Basilika Santa Maria
del Fiore adalah katedral di Florence, Itali. Katedral ini biasanya dinamakan
Duomo. Kompleks katedral ini yang berlokasi di Piazza del Duomo, mencakup
Baptistery (Gedung Pembaptisan) dan Bell Tower (Menara Lonceng). Ketiga
bangunan ini merupakan bagian dari Unesco World Heritage Site yang mencakup
pusat sejarah Florence dan merupakan atraksi utama bagi turis yang berkunjung
ke Tuscany.
Basilika ini dirancang
oleh Arnolfo di Cambio dengan kubah yang dirancang oleh Filippo Brunelleschi.
Bell Tower dirancang oleh Giotto.
Bagian luar Duomo
dihiasi dengan panel pualam berwarna hijau dan merah jambu dan warna putih di
pinggirannya. Pembangunannya dimulai di tahun 1296 dan selesai di tahun 1469,
kecuali dekorasinya. Dekorasi bagian depan dikerjakan dari tahun 1876 sampai
1903.
Kubah Duomo yang
dirancang oleh Brunelleschi terbuat dari batu bata dengan bentuk oktagonal,
adalah kubah batu bata terbesar di dunia. Kubah itu adalah mahakarya yang tahan
akan halilintar, gempa dan perjalanan waktu, dan selalu menarik perhatian
orang-orang yang melihatnya dari jauh. Inovasi Brinelleschi yang mengagumkan
mencakup penopangan ruang kubah tanpa scafolding, dengan menggunakan lapisan
ganda yang berongga. Lapisan dalam, dengan ketebalan lebih dari 2 meter,
terbuat dari batu bata ringan yang ditata dengan pola tulang ikan herring dan
merupakan struktur yang menyangga dirinya sendiri, sedangkan lapisan luar kubah
ini bertindak sebagai pelapis yang lebih kuat, dan penahan hempasan angin.
Kubah itu dimahkotai
sebuah lentera dengan atap berbentuk kerucut, yang dirancang oleh Brunelleschi
namun dibangun setelah kematiannya di tahun 1446, sedangkan lingkup dari
campuran emas dan tembaga dan salib di atas lentera, yang berisi relika suci,
dirancang oleh Andrea de Verrocchio dan dipasang di tahun 1466.
Fresco dari Pengadilan
Terakhir di dinding dalam kubah itu dibuat oleh Giorgio Vasari yang diapit oleh
Vincenzo Borghini yang membuat subyek iconografik tersebut dan menambahkan
tema-tema yang diambil dari buku Divine Comedy karangan Dante.
Sebagian besar jendela
kaca berpatri dibuat di antara tahun 1434 dan 1455 sesuai rancangan dari
seniman ternama seperti Donatello, Andrea del Castagno dan Paulo Uccelo.
Lapisan kayu bagian dalam lemari sakristi dirancang oleh Brunellischi dan seniman
lainnya, termasuk Antonio del Pollaiolo.
Gedung Baptistry di
komplex Piazza del Duomo, yang dinamai Baptistry Santo Yohanes terkenal dengan
ketiga pintu gerbang tembaga yang dihiasi secara artistik dengan relief
patung-patung. Pintu Gerbang Selatan diciptakan oleh Andrea Pisano dan yang
Utara dan Timur oleh Lorenzo Ghiberti. Pintu Gerbang Timur dinamai oleh
Michelangelo sebagai Gerbang Surgawi.
Ghiberti membutuhkan 21
tahun untuk menyelesaikan Gerbang Surgawi tersebut. Pintu tembaga berlapis emas
itu mencakup 28 panel, dengan 20 panel menggambarkan kehidupan Kristus dari
Perjanjian Baru. Kedelapan panel yang di bawah menunjukkan empat pewarta injil
dan bapak-bapak gereja St Ambrosius, St
Jerome, St Gregorius dan St Agustinus.
Di atas Gerbang Surgawi
berdiri Pembaptisan Kristus oleh Andrea Sansovini. Dante, penyair Itali dan
banyak lagi tokoh terkenal masa Rennaissance, termasuk keluarga Midici,
dibaptis di gedung ini.
Bell Tower yang
dirancang oleh Giotto, adalah sebuah struktur langsing segi empat dengan sisi
14.45 meter. Tingginya 84.7 meter dan mempunyai sisi berbetuk poligonal di
sudut-sudutnya. Ini adalah contoh yang paling jelas dari gaya arsitektur Gothic
di abad ke 14.
Dilapisi marmer merah
jambu dan hijau seperti Duomo disebelahnya, menara lonceng segi empat yang
agung itu dianggap sebagai menara lonceng yang paling indah di Itali.
Elemen dekorasi kaya yang
dibuat dari panel-panel heksagonal dan bentuk berlian merangkum konsep
Keteraturan Universal dan menceritakan kisah Pertobatan Manusia.
Aku duduk dengan
Leonardo di suatu siang yang benderang di sebuah kafe di Milan, di Piazza
Mercanti. Piazza itu berasal dari abad ke 12 dan ke 13 dan merupakan pusat
komersil kota Milan.
Dapat dibayangkan
dulunya berbagai pedagang, seperti tukang roti, pematung dan penjahit
menjalankan bisnisnya di sini.
Leonardo, seperti
biasanya berdandan dengan gaya dandy dan dengan aroma parfum, mengenakan tunik
merah jambu. Dia nampaknya nyaman dengan dirinya sendiri, menghirup
cappuccino-nya.
Aku berkata:
“Hal pertama yang
orang-orang ingin ketahui adalah tentang lukisan Mona Lisa. Orang-orang tidak
tahu siapa dia, siapakah dia sebenarnya?”
Leonardo:
“Dia adalah Lisa, seorang wanita kelahiran
Florence yang kawin di umur belasan tahun dengan seorang pedagang kain dan
sutera, yang kemudian menjadi pegawai pemerintah, dia adalah ibu lima anak dan
hidup sebagai kelas menengah biasa yang nyaman. Anda bisa lihat pakaiannya rada
sederhana dan biasa dan gaunnya, syal yang melingkari lehernya tidak
menunjukkan kedudukan ningratnya.”
Aku berkata:
“Mona Lisa sangat
terkenal oleh senyumannya. Namun ada orang yang melihat senyuman samarnya
sebagai senyum sedih.”
Leonardo:
“Saya melukisnya dengan
teknik “sfumato” yang kalau diterjemahkan berarti ‘tanpa garis atau batas,
seperti sifat asap.’ Dengan teknik ini saya tidak memakai outline, tapi dengan
menggunakan perbedaan nada dan bayangan cat untuk menciptakan ilusi cahaya dan
bayangan. Mulai dari warna yang gelap saya membangun ilusi karakteristik 3
dimensi mengunakan lapisan-lapisan tipis yang semi transparan. Gunakan bayangan
yang lebih gelap untuk menonjolkan suatu elemen dan pinggiran sebuah subyek.”
Aku berkata:
“Mungkin karena teknik
sfumato ini menjadikan kedua matanya dan mulutnya sebagai elemen yang menonjol.
Ketika pemirsa melihat kedua matanya, mulutnya jatuh ke dalam lingkup pinggiran
pandangan mata sehingga penampakan mulutnya tidak terlalu jelas, ditambah
dengan bayangan kabur di tulang pipinya membuat mulutnya seperti tersenyum.
Namun ketika pemirsa memfokuskan pandangan ke mulutnya, senyumnya menghilang,
seakan-akan mulutnya tidak bermaksud untuk tersenyum.”
Leonardo:
“Barangkali karena itu
sementara orang melihat senyumnya seperti senyum sedih.”
Aku berkata:
“Selain lukisan, anda
juga terkenal dengan ide-ide anda tentang engineering, anatomi, geometri, dan
pemahaman ilmiah akan keadaan alam.
Anda suatu saat
menghadiahi Raja Francois dari Perancis dengan sebuah robot singa dari koleksi
anda. Singa robot itu adalah hasil engineering yang mengagumkan, kepalanya bisa
bergerak, ekornya bisa bergoyang dan bisa membuka gerahamnya. Ketika Francois
diminta untuk menyentuh singa itu dengan pedangnya, badan singa itu terbuka dan
memperlihatkan banyak bunga lili.”
Leonardo, berbicara
agak bangga:
“Saya juga bilang ke
Ludovico Sforza, the Duke of Milan, bahwa saya bisa berbagi rahasia senjata
perang penemuan saya, saya bisa membangun jembatan-jembatan yang sangat ringan
dan kuat yang mudah dipindahkan untuk mengejar dan mengalahkan musuh-musuh….
Saya juga bisa membuat sejenis kanon yang ringan dan mudah dipindahkan, yang
dengannya bisa menyemprotkan batu-batu kecil bak hujan…. Saya bisa membuat
tanpa banyak ribut menuju ke titik manapun lorong-lorong bawah tanah- baik
lurus maupun melengkung- kalau perlu lewat di bawah saluran air atau sungai…..
Saya bisa bikin kendaraan lapis baja untuk mengangkut artileri, yang bisa
menembus pertahanan musuh yang paling berlapis. Dalam masa damai, saya percaya
saya bisa memberi anda suatu kepuasan bagi semua orang di dunia konstruksi,
baik umum maupun pribadi, dan dalam mengalirkan air dari satu tempat ke tempat
lain. Saya juga bisa membuat patung dari tembaga, marmer atau tanah liat. Dan,
dalam melukis, saya bisa membuat sebaik siapapun dia.”
Aku berkata:
“Bravo, namun anda juga
dikenal sebagai pelukis yang lambat kerjanya dan terkenal suka meninggalkan
pekerjaan anda tak terselesaikan seperti misalnya “Perawan Maria dengan anak
dan Santa Anna ”, “Santo Jeremias di hutan belantara”, “ Pemujaan Magi” dan
Kuda Tembaga yang ditugaskan oleh Ludovico Sforza. Reputasi anda untuk tidak
menyelesaikan pekerjaan anda berarti anda tidak lagi mendapat tugas-tugas yang
besar.”
Leonardo:
“ Detail-detail membuat
kesempurnaan, dan kesempurnaan bukanlah suatu detail. Contohnya,dari pengalaman menunjukkan kita bahwa langit
pastilah memiliki kegelapan di luarnya namun langit selalu tampil biru. Kalau
anda mebuat sejumlah kecil asap dari kayu kering dan sinar matahari jatuh ke
asap itu,dan kalau anda meletakkan di
belakang asap itu selembar kain beludru hitam yang tidak memantulkan cahaya
matahari, anda akan melihat bahwa semua asap yang berada di antara mata dan
kain hitam itu akan nampak sebagai warna biru yang indah. Dan kalau bukannya
kain hitam melainkan anda meletakkan asap kain putih, yaitu asap yang terlalu
tebal, ia akan menghalangi, dan kalau asap nya terlalu tipis tidak akan,
menghasilkan warna biru yang indah itu.”
Aku berkata:
“Anda nampaknya sangat
mencintai alam. Lukisan Mona Lisa memiliki latar belakang pemandangan alam yang
alami, ada jalan meliuk dan sebuah jembatan. Pemandangannya nampak liar dan ada
daerah berbatuan yang tidak berpenghuni dan air yang terbentang ke horison,
segaris dengan mata Mona Lisa.”
Leonardo:
“Tidak ada satu hal
yang berasal dari satu tempat yang tidak ada mahluk, tanaman dan kehidupan
rasional; bulu tumbuh pada burung dan akan berganti tiap tahunnya; rambut
tumbuh pada hewan dan berganti tiap tahunnya, kecuali beberapa bagian, seperti juga
halnya rambut janggut singa, kucing dan sebagainya. Rumput tumbuh di sawah, dan
daun tumbuh di pohon, dan setiap tahun sebagian besarnya, berganti. Jadi kita
bisa mengatakan bahwa bumi memiliki semangat untuk bertumbuh; bahwa dagingnya
adalah tanah, tulang-tulangnya adalah tataran dan rangkaian batuan yang
membentuk gunung, sumsumnya adalah batuan kapur, dan darahnya adalah curahan
air. Genangan darah di sekitar jantung adalah lautan, dan napasnya, dan percepatan
atau perlambatan denyut darah di dalam nadi, diwakili di bumi oleh aliran dan
pusaran laut; dan hangatnya semangat dunia adalah api yang menjelajahi bumi,
dan tempat bertengger mahluk vegetatif adalah dalam api, yang di berbagai
tempat di bumi disemburkan ke dalam kolam dan sumber sulfur, dan guning berapi,
seperti pada Gunung Aetna di Sicilia, dan banyak tempat lainnya.”
Aku berkata:
“Anda juga dikenal
sebagai sangat menyayangi binatang, anda bahkan mempertanyakan moralitas
memakan binatang ketika itu tidak dibutuhkan bagi kesehatan. Sekedar ide yang
memperbolehkan adanya penderitaan yang tidak perlu, bahkan mencabut nyawa,
adalah menjijikkan bagi anda. Giorgio Vasari bercerita kepada kami bagaimana di
Florence ketika anda melewati tempat penjualan burung anda sering mengambil
mereka dari kandang dengan tangan anda sendiri, dan setelah membayar anda
melepaskan burung-burung itu ke udara, memberikan kembali kebebasan
mereka.”
Leonardo, wajahnya
berseri:
“Selain itu saya juga berpikir tentang
bagaimana membuat pesawat terbang dengan mempelajari pergerakan dan konfigurasi
sayap burung. Apakah perbedaan tekanan udara di atas dan di bawah sayap burung,
dan bagaiman pengetahuan ini bisa membuat manusia membuat pesawat terbang? Pesawat terbang
haruslah meniru kelelawar saja, karena kerangkanya yang dengan keterpaduannya
memberi senjata, atau kekuatan kepada sayap-sayapnya. Kalau anda meniru sayap
burung berbulu, anda akan menemukan struktur yang jauh lebih kuat, karna
sayapnya permeabel; yaitu, bulu-bulunya merenggang and udara menembus
memlaluinya. Namun kelelawar dibantu oleh kerangka yang menghubungkan semuanya
dan tidaklah permeabel.” Aku berkata:
“Perjamuan Akhir
dilukis ratusan kali, dalam arti harafiah, sepanjang sejarah seni, oleh
berbagai seniman dalam berbagai gaya. Perjamuan Akhir anda nampak lebih alamiah
dan dinamis dari yang lainnya. Yudas terangkum dalam kelompok, dan bukannya
dipisahkan, dan orang-orangnya terlibat dalam interaksi yang hidup.”
Leonardo:
“Lukisan itu adalah
saat Yesus berkata “Salah seorang dari kamu akan mengkhianati saya……..”
Lukisan itu menunjukkan
rasa kasih, ketercengangan, dan kemarahan, atau lebih tepatnya kesedihan, atas
gagalnya para raul untuk mengerti apa maksud Yesus.
Bartolomeus yang
sehabis minum meletakkan gelasnya di situ dan menoleh ke Yesus.
Yakobus, melambaikan
menekuk jari-jari tangannya bersamaan menoleh dengan alis mengkerut ke Andreas.
Dan Andreas, dengan
kedua tapak tangannya terbuka, mengangkat bahunya sampai ke telinga dengan
mulut tertegun.
Thomas maju dengan
mengangkat jarinya seakan meminta Yesus menerangkan lebih jelas.
Petrus berbicara ke
telinga Yohanes dan selagi Yohanes mendengarnya, Petrus menggenggam pisau di
tangannya.
Yudas menggenggam
sebuah kantong kecil berisi 30 mata uang perak yang didapatkannya untuk
pembayaran pengkhianatan kepada Yesus dan menggulingkan pot garam- sebuah
simbol lain untuk pengkhianatan.
Filipus bertanya: “Guru,
apakah itu saya?” Yesus menjawab, “Dia yang mencelupkan tangannya bersama saya
ke dalam pinggan, dialah yang akan mengkhianati saya.” Kita melihat Yesus dan
Yudas bersama-sama meraih ke suatu pinggan yang berada di antara mereka,
walaupun Yudas menarik kembali tangannya membela diri.” Aku berkata: “Terimakasih Leonardo
untuk perbincangan ini, saya melihat bahwa anda akan diingat sejarah sebagai
“Teladan manusia Renaissance.”
Ini adalah wawancara imajiner mengenang Leonardo da Vinci.
Suatu hari, aku bertemu Niccolo di
pengasingan di Sant’Andrea di Percussina, dia kelihatan kusut dan mabuk. Senyumannya
yang manis tenggelam menjadi wajah yang sedih. Suatu penampilan yang amat
berbeda dari seorang yang pernah berperan sebagai duta sebelum Medici
melemparnya ke penjara, mneyiksanya dan mengucilkannya di tempat
peristrahatannya. Dia adalah seorang diplomat selama 14
tahun di Republik Florentine Itali sewaktu keluarga Medici dikucilkan. Ketika
keluarga Medici kembali berkuasa di tahun 1512, Niccolo dipecat dan
dipenjarakan. Selama pengasingannya dia menulis buku,
diantaranya “The Prince” (Sang Pangeran) yang menjadi bukunya yang paling
terkenal.
Aku bertanya secara langsung padanya:
“Orang-orang bilang bahwa kini anda
sering mabuk dengan ditemani petani-petani, berkelahi di kampung-kampung dan
mencerca nasibmu. Pengucilan ini pastilah sangat berat bagi anda, itu seperti
hukuman yang lebih berat dari kematian bagi seorang yang menganggap politik
kelas tinggi sepenting bernafas. Apakah anda merasa pahit akan perlakuan Medici
pada anda?”
Niccolo:
“Ketika malam tiba, saya pulang ke
rumah, dan masuk ke ruang kerja saya. Di serambi, saya buka pakaian kerja, yang
dilumuri lumpur dan kotoran, dan saya memasang pakaian seperti yang dipakai
seorang duta. Dengan pakaian sopan, saya memasuki halaman para pemimpin jaman
dulu yang sudah lama mati. Disana saya merasa diterima dengan hangat, dan saya
makan satu-satunya makanan yang saya anggap berigizi dan yang lahir untuk
dinikmati. Saya tidak malu untuk berbicara dengan mereka dan meminta mereka
menjelaskan tindakan mereka, dan mereka, karena kebaikan hati, menjawab saya.
Empat jam berlalu tanpa saya merasa cemas. Saya melupakan segala kegusaran. Saya
tidak lagi takut akan kemiskinan atau takut akan kematian. Saya hidup
seluruhnya melampauinya.”
Aku berkata:
“Medici melempar anda ke penjara,
menyiksa anda dengan tali yang digantung dari pergelangan tangan anda yang
terikat, dari belakang, yang memaksa lengan anda memikul berat badan anda dan
menggeser tulang bahu anda. Namun mereka tak bisa menemukan bukti keterlibatan
anda secara langsung dalam konspirasi anti Medici, dan anda dilepaskan beberapa
minggu kemudian setelah mendapat amnesti dari Paus, lalu dikucilkan kesini.
Walaupun keluarga Medici memperlakukan
anda dengan kejam, anda mempersembahkan buku anda yang paling terkenal “The
Prince” kepada Yang Hebat Lorenzo de Medici, seorang pangeran keluarga Medici
yang menyiksa anda. Mengapa demikian?”
Niccolo mengutip pembukaan The Prince
berkata:
“ Aku ingin mempersembahkan diriku
kepada Yang Hebat dengan suatu pengakuan penghormatanku kepadanya, milikku yang
paling ku cintai dan hargai adalah pengetahuanku akan tindakan-tindakan
orang-orang agung – pengetahuan yang kudapat dari pengalaman panjang dalam
hal-hal masa kini dan dengan terus menerus mempelajari masa lalu. Setelah
mencernanya dengan lama dan mendalam, saya kini mengirimkan buku, yang
dirangkum dalam buku kecil, kepada Yang Hebat.
Dan jika Yang Hebat, dari puncak gunung
kebesarannya suatu saat akan melihat ke daratan ini, dia akan melihat betapa
tidak layaknya aku menerima nasib buruk yang terus menerus mengikuti ku”
Aku berkata:
“Kata “Pangeran” di dalam buku “Sang
Pangeran (The Prince)”, tentunya bukanlah tentang pangeran keturunan dalam
sistem kerajaan, melainkan tentang pemimpin sebuah negara.”
Niccolo, mengutip bab 9 berkata:
“ Pangeran adalah seorang warga yang
menjadi pemimpin negaranya bukan dengan kelicikan atau kekejaman yang tak dapat
ditolelir, namun melalui dukunganvsesama warganya. Kita namakan hal ini ‘kerajaan
masyarakat’. Jadi, kerajaan seperti ini (negara pangeran) – cara bagaimana
menjadi seorang pangeran – didapat dengan dukungan masyarakat umum atau
dukungan para bangsawan.
Seorang yang menjadi pangeran dengan
bantuan para bangsawan akan sulit untuk menjaga jabatannya karena dia
dikelilingi orang-orang yang memandangnya sejajar dengan mereka, yang akan
mempengaruhi sang Pangeran dalam memberi perintah dan mengatur pemerintahannya.
Lebih mudah bagi seorang pangeran yang menerima jabatannya berkat dukungan
masyarakat umum: dia akan bisa memerintah dengan caranya sendiri, dengan
sedikit atau tiada orang yang enggan mematuhi perintahnya.”
Aku berkata:
“Machiavellianism” adalah istilah
negatif yang digunakan secara luas untuk menggambarkan politikus tak bermoral
seperti gambaran anda yang masyur di buku “The Prince”. Anda menggamabarkan
tindakan tak bermoral , seperti kebohongan dan pembunuhan orang yang tak
bersalah, sebagai hal biasa dan efektif dalam dunia politik.”
Niccolo mengutip bab 15 berkata:
“ Saya tidaklah membela diri tentang hal
ini: tujuanku adalah menulis hal-hal yang berguna bagi pembaca yang mengerti
situasi ini; jadi menurutku lebih pantas untuk mengikuti situasi sebenarnya
dari pada mengutip apa yang orang-orang sudah bayangkan. Banyak penulis
memimpikan negara republik atau kerajaan yag tidak pernah terlihat atau diketahui
di dunia. Dan mendekati mereka adalah berbahaya karena perbedaan antara
“bagaimana orang hidup” dan “bagaimana seharusnya mereka hidup” sangat besar
sehingga setiap pangeran yang tidak berpikir bagaiman orang-orang bertindak
melainkan bagaiman orang seharusnya bertindak akan menghancurkan kekuasaannya,
bukannya memelihara kekuassannya. Orang yang berusaha bertindak baik akan
segera dihinggapi rasa pahit di tangan orang-orang sekelilingnya yang tak
bermoral. Jadi, seorang pangeran yang ingin mempertahankan kekuasaannya harus
belajar bertindak amoral, memakai atau tak memakai keahlian seperlunya.
Seperti yang saya bilang di bab 18,
seorang pangeran dipaksa untuk mengetahui bertindak seperti binatang, dia harus
belajar dari rubah (fox) dan singa; karena singa tak berdaya terhadap jebakan
dan rubah tak berdaya terhadap serigala. Jadi seorang pangeran haruslah
bertindak seperti rubah untuk mengetahui jebakan dan menjadi singa untuk menakuti
serigala.”
Aku berkata:
“Anda seperti menyetujui kekejian,
kekejaman bahkan pembunuhan dalam situasi tertentu, yang bertentangan dengan
norma-norma universal dalam masyarakat.”
Niccolo mengutip bab 17 berkata:
“ Saya berkata bahwa setiap pangeran
sebaiknya berharap untuk dianggap berbelas kasih dan tidak keji; namun dia
harus hati-hati untuk tidak menyalah gunakan belas kasihnya! Cesare Borgia
dianggap keji; namun “kekejiannya” menciptakan keteraturan di Romagna, mempersatukannya,
dan mengembalikan kedamaian dan kesetiaan. Jika anda mempertimbangkannya, anda
akan melihatnya sebenarnya lebih berbelas kasih dibandingkan orang-orang
Florentine yang, untuk menghindari dibilang keji, membiarkan Pistoia
dihancurkan.”
Aku berkata:
“ Filsafat “Tujuan menghalalkan Cara”
sering dikaitkan dengan anda, sehingga dinamai Machiavellianisme. The Prince
menjadi buku pegangan pemimpin seperti Stalin, yang membiarkan orang-orang
Ukraina mati kelaparan supaya dia bisa menjual gandum dari Ukraina ke barat
sehingga dia bisa membuat tentara lebih kuat dan untuk mengembangkan industri.
Pemimpin fascist Italy Benito Mussolini
melihat dirinya sebagai manusia Machiavellian modern dan menulis pembukaan
tesis doktor kehormatannya untuk Univesitas Bologna – “Prelude to
Machiavelli.”Di tesisnya dia mengutip
bab 17 buku anda sebagai bukti pesimisme anda akan sifat kemanusiaan ; “ karena
kita bisa berkata disini secara umum bahwa manusia tidak tahu berterima kasih,
berubah-ubah, menipu, pengecut menghadapi bahaya, serakah akan keuntungan: dan
selama anda memberinya keuntungan mereka akan setia dan besedia bersumpah
dengan darah, kekayaan mereka, hidup mereka, anak-anak mereka – sampai saat,
seperti yang saya bilang di atas, mereka tidak lagi memerlukan kamu; namun
kalau saat itu datang mereka dengan cepat meninggalkan kamu.”
Niccolo mengutip bab 8 berkata:
“Seseorang yang mengambil alih kekuasaan
haruslah dengan keras memikirkan luka-luka yang ia harus timbulkan, dan menghentikannya
semua pada awal pemerintahannya, dan bukannya bertindak keji dari hari ke hari.
Dengan menghentikan kekejian secepatnya, sang peraih kekuasaan dapat meyakinkan
orang-orang dan merangkul mereka ke sisinya dengan kebaikan. Seseorang yang
tidak bertindak seperti ini – karena takut atau karena nasihat buruk – akan
selalu harus memegang pisau di tangan; dan ia tidak akan bisa bergantung pada
bawahannya, yang akan mundur karena luka-luka yang terus menerus dan
berulang-ulang….”
Aku berkata:
“ Buku anda The Prince sebenarnya adalah
buku kecil dengan bahasa yang jelas, gampang dimengerti. Namun buku-buku
komentar, ulasan, kritik dan analisa tentangnya jauh lebih panjang dari pada
buku kecil ini. Apa kata anda tentang ini?”
Niccolo mengutip bab 1 berkata:
“ Banyak penulis menghias karya mereka-
menyumbat karya mereka- dengan kalimat-kalimat halus yang menyapu, kata-kata
angkuh, dan daya tarik lainnya yang tak relevan tentang masalah yang
dibincangkan; tapi saya belum pernah menggunakannya, karena saya menginginkan
karya ini dihargai karena pentingnya topik dan kebenaran yang dibicarakannya.”
Aku berkata:
“Namun buku kecil ini menjadi sangat
terkenal karena kontroversinya, Bertrand Russel menyebut buku ini sebagai “
buku pegangan bagi gangster”.Leo
Strauss menyebut anda “guru setan” karena buku itu. Apakah anda heran tentang
hal itu?”
Niccolo berkata:
“ The Prince hanyalah salah satu buku
saya, saya juga menulis “The Art of war”, “Discourses on Livy”, dan
drama-drama.
Di “Art of the War”, Lord Fabrizio
Colonna berkata bahwa kita sebaiknya belajar hal-hal yang mirip masa dulu yang
menghormati dan menghadiahi kebaikan hati, tidak menghina kemiskinan,
menghargai bentuk dan keteraturan disiplin militer, menerapkan masyarakat yang
mencintai satu dengan lainnya, hidup tanpa perpecahan, menghargai kebutuhan
umum di atas kebutuhan pribadi.
Namun, pemerintahan yang bagus tanpa
bantuan militer akanlah tidak banyak beda kacaunya dengan tinggal di istana
yang indah megah, yang, meskipun dihiasi permata dan emas, kalau tidak beratap
tidak ada yang melindungi di saat hujan.
Di dalam “Discourses on Livy” saya
mengutip Livy berkata bahwa masyarakat akan kuat jika bersama, dan lemah kalau
sendirian, seperti halnya buruh Roma. Livy selanjutnya juga merasa bahwa jumlah
besar lebih bijaksana daripada seorang pangeran. Dan di bab 30 saya menulis
tentang republik yang kuat sebenarnya, dan para pangeran yang membeli
persahabatan tidak dengan uang, tapi dengan kebaikan dan reputasi akan
kekuatan.
Buku ini berbincang tentang para
pemimpin Roma dan bagaimana seorang pangeran yang kuat atau lemah dapat
memelihara atau menghancurkan sebuah kerajaan. Setelah seorang pangeran lemah
sebuah kerajaan tidak bisa tetap kuat dengan pangeran lemah lainnya. Untunglah,
ketiga raja pertama mempunyai suatu kekuatan tertentu, yang membantu kota itu.
Romulus adalah bengis, Numa relijius, dan Tullus berdedikasi untuk perang.”
Aku berkata:
“ Jadi sepertinya fokus anda adalah
bahwa seorang pangeran seharusnya bergantung pada keahlian dan kekuatannya, dan
bukanlah pangeran yang lemah, dan bergantung pada nasib baik.”
Niccolo berkata dengan anggukan:
“ Ya, setelah semua itu saya tidak
begitu Machiavellian….”
Ini adalah wawancara imajiner mengenang
Niccolo Machiavelli.
Piazzale Michelangelo (Lapangan
Michelangleo) adalah sebuah lapangan dengan panorama menarik ke Florence. Ini
adalah tempat terbaik untuk memandang Florence setiap waktu, suatu pemandangan
ikonik dari Florence.
Pemandangannya mencakup pusat kota
Florence dari Forte Belvedere ke Santa Croce, jembatan Ponte Cecchio dan
jembatan-jembatan lain yang menyeberagi sungai Arno, Duomo, Palazzo Vecchio, dan
tempat-tempat terkenal lainnya.
Lapangan gaya Florentine ini dirancang
oleh arsitek Giuseppe Poggi dan dibuat di tahun 1869 di bukit di seberang
Selatan sungai Arno. Lapangan ini didedikasikan bagi pematung Rennaissance
Michelangelo, dan ada patung tembaga replika dari patung David yang terkenal.
Patung David adalah patung yang paling
ikonik di Florence, dan yang paling mengesankan. Walaupun banyak patung David
diciptakan sebelumnya, karya agung Michelangelo ini adalah unik.
Patung itu unik khususnya dalam gaya David
diperagakan. Seniman lainnya memperagakan
David membantai sang raksasa Goliath, atau berdiri di atas mayat Goliath,
patung Michelangelo ini berbeda. Dalam patung ini, David berdiri saja, memandang melalui bahunya sesaat sesetelah ia menantang Goliath, sesaat sebelum
salah satu kejadian yang paling menentukan dalam sejarah.
David memasuki pertempuran hanya dengan
5 batu dan katapel. David memenangkan pertempuran itu dan menandaikemenangannya dengan memenggal kepala Goliath
dan menunjukkannya kepada musuhnya. Kemudian, ia menjadi raja Israel, yang membawa
masa yang paling makmur di dalam sejarah Israel.
Lalu setelah memenangkan pertarungan itu,
David melantunkan Mazmur 151:
Aku keluar untuk menyerang orang
Filistin,
yang mengutuk aku dengan berhalanya.
Tapi
setelah aku menemukan pedangnya sendiri,
aku penggal kepalanya.
Demikian aku menghapus rasa malu
dari bangsa Israel.
Kemudian, dengan mengendarai mobil 8 kilometer ke arah Timur
Laut Florence, kita sampai di Fiesole sebuah kota di bukit indah di atas
Florence. Sejak abad ke 14 kota ini selalu dianggap pelarian bagi penduduk Florence
kelas atas dan hingga saat ini Florence masih merupakan kota yang paling kaya
di seluruh Tuscani.
Di tengah kota Fiesole, ada lapangan yang dinamai Piazza
Mino. Lapangan ini dinamakan sesuai seoarang pematung asal Florence bernama Mino
da Fiesole. Karenanya lapangan ini sering dipakai untuk eksibisi patung-patung
seni untuk menghormati Mino da Fiesole.
Lebih lanjut ke arah Barat Fiesole ada sebuah biara St.
Francis, yang adalah biara ordo Fransiskan.Bagian depan gerejanya bergaya Gothic dengan atap meruncing. Biaranya
terletak di sebelah kanan gereja, yang dekelilingi tiga asrama biara.
Dante Alighieri di dalam Devine Comedia
berkata (lihat blog sebelumnya tentang Dante):
“Bersukacitalah, wahai Florence, karena
engkau begitu agung,
Yang melampaui laut dan daratan engkau
mengepakkan sayapmu,”
Memang Florence adalah kota agung dan
salah satu kota paling indah di dunia. Karya seni dan museum di Florence diakui
oleh Unesco. Selain keagungan seni dan arsitekturnya, Florence adalah pusat perdagangan
dan keuangan Eropa di abad pertengahan dan adalah salah satu kota paling kaya
di jaman itu dan dianggap sebagai tempat lahir Renaissance.
Lapangan di muka Palazzo Vecchio yang
dinamai Piazza della Signoria dipenuhi patung seni karya pematung tersohor seperti: Giambologna,
Baccio Bandinelli, Bartolomeo Ammannati, Benvenuto Cellini, dan Michelangelo Buonarroti.
Semua seniman ini adalah kelahiran Florence atau penduduk Florence.
Setiap patung mepunyai cerita sendiri
yang diambil dari mitologi Yunani atau Romawi. Tempat ini menjadi pameran seni
renaissance di ruang terbuka. Setiap patung adalah karya asli, kecuali patung
David yang merupakan replika.
Patung Giambologna “Rape of the Sabine
Women” didasari mitoligi Romawi, dimana para lelaki Roma, dibawah Romulus,
melakukan penculikan massal wanita-wanita muda dari kota-kota di daerah
itu.Giambologna membuat patung dengan
tema ini dengan tiga orang (seorang lelaki memanggul wanita sedangkan seorang
lelaki lain berjongkok), dibuat dari satu bungkahan pualam. Patung ini dianggap
sebagai karya agung Giambologna.
“The Fountain of Neptune” terletak di
samping Palazzo Vecchio terbuat dari pualam dan tembaga, air mancur itu diselesaikan
di tahun 1565 dan dirancang oleh Baccio Bandinelli. Patungnya dibuat oleh
pematung Bartolomeo Ammannati, dengan elemen-elemen buatan pematung lainnya.
Neptune adalah dewa lautan di dalam mitologi Romawi. Di dalam tradisi
Yunani, Neptune adalah saudara dari Jupiter dan Pluto.
“Perseus with the head of Medusa”, adalah
patung tembaga buatan Benvenuto Cellini. Ia dianggap karya agung dan salah satu
patung yang paling terkenal di Piazza della Signoria di Florence.
Ia menggambarkan Perseus berdiri di atas
badan Medusa dan mengangkat kepalanya ke atas. Medusa adalah peri mengerikan
berwajah wanita yang rambutnya berubah menjadi ular, dan setiap orang yang
melihatnya menjadi batu. Perseus berdiri tegak penuh kemenangan di atas badan
Medusa dengan kepala berular Medusa di tangannya.
“The
Rape of Polyxena” adalah patung pualam buatan Pio Fedi. Di dalam patung ini,
Polyxena berjuang untuk melepaskan diri dari Achiles yang merangkulnya dengan
satu tangan dengan mudah.
Tangan yang lain siap untuk memancung
ibunya, Hecuba, dengan pedang perkasanya.
“Hercules and Cacus” adalah patung putih
di sebelah kanan gerbang Palazzo Vecchio. Ini adalah karya Baccio Bandinelli seorang seniman Florence. Di sini, sang setengah
dewa Hercules, membunuh Cacus monster penyemprot api karena mencuri ternak, ini
adalah simbol keperkasaan fisik.
“David” adalah patung yang paling ikonik di Florence, dan
yang paling mudah dikenal. Di patung ini, David hanya berdiri, melihat kejauhan
dari bahunya. Michelangelo mematungkan David tepat sesaat setelah menantang
Goliath, sesaat sebelum salah satu peristiwa yang paling menentukan sejarah.
Photo by Guillaume Piolle - Wikimedia
Patung Cosimo I de Medici buatan Giambologna menunjukkan ambisi Medici
dan merupakan potret seorang yang menundukkan seluruh Tuscany di bawah kuasa
militer Medici. Dia adalah seorang bankir dan politikus Itali, generasi pertama
dinasti politik Medici, yang secara de facto adalah penguasa Florence di hampir
seluruh masa Renaissance di Itali. Kekuasaannya berakar pada kekayaannya
sebagai bankir, dan dia sangat menghargai seni dan arsitektur.
Cosimo dan keturunannya memerintah dari tempat
ini dan dari kantor di sebalahnya, yang sekarang menjadi museum Uffizi.
Konon katanya patung “Hercules and Cacus”
buatan Bandinelli di sebelah kanan patung David diatur oleh Medici untuk
menunjukkan kekuatan fisik ketika mereka kembali dari pengasingan. Patung
Neptune buatan Ammannati merayakan ambisi dirgantara Medici. Patung Persues
mengangkat kepala Medusa buatan Cellini adalah peringatan bagi yang melawan
penguasa Medici.
Aku melihat Dante di
Florence sesaat sebelum ia menghampiri jembatan Ponte Vecchio yang menyeberangi
sungai Arno. Dia berbadan rada
kecil, dengan mata besar dan hidung bengkok yang kentara. Dia kelihatan seperti
orang-orang yang biasa dijumpai di jalanan.
Aku ragu sejenak apakah
akan menyapanya ketika ia kelihatan sedang tertegun memandang ke seberang
sungai. Tak disangka ia ternyata seorang yang cukup ramah dan bersedia
berbicara dengan orang yang belum dikenal.
Bingung dan tak siap,
aku bertanya asal-asal saja: “Apa arti kota Florence ini bagi anda?”
Dante mengutip Inferno
Canto 26:
“Bersukacitalah, wahai
Florence, karena engkau begitu agung, Yang melampaui laut dan
daratan engkau mengepakkan sayapmu Dan di seluruh Neraka
namamu tersebar luas! Di antara pencuri lima
orang pendudukmu Seperti ini kutemukan,
membuat aku malu, Dan sehingga engkau tidak
meraih kehormatan agung.”
Lalu aku bertanya: “Meskipun dengan
keagungannya, mengapa anda bilang kota kesayangan anda, Florence, terkenal di suluruh
Neraka?”
Dante berkata:
“ Banyak penududuk
terkemuka Florence hidup di Neraka karena dosa-dosanya.
Filippo Argentini
menyamarkan kudanya dengan perak dan memiliki tangan besi. Dia memiliki
temperamen yang kejam, suatu saat dia menampar aku, dan adiknya mengambil alih
milikku yang disita.
Farinata degli Uberti
adalah seorang bidaah, dia percaya bahwa tidak ada jiwa dan segalanya akan mati
dengan badan.Dia menganggap kesenangan
hidup di dunia sebagai tujuan paling utama.
Bocca degli Abati
mengkhianati pendukung golongan guelph pada saat terpenting di pertempuran-
ketika tentara bayaran Jerman membantu golongan ghibellines Tuscan menyerang –
dengan memotong tangan pemegang bendera lambang guelph.Kehilangan semangat oleh pengkhianatan Bocca
dan lenyapnya bendera mereka, orang-orang gueplh menjadi panik dan dikalahkan
bulat-bulat.
Lalu ada sobatku Ciacco
yang rakus, babi itu, sepanjang hidupnya mengumbar kerakusan makannya dan hidup
dalam kelebihan.
Lalu ada Francesca da
Rimini, yang terpaksa kawin dengan orang yang bernama Gianciotto Malatesta
karena urusan politik. Namun, dia jatuh cinta dengan adik suaminya Paolo dan
berselingkuh dengannya. Ketika Gianciotto mengetahui perselingkuhan itu, dia
membunuh keduanya. Gianciotto sekarang berada di Neraka di tingkat yang lebih
dalam, begitu kata Francesca kepadaku.”
Aku berkata:
“ Ada orang yang
mengira bahwa anda mengutuk orang-orang ke neraka di buku Inferno anda karena
anda sakit hati terhadap musuh-musuh anda. Anda pernah menjadi orang yang
sangat berpengaruh dan terkenal di lingkungan politik dan lalu dikucilkan dari
Florence, dengan orang-orang segolongan anda, setelah kalian kalah dalam
peperangan politik. Anda dihukum, dengan empat orang lainnya, dengan denda
besar dan diasingkan selamanya dari pemerintahan.
Kemudian, dengan kedua
anak anda dan orang lainnya, kalian dijatuhi hukuman mati dengan dibakar,
seandainya kalian kembali masuk ke dalam kekuasaan rakyat. Anda kehilangan
segalanya, keluarga, hak milik, dan jalan hidup anda.”
Dante mengutip
pembukaan Inferno:
“Di pertengahan
perjalanan hidup kita Aku menemukan diriku
berada di kegelapan hutan, Karena jalan yang benar
sudah hilang.
Ah, betapa susahnya aku
untuk mengatakan Betapa kejamnya hutan
ini, kasar dan keras, Yang menambah rasa
takut. Alangkah pahitnya,
kematian sedikit lagi; Namun demi membagi hal baik
yang aku temukan di sana, Aku akan berbicara
mengenai hal-hal lain yang aku lihat di sana.”
Aku berkata:
“Mengikuti perjalanan
anda di Purgatory Canto 30, anda seakan mengakui bahwa anda tidak setia kepada
Beatrice, wanita yang anda puja dan sangat cintai. Anda berkata bahwa anda
jatuh cinta padanya saat pertama and ketemu dengannya, dan di Vita Nuova anda
menulis tentangnya dan berkata “Lihatlah, seorang dewi yang lebih perkasa dari
aku; yang akan datang, dan akan mengendalikan aku.”
Anda seakan benar-benar
terpikat dengannya sejak pertemuan pertama, namun saat itu anda baru 9 tahun
dan dia 8 tahun.”
Dante mengutip sebuah
soneta dari buku Vita Nuova (yang berarti Hidup Baru) yang dipersembahkan buat
Beatrice:
“ Di dalam buku itu
yang Adalah kenanganku…. Pada halaman pertama Yang adalah babak ketika Aku pertama kali
berjumpa dengan mu Muncul kata-kata… Di sini mulai sebuah
hidup baru.”
Aku berkata: “Lalu saat kedua anda
bertemu Beatrice adalah 9 tahun kemudian, dan ia menikah dengan seorang bankir
4 tahun kemudian, dan meninggal dunia 3 tahun kemudian pada umur muda 24 tahun,
di tahun 1290. Bagaimana anda memandang Beatrice setelah kematiannya di bagian
hidup anda selanjutnya?”
Dante mengutip apa yang
dikatakan Beatrice tentang Dante di Purgatory Canto 30:
“Ia memisahkan dirinya
dari aku dan memberinya kepada yang lain. Ketika aku bangkit dari
badan menjadi jiwa, Dan keindahan dan
keluhuran di dalam aku tertambah, Aku baginya menjadi
kurang tersayangi dan kurang menyenangkan; Dan dia berbelok ke
jalan yang tidak benar, Mengejar hal yang
berkesan kepalsuan, Yang tak pernah
memenuhi janjinya; Tidak juga ada doa
memohon petunjuk kutemukan, Dalam bentuk mimpi dan
yang lainnya Aku memanggilnya
kembali, sangat sedikit yang diturutinya. Sebegitu rendah ia
jatuh, sehingga semua sarana Untuk menyelamatkannya
sudah kehabisan, Kecuali menunjukkan
padanya orang-orang terbinasa itu.”
Lalu Dante mengutip
Purgatory Canto 31:
“Menolehlah, Beatrice, wahai
tolehkan mata kudusmu,” Begitu lagu mereka,
“kepada orang yang percaya, Yang harus melihat
engkau mengambil begitu banyak langkah, Dalam rahmat lakukanlah
keanggunan yang engkau singkapkan Wajahmu kepadanya,
sehinga dia dapat melihat Keindahan kedua yang
engkau sembunyikan.” Wahai semarak cahaya
hidup yang abadi!”
Aku berkata: “Kembali ke Inferno
Canto 26, anda bercerita tentang Ulysses, raja Yunani Ithaca yang legendaris
dan pahlawan puisi epik dari Homer, bahwa anda bertemu dengannya di Neraka.
Namun dalam hidupnya orang ini mendapat pengakuan dari surga. Dewi Athena,
putri dari dewa tertinggi membantu perantauannya, dan bahkan menyiapkan
pembunuhan berdarah. Raja angin Zeus, dewa tertinggi adalah dewa lainnya yang
memperkukuh hubungan Ulysses dengan surga. Dalam perjalanannya, Ulysses juga
menerima bantuan para dewa seperti Circe dan Calypso, meskipun dia didendami
oleh tokoh seperti Poseidon.
Mengapa dia sekarang
menderita di Neraka, tempat yang anda sebut di Inferno Canto 3: “Abaikan semua
harapan, engkau yang masuk ke sana”, dan di mana “Belatung yang menjijikkan dan
cacing-cacing di kaki para pendosa mengisap darah yang membusuk, nanah, dan air
mata yang turun mengailr dari tubuhnya.” Mengapakah pahlawan agung itu dikutuk
ke neraka?”
Dante menceritakan
tulisan Homer mengenai Ulysses: “Ulysses membunuh semua
pelamar yang ingin menyunting isterinya Penelope selagi ia merantau. Leodes
memohon ampun untuk nyawanya namun ia disebat pedang, sehingga kepalanya jatuh
terguling menelan debu. Setelah membunuh semua pelamar Penelope itu, dia
memerintahkan membunuh juga semua dayang-dayang Penelope. Namun, sebelum itu
mayat-mayat para pelamar musti disingkirkan dulu, dan para dayang harus
membersihkan meja kursi dari darah pelamar. Dia ingin menghina para dayang
sebelum ia menjagal mereka, memperlihatkan mayat-mayat kekasih mereka sementara
mengetahui sepenuhnya azab yang akan menimpa. Setelah para dayang membersihkan
meja kursi, digosok dengan spons, dibilas dan dibilas lagi darah, mereka
dipenggal dengan pedang lancip yang mencabut nyawa. Tak diragukan lagi bahwa
Ulysses adalah gembongnya gerombolan bajingan itu.”
Aku berkata: “Ulysses dikenal
sebagai raja perang dan ahli strategi yang hebat. Dia dengan cerdik
menyingkapkan penyamaran Achilles dan meyakinkannya untuk menopang senjata
untuk ikut perang melawan orang-orang Trojan. Di dalam Iliad yang ditulis
Homer, Ulysses dipandang sebagai antitesis Achiles, selagi Achiles dirudung
kemarahannya yang bisa menghancurkan dirinya sendiri, Ulysses sering dianggap
sebagai orang yang menggunakan akal, mengikuti pikiran, terkenal oleh
kesabarannya dan keahlian diplomasi. Ulysses bukan saja ahli taktik perang,
seperti dibuktikannya dengan akalnya menggunakan Kuda Trojan, tetapi juga
pembicara yang baik. Dia dianggap pahlawan yang terpiawai, dapat memecahkan
setiap persoalan. Dia juga adalah serdadu yang hebat dan pemimpin yang sangat
karismatik yang memberi inspirasi rakyatnya."
Dante berkata mengutip
apa yang dikatakan Ulysses kepadanya di Inferno Canto 26:
“ Bukan kelembutan
terhadap seorang putra, bukanlah pula tugas mengabdi Terhadap ayahku yang
menua, bukan pula cinta yang aku berhutang Kepada Penelope yang
akan membuatnya gembira Dapat menimpali
semangat ku Untuk mencari
pengalaman duniawi Dan mempelajari
kejahatan manusia, dan harganya…. Aku dan kawanan sekapalku
menjadi tua dan lambat Saat kami sampai di
selat yang sempit Dimana Hercules menoreh
garis luar batas, Memperingati semua
orang untuk tidak pergi lebih jauh.”
Aku berkata: “Dengan demikian
spertinya Ulysses bertindak seperti Adam, manusia pertama di bumi, yang
meskipun berbahagia kekal hidup di surga mengidap kerinduan untuk mencari yang
lebih, tentang pengetahuan terlarang. Demikian halnya Ulysses yang meskipun
berbahagia setelah berhasil kembali pulang ke pulau Ithaca, hidup berbahagia
dengan keluarga, mengidap kerinduan akan petualangan yang lebih, untuk
menaklukan dunia “yang belum dilihat siapapun”, yang berakhir dengan hancur
leburnya kapal Ulysses dan kematiannya yang menandai talak terakhir dengan
segala hubungan surgawi.
Kala sore hari menggelap,
Dante mengakhiri pembicaraan itu dengan mengatakan bahwa ia harus pergi ke
suatu tempat, lalu membalikkan punggungnya mengikuti tapak jalan di sepanjang
sungai Arno.
Ini adalah wawancara
imajiner untuk mengenang Dante Alighieri.