Cari Blog Ini

Sabtu, 24 April 2021

Verona, di Katedral

 

Katedral ini, di pinggir Fiume Adige di daerah paling utara Verona, dapat dicapai dengan hanya jalan kaki sebentar dari jemabatan Ponte Pietra. Tempat ini sebenarnya sebuah kompleks, karena tempat ini meliputi pembaptisan Giovanni in Fronte, gereja Santa Elena, reruntuhan bangunan pertama basilica jaman paleo-Kristen, biara para Canons, dan perpustakaan Capitoline.

Katedral Santa Maria Matricolare, adalah campuran fantastis dari gaya Veronese Romanesque wdengan elemen-elemen Gothic. Interior katedral ini sebagian besar mewakili gaya sebuah gereja Romanesque, yang terbagi menjadi tiga lorong oleh pilar-pilar dari marmer merah Verona yang mendukung lengkungan langit-langit gaya Gothic.

Ketika kita memasuki katedral ini, hal pertama yang menarik anda adalah kapel-kapel di pinggir ruangan dengan dekorasi mewah, yang menampilkan karya seni beberapa abad di bawah kuasa Venesia. Di kapel pertama di sebelah kiri digantungkan lukisan Titian tentang “Kenaikan ke Surga”. Lukisan agung ini, memperlihatkan para rasul berlutut dan memandang Santa Maria terangkat ke angkasa di dalam awan-awan yang menjulang. Lukisan ini sempat diambil oleh Napoleon I ke Paris sewaktu kekuasaannya, namun dikembalikan ke Verona setelah ia meninggalkan Eruopa.

Daerah terkudus katedral ini tertutup oleh lengkungan layer paduan suara yang diciptakan oleh Sanmicheli dan didekorasikan dengan Salib karya Giambattista da Verona. Daerah altarnya sendiri memiliki fresco-fresco karya Francesco Torbido, berdasarkan gambar-gamabr dari Guilio Romano.

Dari belakang katedral ini kita akan melewati gereja kecil S. Giovanni in Fonte yang di waktu lampau dipakai sebagai tempat pembaptisan. Kolam pembaptisan yang berbentuk octagonal di tengah gereja itu diukir dari blok marmer tunggal. Kolam baptis ini diciptakan oleh pemahat Verona bernama Brioloto.

Di samping gereja pembaptisan ini ada gereja Santa Elena. Di dinding muka gereja ini ada sebuah tablet Latin yang menyatakan bahwa penyair Dante Alighieri berada di sisni di tahun 1320 untuk menyampaikan idenya "Quaestio de Aqua et Terra", yang merupakan bahan penting mengenai kosmologi di abad pertengahan.

Di altar gereja ini terpajang lukisan dari Felice Brusasorzi yang menggambarkan Madonna di singasana dengan sang Putra, Santo Stefanus, Santo Zeno, Santo Giorgio dan Santa Elena.

Sebuah gereja yang dibuat untuk Santo Giorgio dan Zeno di lokasi ini diresmikan di antara tahun 842 dan 847, namun hancur oleh gempa bumi di tahun 1117. Gereja yang sekarang dibuat dengan merekonstruksikan gereja yang runtuh, yang diselesaikan di tahun 1140.


TAMAT

Sumber:

https://www.chieseverona.it/en/our-churches/the-cathedral-complex




Sabtu, 03 April 2021

Wawancara dengan Fyodor

 

Photo: Wikimedia

Judul bukunya yang terkenal Crime and Punishment (Kejahatan dan Hukuman) tidaklah menganjurkan bahwa buku ini adalah sebuah novel, melainkan bunyinya bagaikan sebuah buku filsafat atau sosial politik. Jadi, pada awalnya buku ini tidak menarik bagi saya karena sudah ada begitu banyak buku yang menulis tentang topik ini. Namun Ketika saya membaca ulasan tentang buku ini, kelihatannya menarik dan memacu saya untuk membacanya,  walaupun saya kira akan ada diskusi filsafat mengenai topik ini. Memang ada, namun ditulis seperti diskusi biasa diantara mahasiswa. Tidaklah sulit untuk mengikutinya. 

Lalu, setelah membaca buku yang sangat menarik ini, saya mengambil kereta api dari Moscow menuju St. Petersburg di musim dingin untuk menemui penulis besar ini. Kami bertemu di apartemen di pojok jalan Grazhdanskaya 19 dimana Raskolnikov pernah tinggal. Sepintas lalu, Fyodor tampak seperti seorang penulis yang pemalu, pucat, dan tertutup, dan dia bergerak dengan amat kikuk dan tersentak-sentak. Namun bola matanya yang kelabu biru yang tajam memberi kesan karakter yang Tangguh, memandang saya dengan dalam seakan ingin melihat kedalam batin saya dan menilai saya. 

Sebenarnya, orang ini dikenal akan keberaniannya dan rasa keadilan yang sangat kuat, mengkritik korupsi yang dilakukan aparatur negara dan menolong petani-petani miskin. Namun saya tidak akan menanyakan mengenai suatu kejadian traumatis dalam hidupnya, karena mungkin sudah banyak orang yang bertanya kepadanya. Banyak orang tahu tentang apa yang terjadi di tanggal 22 Desember 1849, ketika Fyodor muda di kirim ke Lapangan Semyonov untuk menemui nasibnya – menghadap regu penembak hukuman mati, sebagai hukuman atas keterlibatannya dengan Petrashevsky Circle, sebuah kelompok sastrawan yang dianggap merongrong Tsar dan Gereja. Ketika regu penembak mulai membidik senapan mereka ke kelompok ini, seorang kurir datang ke lapangan itu melambaikan bendera putih pada menit terakhir. Dia mengumumkan pengampunan dari Tsar Nicholas, untuk “menunjukkan belas kasih”. Namun, hal ini bukanlah belas kasih, sebenarnya adalah suatu cara untuk menteror kelompok ini, suatu penyiksaan psikologis yang lalim. Fyodor menulis pengalaman ini di novel The Idiot (Si Dungu). Sebenarnya, seluruh cerita kehidupannya sendiri bisa ditulis dalam sebuah novel, dan akan menjadi novel yang luar biasa. 

Namun, saat ini saya lebih baik berbicara dengannya tentang penjahat di Crime and Punishment (Kejahatan dan Hukuman), jadi, tanpa membuang waktu saya mulai bertanya padanya:

 “Sang protagonis, Rodion Romanovich Raskolnikov, pria 23 tahun, bekas mahasiswa ilmu Hukum membunuh seorang perempuan tua untuk mendapatkan uangnya, dengan dua pukulan sisi tumpul sebuah kapak. Dengarkan: ‘Dia mengeluarkan kapak itu seperlunya, mengayunkannya dengan kedua tangan, hampir tidak sadar akan dirinya sendiri, dan hampir tanpa usaha, hampir secara mekanis, mengayun sisi tumpul kapak itu ke kepala perempuan itu.’ 

Hal ini direnungkan, direncanakan, pembunuhan berdarah, namun dia kira ini bukan kejahatan, dengarkan ini: ‘ Ketika dia sampai pada kesimpulan-kesimpulan ini, dia memutuskan bahwa dalam kasusnya ini tidak ada nada reaksi yang mengerikan, bahwa alasan dan keinginannya akan tetap tidak terganggu pada saat menjalankan gagasannya, karena alasan sederhana bahwa gagasannya adalah 'bukan kejahatan....' 

Bagaimana dia bisa berpikir bahwa pembunuhan yang mengerikan ini terhadap seorang perempuan tua tak berdaya bukanlah kejahatan?

 

Fyodor:

“Perempuan tua itu, Alyona Ivanovna, adalah seorang broker penggadaian, yang menghisap darah orang miskin sedemikian rupa sehingga dia digambarkan sebagai ‘Tidak lebih dari kehidupan seekor kutu, dari kumbang hitam, pada kenyataannya kurang, karena wanita tua itu melakukan hal yang membahayakan. Dia menindas kehidupan orang lain.’

Sementara Raskolnikov hidup dalam kemiskinan yang amat sangat di sebuah kamar sewaan di Saint Petersburg. ‘Ruangan itu memiliki penampilan terlanda kemiskinan dengan kertas dinding kuning kusam yang mengelupas dari dinding, yang sangat rendah atapnya sehingga seorang dengan ketinggian diatas rata-rata merasa tidak nyaman didalamnya dan merasa setiap saat kepalanya akan menyondol langit-langit. Dia tertindas oleh kemiskinan.”

 

Saya berkata:

“Ketika menjadi mahasiswa Raskolnikov menulis sebuah artikel berjudul ‘Tentang Kejahatan’, yang menurut penuturan teman karibnya Razumihin: ‘Ada saranan bahwa ada orang-orang tertentu yang bisa… hal ini, bukan sesungguhnya bisa melakukan, namun memiliki hak sempurna untuk melanggar moralitas dan kejahatan, dan bahwa hukum tidak berlaku bagi mereka. Hak akan perbuatan jahat? Tapi bukanlah disebabkan oleh pengaruh lingkungan?”

 

Fyodor berkata:

“Dalam artikel ini semua orang terbagi antara ‘yang biasa’ dan ‘yang luar biasa’. Orang biasa harus hidup berbakti, tidak berhak untuk melanggar hukum, karena, apa anda tidak melihat, mereka orang biasa. Tapi orang luar biasa berhak melakukan kejahatan apapun dan melanggar hukum secara apapun, hanya karena mereka orang luar biasa. Namun, Raskolnikov tidak berpendapat bahwa orang luar biasa niscaya akan melanggar moral, seperti yang anda namakan. Kenyataannya, Raskonikov meragukan apakah artikel itu dapat diterbitkan.  Dia mengisyaratkan bahwa seorang ‘luar biasa’ berhak… hal ini bukanlah hak resmi, namun hak batiniah untuk memutuskan dengan kesadarannya sendiri untuk melangkahi…. kendala-kendala tertentu, dan hanya dalam kasus dimana hal ini penting sebagai pemenuhan praktis akan pandangannya, kadang kala, mungkin, demi kebaikan seluruh kemanusiaan.”

 

Saya berkata:

“Kendati pandangannya akan kejahatan, Raskolnikov menemukan dirinya ditimbuni kebingungan, paranoia, dan kejijikan akan apa yang telah dia lakukan. Dia selalu bertempur dengan rasa salah dan takut dan menghadapi konsekuensi tindakannya. Konflik psikologis dilukiskan dengan sangat baik di buku ini, saya kira ini adalah bagian yang paling menarik dari novel ini, sangat intens, penuh ketegangan, tentang pergulatan batin sang pembunuh. Anda menggambarkan bagaimana Raskolnikov bergulat dengan kejahatan itu bahkan sejak pertama kali dia mengandung ide untuk membunuh perempuan tua itu.”

 

Fyodor, mengutip bagian pertama dari bab pertama:

“Ketika dia berada di jalanan dia berteriak, ‘Oh Tuhan, betapa menjijikkan hal ini semua! dan dapatkah saya, dapatkah saya mungkin… Tidak, ini semua omong kosong, ini semua sampah!’ dia menambahkan dengan tegas.  ‘Dan bagaimana hal yang mengerikan ini bisa masuk kedalam kepala saya? Betapa hati saya dapat begitu kotor. Ya, kotor di atas segalanya, menjijikkan, membencikan, membencikan! – dan sepanjang bulan ini saya berbuat…..’

Dan di saat lain dia berteriak: ‘Tuhan yang mahabaik!’ Dapatkah, dapatkah, bahwa saya akan benar-benar mengambil kapak, bahwa saya akan memukul nya di kepala, membelah tengkoraknya terbuka…. Bahwa saya akan menjinjit di darah kental hangat, memecahkan kunci, mencuri dan bergemetar; menyembunyikan, semuanya tercecer dalam darah… dengan kapak ini… Tuhan yang mahabaik, dapatkah hal itu terjadi?”

 

Saya berkata:

“Dan mimpi buruk yang dia alami selagi masa kanak-kanak menyaksikan pembunuhan berdarah kuda betina kecil yang menyeramkan: ‘Bawa kapak kepadanya! Matikan dia secepatnya,’ berteriak orang ketiga… Sang korban membuka moncongnya, menarik napas panjang, lalu mati…. ‘Papa! Mengapa mereka… membunuh… kuda malang itu!’ Dalam mimpinya dia terisak, tapi napasnya tersegal, dan kata-katanya meledak seperti tangisan dari himpitan dadanya.”

 

Fyodor:

“Walaupun demikian, hal itu tidak menghentikannya, sebuah percakapan sepele yang terdengar olehnya antara seorang mahasiswa dengan seorang polisi menguatkan tekadnnya untuk membunuh. Mahasiswa itu dengan sekenanya berkata: ‘Bunuhlah dia dan ambil uangnya, sehingga setelah itu dengan uang itu membantu ada berbakti kepada pelayanan semua manusia dan kebutuhan bersama’….’Tentu saja, dia tidak layak untuk hidup. Disamping itu, apalah gunanya hidup dari seorang perempuan yang sakit sifatnya, bodoh, dan sikap yang jelek di antara keberadaan selebihnya! Tidak lebih dari kehidupan seekor kutu, dari kumbang hitam, pada kenyataannya kurang, karena wanita tua itu melakukan hal yang membahayakan.’

 Raskolnikov berpikir tentang bagaimana samanya pemikiran mereka tentang perempuan ini dan berhubungan dengan teori ‘orang luar biasa’ nya, dia pikir hal ini bukanlah sekedar kebetulan, mengapa dia harus mendengar pada saat itu pembicaraan itu tentang ide-idea yang sama. Seakan telah ditakdirkan, sebuah isyarat yang menjurus, membuat Raskolnikov berpikir dia adalah orang yang terpilih untuk membunuh perempuan itu.”

 

Aku berkata:

“Lalu anda menulis bagaimana dia merencanakan membunuh perempuan itu, caranya dan waktunya. Bagaimana dia menyiapkan jerat untuk menyembunyikan kapak didalam mantelnya sehingga tidak terlihat dari luar, bagaimana dia mencuri kapak itu, bagaimana dia mengalihkan perhatian perempuan itu untuk sesaat, untuk mendapatkan waktu untuk mengayun kapak itu, apa yang berada di benaknya ketika ia berjalan dari apartemennya ke rumah perempuan itu, menaiki tangga menuju apartemen perempuan itu. Napasnya terenggah-enggah dan mukanya menjadi pucat. Untuk suatu saat di muka pintu dia berpikir ‘Akankah saya pulang saja?’ ‘Apakah saya tidak tampak jelas-jelas gelisah? Dia orang yang sukar percaya…. Mustinya saya tunggu sebentar… sampai jantung saya berhenti berdebar-debar?”

 

Fyodor:

“Namun ia melakukannya. Dia mengayunkan kapaknya lagi dan lagi dengan sisi tumpulnya di tempat yang sama. Darahnya menyembur seperti dari gelas yang dibalik, badannya jatuh kebelakang. Dia melangkah mundur, membiarkannya jatuh, dan dengan segera membungkuk diatas wajahnya; dia telah mati. Matanya seperti mencuat dari rongganya, alisnya dan seluruh wajahnya kusam dan menggeliat kekejangan.”

 

Saya berkata:

“Lalu tanpa terduga adik tiri perempuannya pulang ke rumah dan melihat badan yang sudah mati. ‘Ia menatap  mayat kakaknya dengan termanggu-manggu, putih seperti kertas dan tampak seperti tak mempunyai kekuatan untuk berteriak.”

 

Fyodor:

“Raskolnikov bergegas menuju kepadanya dengan kapak; mulut perempuan itu menciut menyedihkan, seperti mulut bayi, ketika bayi mulai ketakutan, menatap langsung kepada apa yang menakutkannya dan saat akan berteriak. Dan Lizaveta yang malang itu demikian sederhana dan sudah demikian luluh dan ketakutan sampai dia bahkan tidak mengangkat tangannya untuk melindungi wajahnya, walaupun gerakan itu adalah yang paling penting dan alamiah pada saat itu, karena kapak itu diangkat dimuka wajahnya. Ia hanya mengangkat tangan kirinya yang kosong, tapi bukan ke wajahnya, perlahan mengangkatnya kedepan seakan mendorong Raskolnikov untuk menjauh. Kapak itu mengayun dengan sisi tajam tepat di tengkoraknya dan terbelah dengan satu ayunan tepat di ubun-ubun. Lizaveta langsung jatuh berdedam. Raskolnikov kehilangan akal, menyambar buntelannya, menjatuhkannya lagi dan lari ke pintu keluar.”

 

Aku berkata:

“ Sangat tragis Fyodor…. Saya kira hukuman Raskolnikov mulai ketika ia harus membunuh Lizaveta yang tak bersalah karena ia berada di tempat yang salah pada saat yang salah. Pikiran ini muncul dalam hatinya: ‘Tapi amat aneh, mengapa saya hampir tidak berpikir tentang Lizaveta, seakan saya belum membunuhnya? Lizaveta! Perempuan berhati lembut yang malang, dengan mata yang lembut…. Perempuan-perempuan tersayang! Mengapa mereka tidak menangis? Mengapa mereka tidak mengerang? Mereka menyerahkan segalanya… Mata mereka sangat halus dan lembut…! Lembut!”

 Saya melihat mata Fyodor yang tajam biru keabu-abuan melunak, dia tidak bergerak, diam…. wajahnya yang pucat, kurus, berwarna tanah diliputi titik-titik merah gelap. Lalu kami berkata “Прощай” (selamat tinggal) dengan hangat.

 

TAMAT

 Ini adalah wawancara imajiner mengenang Fyodor Dostoyevsky.

 Sumber: Crime and Punishment oleh Fyodor Dostoyevsky.









Sabtu, 06 Maret 2021

Paris, di Pameran Alexander Calder

 

Saya tidak mengetahui tentang Alexander Calder sampai ketika saya melihat pamerannya di  Musée Picasso di Paris, karya seninya dipamerkan bersama karya Picasso. Alexander Calder dikenal sebagai penemu patung dari kawat dan juga karya seni yang bergerak, sejenis seni kinetis yang tergantung kepada perhitungan berat yang cermat untuk mendapatkan keseimbangan dan suspensi di udara. Ia tidak membatasi karya seninya dalam patung; ia juga membuat lukisan, perhiasan permata, panggung teater dan kostum.

 Salah satu karya penting Alexander Calder adalah  karya monumental "Floating Clouds" (1952-1953) di Aula Magna (Central University of Venezuela) dari University City of Caracas di Venezuela. Karya ini termasuk dalam Unesco World Heritage Site. Awan-wan karya Calder dirancang khusus untuk menggabungkan seni dengan teknologi, yang membuat auditorium ini salah satu dari 5 auditorium universitas di dunia dengan kualitas suara terbaik.


Photo: Wikimedia


Ketika ia tinggal di Perancis dari tahun 1926 sampai 1933, ia dengan cermat membangun karya seni tiga dimensi menggunakan kawat yang memberi kesan seperti ‘lukisan dalam ruangan’, ia membuat representasi yang menarik dari burung, sapi, gajah, kuda dan hewan lainnya, termasuk karya luar biasa Romulus dan Remus di tahun 1928 yang menggambarkan mitologi pencipta Roma sedang disusui serigala betina. 

Ia juga menciptakan tableau para pemain sirkus, tapi Alexander Calder secara khusus merekomendasikan sendiri karya potret seluruh tubuh yang sensasional dari Josephine Baker penari di era jazz dan potret setengah badan dari banyak teman-teman seniman Paris, seperti Miso, penggubah lagu Edgard Varèse, dan  sosialita Kiki de Montparnasse.


Photo: Wikimedia

Dengan energi yang tampak tak habis-habisnya, Alexander Calder memperluas jenis-jenis karya bergeraknya dari bentuk bola ke bentuk cakram ke bentuk organis dari tumbuhan dan hewan. Perang Dunia II menyebabkan  kekurangan bahan dari lembaran logam, dan ia lalu beralih ke potongan-potongan dari kayu, pecahan gelas dan keramik, kaleng minuman dan barang-barang sisa lainnya yang dapat ia temukan di rumahnya di Roxbury, dan menciptakan rangkaian yang dijuluki ‘Constellations’ dan beberapa karya yang paling banyak disukai, termasuk Finny Fish, di tahun 1948.

 

TAMAT

 Sumber:  Wikipedia







Rabu, 10 Februari 2021

Paris, di Museum Picasso

 

Ketika berjalan-jalan di Le Marais saya melihat tanda jalan menuju Musée Picasso….., wow Museum Picasso ada disini?! Ini pastilah tidak boleh dilewatkan. Segera saya mengikuti arah menuju museum itu melewati jalan-jalan berbatu yang dijejeri café-café dan galeri-galeri yang keren menuju rue de Thorigny dimana Hôtel Salé tempat museum Picasso berada.

 Terletak di dalam Hôtel Salé bagunan agung abad ke 17, mahakarya Picasso terpampang di dinding-dinding dari ruangan-ruangan pameran yang cerah dan luas. Museum ini menyimpan lukisan, gambar-gamabar dan patung-patung karya Picasso. Pada hari itu pameran digabungkan dengan karya-karya Alexander Calder, yang juga sangat mengesankan. 

Pablo Picasso adalah pelukis dan pematung asal Spanyol yang terkenal, dianggap sebagai salah satu seniman yang paling berpengaruh di abad ke 20. Dia dikenal sebagai salah satu pendiri aliran Kubisme, sebuah gaya revolusioner seni modern guna menanggapi perubahan dunia modern. Ada orang yang berkata bahwa Kubisme itu seperti melihat ke cermin yang retak-retak dimana segalanya kacau balau. Seniman Kubisme menggunakan berbagai sudut pandang untuk memecah belah imaji-imaji menjadi berbagai bentuk geometris. Badan-badan diperlihatkan sebagai aturan dinamis dari volume dan bidang-bidang dimana latar belakang bercampur aduk dengan latar depan. Picasso tidak merasa bahwa seni harus menyalin alam dan ia tidak menyukai teknik seni perspektif tradisional, dia bilang: “Kalau subyek dari apa yang saya ingin ungkapkan memberi berbagai cara untuk mengekspresikannya saya tidak pernah ragu untuk mengadopsinya.”

Les Demoiselles d'Avignon - Wikimedia

Wanita-wanita memegang peranan penting dalam lukisan-lukisan Picasso yang mengungkapkan perasaan, pandangan psikologis dan drama keberadaan manusia. Dikenal sebagai seorang playboy, dia memiliki dua istri, enam kekasih gelap dan ratusan pacar selama perkawinannya. Hubungan romantisnya memberi inspirasi kepada begitu banyak lukisan, gambar-gambar dan patung-patung yang dibuatnya.  Dalam setiap lukisan kekasihnya terlihat hubungannya dengan berbagai masa yang menggambarkan kisah kehidupan pribadi yang menarik - kadang kala gembira, menantang, atau tragis diakhirnya. Wanita-wanita yang paling terkenal yang dikencaninya termasuk Fernande Olivier, Olga Khoklova, Marie-Thérèse Walter, Dora Maar, Françoise Gilot dan Jacqueline Roque. 

Sementara kekasih-kekasihnya merupakan inspirasi berharga bagi seninya, mereka jarang terlepas dari hubungan dengan bahagia. Jacqueline Roque, istri keduanya, dan Marie-Thérese Walter, ibu salah satu putrinya, mati bunuh diri, dan Olga Koklova, istri pertamanya, dan Dora Maar, teman kencannya,  menjadi agak hilang ingatan. 

TAMAT

Sumber:

https://news.masterworksfineart.com/2018/10/31/pablo-picasso-and-cubism

https://www.sapergalleries.com/PicassoWomen.html








Jumat, 22 Januari 2021

Paris, di Place de la Bastille

 

Di hari kedua hari bebas kami dari kantor, saya dan kolega-kolega pergi ke Bastille dan bagian-bagian lain dari Marais. Kami pikir kami akan melihat penjara Bastille yang bersejarah yang diserbu ketika revolusi Perancis di tanggal 14 Juli 1789, tapi tidak ada penjara itu. Penjara itu sudah dihancurkan dan di tempatnya ditegakkan monumen yang melambangkan perdamaian dan tetap berdiri hingga sekarang. Nama monumen itu adalah Colonne de Juillet, atau Tiang Juli. Tingginya 47 meter dan terbentuk dari 21 coran tembaga yang duduk di atas dasar marmer putih dengan ornamen ukiran, dirancang oleh arsitek Jean-Antoine Alavoine atas perintah Raja Louis Philippe.

Lapangan itu sekarang dikenal sebagai Place de la Bastille dan merupakan monumen sejarah resmi Perancis. Di sebelah Selatan lapangan ini terdapat bangunan melengkung yang besar dan berkilau, bangunan itu adalah Opera Bastille. Bangunan itu dibangun oleh arsitek Carlo Ott, dan diresmikan oleh Presiden Mitterand untuk perayaan 200 tahun Revolusi Perancis pada malam tanggal 14 Juli 1989, Hari Bastille.

Selama bertahun-tahun distrik ini menjadi salah satu tempat yang terkenal di Paris. Kehidupan malam di sini cukup terkenal, ada banyak bar-bar dan nightclubs yang berjejer di antara Rue de Lappe, the Rue de la Roquette dan Faubourg Saint-Antoine.

Berjalan di sebelah kiri dari Boulevard Beaumarchias, meninggalkan Place de la Bastille, pada jalan ke dua kami datang ke Rue du Pas de la Mule. Setelah belok kiri, dalam beberapa langkah kami melihat gedung berbata merah yang membentuk Place des Vosges. Mansion ini, dibangun di awal 1600-an, adalah sebuah kompleks yang terdiri dari 36 rumah dengan arkade yang terletak di sekelilingnya. Ada taman di tengah Place des Vosges yang dinamai Lapangan Louis XIII. Sering kali rumput di sini bisa dipakai untuk berleha-leha.

Berjalan di arkade dengan tiang-tiang dan lengkungan langit-langit dari Place des Vosges, serasa seakan kami baru saja memasuki abad ke 17. Terus ke depan, melalui café dan art galeri, di sudut arkade ini, adalah rumah no 6, sebuah mansion yang pernah menjadi tempat tinggal Victor Hugo. Sekarang mansion ini menjadi museum yang buka setiap hari, kecuali Senin dan hari libur.

 

TAMAT








Sabtu, 02 Januari 2021

Wawancara dengan Oriana

 

Photo: Wikipedia

Hari itu Oriana keluar dari kamarnya mengenakan setelan celana berwarna violet, menyapa saya dan duduk di kursi di muka jendela, menopangkan salah satu kakinya di paha kaki lainnya. Di tangan kanannya dia mengapit sebatang rokok Virginia Slims dan menghembusnya terus menerus. Walaupun dia kecil, mungkin 1.55 meter dan berat sekitar 45 kg, postur tubuhnya memberi kesan seorang wanita yang penuh percaya diri, meyakinkan dan tegas. Wawancara-wawancaranya dengan tokoh-tokoh terkenal dunia mengkonfirmasi hal ini semua. Ini adalah wanita yang berani bertanya kepada tokoh-tokoh politik pertanyaan-pertanyaan yang brutal di dalam wawancaranya. Ini adalah wanita yang berani membuka cadarnya ketika mewawancarai Khomeini, berani menanyai Nguyen Van Thieu “Sebagaimana korupkah anda?”, dan berani menuduh Yasir Arafat “Anda sama sekali tidak menginginkan perdamaian yang diharapkan semua orang.” 

Bukunya yang paling terkenal “Wawancara dengan Sejarah” mengumpulkan wawancara-wawancara dengan 14 tokoh politik, dengan sampul yang mengutip majalah Rolling Stone “pewawancara politik yang terbesar di masa modern.” Saat saya kuliah saya membaca beberapa wawancara yang membuatnya terkenal, dengan Henry Kissinger, Khomeini, dan saya terpesona. Baru belakangan ini saya menemukan buku ini dan lebih terpesona lagi dengan wawancara-wawancara degan tokoh-tokoh yang kurang populer Shah Iran, King Hussein, Jenderal Giap dan bahkan dengan tokoh yang hampir tak terkenal Alexandros Panagoulis. Sebelum membacanya, saya tidak menyangka betapa menariknya wawancara-wawancara itu, yang memberi pandangan segar dan membuka jendela-jendela terhadap kepribadian tokoh-tokoh politik itu. 

Jadi, saya datang ke apartemennya di Florence melalui jembatan Ponte Vecchio yang terkenal itu dan duduk dengan wanita lincah ini untuk berbincang tentang buku ini. Dia menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan suara yang dalam, beraksen Italia, dan dengan banyak pergerakan lengannya. Meskipun terkenal sebagai wanita temperamental, bagi saya nampaknya dia wanita yang penuh perhatian dan baik hati.

 

Lalu saya menembakkan pertanyaan pertama: 

 “Pada umumnya, jurnalisme menekankan obyektivitas dalam penulisan agar memberi gambaran akan masalah dan kejadian-kejadian secara netral dan tidak bias, tanpa mempertimbangkan pandangan dan kepercayaan pribadi sang jurnalis. Sementara anda terkenal secara di seluruh dunia dengan pendekatan anda yang penuh penghayatan dan konfrontatif. Anda menjadi selebriti karena wawancara anda yang interogatif, pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan yang membuat Shah Iran membagikan pandangan religiusnya, membuat Jenderal Giap mengungkapkan rencana permainan militernya untuk mengalahkan Amerika di Vietnam, dan kadang kala membuat Nguyen Van Thieu berair-mata.”

 

Oriana:

“Saya tidak merasa untuk menjadi, atau tidak akan pernah berhasil untuk merasa seperti, sebuah perekam dingin dari apa yang saya lihat dan dengar. Dalam setiap pengalaman profesional, saya meninggalkan seberkas hati dan jiwa saya: dan saya ikut serta dalam hal yang saya lihat dan dengar seakan-akan saya berkepentingan secara pribadi akan hal itu dan merupakan suatu hal yang saya harus menentukan pendirian saya. Jadi saya tidaklah datang ke empat belas orang ini dengan sikap ambil jarak seorang anatomis atau seorang wartawan yang berhati dingin. Saya datang dengan seribu rasa marah, seribu pertanyaan yang mendera mereka juga mendera saya, dan dengan harapan untuk mengerti bagaimana, sebagai seorang berkuasa atau penentangnya, orang-orang itu menentukan masa depan kita.”

 

Aku berkata:

“Di dalam wawancara dengan Shah Iran anda memang menderanya, seperti tinju, anda melemparkan pukulan-pukulan ke dia, dia bertahan dan bahkan membalas dengan uppercut ke anda.”

 

Oriana:

“ Dia adalah seorang yang memiliki karakter yang konflik-konflik yang paling bertentangan bergabung untuk menghadiahkan sakit hati anda dengan misteri. Dia percaya akan mimpi-mimpi kenabian, dalam penglihatan-penglihatan, dalam mistis kekanak-kanakan, dan lalu membahas minyak bumi seakan seorang ahli, yang memang dia ahlinya. Dia memerintah bak monarki absolut, dan lalu bercerita tentang rakyatnya dalam nada seorang yang percaya kepada mereka dan mencintai mereka, dengan memimpin Revolusi Putih yang memberi kesan seakan-akan berusaha untuk memerangi buta huruf dan sistem feodal. Dia menganggap wanita hanya sebagai hiasan-hiasan yang anggun yang tak dapat berpikir seperti lelaki, dan lalu berusaha memberi wanita-wanita kebersamaan sepenuhnya akan hak dan tugas. Memang, di dalam masyarakat dimana wanita masih memakai cadar, dia bahkan memerintahkan gadis-gadis untuk melaksanakan dinas militer.”

 

Aku berkata:

“Apakah anda bertanya apakah dia seorang diktator?

 

Oriana:

“Dia bilang dia tidak akan menyangkalnya, karena dalam satu segi dia adalah diktator. Lalu: ‘Tapi lihatlah, untuk melaksanakan reformasi, seseorang tak bisa menghindar untuk menjadi otoriter. Terutama jika reformasi itu dilaksanakan di sebuah negara seperti Iran, dimana hanya dua puluh lima persen penduduknya dapat membaca dan menulis. Jangan lupa bahwa buta huruf disini sangat drastis – dibutuhkan setidaknya sepuluh tahun untuk membasminya. 

Percayalah kalau tiga perempat penduduk suatu negeri tidak dapat membaca dan menulis, anda hanya bisa menjalankan reformasi dengan sikap yang sangat otoriter- kalau tidak anda tidak kemana-mana. Kalau saya tidak bersikap keras, saya bahkan tidak akan bisa menjalankan reformasi agraria, hal itu akan menemui jalan buntu. Kalau hal itu terjadi, kelompok ekstrim kiri akan melindas kelompok ekstrim kanan dalam beberapa jam, dan bukan hanya Revolusi Putih yang akan terhentikan. Saya harus melakukan apa yang saya lakukan. Misalnya, memerintahkan tentara saya menembak siapa saja yang menentang distribusi tanah.”

 

Aku berkata:

“Anda bilang di buku ini bahwa sikapnya dingin selama wawancara, kaku, bibirnya tertutup bak pintu yang terkunci, matanya dingin bak angin musim dingin, menatap anda dengan kaku dan kejauhan. Namun dia sangat berbeda ketika dia bicara tentang minyak bumi. Dia bersinar, bergetar, fokus, dia menjadi orang lain.”

 

Oriana:

“Dia merasa mengetahui segala hal yang dapat diketahui tentang minyak bumi, segalanya. Dia bilang: “Hal ini memang keahlian saya. Dan saya memberitahu anda sebagai seorang ahli bahwa harga minyak bumi haruslah naik. Tidak ada solusi lain. Tapi itu adalah solusi yang orang Barat membawanya pada diri sendiri. Atau, bisa dibilang, sebuah solusi yang dibawa oleh masyarakat industrial anda yang terlalu beradab. Anda telah menaikkan harga gandum tiga ratus persen, dan sama halnya dengan gula dan semen.  Anda telah menaikkan harga petrochemicals selangit. Anda membeli munyak mentah dari kami dan menjualnya kembali, setelah disuling menjadi petrochemicals, serratus kali harga yang anda bayar. Anda membuat kami membayar berlebihan untuk segalanya, sangat berlebih, dan adalah adil jika dari sekarang anda harus membayar lebih untuk minyak bumi. Katakanlah…. sepuluh kali lipat. 

Saya tidak bisa melupakan dia tiba-tiba mengangkat jari telunjuknya dengan pandangan mata penuh kebencian, untuk mengesankan saya bahwa harga minyak bumi akan naik, naik, sepuluh kali lipat. Saya merasa mual berhadapan dengan pandangannya dan telunjuknya….”

 

Aku berkata:

“Banyak tokoh politik yang anda wawancarai di dalam buku ini memiliki pandangan yang sosialis, Golda Meir, Willy Brandt, Indira Gandhi, Pietro Nenni hingga Helder Camara. Namun sosialisme memiliki banyak warna, dari yang lunak hingga liberal. Apakah anda sosialis Oriana?”

 

Oriana:

“Tidak, saya bukan sosialis. Sosialisme yang diterapkan sekarang tidaklah berhasil. Kapitalisme juga tidak berhasil. Lebih baik saya mengutip apa yang di katakan Indira Gandhi dalam wawancara:

‘Saya tidak melihat dunia sebagai sesuatu yang terbagi antara kanan dan kiri. Walaupun kita menggunakannya, walaupun saya menggunakannya, istilah-istilah ini sudah kehilangan arti. Saya tidak berminat dalam satu label atau yang lainnya ---- Saya hanya berminat untuk mencapai jalan keluar dalam suatu permasalahan, untuk mencapai tujuan saya. Saya mempunyai beberapa tujuan. Tujuannya sama dengan tujuan ayah saya: memberi rakyat standar hidup yang lebih tinggi, membasmi kanker kemiskinan, menghilangkan konsekuensi ketertinggalan ekonomis. Saya ingin berhasil. Dan saya ingin berhasil dengan sebaiknya, tanpa memperdulikan apakah orang akan mengatakan tindakan saya bersikap ke pihak kiri atau kanan. 

Sama halnya ketika kami menasionalisasi bank-bank. Saya tidaklah menyetujui nasionalisasi hanya demi retorik nasionalisasi saja, atau karena saya melihat bahwa nasionalisasi menyembuhkan segala ketidakadilan. Saya menyetujui nasionalisasi jika diperlukan. Kami menyadari bahwa bank-bank belum membawa perbaikan, dananya masih mengalir ke industrialis kaya atau kroni para pemilik bank. Dan kamipun menasionalisasikan bank-bank tersebut tanpa memperdulikan apakah langkah ini sebuah tindakan sosialis ataukah antisosialis, ini hanya sebuah keperluan. Siapapun yang menasisonalisasikan sesuatu hanya untuk dianggap sebagai berpihak ke kiri bagi saya adalah orang dungu. 

Kata sosialisme sekarang memiliki banyak arti dan interpretasi. Orang Russia menamakan mereka sosialis, orang Swedia menamakan mereka sosialis. Dan jangan lupa di Jerman juga ada sosialis nasional. Bagi saya sosialisme berarti keadilan. Artinya berusaha untuk bekerja dalam masyarakat yang lebih egalitarian.”

 

Aku berkata:

“Salah satu wawancara anda yang luar biasa adalah dengan Jenderal Giap, jenderal Vietnam Utara ketika perang Vietnam. Dia terkenal akan kekejamannya, tentara Perancis jatuh ke perangkapnya yang penuh dengan tawon berbisa, sumur jebakannya penuh dengan ular, atau mereka diledakkan oleh bom yang tersembunyi di mayat-mayat yang ditinggalkan di pinggir jalan, dan di tahun 1954 dia mengalahkan Perancis di Dien Bien Phu. Dia juga ditakuti tentara Amerika, dan atas keberaniannya Ho Chi Minh biasanya memanggilnya Kui atau Setan. 

Ketika anda berjumpa dengan dia, apakah anda menemukannya sebagai seseorang yang menakutkan?”

 

Oriana:

“Saya pertama-tama terkejut betapa pendeknya dia, kurang dari 1.5 meter, dengan badan yang gemuk. Mukanya bengkak dan diliputi pembuluh-darah pembuluh-darah kecil biru yang membuatnya kelihatan ungu. Tidak, wajah itu tidaklah sangat menarik. Mungkin karena warna ungu itu, mungkin karena garis-garis yang tak menentu, membuat anda sukar untuk tetap menatapnya, dimana yang anda temukan jarang menarik. Mulut yang besar penuh dengan gigi-gigi kecil, hidung pesek yang membesar karena dua lubang hidung yang besar, keningnya yang berhenti di tengah kepalanya dengan sejumput rambut hitam…”

 

Aku berkata:

“Apakah dia memamerkan strategi perangnya?

 

Oriana:

“Dia bilang tentara Amerika meremehkan semangat orang-orang yang mengetahui bagaimana berperang untuk tujuan yang perlu, untuk menyelamatkan negaranya dari serangan asing. Perang Vietnam tidaklah tergantung angka-angka dan tentara yang dipersenjatai dengan baik, semua hal itu tidaklah menyelesaikan permasalahan. Ketika seluruh rakyat memberontak, tidak ada lagi yang anda dapat perbuat, dan tidak ada kekayaan manapun di dunia yang dapat mengalahkannya. Musuh mereka bukanlah serdadu yang baik, karena mereka tidak yakin akan apa yang mereka lakukan dan karena itu kekurangan semangat bertempur. 

Oh, ini bukanlah peperangan yang anda bisa selesaikan dalam beberapa tahun. Dalam peperangan dengan Amerika Serikat, anda butuh waktu, waktu…. Tentara Amerika akan terkalahkan dengan waktu, dengan menjadi Lelah. Dan untuk membuat mereka Lelah, kami harus terus bertempur, berlangsung…. Untuk waktu yang lama: sepuluh, lima belas, dua puluh, lima puluh tahun. Sampai kami mencapai kemenangan, seperti yang dikatakan presiden kami Ho Chi Minh. Benar! Bahkan dua puluh bahkan lima puluh tahun! Kami tidak tergesa-gesa, kami tidak takut.”

 

Aku berkata:

“Wawancara anda dengan Jenderal Giap mendapat perhatian Henry Kissinger, yang lalu mengundang anda untuk mewawancarainya. Sangat jarang dia memberi wawancara pribadi, biasanya dia bicara di konferensi pers yang diatur oleh pemerintah. Apa yang dia bilang tentang wawancara dengan Giap?”

 

Oriana:

“Dia tidak bicara tentang Jenderal Giap, sebaliknya dia bertanya kepada saya tentang Giap, Thieu dan jenderal-jenderal Vietnam lainnya. Dia bahkan bertanya kepada saya: ‘Menurut anda apa yang akan terjadi di Vietnam dengan genjatan senjata?’ Tentang Vietnam dia tak bisa bercerita banyak, dan saya kagum ketika dia bilang: bahwa apakah perang ini akan berhenti atau berlanjut tidaklah tergantung padanya, dan dia tak memiliki kemewahan untuk mengorbankan segalanya dengan sebuah perkataan yang tak perlu. Dia bilang: ‘Jangan menanyakan saya hal itu. Saya harus berpegang kepada apa yang saya katakana kepada publik sepuluh hari lalu…. Saya tidak bisa, saya tidak bisa menganggap sebuah hipotesa yang saya pikir tak akan terjadi, sebuah hipotesa yang tidak harus terjadi. Apa yang saya bisa katakana adalah bahwa kita berjuang untuk perdamaian, dan kita bagaimanapun akan mendapatkannya, dalam waktu yang sesingkat mungkin setelah pertemuan saya dengan Le Duc Tho lain kali.”

 

Aku berkata:

“Apakah Henry Kissinger bilang bahwa perang Vietnam adalah perang yang tidak ada gunanya?”

 

Oriana:

“Dia bilang dia setuju: ‘Tapi jangan lupa bahwa alasan mengapa kita berperang adalah untuk menjaga agar Vietnam Selatan jangan dicaplok oleh Vietnam Utara, perang ini diperuntukkan agar Selatan tetaplah Selatan. Tentu saja maksud saya bahwa ini satu-satunya alasan…. Ada alasan lain…. Tapi hari ini saya tidaklah dalam posisi untuk menilai apakah perang Vietnam itu perlu atau tidak, apakah perang itu berguna atau tidak berguna. 

Setidaknya, peran saya, peran kita, adalah untuk mengurangi terus menerus keterlibatan Amerika dalam peperangan ini, dan kemudian menghentikannya. Dan harus dihentikan menurut prinsip-prinsip tertentu. 

Akhirnya, sejarah akan berkata siapa yang lebih banyak bertindak: orang-orang yang terus menerus mengkritik dan tidak lain dari itu, atau kita yang berusaha mengurangi peperangan dan mengakhirinya. Benar, keputusannya tergantung sejarah.”

 

Aku berkata: 

“Sekarang, bagian terakhir buku anda adalah wawancara dengan Alexandros Panagoulis, politikus Yunani dan penyair, yang aktif ikut serta melawan junta militer Yunani, yang juga dikenal dengan Regim para Kolonel. Dia menjadi terkenal atas percobaan pembunuhan diktator Georgios Papadopoulos pada 13 August 1968, tapi juga atas siksaan yang diterimanya selama di penjara. 

Membaca wawancara ini, pembaca tak dapat terhindar dari pengamatan bahwa anda sangat mengaguminya, bahkan dengan penuh asmara.”

 

Oriana:

“Malam itu di Athena, dua hari saja setelah amnesti politik umum melepaskan Alexandros Panagoulis dari penjara, saya menjumpainya untuk wawancara dan jatuh cinta kepadanya.” 

 

Aku berkata:

“Panagoulis adalah orang yang nyata: Seorang pahlawan yang dijatuhi hukuman mati atas percobaan pembunuhan seorang diktator. Dia hanya menyesali bahwa dia gagal. Apakah anda melihatnya sebagai seorang pahlawan?”

 

Oriana:

“Dia bilang: ‘Saya bukanlah seorang pahlawan dan saya saya tidak merasa sebagai sebuah simbol….. Saya sangat takut mengecewakan anda semua yang melihat begitu banyak tentang saya! Oh, kalau saja anda bisa berhasil melihat saya hanya seorang manusia!”

 

Aku berkata:

“Dan lalu anda bertanya: ‘Alekos, apa artinya menjadi seorang manusia?”

 

Oriana:

“Dia bilang: ‘Itu berarti untuk memiliki keberanian, untuk memiliki kehormatan. Itu berarti mencintai tanpa membuat cinta suatu jangkar. Itu berarti berjuang dan untuk menang… Dan bagi anda, apakah seorang manusia?’ 

Saya menjawabnya : ‘Saya akan bilang bahwa seorang manusia adalah anda, Alekos.” 

 

Demikianlah berakhirnya wawancara ini. Arrivederci Oriana….

 

TAMAT

 

Ini adalah wawancara imaginer mengenang Oriana Fallaci.

 

Sumber:

Interview with History oleh Oriana Fallaci.