Jumat, 22 Januari 2021

Paris, di Place de la Bastille

 

Di hari kedua hari bebas kami dari kantor, saya dan kolega-kolega pergi ke Bastille dan bagian-bagian lain dari Marais. Kami pikir kami akan melihat penjara Bastille yang bersejarah yang diserbu ketika revolusi Perancis di tanggal 14 Juli 1789, tapi tidak ada penjara itu. Penjara itu sudah dihancurkan dan di tempatnya ditegakkan monumen yang melambangkan perdamaian dan tetap berdiri hingga sekarang. Nama monumen itu adalah Colonne de Juillet, atau Tiang Juli. Tingginya 47 meter dan terbentuk dari 21 coran tembaga yang duduk di atas dasar marmer putih dengan ornamen ukiran, dirancang oleh arsitek Jean-Antoine Alavoine atas perintah Raja Louis Philippe.

Lapangan itu sekarang dikenal sebagai Place de la Bastille dan merupakan monumen sejarah resmi Perancis. Di sebelah Selatan lapangan ini terdapat bangunan melengkung yang besar dan berkilau, bangunan itu adalah Opera Bastille. Bangunan itu dibangun oleh arsitek Carlo Ott, dan diresmikan oleh Presiden Mitterand untuk perayaan 200 tahun Revolusi Perancis pada malam tanggal 14 Juli 1989, Hari Bastille.

Selama bertahun-tahun distrik ini menjadi salah satu tempat yang terkenal di Paris. Kehidupan malam di sini cukup terkenal, ada banyak bar-bar dan nightclubs yang berjejer di antara Rue de Lappe, the Rue de la Roquette dan Faubourg Saint-Antoine.

Berjalan di sebelah kiri dari Boulevard Beaumarchias, meninggalkan Place de la Bastille, pada jalan ke dua kami datang ke Rue du Pas de la Mule. Setelah belok kiri, dalam beberapa langkah kami melihat gedung berbata merah yang membentuk Place des Vosges. Mansion ini, dibangun di awal 1600-an, adalah sebuah kompleks yang terdiri dari 36 rumah dengan arkade yang terletak di sekelilingnya. Ada taman di tengah Place des Vosges yang dinamai Lapangan Louis XIII. Sering kali rumput di sini bisa dipakai untuk berleha-leha.

Berjalan di arkade dengan tiang-tiang dan lengkungan langit-langit dari Place des Vosges, serasa seakan kami baru saja memasuki abad ke 17. Terus ke depan, melalui café dan art galeri, di sudut arkade ini, adalah rumah no 6, sebuah mansion yang pernah menjadi tempat tinggal Victor Hugo. Sekarang mansion ini menjadi museum yang buka setiap hari, kecuali Senin dan hari libur.

 

TAMAT








Sabtu, 02 Januari 2021

Wawancara dengan Oriana

 

Photo: Wikipedia

Hari itu Oriana keluar dari kamarnya mengenakan setelan celana berwarna violet, menyapa saya dan duduk di kursi di muka jendela, menopangkan salah satu kakinya di paha kaki lainnya. Di tangan kanannya dia mengapit sebatang rokok Virginia Slims dan menghembusnya terus menerus. Walaupun dia kecil, mungkin 1.55 meter dan berat sekitar 45 kg, postur tubuhnya memberi kesan seorang wanita yang penuh percaya diri, meyakinkan dan tegas. Wawancara-wawancaranya dengan tokoh-tokoh terkenal dunia mengkonfirmasi hal ini semua. Ini adalah wanita yang berani bertanya kepada tokoh-tokoh politik pertanyaan-pertanyaan yang brutal di dalam wawancaranya. Ini adalah wanita yang berani membuka cadarnya ketika mewawancarai Khomeini, berani menanyai Nguyen Van Thieu “Sebagaimana korupkah anda?”, dan berani menuduh Yasir Arafat “Anda sama sekali tidak menginginkan perdamaian yang diharapkan semua orang.” 

Bukunya yang paling terkenal “Wawancara dengan Sejarah” mengumpulkan wawancara-wawancara dengan 14 tokoh politik, dengan sampul yang mengutip majalah Rolling Stone “pewawancara politik yang terbesar di masa modern.” Saat saya kuliah saya membaca beberapa wawancara yang membuatnya terkenal, dengan Henry Kissinger, Khomeini, dan saya terpesona. Baru belakangan ini saya menemukan buku ini dan lebih terpesona lagi dengan wawancara-wawancara degan tokoh-tokoh yang kurang populer Shah Iran, King Hussein, Jenderal Giap dan bahkan dengan tokoh yang hampir tak terkenal Alexandros Panagoulis. Sebelum membacanya, saya tidak menyangka betapa menariknya wawancara-wawancara itu, yang memberi pandangan segar dan membuka jendela-jendela terhadap kepribadian tokoh-tokoh politik itu. 

Jadi, saya datang ke apartemennya di Florence melalui jembatan Ponte Vecchio yang terkenal itu dan duduk dengan wanita lincah ini untuk berbincang tentang buku ini. Dia menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan suara yang dalam, beraksen Italia, dan dengan banyak pergerakan lengannya. Meskipun terkenal sebagai wanita temperamental, bagi saya nampaknya dia wanita yang penuh perhatian dan baik hati.

 

Lalu saya menembakkan pertanyaan pertama: 

 “Pada umumnya, jurnalisme menekankan obyektivitas dalam penulisan agar memberi gambaran akan masalah dan kejadian-kejadian secara netral dan tidak bias, tanpa mempertimbangkan pandangan dan kepercayaan pribadi sang jurnalis. Sementara anda terkenal secara di seluruh dunia dengan pendekatan anda yang penuh penghayatan dan konfrontatif. Anda menjadi selebriti karena wawancara anda yang interogatif, pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan yang membuat Shah Iran membagikan pandangan religiusnya, membuat Jenderal Giap mengungkapkan rencana permainan militernya untuk mengalahkan Amerika di Vietnam, dan kadang kala membuat Nguyen Van Thieu berair-mata.”

 

Oriana:

“Saya tidak merasa untuk menjadi, atau tidak akan pernah berhasil untuk merasa seperti, sebuah perekam dingin dari apa yang saya lihat dan dengar. Dalam setiap pengalaman profesional, saya meninggalkan seberkas hati dan jiwa saya: dan saya ikut serta dalam hal yang saya lihat dan dengar seakan-akan saya berkepentingan secara pribadi akan hal itu dan merupakan suatu hal yang saya harus menentukan pendirian saya. Jadi saya tidaklah datang ke empat belas orang ini dengan sikap ambil jarak seorang anatomis atau seorang wartawan yang berhati dingin. Saya datang dengan seribu rasa marah, seribu pertanyaan yang mendera mereka juga mendera saya, dan dengan harapan untuk mengerti bagaimana, sebagai seorang berkuasa atau penentangnya, orang-orang itu menentukan masa depan kita.”

 

Aku berkata:

“Di dalam wawancara dengan Shah Iran anda memang menderanya, seperti tinju, anda melemparkan pukulan-pukulan ke dia, dia bertahan dan bahkan membalas dengan uppercut ke anda.”

 

Oriana:

“ Dia adalah seorang yang memiliki karakter yang konflik-konflik yang paling bertentangan bergabung untuk menghadiahkan sakit hati anda dengan misteri. Dia percaya akan mimpi-mimpi kenabian, dalam penglihatan-penglihatan, dalam mistis kekanak-kanakan, dan lalu membahas minyak bumi seakan seorang ahli, yang memang dia ahlinya. Dia memerintah bak monarki absolut, dan lalu bercerita tentang rakyatnya dalam nada seorang yang percaya kepada mereka dan mencintai mereka, dengan memimpin Revolusi Putih yang memberi kesan seakan-akan berusaha untuk memerangi buta huruf dan sistem feodal. Dia menganggap wanita hanya sebagai hiasan-hiasan yang anggun yang tak dapat berpikir seperti lelaki, dan lalu berusaha memberi wanita-wanita kebersamaan sepenuhnya akan hak dan tugas. Memang, di dalam masyarakat dimana wanita masih memakai cadar, dia bahkan memerintahkan gadis-gadis untuk melaksanakan dinas militer.”

 

Aku berkata:

“Apakah anda bertanya apakah dia seorang diktator?

 

Oriana:

“Dia bilang dia tidak akan menyangkalnya, karena dalam satu segi dia adalah diktator. Lalu: ‘Tapi lihatlah, untuk melaksanakan reformasi, seseorang tak bisa menghindar untuk menjadi otoriter. Terutama jika reformasi itu dilaksanakan di sebuah negara seperti Iran, dimana hanya dua puluh lima persen penduduknya dapat membaca dan menulis. Jangan lupa bahwa buta huruf disini sangat drastis – dibutuhkan setidaknya sepuluh tahun untuk membasminya. 

Percayalah kalau tiga perempat penduduk suatu negeri tidak dapat membaca dan menulis, anda hanya bisa menjalankan reformasi dengan sikap yang sangat otoriter- kalau tidak anda tidak kemana-mana. Kalau saya tidak bersikap keras, saya bahkan tidak akan bisa menjalankan reformasi agraria, hal itu akan menemui jalan buntu. Kalau hal itu terjadi, kelompok ekstrim kiri akan melindas kelompok ekstrim kanan dalam beberapa jam, dan bukan hanya Revolusi Putih yang akan terhentikan. Saya harus melakukan apa yang saya lakukan. Misalnya, memerintahkan tentara saya menembak siapa saja yang menentang distribusi tanah.”

 

Aku berkata:

“Anda bilang di buku ini bahwa sikapnya dingin selama wawancara, kaku, bibirnya tertutup bak pintu yang terkunci, matanya dingin bak angin musim dingin, menatap anda dengan kaku dan kejauhan. Namun dia sangat berbeda ketika dia bicara tentang minyak bumi. Dia bersinar, bergetar, fokus, dia menjadi orang lain.”

 

Oriana:

“Dia merasa mengetahui segala hal yang dapat diketahui tentang minyak bumi, segalanya. Dia bilang: “Hal ini memang keahlian saya. Dan saya memberitahu anda sebagai seorang ahli bahwa harga minyak bumi haruslah naik. Tidak ada solusi lain. Tapi itu adalah solusi yang orang Barat membawanya pada diri sendiri. Atau, bisa dibilang, sebuah solusi yang dibawa oleh masyarakat industrial anda yang terlalu beradab. Anda telah menaikkan harga gandum tiga ratus persen, dan sama halnya dengan gula dan semen.  Anda telah menaikkan harga petrochemicals selangit. Anda membeli munyak mentah dari kami dan menjualnya kembali, setelah disuling menjadi petrochemicals, serratus kali harga yang anda bayar. Anda membuat kami membayar berlebihan untuk segalanya, sangat berlebih, dan adalah adil jika dari sekarang anda harus membayar lebih untuk minyak bumi. Katakanlah…. sepuluh kali lipat. 

Saya tidak bisa melupakan dia tiba-tiba mengangkat jari telunjuknya dengan pandangan mata penuh kebencian, untuk mengesankan saya bahwa harga minyak bumi akan naik, naik, sepuluh kali lipat. Saya merasa mual berhadapan dengan pandangannya dan telunjuknya….”

 

Aku berkata:

“Banyak tokoh politik yang anda wawancarai di dalam buku ini memiliki pandangan yang sosialis, Golda Meir, Willy Brandt, Indira Gandhi, Pietro Nenni hingga Helder Camara. Namun sosialisme memiliki banyak warna, dari yang lunak hingga liberal. Apakah anda sosialis Oriana?”

 

Oriana:

“Tidak, saya bukan sosialis. Sosialisme yang diterapkan sekarang tidaklah berhasil. Kapitalisme juga tidak berhasil. Lebih baik saya mengutip apa yang di katakan Indira Gandhi dalam wawancara:

‘Saya tidak melihat dunia sebagai sesuatu yang terbagi antara kanan dan kiri. Walaupun kita menggunakannya, walaupun saya menggunakannya, istilah-istilah ini sudah kehilangan arti. Saya tidak berminat dalam satu label atau yang lainnya ---- Saya hanya berminat untuk mencapai jalan keluar dalam suatu permasalahan, untuk mencapai tujuan saya. Saya mempunyai beberapa tujuan. Tujuannya sama dengan tujuan ayah saya: memberi rakyat standar hidup yang lebih tinggi, membasmi kanker kemiskinan, menghilangkan konsekuensi ketertinggalan ekonomis. Saya ingin berhasil. Dan saya ingin berhasil dengan sebaiknya, tanpa memperdulikan apakah orang akan mengatakan tindakan saya bersikap ke pihak kiri atau kanan. 

Sama halnya ketika kami menasionalisasi bank-bank. Saya tidaklah menyetujui nasionalisasi hanya demi retorik nasionalisasi saja, atau karena saya melihat bahwa nasionalisasi menyembuhkan segala ketidakadilan. Saya menyetujui nasionalisasi jika diperlukan. Kami menyadari bahwa bank-bank belum membawa perbaikan, dananya masih mengalir ke industrialis kaya atau kroni para pemilik bank. Dan kamipun menasionalisasikan bank-bank tersebut tanpa memperdulikan apakah langkah ini sebuah tindakan sosialis ataukah antisosialis, ini hanya sebuah keperluan. Siapapun yang menasisonalisasikan sesuatu hanya untuk dianggap sebagai berpihak ke kiri bagi saya adalah orang dungu. 

Kata sosialisme sekarang memiliki banyak arti dan interpretasi. Orang Russia menamakan mereka sosialis, orang Swedia menamakan mereka sosialis. Dan jangan lupa di Jerman juga ada sosialis nasional. Bagi saya sosialisme berarti keadilan. Artinya berusaha untuk bekerja dalam masyarakat yang lebih egalitarian.”

 

Aku berkata:

“Salah satu wawancara anda yang luar biasa adalah dengan Jenderal Giap, jenderal Vietnam Utara ketika perang Vietnam. Dia terkenal akan kekejamannya, tentara Perancis jatuh ke perangkapnya yang penuh dengan tawon berbisa, sumur jebakannya penuh dengan ular, atau mereka diledakkan oleh bom yang tersembunyi di mayat-mayat yang ditinggalkan di pinggir jalan, dan di tahun 1954 dia mengalahkan Perancis di Dien Bien Phu. Dia juga ditakuti tentara Amerika, dan atas keberaniannya Ho Chi Minh biasanya memanggilnya Kui atau Setan. 

Ketika anda berjumpa dengan dia, apakah anda menemukannya sebagai seseorang yang menakutkan?”

 

Oriana:

“Saya pertama-tama terkejut betapa pendeknya dia, kurang dari 1.5 meter, dengan badan yang gemuk. Mukanya bengkak dan diliputi pembuluh-darah pembuluh-darah kecil biru yang membuatnya kelihatan ungu. Tidak, wajah itu tidaklah sangat menarik. Mungkin karena warna ungu itu, mungkin karena garis-garis yang tak menentu, membuat anda sukar untuk tetap menatapnya, dimana yang anda temukan jarang menarik. Mulut yang besar penuh dengan gigi-gigi kecil, hidung pesek yang membesar karena dua lubang hidung yang besar, keningnya yang berhenti di tengah kepalanya dengan sejumput rambut hitam…”

 

Aku berkata:

“Apakah dia memamerkan strategi perangnya?

 

Oriana:

“Dia bilang tentara Amerika meremehkan semangat orang-orang yang mengetahui bagaimana berperang untuk tujuan yang perlu, untuk menyelamatkan negaranya dari serangan asing. Perang Vietnam tidaklah tergantung angka-angka dan tentara yang dipersenjatai dengan baik, semua hal itu tidaklah menyelesaikan permasalahan. Ketika seluruh rakyat memberontak, tidak ada lagi yang anda dapat perbuat, dan tidak ada kekayaan manapun di dunia yang dapat mengalahkannya. Musuh mereka bukanlah serdadu yang baik, karena mereka tidak yakin akan apa yang mereka lakukan dan karena itu kekurangan semangat bertempur. 

Oh, ini bukanlah peperangan yang anda bisa selesaikan dalam beberapa tahun. Dalam peperangan dengan Amerika Serikat, anda butuh waktu, waktu…. Tentara Amerika akan terkalahkan dengan waktu, dengan menjadi Lelah. Dan untuk membuat mereka Lelah, kami harus terus bertempur, berlangsung…. Untuk waktu yang lama: sepuluh, lima belas, dua puluh, lima puluh tahun. Sampai kami mencapai kemenangan, seperti yang dikatakan presiden kami Ho Chi Minh. Benar! Bahkan dua puluh bahkan lima puluh tahun! Kami tidak tergesa-gesa, kami tidak takut.”

 

Aku berkata:

“Wawancara anda dengan Jenderal Giap mendapat perhatian Henry Kissinger, yang lalu mengundang anda untuk mewawancarainya. Sangat jarang dia memberi wawancara pribadi, biasanya dia bicara di konferensi pers yang diatur oleh pemerintah. Apa yang dia bilang tentang wawancara dengan Giap?”

 

Oriana:

“Dia tidak bicara tentang Jenderal Giap, sebaliknya dia bertanya kepada saya tentang Giap, Thieu dan jenderal-jenderal Vietnam lainnya. Dia bahkan bertanya kepada saya: ‘Menurut anda apa yang akan terjadi di Vietnam dengan genjatan senjata?’ Tentang Vietnam dia tak bisa bercerita banyak, dan saya kagum ketika dia bilang: bahwa apakah perang ini akan berhenti atau berlanjut tidaklah tergantung padanya, dan dia tak memiliki kemewahan untuk mengorbankan segalanya dengan sebuah perkataan yang tak perlu. Dia bilang: ‘Jangan menanyakan saya hal itu. Saya harus berpegang kepada apa yang saya katakana kepada publik sepuluh hari lalu…. Saya tidak bisa, saya tidak bisa menganggap sebuah hipotesa yang saya pikir tak akan terjadi, sebuah hipotesa yang tidak harus terjadi. Apa yang saya bisa katakana adalah bahwa kita berjuang untuk perdamaian, dan kita bagaimanapun akan mendapatkannya, dalam waktu yang sesingkat mungkin setelah pertemuan saya dengan Le Duc Tho lain kali.”

 

Aku berkata:

“Apakah Henry Kissinger bilang bahwa perang Vietnam adalah perang yang tidak ada gunanya?”

 

Oriana:

“Dia bilang dia setuju: ‘Tapi jangan lupa bahwa alasan mengapa kita berperang adalah untuk menjaga agar Vietnam Selatan jangan dicaplok oleh Vietnam Utara, perang ini diperuntukkan agar Selatan tetaplah Selatan. Tentu saja maksud saya bahwa ini satu-satunya alasan…. Ada alasan lain…. Tapi hari ini saya tidaklah dalam posisi untuk menilai apakah perang Vietnam itu perlu atau tidak, apakah perang itu berguna atau tidak berguna. 

Setidaknya, peran saya, peran kita, adalah untuk mengurangi terus menerus keterlibatan Amerika dalam peperangan ini, dan kemudian menghentikannya. Dan harus dihentikan menurut prinsip-prinsip tertentu. 

Akhirnya, sejarah akan berkata siapa yang lebih banyak bertindak: orang-orang yang terus menerus mengkritik dan tidak lain dari itu, atau kita yang berusaha mengurangi peperangan dan mengakhirinya. Benar, keputusannya tergantung sejarah.”

 

Aku berkata: 

“Sekarang, bagian terakhir buku anda adalah wawancara dengan Alexandros Panagoulis, politikus Yunani dan penyair, yang aktif ikut serta melawan junta militer Yunani, yang juga dikenal dengan Regim para Kolonel. Dia menjadi terkenal atas percobaan pembunuhan diktator Georgios Papadopoulos pada 13 August 1968, tapi juga atas siksaan yang diterimanya selama di penjara. 

Membaca wawancara ini, pembaca tak dapat terhindar dari pengamatan bahwa anda sangat mengaguminya, bahkan dengan penuh asmara.”

 

Oriana:

“Malam itu di Athena, dua hari saja setelah amnesti politik umum melepaskan Alexandros Panagoulis dari penjara, saya menjumpainya untuk wawancara dan jatuh cinta kepadanya.” 

 

Aku berkata:

“Panagoulis adalah orang yang nyata: Seorang pahlawan yang dijatuhi hukuman mati atas percobaan pembunuhan seorang diktator. Dia hanya menyesali bahwa dia gagal. Apakah anda melihatnya sebagai seorang pahlawan?”

 

Oriana:

“Dia bilang: ‘Saya bukanlah seorang pahlawan dan saya saya tidak merasa sebagai sebuah simbol….. Saya sangat takut mengecewakan anda semua yang melihat begitu banyak tentang saya! Oh, kalau saja anda bisa berhasil melihat saya hanya seorang manusia!”

 

Aku berkata:

“Dan lalu anda bertanya: ‘Alekos, apa artinya menjadi seorang manusia?”

 

Oriana:

“Dia bilang: ‘Itu berarti untuk memiliki keberanian, untuk memiliki kehormatan. Itu berarti mencintai tanpa membuat cinta suatu jangkar. Itu berarti berjuang dan untuk menang… Dan bagi anda, apakah seorang manusia?’ 

Saya menjawabnya : ‘Saya akan bilang bahwa seorang manusia adalah anda, Alekos.” 

 

Demikianlah berakhirnya wawancara ini. Arrivederci Oriana….

 

TAMAT

 

Ini adalah wawancara imaginer mengenang Oriana Fallaci.

 

Sumber:

Interview with History oleh Oriana Fallaci.








Sabtu, 07 November 2020

Paris, di Le Marais

 

Saya dan kolega-kolega menggunakan hari bebas kami setelah suatu rapat dinas di Paris untuk pergi ke distrik Le Marais. Keluar dari stasiun metro Hotel de Ville, kami terperangah dengan gedung besar Hotel de Ville langsung dihadapan stasiun metro. Saya bertanya-tanya akan berapa mahalnya tinggal di Hotel semegah ini. Namun sebenarnya bangunan ini bukanlah hotel, bangunan ini adalah kantor Kota Madya. Setelah saya google beberapa kali, saya menemukan bahwa kata ‘hotel’ dalam Bahasa Perancis bisa berarti rumah, bangunan, kediaman, jadi tidak selalu berarti hotel sebagai tempat menyewa kamar untuk tempat tinggal para turis. Kini, selain berfungsinya sebagai administrasi kota, Hotel de Ville juga adalah tempat untuk kesenian dan kebudayaan. Ada banyak pameran-pameran menarik di dalam gedung maupun di halaman di depan gedung ini. 

Hotel de Ville, kantor Walikota terbesar di Eropa. Terletak di pinggiran sungai Seine dan di tepi distrik Le Marais. Jalan-jalan disana menuju ke daerah yang modis, dipenuhi toko-toko yang cantik, cafes dan galeri seni. Masa kini, Le Marais adalah salah satu distrik terbaik di paris, campuran arsitektur abad pertengahan, toko-toko trendy, tempat-tempat kebudayaan dan gaya hidup yang unik. Sebuah distrik dengan jalan-jalan yang sempit di sebelah kanan sungai Seine, dimana anda dapat menikmati tempat bersejarah ini, gedung-gedung yang indah dan kuliner Perancis. 

Delapan ratus tahun yang lalu, Le Marais adalah sebuah rawa. Kata ‘marais’ dalam bahasa Perancis secara harafiah berarti ‘rawa’, sehingga tempat ini dinamai Le Marais karena kondisi tanah di pinggiran sungai Seine itu seperti rawa. Untuk memberi lahan agrikultur yang baru, daerah ini dirubah menjadi pertamanan komersil. Dalam waktu yang Panjang, daerah ini jatuh bangun dari perhatian umum karena perubahan kesuburan tanah dan kesukaran membangun di tanah rawa seperti ini. 

Di abad ke 16, raja Henry IV mengeringkan daerah Le Marais dan tempat ini menjadi lokasi favorit untuk membangun mansion-mansion yang bergengsi, yang ditinggali sebagian besar aristokrat Perancis. Masa ke-emasan Le Marais berlangsung hingga abad ke 17, menjadikannya sebuah pusat kesenian dan kebudayaan. Para aristokrat membangun mansion-mansion (dalam bahasa Perancis: ‘hotel particulier’) seperti  Hotel de Sens, Hotel de Sully, Hotel de Beauvais, Hotel Carnavalet, Hotel de Guenegaud dan Hotel de Soubise. Mansion-mansion itu didekorasi dengan sangat indah, dengan perabotan bermutu tinggi dan perhiasan mewah lainnya dari jaman ke-emasan ini. 

Seiring dengan jatuh bangunnya dinasti Bourbon, depersi ekonomi, revolusi Perancis, restorasi kota Perancis, Le Marais juga jauh bangun. Menanjak di abad ke 16, dirusak ketika revolusi dan peperangan, dipelihara oleh Andre Malraux di tahun 1962, dan diperbaharui oleh badan Kotamadya di tahun 1969. 

Berjalan-jalan memalui Le Marais kali ini kami dapat menghargai keindahan daerah ini karena daerah ini menjadi daerah perbelanjaan yang populer, dan didiami komunitas Yahudi yang utama di Paris. Daerah ini juga menjadi daerah yang modis, kebanyakan mansion-mansion dirubah menjadi museum, perpustakaan dan sekolah, yang dikelilingi toko-toko pakaian terbaik, tempat makan dan galeri seni moderen.

 

TAMAT

 

Sumber:

https://www.parismarais.com/en/discover-the-marais/history-of-the-marais/historical-marais.html

 









Jumat, 16 Oktober 2020

Bangkok, di Malam Hari

 

Bangkok adalah salah satu tempat dimana pada saat siang berganti malam perlahan-lahan, anda tetap bisa melihat banyak hal asal anda tidak lelah. Tempat-tempat yang indah, istana-istana dan kuil-kuil, paling baik dikunjungi di siang hari, namun pada malam hari, wajah Bangkok sangat berbeda. Pesta, pasar malam, klub malam, panganan dan pertunjukan unik mulai hidup menggoda para pengunjung untuk menikmati malam di kota ini.

Berbelanja di jalanan pada siang hari sangat menggairahkan walaupun sinar matahari panas terik di kota ini, namun ketika hari menjadi sejuk di sore hari, pasar malam mulai buka seperti mekarnya kembang malam menawarkan begitu banyak jauh lebih banyak dari pada pasar di siang hari, pakaian, sepatu, kerajinan tangan, barang-barang bermerek tiruan, perhiasan, pakaian pantai, cendera mata dan tentu saja jajanan dan minuman. Di Lorong-lorong sempit yang diterang-benderangi lampu neon portable, anda bisa melihat barisan kedai-kedai yang berjejer di jalanan pasar malam itu. Barang-barang warna warni dipajang dengan menawan di kedai-kedai itu, dan penjaja yang bersemangat  meninggikan suara menawarkan dagangannya. Ketika membeli, jangan lupa menawar, biasanya anda bisa mendapatkan suatu barang antara 25% hingga 50% lebih murah dari penawaran pertama kali dari penjual. Jadi jangan ragu-ragu menawar dan membawa pulang cendera mata untuk kenang-kenangan dari sini.

Banyak pasar malam yang paling sibuk terletak di sepanjang daerah lampu merah yang populer, misalnya pasar malam Silom. Pasar malam ini terletak di tengah distrik Patpong, daerah lampu merah terkenal yang pernah dijadikan lokasi adegan filem Deer Hunter dan filem James Bond Goldfinger. Patpong adalah dua jalan kecil yang sejajar di antara jalan Silom dan Surawongse, yang ditempati strip bars remang-remang yang menawarkan adult shows dan pole dancing. Ketika sore berganti malam bar-bar tersebut mulai hidup dengan dimulainya musik gegap gempita. Anda bisa melihat melalui pintu terbuka gadis-gadis mulai berputar-putar di tiang-tiang panggung dan menari, di bawah redupnya lampu neon ungu. Suara-suara teriakan penjaja barang di jalan digantikan oleh bisikan-bisikan tukang catut menawarkan segala hal  mulai dari “ping pong show” hingga “pijat”.

Tidak diragukan lagi bahwa wajah Patpong memberi kontribusi akan nama “Kota Berdosa’ (“Sin City”) dari Bangkok. Pelacuran dapat terjadi di banyak tempat di Bangkok, panti pijat, restoran, sauna, go-go bar, karaoke atau bar lainnya. Nama-nama bar-bar di sini sangat menyolok, seperti Pussy Collection, Super Pussy, Pink Pussy… sulit untuk tak terlihat. Tampaknya tak ada lagi kehidupan malam yang semula di Patpong yang “sembunyi-sembunyi” atau “di bawah tanah”.  Go-go bars yang melatar-belakangi pasar malam itu bahkan sudah menjadi atraksi bagi para turis.

Lalu, apa yang terjadi dengan wajah Bangkok yang namanya berarti “Kota Para Malaikat” (“City of Angels”), dimana para bikhu dengan jubah oranye berkeliaran di jalanan di pagi subuh dengan mangkok di tangan, dimana ibu-ibu sejak lebih dari 2,500 tahun memasak makanan untuk diberikan kepada para bikhu, dimana ada ribuan kuil-kuil di dalam kota, dan dimana ada altar di setiap pojok kota itu guna menenangkan roh-roh halus?

Apakah Buddhisme Thailand mentolelir pelacuran yang tersebar luas itu dengan tidak memperbaiki sikap terhadap wanita yang dianggap lebih rendah dan bahkan berbahaya bagi lelaki, atau apakah agama ini memberi kontribusi terhadap pandangan bahwa wanita pada dasarnya tidak murni dan karnanya tidak pantas untuk mendapat pencerahan, dan dengan demikian terkurung di dalam posisi yang merendahkan diri mulai dari pekerja seks hingga biarawati sebagai jalan untuk mendapatkan berkah spriritual bagi dirinya dan keluarga?

Walaupun Buddhisme memegang peranan penting dalam membentuk hukum, kerangka kebudayaan dan kehidupan sosial di kerajaan Thailand, saya kira banyak factor-faktor yang memberi kontribusi atas meluasnya pelacuran, katakanlah Perang Dunia 2, Perang Vietnam, kemiskinan di wilayah ini dimana pekerja seks mendapatkan penghasilan 10 kali lebih banyak dari updah minimum, dan tak usah menyebutkan korupsi, lemahnya penegakan hukum, dan Mafia yang juga terlibat dalam partai-partai politik.

Walaupun pelacuran di sini demikian meluas, sebenarnya hukum Thailand melarang pelacuran. Tapi karaoke, go-go bar dan panti pijat bisa didaftarkan seperti biasa, sebagai bisnis legal. Polisi biasanya memperlakukan pelacuran di tempat-tempat tersebut sebagai transaksi di antara pelacur dengan pelanggannya, yang dalam transaksi ini pemilik bisnis itu tidak terlibat. Jadi, dalam prakteknya hal ini di tolelir, kadang kala karena pejabat-pejabat lokal memiliki kepentingan finansial dalam usaha pelacuran ini. Beberapa pejabat-pejabat Thailand bisa menutup mata terhadap industri USD 6 miliard ini, yang melibatkan sekitar 2 juta wanita-wanita di Thailand.

 

TAMAT

Sumber:

https://en.wikipedia.org/wiki/Prostitution_in_Thailand
https://digitalcommons.fiu.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=2474&context=etd