Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Juli 2023

Dari Sikayu ke Taman Kusir

 

BAB 1  Kepergian Aku  

 

Begitu kulihat pintu agak terbuka dalam sekelebat aku berlari keluar. Kuturuni tangga dari lantai dua ke lantai satu yang langsung menuju halaman. Halaman itu berumput tebal, dengan pagar yang tak terlalu tinggi yang dengan mudah kupanjati dan aku terus terjun keluar. Alangkah leluasanya rasanya berada di luar, aku dengan girang berlari di trotoar jalan tanpa menengok kanan kiri, aku hanya ingin menghirup segarnya udara luar yang masih pagi ini. Kulintasi ayam-ayam yang berkotek-kotek panik ketika aku lewati. Terus aku berlari, melewati penjual rokok, kedai bakso dan tempat parkir motor. Untung tidak ada yang menghalangi.

Aku memang selalu menunggu kesempatan seperti ini untuk ngabur ke luar. Alasannya sih mencari udara segar, tapi sebenarnya aku rindu sama si Lu Lu. Dia itu piaraannya sang Youtuber yang ngetop se-antero nusantara yang rumahnya terletak beberapa jalanan dari sini. Iya, namanya Lu Lu. Dengan tak sabar aku terus berlari, kulewati klinik dokter hewan, mudah-mudahan dia tidak memergoki aku dan mengenali aku, janganlah, bisa panjang ceritanya kalau kepergok. Tak kusadari kadang-kadang ada mobil lewat di sebelah aku berlari, hampir menyerempet aku. Yang lebih gawat adalah sepeda motor ojek online, atau lebih dikenal sebagai ojol, yang meluncur dari belakang ataupun depan. Kadang-kadang naik trotoar mengusik para pejalan kaki dengan membunyikan klaksonnya yang nyaring. Berisik, mengganggu ketenangan alam pagi itu.


Selanjutnya baca di novel pertama saya di link Gramedia ini, silahkan login/daftar untuk membacanya:

https://www.gwp.id/story/134120/dari-sikayu-ke-tanah-kusir



Sabtu, 03 April 2021

Wawancara dengan Fyodor

 

Photo: Wikimedia

Judul bukunya yang terkenal Crime and Punishment (Kejahatan dan Hukuman) tidaklah menganjurkan bahwa buku ini adalah sebuah novel, melainkan bunyinya bagaikan sebuah buku filsafat atau sosial politik. Jadi, pada awalnya buku ini tidak menarik bagi saya karena sudah ada begitu banyak buku yang menulis tentang topik ini. Namun Ketika saya membaca ulasan tentang buku ini, kelihatannya menarik dan memacu saya untuk membacanya,  walaupun saya kira akan ada diskusi filsafat mengenai topik ini. Memang ada, namun ditulis seperti diskusi biasa diantara mahasiswa. Tidaklah sulit untuk mengikutinya. 

Lalu, setelah membaca buku yang sangat menarik ini, saya mengambil kereta api dari Moscow menuju St. Petersburg di musim dingin untuk menemui penulis besar ini. Kami bertemu di apartemen di pojok jalan Grazhdanskaya 19 dimana Raskolnikov pernah tinggal. Sepintas lalu, Fyodor tampak seperti seorang penulis yang pemalu, pucat, dan tertutup, dan dia bergerak dengan amat kikuk dan tersentak-sentak. Namun bola matanya yang kelabu biru yang tajam memberi kesan karakter yang Tangguh, memandang saya dengan dalam seakan ingin melihat kedalam batin saya dan menilai saya. 

Sebenarnya, orang ini dikenal akan keberaniannya dan rasa keadilan yang sangat kuat, mengkritik korupsi yang dilakukan aparatur negara dan menolong petani-petani miskin. Namun saya tidak akan menanyakan mengenai suatu kejadian traumatis dalam hidupnya, karena mungkin sudah banyak orang yang bertanya kepadanya. Banyak orang tahu tentang apa yang terjadi di tanggal 22 Desember 1849, ketika Fyodor muda di kirim ke Lapangan Semyonov untuk menemui nasibnya – menghadap regu penembak hukuman mati, sebagai hukuman atas keterlibatannya dengan Petrashevsky Circle, sebuah kelompok sastrawan yang dianggap merongrong Tsar dan Gereja. Ketika regu penembak mulai membidik senapan mereka ke kelompok ini, seorang kurir datang ke lapangan itu melambaikan bendera putih pada menit terakhir. Dia mengumumkan pengampunan dari Tsar Nicholas, untuk “menunjukkan belas kasih”. Namun, hal ini bukanlah belas kasih, sebenarnya adalah suatu cara untuk menteror kelompok ini, suatu penyiksaan psikologis yang lalim. Fyodor menulis pengalaman ini di novel The Idiot (Si Dungu). Sebenarnya, seluruh cerita kehidupannya sendiri bisa ditulis dalam sebuah novel, dan akan menjadi novel yang luar biasa. 

Namun, saat ini saya lebih baik berbicara dengannya tentang penjahat di Crime and Punishment (Kejahatan dan Hukuman), jadi, tanpa membuang waktu saya mulai bertanya padanya:

 “Sang protagonis, Rodion Romanovich Raskolnikov, pria 23 tahun, bekas mahasiswa ilmu Hukum membunuh seorang perempuan tua untuk mendapatkan uangnya, dengan dua pukulan sisi tumpul sebuah kapak. Dengarkan: ‘Dia mengeluarkan kapak itu seperlunya, mengayunkannya dengan kedua tangan, hampir tidak sadar akan dirinya sendiri, dan hampir tanpa usaha, hampir secara mekanis, mengayun sisi tumpul kapak itu ke kepala perempuan itu.’ 

Hal ini direnungkan, direncanakan, pembunuhan berdarah, namun dia kira ini bukan kejahatan, dengarkan ini: ‘ Ketika dia sampai pada kesimpulan-kesimpulan ini, dia memutuskan bahwa dalam kasusnya ini tidak ada nada reaksi yang mengerikan, bahwa alasan dan keinginannya akan tetap tidak terganggu pada saat menjalankan gagasannya, karena alasan sederhana bahwa gagasannya adalah 'bukan kejahatan....' 

Bagaimana dia bisa berpikir bahwa pembunuhan yang mengerikan ini terhadap seorang perempuan tua tak berdaya bukanlah kejahatan?

 

Fyodor:

“Perempuan tua itu, Alyona Ivanovna, adalah seorang broker penggadaian, yang menghisap darah orang miskin sedemikian rupa sehingga dia digambarkan sebagai ‘Tidak lebih dari kehidupan seekor kutu, dari kumbang hitam, pada kenyataannya kurang, karena wanita tua itu melakukan hal yang membahayakan. Dia menindas kehidupan orang lain.’

Sementara Raskolnikov hidup dalam kemiskinan yang amat sangat di sebuah kamar sewaan di Saint Petersburg. ‘Ruangan itu memiliki penampilan terlanda kemiskinan dengan kertas dinding kuning kusam yang mengelupas dari dinding, yang sangat rendah atapnya sehingga seorang dengan ketinggian diatas rata-rata merasa tidak nyaman didalamnya dan merasa setiap saat kepalanya akan menyondol langit-langit. Dia tertindas oleh kemiskinan.”

 

Saya berkata:

“Ketika menjadi mahasiswa Raskolnikov menulis sebuah artikel berjudul ‘Tentang Kejahatan’, yang menurut penuturan teman karibnya Razumihin: ‘Ada saranan bahwa ada orang-orang tertentu yang bisa… hal ini, bukan sesungguhnya bisa melakukan, namun memiliki hak sempurna untuk melanggar moralitas dan kejahatan, dan bahwa hukum tidak berlaku bagi mereka. Hak akan perbuatan jahat? Tapi bukanlah disebabkan oleh pengaruh lingkungan?”

 

Fyodor berkata:

“Dalam artikel ini semua orang terbagi antara ‘yang biasa’ dan ‘yang luar biasa’. Orang biasa harus hidup berbakti, tidak berhak untuk melanggar hukum, karena, apa anda tidak melihat, mereka orang biasa. Tapi orang luar biasa berhak melakukan kejahatan apapun dan melanggar hukum secara apapun, hanya karena mereka orang luar biasa. Namun, Raskolnikov tidak berpendapat bahwa orang luar biasa niscaya akan melanggar moral, seperti yang anda namakan. Kenyataannya, Raskonikov meragukan apakah artikel itu dapat diterbitkan.  Dia mengisyaratkan bahwa seorang ‘luar biasa’ berhak… hal ini bukanlah hak resmi, namun hak batiniah untuk memutuskan dengan kesadarannya sendiri untuk melangkahi…. kendala-kendala tertentu, dan hanya dalam kasus dimana hal ini penting sebagai pemenuhan praktis akan pandangannya, kadang kala, mungkin, demi kebaikan seluruh kemanusiaan.”

 

Saya berkata:

“Kendati pandangannya akan kejahatan, Raskolnikov menemukan dirinya ditimbuni kebingungan, paranoia, dan kejijikan akan apa yang telah dia lakukan. Dia selalu bertempur dengan rasa salah dan takut dan menghadapi konsekuensi tindakannya. Konflik psikologis dilukiskan dengan sangat baik di buku ini, saya kira ini adalah bagian yang paling menarik dari novel ini, sangat intens, penuh ketegangan, tentang pergulatan batin sang pembunuh. Anda menggambarkan bagaimana Raskolnikov bergulat dengan kejahatan itu bahkan sejak pertama kali dia mengandung ide untuk membunuh perempuan tua itu.”

 

Fyodor, mengutip bagian pertama dari bab pertama:

“Ketika dia berada di jalanan dia berteriak, ‘Oh Tuhan, betapa menjijikkan hal ini semua! dan dapatkah saya, dapatkah saya mungkin… Tidak, ini semua omong kosong, ini semua sampah!’ dia menambahkan dengan tegas.  ‘Dan bagaimana hal yang mengerikan ini bisa masuk kedalam kepala saya? Betapa hati saya dapat begitu kotor. Ya, kotor di atas segalanya, menjijikkan, membencikan, membencikan! – dan sepanjang bulan ini saya berbuat…..’

Dan di saat lain dia berteriak: ‘Tuhan yang mahabaik!’ Dapatkah, dapatkah, bahwa saya akan benar-benar mengambil kapak, bahwa saya akan memukul nya di kepala, membelah tengkoraknya terbuka…. Bahwa saya akan menjinjit di darah kental hangat, memecahkan kunci, mencuri dan bergemetar; menyembunyikan, semuanya tercecer dalam darah… dengan kapak ini… Tuhan yang mahabaik, dapatkah hal itu terjadi?”

 

Saya berkata:

“Dan mimpi buruk yang dia alami selagi masa kanak-kanak menyaksikan pembunuhan berdarah kuda betina kecil yang menyeramkan: ‘Bawa kapak kepadanya! Matikan dia secepatnya,’ berteriak orang ketiga… Sang korban membuka moncongnya, menarik napas panjang, lalu mati…. ‘Papa! Mengapa mereka… membunuh… kuda malang itu!’ Dalam mimpinya dia terisak, tapi napasnya tersegal, dan kata-katanya meledak seperti tangisan dari himpitan dadanya.”

 

Fyodor:

“Walaupun demikian, hal itu tidak menghentikannya, sebuah percakapan sepele yang terdengar olehnya antara seorang mahasiswa dengan seorang polisi menguatkan tekadnnya untuk membunuh. Mahasiswa itu dengan sekenanya berkata: ‘Bunuhlah dia dan ambil uangnya, sehingga setelah itu dengan uang itu membantu ada berbakti kepada pelayanan semua manusia dan kebutuhan bersama’….’Tentu saja, dia tidak layak untuk hidup. Disamping itu, apalah gunanya hidup dari seorang perempuan yang sakit sifatnya, bodoh, dan sikap yang jelek di antara keberadaan selebihnya! Tidak lebih dari kehidupan seekor kutu, dari kumbang hitam, pada kenyataannya kurang, karena wanita tua itu melakukan hal yang membahayakan.’

 Raskolnikov berpikir tentang bagaimana samanya pemikiran mereka tentang perempuan ini dan berhubungan dengan teori ‘orang luar biasa’ nya, dia pikir hal ini bukanlah sekedar kebetulan, mengapa dia harus mendengar pada saat itu pembicaraan itu tentang ide-idea yang sama. Seakan telah ditakdirkan, sebuah isyarat yang menjurus, membuat Raskolnikov berpikir dia adalah orang yang terpilih untuk membunuh perempuan itu.”

 

Aku berkata:

“Lalu anda menulis bagaimana dia merencanakan membunuh perempuan itu, caranya dan waktunya. Bagaimana dia menyiapkan jerat untuk menyembunyikan kapak didalam mantelnya sehingga tidak terlihat dari luar, bagaimana dia mencuri kapak itu, bagaimana dia mengalihkan perhatian perempuan itu untuk sesaat, untuk mendapatkan waktu untuk mengayun kapak itu, apa yang berada di benaknya ketika ia berjalan dari apartemennya ke rumah perempuan itu, menaiki tangga menuju apartemen perempuan itu. Napasnya terenggah-enggah dan mukanya menjadi pucat. Untuk suatu saat di muka pintu dia berpikir ‘Akankah saya pulang saja?’ ‘Apakah saya tidak tampak jelas-jelas gelisah? Dia orang yang sukar percaya…. Mustinya saya tunggu sebentar… sampai jantung saya berhenti berdebar-debar?”

 

Fyodor:

“Namun ia melakukannya. Dia mengayunkan kapaknya lagi dan lagi dengan sisi tumpulnya di tempat yang sama. Darahnya menyembur seperti dari gelas yang dibalik, badannya jatuh kebelakang. Dia melangkah mundur, membiarkannya jatuh, dan dengan segera membungkuk diatas wajahnya; dia telah mati. Matanya seperti mencuat dari rongganya, alisnya dan seluruh wajahnya kusam dan menggeliat kekejangan.”

 

Saya berkata:

“Lalu tanpa terduga adik tiri perempuannya pulang ke rumah dan melihat badan yang sudah mati. ‘Ia menatap  mayat kakaknya dengan termanggu-manggu, putih seperti kertas dan tampak seperti tak mempunyai kekuatan untuk berteriak.”

 

Fyodor:

“Raskolnikov bergegas menuju kepadanya dengan kapak; mulut perempuan itu menciut menyedihkan, seperti mulut bayi, ketika bayi mulai ketakutan, menatap langsung kepada apa yang menakutkannya dan saat akan berteriak. Dan Lizaveta yang malang itu demikian sederhana dan sudah demikian luluh dan ketakutan sampai dia bahkan tidak mengangkat tangannya untuk melindungi wajahnya, walaupun gerakan itu adalah yang paling penting dan alamiah pada saat itu, karena kapak itu diangkat dimuka wajahnya. Ia hanya mengangkat tangan kirinya yang kosong, tapi bukan ke wajahnya, perlahan mengangkatnya kedepan seakan mendorong Raskolnikov untuk menjauh. Kapak itu mengayun dengan sisi tajam tepat di tengkoraknya dan terbelah dengan satu ayunan tepat di ubun-ubun. Lizaveta langsung jatuh berdedam. Raskolnikov kehilangan akal, menyambar buntelannya, menjatuhkannya lagi dan lari ke pintu keluar.”

 

Aku berkata:

“ Sangat tragis Fyodor…. Saya kira hukuman Raskolnikov mulai ketika ia harus membunuh Lizaveta yang tak bersalah karena ia berada di tempat yang salah pada saat yang salah. Pikiran ini muncul dalam hatinya: ‘Tapi amat aneh, mengapa saya hampir tidak berpikir tentang Lizaveta, seakan saya belum membunuhnya? Lizaveta! Perempuan berhati lembut yang malang, dengan mata yang lembut…. Perempuan-perempuan tersayang! Mengapa mereka tidak menangis? Mengapa mereka tidak mengerang? Mereka menyerahkan segalanya… Mata mereka sangat halus dan lembut…! Lembut!”

 Saya melihat mata Fyodor yang tajam biru keabu-abuan melunak, dia tidak bergerak, diam…. wajahnya yang pucat, kurus, berwarna tanah diliputi titik-titik merah gelap. Lalu kami berkata “Прощай” (selamat tinggal) dengan hangat.

 

TAMAT

 Ini adalah wawancara imajiner mengenang Fyodor Dostoyevsky.

 Sumber: Crime and Punishment oleh Fyodor Dostoyevsky.









Senin, 07 Januari 2019

Wawancara dengan Pearl


Photo: Wikimedia
Ada satu restoran di Qingdao, kota di Utara Tiongkok, yang konon katanya sering dikunjungi Pearl ketika mampir di kota ini. Letaknya menghadap ke laut yang berombak teluk Qingdao, yang pantainya berpasir kerikil.
Aku berjanjian bertemu dengan wanita elegan ini di restoran itu. Pearl datang memakai baju kuning muda berbintik-bintik bunga kecil, rambutnya diikat rapi ke belakang dan ke atas. Senyumnya bersemai hangat, menghangatkan dinginnya Qingdao hari tu. 

Aku tidak membuang-buang waktu langsung bertanya:
“Terus terang saja, pada awal mula saya tidak terlalu berminat membaca ‘The Good Earth’ setelah membaca ringkasannnya. Selain itu Tiongkok masa kini bukan lagi negara yang asing kebudayaannya, dan banyak sifat-sifat mereka yang sudah umum diketahui masyarakat dunia, bahkan sifat-sifat demikian sudah menjadi gambaran stereotype masyarakat Tiongkok. Misalnya mengenai peran isteri yang harus tunduk kepada suami, pandangan bahwa wanita yang cantik kakinya harus kecil sehingga kakinya diikat sejak kanak-kanak, dan mengenai kehendak untuk memiliki anak lelaki untuk penerus marga keluarga dan perusahaannya, konsep banyak anak banyak rejeki, tradisi menghargai dan menghormati orangtua, mengenai perkawinan yang diatur orangtua,  dan sebagainya. 

Hal-hal tersebut tidak lagi mengherankan di masa kini dan tidak membangkitkan rasa ingin tahu, lagipula sulit membayangkan bagaimana seorang pengarang Amerika bisa menulis dengan baik kehidupan di Tiongkok. Namun kesan itu sirna seketika membaca beberapa halaman pertama buku itu, tentang bagaimana tingkah laku si pemuda Wang Lung ketika bangun pada hari perkawinannya dan siap-siap berdandan.”

Pearl, dengan tersenyum:
“ Adegan ini ini kalau dibikin filem, bisa komikal, menggambarkan bagaimana orang-orang di sana jarang mandi untuk menghemat air karna air sangat langka di situ, namun pada hari perkawinannya Wang Lung harus ‘merelakan’ memandikan seluruh tubuhnya dengan air dengan leluasa, karena pada hari itu seorang wanita akan melihat tubuhnya, yang belum pernah terjadi sejak ia dimandikan ibunya di masa kanak-kanak.”

Aku berkata:
“Sangat orisinil, dan anda dapat menggambarkan  kehidupan petani miskin di daratan Utara Tiongkok dengan hidup.  Sebagaimana bagi ayah Wang Lung minum air hangat yang dicampur daun teh adalah suatu kemewahan, biasanya dia minum air hangat saja, namun ia dipaksa Wang Lung dengan tertawa untuk minum karena hari tu adalah hari perkawinannya.”

Pearl, seakan melucu mengutip bukunya:
“ Teh nya akan dingin kalau tidak diminum’ kata Wang Lung, ‘Benar-benar’, kata orang tua itu setalah menyadari hal itu, dan langsung dengan lahapnya meneguk the panas tersebut, dia terjerumus kedalam kepuasan hewani, seperti anak kecil yang terpatok dengan makanannya.
Namun dia tidaklah terlalu pelupa untuk melihat Wang Lung menuang air secara leluasa dari tungku ke bak kayu untuk mandi. Dia menegakkan kepalanya dengan berkata kepada anaknya: ‘Wah air sebanyak itu cukup untuk menyiram sebuah sawah hingga panen.”

Aku berkata:
“Anda juga dengan sangat baik menggambarkan bagaimana ketergantungan para petani akan alam, tanah, cuaca, terjangan banjir, serangan burung-burung, air dan kebau pembajak sawah. Walaupun hal ini sudah umum diketahui, sudah suatu fenomena universal, namun anda menggambarkannya dengan mengesankan.”

Pearl, mengutip bukunya bab VIII:
“Pada musim kemarau akhirnya air di dalam kolam mengering dan berubah menjadi adonan tanah liat, dan bahkan air di dalam sumur turun sangat rendah sehingga isterinya, O-lan, berkata kepadanya: ‘ Kalau anak-anak kita harus minum and orang tua itu harus mendapatkan minuman hangatnya, maka tanaman harus dibiarkan kering.’ Wang Lung menjawab dengan marah yamg berubah menjadi isakan: ‘Namun mereka akan kelaparan kalau tanaman kelaparan.” Benarlah bahwa hidup mereka begitu tergantung pada tanah.”

Aku berkata:
“Selanjutnya, setelah semua beras habis di masa gersang yang panjang, mereka terpaksa membunuh dan memakan kerbau pembajak sawah yang sudah demikan kurus kering. Dan setelah semuanya dimakan habis, di musim dingin mereka terpaksa hijrah ke kota yang makmur di Selatan untuk bertahan dan mencari makan. Ternyata tidak semudah itu mendapat pekerjaan dan pendapatannya kecil. Setelah mendirikan gubuk-gubuk plastik di pinggir dinding kota, mereka hidup dari makanan ransum jatah sumbangan dermawan dan lalu mereka mengemis. Pengalaman mengemis ini anda gambarkan dengan sangat mengenaskan.”

Pearl:
“ O-lan, ibunya, berperan sangat baik dalam mendidik anak-anaknya mengemis. Dia belajar dari pengalaman masa kecilnya, dan begitulah ia mencari makan sebelum dijual sebagai budak. ‘Kasian tuan yang baik – kasian nyonya yang baik. Dengan hati yang baik – perbuatang baik untuk hidup di surga. Uang kecil, recehan yang anda buang – cukup untuk memberi makan anak yang kelaparan.’ Namun dasar anak-anak, mereka anggap itu main-main dan tertawa-tawa. O-lan terpaksa ‘mendidik’ mereka dengan menggebuki mereka sehingga menangis. Demikian dia mendidik anak-anak mereka mengemis, digebuki lagi kalau tertawa.”

Aku berkata:
“Kemudian setelah mereka kembali ke kampung halaman di Utara, kehidupan Wang Lung berubah sedikit demi sedikit menjadi makmur karena ditopang oleh kesuburan tanah, hujan yang berkecukupan, walaupun kadang-kadang ada angin ribut dan serangan burung dan serangga. Dia menabung uang hasil penjualan panen dan sedikit demi sedikit membeli tanah yang membuatnya memperluas sawah ladangnya.”

Pearl:
“Demikianlah biasanya orang yang semalkin kaya, dia sanggup menyewa buruh untuk bekerja di sawahnya, dia tidak perlu lagi bekerja berat di sawah, membajak, menanam bibit dan menuai.  Dia tinggal menuai hasil penjualan panennya. Dengan kekayaan dan waktu sengganngya datanglah rasa bosan dan kesepian, dan dengan kekosongan itu datanglah pula godaan dan hasrat untuk menikmati wanita lain karena isterinya O-lan tidaklah cantik. Dia terpesona ketika melihat wanita-wanita cantik di sebuah rumah hiburan, yang secantik wanita di lukisan-lukisan yang selama ini dia kira khayalan belaka.”

Aku berkata:
“ Dalam buku ini anda selain mencakup perihal kehidupan petani Tiongkok dengan baik, anda juga mencakup tema universal seperti kehidupan petani miskin yang menjadi kaya, yang kemudian mengkehendaki hal-hal yang sebelumnya tak terbayangkan olehnya, sehingga ia  melampiaskan hawa nafsu dengan kekuasaan uang.  Juga universal adalah gelagat gagalnya putra-putranya untuk meneruskan usaha sang ayah yang mengolah sawah yang berlimpah-limpah, demikian pula hal pertentangan kelas atas dan kelas bawah dalam masyarakat agraris.”

Pearl:
“Ketika saya menulis di Tiongkok mengenai kebiasaan orang Tiongkok, tentang orang Tiongkok, saya menggunakan lidah Tiongkok…. Konesekuansinya adalah ketika…. Menulis tentang orang Tiongkok ceritanya bergulir dengan sendirinya dalam benak saya segenapnya dalam idom-idiom Tiongkok, dan saya secara harafiah menterjemahkannya sambil jalan.”

Aku berkata:
“ Dengan demikian anda bisa menulis dengan realistis mengenai kehidupan petani Tiongkok yang intim dengan alam. Gaya penulisan anda lugas dan sederhana, tidak berbunga-bunga. 
Tokoh utama wanitanya, O-lan isteri Wang Lung, tidaklah cantik, mukanya persegi, wajah yang jujur, hidungnya pendek, lebar dengan lubang hidung yang besar hitam, dan mulutnya lebar, ada luka di wajahnya. Matanya kecil dengan warna hitam yang membosankan, dan diisi dengan suatu kesedihan yang tidak jelas diungkapkan.”

Pearl:
“Yang paling disesalkan Wang Lung adalah telapak kaki O-lan yang besar karena tidak diikat dari kecil sesuai tradisi Tiongkok. Tapak kaki yang kecil dianggap sebagai ciri wanita yang menarik, sehingga sejak kecil kaki anak perempuan diikat, ini sangat menyakitkan lho, terutama buat anak-anak kecil. Tapi berkat tapak kakinya yang besar O-lan kuat berjalan dan bekerja berat di sawah membantu suaminya, sedangkan wanita dengan kaki yang kecil , tidak lebih dari 3 inci, tidak kuat berjalan dan bekerja.
Selain pekerja keras yang patuh kepada suami, O-lan adalah juga pilar keluarga itu, dialah yang banyak membuat keputusan-keputusan yang sulit, dan dia memikul keputusan-keputusan sukar ini dengan penuh ketabahan. “


Aku berkata:
“ Karakter yang luar biasa, dia sadar dia tidak cantik dan suaminya sebenarnya tidak mencintainya. Namun ia cukup bahagia karena dapat melahirkan beberapa anak laki-laki bagi suaminya. Tradisi Tiongkok sangat menghargai ibu yang dapat melahirkan anak laki-laki, karena anak laki-laki ini yang akan meneruskan nama keluarga dan diharapkan selanjutnya berbakti dan merawat kepada orang tuanya di usia lanjut.”

Pearl:
“Begitulah realitas kehidupan petani Tiongkok masa itu, dan mungkin pada umumnya demikian, urusan perkawinan dan berkeluarga menjadi urusan yang praktis. “

Aku berkata:
“ Saya juga mengamati dalam novel ini, tiadanya penggambaran roman cinta yang menggebu-gebu bak Romeo dan Juliet, tidak ada kata-kata mesra dan puisi yang mengesankan. Yang ada nafsu menggebu-gebu Wang Lun setelah bertemu wanita penghibur Lotus yang cantik mungil, yang jauh lebih cantik dari O-lan.  Wang Lung merasakan menemukan kemesraan cinta dengan Lotus yang kemudian di jadikan gundiknya, ia tidak dapat mendapatkan kemesraan ini dari O-lan. 
Namun hampanya rasa cinta dan kemesraan terhadap O-lan anda gambarkan dengan sangat mengesankan dalam adegan saat-saat terakhir O-lan yang menderita penyakit yang mematikan. Rasa hampa itu sangat mengesankan.”

Pearl, menggambarkan saat itu:
“O-lan mengigau dalam sakitnya:’Saya sadar bahwa saya jelek dan tidak patut dicintai…” Mendengar ini Wang Lung tidaj sanggup menahan perasaannya dan menggenggam tangan O-lan dan dia mengelusnya, sebua tangan besar dan keras, kaku bagaikan telah mati.  Dan dia bingung dan sedih akan dirtinya sendiri terutama karena apa yang dikatakan O-lan adalah benar adanya, dan meskipun ia menggenggam tangannya, dengan sungguh berharap bahwa O-lan dapat merasakan kelembutan Wang Lung kepadanya, dia malu karna Wang Lung tak dapat merasakan kelembutan, tidak ada mencairnya hati seperti yang dapat didapatkan Lotus dengan mengambekan bibirnya. Ketika ia mengambil tangan kaku yang sekarat itu dia tidak mencintainya, dan bahkan rasa kasihannya dinodai oleh rasa penolakan terhadapnya.”

TAMAT

Ini adalah wawancara imajiner mengenang Pearl S. Buck






Sabtu, 11 Agustus 2018

Wawancara dengan Albert


Photo: Wikimedia
Dia tinggal di Hôtel du Poirier di rue Ravignan di atas salah satu bukit-bukit di Montmatre, Paris. Tempat itu adalah salah satu tempat yang paling indah di Paris, namun kamar hotelnya gelap dan kosong, hanya ada satu meja untuk menulis.

Mudah dimengerti bagaimana di dalam kamar yang gelap ini, “seseorang merasa seperti orang asing, mendengar suara sebuah kota yang tiba-tiba menjadi asing. Saya bukan dari sini – juga bukan dari tempat lain yang manapun. Dan dunia menjadi hanyalah sebuah tempat tak dikenal di mana hatiku tidak bisa bersandar kemanapun”, begitu ditulisnya di buku catatannya.

Pagi itu dia kelihatan rileks dan menyapa aku dengan salaman yang hangat. Televisinya menyiarkan dengan lantang perayaan Worl Cup Perancis di Champ Elysees. Kerumunan orang seperti bergembira mabuk di nirwana dengan bendera Perancis yang melambai di mana-mana. Nampaknya dia sedang menonton perayaan ini di televisi sebelum aku mengetok pintunya.

Mengetahui bahwa dia adalah penggemar sepakbola yang kental, aku lalu berkata kepadanya:
“Selamat atas kemenangan Perancis di World Cup untuk kedua kalinya, anda pasti sangat bergembira.”

Matanya yang besar bersinar dan dia tersenyum lebar:
“Saya memang sangat bangga kepada mereka. Saya bisa melihat perencanaan yang teliti, kerja keras, disiplin yang ketat dan kecermelangan penembak muda Kylian Mbappé, penyerang tengah Paul Pogba yang gesit dan pertahanan yang tanpa menyerah dari N’Golo Kanté, Raphaël Varane dan Samuel Umtiti. Kerja sama tim yang bagus, sepak bola memang mengenai hal itu.  Dan juga seperti yang disebut Deschamps pelatih mereka: “Kami tidaklah bermain dengan luarbiasa tapi menunjukkan kualitas mental, dan mencetak empat gol bagaimanapun juga.” Pertandingan yang bagus.”

Aku berkata:
“Saya mendegar akan begitu bersemangatnya akan sepakbola, suatu saat anda pernah ditanya pilih sepakbola atau teater, jawaban anda adalah pastilah sepakbola tanpa ragu-ragu.”

Albert:
“Ya memang waktu saya masih muda saya bermain sebagai penjaga gawang untuk Racing University of Algiers, kami memenangkan African Champion Cup di saat itu. Saya belajar dari sepakbola tentang rasa kerjasama tim, kebersaudaraan dan kepentingan bersama,  ini adalah cara belajar yang bagus. Setelah beberapa lama setelah banyak yang saya lihat, pengetahuan saya secara pasti tentang moralitas dan tugas hidup manusia saya dapatkan dari olahraga ini.”

Aku berkata:
“ Percakapan yang bagus, Albert, saya bisa merasakan semangat yang tinggi dan keterlibatan anda akan sepakbola, penghargaan anda yang mendalam akan sepakbola, yang sangat kontras dengan rasa kekosongan, keterasingan, ketakperdulian di dalam hampir semua novel yang anda tulis. Sebagai contohnya bertolak belakang dengan rasa kegembiraan kemenangan anda atas World Cup, coba dengar apa yang anda tulis di pembukaan The Stranger yang menjadi salah satu pembukaan yang paling terkenal di dunia sastra : “Ibu meninggal hari ini, atau mungkin kemarin, aku tidak tahu.”

Albert:
“ Saya banyak meluangkan waktu di saat musim panas di pantai populer Les Sablettes di Algeria. Saya hidup melarat di masa kecil namun juga dengan semacam kesenangan lahiriah, dengan berenang, sinar matahari, pasir dan sepakbola. Saya lelaki Mediterranean, dengan badan sehat yang menyembah keindahan dan badan seperti orang Yunani kuno. Saya berada di antara kesengsaraan dan sinar matahari. Kesengsaraan menghentikan saya akan kepercayaan akan bahwa semua baik adanya di bawah matahari, dan akan sejarah; matahari mengajari saya bahwa sejarah bukanlah segalanya.  Kebersemangatan masa belasan tahun hidup saya terputus, ketika pada umur 17 tahun, dokter-dokter mendiagnosa TBC. Selalu bernapas pendek, saya terpaksa meninggalkan karir sepakbola yang cerah, dan akan terus menderita akan kambuhnya penyakit ini seumur hidup saya.

Pada umur 27 tahun saya meninggalkan Algeria setelah kehilangan pekerjaan ketika koran Alger républicain berhenti beroperasi. Saya mendapatkan pekerjaan di koran Paris-Soir yang membayar tiga ribu francs per bulan untuk bekerja lima jam per hari kerja, dalam pengaturan kerja yang terasa asing. Pekerjaan saya di koran ini tidaklah menarik, saya ditugasi untuk menata halaman empat, mengatur kolom-kolom dan jenis huruf yang berantakan. Setelah bekerja di pagi hari maupun malam hari, saya akan kembali ke kamar hotel saya yang gelap di Montmartre. Suatu ketika, dari atas Montmartre saya melihat Paris seperti kabut raksasa di bawah curah hujan, sebuah kota yang terasa penuh sesak namun juga kosong, dimana di mana hati saya tidak bisa bersandar kemanapun. Saya selalu melihat Paris dengan pandangan mata orang asing.”

Aku berkata:
“Bagaimanapun di  dalam kamar hotel di Montmartre yang gelap itu anda menulis novel anda yang terkenal The Stranger, novel dengan pembukaan yang terkenal itu, tentang Meursault yang mengalami perasaan terpisah dari kenyataan yang membuatnya serasa orang asing di kota kelahirannya di Algeria. Cerita itu memiliki rasa absurdisme yang amat kental, perasaan terputus segenapnya dari orang-orang lain, tidak berdampak, terkucil dan hilangnya makna hidup. Apakah makna absurdisme bagi anda?”

Albert:
 “Pada hari prosesi pemakaman ibunya di Marengo, perasaan yang paling intens yang dialaminya adalah teriknya matahari, silaunya langit yang tak tertahankan, yang membuatnya merasa pembuluh darah nya berdebar di keningnya.  Pemakaman ibunya sendiri tidak memberi suatu makna apapun baginya, dia tidak menangis, dia tidak peduli untuk melihat tubuh ibunya di dalam peti untuk terakhir kalinya.

Perjalanan kembalinya ke Algeria setelah pemakaman terasa bagaikan melegakan baginya. Setelah sampai dia memutuskan untuk pergi berenang dan bertemu Marie Cardona di kolam renang, lalu mereka berenang bersama, di sore hari mereka menonton filem komedi dari Fernadel dan bercinta di tempat tidur di malam harinya.

Bagaimanapun,  di keesokan sorenya dari balkoninya ia berkata: “Sebuah hari Minggu lagi yang berlalu, ibu dikuburkan, besork kembali bekerja, dan, benar-benar, tidak ada satu hal pun yang berubah.”

Aku berkata:
“Pandangan “Mediterranean” ini yang menjangkar pandangan anda kepada tempat di mana anda dibesarkan dan untuk membangkitkan rasa harmonis dan penghargaan akan kehidupan lahiriah.
Badan yang kecokelatan karena matahari menikmati pantai-pantai dan sinar matahri Algeria, berenang, bermain sepakbola, minum-minum dan gadis-gadis. Berlawanan dengan kehidupan Algeria yang penuh sinar matahari, Meursault berkata tentang Paris: “sebuah kota yang rada kotor, menurut saya. Banyak burung-burung dara dan halaman rumah yang gelap. Dan manusianya memiliki muka yang tercuci bersih, wajah yang putih.”

Namun matahari yang panas terik yang sama seperti pada hari pemakaman ibunya, yang memberinya rasa sakit di keningnya, dan yang membuat semua pembuluh darahnya berdebar di bawah kulitnya, cahaya matahari yang bersilau yang sama dan panas teriknya matahari yang sama yang menyebabkannya menembak mati seorang Arab, tidak ada alasan lain selain silaunya cahaya matahari yang meletihkan dan panas teriknya matahari.

Cerita ini menyarankan bahwa meskipun Meursault menikmati kehidupan di bawah sinar matahari Mediterranean, di sisi lain cahaya matahari yang membutakan menyebakannya tidak dapat memberi makna akan pemakaman ibunya, dan panas terik matahari yang sama, bukan sebab lain, yang membuatnya menembak mati seorang Arab.

Inikah alasan mengapa anda memberi judul novel ini The Stranger, hidup secara intens kehidupan Mediterranean, menikmati matahari, badan kecokelatan telanjang di pantai-pantai, gadis-gadis menari dengan berkeringat, namun terputus, tak peduli dan terkucilkan dari kehidupannya?”

Albert, mengutip novelnya The Fall:
“Saya ada di sini tanpa berada di sini: Saya absen pada saat ketika saya mengambil hampir seluruh ruang. Saya tidak pernah benar-benar tulus dan antusias kecuali ketika saya dulu menikmati olah raga, dan di dalam ketentaraan, ketika saya dulu bermain sandiwara untuk menghibur diri kami sendiri. Dalam kedua hal itu ada aturan main, yang tidak serius namun yang kami nikmati seakan-akan serius. Sampai sekarangpun, pada pertandingan hari Minggu di stadion yang penuh sesak, dan di dalam teater, yang saya cintai dengan penuh gairah, di situlah di kedua tempat itu saja di dunia, saya merasa murni.

Namun siapa yang bisa menganggap tingkah laku demikian adalah sah di hadapan cinta, kematian dan penghasilan orang miskin? Namun apa yang bisa kita perbuat? Saya bisa membayangkan cinta Isolde hanya di dalam novel atau di atas panggung. Kadang kala orang di tempat tidur kematiannya seakan meyakinkan saya akan peranan mereka. Kalimat –kalimat yang diucapkan oleh klien-klien saya yang malang selalu memberi kesan akan pola yang sama. Sehingga, hidup di antara manusia tanpa memperhatikan kepentingan mereka, saya tidak dapat mempercayai komitmen-komitmen yang saya buat. Saya cukup sopan dan malas untuk hidup sesuai dengan apa yang diharapkan dari profesi saya, keluarga saya atau kehidupan bermasyarakat saya, namun setiap saat dengan sejenis rasa acuh yang menodai segalanya.”

Aku berkata:
“ Dalam pentutupan The Stranger, Mersault yang menghadapi hukuman mati dengan guillotine mengakui bahwa eksistensi tidak bermakna, namun ia sekarang bersuka cita menikmati rasa sebagai orang hidup.”

Albert, mengutip Meursault:
“ Dan saya, juga, merasa siap untuk mengulangi kehidupan dari awal. Hal itu seakan-akan rasa marah yang meluap-luap telah mencuci bersih diri saya, mengosongkan saya akan harapan, dan, menerawang ke langit yang gelap yang disinari dengan tanda-tanda dan bintang-bintang, untuk pertama kalinya, pertama kali, saya membuka hati saya akan ketidaperdulian yang jinak dari alam semesta.  Untuk merasakan sebagai diri saya sendiri, memang, sangat bersahabat, membuat saya sadar bahwa saya berbahagia, dan saya masih bahagia. Untuk meraih segalanya, bagi saya agar tidak terlalu merasa kesepian, hal yang masih bisa diharapkan adalah bahwa pada hari pemacungan saya akan ada banyak penonton yang menyambut saya dengan lolongan: pancung dia.”

TAMAT
Ini adalah wawancara imajiner mengenang Alber Camus.


Senin, 02 Juli 2018

Wawancara dengan Victor


Photo: Wikimedia
Pada Jum’at pagi itu aku buru-buru menuju kafe Le Consulat untuk berbincang-bincang dengan Victor. Aku sangat bersemangat untuk menemuinya karena aku punya banyak pertanyaan tentang novelnya yang terkenal The Hunchback of Notre-Dame (Si Bongkok dari Notre-Dame). Ketika aku sampai dia sudah di sana menyeruput kopi une noisette yang hangat.


Aku berkata:
Bonjour Monsiuer, terimakasih untuk meluangkan waktu di tengah kesibukan anda. Saya punya banyak pertanyaan, mudah-mudahan kita bisa mendiskusikannya semua dan menyelesaikannya tepat pada waktunya.

Victor:
“Katakanlah, mon amie…”

Aku berkata:
“Monsiuer, judul asli dari novel anda yang terkenal “The Hunchback of Notre-Dame” sebenarnya adalah “The Notre-Dame of Paris” (Notre-Dame di Paris). Dengan judul asli ini apakah anda ingin menekankan kesejarahan Notre-Dame ataukah drama kemanusiaan yang dipanggungkan di Notre-Dame?”

Victor:
“Seperti yang diceritakan di Buku 3 bab 1 katedral Notre-Dame telah menua disebakan oleh banyaknya degradasi dan pengrusakan yang disebakan baik oleh waktu maupun oleh tindakan manusia. Waktu telah menyayat permukaannya di sana sini, dan menggerogoti dimana-mana; revolusi politik dan agama telah mengoyak jubahnya yang indah,  ukir-ukiran dan patung-patungnya, memecahkan jendela mawarnya, merusakkan kalung arabesques dan hiasan-hiasan mungilnya, menggulingkan patung-patungnya.
Lalu usaha restorasi membuatnya bahkan lebih norak dan dungu. Restorasi itu telah menerapkan, atas nama selera tinggi, pada luka-luka bagunan arsitektur gothic ini, kenorakan yang menyedihkan, pita-pita dari marmer, bola wool dari metal, ornamen berbentuk telur yang diliputi kusta sebenarnya, aksara-aksara asing, lingkaran spiral, gorden-gorden, karangan bunga, bingkai-bingkai, api batu, awan tembaga, malaikat cupid yang tembam, malaikat bocah berpipi gemuk.

Namun Notre-Dame adalah juga rumah bagi Quasimodo, si Bongkok buruk rupa dengan hati emas, juga rumah bagi Claude Frollo, pastor yang alim yang berubah menjadi setan, yang mengadopsi Quasimodo yang ditelantarkan orangtuanya selagi kecil di sebuah tempat tidur di Notre-Dame. Dan Esmeralda mengambil perlindungan Notre-Dame untuk beberapa saat bersembunyi dari kejaran tentara kerajaan. Notre-dame adalah juga panggung dimana Esmeralda, Frollo dan Jehan jatuh mati dengan tragis.”

Aku berkata:
“Penderitaan Quasimodo, si Bongkok dalam novel ini, sangat keterlaluan diluar kemanusiaan. Sebagai anak kecil dia ditelantarkan karena buruk rupanya, badannya bengkok, Cuma punya satu mata, kepalanya terletak langsung di punggungnya, tulang belakangnya melengkung, tulang dadanya menonjol, dan kakinya bengkok.
Para ibu yang melihat anak ini di tempat tidur Notre-Dame begitu terperanjat sehingga salah seorang bertanya: “Apakah ini, mbak?”, dan ibu yang lain berkata: “ apakah yang yang akan terjadi terhadap kita, kalau demikianlah anak-anak dibuat sekarang?”  dan yang seorang lagi: “pastilah berdosa untuk melihat anak ini.”

Victor:
“ Dia kemudian kehilangan pendengarannya sebagai pembunyi lonceng Notre-Dame, lonceng-lonceng itu telah merusakkan gendang telinganya, dia menjadi tuli.
Namun penderitaannya tidak sebanding dengan penderitaan Stephen Hawking. Dia didiagnosa dengan penyakit amyotrophic lateral sclerosis (ALS), suatu bentuk penyakit syaraf penggerak, ketika berumur 22 tahun dan tidak diharapkan untuk bertahan hidup beberapa tahun lagi. Penyakit ini menyebabkan kelemahan dari syaraf penggerak atas atau bawah, atau keduanya. Dia tidak bisa jalan, bergerak dan harus duduk di kursi roda, juga tidak bisa menulis dan berbicara. Dia lalu mulai menggunakan menu yang dikontrol oleh sistem komputer untuk berkomunikasi.

Aku berkata:
“Namun orang-orang menghormati dan menyayangi Stephen Hawking karena kecerdasannya, dimana hidupnya digunakan untuk memecahkan misteri alam semesta melalui fisika. Saya bisa membayangkan betapa menjengkelkannya buat dia untuk mempunyai penyakit yang menghambat pergerakannya dalam pencariannya akan “teori untuk semua hal.”
Dalam hal Quasimodo berbeda, orang-orang mengolok-oloknya selalu, dia bahkan dimahkotai Paus Orang-Orang Dungu waktu Festival Orang-Orang Dungu.”

Victor:
“Yang paling sulit baginya adalah kesadaran akan buruk rupanya di depan Esmeralda, dipandang oleh wanita yang dia sayangi dan cintai amat sangat… Di Buku 9 Bab 2 dia berkata kepada Esmeralda: “Aku menakutkan kamu. Aku sangat buruk, bukankah begitu? Janganlah memandang aku; dengarkan aku sajalah.”

Aku berkata:
“Ya, itu kejadian yang sangat menyayat hati, untuk merasa tidak nyaman di depan wanita yang dia sangat cintai hingga dia menyabung nyawa untuk menyelamatkan wanita ini dari hukuman mati, dan menggotongnya ke tempat suaka Notre-Dame sebagai pelarian.”

Victor:
“Lebih dari itu, di Buku 9 Bab 4 diceritakan: “Suatu saat Quasimodo datang pada saat Esmeralda sedang membelai Djali, kambing kesayangannya. Dia berdiri tak bergerak untuk beberapa menit di depan persektuan anggun dari kambing dan wanita gypsy ini; lalu akhirnya ia berkata, menggelengkan kepalanya yang besar dan salah bentuk, --“Nasib tak beruntung aku bahwa aku masih tampak teralu banyak seperti manusia. Aku akan sangat suka untuk menjadi hewan seperti kambing itu.”  Wanita itu memandangnya dengan penuh keheranan.”

Mendengar itu, aku terdiam sejenak… dan kemudian seakan ingin menghibur Quasimodo akan nasibnya yang tak beruntung aku berkata:
“Saya tak dapat melupakan kejadian di Buku 8 Bab 6, ketika Quasimodo menyelamatkan Esmeralda dari hukuman mati, yang dengan sergap menuju ke ke dua orang algojo seperti seekor kucing yang jatuh dari atap, menonjok mereka dengan tinjunya yang besar, menggotong Esmeralda dengan satu tangan, seperti seorang anak memegang bonekanya, dan berlari balik ke dalam Notre-Dame dengan satu tujuan, menggotong gadis muda di atas kepalanya dan berseru dengan suara lantang, ----“Suaka!”
Dan lalu ,”Suaka! Suaka!” para penonton bersorak-sorak; dan tepuk tangan beribu tangan membuat mata tunggal Quasimodo bersinar dengan kegembiraan dan kebanggaan.”

Victor:
“Ya di masa abad pertengahan hukum menyatakan bahwa Notre-Dame adalah tempat kebal hukum. Esmeralda tidak bisa dilukai oleh para algojo asalkan ia tetap tinggal di dalam dinding-dinding Notre-Dame.”

Aku berkata:
“Namun Notre-Dame adalah juga rumah dan tempat suaka bagi Claude Frollo pastor alim yang berubah setan. Orang ini pada mulanya adalah bagaikan malaikat yang mengadopsi Quasimodo walaupun cacat, buruk rupa, demi kasihnya bagi Jehan adik kecilnya sedarah.”

Victor:
“Dan Buku 4 bercerita: “Belas-kasih Claude bertambah dengan pandangan butuk rupa ini; dan ia bersumpah dalam hatinya untuk memelihara anak ini demi kasihnya akan adiknya, agar, apa saja kesalahan Jehan di masa depan, ia akan memiliki di sampingnya amal kasih ini yang dilakukan demi dia.
Ketika masih kecil, Quasimodo sering mencari pengungsian di antara kaki Claude Frollo, ketika anjing dan anak-anak menggonggong kepadanya. Claude Frollo juga mengajarnya berbicara, membaca dan menulis. Kita bisa berkata kemudian, karena rasa terimakasihnya Quasimodo mengasihi pastor ini melebihi seekor anjing, seekor kuda, seekor gajah menyayangi tuannya.”

Aku berkata:
“Lalu bagaimana jadinya pastor yang penuh kasih ini, malaikat ini, berubah menjadi  setan tukang sihir?”

Victor:
“dari dalam biara, reputasinya sebagai orang terpelajar terdengar oleh orang-orang. Dia belajar obat-obatan, astrologi dan ilmu kepercayaan. Obsesi terbarunya adalah ilmu kimia karena ia ingin membuat emas dari batu. Di masa abad pertengahan kita bisa bilang bagaimanapun, bahwa ilmu pengetahuan dari Mesir, tentang kerasukan dan sihir, bahkan yang paling putih, telah dianggap sebagai tindakan sihir.”

Aku berkata:
“Namun malaikat ini berubah menjadi setan sebenarnya, setelah dia jatuh cinta sedalamnya dengan Esmeralda, atau lebih tepatnya setelah dia terperangkap nafsu akan Esemeralda.”

Victor:
“Di dalam hatinya Claude Frollo percaya bahwa kejadian yang akan menimpa Esmeralda adalah takdir, di Buku 7 bab 5 diceritakan bagaimana Claude Frollo berkata dengan suara yang seperti datang dari kedalaman keberadaannya: “Lihatlah ini sebuah simbol bagi semuanya. Wanita itu terbang, ia gembira, ia baru dilahirkan; ia mencari mata air, udara terbuka, kebebasan: oh ya! namun biarkan ia bersentuhan dengan jaringan berbahaya, dan laba-laba yang timbul dari sana, laba-laba yang bersembunyi! Penari yang malang! malang, nasib lalat yang telah ditakdirkan! Biarkan hal-hal demikian terjadi, tuan Jacques, itu adalah takdir! Aduh! Claude engkaulah laba-laba itu.”

Aku berkata:
“Saya bisa melihat bahwa di babak ini Claude Frollo berbicara tentang bagaimana lalat itu mencari udara terbuka, sinar di hari yang terang, tapi tidak melihat kaca jendela yang menghadang ke dunia luar. Lalat itu tidak memiliki indera untuk menyadari jebakan sarang laba-laba di muka jendela dan ia terbang langsung dengan kepala di muka ke jaringan laba-laba.”

Victor:
“Kemudian ia berkata: “ Dan kalaupun engkau dapat meloloskan diri dari jaringan laba-laba yang ketat itu, dengan sayap mungilmu, engkau percaya akan bisa mencapai cahaya di luar? Aduh! kaca itu ada di depan, hadangan yang tak kelihatan, dinding kristal itu, lebih keras dari tembaga, yang memisahkan semua filsafat dari kebenaran, bagaimana engkau akan melampauinya? Oh, kesombongan ilmu! berapa banyaknya orang cerdik pandai terbang dari jauh, untuk menabrakan kepalanya kepadamu! Berapa banyak sistem sia-sia melemparkan diri mereka berdengung terhadap panel kekal itu.”

Aku berkata:
“Demikian pula kejadian yang menimpa Esmeralda, dia selamat dari hukuman mati karena Quasimodo melepaskan dan menyelamatkannya, membawanya ke suaka di Notre-Dame. Juga ketika para gelandangan menyerbu Notre-Dame, ia diselamatkan oleh Pierre Gringoire. “suaminya di atas kertas”, namun ia ternyata ia dijebak dan tertangkap lagi oleh Frollo.
Suster Gudule, ibunya yang sebenarnya, berusaha membebaskan Esmeralda dari jebakan Frollo, namun usaha ini gagal ketika Esmeralda tiba-tiba mengetahui bahwa Phoebus, lelaki yang ia cintai, berada di dalam pasukan yang mencarinya, shingga Esmeralda berteriak memanggil namanya agar menyelamatkan dia. Kejadian ini membuat pasukan kerajaan mengetahui persembunyian Esmeralda dan menangkapnya. Dengan demikian nasibnya telah ditentukan.”

Victor:
“Seperti bagaiman Dante menggambarkan Beatrice sebagai “Si Cantik dalam jubah putih”, demikian pula si cantik Esmeralda mati, dalam jubah putih. Esmeralda mati karena tindakannya sendiri karena cinta, walaupun bertepuk sebelah tangan, sebenarnya hanyalah cinta naksir. Mereka hanya bertemu beberapa kali, seperti halnya Dante dengan Beatrice, hanya beberapa kali. Tapi Phoebus tidak mencintai Esmeralda, ia hanya ingin tidur dengannya. Dia tidak mendengar Esmeralda memanggil namanya minta tolong dari tempat persembunyiannya, kejadian ini menyebabkan Esmeralda tertangkap menuju kematiannnya, dalam jubah putih.”

Aku berkata:
“ Anda tahu, Stephen Hawking yang menghabiskan hidupnya mengejar “teori untuk semua hal”, suatu saat ketika ditanya hal apakah yang paling banyak dipikikannya sehari-hari, dia berkata: “Wanita. Mereka adalah sebuah misteri yang utuh.”

Ini adalah wawancara imajiner mengenang Victor Hugo