Cari Blog Ini

Sabtu, 02 November 2019

Seoul, di Myeongdong Pagi Hari


Kita bisa katakan bahwa jalanan Myeongdong, pusat perbelanjaan di Seoul, adalah wajah Korea modern yang dikendalikan oleh “Hallyu” atau “Gelombang Korea” yang merupakan istilah kolektif bagi perkembangan yang fenomenal dari kebudayaan pop Korea yang mencakup segalanya mulai dari musik, filem, drama samapai ke pakaian dan makanan.  Gelombang Korea mulanya menyebar ke Tiongkok dan Jepang sekitar tahun 2000, dan kemudian ke Asia Tenggara dan beberapa Negara di dunia di mana ia terus memiliki pengaruh yang kuat dan menjadi salah satu fenomena kebudayaan terbesar di Asia.


Saat kita berjalan di Myeongdong kita bisa melihat berbagai tanda mata dari K-pop dan K-drama di toko-toko, mulai dari calendar, cangkir kopi, ke T-shirts, kaus kaki dan bahkan keripik kentang, hampir segalanya menampilkan wajah selebritis terkemuka negara ini. Kita bisa melihat wajah dari group K-pop Girl’s Generation, Blackpink, atau boy group Exo , Super Junior  di baju dan alat tulis menulis, dan kita bisa melihat jejak-jejak dari  Winter Sonata, Autumn in My Heart, atau My Sassy Girl dipajangan untuk mengingatkan kita akan filem drama TV Korea yang terkenal.
                      
Masa kini kebudayaan pop Korea juga mempengaruhi baik wanita maupun pria di Asia untuk menyukai produk pemeliharaan kulit dan make-up buatan Korea.  Yoona dari group Girls’ Generation yang terpilih sebagai model bagi Innisfree, dan Taeyeon yang juga dari Girls’ Generation mewakili Nature Republic , dengan image bersih mereka berhasil meluncurkan kosmetik-kosmetik buatan Korea menjadi merek yang dikenal secara global. Maka di tahun-tahun ini kosmetik Korea mendobrak Asia di hampir semua penjuru. Dari face masks dan body cream sampai ke cairan pembersih dan hand lotions, Korea memiliki produk-produk kecantikan yang merupakan salah satu yang terbaik dan yang paling terjangkau di pasar. Oleh karena itu baik toko kosmetik kecil maupun departments store di Myeongdong selalu dipenuhi pembelanja yang mencari produk-produk dari The Faceshop, Innisfree, Missha, Nature, Tony Moly, Etude House dsb.

Myeongdong  which in Korean means “bright tunnel” or “bright cave” perhaps has its image enhanced by the bright, shiny, and polished image of this place and the Korean pop idols. You may see everywhere advertisement at this “bright tunnel” displays beautiful faces promoting flashy brand clothing, cosmetics, and fashion accessories.  Jackets, hats, and outfits can become iconic when worn by Exo’s Chanyeol,  Twice’s Nayeon, or BTS’ Suga. High rise department stores and small stores popping up acting as a platform to encourage you to buy latest style clothing, with a K-pop idol standing card-board welcoming you at the front door.

Myeongdong yang dalam bahasa Korea berarti “terowongan terang” atau “gua terang” barangkali  image-nya telah dibentuk oleh kesan terang, mengkilat dan terpoles dari tempat ini dan idola-idola pop  Korea. Anda bisa melihat dimana-mana iklan-iklan di “terowongan terang” ini menampilkan wajah-wajah cantik mempromosikan pakaian dengan merek mewah, kosmetik yang memuluskan dan aneka asesori pakaian.   Baik di billboard yang gemerkap maupun di layar TV, jaket, topi dan baju bisa menjadi ikonik ketika dipakai oleh Chanyeoul dari Exo, Nayeon dari Twice atau Suga dari BTS. Department Store yang bertingkat-tingkat dan toko-toko kecil tumbuh menjamur bertindak sebagai panggung yang mengajak anda untuk membeli pakaian-pakaian bergaya mutakhir, dengan seorang K-pop idol dari karton berdiri  menyambut anda di muka pintu.

TAMAT







Sabtu, 19 Oktober 2019

Tokyo, di Disney Parade


Melihat rombongan orang yang datang ke Disneyland di Tokyo, kita bisa mengerti mengapa Disneyland mengklaim dirinya sebagai “The Happiest Place on Earth”, tempat yang paling berbahagia di dunia. Semenjak sebelum jam buka, banyak pengunjung yang dengan bersemangat bergegas keluar dari kereta metro untuk melihat bagaimana tempat ini sesungguhnya. Mengharapkan bisa masuk lebih awal melalui pintu selamat datang, semangat mereka punah dengan cepat setelah melihat panjangnya antrian besar-besaran di pintu masuk.  

Semua harus berbaris di antrian panjang, anak-anak, remaja, orang tua dan kakek nenek, sementara mereka mulai merasakan suasana Disney selagi mengantri.  Mickey Mouse yang riang dalam tuxedo hitamnya menyambut anak-anak di taman depan, dan senyuman mereka terrekam dalam foto-foto yang mereka buat. Jadi pengalaman mengantri yang panjang tidaklah begitu buruk, terimakasih atas keramahan dan efisiensi Disneyland, dan juga atas sifat orang-orang Jepang yang santun. Antrian panjang bahkan terlupakan ketika para pengunjung masuk gardu utama Disneyland menuju dunia yang berbeda, dunia kecil di mata anak-anak seperti yang diceritakan buku cerita dan filem-filem.

Tapi kita bisa melihat bahwa sebenarnya jumlah anak kecil jauh lebih rendah dari jumlah pengunjung remaja dan dewasa, mungkin karena para remaja memiliki mobilitas yang lebih tinggi untuk jalan-jalan sedangkan anak-anak harus ditemani orang tua mereka. Tentunya Disneyland menyadari angka-angka ini dan menyediakan berbagai macam jenis atraksi untuk para remaja yang memfokuskan pada aktivitas, menunggang, pertualangan, dan musikal yang romantis. Selanjutnya para pengunjung dewasa dapat menikmati nostalgia masa kecil dengan bertemu dengan Winnie the Pooh, Donald Duck, Sleeping Beauty setelah menunggangi perjalanan di Pirates of the Caribbean,  Indiana Jones  dan Jurassic Park.

Salah satu atraksi yang paling popular di Disneyland adalah parade siang hari yang menampilkan kereta raksasa dengan tokoh-tokoh Disney menari mengikuti irama musik.  Tema parade saat itu adalah “Happiness is Here”, kebahagian hadir di sini, yang menegaskan klaim Disneyland sebagai “The Happiest Place on Earth”. Demikian dikatakan, siapa yang tidak bisa gembira menonton parade yang diawali oleh Goofi di atas kuda, diikuti ketiga babi kecil yang menarik mainan drum Mickey Mouse, dan Pinocchio yang memimpin sebuah kereta magis dengan Sleepy dan Grumpy sebagai penumpang. Donald Duck, Daisy Duck, Pluto, Chip 'n' Dale menunggangi sebuah kereta besar yang mempunyai carousel, canopies, dan Minnie Mouse melambai di belakangnya.  Lalu kereta terakhir menampilkan Mickey Mouse dan Minnie Mouse di atas sebuah balon udara raksasa yang terbuat dari balon-balon Mickey Mouse. Balon-balon itu dipegang oleh Goofy, dan Mickey dan Donald melambaikan sampai jumpa lagi kepada para pengunjung.

Parade itu pastilah penuh kenangan, tokoh-tokoh yang riang menari mengikuti irama musik yang berulang-ulang sesuai dengan apa yang Walt Disney pernah katakan:” Tertawa adalah abadi, imajinasi tidak pilih umur, dan impian-impian adalah untuk selamanya.”

TAMAT


Sabtu, 10 Agustus 2019

Dubai, di Dubai Mall


Mendarat di Dubai jam enam pagi, selagi masih sejuk, di bandara kelas dunia, membuat kita serasa sampai di sebuah oase modern di tengah gurun pasir.  Debu- debu pasir tidaklah terlihat, tak seorangpun nampak berkeringat, dan bau parfum yang dipakai oran-orang local berpakaian jubah tradisional menyerbak di udara,  seperti bau asap hio.

Ketika keluar dari bandara, saya menyadari bahwa bandara itu terletak di dalam kota, mobil-mobil mulai mengisi jalanan dengan cepat karna orang-orang ingin menhindari macet yang akan datang beberapa jam lagi, dengan teriknya hari.

Tak lama kemudian saya bisa melihat mengapa Dubai dikatakan pusat bisnis Timur Tengah, Hongkong nya Timur Tengah.  Penghasilan dari minyak membantu mempercepat pertumbuhan kota ini, yang sudah menjadi pusat perdagangan, namun sumber minyak dari Dubai terbatas dan tingkat produksinya rendah: saat ini kurang dari 5% penghasilan emirat ini berasal dari minyak.  Perekonomian Dubai sekarang bergantung pada penghasilan perdagnagan, pariwisata, penerbangan, real estate dan jasa keuangan. Hotel-hotel , restoran-restoran, taman rekreasi dan tempat tamasya pantai yang paling ekstravagan semua dibuat agar kita dapat menikmati hidup yang terbaik yang bisa ditawarkan.

Salah satu tujuan untuk plesiran dan berbelanja adalah Dubai Mall yang menarik pembeli kaya dari seluruh penjuru dunia.  Menampilkan lebih dari 1,200 toko retail, termasuk jaringan Bloomingdale dan Galeries Lafayette, ratusan tempat makan dan minum, yang mencakup area lebih dari 1 juta m2.  Dubai Mall adalah shopping mall terbesar kedua di dunia, kompleks raksasa dilengkapi dengan akuarium,   virtual-reality theme park, ice skating berukuran olimpiade, pertokoan emas dan ratusan boutique dan restoran mewah.

Dubai Mall dirancang seperti sebuah kota, dengan jalan-jalan pedestrian internal, simpang-simpang dan bangunan penting, yang terintegrasi dengan disainnya dan di atur dengan boulevard yang lebar dan lurus yang berujung ke persimpangan yang dihias dengan indah menghubungkan banyak toko-toko.  Anda bisa berjalan di bawah sejuknya udara dari Sega ke Kidzania ke bioskop, dari Versace ke Gucci di Fashion Avenue ke toko-toko elektronik dan minum, makan di banyak restoran dan kafe di antaranya. Setelah capek belanja dan kenyang makan anda bisa nonton filem di bioskop-bioskopyang nyaman. Rasanya benar-benar berjalan di tengah kota di oase di tengah gurun pasir, di mana anda tak melihat seorangpun haus atau berkeringat walaupun udara di luar mall di atas 40 derajat C.

TAMAT






Minggu, 21 Juli 2019

Malam Ave Maria di Lourdes



Penulis Perancis yang terkenal, Emile Zola, mengunjungi Lourdes pertama kalinya di September 1891 dan terkesima oleh banyaknya pejiarah yang mengunjungi Lourdes. Dia kembali di bulan Agustus tahun berikutnya yang merupakan saat yang paling sibuk bagi pejiarah, dan meluangkan waktu dengan pejiarah, melakukan wawancara dan pengamatan yang menjadi basis bagi novelnya ‘Lourdes’ yang terbit di tahun 1894.

Dalam kunjungannya Zola menyaksikan prosesi Ave Maria di malam hari dan menggambarkannya di novelnya: “Tigapuluh ribuan cahaya lilin membakar di sana, tegar dan senantiasa berkeliling, mempergegas kilauannya di bawah keheningan mega di mana planet-planet telah pucat. Kilauan cahaya menanjak bergandengan dalam kekangan lagu yang tak henti-henti. Dan gaung nyanyian yang tak henti-henti mengulangi refrain ‘Ave, Ave, Ave Maria’ itu seakan suara percikan api lilin-lilin dalam doa-doa agar jiwa-jiwa dapat diselamatkan.”

Setiap hari di antara bulan April dan Oktober di jam 5 sore pejiarah Lourdes menjawab permintaan Santa Maria dengan berkumpul untul Prosesi Ekaristi. Prosesi itu bermula dari altar udara terbuka di lapangan rumput di seberang sungai dari gua (grotto) dan diawali oleh pejiarah-pejiarah yang sakit dan diikuti oleh pastor, uskup atau kardinal yang memanggul Ekaristi Suci.

Lalu pada jam 9 malam para pejiarah dari berbagai tempat di dunia berkumpul untuk prosesi Ave Maria Lourdes. Prosesi itu bermula dari dekat gua dan berlanjut disekitar boulevard sampai di Rosary Square.
Prosesi ini diawali oleh para pejiarah yang sakit yang diikuti oleh para voluntir yang memanggul replica patung Santa Maria. Fokus dari prosesi dengan cahaya lilin ini adalah doa rosario.  Kelima dari sepuluh butiran rosario didoakan, diasanya dalam berbagai bahasa. Lagu Lourdes Hymn juga dinyanyikan, dalam bait-bait dengan berbagai bahasa. Mungkin ada doa-doa permohonan yang diikuti dengan lagu Laudate Mariam.

Dalam keheningan malam, setiap pejiarah membawa permohonan pribadinya ketika lagu Ave Maria dinyanyikan ber-ulang-ulang selama prosesi yang disinari cahaya lilin. Seperti yang ditulis Elie Zola di novelnya: “Gaung suara yang tak henti-henti mengulangi refrain 'Ave, Ave, Ave Maria’ itu menembus kulit seseorang sungguh-sungguh. Saya merasa seperti seluruh tubuh saya pada akhirnya ikut menyanyikannya.”

TAMAT