Piazzale Michelangelo (Lapangan
Michelangleo) adalah sebuah lapangan dengan panorama menarik ke Florence. Ini
adalah tempat terbaik untuk memandang Florence setiap waktu, suatu pemandangan
ikonik dari Florence.
Pemandangannya mencakup pusat kota
Florence dari Forte Belvedere ke Santa Croce, jembatan Ponte Cecchio dan
jembatan-jembatan lain yang menyeberagi sungai Arno, Duomo, Palazzo Vecchio, dan
tempat-tempat terkenal lainnya.
Lapangan gaya Florentine ini dirancang
oleh arsitek Giuseppe Poggi dan dibuat di tahun 1869 di bukit di seberang
Selatan sungai Arno. Lapangan ini didedikasikan bagi pematung Rennaissance
Michelangelo, dan ada patung tembaga replika dari patung David yang terkenal.
Patung David adalah patung yang paling
ikonik di Florence, dan yang paling mengesankan. Walaupun banyak patung David
diciptakan sebelumnya, karya agung Michelangelo ini adalah unik.
Patung itu unik khususnya dalam gaya David
diperagakan. Seniman lainnya memperagakan
David membantai sang raksasa Goliath, atau berdiri di atas mayat Goliath,
patung Michelangelo ini berbeda. Dalam patung ini, David berdiri saja, memandang melalui bahunya sesaat sesetelah ia menantang Goliath, sesaat sebelum
salah satu kejadian yang paling menentukan dalam sejarah.
David memasuki pertempuran hanya dengan
5 batu dan katapel. David memenangkan pertempuran itu dan menandaikemenangannya dengan memenggal kepala Goliath
dan menunjukkannya kepada musuhnya. Kemudian, ia menjadi raja Israel, yang membawa
masa yang paling makmur di dalam sejarah Israel.
Lalu setelah memenangkan pertarungan itu,
David melantunkan Mazmur 151:
Aku keluar untuk menyerang orang
Filistin,
yang mengutuk aku dengan berhalanya.
Tapi
setelah aku menemukan pedangnya sendiri,
aku penggal kepalanya.
Demikian aku menghapus rasa malu
dari bangsa Israel.
Kemudian, dengan mengendarai mobil 8 kilometer ke arah Timur
Laut Florence, kita sampai di Fiesole sebuah kota di bukit indah di atas
Florence. Sejak abad ke 14 kota ini selalu dianggap pelarian bagi penduduk Florence
kelas atas dan hingga saat ini Florence masih merupakan kota yang paling kaya
di seluruh Tuscani.
Di tengah kota Fiesole, ada lapangan yang dinamai Piazza
Mino. Lapangan ini dinamakan sesuai seoarang pematung asal Florence bernama Mino
da Fiesole. Karenanya lapangan ini sering dipakai untuk eksibisi patung-patung
seni untuk menghormati Mino da Fiesole.
Lebih lanjut ke arah Barat Fiesole ada sebuah biara St.
Francis, yang adalah biara ordo Fransiskan.Bagian depan gerejanya bergaya Gothic dengan atap meruncing. Biaranya
terletak di sebelah kanan gereja, yang dekelilingi tiga asrama biara.
Dante Alighieri di dalam Devine Comedia
berkata (lihat blog sebelumnya tentang Dante):
“Bersukacitalah, wahai Florence, karena
engkau begitu agung,
Yang melampaui laut dan daratan engkau
mengepakkan sayapmu,”
Memang Florence adalah kota agung dan
salah satu kota paling indah di dunia. Karya seni dan museum di Florence diakui
oleh Unesco. Selain keagungan seni dan arsitekturnya, Florence adalah pusat perdagangan
dan keuangan Eropa di abad pertengahan dan adalah salah satu kota paling kaya
di jaman itu dan dianggap sebagai tempat lahir Renaissance.
Lapangan di muka Palazzo Vecchio yang
dinamai Piazza della Signoria dipenuhi patung seni karya pematung tersohor seperti: Giambologna,
Baccio Bandinelli, Bartolomeo Ammannati, Benvenuto Cellini, dan Michelangelo Buonarroti.
Semua seniman ini adalah kelahiran Florence atau penduduk Florence.
Setiap patung mepunyai cerita sendiri
yang diambil dari mitologi Yunani atau Romawi. Tempat ini menjadi pameran seni
renaissance di ruang terbuka. Setiap patung adalah karya asli, kecuali patung
David yang merupakan replika.
Patung Giambologna “Rape of the Sabine
Women” didasari mitoligi Romawi, dimana para lelaki Roma, dibawah Romulus,
melakukan penculikan massal wanita-wanita muda dari kota-kota di daerah
itu.Giambologna membuat patung dengan
tema ini dengan tiga orang (seorang lelaki memanggul wanita sedangkan seorang
lelaki lain berjongkok), dibuat dari satu bungkahan pualam. Patung ini dianggap
sebagai karya agung Giambologna.
“The Fountain of Neptune” terletak di
samping Palazzo Vecchio terbuat dari pualam dan tembaga, air mancur itu diselesaikan
di tahun 1565 dan dirancang oleh Baccio Bandinelli. Patungnya dibuat oleh
pematung Bartolomeo Ammannati, dengan elemen-elemen buatan pematung lainnya.
Neptune adalah dewa lautan di dalam mitologi Romawi. Di dalam tradisi
Yunani, Neptune adalah saudara dari Jupiter dan Pluto.
“Perseus with the head of Medusa”, adalah
patung tembaga buatan Benvenuto Cellini. Ia dianggap karya agung dan salah satu
patung yang paling terkenal di Piazza della Signoria di Florence.
Ia menggambarkan Perseus berdiri di atas
badan Medusa dan mengangkat kepalanya ke atas. Medusa adalah peri mengerikan
berwajah wanita yang rambutnya berubah menjadi ular, dan setiap orang yang
melihatnya menjadi batu. Perseus berdiri tegak penuh kemenangan di atas badan
Medusa dengan kepala berular Medusa di tangannya.
“The
Rape of Polyxena” adalah patung pualam buatan Pio Fedi. Di dalam patung ini,
Polyxena berjuang untuk melepaskan diri dari Achiles yang merangkulnya dengan
satu tangan dengan mudah.
Tangan yang lain siap untuk memancung
ibunya, Hecuba, dengan pedang perkasanya.
“Hercules and Cacus” adalah patung putih
di sebelah kanan gerbang Palazzo Vecchio. Ini adalah karya Baccio Bandinelli seorang seniman Florence. Di sini, sang setengah
dewa Hercules, membunuh Cacus monster penyemprot api karena mencuri ternak, ini
adalah simbol keperkasaan fisik.
“David” adalah patung yang paling ikonik di Florence, dan
yang paling mudah dikenal. Di patung ini, David hanya berdiri, melihat kejauhan
dari bahunya. Michelangelo mematungkan David tepat sesaat setelah menantang
Goliath, sesaat sebelum salah satu peristiwa yang paling menentukan sejarah.
Photo by Guillaume Piolle - Wikimedia
Patung Cosimo I de Medici buatan Giambologna menunjukkan ambisi Medici
dan merupakan potret seorang yang menundukkan seluruh Tuscany di bawah kuasa
militer Medici. Dia adalah seorang bankir dan politikus Itali, generasi pertama
dinasti politik Medici, yang secara de facto adalah penguasa Florence di hampir
seluruh masa Renaissance di Itali. Kekuasaannya berakar pada kekayaannya
sebagai bankir, dan dia sangat menghargai seni dan arsitektur.
Cosimo dan keturunannya memerintah dari tempat
ini dan dari kantor di sebalahnya, yang sekarang menjadi museum Uffizi.
Konon katanya patung “Hercules and Cacus”
buatan Bandinelli di sebelah kanan patung David diatur oleh Medici untuk
menunjukkan kekuatan fisik ketika mereka kembali dari pengasingan. Patung
Neptune buatan Ammannati merayakan ambisi dirgantara Medici. Patung Persues
mengangkat kepala Medusa buatan Cellini adalah peringatan bagi yang melawan
penguasa Medici.
Aku melihat Dante di
Florence sesaat sebelum ia menghampiri jembatan Ponte Vecchio yang menyeberangi
sungai Arno. Dia berbadan rada
kecil, dengan mata besar dan hidung bengkok yang kentara. Dia kelihatan seperti
orang-orang yang biasa dijumpai di jalanan.
Aku ragu sejenak apakah
akan menyapanya ketika ia kelihatan sedang tertegun memandang ke seberang
sungai. Tak disangka ia ternyata seorang yang cukup ramah dan bersedia
berbicara dengan orang yang belum dikenal.
Bingung dan tak siap,
aku bertanya asal-asal saja: “Apa arti kota Florence ini bagi anda?”
Dante mengutip Inferno
Canto 26:
“Bersukacitalah, wahai
Florence, karena engkau begitu agung, Yang melampaui laut dan
daratan engkau mengepakkan sayapmu Dan di seluruh Neraka
namamu tersebar luas! Di antara pencuri lima
orang pendudukmu Seperti ini kutemukan,
membuat aku malu, Dan sehingga engkau tidak
meraih kehormatan agung.”
Lalu aku bertanya: “Meskipun dengan
keagungannya, mengapa anda bilang kota kesayangan anda, Florence, terkenal di suluruh
Neraka?”
Dante berkata:
“ Banyak penududuk
terkemuka Florence hidup di Neraka karena dosa-dosanya.
Filippo Argentini
menyamarkan kudanya dengan perak dan memiliki tangan besi. Dia memiliki
temperamen yang kejam, suatu saat dia menampar aku, dan adiknya mengambil alih
milikku yang disita.
Farinata degli Uberti
adalah seorang bidaah, dia percaya bahwa tidak ada jiwa dan segalanya akan mati
dengan badan.Dia menganggap kesenangan
hidup di dunia sebagai tujuan paling utama.
Bocca degli Abati
mengkhianati pendukung golongan guelph pada saat terpenting di pertempuran-
ketika tentara bayaran Jerman membantu golongan ghibellines Tuscan menyerang –
dengan memotong tangan pemegang bendera lambang guelph.Kehilangan semangat oleh pengkhianatan Bocca
dan lenyapnya bendera mereka, orang-orang gueplh menjadi panik dan dikalahkan
bulat-bulat.
Lalu ada sobatku Ciacco
yang rakus, babi itu, sepanjang hidupnya mengumbar kerakusan makannya dan hidup
dalam kelebihan.
Lalu ada Francesca da
Rimini, yang terpaksa kawin dengan orang yang bernama Gianciotto Malatesta
karena urusan politik. Namun, dia jatuh cinta dengan adik suaminya Paolo dan
berselingkuh dengannya. Ketika Gianciotto mengetahui perselingkuhan itu, dia
membunuh keduanya. Gianciotto sekarang berada di Neraka di tingkat yang lebih
dalam, begitu kata Francesca kepadaku.”
Aku berkata:
“ Ada orang yang
mengira bahwa anda mengutuk orang-orang ke neraka di buku Inferno anda karena
anda sakit hati terhadap musuh-musuh anda. Anda pernah menjadi orang yang
sangat berpengaruh dan terkenal di lingkungan politik dan lalu dikucilkan dari
Florence, dengan orang-orang segolongan anda, setelah kalian kalah dalam
peperangan politik. Anda dihukum, dengan empat orang lainnya, dengan denda
besar dan diasingkan selamanya dari pemerintahan.
Kemudian, dengan kedua
anak anda dan orang lainnya, kalian dijatuhi hukuman mati dengan dibakar,
seandainya kalian kembali masuk ke dalam kekuasaan rakyat. Anda kehilangan
segalanya, keluarga, hak milik, dan jalan hidup anda.”
Dante mengutip
pembukaan Inferno:
“Di pertengahan
perjalanan hidup kita Aku menemukan diriku
berada di kegelapan hutan, Karena jalan yang benar
sudah hilang.
Ah, betapa susahnya aku
untuk mengatakan Betapa kejamnya hutan
ini, kasar dan keras, Yang menambah rasa
takut. Alangkah pahitnya,
kematian sedikit lagi; Namun demi membagi hal baik
yang aku temukan di sana, Aku akan berbicara
mengenai hal-hal lain yang aku lihat di sana.”
Aku berkata:
“Mengikuti perjalanan
anda di Purgatory Canto 30, anda seakan mengakui bahwa anda tidak setia kepada
Beatrice, wanita yang anda puja dan sangat cintai. Anda berkata bahwa anda
jatuh cinta padanya saat pertama and ketemu dengannya, dan di Vita Nuova anda
menulis tentangnya dan berkata “Lihatlah, seorang dewi yang lebih perkasa dari
aku; yang akan datang, dan akan mengendalikan aku.”
Anda seakan benar-benar
terpikat dengannya sejak pertemuan pertama, namun saat itu anda baru 9 tahun
dan dia 8 tahun.”
Dante mengutip sebuah
soneta dari buku Vita Nuova (yang berarti Hidup Baru) yang dipersembahkan buat
Beatrice:
“ Di dalam buku itu
yang Adalah kenanganku…. Pada halaman pertama Yang adalah babak ketika Aku pertama kali
berjumpa dengan mu Muncul kata-kata… Di sini mulai sebuah
hidup baru.”
Aku berkata: “Lalu saat kedua anda
bertemu Beatrice adalah 9 tahun kemudian, dan ia menikah dengan seorang bankir
4 tahun kemudian, dan meninggal dunia 3 tahun kemudian pada umur muda 24 tahun,
di tahun 1290. Bagaimana anda memandang Beatrice setelah kematiannya di bagian
hidup anda selanjutnya?”
Dante mengutip apa yang
dikatakan Beatrice tentang Dante di Purgatory Canto 30:
“Ia memisahkan dirinya
dari aku dan memberinya kepada yang lain. Ketika aku bangkit dari
badan menjadi jiwa, Dan keindahan dan
keluhuran di dalam aku tertambah, Aku baginya menjadi
kurang tersayangi dan kurang menyenangkan; Dan dia berbelok ke
jalan yang tidak benar, Mengejar hal yang
berkesan kepalsuan, Yang tak pernah
memenuhi janjinya; Tidak juga ada doa
memohon petunjuk kutemukan, Dalam bentuk mimpi dan
yang lainnya Aku memanggilnya
kembali, sangat sedikit yang diturutinya. Sebegitu rendah ia
jatuh, sehingga semua sarana Untuk menyelamatkannya
sudah kehabisan, Kecuali menunjukkan
padanya orang-orang terbinasa itu.”
Lalu Dante mengutip
Purgatory Canto 31:
“Menolehlah, Beatrice, wahai
tolehkan mata kudusmu,” Begitu lagu mereka,
“kepada orang yang percaya, Yang harus melihat
engkau mengambil begitu banyak langkah, Dalam rahmat lakukanlah
keanggunan yang engkau singkapkan Wajahmu kepadanya,
sehinga dia dapat melihat Keindahan kedua yang
engkau sembunyikan.” Wahai semarak cahaya
hidup yang abadi!”
Aku berkata: “Kembali ke Inferno
Canto 26, anda bercerita tentang Ulysses, raja Yunani Ithaca yang legendaris
dan pahlawan puisi epik dari Homer, bahwa anda bertemu dengannya di Neraka.
Namun dalam hidupnya orang ini mendapat pengakuan dari surga. Dewi Athena,
putri dari dewa tertinggi membantu perantauannya, dan bahkan menyiapkan
pembunuhan berdarah. Raja angin Zeus, dewa tertinggi adalah dewa lainnya yang
memperkukuh hubungan Ulysses dengan surga. Dalam perjalanannya, Ulysses juga
menerima bantuan para dewa seperti Circe dan Calypso, meskipun dia didendami
oleh tokoh seperti Poseidon.
Mengapa dia sekarang
menderita di Neraka, tempat yang anda sebut di Inferno Canto 3: “Abaikan semua
harapan, engkau yang masuk ke sana”, dan di mana “Belatung yang menjijikkan dan
cacing-cacing di kaki para pendosa mengisap darah yang membusuk, nanah, dan air
mata yang turun mengailr dari tubuhnya.” Mengapakah pahlawan agung itu dikutuk
ke neraka?”
Dante menceritakan
tulisan Homer mengenai Ulysses: “Ulysses membunuh semua
pelamar yang ingin menyunting isterinya Penelope selagi ia merantau. Leodes
memohon ampun untuk nyawanya namun ia disebat pedang, sehingga kepalanya jatuh
terguling menelan debu. Setelah membunuh semua pelamar Penelope itu, dia
memerintahkan membunuh juga semua dayang-dayang Penelope. Namun, sebelum itu
mayat-mayat para pelamar musti disingkirkan dulu, dan para dayang harus
membersihkan meja kursi dari darah pelamar. Dia ingin menghina para dayang
sebelum ia menjagal mereka, memperlihatkan mayat-mayat kekasih mereka sementara
mengetahui sepenuhnya azab yang akan menimpa. Setelah para dayang membersihkan
meja kursi, digosok dengan spons, dibilas dan dibilas lagi darah, mereka
dipenggal dengan pedang lancip yang mencabut nyawa. Tak diragukan lagi bahwa
Ulysses adalah gembongnya gerombolan bajingan itu.”
Aku berkata: “Ulysses dikenal
sebagai raja perang dan ahli strategi yang hebat. Dia dengan cerdik
menyingkapkan penyamaran Achilles dan meyakinkannya untuk menopang senjata
untuk ikut perang melawan orang-orang Trojan. Di dalam Iliad yang ditulis
Homer, Ulysses dipandang sebagai antitesis Achiles, selagi Achiles dirudung
kemarahannya yang bisa menghancurkan dirinya sendiri, Ulysses sering dianggap
sebagai orang yang menggunakan akal, mengikuti pikiran, terkenal oleh
kesabarannya dan keahlian diplomasi. Ulysses bukan saja ahli taktik perang,
seperti dibuktikannya dengan akalnya menggunakan Kuda Trojan, tetapi juga
pembicara yang baik. Dia dianggap pahlawan yang terpiawai, dapat memecahkan
setiap persoalan. Dia juga adalah serdadu yang hebat dan pemimpin yang sangat
karismatik yang memberi inspirasi rakyatnya."
Dante berkata mengutip
apa yang dikatakan Ulysses kepadanya di Inferno Canto 26:
“ Bukan kelembutan
terhadap seorang putra, bukanlah pula tugas mengabdi Terhadap ayahku yang
menua, bukan pula cinta yang aku berhutang Kepada Penelope yang
akan membuatnya gembira Dapat menimpali
semangat ku Untuk mencari
pengalaman duniawi Dan mempelajari
kejahatan manusia, dan harganya…. Aku dan kawanan sekapalku
menjadi tua dan lambat Saat kami sampai di
selat yang sempit Dimana Hercules menoreh
garis luar batas, Memperingati semua
orang untuk tidak pergi lebih jauh.”
Aku berkata: “Dengan demikian
spertinya Ulysses bertindak seperti Adam, manusia pertama di bumi, yang
meskipun berbahagia kekal hidup di surga mengidap kerinduan untuk mencari yang
lebih, tentang pengetahuan terlarang. Demikian halnya Ulysses yang meskipun
berbahagia setelah berhasil kembali pulang ke pulau Ithaca, hidup berbahagia
dengan keluarga, mengidap kerinduan akan petualangan yang lebih, untuk
menaklukan dunia “yang belum dilihat siapapun”, yang berakhir dengan hancur
leburnya kapal Ulysses dan kematiannya yang menandai talak terakhir dengan
segala hubungan surgawi.
Kala sore hari menggelap,
Dante mengakhiri pembicaraan itu dengan mengatakan bahwa ia harus pergi ke
suatu tempat, lalu membalikkan punggungnya mengikuti tapak jalan di sepanjang
sungai Arno.
Ini adalah wawancara
imajiner untuk mengenang Dante Alighieri.
Teater Liu Sanjie
adalah pertunjukkan di alam terbuka di pegunungan dan sungai di Yangshuo.
Yangshuo adalah desa di
ujung perjalanan indah di Sungai Li (baca blog sebelumnya tentang Sungai Li)
dari Guilin, di Timur Laut Guangxi, Cina.
Teater Liu Sanjie di
panggungkan sepanjang 2 km di tepi Sungai Li dengan 12 puncak pegunungan
sebagai latar belakang. Jadi, tidak seperti pertunjukan dengan panggung
tradisional, di sini kita melihat pertunjukkan dengan latar belakang alam.Pemandangan alam yang indah dengan puncak
pegununungan, tercerminkan di air jernih, hujan kabut, dan hutan bambu, juga
dengan suara hewan di lingkungan alamiah adalah ciri unik pertunjukkan ini.
Teater Liu Sanjie di
sutradarai oleh sutradara filem terkenal Zhang Yi Mou. Dia adalah sutradara
filem Cina, produser, penulis dan aktor, dan sudah memenangkan berbagai piala
dan penghargaan di festival filem internasional seperti Silver Lion dan Golden
Lion di festival filem Venesia, Festival Filem Cannes dan the Golden Bear.
Zhang adalah juga sutradara acara pembukaan dan penutupan Olimpiade Beijing
2008, yang mendapat pujian internasional.
Zhang Yi Mou
membutuhkan waktu tiga setengah tahun untuk menyelesaikan persiapan peluncuran
Liu Sanjie. Pertunjukkannya memakan waktu 70 menit dan melibatkan lebih dari
600 pemain. Semua pemain adalah orang-orang lokal dan nelayan, terutama suku
minoritas Zhuang dan Yao, yang sangat rajin berlatih. Pada tanggal 20 Maret
2004, premier teater cahaya Liu Sanjie adalah pertunjukan besar di alam bebas
dengan 1800 kursi penonton, sekarang sampai sekitar 3000 kursi. Tiga
pertunjukkan setiap hari, dan selalu penuh di masa ramai liburan.
Kisah Liu Sanjieberasal dari suku minoritas Zhuang (baca blog sebelumnya tentang persawahan di Longji). Kisah itu tentang penyanyi wanita
legendaris Zhuang bernama Liu Sanjie, yang berarti “saudara perempuan ketiga”.
Suaranya sangat bagus yang menarik perhatian seorang gangster bernama Mo
Huairen.Gangster itu jatuh cinta kepada
Liu Sanjie dan bermaksud mengambilnya sebagai gundik. Namun, karena Liu Sanjie
menolak, Mo Huairen bermaksud membunuhnya.
Kekasih Liu Sanjie, Li
Xiaoniu, dan sahabat-sahabatnya sekampung kemudian membebaskan Liu Sanjie dan
pasangan itu melarikan diri dengan cara berubah menjadi sepasang burung yang
bersuara indah.
Teater Liu Sanjie juga
dinamakan Pertunjukan Impressi, karena ia berfokus pada impresi dan bukannya
plot ataupun karakter. Kita bisa melihat kumpulan impresi, yang merupakan impresi
pemandangan dan kehidupan penduduknya, dilatar belakangi pegunungan dengan
sungai sebagai panggung. Dengan lighting system yang mengagumkan, musik, dan
teknologi visual membuat pertunjukan ini sebuah impresi fantastis tentang kisah
Liu Sanjie. Zhang Yi Mou menggunakan suasana alam Yangshuo untuk memeberi efek
maksimum terhadap pertunjukannya.Penggunaan
cahaya dan air menunjang keindahan sungai Li dan pegunungan kapur yang belum
pernah terlihat sebelumnya.
Pada tanggal 20 Maret
2004 pertunjukan perdana teater cahaya Liu Sanjiedi alam terbuka yang luas dengan 1800 kursi,
sekarang sekitar 3000 kursi. Setiap hari ada tiga pertunjukan, selalu penuh di
masa ramai liburan.
Teater Liu Sanjie
dibagi menjadi 4 bagian utama:
Yang pertama dinamakan
Pertunjukan Merah dengan menggelar kain sutera panjang di sungai, yang memberi
kesan seakan nelayan membuang jaring lalu menariknya kembali, sambil menjaga
keseimbangan di kegentingan rakit bambu. Itu adalah aksi yang menakjubkan.
Lalu diikuti oleh
Pertunjukkan Hijau yang memeberi kesan kehidupan sehari-hari penduduk Sungai Li.
Asap mengepul dari panci masakan, para wanita mencuci, di sawah, memancing, dan
segala hal keseharian di kehidupan mereka.
Lalu diikuti oleh
Pertunjukan Biru, Liu Sanjie bersenandung lagu cinta sambil mandi di sungai
bagi pengantin, bahkan bulanpun terpesona mendengar lagu itu.
Mengetahui bahwa Mo
Huairen akan mendapat dukungan kepala kampung dan melaksanakan niatnya membunuh
Liu Sanjie, orang-orang kampung menasihatinya agar menjauhkan diri dari bahaya
untuk sementara waktu. Liu Sanjie lalu mengucapkan selamat tinggal dan pergi
merantau dengan kekasihnya Li Xiaoniu.
Akhirnya, Pertunjukan
Perak, pertunjukan pentutup yang gemilang, dengan pergantian kostum emas dan
perak, memberi kesan kebahagian kehidupan Liu Sanjie dan Li Xiaoniu selamanya.
Begitulah kisah legenda
yang menyentuh mengenai Liu Sanjie, dipertunjukkan di Sungai Li dengan latar
belakang pegunungan, ditunjang oleh sound system dan lighting system yang
sempurna. Pertunjukan itu adalah kombinasi yang menakjubkan antara legenda,
alam, teknologi, nyanyian, koreografi dan kebudayaan Zhuang. Benar-benar
pertunjukan yang fantastis !