Tur kami dimulai di halaman tunggu yang tenang dan hijau, tempat yang
biasanya dilewati pengunjung dengan terburu-buru, yakni taman di pintu masuk
Cesky Krumlov, tepat di seberang Lazebnický Most (Jembatan Tukang Cukur).
Pemandu kami, Jan, mengangkat tangannya, "Sabar," katanya.
"Setiap kisah hebat memiliki prolog. Taman ini adalah prolog ke kastil."
Kami berhenti di taman pertama, lembah rerumputan yang luas dibingkai
oleh pohon-pohon linden. Dan di sanalah—deru lembut Sungai Vltava yang konstan
terdengar. Dari sini, seluruh pemandangan Cesky Krumlov terbentang di hadapan
kami: kastil yang menjulang, rumah-rumah beratap batu bata merah, menara gereja
St. Vitus yang megah.
Kami mengikuti jalan setapak berkerikil yang berkelok-kelok di
sepanjang tepi sungai. Di sini, taman terasa lebih segar. Ranting-ranting pohon
willow mencelupkan daun-daunnya ke dalam air yang mengalir deras, udaranya
sejuk serta berbau tanah lembap dan dedaunan segar. Seekor angsa sendirian,
sangat putih kontras dengan air hijau jamrud, meluncur melewati sungai.
"Sungai adalah darah kehidupan kota," kata Jan."
Saat kami berkelana, pemandangan pun bergeser. Kami menatap menembus tanaman
rambat yang merambat, sekilas pemandangan kastil yang muncul—dengan sebuah
menara bundar.
Momen mengesankan terjadi di sebuah tempat terbuka kecil di dekat bekas
pabrik bir. Sebuah dinding batu rendah, mengundang untuk diduduki. Seorang pria
tua memberi makan sekawanan burung pipit dari telapak tangannya. Dia mengangguk
kepada kami. Ini adalah ruang tamu bagi pendatang.
Matahari bersinar hangat.
Akhirnya, kami mendekati jembatan. Pemandangannya kini terasa familiar,
telah kami peroleh sebelumnya. Kami tidak hanya melihat kota yang indah; kami
melihat sebuah lanskap, dirubungi oleh air dan hutan, seperti keanggunan yang sengaja.
Taman itu telah membawa kami dari dunia modern ke dalam buku cerita.
Saat kami melangkah ke jembatan, meninggalkan penjaga ambang pintu di
belakang, saya merasa bukan seperti turis, tetapi seperti karakter yang
melangkah ke panggung cerita.
Ketika aku memasuki pintu Cafe Arco, aku melihat Franz K. sedang
membacakan sebuah novel kepada teman-temannya di salah satu sudut cafe itu. Untuk
tidak mengganggu keasyikan mereka, aku duduk agak jauh saja dari mereka.
Walaupun begitu, aku masih bisa mendengar Franz membaca novel itu, dan aku kebetulan mengenal
bacaan itu adalah bagian dari novelnya The Trial (Pengadilan) yang baru saja
aku baca sebelum datang ke sini.
"Semuanya sangat kotor di sini," kata Josef K. sambil
menggelengkan kepala, dan sebelum dia bisa mengambil buku-buku itu, wanita itu
menyeka debu dengan celemeknya. Josef K. mengambil buku yang ada di atasnya dan
membukanya, sebuah gambar yang tidak senonoh muncul. Seorang pria dan seorang
wanita duduk telanjang di sofa, niat dasar orang yang menggambarnya mudah
terlihat, tetapi dia sangat kurang dalam keterampilan sehingga yang bisa
dilihat siapa pun hanyalah pria dan wanita yang mendominasi gambar itu dengan
tubuh mereka, duduk dalam postur yang terlalu tegak yang menciptakan perspektif
yang salah dan membuat mereka sulit untuk saling mendekati. Josef K. tidak
membolak-balik buku itu lagi, tetapi hanya membuka buku berikutnya di halaman
judulnya, itu adalah sebuah novel dengan judul, “Apa yang Diderita Grete dari
Suaminya, Hans. "Jadi ini adalah jenis buku hukum yang mereka pelajari di
sini," kata Josef K., "ini adalah jenis orang yang menghakimi
saya."
Ketika membaca bagian ini, dia tertawa. Mengherankan, Franz K. dikenal
sebagai penulis yang karyanya yang sangat gelap, getir, dan absurd, penuh
dengan kecemasan eksistensial tentang tidak-pastian dan ketidak-berdayaan.
Namun, justru dalam situasi seperti itu sering kali terselip humor, yang pahit.
Franz K. mungkin tertawa karena dia menyadari betapa konyol dan ironisnya
situasi yang dia gambarkan dalam The Trial. Meskipun ceritanya serius dan
menegangkan, ada momen-momen di mana keabsurdan kehidupan dan birokrasi yang
dia gambarkan begitu konyol.
Ketika ia mengamati kehadiran saya yang duduk di kejauhan, dia langsung
menyamperi saya. Wajahnya ramah, senyuman menghias wajahnya dengan mata yang menyorot
dengan tajam. Hidungnya panjang dan kupingnya seperti kuping kalong. Ringkih, tidak
tampan, dan mungkin ia sering jadi sasaran bullying ketika masih di sekolah,
karena penampilannya yang antik itu. Mungkin karena penampilannya itu juga ia memiliki
rasa rendah diri yang berat, baik terhadap wanita maupun pria lainnya.
Bahkan lebih dari rasa rendah diri itu, ia menyalahkan diri sendiri
untuk segala persoalan dalam hubungannya dengan yang lain. Dalam hubungannya dengan ayahnya
yang keras, otoriter dan menghina, ia menyalahkan dirinya sendiri karena tidak
bisa memenuhi standar ayahnya dan karena merasa lemah secara emosional.
Dia membatalkan pertunangannya dengan Felice Bauer dua kali, karena
merasa tidak mampu memenuhi tuntutan pernikahan dan kehidupan keluarga. Dia
menyalahkan dirinya sendiri atas ketidakmampuan ini. sering merasa tidak siap
untuk menjalin hubungan yang serius.
Manusia rapuh tak bertulang itu kemudian menyalami saya, tangannya
terasa lembut, jari-jarinya panjang dan ramping, sesuai bagi seseorang yang
banyak menulis. Dari jari-jari ini tercipta novelnya yang penuh kegetiran,
ketiada-artian, kecemasan dan tidak-berdayaan, seperti The Trial ini.
Setelah kami berdua merasa santai satu sama lain, kami duduk di pojok café
yang tenang yang memiliki nuansa Art Nouveau, interiornya teduh elegan, dengan
meja-meja kayu, dan kursinya berlapis kain. Ada cermin besar yang menghiasi
dinding diiringi lampu gantung yang klasik.
Aku membuka percakapan:
“Bagian novel yang anda bacakan
memang menggelikan dan konyol, bagi si Josef K. yang sedang terjerat penahanan
oleh pengadilan. Sampai saat itu dia tidak bisa mengerti mengapa dia yang tidak
bersalah ditahan. Dimulai di suatu pagi ujuk-ujuk yang ditahan oleh polisi ketika
baru bangun di tempat tidur; ‘Seseorang pasti telah menceritakan kebohongan
tentang Josef K., dia tahu dia tidak melakukan kesalahan tetapi, suatu pagi,
dia ditangkap.‘ Begitu pembukaan novel The Trial yang menghebohkan.
Ia tidak ketahui apa dakwaannya.
Ketika ia kemudian menyelusup di kantor pengadilan untuk mencari bukti atau
petunjuk untuk membela dirinya, di rak-rak buku yang berisi koleksi buku-buku
dan catatan-catatan pengadilan dia temukan justru buku dengan gambar tak
seronok itu. Hal ini menunjukkan betapa
konyolnya sistem peradilan yang menjeratnya. Ini pengadilan dagelan”
Franz menambahkan, dengan tersenyum:
“Dengar juga ini: ‘Di ruang pengadilan, hakim itu menoleh ke Josef K.
dengan nada bicara seseorang yang mengetahui fakta-faktanya dan berkata, ‘Anda
seorang tukang cat rumah?’ ‘Tidak,’ kata Josef K., Saya adalah kepala bagian
administrasi di sebuah bank besar.’ Jawaban ini diikuti oleh tawa di antara
golongan kanan di aula, begitu meriahnya sehingga Josef K. tidak dapat menahan
diri untuk tidak ikut tertawa.
Kemudian Josef K. menanggapi kesalahan hakim itu dan berkata; ‘Pertanyaan
anda, Yang Mulia, apakah saya seorang pelukis rumah - bahkan lebih dari itu, anda
tidak bertanya sama sekali tetapi hanya memaksakannya kepada saya - merupakan
gejala dari seluruh cara proses hukum terhadap saya ini dilakukan."
Aku menanggapi:
“Josef K. berhenti bicara dan melihat ke lorong. Ia berbicara dengan
tajam, lebih tajam dari yang ia maksudkan, tetapi ia benar. Seharusnya ia
mendapat tepuk tangan di sana-sini, tetapi semuanya tenang, mereka semua jelas
menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya, mungkin ketenangan itu menjadi awal
mula munculnya aktivitas yang akan mengakhiri semua masalah ini.”
Franz:
"Tidak diragukan lagi,’ kata Josef K. ‘bahwa ada organisasi besar
yang menentukan apa yang dikatakan oleh pengadilan ini. Dalam kasus saya, ini
termasuk penangkapan saya dan pemeriksaan yang berlangsung di sini hari ini,
sebuah organisasi yang mempekerjakan polisi yang dapat disuap, pengawas dan
hakim yang tidak tahu apa-apa selain bahwa mereka tidak sesombong yang lain.”
Aku:
“Josef K. lalu menemui seorang pengacara tangguh yang disarankan oleh
pamannya, pengacara itu bernama Huld. Namun ternyata Huld sudah tua dan sakit-sakitan.
Dia menghabiskan sebagian besar waktunya di tempat tidur, dan kondisi fisiknya
lemah menjadikannya tergantung kepada perawatnya. Dan, dia lebih suka berbicara
panjang lebar tentang betapa rumitnya sistem hukum dan betapa sulitnya kasus
Josef K.”
Franz:
“Ya, malah perawatnya, si Leni yang lebih membantu…”
Aku:
“Ya, si Leni ini perawat yang hangat dan intim… bahkan sejak pertama
kali bertemu ‘dia meraih tangan Josef K dan menuntunnya ke pintu, jari-jarinya
panjang dan kurus, tetapi juga hangat dan kering, dan mereka memegangnya
erat-erat. ‘Ayo,’ kata Leni, dan kemudian, saat mereka berdiri di ambang pintu,
dia menambahkan: ‘Kau lihat, aku punya cacat kecil, jari-jariku berselaput.’
Dia membukanya untuk menunjukkannya, dan memang, di antara jari-jari itu, ada
selaput tipis yang membentang hampir ke sendi kedua.”
Franz:
“Ya si Leni itu sangat bersahabat terbuka kepada Josef K, dia tertarik
untuk berkencan dengannya… tanpa
ragu-ragu dia menciumnya saat pertemuan pertama mereka dan tampaknya amat peduli
dengan keadaan yang menimpa Josef K. ”
Aku:
“Ya, tapi Leni memberi advis agar Josef K. mengakui saja kesalahannya ‘Anda
tidak bisa membela diri terhadap pengadilan ini, anda hanya harus mengaku.
Jadi, akui kesalahan anda di kesempatan berikutnya. Hanya dengan begitu anda
punya kesempatan untuk melarikan diri, hanya dengan begitu. Namun, itu pun
tidak mungkin tanpa bantuan dari luar, meskipun anda tidak perlu khawatir akan
hal itu, aku sendiri akan membantu anda.”
Kutipan ini menunjukkan bahwa Leni menyarankan Josef K. untuk mengakui
kesalahannya, sebagai satu-satunya cara untuk ‘melarikan diri’ dari sistem
pengadilan yang tidak adil. Namun, ini adalah nasihat yang tidak tepat dan
tidak memberikan solusi nyata.”
Franz:
“Benar, Josef K. kan tidak mengetahui kesalahannya…, bagaimana mau
mengaku…?”
Aku:
“Leni lalu memberi advis: ’Sang pengacara,‘ bosnya yang bernama Huld, ‘melakukan
semua yang dia bisa. Pengadilan sangat sulit dipengaruhi, anda tidak boleh
berharap terlalu banyak terlalu cepat. Namun, pengacara tentu saja melakukan
semua yang dia bisa.‘ Tapi kenyataannya pengacara yang jompo dan sakit di
tempat tidur, tidak banyak membantu, ia hanya ngoceh saja tentang sistem
pengadilan. “
Franz:
“Huld berkata: ‘Pengadilan kebal
pembuktiannya. Tidak peduli apa yang anda lakukan atau tidak lakukan,
pengadilan akan mengambil kesimpulannya sendiri.”
Aku:
“Lalu, setelah kehabisan akal Josef K. menemui seorang pelukis, Titorelli,
yang konon punya banyak hubungan dengan
orang-orang dalam di pengadilan. Ia bahkan tinggal di dalam lingkungan ruang pengadilan,
dan banyak melukis pejabat-pejabat pengadilan. sehingga ia dapat mengakui bahwa dia mempunyai
hubungan yang cukup akrab dengan para hakim-hakim. Josef K. mengharapkan
Titorelli membantunya dengan mengandalkan hubungannya dengan hakim yang
mengadilinya. Jadi, ia berfungsi sebagai calo, lebih kurang begitu.”
Franz:
“Titorelli bilang: ”Tidak mudah membela seseorang di pengadilan ini,
tetapi tidak sepenuhnya tidak ada harapan. Hasilnya tergantung pada banyak
faktor, yang sebagian besar berada di luar kendali kita.
Pengadilannya korup banget... Ini bukan cuma soal suap pejabat
rendahan, tapi suap seluruh sistem, dari atas sampai bawah.”
Aku:
“Memang kelihatannya tidak ada harapan bagi Josef K. meskipun ia tak
bersalah. Ia tak berdaya menghadapi tembok-tembok pengadilan itu. Bahkan Pastor
yang dijumpainya di Katedral di Old City of Praha, yang mengidentifikasi
dirinya sebagai "penjaga hukum" dan mengatakan bahwa ia ditugaskan
oleh pengadilan untuk berbicara dengan Josef K., ternyata adalah bagian dari sistem pengadilan
yang sama yang menjebak Josef K., meskipun ia tampak lebih bijaksana dan
reflektif.”
Franz:
“Pastor itu bercerita kepada Josef K. sebuah parabel berjudul
"Before the Law" (Di Muka Hukum), yang menggambarkan seorang lelaki
dari desa yang mencoba masuk ke pintu hukum tetapi dihalangi oleh penjaga
pintu.
Parabel ini mencerminkan ketidak-mungkinan memahami atau mengakses
hukum, serta ketidak-berdayaan individu dalam menghadapi sistem yang tidak
masuk akal.
Aku:
“Ya, Penjaga pintu mengatakan kepada pria itu bahwa lelaki itu tidak
bisa masuk saat ini, tetapi mungkin bisa masuk nanti. Penjaga pintu juga
menjelaskan bahwa ada banyak pintu lain di belakangnya, masing-masing dijaga
oleh penjaga yang semakin tegar dan menakutkan.
Lelaki dari desa itu memutuskan untuk menunggu di depan pintu, berharap
suatu hari nanti ia akan diizinkan masuk. Ia menunggu selama bertahun-tahun,
mencoba membujuk penjaga pintu dengan berbagai cara, termasuk usaha memberinya
hadiah sebagai sogokan.”
Franz:
“Penjaga pintu itu lalu berkata: ‘Saya menerima hadiahmu supaya anda
tidak merasa ada usaha yang terlewat, untuk membuka pintu ini."
Aku:
“Selanjutnya parabel itu mengisahkan: ‘Selama bertahun-tahun, lelaki
itu terus-menerus berusaha mempengaruhi penjaga gerbang. Ia lupa tentang
penjaga gerbang lainnya, dan penjaga gerbang pertama ini baginya merupakan
satu-satunya halangan untuk masuk ke dalam hukum. Ia mengutuk nasib buruknya,
dengan keras dan gegabah di tahun-tahun awal, kemudian, saat ia bertambah tua,
ia hanya menggerutu pada dirinya sendiri. Ia menjadi kekanak-kanakan, dan
karena dalam pengamatannya yang panjang tentang penjaga gerbang, ia bahkan
telah mengenal kutu di kerah bulunya, ia meminta kutu untuk membantunya dan
mengubah pikiran penjaga gerbang. Akhirnya matanya menjadi redup dan ia tidak
tahu apakah itu benar-benar menjadi lebih gelap atau apakah matanya hanya
menipunya. Namun dalam kegelapan, ia sekarang dapat melihat cahaya yang
mengalir abadi dari pintu hukum. Sekarang hidupnya hampir berakhir.”
Franz:
“Semua yang telah ia alami selama seluruh waktu pengembaraannya memadat
dalam benaknya menjadi satu pertanyaan, yang belum pernah ia ajukan kepada
penjaga gerbang. Ia memanggil penjaga gerbang, karena ia tidak dapat lagi
mengangkat tubuhnya yang kaku. Penjaga gerbang harus membungkuk kepadanya,
karena perbedaan ukuran di antara mereka telah berubah drastis sehingga
merugikan orang itu. "Apa yang ingin kau ketahui sekarang?" tanya
penjaga gerbang. "Kau tidak pernah puas." "Setiap orang berusaha
untuk mencapai hukum," kata orang itu, "bagaimana bisa terjadi, bahwa
selama bertahun-tahun ini tidak seorang pun kecuali aku yang meminta izin
masuk?" Penjaga gerbang melihat bahwa orang itu sudah kehabisan tenaga dan
pendengarannya mulai berkurang, jadi ia berteriak di telinganya: "Tidak
seorang pun dapat masuk ke sini, karena pintu masuk ini hanya diperuntukkan
bagimu. Sekarang aku akan menutupnya."
Aku:
“Akhir tragis dari parabel yang diceritakan pastor ini menggambarkan
‘tiada harapan’, dan menjadi pertanda akan nasib Josef K. pada akhirnya.”
Franz:
“Pada malam sebelum ulang tahunnya yang ke tiga puluh satu—saat itu
sekitar pukul sembilan malam, saat jalanan sepi—dua pria datang ke
apartemennya. Mereka berpakaian hitam, dengan mantel panjang yang tampak
seperti untuk menghadiri pemakaman. "Siapa Anda?" tanya K., yang
langsung duduk di tempat tidur. "Kami di sini untuk menjemput Anda,"
kata salah satu pria, sementara yang lain melihat ke sekeliling ruangan. K.
protes, tetapi mereka bersikeras, mengatakan bahwa itu perlu. Mereka membawanya
keluar dari apartemen dan masuk ke mobil yang menunggu. Mereka melaju ke
pinggiran kota, ke sebuah tambang yang sepi.
Aku:
“Hmm… kedua pria dengan pakaian serba hitam itu tidak jelas apakah
mereka polisi atau penjagal yang bekerja untuk sistem yang menindas itu…”
Franz:
“Namun tangan salah satu pria itu menancap di tenggorokan Josef K.,
sementara yang lain menusukkan pisau itu dalam-dalam ke jantungnya dan
memutarnya di sana, dua kali. Karena penglihatannya mulai kabur, Josef K.
melihat kedua pria itu saling berhadapan, tepat di depan wajahnya, menyaksikan
hasilnya. ‘Seperti anjing!’ kata Josef K., seolah-olah rasa malu itu akan
bertahan lebih lama darinya.”
TAMAT
Tulisan
ini adalah wawancara imajiner mengenang Franz Kafka.
Sumber:
The Trial oleh Franz Kafka, diterjemahkan oleh David
Wyllie
Ketika menyusuri Sungai Vitava, di belahan Kota Kecil kami menemukan
Museum Franz Kafka. Tampak muka museum ini sederhana saja, dengan beberapa
pintu dan jendela, hanya ada sebuah huruf K besar berwarna hitam di depannya.
Uniknya, di muka museum ini, terdapat patung dua orang yang lagi kencing.
Patung kontroversial karya seniman David Cerny ini, dinamakan Proudy, terbuat
dari perunggu yang secara robotik menggerakkan penis mereka seperti memberi pesan tertentu dengan kencing
mereka.
Sosok-sosok itu terbuat dari perunggu yang terlihat seolah-olah mereka
dibuat dari gerigi logam yang bertumpuk-tumpuk. Masing-masing sosok memegang penis mereka dan
sedang kencing, memancurkannya dalam pola sekenanya. Mereka mengencingi tatakan
yang berbentuk peta negara Chezh, jadi mereka itu sebenarnya mengencingi Chezh.
Sangat profokatif.
Ruangan museumnya gelap, segelap tulisan-tulisan Kafka. Bagian pertama dari
penghayatan akan dunia Kafka, dinamai Ruang Eksistensial, menunjukkan bagaimana
Praha membentuk kehidupan penulis, jejak yang ditinggalkannya pada dirinya, dan
bagaimana kekuatan transformatif itu mempengaruhinya. Buku harian dan
korespondensi luasnya dengan anggota keluarga, teman-teman, kekasih, dan
penerbit menjadi saksi pengaruh ini. Tantangan bagi penyimak adalah mencoba dan
menangkap konflik utama dalam kehidupan Franz Kafka yang dipandu oleh pandangan
penulis.
Bagian kedua, dinamai Topografi Imajiner, menunjukkan Kafka
menggambarkan kotanya tanpa menyebutkan nama tempat-tempat kejadian ceritanya,
dengan hanya beberapa pengecualian.
Pembaca dapat menebak, misalnya katedral anonim dalam The Trial tidak
lain adalah Katedral St. Vitus; bahwa jalan yang dilalui oleh Joseph K. di bab
terakhir buku yang sama mengarah dari Kota Tua, melintasi Jembatan Charles
menuju batas luar Kota Kecil. Juga dikatakan bahwa pemandangan dari jendela
Bendemann dalam The Judgment menampilkan tanggul, Sungai Vltava dan tepi
seberangnya dengan cara yang sama seperti yang dapat dilihat dari Jalan
Mikulášská (sekarang Jalan Pařížská), tempat keluarga Kafka tinggal pada tahun
1912. Hal ini untuk membuktikan bahwa topografi Praha yang ditulis Kafka adalah
historis, meskipun tidak disebutkan nama tempatnya.
Namun, bagi tulisan Kafka itu tidak penting. Tulisannya mengubah Praha
menjadi topografi imajiner. Kota tersebut mengambil langkah mundur, dan tidak
lagi dapat dikenali dari bangunan, jembatan, dan monumennya. Tidak lagi penting
untuk mengidentifikasi kantor tertentu, sekolah dasar atau menengah,
universitas, gereja, penjara, atau kastil, karena struktur-struktur ini
berfungsi dalam peran metafora dan tempat alegoris.
Ketika kami berjalan di Alun-alun Kota Tua Praha, kami menemukan
alun-alun yang agak semrawut, penuh dengan turis, banyak pedagang kaki lima dan
pemain musik, serta kios suvenir. Bangunan-bangunan di sana merupakan campuran
gaya arsitektur dari berbagai periode, termasuk Gotik, Barok, dan Renaisans.
Meskipun tampilan alun-alun ini semrawut, banyak orang menganggap alun-alun ini
meriah sekaligus menawan.
Kemudian, seolah menjulang dari berbagai bangunan, berdiri gereja ini
dengan menara kembar bergaya Gotik. Nama lengkapnya, "Gereja Bunda Maria di
hadapan Tyn," mencerminkan dedikasinya kepada Perawan Maria dan lokasinya
di depan halaman Tyn. Kami mencsri-cari pintu masuk gereja. Setelah kami berjalan beberp
lama melalui lorong sempit di antara bangunan-bangunan tua, barulah kami tiba
di halaman kecil tempat pintu masuk utama gereja berada.
Gereja ini dibangun terutama dengan gaya Gotik selama abad ke-14 dan
ke-15. Interiornya menampilkan langit-langit yang tinggi dan berkubah,
lengkungan runcing, dan kolom-kolom ramping, yang menciptakan kesan megah dan menjulang
yang khas dari desain Gotik. Gereja ini didekorasi dengan sangat mewah dengan
menampilkan seni Barok, yang mencerminkan sejarahnya yang panjang dan berbagai
periode renovasi dan dekorasi. Banyak lukisan dan patung berasal dari abad
ke-17 dan ke-18, saat gereja ini direnovasi secara besar-besaran dengan gaya
Barok.
Interior yang remang-remang, aroma dupa, dan suasana yang tenang
menciptakan ruang untuk meditasi dan doa. Baik kita menghadiri Misa atau
sekadar duduk dalam keheningan, gereja ini menawarkan tempat peristirahatan
yang damai dari hiruk pikuk Alun-alun Kota Tua di luar.
Di malam hari di Kabukicho berkelap-kelip
mengundang para pekerja kantor yang kelelahan untuk menikmati hiburan di sini. Ada
banyak kelab malam di daerah ini, bukan hanya untuk pria tapi banyak juga yang khusus
bagi wanita, dilayani oleh teman penghibur pria. Ada banyak pula apa yang
dinamai Love Hotel di sini, yang menyediakan kamar untun berkencan jam-jaman
maupun semalaman. Saya jadi teringat film ‘Kabukicho Love Hotel’ yang
menggambarkan suasana sebuah Love Hotel, menunjukkan kamar-kamarnya, pegawainya
dan tentu saja para tamunya yang berkencan dengan intim. Kita bisa melihat
berbagai jenis romansa dan kencan dari berbagai pasangan tamu dari berbagai
latar belakang, yang selingkuh, yang melacurkan diri, yang memeras, dan cinta
tidak menjadi tema utama di kamar-kamar hotel ini.
Kabukicho memanglah daerah lampu merah yang
ramai di Shinjuku, Tokyo. Di tahun 1940an direncanakan dibangun sebuah teater
kabuki di sini. Namun walaupun teater ini tidak terwujud sampai sekarang, nama
Kabukicho tetap melekat. Saat kita menyusuri jalan-jalan yang sempit yang
diterangi lampu-lampu neon dan reklame yang berkilauan , kita disambut para
pelayan dan calo yang menawarkan dagangan mereka. Suasana ini cukup lumrah di
Tokyo, tapi yang membuat unik di sini mereka juga menawarkan daging perempuan,
seks. Tapi tidak sevulgar Pat Pong di Bangkok, di mana perempuan-perempuan
berbikini menjajakan diri di kiri kanan jalan. Di sini para penjaja memberi
selebaran-selebaran yang menawarkan pijat dengan perempuan cantik,
makanan-makanan dan minuman unik, video game, pachinko dan toko-toko lainnya.
Kalau ada ingin mengabaikan tawaran-tawaran yang
bernafsu itu, anda bisa menyusuri gang-gang di Golden Gai yang dipadati bar dan
warung kecil yang kelihatan reot. Di
sini suasananya terasa lebih akrab karena padatnya pengunjung dan kecilnya
ruangan. Anda bisa memesan makanan dan minuman khas Jepang, setelah anda
menemukan tempat duduk di tengah kerumunan. Tapi jangan heran kalau bau asap berbagai
panggangan bercampur baur dengan asap rokok, namun para pengunjungnya yang semua
‘ceria’ menikmati suasana malam. Sering terdengar kata-kata kata ‘oishii’
(enak) atau ‘kanpai’ (cheers) yang
diucapkan dengan nada seperti berbicara dengan anak kecil atau anak anjing. Lebih-lebih
kalau yang berbicara perempuan, nadanya tinggi dan dengan suara hidung, seperti
dalam film animasi Jepang, begitu. Apalagi ketika melihat ia sesuatu yang imut-imut
entah itu boneka atau baju atau tas, mereka berseru ‘kawai…’ dengan nada
begitu. Seru deh.
Sebelum wawancara dengan Natsume, aku menyempatkan diri mengunjungi
kota Matsuyama. Kota ini menjadi setting dari novel Natsume yang berjudul
‘Botchan’. Ia pernah ditugaskan sebagai guru di Matsuyama, dan pastilah pengalaman
itu yang mengilhaminya menulis novel yang bercerita tentang seorang guru
matematika sekolah menengah yang ditugaskan mengajar di Matsuyama. Guru itu
bernama Botchan yang artinya ‘Tuan Muda’ dalam bahasa Jepang. Botchan memiliki
karakter yang tidak umum bagi seorang guru, yakni mulutnya sarkastis,
perkataannya tajam tanpa dipoles, yang tanpa sungkan-sungkan ditujukan baik
kepada murid-muridnya maupun rekan-rekan guru lainnya. Ia memaki-maki murid-muridnya
yang sering usil dan jahil kepadanya. Ia juga lantang dan tajam berbicara
kepada guru-guru lainnya yang tidak disukainya. Ia memberi julukan-julukan
kepada guru-guru yang tingkahnya aneh-aneh. Narasi yang segar dan komikal
membuat novel ini sangat digemari di Jepang dan menjadi bacaan wajib di
sekolah-sekolah. Agaknya, setiap pelajar di Jepang pernah membaca novel ini.
Kota Matsuyama ternyata tidaklah begitu ketinggalan jaman seperti yang
dibilang si Botchan. Tentunya kota ini tidak bisa dibandingkan dengan Tokyo, kota
besar tempat tinggal Botchan sebelum pindah ke Matsuyama. Di sini, aku juga
mencari dan menemukan pemandian air panas yang sering dikunjungi Botchan,
tempat pelariannya setiap sore hari sehabis mengajar di sekolah. Nama tempat
pemandian ini Dogo Onsen, sebuah pemandian umum yang cukup besar dan terkenal.
Bangunannya tiga lantai, terbuat dari kayu tertata dengan indah dan megah. Air
panas di kolam pemandiannya bersumber dari bumi mengandung banyak mineral. Sungguh melegakan rasanya berendam di kolam
air panas ini, melemaskan otot-otot dan sendi-sendi yang pegal. Aku bisa
membayangkan bagaimana Botchan menikmati hangatnya air dan merasa pulih kesegarannya
setelah berendam beberapa saat saja.
Maka, saat aku berjumpa dengan Natsume di rumahnya di Waseda-Minamicho,
Tokyo, aku memulai percakapan tentang Dogo Onsen ini.
Aku:
“Natsume-san, saya berkunjung ke Matsuyama sebelum saya kesini, sekedar
untuk mengenal kota ini yang menjadi kota tempat Bochan mengajar. Walaupun nama
kota itu tidak disebutkan di novel itu, beberapa pembaca dapat menerka, karena
anda sendiri pernah mengajar di Matsuyama. Di kota ini saya menemukan Dogo
onsen dan mencoba berendam di air panas pemandian ini. Konon, Dogo onsen inilah
pemandian yang sering dikunjungi Botchan di waktu senggangnya, berhubung penggambaran
pemandian di novel ini sesuai dengan bangunan Dogo onsen ini. Apa betul Dogo
onsen ini adalah tempat Botchan mandi setiap hari?”
Natsume:
“Ya, menurut Botchan, bangunannya tiga lantai, kolam mandinya terbuat
dari granit, berukuran sekitar 10 meter persegi. Biasanya ada tiga belas atau
empat belas orang di dalam kolam, tapi terkadang tidak ada. Kalau tidak ada
orang, Bochan mengambil kesempatan untuk berenang di kolam ini, walaupun kola
mini ini bukan kolam renang dan ada peringatan yang menuliskan: “Dilarang
berenang di dalam kolam.” Peringatan itu seakan ditulis khusus buat Botchan
yang sering mencuri-curi berenang di kolam itu waktu sepi. Sesuai kebiasaan
umum, kolam itu untuk tempat berendam menikmati hangatnya air, kolamnya terlalu
kecil untuk berenang.”
Aku:
“Kelihatannya ada muridnya yang mengetahui bahwa Botchan sering
berenang di kolam itu dan melaporkannya. Jadi, keesokan harinya Botchan
terkejut ketika masuk ke ruangan sekolah, di papan tulis ada tertulis:
“Dilarang berenang di dalam kolam.” Ha... ha... ha.... Saya teringat jaman
sekolah dulu, memang murid-murid kadang-kadang suka usil begitu...”
Natsume, juga tertawa:
“Ya murid-muridnya usil karena
Botchan itu guru muda yang baru mengajar di sekolah itu. Bayangkan, si Botchan
itu kalau pergi ke pemandian itu selalu membawa handuk yang sama berukuran
besar, ukuran Eropa. Handuk ini berwarna agak merah seperti warna air panas
yang mengandung mineral di pemandian Dogo
onsen itu. Handuk ini senantiasa digenggam tangannya kalau pergi ke pemandian
itu, baik saat berjalan maupun saat naik kereta api ke sana. Oleh karena itu,
para murid menjulukinya “Handuk Merah”. Ha...
ha... Sepertinya semua murid bersekongkol untuk menguntitnya ke mana saja untuk
mengamati apa yang dikerjakan guru muda ini... Ha..ha..”.
Aku, ikut tertawa:
“Tapi, si Botchan itu tidak kalah bandelnya, ia hadapi murid-muridnya
dengan umpatan-umpatan yang sarkastis dan meladeni keusilan murid-muridnya
dengan galak. Ia memberi hukuman yang setimpal kepada murid-muridnya. Para guru
banyak yang mencela tindakan Botchan kepada murid-muridnya, yang dianggap tidak
layak dilakukan seorang guru. Botchan pun tidak mau kalah, dan membantah mereka
dengan ungkapan-ungkapan yang makin sarkastis. Ia bahkan siap bertempur dengan
guru-guru yang tidak mencelanya. Guru-guru itu diolokinya dengan
julukan-julukan sesuai dengan tingkah laku aneh guru itu...”
Natsume:
“Ya, terutama si “Baju Merah”, kepala guru yang munafik dan manipulatif,
itu musuh besarnya. Ia diberi julukan begitu karena setiap hari ia memakai baju
berbulu merah, dan berbicara seperti wanita, ... ha... ha...”
Ya memang si “Baju Merah” itu tokoh yang sangat menyebalkan. Aku
mereka-reka apakah memang ada rekan guru Natsume di sekolah itu yang bertingkah
seperti si Baju Merah, yang mengilhami Natsume menulis karakter seperti ini. Seperti
halnya kota Matsuyama yang menjadi setting novel ini, dan tempat pemandian yang
penggambarannya sesuai dengan Dogo onsen, mungkin karakter-karakter dalam
cerita ini juga sesuai dengan orang-orang yang dikenalnya selama mengajar di
sekolah itu.
Kota Matsuyama, selain sebagai settingnya “Botchan”, adalah juga kota
di mana Natsume bertemu kembali dengan Shiki Masaoka, sahabat kentalnya sejak
di sekolah. Shiki Masaoka banyak menulis Haiku semenjak di sekolah waktu itu,
dan Natsuke terpengaruh menulis Haiku olehnya. Haiku adalah puisi pendek
terdiri dari 3 baris dan 17 silabel, yang populer di Jepang. Haiku yang pendek
ini menuangkan kesan yang dialami penulisnya dalam sekejap, yang spontan
dirasakan dalam suatu perjumpaan. Haiku bisa mengenai hal yang sederhana yang
dijumpai sehari-hari, hal-hal yang ringan dan lucu, namun bisa juga mendalam ungkapannya,
yang eksistensial, tentang cinta dan kematian. Sejak di situ, Natsume, bersama
Shiki, juga banyak menulis Haiku, baik mengenai perjumpaan yang sepele, yang
lucu, maupun yang mendalam.
Aku:
“Kabarnya di Matsuyama anda bertemu
teman akrab anda Shiki Masaoka, dan bersama-sama meluangkan waktu untuk menulis
Haiku di sana. Bagaimana anda bisa bersahabat dengan Shiki Masaoka, yang boleh
dibilang adalah salah satu Haiku Master di Jepang?”
Natsume:
“ Shiki Masaoka itu sahabat saya sejak di sekolah, dan dia sudah banyak
menulis Haiku di masa itu. Ia telah mengumpulkan puisi-puisinya dalam satu buku
yang dia beri judul “Nanakusashu”, yang juga merisi puisi-puisi bergaya tulisan
Tiongkok dan Haiku. Suatu hari ia mengedarkan buku itu di dalam kelas untuk
dikomentari teman-temannya. Saya membubuhkan komentar saya di akhir buku itu, serta melampirkan sembilan puisi-puisi yang
saya tunjukan kepadanya untuk. “
Aku:
“Seperti apa puisi yang anda tulis...?”
Natsume, mengutip salah satu puisinya yang dia tulis di buku itu:
“Hidup dalam ketiadaan agak bergaya,
Musim panas ini Anda memutuskan untuk menyewa kamar di House of the
Fragrant Moon di tepi sungai.
Sementara menghabiskan waktu menulis puisi yang menampilkan lanskap
pedesaan gandum hijau dan bunga rapeseed kuning,
Musim telah berganti, dan musim gugur dengan bunga merah lada air dan
bunga putih gulma mengambang telah tiba lagi.”
Aku: “Bagaimana pendapat Shiki...?”
Natsume:
“Ia menyukai puisi itu..., puisi itu mengingatkan pengalamannya saat
liburan musim panas di Mukojima. Ia menyewa kamar untuk menulis kumpulan puisi
“Nanakusashu” itu, lokasi itu menurutnya
adalah dunia tanpa arti, yang merupakan tempatnya mendapatkan inspirasi untuk
tulisan-tulisannya.
Tapi di kemudian hari saya menganggap puisi-puisi itu
kekanak-kanakan.... Saya merasa sungguh malu dan memintanya merobek puisi-puisi
itu... “
Aku: “Saya tidak merasa begitu...”
Natsume:
“Bagaimanapun, sejak itu kami menjadi sahabat yang akrab, nama pena
saya “Soseki” sebenarnya adalah salah satu nama pena Shiki, yang kemudian dihibahkannya
kepada saya. Dan sampai sekarang saya bernama Natsume Soseki...”
Aku: “Apakah ada artinya Soseki itu...?”
Natsume: “Soseki berasal dari ungkapan dari “Shinjo” di jaman Tang
dinasti di Tiongkok, yang artinya ‘Berkumur dengan Batu’ ...”.
Aku mengernyitkan kening: “Berkumur dengan Batu? Kok aneh?”
Natsume: “Ya, itu pengandaian bagi seorang yang kalah tapi tidak mau
mengakui kekalahannya, Bad Looser... ha...ha..”
Aku ikut tertawa: “Hmm... itulah nama pena yang dihibahkan Shiki, ya...
Jadi nama itu menertawakan diri kalian, ya....”
Natsume:
“Kami menjadi teman dekat dan sering berbagi Haiku dan tulisan puisi
Tiongkok dalam surat-surat kami. Shiki terkesan dengan puisi-puisi Tiongkok
yang saya tulis, dan saya terkesan dengan Haiku-Haiku yang dia tulis, jadi kami
saling bertukaran puisi untuk menuturkan pikiran dan perasaan kami. Ketika di
Matsuyama, kami semakin banyak menulis Haiku bersama-sama. Saat itu ia
sebenarnya datang ke kota ini untuk memulihkan penyakit tuberculosis yang
dideritanya, karena kota ini sebenarnya adalah kota kelahirannya. Di sana kami mencurahkan
waktu luang kami untuk Haiku, dan juga menulis puisi-puisi di pertemuan-pertemuan
dengan penyair-penyair dan murid-murid kami.”
Aku: “Wah... kalian sangat produktif ya menulis puisi...”
Natsume: “ Ya, Shiki sangat berbakat, tapi di kemudian hari ia mengakui
bahwa sebagai pelajar, ia murid yang kurang rajin...”
Aku: “Ya banyak orang-orang terkenal yang tidak rajin belajar,
nilai-nilai rapornya tidak cemerlang dan bahkan banyak yang gagal di
sekolah...”
Natsume:
"Ya, Shiki banyak mengalami hambatan ketika belajar di sekolah, bahkan di
tingkat akhir ia berniat mengundurkan diri dari Tokyo Imperial University
karena ia gagal di ujian akhir. Saya menerima surat darinya tentang niatnya
itu, saya menjadi sangat gusar dan langsung membalas suratnya berusaha
menenangkan pikirannya agar ia tidak salah jalan… di akhir surat itu saya membubuhkan
Haiku untuk menyejukkannya yang berbunyi: ‘ Burung cuckoo malam, jika engkau
menangis, menangislah kepada bulan purnama...’ … Untuk anda ketahui nama Shiki
berarti burung cuckoo...”
Aku berkata: “Lalu, apakah anda berhasil mengubah pikirannya ...?”
Natsume: “Sayangnya …., setahun kemudian dia benar-benar mengundurkan
diri dari Tokyo Imperial University....”
Di tengah percakapan kami, Kyoko, istri Natsume, masuk membawa nampan
berisi camilan yang diletakannya di atas meja di depan kami yang sedang duduk
bersila. Aku melihat panganan dengan warna warni menarik, ada kue mochi, kue
khas Jepang yang terbuat dari beras ketan. Ada tiga macam warna kue-kue itu,
putih, jingga dan coklat. Yang berwarna jingga ada rasa jeruknya, menyegarkan. Natsume
langsung mengambil kue mochi yang coklat dan memakannya dengan lahap. Kelihatannya
dia lapar juga saat itu. Kyoko mengatakan bahwa Natsume punya gangguan asam
lambung yang parah, sehingga di sering lapar seperti itu. Kyoko berbicara
sambil tersenyum lebar dengan ramah, namun giginya terlihat kurang teratur dan
kuning. Natsume sendiri pernah berkata tentang
istrinya ‘giginya tidak teratur dan berwarna kuning, tapi ia tidak peduli untuk
menyembunyikannya. Aku menghargai keterbukaannya’. Aku ingat itu adalah
kata-kata Natsume yang dicatat oleh Kyoko.
Natsume sendiri orangnya jangkung, dengan kumis yang cukup lebat,
matanya berwarna emas kecokelatan. Ada bekas luka cacar di wajah sebelah
kanannya, yang tertutupi rambut yang halus. Di potret-potret bekas luka ini
tidak pernah kelihatan, mungkin karena pemotretnya menghormatinya untuk tidak
menunjukkan sisi wajah itu.
Aku lalu mencoba mochi yang coklat, ternyata rasanya rasa kacang merah.
Kyoko lalu menghidangkan sepoci teh hijau yang umum diminum di Jepang. Rasa tehnya
yang agak pahit serasi dengan rasa mochi coklat ini. Sambil menikmati mochi dan
teh yang hangat itu, aku mengamati ruangan rumah ini. Rumah ini dindingnya,
lantainya semua terbuat dari kayu, khas rumah tradisional Jepang. Lantainya ditutupi
tatami, tikar tebal yang terbuat dari jerami. Dinding dan langit-langit semua
dari kayu. Sekat-sekat ruangan terbuat dari rangka kayu dan kedua sisinya ditutupi
dengan washi berwarna putih, sejenis kertas yang liat dan tahan lama. Kertas
washi itu tembus cahaya, membuat ruangan lebih terang, membuat siapa saja betah
duduk di sini. Walau duduk bersila cukup lama, aku tak merasa lelah.
Tiba-tiba dari balik sekat datang seekor kucing, yang tanpa basa basi
langsung duduk di pangkuan Natsume. Kucing itu sejenis kucing calico berukuran sedang,
dengan bulu seperti bulu kucing Persia berwarna abu-abu kekuningan dengan
bintik-bintik hitam legam. Kucing itu duduk dengan manja, dielus-elus tangan
Natsume. Langsung saja aku mengenali kucing ini sebagai si kucing dalam buku
“Saya seekor Kucing” karangan Natsume. Ya, naratornya si kucing ini, yang
sering ngoceh memberi komentar tentang tuannya, Mr. Sneaze, yang adalah guru
Bahasa Inggeris. Kebetulan atau tidak, si Natsume juga pernah menjadi guru
Bahasa Inggeris. Kucing itu juga bercerita bahwa tuannya mempunyai gangguan asam
lambung yang parah….
Aku lalu berkata:
“Kucing ini sangat mirip dengan kucing yang berperan dalam buku ‘Saya
seekor Kucing’, tentunya banyak cerita-cerita yang diocehkan si Kucing itu
berdasarkan pengalaman anda sesungguhnya…”
Natsume tersenyum saja….
Aku:
“Itu penyakit gangguan asam lambung yang diceritakan si Kucing tentang
tuannya, Mr.Sneaze, kelihatannya cukup
parah… Saya mendengar keluhan dari orang-orang yang mengalami penderitaan seperti
yang dialami Mr.Sneaze itu...”
Natsume:
“ Istrinya selalu menyuruhnya minum Taka-Diastase untuk penyakitnya,
tapi Mr.Sneaze itu tidak mau lagi meminumnya, karena tidak manjur. Istrinya
terus memaksanya minum obat itu, tapi Mr.Sneaze ngotot menolaknya, katanya
tidak berguna. Istrinya lalu menjadi heran karena dulunya Mr. Sneaze setiap
hari minum obat itu dan menganggapnya bekerja seperti mujizat. Namun istrinya
terus berceloteh bahwa diperlukan kesabaran untuk menyembuhkan penyakit itu,
kalau tidak sabar tidak akan sembuh. Gangguan
asam lambung itu memang lama penyembuhannya..., istrinya berkata begitu sambil
memandang pelayan rumah tangganya, seakan meminta persetujuan... dan pelayan itu
tentu setuju saja dengan perkataan istrinya....”
Aku:
“Pembaca buku ini dapat mengenali gaya cerita ‘Rakugo’, yang merupakan
pertunjukan monolog Jepang, yang diceritakan dengan lucu. Seperti stand-up
komedi di bar-bar, si Kucing itu bertutur secara demikian… ”
Natsume:
“Memang gangguan asam lambung yang saya derita menjadi cukup parah
sehingga saya harus dirawat di rumah sakit ketika sedang menulis ‘Pintu Gerbang’.
Kemudian saya mengungsi ke Shuzenji untuk penyembuhan. Saya menginap di ryokan Kikuya di tepi Sungai Katsuragawa,
di dekatnya juga ada onsen, tempat pemandian air panas. Saya merasa seperti pulang ke rumah setelah
perjalanan panjang. Tapi keadaan saya memburuk dan memuntahkan 800 gram darah, sehingga
saya mengalami rasa dekat kematian di saat
itu.”
Aku:
“Kebetulan saya juga membaca ‘Pintu
Gerbang’ , atau ‘Mon’ judul aslinya, yang anda tulis di masa gawat itu, saya
sangat terkesan dengan novel itu. Sangat menarik bagaimana anda menceritakan kehidupan
sehari-hari seorang bernama ‘Sosuke’, yang kebetulan juga mirip dengan nama
pena anda ‘Soseki’. Dalam cerita itu
Sosuke mengungsi ke sebuah kuil di Kamakura untuk mencari kedamaian
dengan mempelajari Zen dan latihan meditasinya. Dan setahu saya anda juga
pernah mempelajari Zen dan meditasinya di Kuil Enkaku-ji di Kamakura itu.”
Natsume:
”Tapi ternyata kehidupan yang penuh meditasi di kuil itu tidak sesuai bagi
Sosuke, ia selalu terlambat bangun untuk meditasi pagi, meditasi yang lama baginya
terlalu melelahkan dan makanan vegetarian yang disediakan terasa hambar.
Setelah sepuluh hari ia pulang ke rumah.”
Aku:
“Pintu Gerbang yang dimaksud dalam novel ini tampaknya adalah Pintu
Gerbang kuil ini, Pintu Gerbang menuju pencerahan yang ingin dicapai Sosuke...”
Natsume, mengutip ‘Pintu Gerbang’:
“Dia datang ke sini mengharapkan gerbang dibuka untuknya. Tetapi ketika
dia mengetuk, penjaga gerbang, di mana pun dia berdiri di belakang gerbang
tinggi, tidak menunjukkan wajahnya. Hanya suara tanpa tubuh yang bisa didengar:
‘Tidak ada gunanya mengetuk. Buka gerbang untuk diri Anda sendiri dan masuk.’
Tapi bagaimana, dia bertanya-tanya, dia bisa membuka palang gerbang
dari luar? Secara mental ia merancang skema yang melibatkan berbagai langkah
dan langkah. Tetapi ketika sampai pada hal itu, dia mendapati dirinya tidak
dapat mengumpulkan kekuatan untuk menerapkan rencananya. Dia berdiri di tempat
yang sama dia berdiri sebelumnya ketika mulai merenungkan masalahnya. Seperti
sebelumnya, dia mendapati dirinya terdampar, tanpa daya atau jalan keluar, di
depan gerbang yang tertutup. Dia telah hidup dari hari ke hari sesuai dengan kemampuan
pikiran. Sekarang dengan kecewa, dia bisa melihat bahwa kemampuan ini telah
menjadi kutukan. Pada satu ekstrem, dia iri pada pikiran sederhana yang keras
kepala dari orang-orang naif yang tidak pernah mempertimbangkan
kemungkinan-kemungkinan lain. Dari sudut pandangan yang lain, ia memandang
dengan kagum disiplin diri spiritual dari orang-orang awam yang penuh
kepercayaan, baik pria maupun wanita, yang meninggalkan kebijaksanaan
konvensional dan menyingkirkan gangguan pemikiran analitis. Tampaknya bagi
Sōsuke bahwa sejak saat kelahirannya, sudah menjadi takdirnya untuk tetap
berdiri selamanya di luar gerbang. Ini adalah fakta yang tak terbantahkan.
Namun jika benar bahwa, bagaimanapun, dia ditakdirkan tidak akan pernah untuk
melewati gerbang ini, ada sesuatu yang sangat tidak masuk akal tentang
tindakannya mendekati gerbang ini pertama kali. Dia menoleh ke belakang. Dia
melihat bahwa dia tidak memiliki keberanian untuk menelusuri kembali
langkahnya. Dia melihat ke depan. Jalan itu selamanya terhadang oleh gerbang
yang tertutup rapat. Dia adalah seseorang yang ditakdirkan untuk tidak melewati
gerbang ataupun seorang yang puas karena tidak pernah melewatinya. Dia adalah
salah satu dari jiwa-jiwa malang yang ditakdirkan untuk berdiri di bawah
bayang-bayang gerbang, membeku di jalurnya, sampai hari itu selesai.”
TAMAT
Artikel ini adalah wawancara imajiner
mengenang Natsume Soseki.
Dari balik jendela bus yang kami tumpangi kami bisa melihat pemandangan
pegunungan yang memesonakan. Saat ini baru mulainya musim panas, daun-daun dan
rumput hijau kelihatan muda dan segar, menghampar di pegunungan. Sang pemandu
wisata berkata bahwa di musim gugur pemandangannya lebih indah lagi, daun-daun
memerah dan menguning keemasan sebelum mereka gugur, memberi panorama yang mengagumkan
sepanjang perjalanan. Kami hanya bisa membayangkannya, dari foto-foto yang
pernah kami lihat, dengan impian agar suatu saat bisa menikmati pemandangan
aslinya di musim gugur. Tentunya musim gugur ini adalah musim wisata yang
paling sibuk, para wisatawan, dalam negeri maupun luar negeri, sudah jauh hari
sebelumnya merencanakan perjalanan mereka ke sini.
Kami berada dalam perjalanan dari Tokyo ke pegunungan Nikko. Nikko
adalah tempat bersejarah dengan pemandangan indah pegunungan di Utara Tokyo.
Keberadaan tempat-tempat bersejarah yang terletak di lereng pegunungan,
dilengkapi dengan pesona pedesaannya, mengilhami pepatah yang berbunyi: “
Jangan pernah berkata kekko sampai anda melihat Nikko”, artinya kalau anda ke
Jepang, jangan pernah puas sebelum anda melihat Nikko.
Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Kuil Toshugu, sebuah kuil yang
dibangun untuk mengabadikan Tokugawa Ieyasu. Nama kuil mengacu pada Tosho
Daigongen, yang berarti 'Cahaya Dewa Agung dari Timur', nama kehormatan yang
diberikan kepada Tokugawa Ieyasu setelah kematiannya. Dia adalah pemimpin samurai besar yang
memimpin dan menyatukan Jepang pada abad ke-17. Ia mendirikan Keshogunan
Tokugawa yang memerintah selama lebih dari 250 tahun, menjadikannya tokoh
samurai terkemuka dalam sejarah Jepang. Seperti pemimpin Jepang lainnya, rohnya
dianggap suci dan kuil ini dibangun untuk menampung rohnya, menurut kepercayaan
Shinto. Oleh karena itu, kuil ini sarat akan nilai sejarah dan sangat sakral
karena kuil ini merupakan tempat pemakaman dan tempat tinggal roh Tokugawa
Ieyasu.
Dari pintu masuk ke kuil belakang, Toshogu dihubungkan melalui satu jalan
yang cukup lebar dan menanjak. Di ujung jalan, ada sebuah Gerbang besar, yang
disebut Torri (Ishidorii). Torri yang terbuat dari batu itu menandai pintu
masuk ke Kuil Toshogu, yang menurut kepercayaan Shinto melambangkan pintu masuk
ke tempat suci.
Biasanya, Kuil Shinto dibuat sederhana dengan mempertimbangkan
keharmonisan dengan alam sekitarnya, mengundang pengunjung memanjatkan doa-doa
dan persembahan di kuil ini. Tidak demikian halnya dengan Kuil Toshogu. Kuil
ini adalah perpaduan antara Kuil Shinto dan Kuil Buddha, membuat kuil ini
berdimensi megah. Kesederhanaan sama sekali tidak menjadi pertimbangan,
bangunan-bangunannya malah kaya dengan ornamen dengan berbagai warna, termasuk
hiasan daun-daunan emas, yang bisa membuat tercengang pengunjung yang
mengamatinya.
Saat berjalan-jalan di malam hari di Kabukicho,
kami melihat sebuah restoran yang sangat unik. Namanya Robot Restaurant, dengan
papan nama besar-besaran di bagian atas
restoran dengan bola-bola lampu yang berkilauan sehingga bisa terlihat dari
jauh. Siapa pun yang mengunjungi daerah ini tidak akan luput memperhatikan
restoran ini. Kami bertanya-tanya restoran macam apa itu, apakah kami akan
dilayani oleh robot atau semacamnya? Sebenarnya, tempat tersebut menawarkan
pertunjukan kabaret bertema Robot yang spektakuler, dan menyebutnya sebagai
restoran sebenarnya agak menyesatkan. Tempat ini adalah lebih menyajikan
pertunjukan daripada restoran. Mereka memang menyajikan makanan di sana, tapi
itu adalah jenis makanan yang disantap sambil menonton pertunjukan. Penataan
ruangannya seperti panggung arena yang dikelilingi tempat duduk penonton, tidak
seperti penataan meja makan pada umumnya di restoran.
Pertunjukannya mencengangkan, nyaring dan penuh
energi sejak awal. Penari, lampu laser, lampu sorot yang mempesona, bercampur
dinosaurus dan robot menari seirama dengan ketukan drum. Benar-benar
spektakuler. Gerakannya tampak tidak dikoreografikan, namun pertunjukannya
sebenarnya merupakan Gerakan-gerakan yang direncanakan dengan cermat dan
memerlukan persiapan berminggu-minggu. Para penari harus menguasai segalanya
mulai dari menari hingga bermain drum, pole dancing, dan mengendarai robot
untuk pertunjukannya. Begitulah yang dikatakan salah satu penari kepada kami
setelah pertunjukan.
Meskipun tampaknya tidak ada alur cerita dalam
pertunjukan berdurasi 90 menit tersebut, tampaknya ini adalah pertarungan
klasik antara pasukan robot. Penarinya berkisar dari kawaii (imut-imut) hingga
binatang mengerikan, karakter anime konyol hingga karakter fantasi Jepang kuno.
Ada musik rock yang menggelegar di ruangan itu, dengan prajurit putri berbikini
melawan robot transformator setinggi 3 meter. Mereka datang untuk menggoda anda
di setiap sudut dan di depan tempat duduk Anda. Ada juga hiu raksasa yang
menyerang robot kuda, panda Kung-Fu yang bergulat di Segway. Mereka membuat
kami tersenyum.
Selama 90 menit kami memasuki dunia yang
berbeda, monster dan karakter kawaii menjadi nyata, mainan robot menjadi besar,
ini adalah pertunjukan sekaligus pesta liar. Tempat ini adalah salah satu
tempat wisata terbaik di Tokyo, terletak di kawasan kehidupan malam Shinjuku. Robot
Restaurant mendapat reputasi baik tidak lama setelah dibuka pada tahun 2012,
namun sayangnya harus ditutup selama pandemi Covid 19 dan tetap ditutup
selamanya.