Cari Blog Ini

Sabtu, 28 Maret 2020

Seoul, di Gwanghwamun Square


Berjalan dari Gwanghwamun gate (istana Gyeongbokgung) menuju kota, saya melihat ada sebuah avenue yang asyik dan gembira. Avenue ini dikelilingi Gedung-gedung tinggi, dan dinamakan Gwanghwamun Square. Mengamati avenue ini, lalu saya teringat inilah lokasi dari filem action Iris, filem serial drama TV yang popular di Korea, dimana aksi kejar-kejaran yang mendebarkan, dan perkelahian terjadi. Kim Hyeon-jun (Lee Byung-hun) dan Kim Sun-hwa (Kim So-yeon) berada di Gwanghwamun Square untuk mencari bom yang ditanam oleh teroris disini di episode 17.

Avenue yang menuju istana sudah ada sejak Seoul menjadi ibukota Korea. Avenue in lebar buat perjalanan raja dan romobongannya dari istana ke tujuan lainnya. Di abad ke 20 avenue itu masih lebar, dengan 16 jalur mobil, namun di tahun 2009 Pemerintah memutuskan untuk membuat lapangan nasional dengan mengubah 10 jalur menjadi lapangan untuk publik untuk bergembira dan bersosialisasi. Demikianlah terjadinya Gwanghwamun Square.

Di tengah lapangan ini berdirilah patung dari Raja Sejong yang Agung, raja ke-empat dan yang paling dihormati dari dinasti Joeseon dan pencipta Hangeul, alphabet Korea. Kebetulan saya melihat filem The King’s Letters di penerbangan dengan Asiana, sebuah filem sejarah yang menggambarkan Raja Sejong mengambil risiko mempertaruhkan reputasinya untuk menciptakan Hangeul, alphabet Korea bagi rakyatnya. Filem itu cukup menarik untuk ditonton, menimbang topic yang membosankan dan akademis tentang pembentukan bahasa Korea tertulis. Pastilah tidak mudah membuat filem yang menarik dari topic yang demikian.

Lebih jauh, terdapat patung Admiral Yi Shun-shin, komandan angkatan laut yang terkenal akan kejayaannya terhadap angkatan laut Jepang ketika penyerbuan Jepang ke Korea (1592-1598) dan seorang pahlawan bagi rakyat Korea. Di depan patung itu terdapat miniature kapal kura-kura yang dibuat sang Admiral, dan disetiap pojok ada gendang yang dipakai untuk meningkatkan moral para prajurit menuju medan perang.

Pada bulan Oktober itu, ‘Hi Seoul Festival’ sedang berlangsung di Gwanghwamun Square. Festival itu adalah festival besar tahunan bagi pertunjukan kesenian untuk mempromosikan kebersatuan international dengan memungkinkan orang-orang berkomunikasi melalui music dan pertunjukan non-verbal, melampaui batas-batas bahasa, ras dan usia. Ratusan pertunjukan dari kelompok-kelompok dari seluruh dunia dipanggungkan selama seminggu festival ini.

Namun, festival ini bukan hanya perayaan. Berhubung tragedy kapal Sewol baru terjadi beberapa bulan sebelumnya, ada kenangan bagi korban-korban tenggelamnya kapal itu dipertunjukan disana. Ada poster-poster yang menggambarkan kesedihan orang tua, kawan dan saudara-saudara para korban, beberapa poster menunjukan kemarahan atas cara pemerintah menangani tragedi ini.

Dari ke 476 penumpang dan awak kapal, 304 meninggal di kecelakaan itu, yang terbanyak adalah para pelajar sekitar 250 orang dari SMA Danwon, kota Ansan. Tenggelamnya kapal MV Sewol menimbulkan reaksi sosial dan politik yang meluas di Korea Selatan. Banyak orang mengkritik kapten dan sebagian besar awak kapalnya. Juga dikritik operator kapal ferry itu dan pemerintah yang mengawasi operasi kapal itu, termasuk pemerintahan presiden Park Geun-hye akan tindakannya untuk mengendalikan bencana itu.

TAMAT
Sumber: Wikipedia






Jumat, 06 Maret 2020

Seoul, di Istana Gyeongbokgung



Ketika saya memasuki ruang pertemuan utama dari Istana Gyeongbokgung, saya menatap ke langit-langit dan saya takjub melihat ornamen warna warni, merah, biru dan hijau, yang berbunga-bunga di bagian sudut-sudut atap.  Saya bisa melihat gambaran agung dari naga-naga di langit-langit itu, menunjukan dua ekor naga kuning terbang di langit. Di dalam tradisi Timur, warna kuning diasosiasikan dengan lokasi sentral, jadi kuning adalah warna pusat kekekuasaan.

Sejak jaman dulu naga-naga adalah bagian dari mitologi Timur, dan juga simbol utama bagi kekuasaan dan martabat raja. Naga yang terbang ke angkasa melambangkan yang diharapkan agar seorang yang bijaksana akan naik takhta. Hal ini berasal dari mitologi dimana seekor naga yang sudah lama disembunyikan di laut bangkit dan terbang ke atas menuju langit.  Jadi naga-naga terbang yang digambarkan di langit-langit, dan juga yang di kanopi di atas takhta raja melambangkan posisi sentral raja, dari mana ia memerintah dunia sekitarnya dengan kekuasaan dan martabat.

Berjalan sekeliling situ, saya juga melihat banyak lagi figur hewan-hewan di istana itu, hewan-hewan ini merupakan simbol keberuntungan yang menandakan panjang umur, kedamaian dan kesejahteraan, dan kebahagiaan. Termasuk diantaranya qilin, gajah, rusa, dan bangau terpatri di ruang pertemuan dari Istana Gyeongbokgung. Ada pula hewan-hewan yang diaksudkan untuk mengusir roh-roh jahat dan menghindarkan ketidakberuntungan. Diantaranya adalah cheollok yang terlihat di jembatan Yeongjegyo di Istana itu, ketika roh-roh jahat atau orang jahat menyeberangi jembatan itu, hewan-hewan mitologis ini menyerang dan mengusir mereka.

Raja Taejo, raja pertama dan pendiri dinasti Joseon, di tahun 1392 memutuskan untuk memindahkan pemerintahan ke Hanyang (Seoul sekarang) di tahun ketiga pemerintahannya, dan memulai pembangunan Istana Gyeongbokgung di tahun 1394. Lokasinya dikelilingi 4 gunung, gunung Bugaksan di sebelah Utara, gunung Namsan di Selatan, gunung Naksan di Timur dan gunung Imwangsan di Barat. Tata letak gunung-gunung ini dipercayai akan member fengshui yang bagus bagi Gyeongbokgung.

Pembangunan dari istana mulai di bulan Desember 1394 dibawah pengawasan Jeong Do-jeon, seorang menteri pemerintahan yang berpengaruh, dan rekannya Sim Deokpu. Jeong Do-jeon yang juga adalah sarjana Confusius yang terkemuka, merancang istana itu mencerminkan filosofi dari Confusianisme. Dia ingin merefleksikan prinsip-prinsip dinasti Joseon berdasarkan idealisme Confusius. Menurut  Confusianisme seseorang haruslah melatih jiwa dan badannya sebelum dia bisa mengajar orang lain dan memerintah dunia.

Karenanya Jong Do-jeon menyarankan bahwa istana itu janganlah menjadi simbol kedaulatan kekuasaan, tapi sebuah tempat dimana raja mengolah jiwanya dan memerintah rakyatnya dengan bantuan pegawai pemerintah yang baik. Dia ingin membangun istana yang bukannya megah atau menawan, tapi rada sederhana dan anggun. Membangun istana yang mewah bukanlah salah satu nilai dari Confusianisme.

Jong Do-jeon also gave name to the palace Gyeongbokgung, which means the ‘Palace of Shining Blessings’. ‘Gyongbok’ is a word borrowed from one of the Confucian scriptures which means ‘to enjoy good fortune and prosper’. The word ‘gung’ means palace, so ‘Gyeongbokgung’ suggested good wishes to the new dynasty.

Jong Do-jeon juga memberi nama istana itu Gyeongbokgung, yang berarti ‘Istana dengan Rahmat bersinar’. ‘Gyongbok’ adalah kata yang diambil dari salah satu kitab Confucius yang berarti ‘nikmati keberuntungan dan makmur.’ Kata ‘gung’ berarti istana, jadi ‘Gyeongbokgung’ menyarankan harapan baik bagi dinasti yang baru.

TAMAT

Sumber: kto.visitkorea.or.kr ; https://artsandculture.google.com/theme/animals-in-the-palaces/xQIy6nRWUZs6JA?hl=en ;







Rabu, 05 Februari 2020

Wawancara dengan Emile


Salah satu tulisan Emile yang kontroversial adalah novel “Lourdes” mengenai konflik antara agama dan naturalisme yang dipanggungkan di lokasi ziarah terkenal Lourdes, Perancis. Setelah membaca novel ini saya terdorong untuk berbincang-bincang dan mengkonfrontasikannya dengan kontroversi yang ditimbulkan oleh novel itu. Saya berusaha untuk menghubunginya banyak kali, namun dia tampaknya sibuk dan sedang berkelana di Perancis.


Lalu, saat saya berkunjung ke Lourdes di bulan Agustus, saya dengar bahwa Emile juga sedang di sana di tengah ribuan peziarah yang datang dari segala penjuru dunia. Saya sangat heran dia mau datang ke sini, mempertimbangkan reputasinya sebagai pendiri pergerakan kesusasteraan baru ‘Le Naturisme’, kembali kepada alam, sebuah bentuk realisme yang ekstrim yang menerangkan segala sesuatu berdasarkan gejala alamiah dan menyangkal segala suatu yang supranatural atau dicampurtangani ilahi.

Dengan tekad menemuinya, saya bertanya kepada orang-orang di sana mengenai keberadaanya, tapi tidaklah mudah. Setiap orang yang datang kesini memiliki minat tersendiri, dan tentunya mengincar selebritis bukanlah minat utama mereka. Namun, dengan sedikit keberuntungan, setelah pencarian panjang saya melihatnya ditengah sekelompok kecil peziarah yang sedang bernyanyi dan menari, dekat Grotto di samping sungai Gave de Pau.

Dia sepertinya sedang bergembira di sana dan ternyata orangnya ramah dan mudah didekati.  Setelah saling bertukar ‘Bonjour’, dan ‘bolehkah saya berbicara dengan anda’ dengan sopan,  dia setuju untuk berbincang di sana di pinggir sungai Gave de Pau. Saya tidak menyangka-nyangka, kepala saya meledak membayangkan pujian-pujian dan hadiah-hadiah yang akan saya dapat dari penerbit ‘stenote’.

Lalu saya buru-buru membuka perbincangan:
“Monsieur, Lourdes saat ini tampaknya sudah sangat jauh berkembang dibandingkan dengan saat Bernadette Soubirous hidup. Dulunya adalah perkampungan hijau dengan beberapa ratus penduduk, jauh dari jalan besar, pada masa Bernadette. Sekarang, lihatlah, ada sebuah basilica yang megah di pusatnya, dan gua Massabeille yang liar tempat penampakan Santa Maria sekarang di rapikan dan dihiasi bunga-bunga, dan banyak hotel-hotel dan restoran-restoran bagus yang mengelilingi tempat ini.”

Emile:
“Benar, di buku saya, saya menulis tentang perbandingan keadaan Lourdes masa kini dengan rumah Bernadette di Rue des Petits Floses yang dibiarkan sama seperti keadaan aslinya. Rumah itu tampak sederhana dan menyedihkan di daerah yang suram, dengan bagian muka yang sedih yang jendela-jendelanya tidak pernah terbuka. Di dalamnya seperti ruang gelap yang rendah, dindingnya yang rapuh, plesterannya lembab dan bernoda, rontok sedikit demi sedikit, penuh dengan retak-retak, dan menghitam seperti langit-langitnya. Ya, inilah ruangannya, dari sinilah semua asal muasalnya, 3 tempat tidur untuk 7 orang anggota keluarga Soubirous mengisi tempat kecil ini. Semuanya hidup di sini tampa udara, cahaya, dan hampir tanpa roti! Sungguh kesengsaraan yang mengerikan! Betapa hinanya, kemiskinan yang perlu dikasihani!”

Aku berkata:
“ Tak dapat dihindari bahwa orang-orang mengkritik Lourdes masa kini dalam hal hubungannya dengan praktek-praktek bisnis masa kini, komersialisasi. Sekitar 5 juta peziarah dari seluruh penjuru dunia mengunjungi Lourdes setiap tahunnya, membuatnya kota kedua di Perancis yang paling banyak dikunjungi, setelah Paris. Ada kekhawatiran bahwa dengan menjadi tempat ziarah yang melayani pengunjung masal, aktivitas komersial yang mengitari perziarahan akan meluruhkan kesucian tempat ini.”

Emile, mengutip bukunya:
“Tapi, memang, saya musti bilang bahwa anggota komunitas religious seharusnya tidak memiliki hotel. Tidak, tidak, itu tidaklah benar. Bukankah seharusnya mereka dari komunitas biarawati Blue Sisters, mereka dari Sisters of the Immaculate Conception, membatasi diri mereka ke fungsi mereka yang sebenarnya, pembuatan roti untuk sakramen, memperbaiki dan mencuci kain-kain gereja?

Alih-alih begitu, mereka malah mengubah biara mereka menjadi losmen yang besar, di mana wanita-wanita yang datang ke Lourdes sendirian dapat menemukan kamar tersendiri dan bisa makan di kamarnya maupun di ruang makan umum. Semuanya tentulah sangat bersih, diatur sangat rapih dan tidak mahal, berkat ribuan keleluasaan yang didapatkan para biarawati; kenyataannya tidak ada satupun hotel di Lourdes yang bisnisnya melebihi ini.”

Aku berkata:
“Karena formasi modernnya, bahkan ada tudingan bahwa Lourdes sudah menjadi sebuah Disneyland bagi orang dewasa. Kalau dipikir-pikir, boulevard-boulevard dan taman-tamannya mirip dengan yang di Disney town,  Rosary Basilica dapat dibandingkan dengan Istana Cinderella, prosesi Ave Maria bisa dibandingkan dengan karnaval “Happiness is here” di Disneyland, dan lilin-lilin yang dipakai di prosesi malam bisa dibandingkan dengan kembang api di Disneyland.”

Emile:
“Disneyland di Hong Kong memiliki kereta api khusus menuju tempatnya yang terpencil di pulau Lantau. Seluruh kereta dihiasi dengan Mickey Mouse luar dalam, semua bermotif wajah Mickey. Tempat duduknya diatur seperti ruang keluarga sehingga penumpang dapat merasa nyaman. Jendela-jendelanya berbentuk Mickey, pegangan tangan untuk penumpang berbentuk kupingnya Mickey, dan interiornya dihiasi patung-patung Mickey, Donald dan Goofy. Sehingga anda sudah merasa suasana Disney walaupun belum sampai ke theme park nya.

Di satu sisi, Gereja juga menggunakan kereta api secara inovatif untuk meningkatkan jumlah peziarah ke Lourdes. Mereka mengkoordinasikan kereta api khusus bagi peziarah, merancang gerbong-gerbong untuk mengangkut peziarah yang sakit dan yang cacat, dan mendapatkan diskon 20 hingga 30 persen bagi tiket kelas ekonomi.

Seperti yang saya tulis di buku saya, kereta-api kereta-api ke Lourdes adalah rumahsakit rumah sakit beroda bagi penderita penyakit tahap akhir, yang berisi penderitaan manusia yang bergegas akan harapan penyembuhan, dengan gencar mencari penghiburan di antara serangan-serangan penyakit  yang keparahannya meningkat terus, selalu dibayangi oleh ancaman kematian -  kematian yang bergegas, melaju di bawah kondisi yang mengerikan, seakan berada di tengah-tengah gerombolan penyamun.”

Aku berkata:
“Anda bergabung dengan sebuah kereta api ke Lourdes kala itu untuk melihat sendiri kondisi kereta api dan berdasarkan pengalaman ini anda menulis di buku anda penderitaan, gairah dan harapan para peziarah. Kesakitan, kekhawatiran dan kematian tersebut adalah pengalaman nyata anda di kereta api itu.”

Emile:
“Ya, misalnya Elise Rouquet adalah gadis 18 tahun yang nyata, ia menderita penyakit lupus yang memangsa hidung and mulutnya.  Lukanya telah menyebar, dan menyebar dalam setiap jam – dengan singkat semua gejala mengerikan penyakit ini sudah berkembang sepenuhnya. Dia menutupi seluruh wajahnya dengan syal untuk menyembunyikan penyakit itu. Dia hanya bisa makan potongan-potongan kecil roti, yang dihirup berhati-hati kedalam mulutnya yang sudah hilang bentuknya. Ketika dia membuka syalnya untuk makan, orang-orang bisa melihat wajahnya dengan lubang-lubang menganga yang sepertinya merupakan wajah kematian. Semua orang di gerbong itu menjadi pucat ketika menyaksikan penampakan yang mengerikan itu. Dan pikiran yang sama bangkit di dalam hati orang-orang yang penuh harapan itu. Oh Perawan Penuh Rahmat, Perawan Berkuasa, betapa akan menjadi mujizat benar jika penyakit ini disembuhkan!”

Aku berkata:
“Lalu, seperti yang anda tulis di buku anda, Elise Rouquet merasa tidak perlu pergi ke piscinas (tempat pemandian atau pembasuhan peziarah) untuk memandikan luka mengerikan yang memakan wajahnya, membasuh mukanya dengan air disitu sebagai lotion, setiap 2 jam sejak kedatangannnya pagi itu. Dokter Bonamy, yang menganjurkannya untuk meneruskan pemakaian air itu sebagai lotion dan menyuruhnya kembali setiap hari untuk diperiksa, setelah beberapa saat melihat ada tanda-tanda pemulihan – yang tak tersangkalkan. Jelas nampak bahwa penyakit lupus yang memakan wajahnya, menunjukan tanda-tanda pemulihan.

Elise Rouquet, sekarang lukanya sudah mulai sembuh, lalu membeli cermin kantung, yang bundar besar, di mana ia tidak usah gusar mengamati wajahnya, karena ia menganggap wajahnya cukup cantik dan mengamati dari menit ke menit kemajuan pemulihannya, saat wajahnya sekarang sudah manusiawi kembali, dan lalu dengan genitnya memoncongkan bibirnya dan mencoba berbagai senyuman.

Tapi, Monsieur, walaupun anda mengamati dan menulis tentang kesembuhan penyakit lupus ini, anda menyangkal bahwa ini adalah mujizat. Anda bahkan menampik untuk mengamati wajah Elise yang sedang dalam pemulihan dari dekat seperti yang dianjurkan dokter Bonamy, dan bahkan menjawab :’Bagi saya wajahnya masih jelek.’ Bagaimana and bisa menampik hal ini?”

Emile:
“Seperti yang saya tulis di Pendahuluan buku saya, saya mengakui bahwa saya menjumpai beberapa kasus penyembuhan yang nyata. Banyak kasus gangguan syaraf yang disembuhkan tanpa keraguan, dan ada kasus kesembuhan lain yang mungkin disebabkan oleh kesalahan diagnosis dari dokter-dokter yang memeriksa pasien-pasien tersebut. Kesembuhan yang begini didasarkan atas keteledoran profesi medis.

Seperti yang dikatakan doker Chassaigne para ahli medis menduga banyak penyakit-penyakit ini disebabkan olef syaraf. Ya, mereka menemukan bahwa banyak keluhan seperti ini sering disebabkan buruknya nutrisi pada kulit. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini belumlah dipelajari dan dimengerti dengan baik!  Beberapa ahli medis mulai membuktikan bahwa iman yang diteguhkan bahkan dapat menyembuhkan penyakit, di antaranya beberapa jenis lupus. Bagaimanapun sains adalah sia-sia, sains adalah lautan ketidaktentuan.”

Aku berkata:
“Anda datang ke Lourdes untuk mempelajari fenomena mujizat dari sudut pandang skeptis, namun tak teduga-duga anda mengamati 3 mujizat dalam satu kunjungan anda, sementara bagi banyak orang mereka tak mendengar satu mujizatpun, atau penampakan seakan mujizat, di banyak kunjungan-kunjungan ke sini.

Anda menulis tentang mujizat-mujizat itu dengan terperinci, selain Elise Rouquet ada gadis cilik petani Sophie Couteau yang kembali berkunjung ke Lourdes setelah ia disembuhkan setahun sebelumnya. Dia menderita selama 3 tahun luka menganga yang mengerikan di kakinya, kakinya bengkak dan sudah tak berbentuk. Kakinya selalu diperban karena selalu ada cairan kotor yang keluar dari luka itu. Doker yang membuka kakinya untuk melihat ke dalam, mengatakan bahwa ia harus mengeluarkan sebagian tulang; dan hal ini, cukup pasti akan menjadikan Sophie lumpuh seumur hidup.

Namun dia sembuh dalam sekejap setelah membasuh kakinya di piscina; dimana semua perbannya jatuh terlepas, dan seluruh kakinya sembuh seperti kondisi sehat semula.”

Emile:
“Saya menyelidiki hal ini secara mendalam. Saya dibilangi ada 3 atau 4 wanita di Lourdes yang dapat menjamin fakta-fakta seperti yang dibilang oleh Clementine Trove, nama asli Sophie. Saya mencari wanita-wanita itu. Namun tak seorangpun bisa menjamin apapun, tak seorangpun menyaksikannya, dan saya tak mendapatkan sesuatupun pembenaran akan cerita gadis cilik ini. Tapi gadis ini tidak kelihatan seperti pembohong, dan saya yakin dia sungguh percaya penyembuhannya adalah mujizat. Fakta-fakta lah yang berdusta.”

Aku berkata:
“Ada kasus lain lagi yang anda alami, penyembuhan Marie Lebranchu, anda namai La Grivotte di buku anda. Wanita 36 tahun ini menderita tuberculosis paru-paru yang mematikan selama 2 tahun, dan sudah sampai stadium akhir penyakitnya.”

Emile, mengutip bukunya:
“La Grivotte menangis deras ketika orang-orang tidak mau memandikannya di piscina. Mereka bilang penyakitnya mematikan, dan mereka tak dapat merendam seseorang dengan penyakit mematikan seperti ini ke dalam air yang dingin itu. Lalu ia sampai lelah berkata kepada mereka selama setengah jam bahwa mereka hanya menggusarkan Perawan Penuh Rahmat, karena ia yakin ia akan disembuhkan. Dia mulai menyebabkan skandal hingga salah seorang pastor datang dan mencoba menenangkannya. Lalu setelah mendapat ijin khusus dari pastor Forcade, dia mengharuskan dirinya untuk memohon dan meminta-minta dengan terisak-isak agar mereka merendamkannya.

Dan lalu terjadilah apa yang La Grivotte katakan akan terjadi. Belum lagi direndam selama 3 menit di air sedingin es itu – semua orang khawatir oleh detak penyakit mematikannya – ketika dia mendapatkan kekuatan kembali ke badannya seperti cambuk mencambuki seluruh badannya. Lalu kegembiraan yang berkobar-kobar merasukinya; berseri-seri, berjingkrak-jingkrak, dia tak bisa berdiam. Di malam sebelumnya dia terlihat terbaring di kursi roda, punah, batuk dan meludahkan darah, dengan wajah pucat pasi.”

Aku berkata:
“ Pada akhir buku itu, anda menulis bahwa La Grivotte kembali jatuh sakit dengan penyakitnya yang mematikan itu dan dalam keadaan sekarat di kereta api perjalanan balik ke rumah, yang menyarankan bahwa kesembuhannya tidaklah permanen dan bukanlah supranatural, tapi cuma kasus sugesti automatis di tengah suasana religious yang histeris.

Namun anda terus berhubungan dengan wanita itu lama sesudah kesembuhannya, dan pasti mengetahui bahwa penyakitnya tidak pernah kambuh lagi. Marie Lebranchu, nama asli La Grivotte, hidup sehat sampai tahun 1920.

Dokter Boissarie, atau doker Bonamy di buku anda, Presiden dari Medical Bereau, mempertanyakan kejujuran anda akan cerita anda, merujuk kepada perkataan anda bahwa anda datang ke Lourdes untuk melalukan penyelidikan yang imparsial.”

Emile:
“Saya menjawab dokter Boissarie bahwa sebagai seniman saya bisa berbuat apa saja dengan tulisan saya. Saya menulis untuk mengungkapkan pandangan saya tentang agama penderitaan manusia, penebusan rasa sakit, kemanusian yang menangis putus asa dengan penderitaan, seolah seperti orang lumpuh yang putus asa, kelumpuhan yang tak tersembuhkan, dan yang mana hanya mujizat dapat menyelamatkannya.”

Aku berkata:
“Hampir 7,000 kesembuhan didokumentasikan di perairan Lourdes. Gereja menyelidiki dengan seksama semua kasus ini dan mengakui hanya 67 di antaranya. Ke-67 kasus ini juga disetujyui sebagai mujizat oleh International Medical Committee of Lourdes (CMIL).

Ketiga mujizat yang anda amati, dari Clementine Trove (Sophie Couteau di buku anda), Marie Lemarchand (Elise Rouquet) dan Marie Lebranchu (La Griovote),  semua termasuk dalam 67 mujizat yang disetuhui oleh Gereja dan CMIL.”

Emile:
“Mujizat-mujizat Lourdes tidak dapat dibuktikan ataupun disanggah. Tidak satupun mujizat yang saya amati saya bisa menemukan bukti nyata yang menunjang atau menyanggah bahwa penyembuhan itu adalah mujizat. Bahkan jika saja saya menyaksikan semua orang sakit disembuhkan di Lourdes, saya tetap tidak akan percaya akan mujizat.”

Aku berkata:
“Monsiuer, terlepas dari kepercayaan anda, novel anda telah merangkum dengan baik rasa kasih sayang manusia, tragedinya, harapannya dan drama pejiarah penderita sakit, yang disembuhkan dan yang tak disembuhkan. Pemaparan tentang kenekatan dan rasa putus asa penderita penyakit, yang diabaikan oleh sains dan manusia, mengarahkan diri ke pada Kuasa yang lebih tinggi mengharapkan bantuan. Di sini fenomena Lourdes ditulis dan diamati dengan sangat baik, buku ini menggambarkan Lourdes dari segala aspek. Ada sekitar seratus karakter yang anda tulis, penderita sakit, pejiarah, pastor, suster, perawat, semua mereka terasa hidup dalam tulisan anda.

Lalu, bolehkah saya bertanya untuk terakhir kali, apakah benar Sophie bercerita: ‘Saya tidak membawa cukup perban untuk kaki saya, jadi sang Perawan Penuh Rahmat sangat berbaik hati menyembuhkan saya di hari pertama, karena saya akan kehabisan pembalut di keesokan harinya.”


Emile hanya tersenyum…..


TAMAT

Ini adalah wawancara imajiner mengenang Emile Zola.






Minggu, 24 November 2019

Seoul, di Myeongdong Malam Hari



Di sore hari ketika jalanan di Myeongdong ditutup bagi lalu-lintas, gerobak-gerobak jajanan mulai berdatangan menyajikan berbagai panganan Korea. Ketika lampu-lampu neon dihidupkan asap dari panggangan menyerbak ke udara memancing air liur.  Anda dapat menelusuri gerobak demi gerobak memilih panganan berdasarkan bentuk dan aromanya.

Namun, tidak seperti Bangkok di mana anda dapat makan makanan besar di pinggir jalan, di Seoul jenis makanan piggir jalan lebih menjurus ke jajanan yang bisa dimakan sambil berdiri atau jalan, melayani pendusuk Seoul yang berjalan dari subway ke subway.

Di tengah padatnya ruas-ruas jalan di Myeongdong, gerobak-gerobak makanan berbaris di antara hotel-hotel, toko-toko kecantikan, restoran , café dan kelab malam. Myeongdong adalah tempat tujuan utama bagi wisatawan di Seoul. Dari gerobak ke gerobak anda bisa mencari panganan, namun anda harus mencicipi dulu Tteokbokki, yang merupakan adonan nasi dengan ikan, telur, bawang dan saus merah asam manis. Padatnya adonan nasi itu dikombinasikan dengan aroma bawang dan biji-biji wijen membuatnya panganan sedap di malam yang sejuk. Harga satu porsi Tteokbokki antara 2000 ke 4000 KRW.

Photo by 709 K, Wikimedia
Bersama Tteokbokki yang agak pedas, anda bisa memakannya dengan Gimbap, nasi gulung seperti lemper atau sushi, yang berisi nasi ketan – ‘bap’ yang digulung dalam lembaran rumput laut – ‘Gim’, diisi dengan berbagai bahan seperti sayuran, ikan tuna, stick kepiting, acar dan berbagai variasi. Seporsi hidangan dari 3 atau 4 potongan Gimbap berharga sekitar 1500 KRW.

Photo by cutekirin, Wikimedia

Lalu anda bisa mencoba Hweori Gamja atau kentang tornado yang merupakan panganan jalanan yang sangat populer di Korea. Kentang Tornado merupakan kentang goring yang dipotong spiral seperti tornado, yang kemudian dicelup kedalam berbagi macam saus. Sausnya bisa keju, sambal merah, madu atau gula merah. Kentang Tornado ini panganan yang sedap, mudah dimakan sambil jalan-jalan di pasar malam Myeongdong.

Photo by tragrpx, Wikimedia
Setelah makan berbagai panganan anda lalu dapat makan menu utama, Sundae. Jangan salah ini bukan ice cream, ini adalah sosis darah ala Korea. Walaupun keliatannya tidak merangsang selera, warnanya hitam, ternyata rasanya enak. Sundae ini berasal dari periode Goryeo, yang dicatat dalam buku masakan abad 19, dan dimaksudkan untuk dihidangkan untuk acara- acara khusus. Tergantung penjualnya, sosis darah ini dapat diisi dengan daging, bihun dan berbagai sayuran. Seporsi harganya sekitar 6000 KRW.


Photo by SauceSupreme, Wikimedia

Nah, sekarang anda pasti sudah kenyang, kalau belum cobalah Ppopgi. Ini adalah gula-gula jaman dulu, biasanya dijual dan dibuat oleh generasi tua Korea. Ppopgi ini terbuat hanya dari dua bahan yakni baking soda dan gula, namun teknik dan timing adalah factor-faktor penting untuk pembuatan ppopgi yang benar. Setiap ppopgi memiliki berbagai pola cetakan, dulu ketika anak-anak dapat memakan ppopgi di sekitar pola cetakan tanpa mematahkannya, mereka akan mendapat ppopgi gratis dari penjualnya. Cobalah, ppopgi itu lebih keras dari pada penampilannya.

Photo by도자놀자 , Wikimedia

TAMAT