Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 September 2020

Bangkok, di Grand Palace

Apalagi yang bisa dikatakan tentang istana Grand Palace di Bangkok, sebegitu banyaknya hal-hal yang dapat dilihat dan difoto, patung manusia serupa hewan, dinding-dinding dan atap yang cemerlang keemasan, taman-taman, lukisan-lukisan, tiang-tiang menjulang, stupa keemasan, barisan Garuda yang tak berujung, dan tak lupa menyebut Emerald Buddha yang sangat dihormati. Tidak mengherankan bahwa Grand Palace menjadi pusat seni budaya Thailand selama berabad-abad dan dianggap sebagai acuan bagi segala jenis kesenian Thailand. Istana ini dianggap sebagai cermin dari identitas Thailand.


Ketika Raja Rama I memerintahkan pemindahan ibukota ke distrik Phra Nakhon di tahun 1782, dia mendirikan Grand Palace sebagai pusat kerajaan yang baru. Dia mengambil inspirasi dari istana di Ayutthaya, ibukota Siam yang lama, yang dihancurkan tentara Burma di tahun 1767.  Istana Grand Palace diletakkan dengan strategis di tepi sungai Chao Phraya untuk meniru istana di Ayutthaya. Tata ruang Grand Palace, yang merangkum area seluas 213,677 m2, juga meniru istana lama di Ayutthaya dengan lapangan-lapangan, tembok-tembok, gerbang dan benteng yang terpisah. Berbagai zona di kompleks istana ini mencakupi the Outer Court, the Central Court, dan the Inner Court dan juga Kuil Emerald Buddha. Untuk mendapatkan material yang diperlukan untuk membangun Grand palace, Raja Rama I memerintahkan rakyatnya untuk pergi ke Ayutthaya yang sudah hancur, untuk mencabut dan memngambil batu bata dan batuan-batuan lainnya yang dengan susah payah dikirim dengan kapal kearah hulu sungai untuk membangun istana yang baru itu.

Bagian dari kompleks Grand Palace, kuil Wat Phra Kaeo (Kuil Emerald Buddha) adalah kuil yang paling sakral di Thailand dan rumah bagi Emerald Buddha. Chaophraya Chakri, yang kemudian menjadi Raja Rama I, mengambil Emerald Buddha dari Vientiane ketika ia menaklukkan kota ini di tahun 1778. Dia membangun kuil dan mengabadikan Emerald Buddha di situ sebagai simbol kembalinya kebangsaan Siam.

Kisah sejarah dan mitos patung ini menciptakan kepercayaan yang penting mengenai Emerald Buddha. Dipercayai bahwa patung ini melindungi sebuah kerajaan, kota mereka atau ibukota. Jika seorang raja turun tahta dengan paksa atau dikalahkan di suatu peperangan, Emerald Buddha akan dirampas dan diletakkan di ibu kota pemenang peperangan. Patung ini dianggap memiliki kekuatan spiritual dan dijadikan ikon yang sangat penting bagi rakyat Thailand.

Tapi saya tercengang melihat Emerald Buddha yang legendaris ini tampak begitu kecil, tingginya 66 cm, yang bertengger di ketinggian pada sebuah panggung setinggi 9 meter yang hampir mencapai langit-langit kuil itu. Emerald Buddha, yang diukir dari sebuah batu tunggal jade berwarna hijau keabu-abuan, ditinggikan dari kepala pengunjung sebagai tanda penghormatan. Anda juga musti duduk dengan kaki yang mengarah ke belakang sebagai tanda penghormatan.
Bagi saya yang paling mengesankan dari Kuil Emerald Buddha adalah tembok-tembok luarnya yang penuh dekorasi. Tembok-tembok itu dihiasi dengan lukisan-lukisan dinding dalam pemerintahan Raja Rama I yang menampilkan adegan-adegan dari Ramakien, yang merupakan versi Thailand untuk epic Hindu, Ramayana. Di dalam Ramakien, nama-nama, kebudayaan, alat-alat perang dan bahkan topografinya dihubungkan dengan kerajaan Thailand. Rama yang merupakan inkarnasi dari dewa Hindu Wisnu, di dalam Ramakien dia adalah inkarnasi dari Buddha. Kerajaannya Ayodhya di dalam epic Ramayana digantikan dengan Ayutthaya, ibu kota purba dari Thailand.

TAMAT

Sumber:






Jumat, 04 September 2020

Bangkok, di Siam Paragon


Sepanjang jalanan di Bangkok, kita bisa melihat bahwa kota ini adalah surge konsumerisme. Papan-papan iklan ada dimana-mana, besar dan terang benderang, mengiklankan bisnis-bisnis dari Samsung hingga Toyota. Bahkan bangunan-bangunan tinggi ditempeli dengan papan-papan iklan raksasa. Dalam satu hal iklan-iklan itu tampak mengagumkan.

Juga di stasiun kereta metro, anda tak bisa menjadi bosan menunggu kereta layang karena ada banyak layar-layar iklan warna warni dengan wajah cantik para artis menawarkan kosmetik, jus buah, dan, tentu saja, berbagai pakaian. Kelihatannya para ‘influencers’ ini seperti mengikuti kita kemana saja seperti para pedagang asongan di jalanan menawarkan barang dagangan mereka, dan mengejar anda kala anda tidak memberi perhatian kepada mereka, mulai ketika anda menunggu kereta hingga anda sampai ke tujuan. Dan, iya, bahkan di dalam kereta ada banyak layar televise menampilkan iklan-iklan. Para artis di situ merupakan penjaja dagangan virtual, dengan senyum lebar dan gigi putih, menari dan melompat-lompat dengan dinamis yang mengikuti anda kemana saja, kontras dengan para pedagang asongan jalanan dengan pakaian kusut, muka terbakar matahari, yang menawarkan barang dengan wajah iba seakan mengemis.

Ketika kereta layang tiba di stasiun persimpangan Siam, baiklah kita lupakan para pedagang asongan itu, karena kita tiba di shopping mall Siam Paragon, suri teladan (paragon) segala shopping mall. Menempati salah satu lokasi persimpangan yang paling sibuk di kota ini, shopping mall ini mengambil keuntungan akan lokasinya yang unggul dengan menjadi jalur penting bagi distrik-distrik di sekitarnya. Menurut Arcadis, perusahaan yang merancang bangunan ini, disainnya mencerminkan tingkat kemewahan yang dibayangkan team Arcadis dengan sebuah atrium kaca yang dramatis yang berfungsi sebagai gerbang utama ke mall ini. Mungkin prestasi terbesar arsiteknya – dan tantangannya – adalah bagaimana mereka mengolah segi-segi sirkulasi dan tata letak shopping mall ini.

Di dalam, tempat ini merupakan taman-impian bagi butik-butik kelas atas yang berjejer di lobby, mulai dari Louis Vuitton, Hermes, Chanel, diikuti oleh Fendi, Bottega Venetta. Jendela-jendela toko didekorasi menarik dengan fashion- fashion mutakhir dari butik tersebut, pakaian-pakaian, tas-tas, sepatu-sepatu dll. Yang dijajakan sesuai musim, saat itu temanya adalah ‘Tahun Baru Anjing’. Jadi, anjing-anjing hiasan dipajang bermain dengan tas, sepatu, dompet di dalam kaca jendela toko itu. Kita bisa bilang bahwa jendela-jendela toko di situ tampak dibuat cukup kreatif dengan sendirinya, jendela-jendela itu menghasut selera konsumtif kita. Kita bisa lihat beberapa turis dari Tiongkok mengantri dengan taatnya di muka pintu Louis Vuitton.

Mewah adalah istilah meremehkan bagi shopping mall ini, karena mall ini tidak hanya diisi oleh butik-butik kelas atas, tapi juga diisi oleh showroom bagi mobil-mobil yang sangat mahal dan ekslusif, Rolls Royce, Aston Martin, Bentley, Lamborghini, Maserati, Ducati dan Porsche. Mobil-mobil itu tampak sangat sempurna, namun di dalam showroom kaca tampak seperti mobil mainan berskala besar dalam kotak kaca. Dan para pramuniaga nampak bosan sendiri karena tidak orang yang masuk ke dalam showroom itu.

Tapi itu belum semua….., ada Ocean Aquarium di basement, multiplex cinemas dengan 15 layar besar, Thai Art Gallery, KidZania untuk anak-anak belajar dan bermain, toko buku Jepang Kinokuniya, Paragon department store,  sebuah super market dan tidak lupa menyebutkan restoran-restoran kelas atas. Bahkan ada sebuah Opera Theatre di lantai 5!

Ketika menuruni escalator saya bisa mendengar di latar belakang lagu dari REM ‘Shiny Happy People’:

‘Whoa, here we go…
Everyone around, love them, love them.
Put it in your hands, take it, take it.
There's no time to cry, happy, happy…’

‘Ayo, inilah dia….
Semua orang disekitar kita, cintailah mereka, cintailah mereka.
Taruhlah di dalam tanganmu, ambillah, ambillah.
Tak ada waktu untuk menangis, berbahagia, berbahagia….’

TAMAT




Sabtu, 08 Agustus 2020

Wawancara dengan Haruki


Photo: pinktentacle.com
Baru-baru ini saya mengikuti drama TV Jepang “Aibou” (Partners) sebuah drama detektif serial di internet. Dramanya cukup menarik, seperti halnya banyak filem detektif Jepang drama serial ini memiliki alur cerita yang kompleks, sebegitu kompleksnya hingga sulit ditelan. Nampaknya penulis drama itu membuat jalur ceritanya kompleks agar makin misterius, membuatnya makin sulit menebak ‘siapakah yang melakukannya’. Selain itu, kisahnya kadang mencerminkan kebudayaan dan tradisi Jepang yang unik, seperti sikap yang menjunjung tinggi kesempurnaan dalam perbuatan, kejujuran, kebanggaan akan profesi, kehormatan dan pengorbanan bagi masyarakat, yang terpilin dengan tindakan kejahatan dalam drama ini.

Namun, ketika saya sampai di episode 9 dan 10 dari Season 11 drama ini, saya terkesiap menontonnya, karena ceritanya didasari tradisi yang sangat aneh dan mengherankan. Saya tak bisa membayangkan seseorang melakukan tindakan ini di dunia nyata. Namun, mengenal bahwa drama serial ini sering memasukkan tradisi Jepang dalam ceritanya, tindakan ini pastilah nyata, bukan fiksi.

Tindakan kejahatannya terjadi di sebuah daerah pegunungan yang terpencil yang diselimuti hutan yang lebat, sebuah tempat yang terasa sangat teduh dan damai hingga sulit membayangkan sebuah kejahatan bisa terjadi di sini. Kejahatan itu terjadi terdorong oleh sebuah praktek dari abad ke 11 yang disebut Sokushinbutsu, sebuah tindakan memumikan diri oleh seorang biksu agar menjadi “seorang Buddha dalam badan ini”. Di dalam praktek Sokushinbutsu sang biksu dengan sengaja mematikan diri agar melestarikan badannya menjadi mummi, dengan kehendak mencari nirwana.

Saya sangat penasaran untuk mengetahui apakah yang melandasi tradisi religious ini, bagaimana sampai bisa terjadi begini? Jadi saya menghubungi Haruki, seorang biksu yang saya kenal, yang berdiam di Kuil Churenji  di Dewa Sanzan, distrik Yamagata. Saya mengambil perjalanan 4 jam dengan Shinkansen dan kereta api express dari Tokyo ke stasiun terdekat di Tsuruoka. Perjalanannya melalui daerah yang paling teduh di Jepang, melihat daerah pedalaman, pegunungan, ditandai dengan kuil-kuil yang tersembunyi di hutan lebat. Setelah sampai di Tsuroka saya mengambil bus ke Kuil Churenji untuk menemui Haruki, namun karena kuil itu tidak terbuka bagi publik hari itu, kami pergi ke sebuah warung teh di dekat situ untuk bercakap-cakap.

Aku membuka percakapan:
“Tempat yang sangat teduh di distrik Yamagata ini dikatakan sebagai salah satu tempat yang paling indah untuk berjalan-jalan di Jepang. Saya beruntung bisa melihat keindahan tempat ini yang dikelilingi pegunungan diselimuti pohon-pohon cedar yang tinggi-tinggi membentuk hutan yang lebat, yang membuat kita merasa pohon-pohon itu menjangkau ke atas untuk memberi penampungan dan perlindungan terhadap badai. Pegunungan yang menjulang tinggi dianggap musuh dan daerah angker bagi manusia untuk menjelajahinya, sementara hutan memberi kita rasa damai yang luar biasa.

Jadi, saya kira kita bisa mengerti bahwa di jaman dulu agama Shinto kuno (Koshinto) menyembah alam, yang dikenal sebagai animisme di dunia Barat. Keindahan dan keteduhan tempat ini sangatlah luar biasa hingga mereka menganggap setiap elemen alam ini adalah ilahi. Gunung, lautan dan sungai semuanya adalah roh ilahi atau dewa (‘kami’ dalam Bahasa Jepang), sebagaimana halnya matahari, bulan dan Bintang Utara. Angin dan halilintar juga adalah ‘kami’. Singkatnya Koshinto berpegangan bahwa tidak ada di dunia atau di kosmos yang tidak memiliki energi ilahi; ‘kami’ berada di mana saja.
Gunung Yudono di mana Kuil Churenji berada, juga dianggap  sebagai salah satu gunung yang dikeramatkan diantara 3 gunung-gunung Dewa Sanza. Bisakah anda memberi sedikit gambaran.”
Haruki:
“Gunung-gunung memiliki peranan penting di dalam agama di Jepang sejak jaman dulu kala. Gunung yang tinggi dianggap angker dan berbahaya, namun mereka disembah sebagai sumber dari sungai yang memberi kehidupan yang menyuburkan sawah dan desa-desa di bawah. Menjulang ke langit dan seringkali tertutup oleh awan, gunung-gunung seperti itu dianggap sebagai surga dan diperlalukan dengan kekaguman dan hormat. Tanpa harus menjadi Shinto, semua manusia dapat memiliki kesan seperti ini tentang gunung-gunung.

Gunung Yudono adalah salah satu pusat dari penyembahan gunung di Dewa sanzan (“tiga gunung Dewa”) di distrik Yamagata. Ketiga gunung itu adalah Haguro-san, Gas-san dan Yudono-san; Haguro-san mewakili kelahiran, Gas-san mewakili kematian dan Yudono-san mewakili kelahiran kembali, gunung-gunung itu biasanya dikunjungi sesuai urutan itu.

Dewa Sanzan adalah pusat dari Shugendo, suatu agama berdasarkan penyembahan gunung, campuran antara Buddhis dan tradisi Shinto. Para penganut Shugendo, melakukan tindakan pengorbanan diri sebagai jalan untuk mentransedensikan dunia jasmaniah.”

Aku berkata:
“ Lalu bagaimana jadinya penyembahan gunung menjadi pusat dari Sokushinbutsu, sebuah praktek memummikan diri seorang biksu?”

Haruki:
“Sokushinbutsu adalah salah satu praktek bertapa yang berat dari Shugendo, biksu-biksu berusaha memelihara badan mereka menjadi mummi melalui diet yang ekstrem dan meditasi. Para biksu percaya bahwa pencerahan dapat dicapai di dunia kini, dan mereka percaya bahwa dengan meninggalkan suatu jejak Buddha di dunia ini dalam wujud Sokushinbutsu, mereka dapat memberi keselamatan kepada penduduk di sini, bahkan setelah kematian sang biksu.”

Aku berkata:
“Bagaimana mereka melakukan mummifikasi diri itu?”

Haruki:
“Ritus mummifikasi diri ini sangat panjang dan sangat menyakitkan. Hal ini bukanlah pengorbanan yang sederhana dan biksu itu menghabiskan hidupnya setelah proses panjang penistaan yang tahap akhirnya berlangsung sekitar 1000 hari. Makanan para biksu terbatas pada apa yang bisa ditemukan di gunung, sepert kacang-kacangan, tunas tanaman, buah berrie, kulit pohon dan jarum pinus. Bentuk makanan ini disebut mokujikigyo, yang secara harafiah berarti “latihan memakan pohon”. Ketika sang biksu tidak mencari makanan ia menghabiskan waktunya bertapa di gunung. Makanan ini dimaksudkan untuk menguatkan mental, dan dari segi biologis diet yang berat dimaksudkan untuk menghilangkan lemak, otot dan kelembaban. Efek yang diharakan adalah mencegah pembusukan jasad setelah kematian. Sang biksu juga meminum the beracun dari kulit pohon (toxicodendron verniculum)  yang diharapkan akan mempercepat kematian dan membuat badan menjadi lebih tidak ramah terhadap bakteri dan parasite yang akan membusukkan jasad setelah kematian. Kulit pohon itu memiliki kadar racun yang sama tingginya seperti di tanaman poison ivy.

Setelah itu, sang biksu akan berhenti makan semuanya, minum sedit air asin selama 100 hari. Pada akhir periode ini, sang biksu dianggap imannya siap untuk masuk ke ‘nyujo’ atau diam dalam meditasi.  Ketika sang biksu merasa ajalnya mendekat, murid-muridnya akan menurunkannya ke dalam kotak pinus di bawah lubang sedalam 3 meter berdinding batuan, liang kubur yang ukurannya hanya cukup untuk sang biksu duduk dalam posisi lotus, posisi bertapa. Ruangan yang kosong diisi dengan arang untuk menyerap kelembaban.

Setelah liang kubur itu ditutup, dua pipa bambu akan ditanamkan dari atas untuk menyalurkan  air minum dan menyalurkan udara untuk ventilasi. Lonceng- lonceng diikat ke ujung bambu itu untuk sang biksu memberi isyarat bahwa ia masih hidup. Ketika bunyi lonceng tidak lagi terdengar, pipa bambu tersebut akan dicabut dan lubangnya ditutup.

Selama tiga tahun dan tiga bulan, jenazah sang biksu didiamkan di lubang bawah tanah itu. Kemudian pada akhirnya, jenazahnya akan diangkat ke atas. Kalau tidak ditemukan pembusukan, jasad itu ditetapkan sebagai Sokushinbutsu yang sebenarnya dan disemayamkan di altar di kuil.”

Aku berkata:
“Apakah proses ini tidak dianggap sebagai bunuh diri?”

Haruki:
“Walapun pada permukaannya tampak seperti bunuh diri, penganut Buddhis menganggapnya sebagai “peninggalan badan”. Setelah memadamkan hawa nafsu dalam dirinya, sang biksu dapat masuk ke nirwana tanpa halangan melalui proses kematian. Kematian itu adalah pengorbanan dirinya didorong oleh rasa cinta kasih untuk kebaikan semua mahluk hidup, misalnya ketika pandemik ganas mewabah. Namun bagaimanapun praktek ini dilarang oleh Restorasi Meiji, ketika Shinto dipisahkan dari Buddhisme dan ditetapkan sebagai agama resmi Jepang.”

Aku berkata:
“Bagaimana praktek Sokushinbutsu berawal?”

Haruki:
“Praktek ini muncul di Tiongkok diabad ke 4 dan di Jepang di awal abad ke 9. Menurut legenda Jepang, biksu Kukai,  yang juga dikenal sebagai Kobo Daishi setelah kematiannya, memasuki meditasi yang mendalam, atau ‘samadi’ di akhir hidupnya sampai kematiannya, di gunung Koya di Selatan Osaka. Biksu Kukai adalah pendiri Shingon, sekte marjinal Buddhisme. Tujuh puluh tahun setelah kematiannya seorang petinggi biksu berdasarkan perintah kerajaan pergi ke atas gunung Koya untuk membuka kuburannya dan menemukan bahwa tubuhnya masih utuh. Menurut legenda Kukai saat itu belumlah mati melainkan masuk ke dalam meditasi kekal dan masih hidup di gunung Koya, menunggu penampakan Maitreya, Buddha masa depan.”

Aku berkata:
“Lalu dimanakah tubuh Kobo Daishi disimpan? Apakah terbuka bagi publik?”

Haruki:
“Mausoleum dari Kobo Daishi terletak di gunung Koya dan adalah tempat yang paling suci di gunung itu. Pintu mausoleum tidak pernah dibuka kecuali setiap 50 tahun oleh uskup agung gunung Koya untuk memotong kuku dan rambutnya dan menukar pakaiannya yang kemudian dipakai untuk membuat amulet bagi pengikutnya. Kobo Daishi dianggap sedang bertapa di mausoleumnya, tapi jasadnya sama sekali tidak diperlihatkan. Jasadnya haruslah dianggap sebagai peninggalan yang mewakili “Esensi Buddha” yang murni yang menjadi peninggalan suci serupa stupa.”

Aku berkata:
“Tapi di kuil Churenji pengunjung dapat melihat jasad Tetsumonkai, walaupun dilarang pengambil foto.”

Haruki:
“Ya, jasad terkenal Tetsumonkai dipertunjukkan di kuil ini duduk di altar khusus. Telapak tangannya menghadap ke atas, ia diperagakan untuk bermeditasi terus menerus, sesuai dengan kehendaknya ketika ia memasuki ajal 2 abad yang lalu. Jasadnya dengan tengkorak yang seakan menyeringai diberi jubah oranye, syal berwarna ungu dan kecoklatan dan topi keemasan, bak seorang petinggi biksu. Ia memberi bukti akan seseorang yang berhasil dalam usahanya menjadi mummi yang dihormati.”

Aku berkata:
“Siapakah Tetsumonkai itu?”

Haruki:
“Tetsumonkai adalah yang paling terkenal di antara Sokushinbutsu. Dilahirkan sebagai Sunada Tetsu di tahun 1759, dia adalah pegawai sungai yang menggali sumur-sumur dan mengirim kayu dengan sampan, dan dikenal dengan temperamennya yang bagai badai. Suatu hari, menurut salah satu legenda, ia menikam kaki salah seorang petugas yang mengawasi konstruksi sungai karena ia naik pitam akan keangkuhannya. Cerita lainnya menggambarkan ia membunuh seorang samurai ketika berkelahi memperebutkan seorang pelacur favorit. Bagaimanapun, Tetsu melarikan diri dari pengejaran dan bergabung dengan sekolah biarawan di Churenji di umur 20 tahunan akhir menuju kehidupan prihatin dan kemudian ia diberi nama Tetsumonkai.

Selama hidupnya sebagai biksu, catatan menunjukkan bahwa Tetsumonkai banyak melakukan perjalanan dan dihormati sebagai orang suci yang dikaitkan dengan berbagai legenda. Suatu saat ketika mengunjungi Edo, ia menyaksikan mewabahnya penyakit mata yang menimbulkan penderitaan luar biasa. Ia lalu mencolok matanya sendiri dan mencabutnya dan mempersembahkannya ke sungai Sumida sebagai doa bagi penyembuhan. Riset selanjutnya menunjukkan bahwa memang mata kirinya tidak ada di mummi nya, yang dengan suatu hal mengkonfirmasikan cerita tersebut. 

Karya misionaris Tetsumonkai berpusat di daerah Shonai, namun monument-monumennya menunjukkan bahwa karyanya menyebar dari daerah kanto hingga Hokkaido. Dia dikenang mengumpulkan 10,000 pekerja voluntir untuk membangun jalan baru melalui sebuah gunung yang menghubungkan pelabuhan Kamo ke Tsuroka, untuk perdagangan. Ia meninggalkan dampak abadi bagi banyak orang saat itu. Hingga kini, ada festival-festival berdasaran ajaran Tetsumonkai.

Namun, mungkin legenda yang paling menarik adalah kisah lain yang berkaitan dengan mutilasi diri. Pada suatu saat, dikatakan bahwa Tetsumonkai dikunjungi seorang pelacur, mungkin pelacur yang sama yang ia perebutkan dengan sang samurai. Wanita itu berusaha meyakinkan Tetsumonkai untuk kempali ke kota bersamanya, tapi ia menolak. Untuk membuktikan keinsafannya dan dedikasi akan hidup dalam pengorbanan, dia menghilang dan lalu kembali dengan bungkusan kecil buat wanita itu. Di dalam nya adalah testikelnya yang penuh darah. Dia telah memotongnya.

Diceritakan bahwa testikelnya kemudian dianggap para pelacur di sebuah border local sebagai tanda keberungan, dan akhirnya dikirim ke kuil Nangakuji di Tsuruoka, dan kemudian dilestarikan sebagai relik. Seakan menambah bobot kebenaran legenda itu, memang ditemukan bahwa mummi Tetsumonkai tidak mempunyai testikel.

Aku berkata:
“Apakah benar kuil itu menyimpan testikel dari Tetsumonkai?”

Haruki:
“Benar, tapi tidak dipertunjukkan ke public. Golongan darah Tetsumonkai adalah grup B, demikian pula golongan darah yang ditemukan di testikel yang ditemukan di Nangakuji, menurut riset ilmiah masa lalu. Para akademisi saat itu menyimpulkan bahwa sangat besar kemungkinan bahwa testikel yang dikeringkan itu milik seorang yang bertahan akan siksa fisik yang ekstrim karena pelatihan meditasi sebelum dikuburkan pada usia 71.”

Aku berkata:
“Apakah mummi Sokushinbutsu sama dengan mummi di Mesir?”

Haruki:
“Tubuh para Firaun dibalsem di jaman dulu Mesir. Organ tubuh bagian dalam semuanya dikeluarkan dan diganti dengan tanaman yang berkhasiat. Tubuhnya jadinya hanyalah pembungkus daging kering dan tulang.
Sebaliknya, mummi Sokushinbutsu melestarikan organ tubuh bagian dalam karena proses pemummian berjalan ketika ia masih hidup dan organ tubuh bagian dalam dianggap pusat energi vital. Tubuh beberapa mummi di gunung Yudono, untuk melestarikannya dengan sempurna, kadang-kadang juga dilapisi dengan pernis kering. Sehingga pentingnya pemujaan akan Sokushinbutsu menyiratkan bahwa mummi itu bukan sekedar “sisa tubuh”, atau “cangkang kosong”, mummi tersebut dianimasikan, penuh vitalitas; yang berada di bumi dan juga di kelimpahan irwana.”

Haruki:
“Mummi Sokusinbutsu memberi jendela yang menarik ke dalam kebudayaan Jepang kuno melalui praktek-praktek belas kasih, kesulitan hidup, pengorbanan dan semangat religiositas yang intens untuk mendapatkan sukma Buddha dalam daging. Konsep Barat akan kematian fisik adalah suatu proses pemutusan kehidupan yang terjadi dengan cepat dan parah, sedangkan konsep Timur memandang kematian sebagai suatu proses yang bertahap.

Pemujaan Sokushinbutsu memelihara orang-orang suci hidup dan memberikan perspektif yang unik akan perjuangan manusia menggapai Nirwana, sebelum dan sesudah kematian.”


THE END

Wawancara ini adalah wawancara imajiner mengenai Sokushinbutsu

Sumber:







Minggu, 26 Juli 2020

Bangkok, di Wat Arun


Banyak candi-candi dan monumen terkenal di Bangkok  terletak di tepi sungai Chao Phraya yang mengalir melalui kota ini dan jalan terbaik untuk mengunjungi tempat-tempat ini adalah dengan kapal atau sampan bermotor. Kapal-kapal ini menawarkan alternatif yang menyegarkan terhadap lalulintas Bangkok yang terkenal kemacetannya.

Wat Arun, atau Temple of Dawn (Candi Matahari Terbit), adalah sebuah candi Buddhis (wat) yang paling terkenal di sepanjang tepi sungai Chao Phraya. Semula saya mengacaukan nama Temple of Dawn dengan ‘Temple of Doom’ filemnya Indiana Jones. Sebenarnya candi ini dinamai Temple of Dawn karena cahaya matahari yang muncul pertama kali di pagi hari akan mencerminkan candi itu di permukaan sungai Chao Phraya yang memberikan panorama yang indah seperti di filem. Juga, nama Temple of Dawn diambil dari nama dewa Hindu Aruna, penggiring Surya, matahari. ‘Arun’ dalam Bahasa Sansekerta berarti sinar dari matahari terbit, jadi Arun sering kali dipersonafikasi sebagai sinar matahari terbit dan menjadi simbol dari Fajar.

Ketika perperangan dengan tentara Burma dan Tiongkok di tahun 1760-an Kerajaan Ayutthaya hancur berantakan. Salah satu jenderal Siam yang berperang, Phya Taksin, memandang reruntuhan candi Wat Makok di saat matahari terbit dari sungai Chao Phraya dan bersumpah akan membangun kembali candi itu setelah perang berakhir.

Jenderal Phya Taksin memimpin pembebasan Siam dari pendudukan Burma di tahun 1767, dan kemudian menyatukan Siam ketika ia jatuh ke tangan beberapa komandan perang. Sebagai raja Siam, dia lalu menetapkan kota Thonburi sebagai ibu kota baru di dekat candi Wat Makok, karena kota Ayutthaya sudah hancur lebur dirusak oleh penyerbu. Dia membangun kembali Wat Makok dan menamakannya Wat Jaeng, Temple of Dawn. Candi ini sangat dihormati, dan untuk suatu saat menyimpan relik Buddhis yang paling agung,  Emerald Buddha.

Phya Taksin kemudian ditumbangkan dan dibunuh di dalam sebuah pemberontakan oleh seorang sahabat lama Maha Ksatriyaseuk yang kemudian dinobatkan sebagai Raja Pama I, pendiri kerajaan Rattanakosin dan dinasti Chakri, yang sejak saat itu berkuasa di Thailand.

Rama II memperbaiki candi Wat Jaeng yang telah ditinggalkan sejak Phya Taksin ditumbangkan. Dia menjalankan sebuah proyek pembangunan yang ambisius yang meninggikan pagoda utama dan merancang kembali penampilan candi itu.  Dia juga menamakannya Wat Arun, mempertahankan tema Fajar tapi menghubungkannya dengan India, asal muasal Buddisme. Pembangunan yang dimulai oleh Rama II diselesaikan oleh Rama III di sekitar tahun 1857. Ini adalah candi yang kita lihat saat ini, menjulang ke atas langit Bangkok sebagai salah satu bangunan yang paling ikonik di Thailand.

Mempertahankan gaya arsitektur Thai saat itu, Wat Arun penuh dengan ornamen. Pagoda yang besar di tengah, disebut Prang, sebuah pagoda berbentuk stupa, diilhami oleh tradisi arsitektur Khmer. Prang utama itu tingginya sekitar 80 meter, diliputi dengan kulit kerang laut  dan porselen berwarna. Prang ini dianggap sebagai Prang yang paling tinggi di Thailand dan dikelilingi oleh empat Prang kecil. Setiap sudut candi ini memiliki patung-patung dewa pelindung di ke empat arah mata-angin. Pengelompokan ke lima Prang ini mewakili Gunung Meru, gunung utama di dalam kosmologi Buddhis, berdasarkan kosmologi Hindu sebagai tempat tinggal para dewa dan pusat dunia fisik dan spiritual.

TAMAT

Sumber:
Wikipedia






Jumat, 29 Mei 2020

Bangkok, di Pagi Hari


Bangkok di pagi hari mungkin lebih mencerminkan Bangkok yang sebenarnya, dan bukannya kesan turistik yang dimilikinya di siang dan malam hari. Hal itu tidaklah mengherankan, sebagian besar turis mencari tempat-tempat yang menarik di siang hari dan hiburan di malam hari. Tak banyak turis yang mau bangun pagi sekali untuk melihat penduduk Bangkok berbenah dan bergegas pergi ke tempat kerja, untuk menghindari kemacetan di jalan.

Lebih sedikit lagi turis yang bangun sebelum jam 6 pagi untuk melihat para biksu turun ke jalanan untuk menerima sedekah makanan untuk hari itu. Saya kebetulan bangun pagi di suatu hari dan pergi dengan kamera saya untuk melihat jalanan di pagi hari dan mengunjungi kuil Wat That Thong di pusat kota Bangkok, daerah Ekkamai, yang tidak termasuk di dalam itinerary kebanyakan turis.

Di jalanan dan di kuil Wat That Thong, saya melihat banyak biksu dengan jubah oranye berjalan-jalan dengan sebuah mangkok besar di tangan. Berdasarkan tradisi Buddhis Theravada, para biksu bangun pagi jam 4, lalu berdoa ke Buddha dan bermeditasi, lalu sarapan pagi yang ringan. Kemudian mereka turun kejalanan untuk mendapatkan sedekah makanan di daerah itu, kembali ke biara dan makan bersama sebelum tengah hari.

Para ibu telah terbiasa memasak makanan buat para biksu dan memberi sedekah sejak awal terbitnya Buddhisme lebih dari 2,500 tahun yang lalu. Khususnya, pemberian makan sedekah ini adalah tradisi Buddhis Theravada, yang merupakan mayoritas di Thailand, Kamboja, Myanmar, Sri Lanka dan Laos. Dengan memberi makan kepada biksu setiap hari, para umatnya akan memperdalam imannya, dan dengan berbuat demikian akan berguna untuk bagi santapan rohani mereka.

Jadi, pada hari itu saya berkenan untuk memberi sedekah makanan buat biksu-biksu, tapi kita harus ingat bahwa sebagian besar biksu-biksu itu adalah vegetarian. Makanannya sebaiknya sederhana saja, karena para biksu pada umumnya harus memakan makanan apa saja yang diberikan kepada mereka. Tapi makanan ini bukanlah ‘sedekah’ dalam pandangan dunia Barat. Hal ini lebih merupakan hubungan simbolis akan realitas spiritual dan untuk menunjukan kerendahan hati dan penghormatan di tengah masyarakat yang sekular. Memang, yang terbaik adalah makanan dari dapur kita, karena tujuannya bukanlah sekedar memberi makan kepada para biksu tapi juga untuk menunjukkan ketanpa-pamrihan pemberi dan komitmen terhadap kepercayaan. Hal ini adalah tugas duniawi para awam, guna memelihara hubungan langsung dengan sang Buddha.

THE END





Jumat, 08 Mei 2020

Hi Seoul Festival, Musik Pop


Musik populer Korea atau K-Pop sudah menjadi fenomena global yang menampilkan campuran melodi-melodi yang menarik, koreografi yang luwes dan efek-efek panggung. Suksesnya K-pop juga ditunjang oleh penyanyi-penyanyi yang menawan yang belajar dan berlatih selama bertahun-tahun di studio yang sangat meletihkan guna menyanyi dan berdansa dengan sinkronisasi yang sempurna. Lagu-lagunya biasanya berisi salah satu atau campuran dari music pop, rock, hip hop, R&B dan music elektronik.

Di bulan Oktober, ‘Hi Seoul Festival berlangsung di Gwanghwamun Square. Festival ini adalah pertunjukan kesenian yang besar untuk mempromosikan kesatuan internasional dengan memungkinkan orang-orang berkomunikasi melalui music dan pertunjukan-pertunjukan non verbal, melampaui batas-batas bahasa, ras dan usia. Ratusan pertunjukan-pertunjukan diperagakan oleh team-team dari seluruh dunia selama festival seminggu ini.

Salah satu pertunjukannya adalah tentulah Pop band. Musik pop Korea sudah berada di Korea untuk beberapa waktu, tapi baru sekitar 10 tahun belakangan ini K-pop memasuki dunia musik mainstream. Muda-mudi Korea menyukai K-Pop bands dan berbangga bahwa K-pop mulai dihargai di taraf internasional.

TAMAT





Sabtu, 28 Maret 2020

Seoul, di Gwanghwamun Square


Berjalan dari Gwanghwamun gate (istana Gyeongbokgung) menuju kota, saya melihat ada sebuah avenue yang asyik dan gembira. Avenue ini dikelilingi Gedung-gedung tinggi, dan dinamakan Gwanghwamun Square. Mengamati avenue ini, lalu saya teringat inilah lokasi dari filem action Iris, filem serial drama TV yang popular di Korea, dimana aksi kejar-kejaran yang mendebarkan, dan perkelahian terjadi. Kim Hyeon-jun (Lee Byung-hun) dan Kim Sun-hwa (Kim So-yeon) berada di Gwanghwamun Square untuk mencari bom yang ditanam oleh teroris disini di episode 17.

Avenue yang menuju istana sudah ada sejak Seoul menjadi ibukota Korea. Avenue in lebar buat perjalanan raja dan romobongannya dari istana ke tujuan lainnya. Di abad ke 20 avenue itu masih lebar, dengan 16 jalur mobil, namun di tahun 2009 Pemerintah memutuskan untuk membuat lapangan nasional dengan mengubah 10 jalur menjadi lapangan untuk publik untuk bergembira dan bersosialisasi. Demikianlah terjadinya Gwanghwamun Square.

Di tengah lapangan ini berdirilah patung dari Raja Sejong yang Agung, raja ke-empat dan yang paling dihormati dari dinasti Joeseon dan pencipta Hangeul, alphabet Korea. Kebetulan saya melihat filem The King’s Letters di penerbangan dengan Asiana, sebuah filem sejarah yang menggambarkan Raja Sejong mengambil risiko mempertaruhkan reputasinya untuk menciptakan Hangeul, alphabet Korea bagi rakyatnya. Filem itu cukup menarik untuk ditonton, menimbang topic yang membosankan dan akademis tentang pembentukan bahasa Korea tertulis. Pastilah tidak mudah membuat filem yang menarik dari topic yang demikian.

Lebih jauh, terdapat patung Admiral Yi Shun-shin, komandan angkatan laut yang terkenal akan kejayaannya terhadap angkatan laut Jepang ketika penyerbuan Jepang ke Korea (1592-1598) dan seorang pahlawan bagi rakyat Korea. Di depan patung itu terdapat miniature kapal kura-kura yang dibuat sang Admiral, dan disetiap pojok ada gendang yang dipakai untuk meningkatkan moral para prajurit menuju medan perang.

Pada bulan Oktober itu, ‘Hi Seoul Festival’ sedang berlangsung di Gwanghwamun Square. Festival itu adalah festival besar tahunan bagi pertunjukan kesenian untuk mempromosikan kebersatuan international dengan memungkinkan orang-orang berkomunikasi melalui music dan pertunjukan non-verbal, melampaui batas-batas bahasa, ras dan usia. Ratusan pertunjukan dari kelompok-kelompok dari seluruh dunia dipanggungkan selama seminggu festival ini.

Namun, festival ini bukan hanya perayaan. Berhubung tragedy kapal Sewol baru terjadi beberapa bulan sebelumnya, ada kenangan bagi korban-korban tenggelamnya kapal itu dipertunjukan disana. Ada poster-poster yang menggambarkan kesedihan orang tua, kawan dan saudara-saudara para korban, beberapa poster menunjukan kemarahan atas cara pemerintah menangani tragedi ini.

Dari ke 476 penumpang dan awak kapal, 304 meninggal di kecelakaan itu, yang terbanyak adalah para pelajar sekitar 250 orang dari SMA Danwon, kota Ansan. Tenggelamnya kapal MV Sewol menimbulkan reaksi sosial dan politik yang meluas di Korea Selatan. Banyak orang mengkritik kapten dan sebagian besar awak kapalnya. Juga dikritik operator kapal ferry itu dan pemerintah yang mengawasi operasi kapal itu, termasuk pemerintahan presiden Park Geun-hye akan tindakannya untuk mengendalikan bencana itu.

TAMAT
Sumber: Wikipedia






Jumat, 06 Maret 2020

Seoul, di Istana Gyeongbokgung



Ketika saya memasuki ruang pertemuan utama dari Istana Gyeongbokgung, saya menatap ke langit-langit dan saya takjub melihat ornamen warna warni, merah, biru dan hijau, yang berbunga-bunga di bagian sudut-sudut atap.  Saya bisa melihat gambaran agung dari naga-naga di langit-langit itu, menunjukan dua ekor naga kuning terbang di langit. Di dalam tradisi Timur, warna kuning diasosiasikan dengan lokasi sentral, jadi kuning adalah warna pusat kekekuasaan.

Sejak jaman dulu naga-naga adalah bagian dari mitologi Timur, dan juga simbol utama bagi kekuasaan dan martabat raja. Naga yang terbang ke angkasa melambangkan yang diharapkan agar seorang yang bijaksana akan naik takhta. Hal ini berasal dari mitologi dimana seekor naga yang sudah lama disembunyikan di laut bangkit dan terbang ke atas menuju langit.  Jadi naga-naga terbang yang digambarkan di langit-langit, dan juga yang di kanopi di atas takhta raja melambangkan posisi sentral raja, dari mana ia memerintah dunia sekitarnya dengan kekuasaan dan martabat.

Berjalan sekeliling situ, saya juga melihat banyak lagi figur hewan-hewan di istana itu, hewan-hewan ini merupakan simbol keberuntungan yang menandakan panjang umur, kedamaian dan kesejahteraan, dan kebahagiaan. Termasuk diantaranya qilin, gajah, rusa, dan bangau terpatri di ruang pertemuan dari Istana Gyeongbokgung. Ada pula hewan-hewan yang diaksudkan untuk mengusir roh-roh jahat dan menghindarkan ketidakberuntungan. Diantaranya adalah cheollok yang terlihat di jembatan Yeongjegyo di Istana itu, ketika roh-roh jahat atau orang jahat menyeberangi jembatan itu, hewan-hewan mitologis ini menyerang dan mengusir mereka.

Raja Taejo, raja pertama dan pendiri dinasti Joseon, di tahun 1392 memutuskan untuk memindahkan pemerintahan ke Hanyang (Seoul sekarang) di tahun ketiga pemerintahannya, dan memulai pembangunan Istana Gyeongbokgung di tahun 1394. Lokasinya dikelilingi 4 gunung, gunung Bugaksan di sebelah Utara, gunung Namsan di Selatan, gunung Naksan di Timur dan gunung Imwangsan di Barat. Tata letak gunung-gunung ini dipercayai akan member fengshui yang bagus bagi Gyeongbokgung.

Pembangunan dari istana mulai di bulan Desember 1394 dibawah pengawasan Jeong Do-jeon, seorang menteri pemerintahan yang berpengaruh, dan rekannya Sim Deokpu. Jeong Do-jeon yang juga adalah sarjana Confusius yang terkemuka, merancang istana itu mencerminkan filosofi dari Confusianisme. Dia ingin merefleksikan prinsip-prinsip dinasti Joseon berdasarkan idealisme Confusius. Menurut  Confusianisme seseorang haruslah melatih jiwa dan badannya sebelum dia bisa mengajar orang lain dan memerintah dunia.

Karenanya Jong Do-jeon menyarankan bahwa istana itu janganlah menjadi simbol kedaulatan kekuasaan, tapi sebuah tempat dimana raja mengolah jiwanya dan memerintah rakyatnya dengan bantuan pegawai pemerintah yang baik. Dia ingin membangun istana yang bukannya megah atau menawan, tapi rada sederhana dan anggun. Membangun istana yang mewah bukanlah salah satu nilai dari Confusianisme.

Jong Do-jeon also gave name to the palace Gyeongbokgung, which means the ‘Palace of Shining Blessings’. ‘Gyongbok’ is a word borrowed from one of the Confucian scriptures which means ‘to enjoy good fortune and prosper’. The word ‘gung’ means palace, so ‘Gyeongbokgung’ suggested good wishes to the new dynasty.

Jong Do-jeon juga memberi nama istana itu Gyeongbokgung, yang berarti ‘Istana dengan Rahmat bersinar’. ‘Gyongbok’ adalah kata yang diambil dari salah satu kitab Confucius yang berarti ‘nikmati keberuntungan dan makmur.’ Kata ‘gung’ berarti istana, jadi ‘Gyeongbokgung’ menyarankan harapan baik bagi dinasti yang baru.

TAMAT

Sumber: kto.visitkorea.or.kr ; https://artsandculture.google.com/theme/animals-in-the-palaces/xQIy6nRWUZs6JA?hl=en ;







Minggu, 24 November 2019

Seoul, di Myeongdong Malam Hari



Di sore hari ketika jalanan di Myeongdong ditutup bagi lalu-lintas, gerobak-gerobak jajanan mulai berdatangan menyajikan berbagai panganan Korea. Ketika lampu-lampu neon dihidupkan asap dari panggangan menyerbak ke udara memancing air liur.  Anda dapat menelusuri gerobak demi gerobak memilih panganan berdasarkan bentuk dan aromanya.

Namun, tidak seperti Bangkok di mana anda dapat makan makanan besar di pinggir jalan, di Seoul jenis makanan piggir jalan lebih menjurus ke jajanan yang bisa dimakan sambil berdiri atau jalan, melayani pendusuk Seoul yang berjalan dari subway ke subway.

Di tengah padatnya ruas-ruas jalan di Myeongdong, gerobak-gerobak makanan berbaris di antara hotel-hotel, toko-toko kecantikan, restoran , café dan kelab malam. Myeongdong adalah tempat tujuan utama bagi wisatawan di Seoul. Dari gerobak ke gerobak anda bisa mencari panganan, namun anda harus mencicipi dulu Tteokbokki, yang merupakan adonan nasi dengan ikan, telur, bawang dan saus merah asam manis. Padatnya adonan nasi itu dikombinasikan dengan aroma bawang dan biji-biji wijen membuatnya panganan sedap di malam yang sejuk. Harga satu porsi Tteokbokki antara 2000 ke 4000 KRW.

Photo by 709 K, Wikimedia
Bersama Tteokbokki yang agak pedas, anda bisa memakannya dengan Gimbap, nasi gulung seperti lemper atau sushi, yang berisi nasi ketan – ‘bap’ yang digulung dalam lembaran rumput laut – ‘Gim’, diisi dengan berbagai bahan seperti sayuran, ikan tuna, stick kepiting, acar dan berbagai variasi. Seporsi hidangan dari 3 atau 4 potongan Gimbap berharga sekitar 1500 KRW.

Photo by cutekirin, Wikimedia

Lalu anda bisa mencoba Hweori Gamja atau kentang tornado yang merupakan panganan jalanan yang sangat populer di Korea. Kentang Tornado merupakan kentang goring yang dipotong spiral seperti tornado, yang kemudian dicelup kedalam berbagi macam saus. Sausnya bisa keju, sambal merah, madu atau gula merah. Kentang Tornado ini panganan yang sedap, mudah dimakan sambil jalan-jalan di pasar malam Myeongdong.

Photo by tragrpx, Wikimedia
Setelah makan berbagai panganan anda lalu dapat makan menu utama, Sundae. Jangan salah ini bukan ice cream, ini adalah sosis darah ala Korea. Walaupun keliatannya tidak merangsang selera, warnanya hitam, ternyata rasanya enak. Sundae ini berasal dari periode Goryeo, yang dicatat dalam buku masakan abad 19, dan dimaksudkan untuk dihidangkan untuk acara- acara khusus. Tergantung penjualnya, sosis darah ini dapat diisi dengan daging, bihun dan berbagai sayuran. Seporsi harganya sekitar 6000 KRW.


Photo by SauceSupreme, Wikimedia

Nah, sekarang anda pasti sudah kenyang, kalau belum cobalah Ppopgi. Ini adalah gula-gula jaman dulu, biasanya dijual dan dibuat oleh generasi tua Korea. Ppopgi ini terbuat hanya dari dua bahan yakni baking soda dan gula, namun teknik dan timing adalah factor-faktor penting untuk pembuatan ppopgi yang benar. Setiap ppopgi memiliki berbagai pola cetakan, dulu ketika anak-anak dapat memakan ppopgi di sekitar pola cetakan tanpa mematahkannya, mereka akan mendapat ppopgi gratis dari penjualnya. Cobalah, ppopgi itu lebih keras dari pada penampilannya.

Photo by도자놀자 , Wikimedia

TAMAT



Sabtu, 02 November 2019

Seoul, di Myeongdong Pagi Hari


Kita bisa katakan bahwa jalanan Myeongdong, pusat perbelanjaan di Seoul, adalah wajah Korea modern yang dikendalikan oleh “Hallyu” atau “Gelombang Korea” yang merupakan istilah kolektif bagi perkembangan yang fenomenal dari kebudayaan pop Korea yang mencakup segalanya mulai dari musik, filem, drama samapai ke pakaian dan makanan.  Gelombang Korea mulanya menyebar ke Tiongkok dan Jepang sekitar tahun 2000, dan kemudian ke Asia Tenggara dan beberapa Negara di dunia di mana ia terus memiliki pengaruh yang kuat dan menjadi salah satu fenomena kebudayaan terbesar di Asia.


Saat kita berjalan di Myeongdong kita bisa melihat berbagai tanda mata dari K-pop dan K-drama di toko-toko, mulai dari calendar, cangkir kopi, ke T-shirts, kaus kaki dan bahkan keripik kentang, hampir segalanya menampilkan wajah selebritis terkemuka negara ini. Kita bisa melihat wajah dari group K-pop Girl’s Generation, Blackpink, atau boy group Exo , Super Junior  di baju dan alat tulis menulis, dan kita bisa melihat jejak-jejak dari  Winter Sonata, Autumn in My Heart, atau My Sassy Girl dipajangan untuk mengingatkan kita akan filem drama TV Korea yang terkenal.
                      
Masa kini kebudayaan pop Korea juga mempengaruhi baik wanita maupun pria di Asia untuk menyukai produk pemeliharaan kulit dan make-up buatan Korea.  Yoona dari group Girls’ Generation yang terpilih sebagai model bagi Innisfree, dan Taeyeon yang juga dari Girls’ Generation mewakili Nature Republic , dengan image bersih mereka berhasil meluncurkan kosmetik-kosmetik buatan Korea menjadi merek yang dikenal secara global. Maka di tahun-tahun ini kosmetik Korea mendobrak Asia di hampir semua penjuru. Dari face masks dan body cream sampai ke cairan pembersih dan hand lotions, Korea memiliki produk-produk kecantikan yang merupakan salah satu yang terbaik dan yang paling terjangkau di pasar. Oleh karena itu baik toko kosmetik kecil maupun departments store di Myeongdong selalu dipenuhi pembelanja yang mencari produk-produk dari The Faceshop, Innisfree, Missha, Nature, Tony Moly, Etude House dsb.

Myeongdong yang dalam bahasa Korea berarti “terowongan terang” atau “gua terang” barangkali  image-nya telah dibentuk oleh kesan terang, mengkilat dan terpoles dari tempat ini dan idola-idola pop  Korea. Anda bisa melihat dimana-mana iklan-iklan di “terowongan terang” ini menampilkan wajah-wajah cantik mempromosikan pakaian dengan merek mewah, kosmetik yang memuluskan dan aneka asesori pakaian.   Baik di billboard yang gemerkap maupun di layar TV, jaket, topi dan baju bisa menjadi ikonik ketika dipakai oleh Chanyeoul dari Exo, Nayeon dari Twice atau Suga dari BTS. Department Store yang bertingkat-tingkat dan toko-toko kecil tumbuh menjamur bertindak sebagai panggung yang mengajak anda untuk membeli pakaian-pakaian bergaya mutakhir, dengan seorang K-pop idol dari karton berdiri  menyambut anda di muka pintu.

TAMAT