Cari Blog Ini

Senin, 07 Januari 2019

Wawancara dengan Pearl


Ada satu restoran di Qingdao, kota di Utara Tiongkok, yang konon katanya sering dikunjungi Pearl ketika mampir di kota ini. Letaknya menghadap ke laut yang berombak teluk Qingdao, yang pantainya berpasir kerikil.
Aku berjanjian bertemu dengan wanita elegan ini di restoran itu. Pearl datang memakai baju kuning muda berbintik-bintik bunga kecil, rambutnya diikat rapi ke belakang dan ke atas. Senyumnya bersemai hangat, menghangatkan dinginnya Qingdao hari tu. 

Aku tidak membuang-buang waktu langsung bertanya:
“Terus terang saja, pada awal mula saya tidak terlalu berminat membaca ‘The Good Earth’ setelah membaca ringkasannnya. Selain itu Tiongkok masa kini bukan lagi negara yang asing kebudayaannya, dan banyak sifat-sifat mereka yang sudah umum diketahui masyarakat dunia, bahkan sifat-sifat demikian sudah menjadi gambaran stereotype masyarakat Tiongkok. Misalnya mengenai peran isteri yang harus tunduk kepada suami, pandangan bahwa wanita yang cantik kakinya harus kecil sehingga kakinya diikat sejak kanak-kanak, dan mengenai kehendak untuk memiliki anak lelaki untuk penerus marga keluarga dan perusahaannya, konsep banyak anak banyak rejeki, tradisi menghargai dan menghormati orangtua, mengenai perkawinan yang diatur orangtua,  dan sebagainya. 

Hal-hal tersebut tidak lagi mengherankan di masa kini dan tidak membangkitkan rasa ingin tahu, lagipula sulit membayangkan bagaimana seorang pengarang Amerika bisa menulis dengan baik kehidupan di Tiongkok. Namun kesan itu sirna seketika membaca beberapa halaman pertama buku itu, tentang bagaimana tingkah laku si pemuda Wang Lung ketika bangun pada hari perkawinannya dan siap-siap berdandan.”

Pearl, dengan tersenyum:
“ Adegan ini ini kalau dibikin filem, bisa komikal, menggambarkan bagaimana orang-orang di sana jarang mandi untuk menghemat air karna air sangat langka di situ, namun pada hari perkawinannya Wang Lung harus ‘merelakan’ memandikan seluruh tubuhnya dengan air dengan leluasa, karena pada hari itu seorang wanita akan melihat tubuhnya, yang belum pernah terjadi sejak ia dimandikan ibunya di masa kanak-kanak.”

Aku berkata:
“Sangat orisinil, dan anda dapat menggambarkan  kehidupan petani miskin di daratan Utara Tiongkok dengan hidup.  Sebagaimana bagi ayah Wang Lung minum air hangat yang dicampur daun teh adalah suatu kemewahan, biasanya dia minum air hangat saja, namun ia dipaksa Wang Lung dengan tertawa untuk minum karena hari tu adalah hari perkawinannya.”

Pearl, seakan melucu mengutip bukunya:
“ Teh nya akan dingin kalau tidak diminum’ kata Wang Lung, ‘Benar-benar’, kata orang tua itu setalah menyadari hal itu, dan langsung dengan lahapnya meneguk the panas tersebut, dia terjerumus kedalam kepuasan hewani, seperti anak kecil yang terpatok dengan makanannya.
Namun dia tidaklah terlalu pelupa untuk melihat Wang Lung menuang air secara leluasa dari tungku ke bak kayu untuk mandi. Dia menegakkan kepalanya dengan berkata kepada anaknya: ‘Wah air sebanyak itu cukup untuk menyiram sebuah sawah hingga panen.”

Aku berkata:
“Anda juga dengan sangat baik menggambarkan bagaimana ketergantungan para petani akan alam, tanah, cuaca, terjangan banjir, serangan burung-burung, air dan kebau pembajak sawah. Walaupun hal ini sudah umum diketahui, sudah suatu fenomena universal, namun anda menggambarkannya dengan mengesankan.”

Pearl, mengutip bukunya bab VIII:
“Pada musim kemarau akhirnya air di dalam kolam mengering dan berubah menjadi adonan tanah liat, dan bahkan air di dalam sumur turun sangat rendah sehingga isterinya, O-lan, berkata kepadanya: ‘ Kalau anak-anak kita harus minum and orang tua itu harus mendapatkan minuman hangatnya, maka tanaman harus dibiarkan kering.’ Wang Lung menjawab dengan marah yamg berubah menjadi isakan: ‘Namun mereka akan kelaparan kalau tanaman kelaparan.” Benarlah bahwa hidup mereka begitu tergantung pada tanah.”

Aku berkata:
“Selanjutnya, setelah semua beras habis di masa gersang yang panjang, mereka terpaksa membunuh dan memakan kerbau pembajak sawah yang sudah demikan kurus kering. Dan setelah semuanya dimakan habis, di musim dingin mereka terpaksa hijrah ke kota yang makmur di Selatan untuk bertahan dan mencari makan. Ternyata tidak semudah itu mendapat pekerjaan dan pendapatannya kecil. Setelah mendirikan gubuk-gubuk plastik di pinggir dinding kota, mereka hidup dari makanan ransum jatah sumbangan dermawan dan lalu mereka mengemis. Pengalaman mengemis ini anda gambarkan dengan sangat mengenaskan.”

Pearl:
“ O-lan, ibunya, berperan sangat baik dalam mendidik anak-anaknya mengemis. Dia belajar dari pengalaman masa kecilnya, dan begitulah ia mencari makan sebelum dijual sebagai budak. ‘Kasian tuan yang baik – kasian nyonya yang baik. Dengan hati yang baik – perbuatang baik untuk hidup di surga. Uang kecil, recehan yang anda buang – cukup untuk memberi makan anak yang kelaparan.’ Namun dasar anak-anak, mereka anggap itu main-main dan tertawa-tawa. O-lan terpaksa ‘mendidik’ mereka dengan menggebuki mereka sehingga menangis. Demikian dia mendidik anak-anak mereka mengemis, digebuki lagi kalau tertawa.”

Aku berkata:
“Kemudian setelah mereka kembali ke kampung halaman di Utara, kehidupan Wang Lung berubah sedikit demi sedikit menjadi makmur karena ditopang oleh kesuburan tanah, hujan yang berkecukupan, walaupun kadang-kadang ada angin ribut dan serangan burung dan serangga. Dia menabung uang hasil penjualan panen dan sedikit demi sedikit membeli tanah yang membuatnya memperluas sawah ladangnya.”

Pearl:
“Demikianlah biasanya orang yang semalkin kaya, dia sanggup menyewa buruh untuk bekerja di sawahnya, dia tidak perlu lagi bekerja berat di sawah, membajak, menanam bibit dan menuai.  Dia tinggal menuai hasil penjualan panennya. Dengan kekayaan dan waktu sengganngya datanglah rasa bosan dan kesepian, dan dengan kekosongan itu datanglah pula godaan dan hasrat untuk menikmati wanita lain karena isterinya O-lan tidaklah cantik. Dia terpesona ketika melihat wanita-wanita cantik di sebuah rumah hiburan, yang secantik wanita di lukisan-lukisan yang selama ini dia kira khayalan belaka.”

Aku berkata:
“ Dalam buku ini anda selain mencakup perihal kehidupan petani Tiongkok dengan baik, anda juga mencakup tema universal seperti kehidupan petani miskin yang menjadi kaya, yang kemudian mengkehendaki hal-hal yang sebelumnya tak terbayangkan olehnya, sehingga ia  melampiaskan hawa nafsu dengan kekuasaan uang.  Juga universal adalah gelagat gagalnya putra-putranya untuk meneruskan usaha sang ayah yang mengolah sawah yang berlimpah-limpah, demikian pula hal pertentangan kelas atas dan kelas bawah dalam masyarakat agraris.”

Pearl:
“Ketika saya menulis di Tiongkok mengenai kebiasaan orang Tiongkok, tentang orang Tiongkok, saya menggunakan lidah Tiongkok…. Konesekuansinya adalah ketika…. Menulis tentang orang Tiongkok ceritanya bergulir dengan sendirinya dalam benak saya segenapnya dalam idom-idiom Tiongkok, dan saya secara harafiah menterjemahkannya sambil jalan.”

Aku berkata:
“ Dengan demikian anda bisa menulis dengan realistis mengenai kehidupan petani Tiongkok yang intim dengan alam. Gaya penulisan anda lugas dan sederhana, tidak berbunga-bunga. 
Tokoh utama wanitanya, O-lan isteri Wang Lung, tidaklah cantik, mukanya persegi, wajah yang jujur, hidungnya pendek, lebar dengan lubang hidung yang besar hitam, dan mulutnya lebar, ada luka di wajahnya. Matanya kecil dengan warna hitam yang membosankan, dan diisi dengan suatu kesedihan yang tidak jelas diungkapkan.”

Pearl:
“Yang paling disesalkan Wang Lung adalah telapak kaki O-lan yang besar karena tidak diikat dari kecil sesuai tradisi Tiongkok. Tapak kaki yang kecil dianggap sebagai ciri wanita yang menarik, sehingga sejak kecil kaki anak perempuan diikat, ini sangat menyakitkan lho, terutama buat anak-anak kecil. Tapi berkat tapak kakinya yang besar O-lan kuat berjalan dan bekerja berat di sawah membantu suaminya, sedangkan wanita dengan kaki yang kecil , tidak lebih dari 3 inci, tidak kuat berjalan dan bekerja.
Selain pekerja keras yang patuh kepada suami, O-lan adalah juga pilar keluarga itu, dialah yang banyak membuat keputusan-keputusan yang sulit, dan dia memikul keputusan-keputusan sukar ini dengan penuh ketabahan. “


Aku berkata:
“ Karakter yang luar biasa, dia sadar dia tidak cantik dan suaminya sebenarnya tidak mencintainya. Namun ia cukup bahagia karena dapat melahirkan beberapa anak laki-laki bagi suaminya. Tradisi Tiongkok sangat menghargai ibu yang dapat melahirkan anak laki-laki, karena anak laki-laki ini yang akan meneruskan nama keluarga dan diharapkan selanjutnya berbakti dan merawat kepada orang tuanya di usia lanjut.”

Pearl:
“Begitulah realitas kehidupan petani Tiongkok masa itu, dan mungkin pada umumnya demikian, urusan perkawinan dan berkeluarga menjadi urusan yang praktis. “

Aku berkata:
“ Saya juga mengamati dalam novel ini, tiadanya penggambaran roman cinta yang menggebu-gebu bak Romeo dan Juliet, tidak ada kata-kata mesra dan puisi yang mengesankan. Yang ada nafsu menggebu-gebu Wang Lun setelah bertemu wanita penghibur Lotus yang cantik mungil, yang jauh lebih cantik dari O-lan.  Wang Lung merasakan menemukan kemesraan cinta dengan Lotus yang kemudian di jadikan gundiknya, ia tidak dapat mendapatkan kemesraan ini dari O-lan. 
Namun hampanya rasa cinta dan kemesraan terhadap O-lan anda gambarkan dengan sangat mengesankan dalam adegan saat-saat terakhir O-lan yang menderita penyakit yang mematikan. Rasa hampa itu sangat mengesankan.”

Pearl, menggambarkan saat itu:
“O-lan mengigau dalam sakitnya:’Saya sadar bahwa saya jelek dan tidak patut dicintai…” Mendengar ini Wang Lung tidaj sanggup menahan perasaannya dan menggenggam tangan O-lan dan dia mengelusnya, sebua tangan besar dan keras, kaku bagaikan telah mati.  Dan dia bingung dan sedih akan dirtinya sendiri terutama karena apa yang dikatakan O-lan adalah benar adanya, dan meskipun ia menggenggam tangannya, dengan sungguh berharap bahwa O-lan dapat merasakan kelembutan Wang Lung kepadanya, dia malu karna Wang Lung tak dapat merasakan kelembutan, tidak ada mencairnya hati seperti yang dapat didapatkan Lotus dengan mengambekan bibirnya. Ketika ia mengambil tangan kaku yang sekarat itu dia tidak mencintainya, dan bahkan rasa kasihannya dinodai oleh rasa penolakan terhadapnya.”

TAMAT

Ini adalah wawancara imajiner mengenang Pearl S. Buck