Tampilkan postingan dengan label Haiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Haiku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 April 2018

Wawancara dengan Akira



Photo: Wikimedia

“Akira-san”, aku berkata,” Saya harus mengakui bahwa filem anda Throne of Blood dan Ran memperkenalkan saya kepada Shakespeare.  Ceritanya sangat mencengangkan, tragis dan gelap namun anda dengan handal menerjemahkannya ke dalam sinema, dalam hitam putih dan berwarna. Di dalam Ran, yang merupakan adaptasi dari King Lear, dunia yang gelap dan keji digambarkan dengan indah secara sinematis, yang menonjolkan warna-warna kostum Jepang dan warna darah. Apakah ini kurang lebih cara anda memandang dunia?”

Akira-san:
“ Tragedi adalah bagian dari kehidupan Jepang yang sering dilanda gempa, tsunami dan perperangan. Gempa bumi Kanto adalah pengalaman yang sangat mengerikan bagi saya, dan juga yang sangat penting. Dari padanya saya mempelajari bukan saja kekuatan alam yang dahsyat, namun juga hal luar biasa yang mendasari hati manusia.  Dasar sungai Edogawa telah melonjak dan memperlihatkan pula-pulau baru dari lumpur. Seluruh distrik itu diliputi oleh debu yang menari dan berpusar yang dengan keabuannya memberi matahari berkesan seperti masa gerhana. Orang-orang yang berdiri di kiri kanan saya di tempat itu mencari segenap dunia bagaikan pelarian dari neraka, dan segenap pemandangan terlihat aneh dan menakutkan. Saya berdiri memegang ke salah satu pohon sakura yang tertanam di sepanjang sungai itu, dan masih gemetar ketika saya memandang tempat itu dan berpikir, “Ini pastilah kiamatnya dunia.”

Aku berkata:
“Di dalam Throne of Blood, yang merupakan adaptasi dari Macbeth, ada adegan dengan tumpukan tengkorak manusia yang membentuk gundukan-gundukan. Apakah seperti ini pemandangan setelah gempa Kanto berlalu?”

Akira-san:
“Ketika gempa bumi itu berlalu, kakak saya Heigo mengajak saya melihat reruntuhan. Daratan yang terbakar terpampang sepanjang mata melihat memiliki warna merah kecoklatan seperti gurun pasir merah. Kebakaran itu membuat semua yang terbuat dari kayu berubah menjadi debu, yang sekarang terbang ke atas dihembus angin. Di tengah hamparan kemerahan yang memuakkan ini tergeletak segala macam mayat yang bisa terbayangkan. Ketika saya secara tidak sengaja mengalihkan pandangan saya, Heigo menghentak saya. “Akira, lihat dengan seksama sekarang.” Saya tidak bisa mengerti maksud kakak saya dan hanya bisa mendongkol atas paksaannya untuk menatap pandangan yang mengerikan ini. Pemandangan yang paling mengerikan adalah ketika kami berdiri di tepi sungai Sumidagawa yang menjadi merah dan memandang kumpulan mayat yang terbenam ke pinggir sungai itu. Saya merasa lutut saya lemas ketika saya mulai pingsan, namun kakak saya meraih kerah saya dan menegakkan saya kembali.  Dia berkata lagi : “Lihat dengan seksama, Akira.” Saya menyerah dengan menggertakkan gigi dan melihat.
Kemudian hari dia berkata: “Kalau engkau menutup mata terhadap penglihatan yang menakutkan, engkau akhirnya akan menjadi takut. Kalau engkau melihatnya secara langsung, tak ada yang ditakutkan.”  Menoleh kembali ke perjalanan itu, saya menyadari bahwa hal itu pasti menakutkan juga bagi kakak saya. Itu adalah perjalanan untuk mengalahkan rasa takut.”

Aku berkata:
“Anda pernah bilang bahwa kakak anda Heigo banyak mempengaruhi anda akan hasrat anda akan dunia sinema. Bagaiman dia mempengaruhi anda?”

Akira-san:
“Heigo adalah seorang narator profesional untuk filem bisu. Tugas narator bukan hanya menceritakan jalan cerita filem, mereka mempertegas bagian yang emosionil dengan memperdengarkan suara dan efek suara dan memberikan penjelasan yang menggugah akan kejadian dan gambaran di layar – lebih menyerupai narator dari teater boneka Bunraku. Narator yang paling populer adalah seorang bintang tersendiri, mengambil tugas di teater tertentu. Di bawah pimpinan narator terkenal Tokugawa Musei, sebuah pergerakan yang sama sekali baru berlangsung. Dia dan kelompoknya menekankan narasi dengan kualitas tinggi dari filem-filem asing yang disutradarai dengan baik.
Dalam hal filem dan sastra saya banyak bergantung kepada anjuran kakak saya. Dia ketagihan sastra Russia. Namun di saat yang sama dia menulis dengan berbagai nama samaran untuk program-program filem. Khususnya dia menulis tentang seni sinema filem asing, yang banyak dipromosikan setelah Perang Dunia Pertama. Saya mengambil perhatian khusus akan filem-filem yang dianjurkan kakak saya. Sejak sekolah dasar saya berjalan sampai sejauh Asakusa untuk menonton filem yang dia bilang bagus.”

Aku berkata:
“Kemudian apa yang terjadi ketika sinema berganti dari filem bisu ke filem bersuara?”

Akira-san:
 “Ketika filem bisu ditinggalkan, demikian juga kebutuhan akan para narator, dan penghidupan Heigo terpukul amat sangat. Pada mulanya semua seperti berjalan dengan baik karena saat itu kakak saya adalah narator utama di sebuah bioskop filem perdana, Taikatsukan di Asakusa, di mana dia mempunyai penggemar tersendiri.
Lalu menjadi jelas bahwa semua filem asing semenjak saat itu akan menjadi filem bersuara, dan teater-teater yang mempertunjukkannya memutuskan secara menyeluruh bahwa mereka tidak membutuhkan para narator lagi. Para narator diberhentikan secara masal, dan, mendengar hal itu, mereka mogok kerja. Kakak saya, sebagai pemimpin pemogokan, menjalani masa yang sangat sulit.”

Aku berkata:
“Seperti apa yang sudah terjadi, perubahan sinema tidak terelakkan, dari bisu ke suara, dari hitam putih ke warna, dan dari seluloid ke digital.”

Akira-san:
Di tengah segala itu, suatu hari saya dengar kakak saya mencoba bunuh diri. Saya kira penyebabnya adalah pahitnya posisinya sebagai pemimpin pemogokan para narator, yang telah gagal. Kakak saya sepertinya menerima fakta bahwa para narator tidak akan lagi diperlukan ketika teknologi perfileman bergerak ke arah bersuara. Ketika dia menyadari perjuangannya akan kalah, fakta bahwa dia harus menerima penugasan sebagai pemimpin pemogokkan pastilah tak terbayangkan sakitnya baginya.

Aku berkata:
“Bukankah dia pernah bilang ke ibu anda bahwa dia akan mati sebelum mencapai umur tigapuluh tahun?”

Akira-san:
“Kakak saya selalu bilang begitu. Dia menganggap kalau seseorang hidup melewati umur tiga puluh tahun, apa yang terjadi padanya hanyalah menjadi lebih jelek dan jahat, karena itu dia tidak berniat begitu. Saya menganggap enteng kata-kata kakak saya, tapi beberapa bulan setelah saya menepis kerisauan ibu saya akan hal itu, kakak saya meninggal dunia. Seperti yang dia janjikan, dia meninggal sebelum mencapai usia tiga puluh. Di usia dua puluh tujuh dia bunuh diri.”

Aku berkata:
 “Ada orang-orang yang bilang bahwa anda seperti kakak anda. Namun dia adalah negatif dan anda positif. Anda membuat filem bagus baik dalam hitam putih maupun filem berwarna, anda sutradara filem Jepang pertama yang menerima penghargaan internasional.”

Alira-san:
“Pada masa itu filem-filem Jepang cenderung terasa hambar, seperti teh hijau disiram di nasi. Saya melihat seorang wanita membaca buku selama pertunjukan filem produk dalam negeri Jepang. Filem-filem Jepang kehilangan masa belianya, kehilangan semangat dan aspirasi yang tinggi. Filem-filem… seperti hasil karya seorang yang letih, tua, yang membuat penilaian sempit, kering dari rasa, dan yang hatinya tersumbat.”

Aku berkata:
“Penghargaan internasional pertama yang anda terima adalah Rashomon yang menerima Golden Lion di festival filem Venesia di tahun 1951. Diperagakan di Jepang abad ke 11, suatu masa ketika api, gempa, sampar, bandit dan perperangan. Suatu masa ketika pemerintah pusat dirongrong oleh pertumbuhan pergerakan politik dan kekuatan militer.  Ada pemberontakan, kebakaran, gempa, dan tindak kriminal yang kejam di ibu kota. Saat itu adalah perioda yang tampaknya tidak ada hukum, dan negara ini berada di tepi jurang kehancuran.
Filem itu dimulai di Gerbang Rashomon, Gerbang Utama kota Kyoto. Gerbang itu dalam kondisi hancur, demikian pula kotanya. Hujan dalam hitam putih mengucur deras ke Gerbang Rashomon memberi kesan dunia yang buram. Gerbang yang hancur, dengan ukurannya yang kelihatannya megah dan fundasinya yang kokoh yang telah menjadi reruntuhan. Pakaian orang-orang di situ lusuh, gelap, kotor dan basah.”

Akira-san:
“Filem itu mendalami hati manusia bagaikan pisau bedah dokter, memperlihatkan seadanya komplesitas yang gelap dan liku-liku yang penuh keganjilan.  Denyutan hati nurani yang ganjil ini akan diperlihatkan dengan menggunakan permainan cahaya dan bayangan yang dirancang dengan seksama. Cahaya dan bayangan, mewakili bukan saja baik dan jahat, tapi juga rasionalitas dan tindakan impulsif. Terutama bagian awal, yang membawa penonton melalui cahaya dan bayangan dalam hutan ke dunia di mana hati manusia tersesat, benar-benar pekerjaan kamera yang mengagumkan dari Miyagawa Kazuo.”

Aku berkata:
“ Jalan cerita dan karakter-karakternya menarik, mencakupi berbagai jenis karakter yang memberi kesaksian-kesaksian yang subyektif, alternatif, memihak diri sendiri dan  bertentangan tentang suatu pembunuhan. Melalui penggunaan yang cerdik dari kamera dan flashbacks, anda mengungkapkan kompleksitas sifat manusia ketika empat orang menceritakan kesaksian yang berbeda tentang pembunuhan seorang samurai dan pemerkosaan isterinya.”

Akira-san:
“Manusia tidak dapat jujur kepada dirinya sendiri tentang dirinya sendiri. Mereka tidak dapat berbicara tentang dirinya sendiri tanpa menghiasinya. Pergelaran ini memperlihatkan manusia seperti itu yang tidak bisa hidup tanpa berbohong untuk membuat dirinya merasa lebih baik dari sebenarnya. Karakter-karakter tersebut bahkan menipu diri mereka sendiri; mereka menolak untuk menghadapi atau mengakui kebenaran karena mereka takut padanya. Pandangan umum adalah bahwa semua lelaki dan wanita seperti itu, dan menjadi sifat manusia untuk berbohong dan menghiasi realitas bahkan bagi dirinya sendiri. Seperti yang dikatakan pendeta di filem itu, kalau manusia tidak saling mempercayai, bumi ini lebih baik menjadi neraka.”

Aku berkata:
“Pada akhir filem itu ada adegan seorang bayi yang ditelantarkan yang menangis sangat keras. Mulanya kita tidak dapat mengerti bagaimana bayi ini datang ke Gerbang Rashomon, sekonyong-konyong saja. Kemudian saya menemukan bacaan bahwa tempat itu selain tempat membuang mayat juga menjadi tempat yang diketahui sebagai tempat meninggalkan bayi-bayi yang tak dikehendaki. Kemudian saya dapat memahami adegan ini, bukanlah suatu adegan yang bukan pada tempatnya seperti yang dikira sebagian penonton.”

Akira-san:
“Kita melihat bahwa si penebang pohon itu menerima bayi yang ditelantarkan dan membawanya pulang untuk dipelihara, walaupun dia sendiri sudah punya 6 orang anak. Hal ini melambangkan bahwa manusia memilih melakukan hal-hal yang baik.  Ini penting, karena penebang pohon itu sepanjang adegan sampai saat itu hanyalah berdiam diri, memilih untuk tidak terlibat dengan apa yang dilihatnya, “Aku tidak ingin terlibat”, katanya. Dengan memilih untuk mengambil anak itu dia memberi harapan kepada pendeta itu bahwa manusia adalah baik adanya dan bahwa dunia bukanlah milik orang-orang yang hanya memikirkan diri sendiri.”

Ini adalah wawancara imajiner untuk mengenang Akira Kurosawa.

Sumber: “Something Like an Autobiography” by Akira Kurosawa



Jumat, 24 November 2017

Wawancara dengan Vincent

Photo: Wikimedia

Pada hari itu, dengan kereta api lambat, aku mengikuti jejak Vincent dari Paris ke Arles di Selatan Perancis, mencari cahaya, warna dan kehangatan di Provence.

Perjalan itu adalah sebuah pesta buat mata, melihat perkampungan indah, dan kota-kota, pemandangan penuh warna. Vincent mencintai tempat ini, pemandangannya, cahayanya dan orang-orangnya.

Langkah pertama baginya adalah untuk menemukan sebuah rumah dan lalu menyiapkan studio di situ. Ia menemukannya di sebuah rumah kecil bewarna kuning di Place Lamatine nomor 2 untuk 15 francs per bulan.

Aku menemukan rumah kuning itu dengan daun jendela hijau, yang dihuni Vincent dan Paul untuk membuat lukisan-lukisan mereka.

Ketika aku bertemu Vincent, ia kelihatan segar dan berseri, tampaknya cahaya matahari  sehat di Arles membuatnya demikian.


Aku:

“Kami melihat bahwa lukisan-lukisan anda belakangan ini diliputi berbagai warna cerah, meriah, cukup berbeda dari warna gelap suram lukisan-lukisan yang anda buat beberapa tahun yang lalu.”


Vincent:

“Ya betul, kesegaran udara di Arles sini mempengaruhi bagaimana saya melihat kehidupan, orang-orang, alam, sinar matahari, pemandangan yang indah, ladang gandum yang mengeriting, bunga matahari yang bergetar, langit biru yang berombak, semua hal itu tertangkap dalam lukisan-lukisan saya. Lihatlah rumah kuning saya, kamar tidur saya yang biru hijau, langit biru, bunga matahari kuning keemasan, buah apel merah, semuanya itu menarik buat saya.

Terima kasih ke Theo, adik saya, yang menyarankan saya peindah ke Arles sini untuk mengerjakan lukisan-lukisan saya. Dia memberi saran yang baik.”


Aku:

“Jadi anda sudah meninggalkan masa gelap suram di Bornage ?”


Vincent:

 “Walaupun saya sudah meninggalkan Borinage, tempat itu istimewa bagi saya. Lukisan-lukisan yang saya buat di sana gelap dan suram, tapi itu adalah refleksi sebenarnya dari kehidupan pekerja tambang batubara. Warna gelap merefleksikan tambang batubara, merefleksikan orang-orang  miskin, yang menderita, yang lapar , perjuangan pekerja tambang sehari-hari. Mereka bejalan di kegelapan, di pusat bumi, di tambang hitam batubara.

Tambang- tambang ini adalah pemandangan yang menyolok mata, 300 meter dibawah muka tanah, kemana setiap hari kelompok-kelompok pekerja turun kedalam, yang layak mengungkit rasa hormat dan simpati kita. Pekerja tambang adalah tipe spesial Borinage, baginya sinar matahari tidak ada, dan kecuali di hari Minggu ia tidak pernah melihat sinar matahari.

Dia bekerja keras di dekat lampu yang cahayanya pucat dan redup, di dalam terowongan sempit, badannya tertekuk dua lipat dan kadang-kadang dia harus merangkak sepanjang terowongan itu; dia bekerja untuk mendulang dari usus bumi zat mineral yang kita ketahui banyak kegunaannya; dia bekerja di tengah ribuan bahaya yang selalu mengancam.

Suatu hari, para pekerja tambang pulang ke rumah di sore hari  sebelum gelap merupakan satu-satunya pemandangan di tengah keputihan salju. Orang-orang ini kehitaman saat muncul ke terang hari dari dalam tambang gelap, tampak seperti sapu-sapu cerobong asap.

Tempat tinggal mereka biasanya kecil dan lebih patut disebut pondok; tersebar sepanjang jalan-jalan yang terbenam, di hutan-hutan dan di lereng bukit. Di sana-sini kita masih bisa melihat atap–atap ditutupi lumut, dan kala petang hari ada cahaya bersahabat bersinar dari celah-celah jendela-jendala berbingkai kecil itu.”


Aku:

 “Saya paham, salah satu lukisan anda yang paling menyolok adalah “Para Pemakan Kentang”. Petani-petani makan di ruangan gelap dan suram, wajah dan tangan mereka gelap dan kasar mengekspresikan sulitnya kehidupan mereka.”


Vincent:

 “ Itu adalah lukisan yang akan menarik di dalam emas- saya pasti itu. Tapi akan sama menariknya jika dipajang dinding berkertas sewarna bayangan kelam dari jagung matang.

Saya mencoba mengemukakan ide bahwa orang-orang yang makan kentang di dekat cahaya lampu telah menggali bumi dengan tangannya sendiri, tangan yang sama yang mereka masukkan ke piring, yang menyarankan pekerja kasar dan- makanan yang dihasilkan secara jujur.

Saya ingin menyarankan sebuah gambar kehidupan yang sangat berbeda dengan kehidupan kita, orang-orang beradab. Jadi saya tidak ingin orang-orang mengagumi atau menyetujui lukisan ini tanpa mengetahui sebabnya.

Saya telah menyimpan benang kain selama musim dingin dan mencari corak yang pasti – dan walaupun sekarang ia adalah kain yang keliatannya kasar, benang-benangnya adalah benang-benah terpilih dengan hati-hati menurut suatu aturan. Dan mungkin ia telah menjadi lukisan petani yang orisinil. Saya tahu demikian adanya. Tapi bagi orang yang memilih melihat para petaninya yang keliatan halus mulus, itu adalah yang paling sesuai bagi dirinya sendiri.

Secara pribadi, saya yakin bahwa dalam jangka panjang orang akan mendapat hasil yang lebih baik dengan melukiskan mereka dengan kekasaran mereka, daripada mengemasinya dengan kemanisan masa kini. Seorang gadis petani dengan baju biru bertambal dan berdebu dan korset yang telah memudar dengan cuaca, angin dan panas matahari, kelihatan lebih menarik - menurut  saya – dari pada seorang wanita yang rapi.  Tapi kalau ia memakai pakaian wanita yang rapi, maka keasliannya hilang. Seorang petani dengan pakaian sekenanya bekerja di ladang, keliatan lebih baik dari pada ketika ia pergi ke gereja di hari Minggu dengan pakaian rapi.

Demikian pula, menurut pendapat saya, adalah tidak patut membuat lukisan kehidupan petani dengan polesan masa kini. Jika lukisan petani berbau daging kering,  asap , uap kentang, baiklah-  itu bukannya tidak sehat – kalau kandang berbau sampah kotoran hewan – baiklah, begitulah keadaan kandang hewan– kalau sebuah ladang bebau jagung matang atau kentang atau pupuk kandang – itu sehat sesungguhnya, terutama buat orang kota. Lukisan kehidupan petani mungkin dapat menolong mereka. Namun lukisan kehidupan petani janganlah ditaburi pewangi.”


Aku:

 “Sepasang Sepatu adalah salah satu lukisan yang sangat impresif yang bahkan mencengangkan Heidegger, seorang filsuf terkenal. Namun tanpa mennimbangkan interpretasi dari Heidegger, lukisan itu benar-benar dapat menceritakan banyak kisah tentang sepatu-sepatu kumal, yang diabaikan, lembab, kedinginan dan kesepian.”


Vincent:

Adalah baik untuk menyukai segala macam hal sebanyak mungkin… saya melihat lukisan-lukisan atau gambar-gambar di pondok-pondok yang paling miskin, di pojok-pojok yang paling kotor. Dan pikiran saya secara spontan tertarik ke hal-hal  seperti ini.

Puisi mengelilingi kita di mana saja, tapi menaruhnya di atas kertas, celakanya, tidak semudah seperti melihatnya. Saya memimpikan lukisan saya, dan saya melukis impian saya. Menjadi spiritual adalah menjadi hormat akan misteri agung kehidupan dan melihat jejak jejari sang Mahakuasa dalam hal-hal yang sangat biasa.


Aku:

Marilah berbicara mengenai lukisan potret yang anda buat. Di dalam lukisan-lukisan itu hampir semua orang tidak tersenyum. Dokter anda tampak seperti sangat gundah, lukisan-lukisan potret  diri anda juga tidak pernah tersenyum.


Vincent (masih tanpa senyum):

“Sepanjang sejarah seni, sangat jarang ditemukan lukisan potret diri yang tersenyum, dan saya tidak ingin merubah tradisi ini. Dr. Gatchet keliatan seperti itu karena saya pikir ia lebih penyakitan dari saya,  tapi saya menemukannya sebagai teman sebenarnya , seperti seorang saudara, sehingga kita keliatan serupa secara fisik dan mental.”


Aku:

“Namun, lukisan potret ibu anda tampak dengan senyum bangga.”


Vincent:

“Saya membuat lukisan potret ibu saya untuk saya sendiri, dari foto hitam putih. Saya tak menyukai foto tak berwarna itu, dan mencoba melukisnya dengan warna harmonis, seperti kenangan saya . Dia memperkenalkan saya ke dunia seni, ia sendiri seorang artis amatir.

Saya buat beberapa karya saya yang saya kira ibu saya paling suka, tentang bunga-bunga dan  latar belakang pemandangan alam.”


Aku:

“Anda melukis beberapa “Bunga Matahari”, yang sangat dikenal orang sebagai karya anda. Adik anda dan Paul menyukainya. Bunga-bunga itu kelihatan kuno namun ceria, warna kuning cerahnya seakan menyebarkan kebahagiaan.”


Vincent:

Itu adalah jenis lukisan yang karakter nya berubah-ubah, dan menjadi semakin kaya semakin lama anda memandangnya. Sebagian besar lukisan saya pada dasarnya hampir berupa jeritan kegelisahan, walapun dalam kekunoannya bunga matahari  dapat melambangkan rasa syukur.


Aku:

“Bagaimana hubungan anda dengan Sien?”


Vincent:

“Saya bertemu dengannya di musim dingin, dia sedang hamil, ditinggalkan lelaki  yang adalah ayah bayi yang dikandungnya. Seorang wanita hamil berjalan di tengah jalan di musim dingin- ia harus mencari suatu penghasilan, dan anda tahu bagaimana. Saya mengambilnya sebagai model lukisan saya dan bekerja dengannya sepanjang musim dingin.  Saya tak mampu membayarnya sepenuhnya, tapi saya tetap membayarnya, jadi sejauh ini, syukur Tuhan, saya dapat menyelamatkan dia dan anaknya dari kelaparan dan kedinginan dengan membagi santapan saya dengannya. “


Aku:

“Mungkin, anda melihatnya sebagai Maria Magdalena?”


Vincent:

“Saya benar-benar lengket dengannya dan dia lengket dengan saya –  ia adalah sobat loyal yang membantu, yang pergi kemana saya pergi – dan yang lama-kelamaan  tak tergantikan. Saya dan dia adalah dua orang tak berbahagia yang menemani masing-masing dan berbagi beban, dan itu adalah yang membuat ketidak-bahagiaan berganti menjadi kebahagiaan, dan yang tak-terpanggulkan menjadi terpanggul.

Pada mulanya saya berniat untuk memberinya dukungan parktis, namun juga membantu saya lekas berdiri.  Tapi lambat laun kami berubah – kami menjadi saling mebutuhkan, sehingga dia dan saya tak terpisahkan – kehidupan kami semakin menyatu, lalu menjadi cinta.”


Aku:

“Dalam “Kepedihan”,  tampaknya anda melukis Sien dengan penampilan alami tanpa riasan.”


Vincent:

“Dia agak bopeng, jadi tidak lagi cantik, namun lekuk tubuhnya sederhana dan bukannya tak lembut. Dan ia berguna bagi saya ya karna ia tidak cantik lagi, tidak muda lagi, tidak lagi centil, dan tidak lagi bodoh. Perasaan diantara Sien dan saya adalah nyata, bukanlah mimpi, adalah nyata. Saya pikir itu adalah rahmat besar bahwa pikiran dan energy saya menjurus ke satu tujuan dan memiliki arah yang pasti.”


Aku:

“Bagaimana proses kelahirkan bayinya?”


Vincent:

“Sien menjalani persalinan yang sangat sulit, namun syukur Tuhan ia selamat dan juga dengan bayi laki-laki yang mungil. Ibunya dan anak perempuan kecilnya dengan saya pergi bersama – anda dapat bayangkan bagaimana gelisahnya kami, tanpa mengetahui apa yang akan  kami dengar ketika kami bertanya kepada petugas rumah sakit tentang keadaannya. Dan bertapa bahagianya kami ketika mendengar: “ Diurus tadi malam… tapi anda jangan bicara terlalu lama dengannya….”  Saya tak mudah melupakan bahwa “anda jangan bicara terlalu lama dengannya”; karena itu berarti “ anda masih bisa bicara dengannya,” ketika hal itu bisa dengan mudah bisa menjadi , “anda tidak pernah bisa bicara dengannya lagi.”

Saya sangat bahagia melihatnya, berbaring dekat jendela yang menghadap taman dengan cahaya matahari  dan kehijauan, sedikit mengantuk karena kelelahan antara tidur dan bangun, lalu ia mendongkakkan kepala dan melihat kami semua. Ia mendongkakkan kepala dengan sangat gembira setelah melihat kami 12 jam setelah kelahiran itu.”


Aku:

“Jadi selain dia, apakah anda banyak punya pacar-pacar lainnya?”


Vincent:

“Dengar, saya memang bukanlah orang baik dimata seorang pendeta. Saya sangat tahu, sejujurnya, pelacur-pelacur adalah tidak baik, tapi saya merasakan sesuatu yang manusiawi dalam mereka yang mencegah keengganan saya untuk bergaul dengan mereka; saya tidak melihat suatu kesalahan besar dalam mereka.  Kalau masyarakat kita murni dan beradab, benar, mereka adalah penggoda nafsu; tapi sekarang, menurut pendapat saya, orang-orang lebih sering menganggap mereka  seperti biarawati-biarawati pengasih.”


Aku:

“Lalu ada seorang pacar anda, yang anda kasi potongan kuping anda, masyalah, apa sebenarnya yang anda perbuat?”


Vincent:

 “Saya pikir saya kehilangan akal setelah berkelahi dengan Paul, sesungguhnya saya tidak bisa ingat.

Saya mengambil silet dan memotong sebagian kuping kiri saya. Polisi menemukan darah di seluruh rumah, dengan karpet belumur darah di studio dan jejak tangan berdarah sepanjang dinding menuju ke atas. Mereka bilang saya mengambil kuping itu dan membungkusnya dengan kertas koran. Dengan topi menutupi luka saya, saya dengan kuping di tangan, pergi menuju suatu “maison de tolerance”, sebuah bordil dekat rumah.

Disitu saya mencari seorang perempuan yang lalu saya beri kuping itu. Saya tidak ingat apa yang saya bilang, namun dia berkata bahwa saya bilang :”Jagalah barang ini dengan hati-hati.”

Setelah saya sembuh, saya datang mengunjunginya. Saya diberi tahu bahwa hal seperti itulah bukanlah suatu yang janggal di sana. Dia terkejut karena hal itu lalu pingsan,  tapi kemudian sudah tenang kembali.”


Aku:

“Apakah anda tidak khawatir bahwa lukisan-lukisan anda tidak laku dijual?”


Vincent:

“Begini, masalahnya adalah bahwa kemungkinan bekerja tergantung dari penjualannya, karena ada ongkos pengeluaran – semakin banyak seseorang bekerja, ongkosnya semakin banyak juga (walaupun tidak selalu demikian halnya). Ketika seseorang tidak bisa menjual barangnya dan tidak punya penghasilan lain, tidaklah mungkin baginya untuk maju.

Saya berterima-kasih kepada Theo, adik saya, yang menunjang hidup dan pekerjaan saya. Saya banyak berhutang kepadanya, namun,  kalau ini berlangsung terus akan memperburuk keadaan saya.

Orang-orang terpandang di sini yang saya tidak kenal sama sekali sering bertanya kepada saya sekurangnya tiga kali seminggu, “Mengapa kamu tidak bisa menjual lukisan-lukisanmu?”

Mungkin lukisan-lukisan saya tidak akan pernah terjual seumur hidupku, mungkin kalau mereka mengerti mereka bisa menghargainya lebih baik.”


Aku:

“Terima kasih banyak Vincent untuk interviewnya, semoga berhasil dengan pekerjaanmu dan semoga sehat selalu.”


Vincent (dengan jabatan tangan):

“Adieu. “




Minggu, 24 September 2017

Wawancara dengan Gabriel

Photo: Wikimedia

Pagi itu, di suatu Minggu di bulan Agustus 2014 di tengah teriknya Macondo, aku berkesempatan untuk mewawancarai Gabriel, setelah menunggu beberapa lama. Tidaklah sulit untuk menemukan rumah di tepi sungai itu, karena disana hanya ada beberapa rumah.


Rumahnya bercat putih bersih, dengan namanya tertera di pintu depan. Di dalam rumah, aku duduk di kursi kayu dekat jendela. Aku melihat sekeliling ruangan itu dan melihat bahwa kursi-kursi dan perabot lainnya diberi label dengan huruf tinta dengan nama benda tersebut: kursi, meja, pintu, jendela dan sebagainya. Tampaknya pemberian label nama itu diwariskan sejak masa wabah Hilang Memori itu.

Wabah itu menyebabkan semua penduduk Macondo kehilangan memori begitu saja. Mereka lupa nama-nama bermacam benda di kehidupan mereka, bahkan nama-nama barang sepele sehari-hari, seperti kursi, meja, pintu, jendela, semua mereka lupa, sehingga harus memberi label nama benda-benda itu dengan nama masing-masing, supaya bisa diingat. Label-label itu dibiarkan melekat di perabotan di rumah ini sampai saat ini.

Ketika ditanya mengenai hal ini, Gabriel menghela napas dan bercerita:

“Wabah itu menyebabkan semua orang kehilangan memori, semua tanpa kecuali, tua dan muda, kolonel dan prajurit, kaya dan miskin, hakim dan narapidana, mereka semunya hilang memori. Mereka tidak dapat mengingat bahkan nama-nama barang sepele sehari-hari, seperti meja, kursi, pintu, jendela dan sebagainya. Binatang juga harus diberi label dengan nama masing-masing: sapi, anjing, keledai, dengan mengalungkan label itu di leher masing-masing, jika tidak orang tidak bisa mengingat namanya.

Wabah yang aneh yang belum pernah menyerang sebelumnya dalam sejarah. Demikian hal nya masa kini, ketika hal-hal tidak berfungsi sesuai namanya lagi, orang akan lupa akan namanya. Kalau kursi tidak lagi dipakai sebagai tempat duduk, orang akan lupa bahwa itu adalah kursi dan lupa bahwa nama barang itu adalah kursi. Kalau pintu-pintu tidak bisa dibuka lagi, ia akan berhenti dinamai pintu. Ketika sungai kehabisan air, ia berhenti sebagai sungai. Rumah yang tidak lagi menjadi tempat tinggal yang aman dan damai, berhenti dinamai rumah. Nama-nama kemudian menghilang dan terlupakan semenjak kehilangan artinya.

Demikian pula, ketika manusia tidak lagi befungsi sesuai namanya, orang-orang akan lupa namanya dan tidak memakainya lagi. Orangtua, guru, penulis yang tidak lagi bertindak sebagai orangtua, guru, penulis, tidak lagi akan dinamai demikian, lalu namanya akan kehilangan arti dan terhapus dari memori manusia selamanya. Ketika penulis tidak lagi menulis cerita-cerita yang menarik, maka nama penulis tidak akan lagi dianggap sebagai mana mestinya, lalu lambat laun akan hilang dan terlupakan.

Ketika wartawan tidak lagi menulis kebenaran, maka nama wartawan kehilangan arti, lalu nama itu tidak lagi dipakai. Sesungguhnya, pada awal mulanya, nama-nama diberikan sesuai relasinya dengan obyek. Nama memanggul relasi dengan obyeknya dan menjadikan fungsi obyek itu sesuai namanya. Dengan memakai nama wartawan, menuntutnya menulis kebenaran. Kalau tidak, orang itu tidak lagi dipanggil wartawan, sehingga orang akan melupakannnya, lalu tidak lagi membaca tulisannya. Masyarakat akan melupakannya dan tidak lagi membaca tulisannya.

Ketika semua wartawan tidak lagi menulis kebenaran, maka nama wartawan akan kehilangan artinya, dan lambat laun menghilang dari dunia dan terlupakan. Begitulah wabah yang mengancam kita kini, terhapuskannya nama dari memori, karena realitas tidak lagi sesuai dengan namanya, sehingga realitas terhapus beserta namanya.”


Aku berkata:

“ Di Seratus Tahun, tampaknya wabah Hilang Memori itu menyerang kembali beberapa generasi kemudian. Masa kini, orang-orang Macondo telah hilang memori akan hal yang mengerikan di masa lalu. Tidak seorangpun dapat mengingat pembantaian menghebohkan di stasiun kereta api. Sejarahnya terlupakan sama sekali, terhapus dari realitas.”


Gabriel:

“ Betul, orang tidak ingat sama sekali pembantaian 3,000 orang lebih di hari Jum’at di muka stasiun kereta api. Mereka adalah buruh perkebunan pisang, dengan wanita dan anak-anak menunggu kereta api yang tak akan kunjung datang. Setelah menunggu lama sejak pagi buta hingga siang hari, jelaslah mereka menjadi lelah dan frustasi ketika mendengar kabar angin bahwa kereta akan ditunda hingga ke esokan harinya.

Khawatir akan kemarahan kelompok ini akan mempengaruhi mogok kerja para buruh perkebunan pisang dan menjadikan mereka beringas, kapten tentara mengumumkan agar kerumunan membubarkan diri selekasnya dalam waktu lima menit. Dia telah menerima kewenangan dari jenderal Carlos untuk menembak guna membubarkan kerumunan itu. Tapi semua mereka tidak bergerak, mereka tidak ada yang menyangka bahwa tentara akan demikian tega menembak mereka.

Pada saat satu menit melampaui batas waktu lima menit yang diberi, empat belas senjata mesin mulai menembaki mereka. Lebih dari 3,000 orang terbunuh, mayat-mayat ditimbun di dalam kereta api, seperti halnya menimbun onggokan pisang untuk dikirim dengan kereta api itu.

Seorang anak yang diselamatkan oleh Jose datang untuk bercerita tentang pembantaian itu bertahun-tahun kemudian, namun tak seorangpun mempercayainya. Mereka bilang tidak seorangpun mati disana. Mereka tidak ingat dan menyanggah hal itu terjadi, mengubur sejarah seluruhnya, bak ke 3,000 orang lebih yang dibunuh, dilempar ke tengah lautan.

Bahkan adik Jose membantahnya, kisah resminya adalah bahwa para buruh perkebunan meninggalkan stasiun kereta api dan pulang ke rumah dalam rombongan dengan damai…..”


Gabriel terdiam sejenak dan menghirup kopinya yang tak bergula, yang mengingatkan aku akan keluarga Beundias yang juga suka minum kopi tak bergula.



Lalu aku bertanya:

”Di Seratus Tahun, anda menggabungkan dunia magis dengan realitas dunia nyata, dari mana datangnya ide tersebut? ”


Gabriel:

” Kisah itu ditulis dengan fenomena realitas magis, di dalam kejadian yang bagai mimpi, namun diceritakan secara meyakinkan, seperti gaya nenek saya bercerita ketika masa kanak-kanak ku dulu. Ia bisa berkisah mengenai hal-hal magis, supra natural dan fantastis dengan wajah dan nada datar, sehingga terdengar sungguh-sungguh nyata.”


Aku berkata:

” Narasi Seratus Tahun memang terdengar seperti suara seorang narrator di sebuah filem Disney, suara yang meyakinkan kita dan membuat kita terlena dalam buaiannya seakan-akan kita berada di dalam cerita itu. Cerita itu menjadi dunia nyata bagi para pemirsa.”


Gabriel:

“ Sebuah cerita adalah persepsi penulis tentang dunia dan ditanggapi oleh pembaca dengan memberi persepsi terhadapnya, dengan demikian terjadilah interaksi antara penulis dan pembaca terhapap realitas. Cerita itu membentuk persepsi kita akan dunia, realitas adalah sebuah refleksi.

Dunia magis di satu sisi adalah refleksi dari fantasi, harapan dan kegelisahan di dalam dunia nyata kita, dan melalui interaksi antara penulis dan pembaca dunia magis cerita itu menjelma menjadi realitas. Dengan bercerita dari generasi ke generasi, ia akan menjadi bagian dari kehidupan kita, bagian dari kebudayaan kita.”


Aku berkata:

“ Di dalam Seratus Tahun, kematian sangat tragis, kehudidupan penuh skandal, realitas dibumbui fenomena magis, dan tahyul menjadi realitas.”


Gabriel:

“Setiap orang punya harapan, kegusaran, dan kepercayaan yang dipanggul sejak masa kanak-kanak menuju dewasa. Bagi mereka, dunia magis dan dunia impian masa kecil adalah realitas, itu adalah dunia sebagaimana seorang anak memandangnya. Dunia itu kemudian dipanggul ke dalam dunia dewasanya dalam perspektif yang berbeda.

Cerita itu berkisah tentang yang lemah, yang bersedih dan yang kuat, kupu-kupu kuning dengan si Cantik Remedios, kegelapan masa itu, wabah Hilang Memori, peramal nasib, serta tentang hal tahyul yang menjadi realitas ketika bayinya terlahir dengan buntut babi. Elemen-elemen tersebut adalah harapan kita, kegusaran, dan kepercayaan, bagian dari dunia kita, realitas kita.”


Aku berkata:

“ Seratus Tahun dengan jalur cerita yang kompleks, dramatis dan penuh skandal, mengingatkan saya akan telenovela- telenovela yang sangat popular di negeri ini, Amerika Latin dan bahkan di seluruh dunia, karena telenovela-telenovela tersebut penuh dengan intrik, skandal, perkelahian, pertualangan, pesta dan penderitaan manusia.

Seratus Tahun juga melibatkan banyak elemen-elemen ini, tragedy-tragedi diturunkan dari generasi ke generasi, dunia penuh fantasi, kejutan, intrik, dan pertualangan, itu semua dapat memubuat Seratus Tahun menjadi serial telenovela yang sangat menarik.”



Gabriel:

“ Memang benar telenovela sangatlah populer karena ia menjadi bagian dari hidup kita, bagian dari kebudayaan kita. Fantasi setiap orang, harapan dan kegusaran membentuk kehidupan nyata kita dan ini tercerminkan di dalam telenovela. Masyarakat berminat akan intrik-intrik tersebut, skandal, tragedy dan pertualangan karena mereka bisa menhubungkannya dengan dunia mereka, hal itu berada dalam dunia mereka. Hal itu menjadi populer dan menjadi dunia kita, realitas kita.”


Aku bertanya:

“ Lalu apakah anda bersedia Seratus Tahun dibuat menjadi telenovela?”


Gabriel:

“ Tidak juga, telenovela dan filem adalah dunia visual yang tidaklah dapat mewakili novel itu sepenuhnya. Demikian pula sebaliknya sebuah novel tidak selalu dapat mewakili dunia visual.”


Aku berkata:

“ Ada bagian-bagian dari cerita itu yang bisa ditayangkan dengan menakjubkan dan dramatis, semisalnya penampakan kupu-kupu kuning itu……”


Gabriel:

“ Ya, kupu-kupu nya Meme dan Muricio…”


“ Dan, perkawinan Aureliano dengan Remedios…”


“Dan, pembunuhan massal di stasiun kereta api, yang mengingatkan kita akan kejadian- kejadian yang kita hadapi sesungguhnya……”


“Pada hari Sofia menemukan colonel yang sudah mati, tayangan dengan burung-burung pemakan bangkai…..”


“ Kenaikan si Cantik Remedios ke surga…”


“Bayi yang dilahirkan dengan buntut babi…”



Gabriel:

“ Hal-hal demikian akan fantastis untuk ditayangkan, saya bisa membayangkan, akan tetapi beberapa bagian akan suilt, semisalnya pemulaan novel tersebut: Bertahun-tahun kemudian, ketika ia menghadapi regu penembak, Kolonel Aureliano Buendia mengenang suatu siang ketika ayahnya membawa nya untuk menemukan es.”


Aku berkata: “Dan juga, ketika sang kolonel menyadari sesaat sebelum ia ditembak bahwa ia seharusnya menganjurkan menamai anaknya Remedios sebelum ia gugur dikandungan, seandainya bayi itu perempuan ….. “


“ Dan rasa bersalah Amaranta akan kematian Remedios….”


“ Kesedihan Pietro ketika Rebecca ingin menikah dengan Jose…”


“Kesedihan Pietro ketika Amaranta menolak menikah dengannya…”


“ Ursula meratapi nasib anak-anaknya….”


“ Hari-hari kelam sang kolonel seusai perang….”


“ Selama Seratus Tahun ……”




Ini adalah wawancara imajiner mengenang: Gabriel Garcia Marquez