Tampilkan postingan dengan label Agama Buddha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama Buddha. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Desember 2021

Tibet, di Vihara Drepung

 

Sekitar 8 km sebelah barat Lhasa, kita dapat menemukan vihara Drepung yang terletak di lereng Gunung Gephel. Di sekitar vihara ini kita akan melihat banyak rumah dan bangunan berdinding dan beratap putih bertebaran di sepanjang bukit. Karena itu vihara ini juga disebut vihara “tumpukan padi”. 

Dalam perjalanan menuju vihara kita dapat melihat lukisan batu besar di atas bukit yang seperti menggambarkan seorang dewa. Ini adalah lukisan Tsong Kha Pa, pendiri aliran pemikiran Gelug. Dalam tradisi ini, risalah klasik India dipelajari dengan sangat rinci dengan menggunakan metode dialektis. 

Vihara Drepung didirikan pada tahun 1416 oleh Jamyang Choge Tashi Palden, salah satu murid utama Tsong Kha Pa dan juga dikenal sebagai Dalai Lama kedua. Drepung adalah vihara terbesar di dunia, dan menampung sekitar 7.700 biksu di masa kejayaannya. Secara historis, Drepung pernah menjadi pusat kekuasaan politik dan agama di Tibet, sebelum Istana Potala dibangun, sebagian disebabkan karena Drepung adalah pusat utama sekolah Gelug. Pada tahun 1530, Dalai Lama kedua membangun istananya di sini, yang dikenal sebagai Istana Ganden, yang digunakan sampai Istana Potala dibangun.

Kompleks vihara Drepung adalah besar, dan jika kita ingin mengunjungi semua bangunan utama, akan memakan waktu seharian. Sebagian besar pengunjung memilih bangunan yang paling penting, seperti Aula Pertemuan Utama, Istana Ganden dan beberapa kapel di dekatnya. 

Aula Pertemuan Utama (Tsogchen) adalah struktur terbesar di kompleks dan paling mengesankan. Aula Pertemuan Utama ini adalah bangunan 3 lantai dengan teras besar yang menghadap ke kota Lhasa dan lembah. Patung utama di sana adalah Buddha Maitreya (Masa Depan) setinggi 3 lantai. Selain itu, ada patung Shakyamuni Buddha (Siddhārtha Gautama), Tsong Kha Pa, Dalai Lama ke-13 dan para pelindung di kapel- kapel. 

Baris tengah Aula Pertemuan Utama berisi stupa suci untuk Dalai Lama ke-3; bagian utara berisi stupa suci untuk Dalai Lama ke-4; dan yang selatan berisi stupa suci untuk Chilai Gyamco. 

TAMAT:

 Sumber:

http://www.china.org.cn/english/travel/58181.htm





Minggu, 28 Juni 2020

Bangkok, di kuil Wat Pho


Saya sudah beberapa kali berkunjung ke Bangkok, dan ini adalah kedua-kalinya saya berkunjung ke kuil Wat Pho. Walaupun kedua-kali, kunjungan ini menyegarkan kenangan masa lalu tentang kuil yang mengesankan ini. Cuaca panas dan lembab musim panas tidak menghalangi para turis untuk berdatangan ke kuil itu di pagi itu.

Setelah melalui patung rakasasa Penjaga dari Tiongkok, gerbang Tha Tian,  saya langsung menuju ke Kuil Reclining Buddha ( Sang Buddha Berbaring).  Seperti halnya kuil-kuil yang lain, kita harus membuka sepatu untuk masuk, dan semua pengunjung harus mengenakan pakaian yang sopan, artinya pundak tidak terbuka atau rok mini di atas lutut. Lalu, begitu masuk pintu masuk hal pertama yang kami temui adalah sisi kepala Sang Buddha yang ditopang dengan lengan kanannya. Ukuran kepalanya sangat menakjubkan, dan tubuh yang diperpanjang berbaring di sofa membuat patung ini makin mencengangkan. Tinggi patung itu 15 meter dan panjangnya 46 meter, diselimuti daun emas yang bersinar dengan anggun di ruangan yang agak gelap, membuat keberadaan patung itu mendominasi seluruh ruangan itu. Kami tidak pasti berapa berat patung raksasa itu, namun seluruh patung itu dibuat dari batu bata di tengahnya, yang dibentuk dengan semen sebelum disepuh emas.

Mata patung itu yang berbentuk seperti ikan terbuat dari mutiara-mutiara besar, terlihat seperti sedang merenung. Mahkota di kepala, atau Ushnisha, melambangkan Pencerahan sang Buddha, dan titik kecil di antara alis matanya , atau Urna, melambangkan mata ketiga, yang kemudian melambangkan pandangan akan dunia ilahi. Telinganya yang memanjang melambangkan penolakan dengan sadar akan dunia material guna mendapatkan pencerahan spiritual.

Setelah berjalan besama begitu banyaknya turis sepanjang 46 meter tubuhnya yang berbaring kami sampai ke kakinya, yang juga berskala raksasa, tingginya 3 meter dan panjangnya 4.5 meter! Tapak kakinya juga bertatahkan mutiara–mutiara besar, diukir dengan ukiran-ukiran yang menunjukkan simbol-simbol Sang Buddha. Di tapak kakinya, ada 108 tanda-tanda keberuntungan seperti bunga, penari, gajah putih, harimau, dan hiasan altar yang melambangkan Sang Buddha. Di tengah kedua kakinya ada sebuah lingkaran yang melambangkan chakra atau ‘pusat energi’. Banyak pengunjung hanyut dalam keindahan patung emas Buddha ini dan simbolisme yang dilambangkannya.
                                                                                                                                       
Meskipun Sang Buddha Berbaring tampak seperti seseorang yang lagi bersantai di sofa, hal ini sebenarnya mewakili saat-saat terakhir Sang Buddha di dunia ketika sedang sakit. Hal ini mewakili saat ia akan masuk ke parinirvana, nirvana setelah kematian. Ia berbaring di sisi kanannya dengan wajah yang penuh kebahagiaan bersandar di sebuah bantal ketika ia menopang kepalanya dengan tangan.

Guna memperingati perjalanannya ke akhirat, murid-muridnya membangun sebuah patung dengan posisi begitu. Sekarang patung itu adalah patung emas agung yang berada di dalam Wat Pho. Puluhan tahun kemudian, banyak versi patung Sang Buddha Berbaring dibuat di seluruh Asia Tenggara.


TAMAT

Sumber: Wikimedia