Begitu kulihat pintu agak
terbuka dalam sekelebat aku berlari keluar. Kuturuni tangga dari lantai dua ke
lantai satu yang langsung menuju halaman. Halaman itu berumput tebal, dengan
pagar yang tak terlalu tinggi yang dengan mudah kupanjati dan aku terus terjun
keluar. Alangkah leluasanya rasanya berada di luar, aku dengan girang berlari di
trotoar jalan tanpa menengok kanan kiri, aku hanya ingin menghirup segarnya
udara luar yang masih pagi ini. Kulintasi ayam-ayam yang berkotek-kotek panik
ketika aku lewati. Terus aku berlari, melewati penjual rokok, kedai bakso dan
tempat parkir motor. Untung tidak ada yang menghalangi.
Aku memang selalu menunggu
kesempatan seperti ini untuk ngabur ke luar. Alasannya sih mencari udara segar,
tapi sebenarnya aku rindu sama si Lu Lu. Dia itu piaraannya sang Youtuber yang
ngetop se-antero nusantara
yang rumahnya terletak beberapa jalanan dari sini. Iya, namanya Lu Lu. Dengan
tak sabar aku terus berlari, kulewati klinik dokter hewan, mudah-mudahan dia
tidak memergoki aku dan mengenali aku, janganlah, bisa panjang ceritanya kalau
kepergok. Tak kusadari kadang-kadang ada mobil lewat di sebelah aku berlari,
hampir menyerempet aku. Yang lebih gawat adalah sepeda motor ojek online, atau lebih
dikenal sebagai ojol, yang meluncur dari belakang ataupun depan. Kadang-kadang
naik trotoar mengusik para pejalan kaki dengan membunyikan klaksonnya yang
nyaring. Berisik,mengganggu ketenangan alam pagi itu.
Selanjutnya baca di novel pertama saya di link Gramedia ini, silahkan login/daftar untuk membacanya:
Judul bukunya yang terkenal Crime and
Punishment (Kejahatan dan Hukuman) tidaklah menganjurkan bahwa buku ini adalah
sebuah novel, melainkan bunyinya bagaikan sebuah buku filsafat atau sosial politik. Jadi, pada
awalnya buku ini tidak menarik bagi saya karena sudah ada begitu banyak buku
yang menulis tentang topik ini. Namun Ketika saya membaca ulasan tentang buku
ini, kelihatannya menarik dan memacu saya untuk membacanya, walaupun saya kira akan ada diskusi filsafat
mengenai topik ini. Memang ada, namun ditulis seperti diskusi biasa diantara
mahasiswa. Tidaklah sulit untuk mengikutinya.
Lalu, setelah membaca buku yang sangat menarik
ini, saya mengambil kereta api dari Moscow menuju St. Petersburg di musim
dingin untuk menemui penulis besar ini. Kami bertemu di apartemen di pojok
jalan Grazhdanskaya 19 dimana Raskolnikov pernah tinggal. Sepintas lalu, Fyodor
tampak seperti seorang penulis yang pemalu, pucat, dan tertutup, dan dia
bergerak dengan amat kikuk dan tersentak-sentak. Namun bola matanya yang kelabu
biru yang tajam memberi kesan karakter yang Tangguh, memandang saya dengan
dalam seakan ingin melihat kedalam batin saya dan menilai saya.
Sebenarnya, orang ini dikenal akan
keberaniannya dan rasa keadilan yang sangat kuat, mengkritik korupsi yang
dilakukan aparatur negara dan menolong petani-petani miskin. Namun saya tidak
akan menanyakan mengenai suatu kejadian traumatis dalam hidupnya, karena
mungkin sudah banyak orang yang bertanya kepadanya. Banyak orang tahu tentang apa
yang terjadi di tanggal 22 Desember 1849, ketika Fyodor muda di kirim ke
Lapangan Semyonov untuk menemui nasibnya – menghadap regu penembak hukuman
mati, sebagai hukuman atas keterlibatannya dengan Petrashevsky Circle, sebuah
kelompok sastrawan yang dianggap merongrong Tsar dan Gereja. Ketika regu
penembak mulai membidik senapan mereka ke kelompok ini, seorang kurir datang ke
lapangan itu melambaikan bendera putih pada menit terakhir. Dia mengumumkan
pengampunan dari Tsar Nicholas, untuk “menunjukkan belas kasih”. Namun, hal ini bukanlah belas
kasih, sebenarnya adalah suatu cara untuk menteror kelompok ini, suatu
penyiksaan psikologis yang lalim. Fyodor menulis pengalaman ini di novel The
Idiot (Si Dungu). Sebenarnya, seluruh cerita kehidupannya sendiri bisa ditulis
dalam sebuah novel, dan akan menjadi novel yang luar biasa.
Namun, saat ini saya lebih baik berbicara
dengannya tentang penjahat di Crime and Punishment (Kejahatan dan Hukuman),
jadi, tanpa membuang waktu saya mulai bertanya padanya:
“Sang protagonis, Rodion Romanovich
Raskolnikov, pria 23 tahun, bekas mahasiswa ilmu Hukum membunuh seorang
perempuan tua untuk mendapatkan uangnya, dengan dua pukulan sisi tumpul sebuah
kapak. Dengarkan: ‘Dia mengeluarkan kapak itu seperlunya, mengayunkannya dengan
kedua tangan, hampir tidak sadar akan dirinya sendiri, dan hampir tanpa usaha,
hampir secara mekanis, mengayun sisi tumpul kapak itu ke kepala perempuan itu.’
Hal ini direnungkan, direncanakan, pembunuhan
berdarah, namun dia kira ini bukan kejahatan, dengarkan ini: ‘ Ketika dia
sampai pada kesimpulan-kesimpulan ini, dia memutuskan bahwa dalam kasusnya ini
tidak ada nada reaksi yang mengerikan, bahwa alasan dan keinginannya akan tetap
tidak terganggu pada saat menjalankan gagasannya, karena alasan sederhana bahwa
gagasannya adalah 'bukan kejahatan....'
Bagaimana dia bisa berpikir bahwa pembunuhan
yang mengerikan ini terhadap seorang perempuan tua tak berdaya bukanlah
kejahatan?
Fyodor:
“Perempuan tua itu, Alyona Ivanovna, adalah
seorang broker penggadaian, yang menghisap darah orang miskin sedemikian rupa
sehingga dia digambarkan sebagai ‘Tidak lebih dari kehidupan seekor kutu, dari
kumbang hitam, pada kenyataannya kurang, karena wanita tua itu melakukan hal
yang membahayakan. Dia menindas kehidupan orang lain.’
Sementara Raskolnikov hidup dalam kemiskinan
yang amat sangat di sebuah kamar sewaan di Saint Petersburg. ‘Ruangan itu memiliki
penampilan terlanda kemiskinan dengan kertas dinding kuning kusam yang
mengelupas dari dinding, yang sangat rendah atapnya sehingga seorang dengan
ketinggian diatas rata-rata merasa tidak nyaman didalamnya dan merasa setiap
saat kepalanya akan menyondol langit-langit. Dia tertindas oleh kemiskinan.”
Saya berkata:
“Ketika menjadi mahasiswa Raskolnikov menulis
sebuah artikel berjudul ‘Tentang Kejahatan’, yang menurut penuturan teman
karibnya Razumihin: ‘Ada saranan bahwa ada orang-orang tertentu yang bisa… hal
ini, bukan sesungguhnya bisa melakukan, namun memiliki hak sempurna untuk melanggar
moralitas dan kejahatan, dan bahwa hukum tidak berlaku bagi mereka. Hak akan
perbuatan jahat? Tapi bukanlah disebabkan oleh pengaruh lingkungan?”
Fyodor berkata:
“Dalam artikel ini semua orang terbagi antara
‘yang biasa’ dan ‘yang luar biasa’. Orang biasa harus hidup berbakti, tidak
berhak untuk melanggar hukum, karena, apa anda tidak melihat, mereka orang
biasa. Tapi orang luar biasa berhak melakukan kejahatan apapun dan melanggar
hukum secara apapun, hanya karena mereka orang luar biasa. Namun, Raskolnikov
tidak berpendapat bahwa orang luar biasa niscaya akan melanggar moral, seperti
yang anda namakan. Kenyataannya, Raskonikov meragukan apakah artikel itu dapat
diterbitkan. Dia mengisyaratkan bahwa
seorang ‘luar biasa’ berhak… hal ini bukanlah hak resmi, namun hak batiniah
untuk memutuskan dengan kesadarannya sendiri untuk melangkahi…. kendala-kendala
tertentu, dan hanya dalam kasus dimana hal ini penting sebagai pemenuhan
praktis akan pandangannya, kadang kala, mungkin, demi kebaikan seluruh
kemanusiaan.”
Saya berkata:
“Kendati pandangannya akan kejahatan,
Raskolnikov menemukan dirinya ditimbuni kebingungan, paranoia, dan kejijikan
akan apa yang telah dia lakukan. Dia selalu bertempur dengan rasa salah dan
takut dan menghadapi konsekuensi tindakannya. Konflik psikologis dilukiskan
dengan sangat baik di buku ini, saya kira ini adalah bagian yang paling menarik
dari novel ini, sangat intens, penuh ketegangan, tentang pergulatan batin sang
pembunuh. Anda menggambarkan bagaimana Raskolnikov bergulat dengan kejahatan
itu bahkan sejak pertama kali dia mengandung ide untuk membunuh perempuan tua
itu.”
Fyodor, mengutip bagian pertama dari bab
pertama:
“Ketika dia berada di jalanan dia berteriak,
‘Oh Tuhan, betapa menjijikkan hal ini semua! dan dapatkah saya, dapatkah saya
mungkin… Tidak, ini semua omong kosong, ini semua sampah!’ dia menambahkan
dengan tegas. ‘Dan bagaimana hal yang
mengerikan ini bisa masuk kedalam kepala saya? Betapa hati saya dapat begitu kotor.
Ya, kotor di atas segalanya, menjijikkan, membencikan, membencikan! – dan
sepanjang bulan ini saya berbuat…..’
Dan di saat lain dia berteriak: ‘Tuhan yang
mahabaik!’ Dapatkah, dapatkah, bahwa saya akan benar-benar mengambil kapak,
bahwa saya akan memukul nya di kepala, membelah tengkoraknya terbuka…. Bahwa
saya akan menjinjit di darah kental hangat, memecahkan kunci, mencuri dan
bergemetar; menyembunyikan, semuanya tercecer dalam darah… dengan kapak ini…
Tuhan yang mahabaik, dapatkah hal itu terjadi?”
Saya berkata:
“Dan mimpi buruk yang dia alami selagi masa
kanak-kanak menyaksikan pembunuhan berdarah kuda betina kecil yang menyeramkan:
‘Bawa kapak kepadanya! Matikan dia secepatnya,’ berteriak orang ketiga… Sang
korban membuka moncongnya, menarik napas panjang, lalu mati…. ‘Papa! Mengapa
mereka… membunuh… kuda malang itu!’ Dalam mimpinya dia terisak, tapi napasnya tersegal,
dan kata-katanya meledak seperti tangisan dari himpitan dadanya.”
Fyodor:
“Walaupun demikian, hal itu tidak
menghentikannya, sebuah percakapan sepele yang terdengar olehnya antara seorang
mahasiswa dengan seorang polisi menguatkan tekadnnya untuk membunuh. Mahasiswa
itu dengan sekenanya berkata: ‘Bunuhlah dia dan ambil uangnya, sehingga setelah
itu dengan uang itu membantu ada berbakti kepada pelayanan semua manusia dan
kebutuhan bersama’….’Tentu saja, dia tidak layak untuk hidup. Disamping itu,
apalah gunanya hidup dari seorang perempuan yang sakit sifatnya, bodoh, dan
sikap yang jelek di antara keberadaan selebihnya! Tidak lebih dari kehidupan
seekor kutu, dari kumbang hitam, pada kenyataannya kurang, karena wanita tua
itu melakukan hal yang membahayakan.’
Raskolnikov berpikir tentang bagaimana samanya
pemikiran mereka tentang perempuan ini dan berhubungan dengan teori ‘orang luar
biasa’ nya, dia pikir hal ini bukanlah sekedar kebetulan, mengapa dia harus
mendengar pada saat itu pembicaraan itu tentang ide-idea yang sama. Seakan
telah ditakdirkan, sebuah isyarat yang menjurus, membuat Raskolnikov berpikir
dia adalah orang yang terpilih untuk membunuh perempuan itu.”
Aku berkata:
“Lalu anda menulis bagaimana dia merencanakan
membunuh perempuan itu, caranya dan waktunya. Bagaimana dia menyiapkan jerat
untuk menyembunyikan kapak didalam mantelnya sehingga tidak terlihat dari luar,
bagaimana dia mencuri kapak itu, bagaimana dia mengalihkan perhatian perempuan
itu untuk sesaat, untuk mendapatkan waktu untuk mengayun kapak itu, apa yang
berada di benaknya ketika ia berjalan dari apartemennya ke rumah perempuan itu,
menaiki tangga menuju apartemen perempuan itu. Napasnya terenggah-enggah dan
mukanya menjadi pucat. Untuk suatu saat di muka pintu dia berpikir ‘Akankah
saya pulang saja?’ ‘Apakah saya tidak tampak jelas-jelas gelisah? Dia orang
yang sukar percaya…. Mustinya saya tunggu sebentar… sampai jantung saya
berhenti berdebar-debar?”
Fyodor:
“Namun ia melakukannya. Dia mengayunkan
kapaknya lagi dan lagi dengan sisi tumpulnya di tempat yang sama. Darahnya
menyembur seperti dari gelas yang dibalik, badannya jatuh kebelakang. Dia
melangkah mundur, membiarkannya jatuh, dan dengan segera membungkuk diatas
wajahnya; dia telah mati. Matanya seperti mencuat dari rongganya, alisnya dan
seluruh wajahnya kusam dan menggeliat kekejangan.”
Saya berkata:
“Lalu tanpa terduga adik tiri perempuannya
pulang ke rumah dan melihat badan yang sudah mati. ‘Ia menatap mayat kakaknya dengan termanggu-manggu, putih
seperti kertas dan tampak seperti tak mempunyai kekuatan untuk berteriak.”
Fyodor:
“Raskolnikov bergegas menuju kepadanya dengan
kapak; mulut perempuan itu menciut menyedihkan, seperti mulut bayi, ketika bayi
mulai ketakutan, menatap langsung kepada apa yang menakutkannya dan saat akan
berteriak. Dan Lizaveta yang malang itu demikian sederhana dan sudah demikian
luluh dan ketakutan sampai dia bahkan tidak mengangkat tangannya untuk
melindungi wajahnya, walaupun gerakan itu adalah yang paling penting dan
alamiah pada saat itu, karena kapak itu diangkat dimuka wajahnya. Ia hanya
mengangkat tangan kirinya yang kosong, tapi bukan ke wajahnya, perlahan
mengangkatnya kedepan seakan mendorong Raskolnikov untuk menjauh. Kapak itu
mengayun dengan sisi tajam tepat di tengkoraknya dan terbelah dengan satu
ayunan tepat di ubun-ubun. Lizaveta langsung jatuh berdedam. Raskolnikov
kehilangan akal, menyambar buntelannya, menjatuhkannya lagi dan lari ke pintu
keluar.”
Aku berkata:
“ Sangat tragis Fyodor…. Saya kira hukuman
Raskolnikov mulai ketika ia harus membunuh Lizaveta yang tak bersalah karena ia
berada di tempat yang salah pada saat yang salah. Pikiran ini muncul dalam
hatinya: ‘Tapi amat aneh, mengapa saya hampir tidak berpikir tentang Lizaveta,
seakan saya belum membunuhnya? Lizaveta! Perempuan berhati lembut yang malang,
dengan mata yang lembut…. Perempuan-perempuan tersayang! Mengapa mereka tidak
menangis? Mengapa mereka tidak mengerang? Mereka menyerahkan segalanya… Mata
mereka sangat halus dan lembut…! Lembut!”
Saya melihat mata Fyodor yang tajam biru
keabu-abuan melunak, dia tidak bergerak, diam…. wajahnya yang pucat, kurus,
berwarna tanah diliputi titik-titik merah gelap. Lalu kami berkata “Прощай”
(selamat tinggal) dengan hangat.
TAMAT
Ini adalah wawancara imajiner mengenang Fyodor
Dostoyevsky.
Sumber: Crime and Punishment oleh Fyodor Dostoyevsky.
Ada satu restoran di Qingdao, kota di Utara Tiongkok, yang konon katanya sering dikunjungi Pearl ketika mampir di kota ini. Letaknya menghadap ke laut yang berombak teluk Qingdao, yang pantainya berpasir kerikil. Aku berjanjian bertemu dengan wanita elegan ini di restoran itu. Pearl datang memakai baju kuning muda berbintik-bintik bunga kecil, rambutnya diikat rapi ke belakang dan ke atas. Senyumnya bersemai hangat, menghangatkan dinginnya Qingdao hari tu. Aku tidak membuang-buang waktu langsung bertanya: “Terus terang saja, pada awal mula saya tidak terlalu berminat membaca ‘The Good Earth’ setelah membaca ringkasannnya. Selain itu Tiongkok masa kini bukan lagi negara yang asing kebudayaannya, dan banyak sifat-sifat mereka yang sudah umum diketahui masyarakat dunia, bahkan sifat-sifat demikian sudah menjadi gambaran stereotype masyarakat Tiongkok. Misalnya mengenai peran isteri yang harus tunduk kepada suami, pandangan bahwa wanita yang cantik kakinya harus kecil sehingga kakinya diikat sejak kanak-kanak, dan mengenai kehendak untuk memiliki anak lelaki untuk penerus marga keluarga dan perusahaannya, konsep banyak anak banyak rejeki, tradisi menghargai dan menghormati orangtua, mengenai perkawinan yang diatur orangtua, dan sebagainya. Hal-hal tersebut tidak lagi mengherankan di masa kini dan tidak membangkitkan rasa ingin tahu, lagipula sulit membayangkan bagaimana seorang pengarang Amerika bisa menulis dengan baik kehidupan di Tiongkok. Namun kesan itu sirna seketika membaca beberapa halaman pertama buku itu, tentang bagaimana tingkah laku si pemuda Wang Lung ketika bangun pada hari perkawinannya dan siap-siap berdandan.” Pearl, dengan tersenyum: “ Adegan ini ini kalau dibikin filem, bisa komikal, menggambarkan bagaimana orang-orang di sana jarang mandi untuk menghemat air karna air sangat langka di situ, namun pada hari perkawinannya Wang Lung harus ‘merelakan’ memandikan seluruh tubuhnya dengan air dengan leluasa, karena pada hari itu seorang wanita akan melihat tubuhnya, yang belum pernah terjadi sejak ia dimandikan ibunya di masa kanak-kanak.” Aku berkata: “Sangat orisinil, dan anda dapat menggambarkan kehidupan petani miskin di daratan Utara Tiongkok dengan hidup. Sebagaimana bagi ayah Wang Lung minum air hangat yang dicampur daun teh adalah suatu kemewahan, biasanya dia minum air hangat saja, namun ia dipaksa Wang Lung dengan tertawa untuk minum karena hari tu adalah hari perkawinannya.” Pearl, seakan melucu mengutip bukunya: “ Teh nya akan dingin kalau tidak diminum’ kata Wang Lung, ‘Benar-benar’, kata orang tua itu setalah menyadari hal itu, dan langsung dengan lahapnya meneguk the panas tersebut, dia terjerumus kedalam kepuasan hewani, seperti anak kecil yang terpatok dengan makanannya. Namun dia tidaklah terlalu pelupa untuk melihat Wang Lung menuang air secara leluasa dari tungku ke bak kayu untuk mandi. Dia menegakkan kepalanya dengan berkata kepada anaknya: ‘Wah air sebanyak itu cukup untuk menyiram sebuah sawah hingga panen.” Aku berkata: “Anda juga dengan sangat baik menggambarkan bagaimana ketergantungan para petani akan alam, tanah, cuaca, terjangan banjir, serangan burung-burung, air dan kebau pembajak sawah. Walaupun hal ini sudah umum diketahui, sudah suatu fenomena universal, namun anda menggambarkannya dengan mengesankan.” Pearl, mengutip bukunya bab VIII: “Pada musim kemarau akhirnya air di dalam kolam mengering dan berubah menjadi adonan tanah liat, dan bahkan air di dalam sumur turun sangat rendah sehingga isterinya, O-lan, berkata kepadanya: ‘ Kalau anak-anak kita harus minum and orang tua itu harus mendapatkan minuman hangatnya, maka tanaman harus dibiarkan kering.’ Wang Lung menjawab dengan marah yamg berubah menjadi isakan: ‘Namun mereka akan kelaparan kalau tanaman kelaparan.” Benarlah bahwa hidup mereka begitu tergantung pada tanah.” Aku berkata: “Selanjutnya, setelah semua beras habis di masa gersang yang panjang, mereka terpaksa membunuh dan memakan kerbau pembajak sawah yang sudah demikan kurus kering. Dan setelah semuanya dimakan habis, di musim dingin mereka terpaksa hijrah ke kota yang makmur di Selatan untuk bertahan dan mencari makan. Ternyata tidak semudah itu mendapat pekerjaan dan pendapatannya kecil. Setelah mendirikan gubuk-gubuk plastik di pinggir dinding kota, mereka hidup dari makanan ransum jatah sumbangan dermawan dan lalu mereka mengemis. Pengalaman mengemis ini anda gambarkan dengan sangat mengenaskan.” Pearl: “ O-lan, ibunya, berperan sangat baik dalam mendidik anak-anaknya mengemis. Dia belajar dari pengalaman masa kecilnya, dan begitulah ia mencari makan sebelum dijual sebagai budak. ‘Kasian tuan yang baik – kasian nyonya yang baik. Dengan hati yang baik – perbuatang baik untuk hidup di surga. Uang kecil, recehan yang anda buang – cukup untuk memberi makan anak yang kelaparan.’ Namun dasar anak-anak, mereka anggap itu main-main dan tertawa-tawa. O-lan terpaksa ‘mendidik’ mereka dengan menggebuki mereka sehingga menangis. Demikian dia mendidik anak-anak mereka mengemis, digebuki lagi kalau tertawa.” Aku berkata: “Kemudian setelah mereka kembali ke kampung halaman di Utara, kehidupan Wang Lung berubah sedikit demi sedikit menjadi makmur karena ditopang oleh kesuburan tanah, hujan yang berkecukupan, walaupun kadang-kadang ada angin ribut dan serangan burung dan serangga. Dia menabung uang hasil penjualan panen dan sedikit demi sedikit membeli tanah yang membuatnya memperluas sawah ladangnya.” Pearl: “Demikianlah biasanya orang yang semalkin kaya, dia sanggup menyewa buruh untuk bekerja di sawahnya, dia tidak perlu lagi bekerja berat di sawah, membajak, menanam bibit dan menuai. Dia tinggal menuai hasil penjualan panennya. Dengan kekayaan dan waktu sengganngya datanglah rasa bosan dan kesepian, dan dengan kekosongan itu datanglah pula godaan dan hasrat untuk menikmati wanita lain karena isterinya O-lan tidaklah cantik. Dia terpesona ketika melihat wanita-wanita cantik di sebuah rumah hiburan, yang secantik wanita di lukisan-lukisan yang selama ini dia kira khayalan belaka.” Aku berkata: “ Dalam buku ini anda selain mencakup perihal kehidupan petani Tiongkok dengan baik, anda juga mencakup tema universal seperti kehidupan petani miskin yang menjadi kaya, yang kemudian mengkehendaki hal-hal yang sebelumnya tak terbayangkan olehnya, sehingga ia melampiaskan hawa nafsu dengan kekuasaan uang. Juga universal adalah gelagat gagalnya putra-putranya untuk meneruskan usaha sang ayah yang mengolah sawah yang berlimpah-limpah, demikian pula hal pertentangan kelas atas dan kelas bawah dalam masyarakat agraris.”
Pearl: “Ketika saya menulis di Tiongkok mengenai kebiasaan orang Tiongkok, tentang orang Tiongkok, saya menggunakan lidah Tiongkok…. Konesekuansinya adalah ketika…. Menulis tentang orang Tiongkok ceritanya bergulir dengan sendirinya dalam benak saya segenapnya dalam idom-idiom Tiongkok, dan saya secara harafiah menterjemahkannya sambil jalan.” Aku berkata: “ Dengan demikian anda bisa menulis dengan realistis mengenai kehidupan petani Tiongkok yang intim dengan alam. Gaya penulisan anda lugas dan sederhana, tidak berbunga-bunga. Tokoh utama wanitanya, O-lan isteri Wang Lung, tidaklah cantik, mukanya persegi, wajah yang jujur, hidungnya pendek, lebar dengan lubang hidung yang besar hitam, dan mulutnya lebar, ada luka di wajahnya. Matanya kecil dengan warna hitam yang membosankan, dan diisi dengan suatu kesedihan yang tidak jelas diungkapkan.” Pearl: “Yang paling disesalkan Wang Lung adalah telapak kaki O-lan yang besar karena tidak diikat dari kecil sesuai tradisi Tiongkok. Tapak kaki yang kecil dianggap sebagai ciri wanita yang menarik, sehingga sejak kecil kaki anak perempuan diikat, ini sangat menyakitkan lho, terutama buat anak-anak kecil. Tapi berkat tapak kakinya yang besar O-lan kuat berjalan dan bekerja berat di sawah membantu suaminya, sedangkan wanita dengan kaki yang kecil , tidak lebih dari 3 inci, tidak kuat berjalan dan bekerja. Selain pekerja keras yang patuh kepada suami, O-lan adalah juga pilar keluarga itu, dialah yang banyak membuat keputusan-keputusan yang sulit, dan dia memikul keputusan-keputusan sukar ini dengan penuh ketabahan. “ Aku berkata: “ Karakter yang luar biasa, dia sadar dia tidak cantik dan suaminya sebenarnya tidak mencintainya. Namun ia cukup bahagia karena dapat melahirkan beberapa anak laki-laki bagi suaminya. Tradisi Tiongkok sangat menghargai ibu yang dapat melahirkan anak laki-laki, karena anak laki-laki ini yang akan meneruskan nama keluarga dan diharapkan selanjutnya berbakti dan merawat kepada orang tuanya di usia lanjut.” Pearl: “Begitulah realitas kehidupan petani Tiongkok masa itu, dan mungkin pada umumnya demikian, urusan perkawinan dan berkeluarga menjadi urusan yang praktis. “ Aku berkata: “ Saya juga mengamati dalam novel ini, tiadanya penggambaran roman cinta yang menggebu-gebu bak Romeo dan Juliet, tidak ada kata-kata mesra dan puisi yang mengesankan. Yang ada nafsu menggebu-gebu Wang Lun setelah bertemu wanita penghibur Lotus yang cantik mungil, yang jauh lebih cantik dari O-lan. Wang Lung merasakan menemukan kemesraan cinta dengan Lotus yang kemudian di jadikan gundiknya, ia tidak dapat mendapatkan kemesraan ini dari O-lan. Namun hampanya rasa cinta dan kemesraan terhadap O-lan anda gambarkan dengan sangat mengesankan dalam adegan saat-saat terakhir O-lan yang menderita penyakit yang mematikan. Rasa hampa itu sangat mengesankan.” Pearl, menggambarkan saat itu: “O-lan mengigau dalam sakitnya:’Saya sadar bahwa saya jelek dan tidak patut dicintai…” Mendengar ini Wang Lung tidaj sanggup menahan perasaannya dan menggenggam tangan O-lan dan dia mengelusnya, sebua tangan besar dan keras, kaku bagaikan telah mati. Dan dia bingung dan sedih akan dirtinya sendiri terutama karena apa yang dikatakan O-lan adalah benar adanya, dan meskipun ia menggenggam tangannya, dengan sungguh berharap bahwa O-lan dapat merasakan kelembutan Wang Lung kepadanya, dia malu karna Wang Lung tak dapat merasakan kelembutan, tidak ada mencairnya hati seperti yang dapat didapatkan Lotus dengan mengambekan bibirnya. Ketika ia mengambil tangan kaku yang sekarat itu dia tidak mencintainya, dan bahkan rasa kasihannya dinodai oleh rasa penolakan terhadapnya.”
TAMAT
Ini adalah wawancara imajiner mengenang Pearl S. Buck
Dia tinggal di Hôtel du Poirier di rue
Ravignan di atas salah satu bukit-bukit di Montmatre, Paris. Tempat itu adalah
salah satu tempat yang paling indah di Paris, namun kamar hotelnya gelap dan
kosong, hanya ada satu meja untuk menulis.
Mudah dimengerti bagaimana di dalam
kamar yang gelap ini, “seseorang merasa seperti orang asing, mendengar suara
sebuah kota yang tiba-tiba menjadi asing. Saya bukan dari sini – juga bukan
dari tempat lain yang manapun. Dan dunia menjadi hanyalah sebuah tempat tak
dikenal di mana hatiku tidak bisa bersandar kemanapun”, begitu ditulisnya di
buku catatannya.
Pagi itu dia kelihatan rileks dan
menyapa aku dengan salaman yang hangat. Televisinya menyiarkan dengan lantang
perayaan Worl Cup Perancis di Champ Elysees. Kerumunan orang seperti bergembira
mabuk di nirwana dengan bendera Perancis yang melambai di mana-mana. Nampaknya
dia sedang menonton perayaan ini di televisi sebelum aku mengetok pintunya.
Mengetahui bahwa dia adalah penggemar
sepakbola yang kental, aku lalu berkata kepadanya:
“Selamat atas kemenangan Perancis di
World Cup untuk kedua kalinya, anda pasti sangat bergembira.”
Matanya yang besar bersinar dan dia
tersenyum lebar:
“Saya memang sangat bangga kepada
mereka. Saya bisa melihat perencanaan yang teliti, kerja keras, disiplin yang
ketat dan kecermelangan penembak muda Kylian Mbappé, penyerang tengah Paul
Pogba yang gesit dan pertahanan yang tanpa menyerah dari N’Golo Kanté, Raphaël
Varane dan Samuel Umtiti. Kerja sama tim yang bagus, sepak bola memang mengenai
hal itu. Dan juga seperti yang disebut
Deschamps pelatih mereka: “Kami tidaklah bermain dengan luarbiasa tapi
menunjukkan kualitas mental, dan mencetak empat gol bagaimanapun juga.” Pertandingan
yang bagus.”
Aku berkata:
“Saya mendegar akan begitu
bersemangatnya akan sepakbola, suatu saat anda pernah ditanya pilih sepakbola
atau teater, jawaban anda adalah pastilah sepakbola tanpa ragu-ragu.”
Albert:
“Ya memang waktu saya masih muda saya
bermain sebagai penjaga gawang untuk Racing University of Algiers, kami memenangkan
African Champion Cup di saat itu. Saya belajar dari sepakbola tentang rasa
kerjasama tim, kebersaudaraan dan kepentingan bersama, ini adalah cara belajar yang bagus. Setelah beberapa
lama setelah banyak yang saya lihat, pengetahuan saya secara pasti tentang
moralitas dan tugas hidup manusia saya dapatkan dari olahraga ini.”
Aku berkata:
“ Percakapan yang bagus, Albert, saya
bisa merasakan semangat yang tinggi dan keterlibatan anda akan sepakbola,
penghargaan anda yang mendalam akan sepakbola, yang sangat kontras dengan rasa
kekosongan, keterasingan, ketakperdulian di dalam hampir semua novel yang anda
tulis. Sebagai contohnya bertolak belakang dengan rasa kegembiraan kemenangan
anda atas World Cup, coba dengar apa yang anda tulis di pembukaan The Stranger
yang menjadi salah satu pembukaan yang paling terkenal di dunia sastra : “Ibu
meninggal hari ini, atau mungkin kemarin, aku tidak tahu.”
Albert:
“ Saya banyak meluangkan waktu di saat
musim panas di pantai populer Les Sablettes di Algeria. Saya hidup melarat di
masa kecil namun juga dengan semacam kesenangan lahiriah, dengan berenang,
sinar matahari, pasir dan sepakbola. Saya lelaki Mediterranean, dengan badan
sehat yang menyembah keindahan dan badan seperti orang Yunani kuno. Saya berada
di antara kesengsaraan dan sinar matahari. Kesengsaraan menghentikan saya akan
kepercayaan akan bahwa semua baik adanya di bawah matahari, dan akan sejarah;
matahari mengajari saya bahwa sejarah bukanlah segalanya. Kebersemangatan masa belasan tahun hidup saya
terputus, ketika pada umur 17 tahun, dokter-dokter mendiagnosa TBC. Selalu
bernapas pendek, saya terpaksa meninggalkan karir sepakbola yang cerah, dan
akan terus menderita akan kambuhnya penyakit ini seumur hidup saya.
Pada umur 27 tahun saya meninggalkan
Algeria setelah kehilangan pekerjaan ketika koran Alger républicain berhenti
beroperasi. Saya mendapatkan pekerjaan di koran Paris-Soir yang membayar tiga
ribu francs per bulan untuk bekerja lima jam per hari kerja, dalam pengaturan
kerja yang terasa asing. Pekerjaan saya di koran ini tidaklah menarik, saya
ditugasi untuk menata halaman empat, mengatur kolom-kolom dan jenis huruf yang
berantakan. Setelah bekerja di pagi hari maupun malam hari, saya akan kembali
ke kamar hotel saya yang gelap di Montmartre. Suatu ketika, dari atas
Montmartre saya melihat Paris seperti kabut raksasa di bawah curah hujan,
sebuah kota yang terasa penuh sesak namun juga kosong, dimana di mana hati saya
tidak bisa bersandar kemanapun. Saya selalu melihat Paris dengan pandangan mata
orang asing.”
Aku berkata:
“Bagaimanapun di dalam kamar hotel di Montmartre yang gelap
itu anda menulis novel anda yang terkenal The Stranger, novel dengan pembukaan
yang terkenal itu, tentang Meursault yang mengalami perasaan terpisah dari kenyataan
yang membuatnya serasa orang asing di kota kelahirannya di Algeria. Cerita itu
memiliki rasa absurdisme yang amat kental, perasaan terputus segenapnya dari
orang-orang lain, tidak berdampak, terkucil dan hilangnya makna hidup. Apakah
makna absurdisme bagi anda?”
Albert:
“Pada hari prosesi pemakaman ibunya di
Marengo, perasaan yang paling intens yang dialaminya adalah teriknya matahari,
silaunya langit yang tak tertahankan, yang membuatnya merasa pembuluh darah nya
berdebar di keningnya. Pemakaman ibunya
sendiri tidak memberi suatu makna apapun baginya, dia tidak menangis, dia tidak
peduli untuk melihat tubuh ibunya di dalam peti untuk terakhir kalinya.
Perjalanan kembalinya ke Algeria
setelah pemakaman terasa bagaikan melegakan baginya. Setelah sampai dia
memutuskan untuk pergi berenang dan bertemu Marie Cardona di kolam renang, lalu
mereka berenang bersama, di sore hari mereka menonton filem komedi dari
Fernadel dan bercinta di tempat tidur di malam harinya.
Bagaimanapun, di keesokan sorenya dari balkoninya ia
berkata: “Sebuah hari Minggu lagi yang berlalu, ibu dikuburkan, besork kembali
bekerja, dan, benar-benar, tidak ada satu hal pun yang berubah.”
Aku berkata:
“Pandangan “Mediterranean” ini yang
menjangkar pandangan anda kepada tempat di mana anda dibesarkan dan untuk
membangkitkan rasa harmonis dan penghargaan akan kehidupan lahiriah.
Badan yang kecokelatan karena matahari
menikmati pantai-pantai dan sinar matahri Algeria, berenang, bermain sepakbola,
minum-minum dan gadis-gadis. Berlawanan dengan kehidupan Algeria yang penuh
sinar matahari, Meursault berkata tentang Paris: “sebuah kota yang rada kotor,
menurut saya. Banyak burung-burung dara dan halaman rumah yang gelap. Dan
manusianya memiliki muka yang tercuci bersih, wajah yang putih.”
Namun matahari yang panas terik yang
sama seperti pada hari pemakaman ibunya, yang memberinya rasa sakit di
keningnya, dan yang membuat semua pembuluh darahnya berdebar di bawah kulitnya,
cahaya matahari yang bersilau yang sama dan panas teriknya matahari yang sama
yang menyebabkannya menembak mati seorang Arab, tidak ada alasan lain selain
silaunya cahaya matahari yang meletihkan dan panas teriknya matahari.
Cerita ini menyarankan bahwa meskipun
Meursault menikmati kehidupan di bawah sinar matahari Mediterranean, di sisi
lain cahaya matahari yang membutakan menyebakannya tidak dapat memberi makna
akan pemakaman ibunya, dan panas terik matahari yang sama, bukan sebab lain,
yang membuatnya menembak mati seorang Arab.
Inikah alasan mengapa anda memberi
judul novel ini The Stranger, hidup secara intens kehidupan Mediterranean,
menikmati matahari, badan kecokelatan telanjang di pantai-pantai, gadis-gadis
menari dengan berkeringat, namun terputus, tak peduli dan terkucilkan dari
kehidupannya?”
Albert, mengutip novelnya The Fall:
“Saya ada di sini tanpa berada di
sini: Saya absen pada saat ketika saya mengambil hampir seluruh ruang. Saya
tidak pernah benar-benar tulus dan antusias kecuali ketika saya dulu menikmati
olah raga, dan di dalam ketentaraan, ketika saya dulu bermain sandiwara untuk
menghibur diri kami sendiri. Dalam kedua hal itu ada aturan main, yang tidak
serius namun yang kami nikmati seakan-akan serius. Sampai sekarangpun, pada
pertandingan hari Minggu di stadion yang penuh sesak, dan di dalam teater, yang
saya cintai dengan penuh gairah, di situlah di kedua tempat itu saja di dunia,
saya merasa murni.
Namun siapa yang bisa menganggap
tingkah laku demikian adalah sah di hadapan cinta, kematian dan penghasilan
orang miskin? Namun apa yang bisa kita perbuat? Saya bisa membayangkan cinta
Isolde hanya di dalam novel atau di atas panggung. Kadang kala orang di tempat
tidur kematiannya seakan meyakinkan saya akan peranan mereka. Kalimat –kalimat
yang diucapkan oleh klien-klien saya yang malang selalu memberi kesan akan pola
yang sama. Sehingga, hidup di antara manusia tanpa memperhatikan kepentingan
mereka, saya tidak dapat mempercayai komitmen-komitmen yang saya buat. Saya
cukup sopan dan malas untuk hidup sesuai dengan apa yang diharapkan dari
profesi saya, keluarga saya atau kehidupan bermasyarakat saya, namun setiap
saat dengan sejenis rasa acuh yang menodai segalanya.”
Aku berkata:
“ Dalam pentutupan The Stranger,
Mersault yang menghadapi hukuman mati dengan guillotine mengakui bahwa
eksistensi tidak bermakna, namun ia sekarang bersuka cita menikmati rasa
sebagai orang hidup.”
Albert, mengutip Meursault:
“ Dan saya, juga, merasa siap untuk
mengulangi kehidupan dari awal. Hal itu seakan-akan rasa marah yang meluap-luap
telah mencuci bersih diri saya, mengosongkan saya akan harapan, dan, menerawang
ke langit yang gelap yang disinari dengan tanda-tanda dan bintang-bintang,
untuk pertama kalinya, pertama kali, saya membuka hati saya akan
ketidaperdulian yang jinak dari alam semesta.
Untuk merasakan sebagai diri saya sendiri, memang, sangat bersahabat,
membuat saya sadar bahwa saya berbahagia, dan saya masih bahagia. Untuk meraih
segalanya, bagi saya agar tidak terlalu merasa kesepian, hal yang masih bisa
diharapkan adalah bahwa pada hari pemacungan saya akan ada banyak penonton yang
menyambut saya dengan lolongan: pancung dia.”
TAMAT
Ini
adalah wawancara imajiner mengenang Alber Camus.
Pada Jum’at
pagi itu aku buru-buru menuju kafe Le Consulat untuk berbincang-bincang dengan
Victor. Aku sangat bersemangat untuk menemuinya karena aku punya banyak
pertanyaan tentang novelnya yang terkenal The Hunchback of Notre-Dame (Si
Bongkok dari Notre-Dame). Ketika aku sampai dia sudah di sana menyeruput kopi
une noisette yang hangat.
Aku
berkata:
Bonjour
Monsiuer, terimakasih untuk meluangkan waktu di tengah kesibukan anda. Saya
punya banyak pertanyaan, mudah-mudahan kita bisa mendiskusikannya semua dan
menyelesaikannya tepat pada waktunya.
Victor:
“Katakanlah,
mon amie…”
Aku
berkata:
“Monsiuer,
judul asli dari novel anda yang terkenal “The Hunchback of Notre-Dame”
sebenarnya adalah “The Notre-Dame of Paris” (Notre-Dame di Paris). Dengan judul
asli ini apakah anda ingin menekankan kesejarahan Notre-Dame ataukah drama
kemanusiaan yang dipanggungkan di Notre-Dame?”
Victor:
“Seperti
yang diceritakan di Buku 3 bab 1 katedral Notre-Dame telah menua disebakan oleh
banyaknya degradasi dan pengrusakan yang disebakan baik oleh waktu maupun oleh
tindakan manusia. Waktu telah menyayat permukaannya di sana sini, dan
menggerogoti dimana-mana; revolusi politik dan agama telah mengoyak jubahnya
yang indah,ukir-ukiran dan patung-patungnya,
memecahkan jendela mawarnya, merusakkan kalung arabesques dan hiasan-hiasan
mungilnya, menggulingkan patung-patungnya.
Lalu
usaha restorasi membuatnya bahkan lebih norak dan dungu. Restorasi itu telah menerapkan,
atas nama selera tinggi, pada luka-luka bagunan arsitektur gothic ini, kenorakan
yang menyedihkan, pita-pita dari marmer, bola wool dari metal, ornamen
berbentuk telur yang diliputi kusta sebenarnya, aksara-aksara asing, lingkaran
spiral, gorden-gorden, karangan bunga, bingkai-bingkai, api batu, awan tembaga,
malaikat cupid yang tembam, malaikat bocah berpipi gemuk.
Namun
Notre-Dame adalah juga rumah bagi Quasimodo, si Bongkok buruk rupa dengan hati
emas, juga rumah bagi Claude Frollo, pastor yang alim yang berubah menjadi
setan, yang mengadopsi Quasimodo yang ditelantarkan orangtuanya selagi kecil di
sebuah tempat tidur di Notre-Dame. Dan Esmeralda mengambil perlindungan
Notre-Dame untuk beberapa saat bersembunyi dari kejaran tentara kerajaan.
Notre-dame adalah juga panggung dimana Esmeralda, Frollo dan Jehan jatuh mati
dengan tragis.”
Aku
berkata:
“Penderitaan
Quasimodo, si Bongkok dalam novel ini, sangat keterlaluan diluar kemanusiaan.
Sebagai anak kecil dia ditelantarkan karena buruk rupanya, badannya bengkok,
Cuma punya satu mata, kepalanya terletak langsung di punggungnya, tulang
belakangnya melengkung, tulang dadanya menonjol, dan kakinya bengkok.
Para ibu
yang melihat anak ini di tempat tidur Notre-Dame begitu terperanjat sehingga
salah seorang bertanya: “Apakah ini, mbak?”, dan ibu yang lain berkata: “
apakah yang yang akan terjadi terhadap kita, kalau demikianlah anak-anak dibuat
sekarang?”dan yang seorang lagi: “pastilah
berdosa untuk melihat anak ini.”
Victor:
“ Dia
kemudian kehilangan pendengarannya sebagai pembunyi lonceng Notre-Dame,
lonceng-lonceng itu telah merusakkan gendang telinganya, dia menjadi tuli.
Namun
penderitaannya tidak sebanding dengan penderitaan Stephen Hawking. Dia
didiagnosa dengan penyakit amyotrophic lateral sclerosis (ALS), suatu bentuk
penyakit syaraf penggerak, ketika berumur 22 tahun dan tidak diharapkan untuk
bertahan hidup beberapa tahun lagi. Penyakit ini menyebabkan kelemahan dari
syaraf penggerak atas atau bawah, atau keduanya. Dia tidak bisa jalan, bergerak
dan harus duduk di kursi roda, juga tidak bisa menulis dan berbicara. Dia lalu
mulai menggunakan menu yang dikontrol oleh sistem komputer untuk berkomunikasi.
Aku
berkata:
“Namun
orang-orang menghormati dan menyayangi Stephen Hawking karena kecerdasannya, dimana
hidupnya digunakan untuk memecahkan misteri alam semesta melalui fisika. Saya
bisa membayangkan betapa menjengkelkannya buat dia untuk mempunyai penyakit
yang menghambat pergerakannya dalam pencariannya akan “teori untuk semua hal.”
Dalam
hal Quasimodo berbeda, orang-orang mengolok-oloknya selalu, dia bahkan
dimahkotai Paus Orang-Orang Dungu waktu Festival Orang-Orang Dungu.”
Victor:
“Yang
paling sulit baginya adalah kesadaran akan buruk rupanya di depan Esmeralda, dipandang
oleh wanita yang dia sayangi dan cintai amat sangat… Di Buku 9 Bab 2 dia
berkata kepada Esmeralda: “Aku menakutkan kamu. Aku sangat buruk, bukankah
begitu? Janganlah memandang aku; dengarkan aku sajalah.”
Aku
berkata:
“Ya, itu
kejadian yang sangat menyayat hati, untuk merasa tidak nyaman di depan wanita
yang dia sangat cintai hingga dia menyabung nyawa untuk menyelamatkan wanita ini
dari hukuman mati, dan menggotongnya ke tempat suaka Notre-Dame sebagai
pelarian.”
Victor:
“Lebih
dari itu, di Buku 9 Bab 4 diceritakan: “Suatu saat Quasimodo datang pada saat
Esmeralda sedang membelai Djali, kambing kesayangannya. Dia berdiri tak
bergerak untuk beberapa menit di depan persektuan anggun dari kambing dan
wanita gypsy ini; lalu akhirnya ia berkata, menggelengkan kepalanya yang besar
dan salah bentuk, --“Nasib tak beruntung aku bahwa aku masih tampak teralu
banyak seperti manusia. Aku akan sangat suka untuk menjadi hewan seperti
kambing itu.”Wanita itu memandangnya
dengan penuh keheranan.”
Mendengar
itu, aku terdiam sejenak… dan kemudian seakan ingin menghibur Quasimodo akan
nasibnya yang tak beruntung aku berkata:
“Saya
tak dapat melupakan kejadian di Buku 8 Bab 6, ketika Quasimodo menyelamatkan
Esmeralda dari hukuman mati, yang dengan sergap menuju ke ke dua orang algojo
seperti seekor kucing yang jatuh dari atap, menonjok mereka dengan tinjunya
yang besar, menggotong Esmeralda dengan satu tangan, seperti seorang anak
memegang bonekanya, dan berlari balik ke dalam Notre-Dame dengan satu tujuan,
menggotong gadis muda di atas kepalanya dan berseru dengan suara lantang,
----“Suaka!”
Dan lalu
,”Suaka! Suaka!” para penonton bersorak-sorak; dan tepuk tangan beribu tangan
membuat mata tunggal Quasimodo bersinar dengan kegembiraan dan kebanggaan.”
Victor:
“Ya di
masa abad pertengahan hukum menyatakan bahwa Notre-Dame adalah tempat kebal
hukum. Esmeralda tidak bisa dilukai oleh para algojo asalkan ia tetap tinggal
di dalam dinding-dinding Notre-Dame.”
Aku
berkata:
“Namun
Notre-Dame adalah juga rumah dan tempat suaka bagi Claude Frollo pastor alim
yang berubah setan. Orang ini pada mulanya adalah bagaikan malaikat yang
mengadopsi Quasimodo walaupun cacat, buruk rupa, demi kasihnya bagi Jehan adik
kecilnya sedarah.”
Victor:
“Dan
Buku 4 bercerita: “Belas-kasih Claude bertambah dengan pandangan butuk rupa
ini; dan ia bersumpah dalam hatinya untuk memelihara anak ini demi kasihnya
akan adiknya, agar, apa saja kesalahan Jehan di masa depan, ia akan memiliki di
sampingnya amal kasih ini yang dilakukan demi dia.
Ketika
masih kecil, Quasimodo sering mencari pengungsian di antara kaki Claude Frollo,
ketika anjing dan anak-anak menggonggong kepadanya. Claude Frollo juga
mengajarnya berbicara, membaca dan menulis. Kita bisa berkata kemudian, karena
rasa terimakasihnya Quasimodo mengasihi pastor ini melebihi seekor anjing,
seekor kuda, seekor gajah menyayangi tuannya.”
Aku
berkata:
“Lalu
bagaimana jadinya pastor yang penuh kasih ini, malaikat ini, berubah menjadi setan tukang sihir?”
Victor:
“dari dalam
biara, reputasinya sebagai orang terpelajar terdengar oleh orang-orang. Dia
belajar obat-obatan, astrologi dan ilmu kepercayaan. Obsesi terbarunya adalah
ilmu kimia karena ia ingin membuat emas dari batu. Di masa abad pertengahan
kita bisa bilang bagaimanapun, bahwa ilmu pengetahuan dari Mesir, tentang
kerasukan dan sihir, bahkan yang paling putih, telah dianggap sebagai tindakan
sihir.”
Aku
berkata:
“Namun
malaikat ini berubah menjadi setan sebenarnya, setelah dia jatuh cinta
sedalamnya dengan Esmeralda, atau lebih tepatnya setelah dia terperangkap nafsu
akan Esemeralda.”
Victor:
“Di
dalam hatinya Claude Frollo percaya bahwa kejadian yang akan menimpa Esmeralda
adalah takdir, di Buku 7 bab 5 diceritakan bagaimana Claude Frollo berkata
dengan suara yang seperti datang dari kedalaman keberadaannya: “Lihatlah ini
sebuah simbol bagi semuanya. Wanita itu terbang, ia gembira, ia baru
dilahirkan; ia mencari mata air, udara terbuka, kebebasan: oh ya! namun biarkan
ia bersentuhan dengan jaringan berbahaya, dan laba-laba yang timbul dari sana,
laba-laba yang bersembunyi! Penari yang malang! malang, nasib lalat yang telah
ditakdirkan! Biarkan hal-hal demikian terjadi, tuan Jacques, itu adalah takdir!
Aduh! Claude engkaulah laba-laba itu.”
Aku
berkata:
“Saya
bisa melihat bahwa di babak ini Claude Frollo berbicara tentang bagaimana lalat
itu mencari udara terbuka, sinar di hari yang terang, tapi tidak melihat kaca
jendela yang menghadang ke dunia luar. Lalat itu tidak memiliki indera untuk
menyadari jebakan sarang laba-laba di muka jendela dan ia terbang langsung
dengan kepala di muka ke jaringan laba-laba.”
Victor:
“Kemudian
ia berkata: “ Dan kalaupun engkau dapat meloloskan diri dari jaringan laba-laba
yang ketat itu, dengan sayap mungilmu, engkau percaya akan bisa mencapai cahaya
di luar? Aduh! kaca itu ada di depan, hadangan yang tak kelihatan, dinding
kristal itu, lebih keras dari tembaga, yang memisahkan semua filsafat dari
kebenaran, bagaimana engkau akan melampauinya? Oh, kesombongan ilmu! berapa banyaknya
orang cerdik pandai terbang dari jauh, untuk menabrakan kepalanya kepadamu!
Berapa banyak sistem sia-sia melemparkan diri mereka berdengung terhadap panel
kekal itu.”
Aku
berkata:
“Demikian
pula kejadian yang menimpa Esmeralda, dia selamat dari hukuman mati karena
Quasimodo melepaskan dan menyelamatkannya, membawanya ke suaka di Notre-Dame. Juga
ketika para gelandangan menyerbu Notre-Dame, ia diselamatkan oleh Pierre
Gringoire. “suaminya di atas kertas”, namun ia ternyata ia dijebak dan
tertangkap lagi oleh Frollo.
Suster
Gudule, ibunya yang sebenarnya, berusaha membebaskan Esmeralda dari jebakan
Frollo, namun usaha ini gagal ketika Esmeralda tiba-tiba mengetahui bahwa
Phoebus, lelaki yang ia cintai, berada di dalam pasukan yang mencarinya,
shingga Esmeralda berteriak memanggil namanya agar menyelamatkan dia. Kejadian
ini membuat pasukan kerajaan mengetahui persembunyian Esmeralda dan
menangkapnya. Dengan demikian nasibnya telah ditentukan.”
Victor:
“Seperti
bagaiman Dante menggambarkan Beatrice sebagai “Si Cantik dalam jubah putih”,
demikian pula si cantik Esmeralda mati, dalam jubah putih. Esmeralda mati
karena tindakannya sendiri karena cinta, walaupun bertepuk sebelah tangan, sebenarnya
hanyalah cinta naksir. Mereka hanya bertemu beberapa kali, seperti halnya Dante
dengan Beatrice, hanya beberapa kali. Tapi Phoebus tidak mencintai Esmeralda,
ia hanya ingin tidur dengannya. Dia tidak mendengar Esmeralda memanggil namanya
minta tolong dari tempat persembunyiannya, kejadian ini menyebabkan Esmeralda
tertangkap menuju kematiannnya, dalam jubah putih.”
Aku
berkata:
“ Anda
tahu, Stephen Hawking yang menghabiskan hidupnya mengejar “teori untuk semua
hal”, suatu saat ketika ditanya hal apakah yang paling banyak dipikikannya sehari-hari,
dia berkata: “Wanita. Mereka adalah sebuah misteri yang utuh.”
Ini
adalah wawancara imajiner mengenang Victor Hugo