Cari Blog Ini

Sabtu, 19 Oktober 2019

Tokyo, di Disney Parade


Melihat rombongan orang yang datang ke Disneyland di Tokyo, kita bisa mengerti mengapa Disneyland mengklaim dirinya sebagai “The Happiest Place on Earth”, tempat yang paling berbahagia di dunia. Semenjak sebelum jam buka, banyak pengunjung yang dengan bersemangat bergegas keluar dari kereta metro untuk melihat bagaimana tempat ini sesungguhnya. Mengharapkan bisa masuk lebih awal melalui pintu selamat datang, semangat mereka punah dengan cepat setelah melihat panjangnya antrian besar-besaran di pintu masuk.  

Semua harus berbaris di antrian panjang, anak-anak, remaja, orang tua dan kakek nenek, sementara mereka mulai merasakan suasana Disney selagi mengantri.  Mickey Mouse yang riang dalam tuxedo hitamnya menyambut anak-anak di taman depan, dan senyuman mereka terrekam dalam foto-foto yang mereka buat. Jadi pengalaman mengantri yang panjang tidaklah begitu buruk, terimakasih atas keramahan dan efisiensi Disneyland, dan juga atas sifat orang-orang Jepang yang santun. Antrian panjang bahkan terlupakan ketika para pengunjung masuk gardu utama Disneyland menuju dunia yang berbeda, dunia kecil di mata anak-anak seperti yang diceritakan buku cerita dan filem-filem.

Tapi kita bisa melihat bahwa sebenarnya jumlah anak kecil jauh lebih rendah dari jumlah pengunjung remaja dan dewasa, mungkin karena para remaja memiliki mobilitas yang lebih tinggi untuk jalan-jalan sedangkan anak-anak harus ditemani orang tua mereka. Tentunya Disneyland menyadari angka-angka ini dan menyediakan berbagai macam jenis atraksi untuk para remaja yang memfokuskan pada aktivitas, menunggang, pertualangan, dan musikal yang romantis. Selanjutnya para pengunjung dewasa dapat menikmati nostalgia masa kecil dengan bertemu dengan Winnie the Pooh, Donald Duck, Sleeping Beauty setelah menunggangi perjalanan di Pirates of the Caribbean,  Indiana Jones  dan Jurassic Park.

Salah satu atraksi yang paling popular di Disneyland adalah parade siang hari yang menampilkan kereta raksasa dengan tokoh-tokoh Disney menari mengikuti irama musik.  Tema parade saat itu adalah “Happiness is Here”, kebahagian hadir di sini, yang menegaskan klaim Disneyland sebagai “The Happiest Place on Earth”. Demikian dikatakan, siapa yang tidak bisa gembira menonton parade yang diawali oleh Goofi di atas kuda, diikuti ketiga babi kecil yang menarik mainan drum Mickey Mouse, dan Pinocchio yang memimpin sebuah kereta magis dengan Sleepy dan Grumpy sebagai penumpang. Donald Duck, Daisy Duck, Pluto, Chip 'n' Dale menunggangi sebuah kereta besar yang mempunyai carousel, canopies, dan Minnie Mouse melambai di belakangnya.  Lalu kereta terakhir menampilkan Mickey Mouse dan Minnie Mouse di atas sebuah balon udara raksasa yang terbuat dari balon-balon Mickey Mouse. Balon-balon itu dipegang oleh Goofy, dan Mickey dan Donald melambaikan sampai jumpa lagi kepada para pengunjung.

Parade itu pastilah penuh kenangan, tokoh-tokoh yang riang menari mengikuti irama musik yang berulang-ulang sesuai dengan apa yang Walt Disney pernah katakan:” Tertawa adalah abadi, imajinasi tidak pilih umur, dan impian-impian adalah untuk selamanya.”

TAMAT


Sabtu, 10 Agustus 2019

Dubai, di Dubai Mall


Mendarat di Dubai jam enam pagi, selagi masih sejuk, di bandara kelas dunia, membuat kita serasa sampai di sebuah oase modern di tengah gurun pasir.  Debu- debu pasir tidaklah terlihat, tak seorangpun nampak berkeringat, dan bau parfum yang dipakai oran-orang local berpakaian jubah tradisional menyerbak di udara,  seperti bau asap hio.

Ketika keluar dari bandara, saya menyadari bahwa bandara itu terletak di dalam kota, mobil-mobil mulai mengisi jalanan dengan cepat karna orang-orang ingin menhindari macet yang akan datang beberapa jam lagi, dengan teriknya hari.

Tak lama kemudian saya bisa melihat mengapa Dubai dikatakan pusat bisnis Timur Tengah, Hongkong nya Timur Tengah.  Penghasilan dari minyak membantu mempercepat pertumbuhan kota ini, yang sudah menjadi pusat perdagangan, namun sumber minyak dari Dubai terbatas dan tingkat produksinya rendah: saat ini kurang dari 5% penghasilan emirat ini berasal dari minyak.  Perekonomian Dubai sekarang bergantung pada penghasilan perdagnagan, pariwisata, penerbangan, real estate dan jasa keuangan. Hotel-hotel , restoran-restoran, taman rekreasi dan tempat tamasya pantai yang paling ekstravagan semua dibuat agar kita dapat menikmati hidup yang terbaik yang bisa ditawarkan.

Salah satu tujuan untuk plesiran dan berbelanja adalah Dubai Mall yang menarik pembeli kaya dari seluruh penjuru dunia.  Menampilkan lebih dari 1,200 toko retail, termasuk jaringan Bloomingdale dan Galeries Lafayette, ratusan tempat makan dan minum, yang mencakup area lebih dari 1 juta m2.  Dubai Mall adalah shopping mall terbesar kedua di dunia, kompleks raksasa dilengkapi dengan akuarium,   virtual-reality theme park, ice skating berukuran olimpiade, pertokoan emas dan ratusan boutique dan restoran mewah.

Dubai Mall dirancang seperti sebuah kota, dengan jalan-jalan pedestrian internal, simpang-simpang dan bangunan penting, yang terintegrasi dengan disainnya dan di atur dengan boulevard yang lebar dan lurus yang berujung ke persimpangan yang dihias dengan indah menghubungkan banyak toko-toko.  Anda bisa berjalan di bawah sejuknya udara dari Sega ke Kidzania ke bioskop, dari Versace ke Gucci di Fashion Avenue ke toko-toko elektronik dan minum, makan di banyak restoran dan kafe di antaranya. Setelah capek belanja dan kenyang makan anda bisa nonton filem di bioskop-bioskopyang nyaman. Rasanya benar-benar berjalan di tengah kota di oase di tengah gurun pasir, di mana anda tak melihat seorangpun haus atau berkeringat walaupun udara di luar mall di atas 40 derajat C.

TAMAT






Minggu, 21 Juli 2019

Malam Ave Maria di Lourdes



Penulis Perancis yang terkenal, Emile Zola, mengunjungi Lourdes pertama kalinya di September 1891 dan terkesima oleh banyaknya pejiarah yang mengunjungi Lourdes. Dia kembali di bulan Agustus tahun berikutnya yang merupakan saat yang paling sibuk bagi pejiarah, dan meluangkan waktu dengan pejiarah, melakukan wawancara dan pengamatan yang menjadi basis bagi novelnya ‘Lourdes’ yang terbit di tahun 1894.

Dalam kunjungannya Zola menyaksikan prosesi Ave Maria di malam hari dan menggambarkannya di novelnya: “Tigapuluh ribuan cahaya lilin membakar di sana, tegar dan senantiasa berkeliling, mempergegas kilauannya di bawah keheningan mega di mana planet-planet telah pucat. Kilauan cahaya menanjak bergandengan dalam kekangan lagu yang tak henti-henti. Dan gaung nyanyian yang tak henti-henti mengulangi refrain ‘Ave, Ave, Ave Maria’ itu seakan suara percikan api lilin-lilin dalam doa-doa agar jiwa-jiwa dapat diselamatkan.”

Setiap hari di antara bulan April dan Oktober di jam 5 sore pejiarah Lourdes menjawab permintaan Santa Maria dengan berkumpul untul Prosesi Ekaristi. Prosesi itu bermula dari altar udara terbuka di lapangan rumput di seberang sungai dari gua (grotto) dan diawali oleh pejiarah-pejiarah yang sakit dan diikuti oleh pastor, uskup atau kardinal yang memanggul Ekaristi Suci.

Lalu pada jam 9 malam para pejiarah dari berbagai tempat di dunia berkumpul untuk prosesi Ave Maria Lourdes. Prosesi itu bermula dari dekat gua dan berlanjut disekitar boulevard sampai di Rosary Square.
Prosesi ini diawali oleh para pejiarah yang sakit yang diikuti oleh para voluntir yang memanggul replica patung Santa Maria. Fokus dari prosesi dengan cahaya lilin ini adalah doa rosario.  Kelima dari sepuluh butiran rosario didoakan, diasanya dalam berbagai bahasa. Lagu Lourdes Hymn juga dinyanyikan, dalam bait-bait dengan berbagai bahasa. Mungkin ada doa-doa permohonan yang diikuti dengan lagu Laudate Mariam.

Dalam keheningan malam, setiap pejiarah membawa permohonan pribadinya ketika lagu Ave Maria dinyanyikan ber-ulang-ulang selama prosesi yang disinari cahaya lilin. Seperti yang ditulis Elie Zola di novelnya: “Gaung suara yang tak henti-henti mengulangi refrain 'Ave, Ave, Ave Maria’ itu menembus kulit seseorang sungguh-sungguh. Saya merasa seperti seluruh tubuh saya pada akhirnya ikut menyanyikannya.”

TAMAT




Kamis, 11 Juli 2019

Ave Maria di Pagi Hari di Lourdes


Lourdes adalah sebuah kota dagang kecil yang terletak di kaki pegunungan Pyreness di Perancis. Berada pada ketinggian 420 meter dan di lokasi sentral yang dilalui sungai Gave de Pau yang mengalir deras. Setiap tahun, Lourdes didatangi jutaan pejiarah, mereka datang untuk melihat lokasi dimana peristiwa penampakkan  yang tersohor dialami seorang gadis kecil bernama Bernadette Soubirous.


Para pejiarah bisa berkunjung untuk dibersihkan dari dosa-dosa dan disembuhkan dari penyakit mereka. Dipercayai bahwa air dari muara air dari gua itu bisa menyembuhkan orang-orang yang sakit.  Jutaan pengunjung dating ke Lourdes setiap tahunnya dengan harapan agar disembuhkan. Salah satu alas an bagi pejiarah untuk berkunjung ke Lourdes adalah untuk mandi di mata air, untuk berendam sepenuhnya dan minum untuk pembersihan dan penyembuhan. Permandian itu adalah symbol pembaptisan dan juga penguatan iman para pejiarah.

Sejarahnya berawal di tanggal 11 Februari 1858, ketika Bernadette Soubrious, gadis local berumur 14 tahun, pergi keluar dengan saudarinya Toinette, dan seorang kawan Jeanne, untuk mencari kayu api dekat gua di lokasi itu. Sekonyong-konyong, seorang wanita menampakkan diri mengenakan jubah putih cemerlang yang diikat dengan pita biru; tubuhnya diselebungi kerudung putih panjang sampai ke kakinya. Wanita itu kemudian memperkenalkan diri sebagai “the Immaculate Conception” yang merupakan salah satu gelar Santa Maria.

Santa Maria kemudian menampakkan diri 18 kali ke Bernadette, dan pada tanggal 25 Febuari Santa Maria meminta gadis itu untuk menggali sebuah mata air di tempat yang tidak pernah ditemukan sebelumnya. Santa Maria menyuruhnya “Pegilah dan minum dari mata air dan cucilah dirimu di sana.”  Walaupun tempat itu berlumpur, keesokan harinya, dari tanah itu mengalir air yang jernih. Tak lama kemudian dilaporkan adanya penyembuhan dari air yang diminum darinya, dan sejak saat itu banyak orang disembuhkan dari pembasuhan dan minum air itu.  Mata air Lourdes menjadi terkenal karena mujizat-mujizat yang dihubungkan dengannya.

Hal yang amat menonjol di mata para pengunjung awam adalah banyaknya orang-orang sakit dan cacat yang hadir di Lourdes. Semua yang didera oleh hidup dapat menemukan sekadar penghiburan di Lourdes.  Resminya, 80,000 an orang sakit dan cacat dari berbagai negeri dating ke Lourdes setiap tahun. Walaupun menderita penyakit atau cacat, mereka merasa berada di surga kedamaian dan suka cita.


TAMAT