Mendarat di Dubai jam enam pagi, selagi masih sejuk, di bandara kelas dunia, membuat kita serasa sampai di sebuah oase modern di tengah gurun pasir. Debu- debu pasir tidaklah terlihat, tak seorangpun nampak berkeringat, dan bau parfum yang dipakai oran-orang local berpakaian jubah tradisional menyerbak di udara, seperti bau asap hio.
Ketika keluar dari bandara, saya menyadari bahwa bandara itu terletak
di dalam kota, mobil-mobil mulai mengisi jalanan dengan cepat karna orang-orang
ingin menhindari macet yang akan datang beberapa jam lagi, dengan teriknya
hari.
Tak lama kemudian saya bisa melihat mengapa Dubai dikatakan pusat
bisnis Timur Tengah, Hongkong nya Timur Tengah.
Penghasilan dari minyak membantu mempercepat pertumbuhan kota ini, yang
sudah menjadi pusat perdagangan, namun sumber minyak dari Dubai terbatas dan
tingkat produksinya rendah: saat ini kurang dari 5% penghasilan emirat ini
berasal dari minyak. Perekonomian Dubai
sekarang bergantung pada penghasilan perdagnagan, pariwisata, penerbangan, real
estate dan jasa keuangan. Hotel-hotel , restoran-restoran, taman rekreasi dan
tempat tamasya pantai yang paling ekstravagan semua dibuat agar kita dapat
menikmati hidup yang terbaik yang bisa ditawarkan.
Salah satu tujuan untuk plesiran dan berbelanja adalah Dubai Mall yang
menarik pembeli kaya dari seluruh penjuru dunia. Menampilkan lebih dari 1,200 toko retail,
termasuk jaringan Bloomingdale dan Galeries Lafayette, ratusan tempat makan dan
minum, yang mencakup area lebih dari 1 juta m2.
Dubai Mall adalah shopping mall terbesar kedua di dunia, kompleks
raksasa dilengkapi dengan akuarium, virtual-reality
theme park, ice skating berukuran olimpiade, pertokoan emas dan ratusan
boutique dan restoran mewah.
Dubai Mall dirancang seperti sebuah kota, dengan jalan-jalan pedestrian
internal, simpang-simpang dan bangunan penting, yang terintegrasi dengan
disainnya dan di atur dengan boulevard yang lebar dan lurus yang berujung ke
persimpangan yang dihias dengan indah menghubungkan banyak toko-toko. Anda bisa berjalan di bawah sejuknya udara
dari Sega ke Kidzania ke bioskop, dari Versace ke Gucci di Fashion Avenue ke
toko-toko elektronik dan minum, makan di banyak restoran dan kafe di antaranya.
Setelah capek belanja dan kenyang makan anda bisa nonton filem di
bioskop-bioskopyang nyaman. Rasanya benar-benar berjalan di tengah kota di oase
di tengah gurun pasir, di mana anda tak melihat seorangpun haus atau
berkeringat walaupun udara di luar mall di atas 40 derajat C.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar