Tampilkan postingan dengan label Florence. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Florence. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 April 2018

Florence, di Piazza del Duomo


Basilika Santa Maria del Fiore adalah katedral di Florence, Itali. Katedral ini biasanya dinamakan Duomo. Kompleks katedral ini yang berlokasi di Piazza del Duomo, mencakup Baptistery (Gedung Pembaptisan) dan Bell Tower (Menara Lonceng). Ketiga bangunan ini merupakan bagian dari Unesco World Heritage Site yang mencakup pusat sejarah Florence dan merupakan atraksi utama bagi turis yang berkunjung ke Tuscany.
Basilika ini dirancang oleh Arnolfo di Cambio dengan kubah yang dirancang oleh Filippo Brunelleschi. Bell Tower dirancang oleh Giotto.
Bagian luar Duomo dihiasi dengan panel pualam berwarna hijau dan merah jambu dan warna putih di pinggirannya. Pembangunannya dimulai di tahun 1296 dan selesai di tahun 1469, kecuali dekorasinya. Dekorasi bagian depan dikerjakan dari tahun 1876 sampai 1903.
Kubah Duomo yang dirancang oleh Brunelleschi terbuat dari batu bata dengan bentuk oktagonal, adalah kubah batu bata terbesar di dunia. Kubah itu adalah mahakarya yang tahan akan halilintar, gempa dan perjalanan waktu, dan selalu menarik perhatian orang-orang yang melihatnya dari jauh. Inovasi Brinelleschi yang mengagumkan mencakup penopangan ruang kubah tanpa scafolding, dengan menggunakan lapisan ganda yang berongga. Lapisan dalam, dengan ketebalan lebih dari 2 meter, terbuat dari batu bata ringan yang ditata dengan pola tulang ikan herring dan merupakan struktur yang menyangga dirinya sendiri, sedangkan lapisan luar kubah ini bertindak sebagai pelapis yang lebih kuat, dan penahan hempasan angin.
Kubah itu dimahkotai sebuah lentera dengan atap berbentuk kerucut, yang dirancang oleh Brunelleschi namun dibangun setelah kematiannya di tahun 1446, sedangkan lingkup dari campuran emas dan tembaga dan salib di atas lentera, yang berisi relika suci, dirancang oleh Andrea de Verrocchio dan dipasang di tahun 1466.
Fresco dari Pengadilan Terakhir di dinding dalam kubah itu dibuat oleh Giorgio Vasari yang diapit oleh Vincenzo Borghini yang membuat subyek iconografik tersebut dan menambahkan tema-tema yang diambil dari buku Divine Comedy karangan Dante.
Sebagian besar jendela kaca berpatri dibuat di antara tahun 1434 dan 1455 sesuai rancangan dari seniman ternama seperti Donatello, Andrea del Castagno dan Paulo Uccelo. Lapisan kayu bagian dalam lemari sakristi  dirancang oleh Brunellischi dan seniman lainnya, termasuk Antonio del Pollaiolo. 
Gedung Baptistry di komplex Piazza del Duomo, yang dinamai Baptistry Santo Yohanes terkenal dengan ketiga pintu gerbang tembaga yang dihiasi secara artistik dengan relief patung-patung. Pintu Gerbang Selatan diciptakan oleh Andrea Pisano dan yang Utara dan Timur oleh Lorenzo Ghiberti. Pintu Gerbang Timur dinamai oleh Michelangelo sebagai Gerbang Surgawi.
Ghiberti membutuhkan 21 tahun untuk menyelesaikan Gerbang Surgawi tersebut. Pintu tembaga berlapis emas itu mencakup 28 panel, dengan 20 panel menggambarkan kehidupan Kristus dari Perjanjian Baru. Kedelapan panel yang di bawah menunjukkan empat pewarta injil dan bapak-bapak  gereja St Ambrosius, St Jerome, St Gregorius dan St Agustinus.
Di atas Gerbang Surgawi berdiri Pembaptisan Kristus oleh Andrea Sansovini. Dante, penyair Itali dan banyak lagi tokoh terkenal masa Rennaissance, termasuk keluarga Midici, dibaptis di gedung ini.
Bell Tower yang dirancang oleh Giotto, adalah sebuah struktur langsing segi empat dengan sisi 14.45 meter. Tingginya 84.7 meter dan mempunyai sisi berbetuk poligonal di sudut-sudutnya. Ini adalah contoh yang paling jelas dari gaya arsitektur Gothic di abad ke 14. 
Dilapisi marmer merah jambu dan hijau seperti Duomo disebelahnya, menara lonceng segi empat yang agung itu dianggap sebagai menara lonceng yang paling indah di Itali.
Elemen dekorasi kaya yang dibuat dari panel-panel heksagonal dan bentuk berlian merangkum konsep Keteraturan Universal dan menceritakan kisah Pertobatan Manusia.

 
Sumber : www.museumflorence.com dan Wikipedia.org




Jumat, 23 Maret 2018

Wawancara dengan Leonardo


Photo: Wikimedia

Aku duduk dengan Leonardo di suatu siang yang benderang di sebuah kafe di Milan, di Piazza Mercanti. Piazza itu berasal dari abad ke 12 dan ke 13 dan merupakan pusat komersil kota Milan.
Dapat dibayangkan dulunya berbagai pedagang, seperti tukang roti, pematung dan penjahit menjalankan bisnisnya di sini.
Leonardo, seperti biasanya berdandan dengan gaya dandy dan dengan aroma parfum, mengenakan tunik merah jambu. Dia nampaknya nyaman dengan dirinya sendiri, menghirup cappuccino-nya.
Aku berkata:
“Hal pertama yang orang-orang ingin ketahui adalah tentang lukisan Mona Lisa. Orang-orang tidak tahu siapa dia, siapakah dia sebenarnya?”

Leonardo:

 “Dia adalah Lisa, seorang wanita kelahiran Florence yang kawin di umur belasan tahun dengan seorang pedagang kain dan sutera, yang kemudian menjadi pegawai pemerintah, dia adalah ibu lima anak dan hidup sebagai kelas menengah biasa yang nyaman. Anda bisa lihat pakaiannya rada sederhana dan biasa dan gaunnya, syal yang melingkari lehernya tidak menunjukkan kedudukan ningratnya.”
Aku berkata:
“Mona Lisa sangat terkenal oleh senyumannya. Namun ada orang yang melihat senyuman samarnya sebagai senyum sedih.”
Leonardo:
“Saya melukisnya dengan teknik “sfumato” yang kalau diterjemahkan berarti ‘tanpa garis atau batas, seperti sifat asap.’ Dengan teknik ini saya tidak memakai outline, tapi dengan menggunakan perbedaan nada dan bayangan cat untuk menciptakan ilusi cahaya dan bayangan. Mulai dari warna yang gelap saya membangun ilusi karakteristik 3 dimensi mengunakan lapisan-lapisan tipis yang semi transparan. Gunakan bayangan yang lebih gelap untuk menonjolkan suatu elemen dan pinggiran sebuah subyek.” 
Aku berkata:
“Mungkin karena teknik sfumato ini menjadikan kedua matanya dan mulutnya sebagai elemen yang menonjol. Ketika pemirsa melihat kedua matanya, mulutnya jatuh ke dalam lingkup pinggiran pandangan mata sehingga penampakan mulutnya tidak terlalu jelas, ditambah dengan bayangan kabur di tulang pipinya membuat mulutnya seperti tersenyum. Namun ketika pemirsa memfokuskan pandangan ke mulutnya, senyumnya menghilang, seakan-akan mulutnya tidak bermaksud untuk tersenyum.”
Leonardo:
“Barangkali karena itu sementara orang melihat senyumnya seperti senyum sedih.” 

Aku berkata:
“Selain lukisan, anda juga terkenal dengan ide-ide anda tentang engineering, anatomi, geometri, dan pemahaman ilmiah akan keadaan alam.
Anda suatu saat menghadiahi Raja Francois dari Perancis dengan sebuah robot singa dari koleksi anda. Singa robot itu adalah hasil engineering yang mengagumkan, kepalanya bisa bergerak, ekornya bisa bergoyang dan bisa membuka gerahamnya. Ketika Francois diminta untuk menyentuh singa itu dengan pedangnya, badan singa itu terbuka dan memperlihatkan banyak bunga lili.” 

Leonardo, berbicara agak bangga:
“Saya juga bilang ke Ludovico Sforza, the Duke of Milan, bahwa saya bisa berbagi rahasia senjata perang penemuan saya, saya bisa membangun jembatan-jembatan yang sangat ringan dan kuat yang mudah dipindahkan untuk mengejar dan mengalahkan musuh-musuh…. Saya juga bisa membuat sejenis kanon yang ringan dan mudah dipindahkan, yang dengannya bisa menyemprotkan batu-batu kecil bak hujan…. Saya bisa membuat tanpa banyak ribut menuju ke titik manapun lorong-lorong bawah tanah- baik lurus maupun melengkung- kalau perlu lewat di bawah saluran air atau sungai….. Saya bisa bikin kendaraan lapis baja untuk mengangkut artileri, yang bisa menembus pertahanan musuh yang paling berlapis. Dalam masa damai, saya percaya saya bisa memberi anda suatu kepuasan bagi semua orang di dunia konstruksi, baik umum maupun pribadi, dan dalam mengalirkan air dari satu tempat ke tempat lain. Saya juga bisa membuat patung dari tembaga, marmer atau tanah liat. Dan, dalam melukis, saya bisa membuat sebaik siapapun dia.”
Aku berkata:
“Bravo, namun anda juga dikenal sebagai pelukis yang lambat kerjanya dan terkenal suka meninggalkan pekerjaan anda tak terselesaikan seperti misalnya “Perawan Maria dengan anak dan Santa Anna ”, “Santo Jeremias di hutan belantara”, “ Pemujaan Magi” dan Kuda Tembaga yang ditugaskan oleh Ludovico Sforza. Reputasi anda untuk tidak menyelesaikan pekerjaan anda berarti anda tidak lagi mendapat tugas-tugas yang besar.”
Leonardo:
“ Detail-detail membuat kesempurnaan, dan kesempurnaan bukanlah suatu detail. Contohnya,  dari pengalaman menunjukkan kita bahwa langit pastilah memiliki kegelapan di luarnya namun langit selalu tampil biru. Kalau anda mebuat sejumlah kecil asap dari kayu kering dan sinar matahari jatuh ke asap itu,  dan kalau anda meletakkan di belakang asap itu selembar kain beludru hitam yang tidak memantulkan cahaya matahari, anda akan melihat bahwa semua asap yang berada di antara mata dan kain hitam itu akan nampak sebagai warna biru yang indah. Dan kalau bukannya kain hitam melainkan anda meletakkan asap kain putih, yaitu asap yang terlalu tebal, ia akan menghalangi, dan kalau asap nya terlalu tipis tidak akan, menghasilkan warna biru yang indah itu.”
Aku berkata:
“Anda nampaknya sangat mencintai alam. Lukisan Mona Lisa memiliki latar belakang pemandangan alam yang alami, ada jalan meliuk dan sebuah jembatan. Pemandangannya nampak liar dan ada daerah berbatuan yang tidak berpenghuni dan air yang terbentang ke horison, segaris dengan mata Mona Lisa.”
Leonardo:
“Tidak ada satu hal yang berasal dari satu tempat yang tidak ada mahluk, tanaman dan kehidupan rasional; bulu tumbuh pada burung dan akan berganti tiap tahunnya; rambut tumbuh pada hewan dan berganti tiap tahunnya, kecuali beberapa bagian, seperti juga halnya rambut janggut singa, kucing dan sebagainya. Rumput tumbuh di sawah, dan daun tumbuh di pohon, dan setiap tahun sebagian besarnya, berganti. Jadi kita bisa mengatakan bahwa bumi memiliki semangat untuk bertumbuh; bahwa dagingnya adalah tanah, tulang-tulangnya adalah tataran dan rangkaian batuan yang membentuk gunung, sumsumnya adalah batuan kapur, dan darahnya adalah curahan air. Genangan darah di sekitar jantung adalah lautan, dan napasnya, dan percepatan atau perlambatan denyut darah di dalam nadi, diwakili di bumi oleh aliran dan pusaran laut; dan hangatnya semangat dunia adalah api yang menjelajahi bumi, dan tempat bertengger mahluk vegetatif adalah dalam api, yang di berbagai tempat di bumi disemburkan ke dalam kolam dan sumber sulfur, dan guning berapi, seperti pada Gunung Aetna di Sicilia, dan banyak tempat lainnya.” 
Aku berkata:
“Anda juga dikenal sebagai sangat menyayangi binatang, anda bahkan mempertanyakan moralitas memakan binatang ketika itu tidak dibutuhkan bagi kesehatan. Sekedar ide yang memperbolehkan adanya penderitaan yang tidak perlu, bahkan mencabut nyawa, adalah menjijikkan bagi anda. Giorgio Vasari bercerita kepada kami bagaimana di Florence ketika anda melewati tempat penjualan burung anda sering mengambil mereka dari kandang dengan tangan anda sendiri, dan setelah membayar anda melepaskan burung-burung itu ke udara, memberikan kembali kebebasan mereka.”  
Leonardo, wajahnya berseri:

 “Selain itu saya juga berpikir tentang bagaimana membuat pesawat terbang dengan mempelajari pergerakan dan konfigurasi sayap burung. Apakah perbedaan tekanan udara di atas dan di bawah sayap burung, dan bagaiman pengetahuan ini bisa membuat manusia membuat pesawat terbang? Pesawat terbang haruslah meniru kelelawar saja, karena kerangkanya yang dengan keterpaduannya memberi senjata, atau kekuatan kepada sayap-sayapnya.
Kalau anda meniru sayap burung berbulu, anda akan menemukan struktur yang jauh lebih kuat, karna sayapnya permeabel; yaitu, bulu-bulunya merenggang and udara menembus memlaluinya. Namun kelelawar dibantu oleh kerangka yang menghubungkan semuanya dan tidaklah permeabel.” 

Aku berkata:
“Perjamuan Akhir dilukis ratusan kali, dalam arti harafiah, sepanjang sejarah seni, oleh berbagai seniman dalam berbagai gaya. Perjamuan Akhir anda nampak lebih alamiah dan dinamis dari yang lainnya. Yudas terangkum dalam kelompok, dan bukannya dipisahkan, dan orang-orangnya terlibat dalam interaksi yang hidup.”
Leonardo:
“Lukisan itu adalah saat Yesus berkata “Salah seorang dari kamu akan mengkhianati saya……..”
Lukisan itu menunjukkan rasa kasih, ketercengangan, dan kemarahan, atau lebih tepatnya kesedihan, atas gagalnya para raul untuk mengerti apa maksud Yesus.
Bartolomeus yang sehabis minum meletakkan gelasnya di situ dan menoleh ke Yesus.
Yakobus, melambaikan menekuk jari-jari tangannya bersamaan menoleh dengan alis mengkerut ke Andreas.
Dan Andreas, dengan kedua tapak tangannya terbuka, mengangkat bahunya sampai ke telinga dengan mulut tertegun.
Thomas maju dengan mengangkat jarinya seakan meminta Yesus menerangkan lebih jelas.
Petrus berbicara ke telinga Yohanes dan selagi Yohanes mendengarnya, Petrus menggenggam pisau di tangannya.
Yudas menggenggam sebuah kantong kecil berisi 30 mata uang perak yang didapatkannya untuk pembayaran pengkhianatan kepada Yesus dan menggulingkan pot garam- sebuah simbol lain untuk pengkhianatan.

Filipus bertanya: “Guru, apakah itu saya?” Yesus menjawab, “Dia yang mencelupkan tangannya bersama saya ke dalam pinggan, dialah yang akan mengkhianati saya.” Kita melihat Yesus dan Yudas bersama-sama meraih ke suatu pinggan yang berada di antara mereka, walaupun Yudas menarik kembali tangannya membela diri.”

Aku berkata:

“Terimakasih Leonardo untuk perbincangan ini, saya melihat bahwa anda akan diingat sejarah sebagai “Teladan manusia Renaissance.”
Ini adalah wawancara imajiner mengenang  Leonardo da Vinci.





Senin, 12 Februari 2018

Wawancara dengan Niccolo


Photo: Wikimedia
Suatu hari, aku bertemu Niccolo di pengasingan di Sant’Andrea di Percussina, dia kelihatan kusut dan mabuk. Senyumannya yang manis tenggelam menjadi wajah yang sedih. Suatu penampilan yang amat berbeda dari seorang yang pernah berperan sebagai duta sebelum Medici melemparnya ke penjara, mneyiksanya dan mengucilkannya di tempat peristrahatannya.

Dia adalah seorang diplomat selama 14 tahun di Republik Florentine Itali sewaktu keluarga Medici dikucilkan. Ketika keluarga Medici kembali berkuasa di tahun 1512, Niccolo dipecat dan dipenjarakan.

Selama pengasingannya dia menulis buku, diantaranya “The Prince” (Sang Pangeran) yang menjadi bukunya yang paling terkenal. 
Aku bertanya secara langsung padanya:
“Orang-orang bilang bahwa kini anda sering mabuk dengan ditemani petani-petani, berkelahi di kampung-kampung dan mencerca nasibmu. Pengucilan ini pastilah sangat berat bagi anda, itu seperti hukuman yang lebih berat dari kematian bagi seorang yang menganggap politik kelas tinggi sepenting bernafas. Apakah anda merasa pahit akan perlakuan Medici pada anda?”


Niccolo:
“Ketika malam tiba, saya pulang ke rumah, dan masuk ke ruang kerja saya. Di serambi, saya buka pakaian kerja, yang dilumuri lumpur dan kotoran, dan saya memasang pakaian seperti yang dipakai seorang duta. Dengan pakaian sopan, saya memasuki halaman para pemimpin jaman dulu yang sudah lama mati. Disana saya merasa diterima dengan hangat, dan saya makan satu-satunya makanan yang saya anggap berigizi dan yang lahir untuk dinikmati. Saya tidak malu untuk berbicara dengan mereka dan meminta mereka menjelaskan tindakan mereka, dan mereka, karena kebaikan hati, menjawab saya. Empat jam berlalu tanpa saya merasa cemas. Saya melupakan segala kegusaran. Saya tidak lagi takut akan kemiskinan atau takut akan kematian. Saya hidup seluruhnya melampauinya.”


Aku  berkata:
“Medici melempar anda ke penjara, menyiksa anda dengan tali yang digantung dari pergelangan tangan anda yang terikat, dari belakang, yang memaksa lengan anda memikul berat badan anda dan menggeser tulang bahu anda. Namun mereka tak bisa menemukan bukti keterlibatan anda secara langsung dalam konspirasi anti Medici, dan anda dilepaskan beberapa minggu kemudian setelah mendapat amnesti dari Paus, lalu dikucilkan kesini. 
Walaupun keluarga Medici memperlakukan anda dengan kejam, anda mempersembahkan buku anda yang paling terkenal “The Prince” kepada Yang Hebat Lorenzo de Medici, seorang pangeran keluarga Medici yang menyiksa anda. Mengapa demikian?”


Niccolo mengutip pembukaan The Prince berkata:
“ Aku ingin mempersembahkan diriku kepada Yang Hebat dengan suatu pengakuan penghormatanku kepadanya, milikku yang paling ku cintai dan hargai adalah pengetahuanku akan tindakan-tindakan orang-orang agung – pengetahuan yang kudapat dari pengalaman panjang dalam hal-hal masa kini dan dengan terus menerus mempelajari masa lalu. Setelah mencernanya dengan lama dan mendalam, saya kini mengirimkan buku, yang dirangkum dalam buku kecil, kepada Yang Hebat.
Dan jika Yang Hebat, dari puncak gunung kebesarannya suatu saat akan melihat ke daratan ini, dia akan melihat betapa tidak layaknya aku menerima nasib buruk yang terus menerus mengikuti ku”


Aku berkata:
“Kata “Pangeran” di dalam buku “Sang Pangeran (The Prince)”, tentunya bukanlah tentang pangeran keturunan dalam sistem kerajaan, melainkan tentang pemimpin sebuah negara.”


Niccolo, mengutip bab 9 berkata:
“ Pangeran adalah seorang warga yang menjadi pemimpin negaranya bukan dengan kelicikan atau kekejaman yang tak dapat ditolelir, namun melalui dukunganvsesama warganya. Kita namakan hal ini ‘kerajaan masyarakat’. Jadi, kerajaan seperti ini (negara pangeran) – cara bagaimana menjadi seorang pangeran – didapat dengan dukungan masyarakat umum atau dukungan para bangsawan.
Seorang yang menjadi pangeran dengan bantuan para bangsawan akan sulit untuk menjaga jabatannya karena dia dikelilingi orang-orang yang memandangnya sejajar dengan mereka, yang akan mempengaruhi sang Pangeran dalam memberi perintah dan mengatur pemerintahannya. Lebih mudah bagi seorang pangeran yang menerima jabatannya berkat dukungan masyarakat umum: dia akan bisa memerintah dengan caranya sendiri, dengan sedikit atau tiada orang yang enggan mematuhi perintahnya.”


Aku berkata:
“Machiavellianism” adalah istilah negatif yang digunakan secara luas untuk menggambarkan politikus tak bermoral seperti gambaran anda yang masyur di buku “The Prince”. Anda menggamabarkan tindakan tak bermoral , seperti kebohongan dan pembunuhan orang yang tak bersalah, sebagai hal biasa dan efektif dalam dunia politik.”


Niccolo mengutip bab 15 berkata:
“ Saya tidaklah membela diri tentang hal ini: tujuanku adalah menulis hal-hal yang berguna bagi pembaca yang mengerti situasi ini; jadi menurutku lebih pantas untuk mengikuti situasi sebenarnya dari pada mengutip apa yang orang-orang sudah bayangkan. Banyak penulis memimpikan negara republik atau kerajaan yag tidak pernah terlihat atau diketahui di dunia. Dan mendekati mereka adalah berbahaya karena perbedaan antara “bagaimana orang hidup” dan “bagaimana seharusnya mereka hidup” sangat besar sehingga setiap pangeran yang tidak berpikir bagaiman orang-orang bertindak melainkan bagaiman orang seharusnya bertindak akan menghancurkan kekuasaannya, bukannya memelihara kekuassannya. Orang yang berusaha bertindak baik akan segera dihinggapi rasa pahit di tangan orang-orang sekelilingnya yang tak bermoral. Jadi, seorang pangeran yang ingin mempertahankan kekuasaannya harus belajar bertindak amoral, memakai atau tak memakai keahlian seperlunya.
Seperti yang saya bilang di bab 18, seorang pangeran dipaksa untuk mengetahui bertindak seperti binatang, dia harus belajar dari rubah (fox) dan singa; karena singa tak berdaya terhadap jebakan dan rubah tak berdaya terhadap serigala. Jadi seorang pangeran haruslah bertindak seperti rubah untuk mengetahui jebakan dan menjadi singa untuk menakuti serigala.”


Aku berkata:

“Anda seperti menyetujui kekejian, kekejaman bahkan pembunuhan dalam situasi tertentu, yang bertentangan dengan norma-norma universal dalam masyarakat.”


Niccolo mengutip bab 17 berkata:

“ Saya berkata bahwa setiap pangeran sebaiknya berharap untuk dianggap berbelas kasih dan tidak keji; namun dia harus hati-hati untuk tidak menyalah gunakan belas kasihnya! Cesare Borgia dianggap keji; namun “kekejiannya” menciptakan keteraturan di Romagna, mempersatukannya, dan mengembalikan kedamaian dan kesetiaan. Jika anda mempertimbangkannya, anda akan melihatnya sebenarnya lebih berbelas kasih dibandingkan orang-orang Florentine yang, untuk menghindari dibilang keji, membiarkan Pistoia dihancurkan.”


Aku berkata:
“ Filsafat “Tujuan menghalalkan Cara” sering dikaitkan dengan anda, sehingga dinamai Machiavellianisme. The Prince menjadi buku pegangan pemimpin seperti Stalin, yang membiarkan orang-orang Ukraina mati kelaparan supaya dia bisa menjual gandum dari Ukraina ke barat sehingga dia bisa membuat tentara lebih kuat dan untuk mengembangkan industri.
Pemimpin fascist Italy Benito Mussolini melihat dirinya sebagai manusia Machiavellian modern dan menulis pembukaan tesis doktor kehormatannya untuk Univesitas Bologna – “Prelude to Machiavelli.”  Di tesisnya dia mengutip bab 17 buku anda sebagai bukti pesimisme anda akan sifat kemanusiaan ; “ karena kita bisa berkata disini secara umum bahwa manusia tidak tahu berterima kasih, berubah-ubah, menipu, pengecut menghadapi bahaya, serakah akan keuntungan: dan selama anda memberinya keuntungan mereka akan setia dan besedia bersumpah dengan darah, kekayaan mereka, hidup mereka, anak-anak mereka – sampai saat, seperti yang saya bilang di atas, mereka tidak lagi memerlukan kamu; namun kalau saat itu datang mereka dengan cepat meninggalkan kamu.”


Niccolo mengutip bab 8 berkata:
“Seseorang yang mengambil alih kekuasaan haruslah dengan keras memikirkan luka-luka yang ia harus timbulkan, dan menghentikannya semua pada awal pemerintahannya, dan bukannya bertindak keji dari hari ke hari. Dengan menghentikan kekejian secepatnya, sang peraih kekuasaan dapat meyakinkan orang-orang dan merangkul mereka ke sisinya dengan kebaikan. Seseorang yang tidak bertindak seperti ini – karena takut atau karena nasihat buruk – akan selalu harus memegang pisau di tangan; dan ia tidak akan bisa bergantung pada bawahannya, yang akan mundur karena luka-luka yang terus menerus dan berulang-ulang….”


Aku berkata:
“ Buku anda The Prince sebenarnya adalah buku kecil dengan bahasa yang jelas, gampang dimengerti. Namun buku-buku komentar, ulasan, kritik dan analisa tentangnya jauh lebih panjang dari pada buku kecil ini. Apa kata anda tentang ini?”


Niccolo mengutip bab 1 berkata:
“ Banyak penulis menghias karya mereka- menyumbat karya mereka- dengan kalimat-kalimat halus yang menyapu, kata-kata angkuh, dan daya tarik lainnya yang tak relevan tentang masalah yang dibincangkan; tapi saya belum pernah menggunakannya, karena saya menginginkan karya ini dihargai karena pentingnya topik dan kebenaran yang dibicarakannya.”


Aku berkata:
“Namun buku kecil ini menjadi sangat terkenal karena kontroversinya, Bertrand Russel menyebut buku ini sebagai “ buku pegangan bagi gangster”.  Leo Strauss menyebut anda “guru setan” karena buku itu. Apakah anda heran tentang hal itu?”


Niccolo berkata:
“ The Prince hanyalah salah satu buku saya, saya juga menulis “The Art of war”, “Discourses on Livy”, dan drama-drama. 
Di “Art of the War”, Lord Fabrizio Colonna berkata bahwa kita sebaiknya belajar hal-hal yang mirip masa dulu yang menghormati dan menghadiahi kebaikan hati, tidak menghina kemiskinan, menghargai bentuk dan keteraturan disiplin militer, menerapkan masyarakat yang mencintai satu dengan lainnya, hidup tanpa perpecahan, menghargai kebutuhan umum di atas kebutuhan pribadi.
Namun, pemerintahan yang bagus tanpa bantuan militer akanlah tidak banyak beda kacaunya dengan tinggal di istana yang indah megah, yang, meskipun dihiasi permata dan emas, kalau tidak beratap tidak ada yang melindungi di saat hujan.
Di dalam “Discourses on Livy” saya mengutip Livy berkata bahwa masyarakat akan kuat jika bersama, dan lemah kalau sendirian, seperti halnya buruh Roma. Livy selanjutnya juga merasa bahwa jumlah besar lebih bijaksana daripada seorang pangeran. Dan di bab 30 saya menulis tentang republik yang kuat sebenarnya, dan para pangeran yang membeli persahabatan tidak dengan uang, tapi dengan kebaikan dan reputasi akan kekuatan.
Buku ini berbincang tentang para pemimpin Roma dan bagaimana seorang pangeran yang kuat atau lemah dapat memelihara atau menghancurkan sebuah kerajaan. Setelah seorang pangeran lemah sebuah kerajaan tidak bisa tetap kuat dengan pangeran lemah lainnya. Untunglah, ketiga raja pertama mempunyai suatu kekuatan tertentu, yang membantu kota itu. Romulus adalah bengis, Numa relijius, dan Tullus berdedikasi untuk perang.”


Aku berkata:
“ Jadi sepertinya fokus anda adalah bahwa seorang pangeran seharusnya bergantung pada keahlian dan kekuatannya, dan bukanlah pangeran yang lemah, dan bergantung pada nasib baik.”


Niccolo berkata dengan anggukan:
“ Ya, setelah semua itu saya tidak begitu Machiavellian….”




Ini adalah wawancara imajiner mengenang Niccolo Machiavelli.
Sumber: Wikipedia, CliffsNotes




Selasa, 16 Januari 2018

Florence, dilihat dari Piazzale Michelangelo



Piazzale Michelangelo (Lapangan Michelangleo) adalah sebuah lapangan dengan panorama menarik ke Florence. Ini adalah tempat terbaik untuk memandang Florence setiap waktu, suatu pemandangan ikonik dari Florence.
Pemandangannya mencakup pusat kota Florence dari Forte Belvedere ke Santa Croce, jembatan Ponte Cecchio dan jembatan-jembatan lain yang menyeberagi sungai Arno, Duomo, Palazzo Vecchio, dan tempat-tempat terkenal lainnya.
Lapangan gaya Florentine ini dirancang oleh arsitek Giuseppe Poggi dan dibuat di tahun 1869 di bukit di seberang Selatan sungai Arno. Lapangan ini didedikasikan bagi pematung Rennaissance Michelangelo, dan ada patung tembaga replika dari patung David yang terkenal.
Patung David adalah patung yang paling ikonik di Florence, dan yang paling mengesankan. Walaupun banyak patung David diciptakan sebelumnya, karya agung Michelangelo ini adalah unik.
Patung itu unik khususnya dalam gaya David diperagakan.  Seniman lainnya memperagakan David membantai sang raksasa Goliath, atau berdiri di atas mayat Goliath, patung Michelangelo ini berbeda. Dalam patung ini, David berdiri saja, memandang melalui bahunya sesaat sesetelah ia menantang Goliath, sesaat sebelum salah satu kejadian yang paling menentukan dalam sejarah.
David memasuki pertempuran hanya dengan 5 batu dan katapel. David memenangkan pertempuran itu dan menandai  kemenangannya dengan memenggal kepala Goliath dan menunjukkannya kepada musuhnya. Kemudian, ia menjadi raja Israel, yang membawa masa yang paling makmur di dalam sejarah Israel.
Lalu setelah memenangkan pertarungan itu, David melantunkan Mazmur 151: 

Aku keluar untuk menyerang orang Filistin,
      yang mengutuk aku dengan berhalanya.
Tapi setelah aku menemukan pedangnya sendiri,
     aku penggal kepalanya.
Demikian aku menghapus rasa malu

     dari bangsa Israel.


Kemudian, dengan mengendarai mobil 8 kilometer ke arah Timur Laut Florence, kita sampai di Fiesole sebuah kota di bukit indah di atas Florence. Sejak abad ke 14 kota ini selalu dianggap pelarian bagi penduduk Florence kelas atas dan hingga saat ini Florence masih merupakan kota yang paling kaya di seluruh Tuscani.
Di tengah kota Fiesole, ada lapangan yang dinamai Piazza Mino. Lapangan ini dinamakan sesuai seoarang pematung asal Florence bernama Mino da Fiesole. Karenanya lapangan ini sering dipakai untuk eksibisi patung-patung seni untuk menghormati Mino da Fiesole.
Lebih lanjut ke arah Barat Fiesole ada sebuah biara St. Francis, yang adalah biara ordo Fransiskan.  Bagian depan gerejanya bergaya Gothic dengan atap meruncing. Biaranya terletak di sebelah kanan gereja, yang dekelilingi tiga asrama biara.






Senin, 15 Januari 2018

Florence, kota patung seni.


Dante Alighieri di dalam Devine Comedia berkata (lihat blog sebelumnya tentang Dante):
“Bersukacitalah, wahai Florence, karena engkau begitu agung,
Yang melampaui laut dan daratan engkau mengepakkan sayapmu,”

Memang Florence adalah kota agung dan salah satu kota paling indah di dunia. Karya seni dan museum di Florence diakui oleh Unesco. Selain keagungan seni dan arsitekturnya, Florence adalah pusat perdagangan dan keuangan Eropa di abad pertengahan dan adalah salah satu kota paling kaya di jaman itu dan dianggap sebagai tempat lahir Renaissance.
Lapangan di muka Palazzo Vecchio yang dinamai Piazza della Signoria dipenuhi  patung seni karya pematung tersohor seperti: Giambologna, Baccio Bandinelli, Bartolomeo Ammannati, Benvenuto Cellini, dan Michelangelo Buonarroti. Semua seniman ini adalah kelahiran Florence atau penduduk Florence.
 Setiap patung mepunyai cerita sendiri yang diambil dari mitologi Yunani atau Romawi. Tempat ini menjadi pameran seni renaissance di ruang terbuka. Setiap patung adalah karya asli, kecuali patung David yang merupakan replika.

Patung Giambologna “Rape of the Sabine Women” didasari mitoligi Romawi, dimana para lelaki Roma, dibawah Romulus, melakukan penculikan massal wanita-wanita muda dari kota-kota di daerah itu.  Giambologna membuat patung dengan tema ini dengan tiga orang (seorang lelaki memanggul wanita sedangkan seorang lelaki lain berjongkok), dibuat dari satu bungkahan pualam. Patung ini dianggap sebagai karya agung Giambologna.


“The Fountain of Neptune” terletak di samping Palazzo Vecchio terbuat dari pualam dan tembaga, air mancur itu diselesaikan di tahun 1565 dan dirancang oleh Baccio Bandinelli. Patungnya dibuat oleh pematung Bartolomeo Ammannati, dengan elemen-elemen buatan pematung lainnya. 
Neptune adalah dewa lautan  di dalam mitologi Romawi. Di dalam tradisi Yunani, Neptune adalah saudara dari Jupiter dan Pluto.

“Perseus with the head of Medusa”, adalah patung tembaga buatan Benvenuto Cellini. Ia dianggap karya agung dan salah satu patung yang paling terkenal di Piazza della Signoria di Florence.
Ia menggambarkan Perseus berdiri di atas badan Medusa dan mengangkat kepalanya ke atas. Medusa adalah peri mengerikan berwajah wanita yang rambutnya berubah menjadi ular, dan setiap orang yang melihatnya menjadi batu. Perseus berdiri tegak penuh kemenangan di atas badan Medusa dengan kepala berular Medusa di tangannya.

 “The Rape of Polyxena” adalah patung pualam buatan Pio Fedi. Di dalam patung ini, Polyxena berjuang untuk melepaskan diri dari Achiles yang merangkulnya dengan satu tangan dengan mudah.
Tangan yang lain siap untuk memancung ibunya, Hecuba, dengan pedang perkasanya.

“Hercules and Cacus” adalah patung putih di sebelah kanan gerbang Palazzo Vecchio. Ini adalah karya Baccio Bandinelli  seorang seniman Florence. Di sini, sang setengah dewa Hercules, membunuh Cacus monster penyemprot api karena mencuri ternak, ini adalah simbol keperkasaan fisik.


“David” adalah patung yang paling ikonik di Florence, dan yang paling mudah dikenal. Di patung ini, David hanya berdiri, melihat kejauhan dari bahunya. Michelangelo mematungkan David tepat sesaat setelah menantang Goliath, sesaat sebelum salah satu peristiwa yang paling menentukan sejarah.

 

Photo by Guillaume Piolle - Wikimedia

  Patung Cosimo I de Medici  buatan Giambologna menunjukkan ambisi Medici dan merupakan potret seorang yang menundukkan seluruh Tuscany di bawah kuasa militer Medici. Dia adalah seorang bankir dan politikus Itali, generasi pertama dinasti politik Medici, yang secara de facto adalah penguasa Florence di hampir seluruh masa Renaissance di Itali. Kekuasaannya berakar pada kekayaannya sebagai bankir, dan dia sangat menghargai seni dan arsitektur. 
Cosimo dan keturunannya memerintah dari tempat ini dan dari kantor di sebalahnya, yang sekarang menjadi museum Uffizi. 
Konon katanya patung “Hercules and Cacus” buatan Bandinelli di sebelah kanan patung David diatur oleh Medici untuk menunjukkan kekuatan fisik ketika mereka kembali dari pengasingan. Patung Neptune buatan Ammannati merayakan ambisi dirgantara Medici. Patung Persues mengangkat kepala Medusa buatan Cellini adalah peringatan bagi yang melawan penguasa Medici.




Minggu, 31 Desember 2017

Wawancara dengan Dante


Photo: Wikimedia
Aku melihat Dante di Florence sesaat sebelum ia menghampiri jembatan Ponte Vecchio yang menyeberangi sungai Arno.

Dia berbadan rada kecil, dengan mata besar dan hidung bengkok yang kentara. Dia kelihatan seperti orang-orang yang biasa dijumpai di jalanan.

Aku ragu sejenak apakah akan menyapanya ketika ia kelihatan sedang tertegun memandang ke seberang sungai. Tak disangka ia ternyata seorang yang cukup ramah dan bersedia berbicara dengan orang yang belum dikenal.

Bingung dan tak siap, aku bertanya asal-asal saja:
“Apa arti kota Florence ini bagi anda?” 

Dante mengutip Inferno Canto 26:
“Bersukacitalah, wahai Florence, karena engkau begitu agung,
Yang melampaui laut dan daratan engkau mengepakkan sayapmu
Dan di seluruh Neraka namamu tersebar luas!
Di antara pencuri lima orang pendudukmu
Seperti ini kutemukan, membuat aku malu,
Dan sehingga engkau tidak meraih kehormatan agung.”

Lalu aku bertanya:
“Meskipun dengan keagungannya, mengapa anda bilang kota kesayangan anda, Florence, terkenal di suluruh Neraka?”

Dante berkata:
“ Banyak penududuk terkemuka Florence hidup di Neraka karena dosa-dosanya.
Filippo Argentini menyamarkan kudanya dengan perak dan memiliki tangan besi. Dia memiliki temperamen yang kejam, suatu saat dia menampar aku, dan adiknya mengambil alih milikku yang disita.
Farinata degli Uberti adalah seorang bidaah, dia percaya bahwa tidak ada jiwa dan segalanya akan mati dengan badan.  Dia menganggap kesenangan hidup di dunia sebagai tujuan paling utama.
Bocca degli Abati mengkhianati pendukung golongan guelph pada saat terpenting di pertempuran- ketika tentara bayaran Jerman membantu golongan ghibellines Tuscan menyerang – dengan memotong tangan pemegang bendera lambang guelph.  Kehilangan semangat oleh pengkhianatan Bocca dan lenyapnya bendera mereka, orang-orang gueplh menjadi panik dan dikalahkan bulat-bulat.
Lalu ada sobatku Ciacco yang rakus, babi itu, sepanjang hidupnya mengumbar kerakusan makannya dan hidup dalam kelebihan.
Lalu ada Francesca da Rimini, yang terpaksa kawin dengan orang yang bernama Gianciotto Malatesta karena urusan politik. Namun, dia jatuh cinta dengan adik suaminya Paolo dan berselingkuh dengannya. Ketika Gianciotto mengetahui perselingkuhan itu, dia membunuh keduanya. Gianciotto sekarang berada di Neraka di tingkat yang lebih dalam, begitu kata Francesca kepadaku.”

Aku berkata:

“ Ada orang yang mengira bahwa anda mengutuk orang-orang ke neraka di buku Inferno anda karena anda sakit hati terhadap musuh-musuh anda. Anda pernah menjadi orang yang sangat berpengaruh dan terkenal di lingkungan politik dan lalu dikucilkan dari Florence, dengan orang-orang segolongan anda, setelah kalian kalah dalam peperangan politik. Anda dihukum, dengan empat orang lainnya, dengan denda besar dan diasingkan selamanya dari pemerintahan.
Kemudian, dengan kedua anak anda dan orang lainnya, kalian dijatuhi hukuman mati dengan dibakar, seandainya kalian kembali masuk ke dalam kekuasaan rakyat. Anda kehilangan segalanya, keluarga, hak milik, dan jalan hidup anda.”

Dante mengutip pembukaan Inferno:
“Di pertengahan perjalanan hidup kita
Aku menemukan diriku berada di kegelapan hutan,
Karena jalan yang benar sudah hilang.
Ah, betapa susahnya aku untuk mengatakan
Betapa kejamnya hutan ini, kasar dan keras,
Yang menambah rasa takut.
Alangkah pahitnya, kematian sedikit lagi;
Namun demi membagi hal baik yang aku temukan di sana,
Aku akan berbicara mengenai hal-hal lain yang aku lihat di sana.”

Aku berkata:

“Mengikuti perjalanan anda di Purgatory Canto 30, anda seakan mengakui bahwa anda tidak setia kepada Beatrice, wanita yang anda puja dan sangat cintai. Anda berkata bahwa anda jatuh cinta padanya saat pertama and ketemu dengannya, dan di Vita Nuova anda menulis tentangnya dan berkata “Lihatlah, seorang dewi yang lebih perkasa dari aku; yang akan datang, dan akan mengendalikan aku.”

Anda seakan benar-benar terpikat dengannya sejak pertemuan pertama, namun saat itu anda baru 9 tahun dan dia 8 tahun.”

Dante mengutip sebuah soneta dari buku Vita Nuova (yang berarti Hidup Baru) yang dipersembahkan buat Beatrice:
“ Di dalam buku itu yang
Adalah kenanganku….
Pada halaman pertama
Yang adalah babak ketika
Aku pertama kali berjumpa dengan mu
Muncul kata-kata…
Di sini mulai sebuah hidup baru.”

Aku berkata:
“Lalu saat kedua anda bertemu Beatrice adalah 9 tahun kemudian, dan ia menikah dengan seorang bankir 4 tahun kemudian, dan meninggal dunia 3 tahun kemudian pada umur muda 24 tahun, di tahun 1290. Bagaimana anda memandang Beatrice setelah kematiannya di bagian hidup anda selanjutnya?”

Dante mengutip apa yang dikatakan Beatrice tentang Dante di Purgatory Canto 30:
“Ia memisahkan dirinya dari aku dan memberinya kepada yang lain.
Ketika aku bangkit dari badan menjadi jiwa,
Dan keindahan dan keluhuran di dalam aku tertambah,
Aku baginya menjadi kurang tersayangi dan kurang menyenangkan;
Dan dia berbelok ke jalan yang tidak benar,
Mengejar hal yang berkesan kepalsuan,
Yang tak pernah memenuhi janjinya;
Tidak juga ada doa memohon petunjuk kutemukan,
Dalam bentuk mimpi dan yang lainnya
Aku memanggilnya kembali, sangat sedikit yang diturutinya.
Sebegitu rendah ia jatuh, sehingga semua sarana
Untuk menyelamatkannya sudah kehabisan,
Kecuali menunjukkan padanya orang-orang terbinasa itu.”

Lalu Dante mengutip Purgatory Canto 31:

“Menolehlah, Beatrice, wahai tolehkan mata kudusmu,”
Begitu lagu mereka, “kepada orang yang percaya,
Yang harus melihat engkau mengambil begitu banyak langkah,
Dalam rahmat lakukanlah keanggunan yang engkau singkapkan
Wajahmu kepadanya, sehinga dia dapat melihat
Keindahan kedua yang engkau sembunyikan.”
Wahai semarak cahaya hidup yang abadi!”

Aku berkata:

“Kembali ke Inferno Canto 26, anda bercerita tentang Ulysses, raja Yunani Ithaca yang legendaris dan pahlawan puisi epik dari Homer, bahwa anda bertemu dengannya di Neraka. Namun dalam hidupnya orang ini mendapat pengakuan dari surga. Dewi Athena, putri dari dewa tertinggi membantu perantauannya, dan bahkan menyiapkan pembunuhan berdarah. Raja angin Zeus, dewa tertinggi adalah dewa lainnya yang memperkukuh hubungan Ulysses dengan surga. Dalam perjalanannya, Ulysses juga menerima bantuan para dewa seperti Circe dan Calypso, meskipun dia didendami oleh tokoh seperti Poseidon.
Mengapa dia sekarang menderita di Neraka, tempat yang anda sebut di Inferno Canto 3: “Abaikan semua harapan, engkau yang masuk ke sana”, dan di mana “Belatung yang menjijikkan dan cacing-cacing di kaki para pendosa mengisap darah yang membusuk, nanah, dan air mata yang turun mengailr dari tubuhnya.” Mengapakah pahlawan agung itu dikutuk ke neraka?”

Dante menceritakan tulisan Homer mengenai Ulysses:
“Ulysses membunuh semua pelamar yang ingin menyunting isterinya Penelope selagi ia merantau. Leodes memohon ampun untuk nyawanya namun ia disebat pedang, sehingga kepalanya jatuh terguling menelan debu. Setelah membunuh semua pelamar Penelope itu, dia memerintahkan membunuh juga semua dayang-dayang Penelope. Namun, sebelum itu mayat-mayat para pelamar musti disingkirkan dulu, dan para dayang harus membersihkan meja kursi dari darah pelamar. Dia ingin menghina para dayang sebelum ia menjagal mereka, memperlihatkan mayat-mayat kekasih mereka sementara mengetahui sepenuhnya azab yang akan menimpa. Setelah para dayang membersihkan meja kursi, digosok dengan spons, dibilas dan dibilas lagi darah, mereka dipenggal dengan pedang lancip yang mencabut nyawa. Tak diragukan lagi bahwa Ulysses adalah gembongnya gerombolan bajingan itu.”

Aku berkata:
“Ulysses dikenal sebagai raja perang dan ahli strategi yang hebat. Dia dengan cerdik menyingkapkan penyamaran Achilles dan meyakinkannya untuk menopang senjata untuk ikut perang melawan orang-orang Trojan. Di dalam Iliad yang ditulis Homer, Ulysses dipandang sebagai antitesis Achiles, selagi Achiles dirudung kemarahannya yang bisa menghancurkan dirinya sendiri, Ulysses sering dianggap sebagai orang yang menggunakan akal, mengikuti pikiran, terkenal oleh kesabarannya dan keahlian diplomasi. Ulysses bukan saja ahli taktik perang, seperti dibuktikannya dengan akalnya menggunakan Kuda Trojan, tetapi juga pembicara yang baik. Dia dianggap pahlawan yang terpiawai, dapat memecahkan setiap persoalan. Dia juga adalah serdadu yang hebat dan pemimpin yang sangat karismatik yang memberi inspirasi rakyatnya."

Dante berkata mengutip apa yang dikatakan Ulysses kepadanya di Inferno Canto 26:
“ Bukan kelembutan terhadap seorang putra, bukanlah pula tugas mengabdi
Terhadap ayahku yang menua, bukan pula cinta yang aku berhutang
Kepada Penelope yang akan membuatnya gembira
Dapat menimpali semangat ku
Untuk mencari pengalaman duniawi
Dan mempelajari kejahatan manusia, dan harganya….
Aku dan kawanan sekapalku menjadi tua dan lambat
Saat kami sampai di selat yang sempit
Dimana Hercules menoreh garis luar batas,
Memperingati semua orang untuk tidak pergi lebih jauh.”

Aku berkata:
“Dengan demikian spertinya Ulysses bertindak seperti Adam, manusia pertama di bumi, yang meskipun berbahagia kekal hidup di surga mengidap kerinduan untuk mencari yang lebih, tentang pengetahuan terlarang. Demikian halnya Ulysses yang meskipun berbahagia setelah berhasil kembali pulang ke pulau Ithaca, hidup berbahagia dengan keluarga, mengidap kerinduan akan petualangan yang lebih, untuk menaklukan dunia “yang belum dilihat siapapun”, yang berakhir dengan hancur leburnya kapal Ulysses dan kematiannya yang menandai talak terakhir dengan segala hubungan surgawi.

Kala sore hari menggelap, Dante mengakhiri pembicaraan itu dengan mengatakan bahwa ia harus pergi ke suatu tempat, lalu membalikkan punggungnya mengikuti tapak jalan di sepanjang sungai Arno.




Ini adalah wawancara imajiner untuk mengenang Dante Alighieri.