang unggul dengan menjadi jalur penting bagi
distrik-distrik di sekitarnya. Menurut Arcadis, perusahaan yang merancang
bangunan ini, disainnya mencerminkan tingkat kemewahan yang dibayangkan team
Arcadis dengan sebuah atrium kaca yang dramatis yang berfungsi sebagai gerbang
utama ke mall ini. Mungkin prestasi terbesar arsiteknya – dan tantangannya –
adalah bagaimana mereka mengolah segi-segi sirkulasi dan tata letak shopping
mall ini.
Di dalam,
tempat ini merupakan taman-impian bagi butik-butik kelas atas yang berjejer di
lobby, mulai dari Louis Vuitton, Hermes, Chanel, diikuti oleh Fendi, Bottega
Venetta. Jendela-jendela toko didekorasi menarik dengan fashion- fashion
mutakhir dari butik tersebut, pakaian-pakaian, tas-tas, sepatu-sepatu dll. Yang
dijajakan sesuai musim, saat itu temanya adalah ‘Tahun Baru Anjing’. Jadi,
anjing-anjing hiasan dipajang bermain dengan tas, sepatu, dompet di dalam kaca
jendela toko itu. Kita bisa bilang bahwa jendela-jendela toko di situ tampak
dibuat cukup kreatif dengan sendirinya, jendela-jendela itu menghasut selera
konsumtif kita. Kita bisa lihat beberapa turis dari Tiongkok mengantri dengan
taatnya di muka pintu Louis Vuitton.
Mewah adalah
istilah meremehkan bagi shopping mall ini, karena mall ini tidak hanya diisi
oleh butik-butik kelas atas, tapi juga diisi oleh showroom bagi mobil-mobil
yang sangat mahal dan ekslusif, Rolls Royce, Aston Martin, Bentley, Lamborghini,
Maserati, Ducati dan Porsche. Mobil-mobil itu tampak sangat sempurna, namun di
dalam showroom kaca tampak seperti mobil mainan berskala besar dalam kotak
kaca. Dan para pramuniaga nampak bosan sendiri karena tidak orang yang masuk ke
dalam showroom itu.
Tapi itu
belum semua….., ada Ocean Aquarium di basement, multiplex cinemas dengan 15
layar besar, Thai Art Gallery, KidZania untuk anak-anak belajar dan bermain,
toko buku Jepang Kinokuniya, Paragon department store, sebuah super market dan tidak lupa
menyebutkan restoran-restoran kelas atas. Bahkan ada sebuah Opera Theatre di
lantai 5!
Ketika
menuruni escalator saya bisa mendengar di latar belakang lagu dari REM ‘Shiny
Happy People’:
‘Whoa, here
we go…
Everyone
around, love them, love them.
Put it in
your hands, take it, take it.
There's no
time to cry, happy, happy…’
‘Ayo, inilah
dia….
Semua orang
disekitar kita, cintailah mereka, cintailah mereka.
Taruhlah di
dalam tanganmu, ambillah, ambillah.
Tak ada
waktu untuk menangis, berbahagia, berbahagia….’
Baru-baru ini saya
mengikuti drama TV Jepang “Aibou” (Partners) sebuah drama detektif serial di internet. Dramanya cukup menarik,
seperti halnya banyak filem detektif Jepang drama serial ini memiliki alur
cerita yang kompleks, sebegitu kompleksnya hingga sulit ditelan. Nampaknya
penulis drama itu membuat jalur ceritanya kompleks agar makin misterius, membuatnya makin
sulit menebak ‘siapakah yang melakukannya’. Selain itu, kisahnya kadang
mencerminkan kebudayaan dan tradisi Jepang yang unik, seperti sikap yang menjunjung
tinggi kesempurnaan dalam perbuatan, kejujuran, kebanggaan akan profesi,
kehormatan dan pengorbanan bagi masyarakat, yang terpilin dengan tindakan kejahatan
dalam drama ini.
Namun, ketika saya sampai
di episode 9 dan 10 dari Season 11 drama ini, saya terkesiap menontonnya,
karena ceritanya didasari tradisi yang sangat aneh dan mengherankan. Saya tak
bisa membayangkan seseorang melakukan tindakan ini di dunia nyata. Namun,
mengenal bahwa drama serial ini sering memasukkan tradisi Jepang dalam ceritanya,
tindakan ini pastilah nyata, bukan fiksi.
Tindakan kejahatannya
terjadi di sebuah daerah pegunungan yang terpencil yang diselimuti hutan yang
lebat, sebuah tempat yang terasa sangat teduh dan damai hingga sulit
membayangkan sebuah kejahatan bisa terjadi di sini. Kejahatan itu terjadi
terdorong oleh sebuah praktek dari abad ke 11 yang disebut Sokushinbutsu,
sebuah tindakan memumikan diri oleh seorang biksu agar menjadi “seorang Buddha
dalam badan ini”. Di dalam praktek Sokushinbutsu sang biksu dengan sengaja
mematikan diri agar melestarikan badannya menjadi mummi, dengan kehendak
mencari nirwana.
Saya sangat penasaran
untuk mengetahui apakah yang melandasi tradisi religious ini, bagaimana sampai
bisa terjadi begini? Jadi saya menghubungi Haruki, seorang biksu yang saya
kenal, yang berdiam di Kuil Churenji di
Dewa Sanzan, distrik Yamagata. Saya mengambil perjalanan 4 jam dengan
Shinkansen dan kereta api express dari Tokyo ke stasiun terdekat di Tsuruoka. Perjalanannya
melalui daerah yang paling teduh di Jepang, melihat daerah pedalaman,
pegunungan, ditandai dengan kuil-kuil yang tersembunyi di hutan lebat. Setelah
sampai di Tsuroka saya mengambil bus ke Kuil Churenji untuk menemui Haruki,
namun karena kuil itu tidak terbuka bagi publik hari itu, kami pergi ke sebuah
warung teh di dekat situ untuk bercakap-cakap.
Aku membuka percakapan:
“Tempat yang sangat teduh di
distrik Yamagata ini dikatakan sebagai salah satu tempat yang paling indah untuk
berjalan-jalan di Jepang. Saya beruntung bisa melihat keindahan tempat ini yang
dikelilingi pegunungan diselimuti pohon-pohon cedar yang tinggi-tinggi membentuk
hutan yang lebat, yang membuat kita merasa pohon-pohon itu menjangkau ke atas
untuk memberi penampungan dan perlindungan terhadap badai. Pegunungan yang menjulang
tinggi dianggap musuh dan daerah angker bagi manusia untuk menjelajahinya, sementara
hutan memberi kita rasa damai yang luar biasa.
Jadi, saya kira kita bisa
mengerti bahwa di jaman dulu agama Shinto kuno (Koshinto) menyembah alam, yang
dikenal sebagai animisme di dunia Barat. Keindahan dan keteduhan tempat ini
sangatlah luar biasa hingga mereka menganggap setiap elemen alam ini adalah
ilahi. Gunung, lautan dan sungai semuanya adalah roh ilahi atau dewa (‘kami’
dalam Bahasa Jepang), sebagaimana halnya matahari, bulan dan Bintang Utara.
Angin dan halilintar juga adalah ‘kami’. Singkatnya Koshinto berpegangan bahwa
tidak ada di dunia atau di kosmos yang tidak memiliki energi ilahi; ‘kami’
berada di mana saja.
Gunung Yudono di mana Kuil
Churenji berada, juga dianggapsebagai
salah satu gunung yang dikeramatkan diantara 3 gunung-gunung Dewa Sanza.
Bisakah anda memberi sedikit gambaran.”
Haruki:
“Gunung-gunung memiliki
peranan penting di dalam agama di Jepang sejak jaman dulu kala. Gunung yang
tinggi dianggap angker dan berbahaya, namun mereka disembah sebagai sumber dari
sungai yang memberi kehidupan yang menyuburkan sawah dan desa-desa di bawah.
Menjulang ke langit dan seringkali tertutup oleh awan, gunung-gunung seperti
itu dianggap sebagai surga dan diperlalukan dengan kekaguman dan hormat. Tanpa
harus menjadi Shinto, semua manusia dapat memiliki kesan seperti ini tentang
gunung-gunung.
Gunung Yudono adalah salah
satu pusat dari penyembahan gunung di Dewa sanzan (“tiga gunung Dewa”) di distrik
Yamagata. Ketiga gunung itu adalah Haguro-san, Gas-san dan Yudono-san;
Haguro-san mewakili kelahiran, Gas-san mewakili kematian dan Yudono-san
mewakili kelahiran kembali, gunung-gunung itu biasanya dikunjungi sesuai urutan
itu.
Dewa Sanzan adalah pusat
dari Shugendo, suatu agama berdasarkan penyembahan gunung, campuran antara
Buddhis dan tradisi Shinto. Para penganut Shugendo, melakukan tindakan
pengorbanan diri sebagai jalan untuk mentransedensikan dunia jasmaniah.”
Aku berkata:
“ Lalu bagaimana jadinya penyembahan gunung menjadi pusat dari Sokushinbutsu,
sebuah praktek memummikan diri seorang biksu?”
Haruki:
“Sokushinbutsu adalah
salah satu praktek bertapa yang berat dari Shugendo, biksu-biksu berusaha
memelihara badan mereka menjadi mummi melalui diet yang ekstrem dan meditasi.
Para biksu percaya bahwa pencerahan dapat dicapai di dunia kini, dan mereka
percaya bahwa dengan meninggalkan suatu jejak Buddha di dunia ini dalam wujud
Sokushinbutsu, mereka dapat memberi keselamatan kepada penduduk di sini, bahkan
setelah kematian sang biksu.”
Aku berkata:
“Bagaimana mereka
melakukan mummifikasi diri itu?”
Haruki:
“Ritus mummifikasi diri
ini sangat panjang dan sangat menyakitkan. Hal ini bukanlah pengorbanan yang
sederhana dan biksu itu menghabiskan hidupnya setelah proses panjang penistaan
yang tahap akhirnya berlangsung sekitar 1000 hari. Makanan para biksu terbatas
pada apa yang bisa ditemukan di gunung, sepert kacang-kacangan, tunas tanaman,
buah berrie, kulit pohon dan jarum pinus. Bentuk makanan ini disebut
mokujikigyo, yang secara harafiah berarti “latihan memakan pohon”. Ketika sang
biksu tidak mencari makanan ia menghabiskan waktunya bertapa di gunung. Makanan
ini dimaksudkan untuk menguatkan mental, dan dari segi biologis diet yang berat
dimaksudkan untuk menghilangkan lemak, otot dan kelembaban. Efek yang diharakan
adalah mencegah pembusukan jasad setelah kematian. Sang biksu juga meminum the
beracun dari kulit pohon (toxicodendron verniculum)yang diharapkan akan mempercepat kematian dan
membuat badan menjadi lebih tidak ramah terhadap bakteri dan parasite yang akan
membusukkan jasad setelah kematian. Kulit pohon itu memiliki kadar racun yang
sama tingginya seperti di tanaman poison ivy.
Setelah itu, sang biksu
akan berhenti makan semuanya, minum sedit air asin selama 100 hari. Pada akhir
periode ini, sang biksu dianggap imannya siap untuk masuk ke ‘nyujo’ atau diam
dalam meditasi.Ketika sang biksu merasa
ajalnya mendekat, murid-muridnya akan menurunkannya ke dalam kotak pinus di bawah
lubang sedalam 3 meter berdinding batuan, liang kubur yang ukurannya hanya
cukup untuk sang biksu duduk dalam posisi lotus, posisi bertapa. Ruangan yang
kosong diisi dengan arang untuk menyerap kelembaban.
Setelah liang kubur itu
ditutup, dua pipa bambu akan ditanamkan dari atas untuk menyalurkanair minum dan menyalurkan udara untuk
ventilasi. Lonceng- lonceng diikat ke ujung bambu itu untuk sang biksu memberi
isyarat bahwa ia masih hidup. Ketika bunyi lonceng tidak lagi terdengar, pipa
bambu tersebut akan dicabut dan lubangnya ditutup.
Selama tiga tahun dan tiga
bulan, jenazah
sang biksu didiamkan di lubang bawah tanah itu. Kemudian pada akhirnya, jenazahnya
akan diangkat ke atas. Kalau tidak ditemukan pembusukan, jasad itu ditetapkan
sebagai Sokushinbutsu yang sebenarnya dan disemayamkan di altar di kuil.”
Aku berkata:
“Apakah proses ini tidak
dianggap sebagai bunuh diri?”
Haruki:
“Walapun pada permukaannya
tampak seperti bunuh diri, penganut Buddhis menganggapnya sebagai “peninggalan
badan”. Setelah memadamkan hawa nafsu dalam dirinya, sang biksu dapat masuk ke
nirwana tanpa halangan melalui proses kematian. Kematian itu adalah pengorbanan
dirinya didorong oleh rasa cinta kasih untuk kebaikan semua mahluk hidup,
misalnya ketika pandemik ganas mewabah. Namun bagaimanapun praktek ini dilarang
oleh Restorasi Meiji, ketika Shinto dipisahkan dari Buddhisme dan ditetapkan
sebagai agama resmi Jepang.”
Aku berkata:
“Bagaimana praktek
Sokushinbutsu berawal?”
Haruki:
“Praktek ini muncul di
Tiongkok diabad ke 4 dan di Jepang di awal abad ke 9. Menurut legenda Jepang,
biksu Kukai,yang juga dikenal sebagai
Kobo Daishi setelah kematiannya, memasuki meditasi yang mendalam, atau ‘samadi’
di akhir hidupnya sampai kematiannya, di gunung Koya di Selatan Osaka. Biksu
Kukai adalah pendiri Shingon, sekte marjinal Buddhisme. Tujuh puluh tahun
setelah kematiannya seorang petinggi biksu berdasarkan perintah kerajaan pergi
ke atas gunung Koya untuk membuka kuburannya dan menemukan bahwa tubuhnya masih
utuh. Menurut legenda Kukai saat itu belumlah mati melainkan masuk ke dalam
meditasi kekal dan masih hidup di gunung Koya, menunggu penampakan Maitreya,
Buddha masa depan.”
Aku berkata:
“Lalu dimanakah tubuh Kobo
Daishi disimpan? Apakah terbuka bagi publik?”
Haruki:
“Mausoleum dari Kobo
Daishi terletak di gunung Koya dan adalah tempat yang paling suci di gunung
itu. Pintu mausoleum tidak pernah dibuka kecuali setiap 50 tahun oleh uskup
agung gunung Koya untuk memotong kuku dan rambutnya dan menukar pakaiannya yang
kemudian dipakai untuk membuat amulet bagi pengikutnya. Kobo Daishi dianggap
sedang bertapa di mausoleumnya, tapi jasadnya sama sekali tidak diperlihatkan.
Jasadnya haruslah dianggap sebagai peninggalan yang mewakili “Esensi Buddha”
yang murni yang menjadi peninggalan suci serupa stupa.”
Aku berkata:
“Tapi di kuil Churenji
pengunjung dapat melihat jasad Tetsumonkai, walaupun dilarang pengambil foto.”
Haruki:
“Ya, jasad terkenal
Tetsumonkai dipertunjukkan di kuil ini duduk di altar khusus. Telapak tangannya menghadap ke
atas, ia diperagakan untuk bermeditasi terus menerus, sesuai dengan kehendaknya
ketika ia memasuki ajal 2 abad yang lalu. Jasadnya dengan tengkorak yang seakan
menyeringai diberi jubah oranye, syal berwarna ungu dan kecoklatan dan topi
keemasan, bak seorang petinggi biksu. Ia memberi bukti akan seseorang yang
berhasil dalam usahanya menjadi mummi yang dihormati.”
Aku berkata:
“Siapakah Tetsumonkai
itu?”
Haruki:
“Tetsumonkai adalah yang
paling terkenal di antara Sokushinbutsu. Dilahirkan sebagai Sunada Tetsu di
tahun 1759, dia adalah pegawai sungai yang menggali sumur-sumur dan mengirim
kayu dengan sampan, dan dikenal dengan temperamennya yang bagai badai. Suatu
hari, menurut salah satu legenda, ia menikam kaki salah seorang petugas yang
mengawasi konstruksi sungai karena ia naik pitam akan keangkuhannya. Cerita
lainnya menggambarkan ia membunuh seorang samurai ketika berkelahi
memperebutkan seorang pelacur favorit. Bagaimanapun, Tetsu melarikan diri dari
pengejaran dan bergabung dengan sekolah biarawan di Churenji di umur 20 tahunan
akhir menuju kehidupan prihatin dan kemudian ia diberi nama Tetsumonkai.
Selama hidupnya sebagai
biksu, catatan menunjukkan bahwa Tetsumonkai banyak melakukan perjalanan dan dihormati
sebagai orang suci yang dikaitkan dengan berbagai legenda. Suatu saat ketika
mengunjungi Edo, ia menyaksikan mewabahnya penyakit mata yang menimbulkan
penderitaan luar biasa. Ia lalu mencolok matanya sendiri dan mencabutnya dan
mempersembahkannya ke sungai Sumida sebagai doa bagi penyembuhan. Riset
selanjutnya menunjukkan bahwa memang mata kirinya tidak ada di mummi nya, yang
dengan suatu hal mengkonfirmasikan cerita tersebut.
Karya misionaris
Tetsumonkai berpusat di daerah Shonai, namun monument-monumennya menunjukkan bahwa karyanya
menyebar dari daerah kanto hingga Hokkaido. Dia dikenang mengumpulkan 10,000
pekerja voluntir untuk membangun jalan baru melalui sebuah gunung yang
menghubungkan pelabuhan Kamo ke Tsuroka, untuk perdagangan. Ia meninggalkan
dampak abadi bagi banyak orang saat itu. Hingga kini, ada festival-festival
berdasaran ajaran Tetsumonkai.
Namun, mungkin legenda
yang paling menarik adalah kisah lain yang berkaitan dengan mutilasi diri. Pada
suatu saat, dikatakan bahwa Tetsumonkai dikunjungi seorang pelacur, mungkin
pelacur yang sama yang ia perebutkan dengan sang samurai. Wanita itu berusaha
meyakinkan Tetsumonkai untuk kempali ke kota bersamanya, tapi ia menolak. Untuk
membuktikan keinsafannya dan dedikasi akan hidup dalam pengorbanan, dia
menghilang dan lalu kembali dengan bungkusan kecil buat wanita itu. Di dalam
nya adalah testikelnya yang penuh darah. Dia telah memotongnya.
Diceritakan bahwa
testikelnya kemudian dianggap para pelacur di sebuah border local sebagai tanda
keberungan, dan akhirnya dikirim ke kuil Nangakuji di Tsuruoka, dan kemudian
dilestarikan sebagai relik. Seakan
menambah bobot kebenaran legenda itu, memang ditemukan bahwa mummi Tetsumonkai
tidak mempunyai testikel.
Aku
berkata:
“Apakah
benar kuil itu menyimpan testikel dari Tetsumonkai?”
Haruki:
“Benar,
tapi tidak dipertunjukkan ke public. Golongan darah Tetsumonkai adalah grup B,
demikian pula golongan darah yang ditemukan di testikel yang ditemukan di
Nangakuji, menurut riset ilmiah masa lalu. Para akademisi saat itu menyimpulkan
bahwa sangat besar kemungkinan bahwa testikel yang dikeringkan itu milik
seorang yang bertahan akan siksa fisik yang ekstrim karena pelatihan meditasi
sebelum dikuburkan pada usia 71.”
Aku
berkata:
“Apakah
mummi Sokushinbutsu sama dengan mummi di Mesir?”
Haruki:
“Tubuh
para Firaun dibalsem di jaman dulu Mesir. Organ tubuh bagian dalam semuanya
dikeluarkan dan diganti dengan tanaman yang berkhasiat. Tubuhnya jadinya
hanyalah pembungkus daging kering dan tulang.
Sebaliknya,
mummi Sokushinbutsu melestarikan organ tubuh bagian dalam karena proses
pemummian berjalan ketika ia masih hidup dan organ tubuh bagian dalam dianggap
pusat energi vital. Tubuh beberapa mummi di gunung Yudono, untuk
melestarikannya dengan sempurna, kadang-kadang juga dilapisi dengan pernis
kering. Sehingga pentingnya pemujaan akan Sokushinbutsu menyiratkan bahwa mummi
itu bukan sekedar “sisa tubuh”, atau “cangkang kosong”, mummi tersebut
dianimasikan, penuh vitalitas; yang berada di bumi dan juga di kelimpahan
irwana.”
Haruki:
“Mummi
Sokusinbutsu memberi jendela yang menarik ke dalam kebudayaan Jepang kuno
melalui praktek-praktek belas kasih, kesulitan hidup, pengorbanan dan semangat
religiositas yang intens untuk mendapatkan sukma Buddha dalam daging. Konsep
Barat akan kematian fisik adalah suatu proses pemutusan kehidupan yang terjadi
dengan cepat dan parah, sedangkan konsep Timur memandang kematian sebagai suatu
proses yang bertahap.
Pemujaan
Sokushinbutsu
memelihara orang-orang suci hidup dan memberikan perspektif yang unik akan
perjuangan manusia menggapai Nirwana, sebelum dan sesudah kematian.”
THE END Wawancara ini adalah wawancara imajiner mengenai Sokushinbutsu
Banyak candi-candi dan monumen
terkenal di Bangkok terletak di tepi
sungai Chao Phraya yang mengalir melalui kota ini dan jalan terbaik untuk
mengunjungi tempat-tempat ini adalah dengan kapal atau sampan bermotor.
Kapal-kapal ini menawarkan alternatif yang menyegarkan terhadap lalulintas Bangkok yang terkenal
kemacetannya.
Wat Arun, atau Temple of
Dawn (Candi Matahari Terbit), adalah sebuah candi Buddhis (wat) yang paling
terkenal di sepanjang tepi sungai Chao Phraya. Semula saya mengacaukan nama
Temple of Dawn dengan ‘Temple of
Doom’ filemnya Indiana Jones. Sebenarnya candi ini dinamai
Temple of Dawn karena cahaya matahari yang muncul pertama kali di pagi hari
akan mencerminkan candi itu di permukaan sungai Chao Phraya yang memberikan panorama
yang indah seperti di filem. Juga,
nama Temple of Dawn diambil dari nama dewa Hindu Aruna,
penggiring Surya, matahari. ‘Arun’ dalam Bahasa Sansekerta berarti sinar dari
matahari terbit, jadi Arun sering kali dipersonafikasi sebagai sinar matahari
terbit dan menjadi simbol dari Fajar.
Ketika perperangan dengan
tentara Burma
dan Tiongkok di tahun 1760-an Kerajaan Ayutthaya hancur berantakan. Salah satu
jenderal Siam yang berperang, Phya
Taksin, memandang reruntuhan candi Wat Makok di saat
matahari terbit dari sungai Chao Phraya dan bersumpah akan membangun kembali
candi itu setelah perang berakhir.
Jenderal Phya Taksin memimpin
pembebasan Siam dari pendudukan Burma di tahun 1767, dan kemudian menyatukan
Siam ketika ia jatuh ketangan beberapa komandan perang. Sebagai raja Siam, dia lalu menetapkan
kota Thonburi sebagai ibu kota baru di dekat candi Wat Makok, karena kota
Ayutthaya sudah hancur lebur dirusak oleh penyerbu. Dia membangun kembali Wat
Makok dan menamakannya Wat Jaeng, Temple of Dawn. Candi ini sangat dihormati,
dan untuk suatu saat menyimpan relik Buddhisyang paling agung, Emerald Buddha.
Phya
Taksin kemudian ditumbangkan dan dibunuh di dalam sebuah
pemberontakan oleh seorang sahabat lama Maha Ksatriyaseuk yang kemudian
dinobatkan sebagai Raja Pama I, pendiri kerajaan Rattanakosin dan dinasti
Chakri, yang sejak saat itu berkuasa di Thailand.
Rama II memperbaiki candi
Wat Jaeng yang telah ditinggalkan sejak Phya Taksin ditumbangkan. Dia menjalankan sebuah
proyek pembangunan yang ambisius yang meninggikan pagoda utama dan merancang
kembali penampilan candi itu.Dia juga
menamakannya Wat Arun, mempertahankan tema Fajar tapi menghubungkannya dengan
India, asal muasal Buddisme. Pembangunan yang dimulai oleh Rama II diselesaikan
oleh Rama III di sekitar tahun 1857. Ini adalah candi yang kita lihat saat ini,
menjulang ke atas langit Bangkok sebagai salah satu bangunan yang paling ikonik
di Thailand.
Mempertahankan gaya
arsitektur Thai saat itu, Wat Arun penuh dengan ornamen. Pagoda yang besar di
tengah, disebut Prang, sebuah pagoda berbentukstupa, diilhami oleh tradisi arsitektur Khmer. Prang utama itu tingginya
sekitar 80 meter, diliputi dengan kulit kerang lautdan porselen berwarna. Prang ini dianggap
sebagai Prang yang paling tinggi di Thailand dan dikelilingi oleh empat Prang
kecil. Setiap sudut candi ini memiliki patung-patung dewa pelindung di ke empat
arah mata-angin. Pengelompokan ke lima Prang ini mewakili Gunung Meru, gunung
utama di dalam kosmologi Buddhis, berdasarkan
kosmologi Hindu sebagai tempat tinggal para dewa dan pusat dunia fisik dan
spiritual.