Sabtu, 16 Mei 2026

Wawancara dengan Franz K.

 

Photo: Wikimedia

Ketika aku memasuki pintu Cafe Arco, aku melihat Franz K. sedang membacakan sebuah novel kepada teman-temannya di salah satu sudut cafe itu. Untuk tidak mengganggu keasyikan mereka, aku duduk agak jauh saja dari mereka. Walaupun begitu, aku masih bisa mendengar Franz  membaca novel itu, dan aku kebetulan mengenal bacaan itu adalah bagian dari novelnya The Trial (Pengadilan) yang baru saja aku baca sebelum datang ke sini. 

"Semuanya sangat kotor di sini," kata Josef K. sambil menggelengkan kepala, dan sebelum dia bisa mengambil buku-buku itu, wanita itu menyeka debu dengan celemeknya. Josef K. mengambil buku yang ada di atasnya dan membukanya, sebuah gambar yang tidak senonoh muncul. Seorang pria dan seorang wanita duduk telanjang di sofa, niat dasar orang yang menggambarnya mudah terlihat, tetapi dia sangat kurang dalam keterampilan sehingga yang bisa dilihat siapa pun hanyalah pria dan wanita yang mendominasi gambar itu dengan tubuh mereka, duduk dalam postur yang terlalu tegak yang menciptakan perspektif yang salah dan membuat mereka sulit untuk saling mendekati. Josef K. tidak membolak-balik buku itu lagi, tetapi hanya membuka buku berikutnya di halaman judulnya, itu adalah sebuah novel dengan judul, “Apa yang Diderita Grete dari Suaminya, Hans. "Jadi ini adalah jenis buku hukum yang mereka pelajari di sini," kata Josef K., "ini adalah jenis orang yang menghakimi saya." 

Ketika membaca bagian ini, dia tertawa. Mengherankan, Franz K. dikenal sebagai penulis yang karyanya yang sangat gelap, getir, dan absurd, penuh dengan kecemasan eksistensial tentang tidak-pastian dan ketidak-berdayaan. Namun, justru dalam situasi seperti itu sering kali terselip humor, yang pahit. Franz K. mungkin tertawa karena dia menyadari betapa konyol dan ironisnya situasi yang dia gambarkan dalam The Trial. Meskipun ceritanya serius dan menegangkan, ada momen-momen di mana keabsurdan kehidupan dan birokrasi yang dia gambarkan begitu konyol. 

Ketika ia mengamati kehadiran saya yang duduk di kejauhan, dia langsung menyamperi saya. Wajahnya ramah, senyuman menghias wajahnya dengan mata yang menyorot dengan tajam. Hidungnya panjang dan kupingnya seperti kuping kalong. Ringkih, tidak tampan, dan mungkin ia sering jadi sasaran bullying ketika masih di sekolah, karena penampilannya yang antik itu. Mungkin karena penampilannya itu juga ia memiliki rasa rendah diri yang berat, baik terhadap wanita maupun pria lainnya. 

Bahkan lebih dari rasa rendah diri itu, ia menyalahkan diri sendiri untuk segala persoalan dalam hubungannya  dengan yang lain. Dalam hubungannya dengan ayahnya yang keras, otoriter dan menghina, ia menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa memenuhi standar ayahnya dan karena merasa lemah secara emosional. 

Dia membatalkan pertunangannya dengan Felice Bauer dua kali, karena merasa tidak mampu memenuhi tuntutan pernikahan dan kehidupan keluarga. Dia menyalahkan dirinya sendiri atas ketidakmampuan ini. sering merasa tidak siap untuk menjalin hubungan yang serius. 

Manusia rapuh tak bertulang itu kemudian menyalami saya, tangannya terasa lembut, jari-jarinya panjang dan ramping, sesuai bagi seseorang yang banyak menulis. Dari jari-jari ini tercipta novelnya yang penuh kegetiran, ketiada-artian, kecemasan dan tidak-berdayaan, seperti The Trial ini. 

Setelah kami berdua merasa santai satu sama lain, kami duduk di pojok café yang tenang yang memiliki nuansa Art Nouveau, interiornya teduh elegan, dengan meja-meja kayu, dan kursinya berlapis kain. Ada cermin besar yang menghiasi dinding diiringi lampu gantung yang klasik.

 

Aku membuka percakapan:

“Bagian novel yang anda bacakan memang menggelikan dan konyol, bagi si Josef K. yang sedang terjerat penahanan oleh pengadilan. Sampai saat itu dia tidak bisa mengerti mengapa dia yang tidak bersalah ditahan. Dimulai di suatu pagi ujuk-ujuk yang ditahan oleh polisi ketika baru bangun di tempat tidur; ‘Seseorang pasti telah menceritakan kebohongan tentang Josef K., dia tahu dia tidak melakukan kesalahan tetapi, suatu pagi, dia ditangkap.‘ Begitu pembukaan novel The Trial yang menghebohkan.

Ia  tidak ketahui apa dakwaannya. Ketika ia kemudian menyelusup di kantor pengadilan untuk mencari bukti atau petunjuk untuk membela dirinya, di rak-rak buku yang berisi koleksi buku-buku dan catatan-catatan pengadilan dia temukan justru buku dengan gambar tak seronok itu.  Hal ini menunjukkan betapa konyolnya sistem peradilan yang menjeratnya. Ini pengadilan dagelan”

  

Franz menambahkan, dengan tersenyum:

“Dengar juga ini: ‘Di ruang pengadilan, hakim itu menoleh ke Josef K. dengan nada bicara seseorang yang mengetahui fakta-faktanya dan berkata, ‘Anda seorang tukang cat rumah?’ ‘Tidak,’ kata Josef K., Saya adalah kepala bagian administrasi di sebuah bank besar.’ Jawaban ini diikuti oleh tawa di antara golongan kanan di aula, begitu meriahnya sehingga Josef K. tidak dapat menahan diri untuk tidak ikut tertawa.

Kemudian Josef K. menanggapi kesalahan hakim itu dan berkata; ‘Pertanyaan anda, Yang Mulia, apakah saya seorang pelukis rumah - bahkan lebih dari itu, anda tidak bertanya sama sekali tetapi hanya memaksakannya kepada saya - merupakan gejala dari seluruh cara proses hukum terhadap saya ini dilakukan."

 

 Aku menanggapi:

“Josef K. berhenti bicara dan melihat ke lorong. Ia berbicara dengan tajam, lebih tajam dari yang ia maksudkan, tetapi ia benar. Seharusnya ia mendapat tepuk tangan di sana-sini, tetapi semuanya tenang, mereka semua jelas menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya, mungkin ketenangan itu menjadi awal mula munculnya aktivitas yang akan mengakhiri semua masalah ini.”

  

Franz:

 "Tidak diragukan lagi,’ kata Josef K. ‘bahwa ada organisasi besar yang menentukan apa yang dikatakan oleh pengadilan ini. Dalam kasus saya, ini termasuk penangkapan saya dan pemeriksaan yang berlangsung di sini hari ini, sebuah organisasi yang mempekerjakan polisi yang dapat disuap, pengawas dan hakim yang tidak tahu apa-apa selain bahwa mereka tidak sesombong yang lain.” 

 

Aku: 

“Josef K. lalu menemui seorang pengacara tangguh yang disarankan oleh pamannya, pengacara itu bernama Huld. Namun ternyata Huld sudah tua dan sakit-sakitan. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya di tempat tidur, dan kondisi fisiknya lemah menjadikannya tergantung kepada perawatnya. Dan, dia lebih suka berbicara panjang lebar tentang betapa rumitnya sistem hukum dan betapa sulitnya kasus Josef K.”

  

Franz:

 “Ya, malah perawatnya, si Leni yang lebih membantu…”

  

Aku:

“Ya, si Leni ini perawat yang hangat dan intim… bahkan sejak pertama kali bertemu ‘dia meraih tangan Josef K dan menuntunnya ke pintu, jari-jarinya panjang dan kurus, tetapi juga hangat dan kering, dan mereka memegangnya erat-erat. ‘Ayo,’ kata Leni, dan kemudian, saat mereka berdiri di ambang pintu, dia menambahkan: ‘Kau lihat, aku punya cacat kecil, jari-jariku berselaput.’ Dia membukanya untuk menunjukkannya, dan memang, di antara jari-jari itu, ada selaput tipis yang membentang hampir ke sendi kedua.” 

 

Franz:

“Ya si Leni itu sangat bersahabat terbuka kepada Josef K, dia tertarik untuk berkencan dengannya…  tanpa ragu-ragu dia menciumnya saat pertemuan pertama mereka dan tampaknya amat peduli dengan keadaan yang menimpa Josef K. ” 

 

Aku:

“Ya, tapi Leni memberi advis agar Josef K. mengakui saja kesalahannya ‘Anda tidak bisa membela diri terhadap pengadilan ini, anda hanya harus mengaku. Jadi, akui kesalahan anda di kesempatan berikutnya. Hanya dengan begitu anda punya kesempatan untuk melarikan diri, hanya dengan begitu. Namun, itu pun tidak mungkin tanpa bantuan dari luar, meskipun anda tidak perlu khawatir akan hal itu, aku sendiri akan membantu anda.”

Kutipan ini menunjukkan bahwa Leni menyarankan Josef K. untuk mengakui kesalahannya, sebagai satu-satunya cara untuk ‘melarikan diri’ dari sistem pengadilan yang tidak adil. Namun, ini adalah nasihat yang tidak tepat dan tidak memberikan solusi nyata.”

 

 Franz:

 “Benar, Josef K. kan tidak mengetahui kesalahannya…, bagaimana mau mengaku…?”

  

Aku:

“Leni lalu memberi advis: ’Sang pengacara,‘ bosnya yang bernama Huld, ‘melakukan semua yang dia bisa. Pengadilan sangat sulit dipengaruhi, anda tidak boleh berharap terlalu banyak terlalu cepat. Namun, pengacara tentu saja melakukan semua yang dia bisa.‘ Tapi kenyataannya pengacara yang jompo dan sakit di tempat tidur, tidak banyak membantu, ia hanya ngoceh saja tentang sistem pengadilan. “

  

Franz:

“Huld berkata:  ‘Pengadilan kebal pembuktiannya. Tidak peduli apa yang anda lakukan atau tidak lakukan, pengadilan akan mengambil kesimpulannya sendiri.”

 

 Aku:

“Lalu, setelah kehabisan akal Josef K. menemui seorang pelukis, Titorelli,  yang konon punya banyak hubungan dengan orang-orang dalam di pengadilan. Ia bahkan tinggal di dalam lingkungan ruang pengadilan, dan banyak melukis pejabat-pejabat pengadilan.  sehingga ia dapat mengakui bahwa dia mempunyai hubungan yang cukup akrab dengan para hakim-hakim. Josef K. mengharapkan Titorelli membantunya dengan mengandalkan hubungannya dengan hakim yang mengadilinya. Jadi, ia berfungsi sebagai calo, lebih kurang begitu.”

  

Franz:

“Titorelli bilang: ”Tidak mudah membela seseorang di pengadilan ini, tetapi tidak sepenuhnya tidak ada harapan. Hasilnya tergantung pada banyak faktor, yang sebagian besar berada di luar kendali kita.

Pengadilannya korup banget... Ini bukan cuma soal suap pejabat rendahan, tapi suap seluruh sistem, dari atas sampai bawah.”

  

Aku:

“Memang kelihatannya tidak ada harapan bagi Josef K. meskipun ia tak bersalah. Ia tak berdaya menghadapi tembok-tembok pengadilan itu. Bahkan Pastor yang dijumpainya di Katedral di Old City of Praha, yang mengidentifikasi dirinya sebagai "penjaga hukum" dan mengatakan bahwa ia ditugaskan oleh pengadilan untuk berbicara dengan Josef K.,  ternyata adalah bagian dari sistem pengadilan yang sama yang menjebak Josef K., meskipun ia tampak lebih bijaksana dan reflektif.”

 

Franz: 

“Pastor itu bercerita kepada Josef K. sebuah parabel berjudul "Before the Law" (Di Muka Hukum), yang menggambarkan seorang lelaki dari desa yang mencoba masuk ke pintu hukum tetapi dihalangi oleh penjaga pintu. 

Parabel ini mencerminkan ketidak-mungkinan memahami atau mengakses hukum, serta ketidak-berdayaan individu dalam menghadapi sistem yang tidak masuk akal.

 

Aku:

“Ya, Penjaga pintu mengatakan kepada pria itu bahwa lelaki itu tidak bisa masuk saat ini, tetapi mungkin bisa masuk nanti. Penjaga pintu juga menjelaskan bahwa ada banyak pintu lain di belakangnya, masing-masing dijaga oleh penjaga yang semakin tegar dan menakutkan.

Lelaki dari desa itu memutuskan untuk menunggu di depan pintu, berharap suatu hari nanti ia akan diizinkan masuk. Ia menunggu selama bertahun-tahun, mencoba membujuk penjaga pintu dengan berbagai cara, termasuk usaha memberinya hadiah sebagai sogokan.”

  

Franz:

“Penjaga pintu itu lalu berkata: ‘Saya menerima hadiahmu supaya anda tidak merasa ada usaha yang terlewat, untuk membuka pintu ini."

 

 Aku:

“Selanjutnya parabel itu mengisahkan: ‘Selama bertahun-tahun, lelaki itu terus-menerus berusaha mempengaruhi penjaga gerbang. Ia lupa tentang penjaga gerbang lainnya, dan penjaga gerbang pertama ini baginya merupakan satu-satunya halangan untuk masuk ke dalam hukum. Ia mengutuk nasib buruknya, dengan keras dan gegabah di tahun-tahun awal, kemudian, saat ia bertambah tua, ia hanya menggerutu pada dirinya sendiri. Ia menjadi kekanak-kanakan, dan karena dalam pengamatannya yang panjang tentang penjaga gerbang, ia bahkan telah mengenal kutu di kerah bulunya, ia meminta kutu untuk membantunya dan mengubah pikiran penjaga gerbang. Akhirnya matanya menjadi redup dan ia tidak tahu apakah itu benar-benar menjadi lebih gelap atau apakah matanya hanya menipunya. Namun dalam kegelapan, ia sekarang dapat melihat cahaya yang mengalir abadi dari pintu hukum. Sekarang hidupnya hampir berakhir.” 

 

Franz:

“Semua yang telah ia alami selama seluruh waktu pengembaraannya memadat dalam benaknya menjadi satu pertanyaan, yang belum pernah ia ajukan kepada penjaga gerbang. Ia memanggil penjaga gerbang, karena ia tidak dapat lagi mengangkat tubuhnya yang kaku. Penjaga gerbang harus membungkuk kepadanya, karena perbedaan ukuran di antara mereka telah berubah drastis sehingga merugikan orang itu. "Apa yang ingin kau ketahui sekarang?" tanya penjaga gerbang. "Kau tidak pernah puas." "Setiap orang berusaha untuk mencapai hukum," kata orang itu, "bagaimana bisa terjadi, bahwa selama bertahun-tahun ini tidak seorang pun kecuali aku yang meminta izin masuk?" Penjaga gerbang melihat bahwa orang itu sudah kehabisan tenaga dan pendengarannya mulai berkurang, jadi ia berteriak di telinganya: "Tidak seorang pun dapat masuk ke sini, karena pintu masuk ini hanya diperuntukkan bagimu. Sekarang aku akan menutupnya."

  

Aku:

“Akhir tragis dari parabel yang diceritakan pastor ini menggambarkan ‘tiada harapan’, dan menjadi pertanda akan nasib Josef K. pada akhirnya.”

 

Franz:

“Pada malam sebelum ulang tahunnya yang ke tiga puluh satu—saat itu sekitar pukul sembilan malam, saat jalanan sepi—dua pria datang ke apartemennya. Mereka berpakaian hitam, dengan mantel panjang yang tampak seperti untuk menghadiri pemakaman. "Siapa Anda?" tanya K., yang langsung duduk di tempat tidur. "Kami di sini untuk menjemput Anda," kata salah satu pria, sementara yang lain melihat ke sekeliling ruangan. K. protes, tetapi mereka bersikeras, mengatakan bahwa itu perlu. Mereka membawanya keluar dari apartemen dan masuk ke mobil yang menunggu. Mereka melaju ke pinggiran kota, ke sebuah tambang yang sepi.

  

Aku:

“Hmm… kedua pria dengan pakaian serba hitam itu tidak jelas apakah mereka polisi atau penjagal yang bekerja untuk sistem yang menindas itu…”

  

Franz:

“Namun tangan salah satu pria itu menancap di tenggorokan Josef K., sementara yang lain menusukkan pisau itu dalam-dalam ke jantungnya dan memutarnya di sana, dua kali. Karena penglihatannya mulai kabur, Josef K. melihat kedua pria itu saling berhadapan, tepat di depan wajahnya, menyaksikan hasilnya. ‘Seperti anjing!’ kata Josef K., seolah-olah rasa malu itu akan bertahan lebih lama darinya.”

  

TAMAT

 

Tulisan ini adalah wawancara imajiner mengenang Franz Kafka.

 

Sumber:

 

The Trial oleh Franz Kafka, diterjemahkan oleh David Wyllie




 


Kamis, 19 Maret 2026

Praha, di Kafka Museum

 

Ketika menyusuri Sungai Vitava, di belahan Kota Kecil kami menemukan Museum Franz Kafka. Tampak muka museum ini sederhana saja, dengan beberapa pintu dan jendela, hanya ada sebuah huruf K besar berwarna hitam di depannya. Uniknya, di muka museum ini, terdapat patung dua orang yang lagi kencing. Patung kontroversial karya seniman David Cerny ini, dinamakan Proudy, terbuat dari perunggu yang secara robotik menggerakkan penis  mereka seperti memberi pesan tertentu dengan kencing mereka.

Sosok-sosok itu terbuat dari perunggu yang terlihat seolah-olah mereka dibuat dari irisan logam bergigi yang ditumpuk.  Masing-masing sosok memegang penis mereka dan sedang kencing, menuangkannya dalam pola yang acak. Mereka mengencingi tatakan yang berbentuk peta Cekoloswakia, jadi mereka itu sebenarnya mengencingi Cekoslowakia. Sungguh profokatif.

Ruangan museumnya gelap, segelap tulisan-tulisan Kafka. Bagian pertama dari penghayatan akan dunia Kafka, dinamai Ruang Eksistensial, menunjukkan bagaimana Praha membentuk kehidupan penulis, jejak yang ditinggalkannya pada dirinya, dan bagaimana kekuatan transformatif itu mempengaruhinya. Buku harian dan korespondensi luasnya dengan anggota keluarga, teman-teman, kekasih, dan penerbit menjadi saksi pengaruh ini. Tantangan bagi penyimak adalah mencoba dan menangkap konflik utama dalam kehidupan Franz Kafka yang dipandu oleh pandangan penulis.

Bagian kedua, dinamai Topografi Imajiner, menunjukkan Kafka menggambarkan kotanya tanpa menyebutkan nama tempat-tempat kejadian ceritanya, dengan hanya beberapa pengecualian.

Pembaca dapat menebak, misalnya katedral anonim dalam The Trial tidak lain adalah Katedral St. Vitus; bahwa jalan yang dilalui oleh Joseph K. di bab terakhir buku yang sama mengarah dari Kota Tua, melintasi Jembatan Charles menuju batas luar Kota Kecil. Juga dikatakan bahwa pemandangan dari jendela Bendemann dalam The Judgment menampilkan tanggul, Sungai Vltava dan tepi seberangnya dengan cara yang sama seperti yang dapat dilihat dari Jalan Mikulášská (sekarang Jalan Pařížská), tempat keluarga Kafka tinggal pada tahun 1912. Hal ini untuk membuktikan bahwa topografi Praha yang ditulis Kafka adalah historis, meskipun tidak disebutkan nama tempatnya.

Namun, bagi tulisan Kafka itu tidak penting. Tulisannya mengubah Praha menjadi topografi imajiner. Kota tersebut mengambil langkah mundur, dan tidak lagi dapat dikenali dari bangunan, jembatan, dan monumennya. Tidak lagi penting untuk mengidentifikasi kantor tertentu, sekolah dasar atau menengah, universitas, gereja, penjara, atau kastil, karena struktur-struktur ini berfungsi dalam peran metafora dan tempat alegoris.

 

TAMAT

Sumber:

https://kafkamuseum.cz/en/exhibition




Jumat, 16 Januari 2026

Praha, di Gereja Bunda Kita

 

Ketika kami berjalan di Alun-alun Kota Tua Praha, kami menemukan alun-alun yang agak semrawut, penuh dengan turis, banyak pedagang kaki lima dan pemain musik, serta kios suvenir. Bangunan-bangunan di sana merupakan campuran gaya arsitektur dari berbagai periode, termasuk Gotik, Barok, dan Renaisans. Meskipun tampilan alun-alun ini semrawut, banyak orang menganggap alun-alun ini meriah sekaligus menawan.

Kemudian, seolah menjulang dari berbagai bangunan, berdiri gereja ini dengan menara kembar bergaya Gotik. Nama lengkapnya, "Gereja Bunda Maria di hadapan Tyn," mencerminkan dedikasinya kepada Perawan Maria dan lokasinya di depan halaman Tyn. Kami berjuang keras untuk menemukan pintu masuk gereja. Setelah kami berjalan melalui lorong sempit di antara bangunan-bangunan tua, barulah kami tiba di halaman kecil tempat pintu masuk utama gereja berada.

Gereja ini dibangun terutama dengan gaya Gotik selama abad ke-14 dan ke-15. Interiornya menampilkan langit-langit yang tinggi dan berkubah, lengkungan runcing, dan kolom-kolom ramping, yang menciptakan kesan megah dan vertikalitas yang khas dari desain Gotik. Gereja ini didekorasi dengan sangat mewah dengan menampilkan seni Barok, yang mencerminkan sejarahnya yang panjang dan berbagai periode renovasi dan dekorasi. Banyak lukisan dan patung berasal dari abad ke-17 dan ke-18, saat gereja ini direnovasi secara besar-besaran dengan gaya Barok.

Interior yang remang-remang, aroma dupa, dan suasana yang tenang menciptakan ruang untuk meditasi dan doa. Baik kita menghadiri Misa atau sekadar duduk dalam keheningan, gereja ini menawarkan tempat peristirahatan yang damai dari hiruk pikuk Alun-alun Kota Tua di luar.

TAMAT

Sumber:

https://en.wikipedia.org/wiki/Church_of_Our_Lady_before_T%C3%BDn






Minggu, 23 November 2025

Tokyo, di Kabukicho

 

Di malam hari di Kabukicho berkelap-kelip mengundang para pekerja kantor yang kelelahan untuk menikmati hiburan di sini. Ada banyak kelab malam di daerah ini, bukan hanya untuk pria tapi banyak juga yang khusus bagi wanita, dilayani oleh teman penghibur pria. Ada banyak pula apa yang dinamai Love Hotel di sini, yang menyediakan kamar untun berkencan jam-jaman maupun semalaman. Saya jadi teringat film ‘Kabukicho Love Hotel’ yang menggambarkan suasana sebuah Love Hotel, menunjukkan kamar-kamarnya, pegawainya dan tentu saja para tamunya yang berkencan dengan intim. Kita bisa melihat berbagai jenis romansa dan kencan dari berbagai pasangan tamu dari berbagai latar belakang, yang selingkuh, yang melacurkan diri, yang memeras, dan cinta tidak menjadi tema utama di kamar-kamar hotel ini.

Kabukicho memanglah daerah lampu merah yang ramai di Shinjuku, Tokyo. Di tahun 1940an direncanakan dibangun sebuah teater kabuki di sini. Namun walaupun teater ini tidak terwujud sampai sekarang, nama Kabukicho tetap melekat. Saat kita menyusuri jalan-jalan yang sempit yang diterangi lampu-lampu neon dan reklame yang berkilauan , kita disambut para pelayan dan calo yang menawarkan dagangan mereka. Suasana ini cukup lumrah di Tokyo, tapi yang membuat unik di sini mereka juga menawarkan daging perempuan, seks. Tapi tidak sevulgar Pat Pong di Bangkok, di mana perempuan-perempuan berbikini menjajakan diri di kiri kanan jalan. Di sini para penjaja memberi selebaran-selebaran yang menawarkan pijat dengan perempuan cantik, makanan-makanan dan minuman unik, video game, pachinko dan toko-toko lainnya.  

Kalau ada ingin mengabaikan tawaran-tawaran yang bernafsu itu, anda bisa menyusuri gang-gang di Golden Gai yang dipadati bar dan warung kecil yang kelihatan reot.  Di sini suasananya terasa lebih akrab karena padatnya pengunjung dan kecilnya ruangan. Anda bisa memesan makanan dan minuman khas Jepang, setelah anda menemukan tempat duduk di tengah kerumunan. Tapi jangan heran kalau bau asap berbagai panggangan bercampur baur dengan asap rokok, namun para pengunjungnya yang semua ‘ceria’ menikmati suasana malam. Sering terdengar kata-kata kata ‘oishii’ (enak) atau  ‘kanpai’ (cheers) yang diucapkan dengan nada seperti berbicara dengan anak kecil atau anak anjing. Lebih-lebih kalau yang berbicara perempuan, nadanya tinggi dan dengan suara hidung, seperti dalam film animasi Jepang, begitu. Apalagi ketika melihat ia sesuatu yang imut-imut entah itu boneka atau baju atau tas, mereka berseru ‘kawai…’ dengan nada begitu. Seru deh.

TAMAT