Selasa, 16 Januari 2018

Florence, dilihat dari Piazzale Michelangelo



Piazzale Michelangelo (Lapangan Michelangleo) adalah sebuah lapangan dengan panorama menarik ke Florence. Ini adalah tempat terbaik untuk memandang Florence setiap waktu, suatu pemandangan ikonik dari Florence.
Pemandangannya mencakup pusat kota Florence dari Forte Belvedere ke Santa Croce, jembatan Ponte Cecchio dan jembatan-jembatan lain yang menyeberagi sungai Arno, Duomo, Palazzo Vecchio, dan tempat-tempat terkenal lainnya.
Lapangan gaya Florentine ini dirancang oleh arsitek Giuseppe Poggi dan dibuat di tahun 1869 di bukit di seberang Selatan sungai Arno. Lapangan ini didedikasikan bagi pematung Rennaissance Michelangelo, dan ada patung tembaga replika dari patung David yang terkenal.
Patung David adalah patung yang paling ikonik di Florence, dan yang paling mengesankan. Walaupun banyak patung David diciptakan sebelumnya, karya agung Michelangelo ini adalah unik.
Patung itu unik khususnya dalam gaya David diperagakan.  Seniman lainnya memperagakan David membantai sang raksasa Goliath, atau berdiri di atas mayat Goliath, patung Michelangelo ini berbeda. Dalam patung ini, David berdiri saja, memandang melalui bahunya sesaat sesetelah ia menantang Goliath, sesaat sebelum salah satu kejadian yang paling menentukan dalam sejarah.
David memasuki pertempuran hanya dengan 5 batu dan katapel. David memenangkan pertempuran itu dan menandai  kemenangannya dengan memenggal kepala Goliath dan menunjukkannya kepada musuhnya. Kemudian, ia menjadi raja Israel, yang membawa masa yang paling makmur di dalam sejarah Israel.
Lalu setelah memenangkan pertarungan itu, David melantunkan Mazmur 151: 

Aku keluar untuk menyerang orang Filistin,
      yang mengutuk aku dengan berhalanya.
Tapi setelah aku menemukan pedangnya sendiri,
     aku penggal kepalanya.
Demikian aku menghapus rasa malu

     dari bangsa Israel.


Kemudian, dengan mengendarai mobil 8 kilometer ke arah Timur Laut Florence, kita sampai di Fiesole sebuah kota di bukit indah di atas Florence. Sejak abad ke 14 kota ini selalu dianggap pelarian bagi penduduk Florence kelas atas dan hingga saat ini Florence masih merupakan kota yang paling kaya di seluruh Tuscani.
Di tengah kota Fiesole, ada lapangan yang dinamai Piazza Mino. Lapangan ini dinamakan sesuai seoarang pematung asal Florence bernama Mino da Fiesole. Karenanya lapangan ini sering dipakai untuk eksibisi patung-patung seni untuk menghormati Mino da Fiesole.
Lebih lanjut ke arah Barat Fiesole ada sebuah biara St. Francis, yang adalah biara ordo Fransiskan.  Bagian depan gerejanya bergaya Gothic dengan atap meruncing. Biaranya terletak di sebelah kanan gereja, yang dekelilingi tiga asrama biara.






Senin, 15 Januari 2018

Florence, kota patung seni.


Dante Alighieri di dalam Devine Comedia berkata (lihat blog sebelumnya tentang Dante):
“Bersukacitalah, wahai Florence, karena engkau begitu agung,
Yang melampaui laut dan daratan engkau mengepakkan sayapmu,”

Memang Florence adalah kota agung dan salah satu kota paling indah di dunia. Karya seni dan museum di Florence diakui oleh Unesco. Selain keagungan seni dan arsitekturnya, Florence adalah pusat perdagangan dan keuangan Eropa di abad pertengahan dan adalah salah satu kota paling kaya di jaman itu dan dianggap sebagai tempat lahir Renaissance.
Lapangan di muka Palazzo Vecchio yang dinamai Piazza della Signoria dipenuhi  patung seni karya pematung tersohor seperti: Giambologna, Baccio Bandinelli, Bartolomeo Ammannati, Benvenuto Cellini, dan Michelangelo Buonarroti. Semua seniman ini adalah kelahiran Florence atau penduduk Florence.
 Setiap patung mepunyai cerita sendiri yang diambil dari mitologi Yunani atau Romawi. Tempat ini menjadi pameran seni renaissance di ruang terbuka. Setiap patung adalah karya asli, kecuali patung David yang merupakan replika.

Patung Giambologna “Rape of the Sabine Women” didasari mitoligi Romawi, dimana para lelaki Roma, dibawah Romulus, melakukan penculikan massal wanita-wanita muda dari kota-kota di daerah itu.  Giambologna membuat patung dengan tema ini dengan tiga orang (seorang lelaki memanggul wanita sedangkan seorang lelaki lain berjongkok), dibuat dari satu bungkahan pualam. Patung ini dianggap sebagai karya agung Giambologna.


“The Fountain of Neptune” terletak di samping Palazzo Vecchio terbuat dari pualam dan tembaga, air mancur itu diselesaikan di tahun 1565 dan dirancang oleh Baccio Bandinelli. Patungnya dibuat oleh pematung Bartolomeo Ammannati, dengan elemen-elemen buatan pematung lainnya. 
Neptune adalah dewa lautan  di dalam mitologi Romawi. Di dalam tradisi Yunani, Neptune adalah saudara dari Jupiter dan Pluto.

“Perseus with the head of Medusa”, adalah patung tembaga buatan Benvenuto Cellini. Ia dianggap karya agung dan salah satu patung yang paling terkenal di Piazza della Signoria di Florence.
Ia menggambarkan Perseus berdiri di atas badan Medusa dan mengangkat kepalanya ke atas. Medusa adalah peri mengerikan berwajah wanita yang rambutnya berubah menjadi ular, dan setiap orang yang melihatnya menjadi batu. Perseus berdiri tegak penuh kemenangan di atas badan Medusa dengan kepala berular Medusa di tangannya.

 “The Rape of Polyxena” adalah patung pualam buatan Pio Fedi. Di dalam patung ini, Polyxena berjuang untuk melepaskan diri dari Achiles yang merangkulnya dengan satu tangan dengan mudah.
Tangan yang lain siap untuk memancung ibunya, Hecuba, dengan pedang perkasanya.

“Hercules and Cacus” adalah patung putih di sebelah kanan gerbang Palazzo Vecchio. Ini adalah karya Baccio Bandinelli  seorang seniman Florence. Di sini, sang setengah dewa Hercules, membunuh Cacus monster penyemprot api karena mencuri ternak, ini adalah simbol keperkasaan fisik.


“David” adalah patung yang paling ikonik di Florence, dan yang paling mudah dikenal. Di patung ini, David hanya berdiri, melihat kejauhan dari bahunya. Michelangelo mematungkan David tepat sesaat setelah menantang Goliath, sesaat sebelum salah satu peristiwa yang paling menentukan sejarah.

 

Photo by Guillaume Piolle - Wikimedia

  Patung Cosimo I de Medici  buatan Giambologna menunjukkan ambisi Medici dan merupakan potret seorang yang menundukkan seluruh Tuscany di bawah kuasa militer Medici. Dia adalah seorang bankir dan politikus Itali, generasi pertama dinasti politik Medici, yang secara de facto adalah penguasa Florence di hampir seluruh masa Renaissance di Itali. Kekuasaannya berakar pada kekayaannya sebagai bankir, dan dia sangat menghargai seni dan arsitektur. 
Cosimo dan keturunannya memerintah dari tempat ini dan dari kantor di sebalahnya, yang sekarang menjadi museum Uffizi. 
Konon katanya patung “Hercules and Cacus” buatan Bandinelli di sebelah kanan patung David diatur oleh Medici untuk menunjukkan kekuatan fisik ketika mereka kembali dari pengasingan. Patung Neptune buatan Ammannati merayakan ambisi dirgantara Medici. Patung Persues mengangkat kepala Medusa buatan Cellini adalah peringatan bagi yang melawan penguasa Medici.




Minggu, 31 Desember 2017

Wawancara dengan Dante


Photo: Wikimedia
Aku melihat Dante di Florence sesaat sebelum ia menghampiri jembatan Ponte Vecchio yang menyeberangi sungai Arno.

Dia berbadan rada kecil, dengan mata besar dan hidung bengkok yang kentara. Dia kelihatan seperti orang-orang yang biasa dijumpai di jalanan.

Aku ragu sejenak apakah akan menyapanya ketika ia kelihatan sedang tertegun memandang ke seberang sungai. Tak disangka ia ternyata seorang yang cukup ramah dan bersedia berbicara dengan orang yang belum dikenal.

Bingung dan tak siap, aku bertanya asal-asal saja:
“Apa arti kota Florence ini bagi anda?” 

Dante mengutip Inferno Canto 26:
“Bersukacitalah, wahai Florence, karena engkau begitu agung,
Yang melampaui laut dan daratan engkau mengepakkan sayapmu
Dan di seluruh Neraka namamu tersebar luas!
Di antara pencuri lima orang pendudukmu
Seperti ini kutemukan, membuat aku malu,
Dan sehingga engkau tidak meraih kehormatan agung.”

Lalu aku bertanya:
“Meskipun dengan keagungannya, mengapa anda bilang kota kesayangan anda, Florence, terkenal di suluruh Neraka?”

Dante berkata:
“ Banyak penududuk terkemuka Florence hidup di Neraka karena dosa-dosanya.
Filippo Argentini menyamarkan kudanya dengan perak dan memiliki tangan besi. Dia memiliki temperamen yang kejam, suatu saat dia menampar aku, dan adiknya mengambil alih milikku yang disita.
Farinata degli Uberti adalah seorang bidaah, dia percaya bahwa tidak ada jiwa dan segalanya akan mati dengan badan.  Dia menganggap kesenangan hidup di dunia sebagai tujuan paling utama.
Bocca degli Abati mengkhianati pendukung golongan guelph pada saat terpenting di pertempuran- ketika tentara bayaran Jerman membantu golongan ghibellines Tuscan menyerang – dengan memotong tangan pemegang bendera lambang guelph.  Kehilangan semangat oleh pengkhianatan Bocca dan lenyapnya bendera mereka, orang-orang gueplh menjadi panik dan dikalahkan bulat-bulat.
Lalu ada sobatku Ciacco yang rakus, babi itu, sepanjang hidupnya mengumbar kerakusan makannya dan hidup dalam kelebihan.
Lalu ada Francesca da Rimini, yang terpaksa kawin dengan orang yang bernama Gianciotto Malatesta karena urusan politik. Namun, dia jatuh cinta dengan adik suaminya Paolo dan berselingkuh dengannya. Ketika Gianciotto mengetahui perselingkuhan itu, dia membunuh keduanya. Gianciotto sekarang berada di Neraka di tingkat yang lebih dalam, begitu kata Francesca kepadaku.”

Aku berkata:

“ Ada orang yang mengira bahwa anda mengutuk orang-orang ke neraka di buku Inferno anda karena anda sakit hati terhadap musuh-musuh anda. Anda pernah menjadi orang yang sangat berpengaruh dan terkenal di lingkungan politik dan lalu dikucilkan dari Florence, dengan orang-orang segolongan anda, setelah kalian kalah dalam peperangan politik. Anda dihukum, dengan empat orang lainnya, dengan denda besar dan diasingkan selamanya dari pemerintahan.
Kemudian, dengan kedua anak anda dan orang lainnya, kalian dijatuhi hukuman mati dengan dibakar, seandainya kalian kembali masuk ke dalam kekuasaan rakyat. Anda kehilangan segalanya, keluarga, hak milik, dan jalan hidup anda.”

Dante mengutip pembukaan Inferno:
“Di pertengahan perjalanan hidup kita
Aku menemukan diriku berada di kegelapan hutan,
Karena jalan yang benar sudah hilang.
Ah, betapa susahnya aku untuk mengatakan
Betapa kejamnya hutan ini, kasar dan keras,
Yang menambah rasa takut.
Alangkah pahitnya, kematian sedikit lagi;
Namun demi membagi hal baik yang aku temukan di sana,
Aku akan berbicara mengenai hal-hal lain yang aku lihat di sana.”

Aku berkata:

“Mengikuti perjalanan anda di Purgatory Canto 30, anda seakan mengakui bahwa anda tidak setia kepada Beatrice, wanita yang anda puja dan sangat cintai. Anda berkata bahwa anda jatuh cinta padanya saat pertama and ketemu dengannya, dan di Vita Nuova anda menulis tentangnya dan berkata “Lihatlah, seorang dewi yang lebih perkasa dari aku; yang akan datang, dan akan mengendalikan aku.”

Anda seakan benar-benar terpikat dengannya sejak pertemuan pertama, namun saat itu anda baru 9 tahun dan dia 8 tahun.”

Dante mengutip sebuah soneta dari buku Vita Nuova (yang berarti Hidup Baru) yang dipersembahkan buat Beatrice:
“ Di dalam buku itu yang
Adalah kenanganku….
Pada halaman pertama
Yang adalah babak ketika
Aku pertama kali berjumpa dengan mu
Muncul kata-kata…
Di sini mulai sebuah hidup baru.”

Aku berkata:
“Lalu saat kedua anda bertemu Beatrice adalah 9 tahun kemudian, dan ia menikah dengan seorang bankir 4 tahun kemudian, dan meninggal dunia 3 tahun kemudian pada umur muda 24 tahun, di tahun 1290. Bagaimana anda memandang Beatrice setelah kematiannya di bagian hidup anda selanjutnya?”

Dante mengutip apa yang dikatakan Beatrice tentang Dante di Purgatory Canto 30:
“Ia memisahkan dirinya dari aku dan memberinya kepada yang lain.
Ketika aku bangkit dari badan menjadi jiwa,
Dan keindahan dan keluhuran di dalam aku tertambah,
Aku baginya menjadi kurang tersayangi dan kurang menyenangkan;
Dan dia berbelok ke jalan yang tidak benar,
Mengejar hal yang berkesan kepalsuan,
Yang tak pernah memenuhi janjinya;
Tidak juga ada doa memohon petunjuk kutemukan,
Dalam bentuk mimpi dan yang lainnya
Aku memanggilnya kembali, sangat sedikit yang diturutinya.
Sebegitu rendah ia jatuh, sehingga semua sarana
Untuk menyelamatkannya sudah kehabisan,
Kecuali menunjukkan padanya orang-orang terbinasa itu.”

Lalu Dante mengutip Purgatory Canto 31:

“Menolehlah, Beatrice, wahai tolehkan mata kudusmu,”
Begitu lagu mereka, “kepada orang yang percaya,
Yang harus melihat engkau mengambil begitu banyak langkah,
Dalam rahmat lakukanlah keanggunan yang engkau singkapkan
Wajahmu kepadanya, sehinga dia dapat melihat
Keindahan kedua yang engkau sembunyikan.”
Wahai semarak cahaya hidup yang abadi!”

Aku berkata:

“Kembali ke Inferno Canto 26, anda bercerita tentang Ulysses, raja Yunani Ithaca yang legendaris dan pahlawan puisi epik dari Homer, bahwa anda bertemu dengannya di Neraka. Namun dalam hidupnya orang ini mendapat pengakuan dari surga. Dewi Athena, putri dari dewa tertinggi membantu perantauannya, dan bahkan menyiapkan pembunuhan berdarah. Raja angin Zeus, dewa tertinggi adalah dewa lainnya yang memperkukuh hubungan Ulysses dengan surga. Dalam perjalanannya, Ulysses juga menerima bantuan para dewa seperti Circe dan Calypso, meskipun dia didendami oleh tokoh seperti Poseidon.
Mengapa dia sekarang menderita di Neraka, tempat yang anda sebut di Inferno Canto 3: “Abaikan semua harapan, engkau yang masuk ke sana”, dan di mana “Belatung yang menjijikkan dan cacing-cacing di kaki para pendosa mengisap darah yang membusuk, nanah, dan air mata yang turun mengailr dari tubuhnya.” Mengapakah pahlawan agung itu dikutuk ke neraka?”

Dante menceritakan tulisan Homer mengenai Ulysses:
“Ulysses membunuh semua pelamar yang ingin menyunting isterinya Penelope selagi ia merantau. Leodes memohon ampun untuk nyawanya namun ia disebat pedang, sehingga kepalanya jatuh terguling menelan debu. Setelah membunuh semua pelamar Penelope itu, dia memerintahkan membunuh juga semua dayang-dayang Penelope. Namun, sebelum itu mayat-mayat para pelamar musti disingkirkan dulu, dan para dayang harus membersihkan meja kursi dari darah pelamar. Dia ingin menghina para dayang sebelum ia menjagal mereka, memperlihatkan mayat-mayat kekasih mereka sementara mengetahui sepenuhnya azab yang akan menimpa. Setelah para dayang membersihkan meja kursi, digosok dengan spons, dibilas dan dibilas lagi darah, mereka dipenggal dengan pedang lancip yang mencabut nyawa. Tak diragukan lagi bahwa Ulysses adalah gembongnya gerombolan bajingan itu.”

Aku berkata:
“Ulysses dikenal sebagai raja perang dan ahli strategi yang hebat. Dia dengan cerdik menyingkapkan penyamaran Achilles dan meyakinkannya untuk menopang senjata untuk ikut perang melawan orang-orang Trojan. Di dalam Iliad yang ditulis Homer, Ulysses dipandang sebagai antitesis Achiles, selagi Achiles dirudung kemarahannya yang bisa menghancurkan dirinya sendiri, Ulysses sering dianggap sebagai orang yang menggunakan akal, mengikuti pikiran, terkenal oleh kesabarannya dan keahlian diplomasi. Ulysses bukan saja ahli taktik perang, seperti dibuktikannya dengan akalnya menggunakan Kuda Trojan, tetapi juga pembicara yang baik. Dia dianggap pahlawan yang terpiawai, dapat memecahkan setiap persoalan. Dia juga adalah serdadu yang hebat dan pemimpin yang sangat karismatik yang memberi inspirasi rakyatnya."

Dante berkata mengutip apa yang dikatakan Ulysses kepadanya di Inferno Canto 26:
“ Bukan kelembutan terhadap seorang putra, bukanlah pula tugas mengabdi
Terhadap ayahku yang menua, bukan pula cinta yang aku berhutang
Kepada Penelope yang akan membuatnya gembira
Dapat menimpali semangat ku
Untuk mencari pengalaman duniawi
Dan mempelajari kejahatan manusia, dan harganya….
Aku dan kawanan sekapalku menjadi tua dan lambat
Saat kami sampai di selat yang sempit
Dimana Hercules menoreh garis luar batas,
Memperingati semua orang untuk tidak pergi lebih jauh.”

Aku berkata:
“Dengan demikian spertinya Ulysses bertindak seperti Adam, manusia pertama di bumi, yang meskipun berbahagia kekal hidup di surga mengidap kerinduan untuk mencari yang lebih, tentang pengetahuan terlarang. Demikian halnya Ulysses yang meskipun berbahagia setelah berhasil kembali pulang ke pulau Ithaca, hidup berbahagia dengan keluarga, mengidap kerinduan akan petualangan yang lebih, untuk menaklukan dunia “yang belum dilihat siapapun”, yang berakhir dengan hancur leburnya kapal Ulysses dan kematiannya yang menandai talak terakhir dengan segala hubungan surgawi.

Kala sore hari menggelap, Dante mengakhiri pembicaraan itu dengan mengatakan bahwa ia harus pergi ke suatu tempat, lalu membalikkan punggungnya mengikuti tapak jalan di sepanjang sungai Arno.




Ini adalah wawancara imajiner untuk mengenang Dante Alighieri.





Jumat, 29 Desember 2017

Teater Liu Sanjie di Yangshuo





Teater Liu Sanjie adalah pertunjukkan di alam terbuka di pegunungan dan sungai di Yangshuo.
Yangshuo adalah desa di ujung perjalanan indah di Sungai Li (baca blog sebelumnya tentang Sungai Li) dari Guilin, di Timur Laut Guangxi, Cina.
Teater Liu Sanjie di panggungkan sepanjang 2 km di tepi Sungai Li dengan 12 puncak pegunungan sebagai latar belakang. Jadi, tidak seperti pertunjukan dengan panggung tradisional, di sini kita melihat pertunjukkan dengan latar belakang alam.  Pemandangan alam yang indah dengan puncak pegununungan, tercerminkan di air jernih, hujan kabut, dan hutan bambu, juga dengan suara hewan di lingkungan alamiah adalah ciri unik pertunjukkan ini.
Teater Liu Sanjie di sutradarai oleh sutradara filem terkenal Zhang Yi Mou. Dia adalah sutradara filem Cina, produser, penulis dan aktor, dan sudah memenangkan berbagai piala dan penghargaan di festival filem internasional seperti Silver Lion dan Golden Lion di festival filem Venesia, Festival Filem Cannes dan the Golden Bear. Zhang adalah juga sutradara acara pembukaan dan penutupan Olimpiade Beijing 2008, yang mendapat pujian internasional.
Zhang Yi Mou membutuhkan waktu tiga setengah tahun untuk menyelesaikan persiapan peluncuran Liu Sanjie. Pertunjukkannya memakan waktu 70 menit dan melibatkan lebih dari 600 pemain. Semua pemain adalah orang-orang lokal dan nelayan, terutama suku minoritas Zhuang dan Yao, yang sangat rajin berlatih. Pada tanggal 20 Maret 2004, premier teater cahaya Liu Sanjie adalah pertunjukan besar di alam bebas dengan 1800 kursi penonton, sekarang sampai sekitar 3000 kursi. Tiga pertunjukkan setiap hari, dan selalu penuh di masa ramai liburan.

Kisah Liu Sanjie  berasal dari suku minoritas Zhuang (baca blog sebelumnya tentang persawahan di Longji). Kisah itu tentang penyanyi wanita legendaris Zhuang bernama Liu Sanjie, yang berarti “saudara perempuan ketiga”. Suaranya sangat bagus yang menarik perhatian seorang gangster bernama Mo Huairen.  Gangster itu jatuh cinta kepada Liu Sanjie dan bermaksud mengambilnya sebagai gundik. Namun, karena Liu Sanjie menolak, Mo Huairen bermaksud membunuhnya.
Kekasih Liu Sanjie, Li Xiaoniu, dan sahabat-sahabatnya sekampung kemudian membebaskan Liu Sanjie dan pasangan itu melarikan diri dengan cara berubah menjadi sepasang burung yang bersuara indah.
Teater Liu Sanjie juga dinamakan Pertunjukan Impressi, karena ia berfokus pada impresi dan bukannya plot ataupun karakter. Kita bisa melihat kumpulan impresi, yang merupakan impresi pemandangan dan kehidupan penduduknya, dilatar belakangi pegunungan dengan sungai sebagai panggung. Dengan lighting system yang mengagumkan, musik, dan teknologi visual membuat pertunjukan ini sebuah impresi fantastis tentang kisah Liu Sanjie. Zhang Yi Mou menggunakan suasana alam Yangshuo untuk memeberi efek maksimum terhadap pertunjukannya.  Penggunaan cahaya dan air menunjang keindahan sungai Li dan pegunungan kapur yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Pada tanggal 20 Maret 2004 pertunjukan perdana teater cahaya Liu Sanjie  di alam terbuka yang luas dengan 1800 kursi, sekarang sekitar 3000 kursi. Setiap hari ada tiga pertunjukan, selalu penuh di masa ramai liburan.
Teater Liu Sanjie dibagi menjadi 4 bagian utama:
Yang pertama dinamakan Pertunjukan Merah dengan menggelar kain sutera panjang di sungai, yang memberi kesan seakan nelayan membuang jaring lalu menariknya kembali, sambil menjaga keseimbangan di kegentingan rakit bambu. Itu adalah aksi yang menakjubkan.
Lalu diikuti oleh Pertunjukkan Hijau yang memeberi kesan kehidupan sehari-hari penduduk Sungai Li. Asap mengepul dari panci masakan, para wanita mencuci, di sawah, memancing, dan segala hal keseharian di kehidupan mereka.
Lalu diikuti oleh Pertunjukan Biru, Liu Sanjie bersenandung lagu cinta sambil mandi di sungai bagi pengantin, bahkan bulanpun terpesona mendengar lagu itu.
Mengetahui bahwa Mo Huairen akan mendapat dukungan kepala kampung dan melaksanakan niatnya membunuh Liu Sanjie, orang-orang kampung menasihatinya agar menjauhkan diri dari bahaya untuk sementara waktu. Liu Sanjie lalu mengucapkan selamat tinggal dan pergi merantau dengan kekasihnya Li Xiaoniu.
Akhirnya, Pertunjukan Perak, pertunjukan pentutup yang gemilang, dengan pergantian kostum emas dan perak, memberi kesan kebahagian kehidupan Liu Sanjie dan Li Xiaoniu selamanya.
Begitulah kisah legenda yang menyentuh mengenai Liu Sanjie, dipertunjukkan di Sungai Li dengan latar belakang pegunungan, ditunjang oleh sound system dan lighting system yang sempurna. Pertunjukan itu adalah kombinasi yang menakjubkan antara legenda, alam, teknologi, nyanyian, koreografi dan kebudayaan Zhuang. Benar-benar pertunjukan yang fantastis !