Apalagi yang bisa dikatakan tentang istana
Grand Palace di Bangkok, sebegitu banyaknya hal-hal yang dapat dilihat dan
difoto, patung manusia serupa hewan, dinding-dinding dan atap yang cemerlang
keemasan, taman-taman, lukisan-lukisan, tiang-tiang menjulang, stupa keemasan,
barisan Garuda yang tak berujung, dan tak lupa menyebut Emerald Buddha yang
sangat dihormati. Tidak mengherankan bahwa Grand Palace menjadi pusat seni
budaya Thailand selama berabad-abad dan dianggap sebagai acuan bagi segala
jenis kesenian Thailand. Istana ini dianggap sebagai cermin dari identitas
Thailand.
Ketika Raja Rama I memerintahkan pemindahan
ibukota ke distrik Phra Nakhon di tahun 1782, dia mendirikan Grand Palace
sebagai pusat kerajaan yang baru. Dia mengambil inspirasi dari istana di
Ayutthaya, ibukota Siam yang lama, yang dihancurkan tentara Burma di tahun
1767.Istana Grand Palace diletakkan
dengan strategis di tepi sungai Chao Phraya untuk meniru istana di Ayutthaya.
Tata ruang Grand Palace, yang merangkum area seluas 213,677 m2, juga meniru
istana lama di Ayutthaya dengan lapangan-lapangan, tembok-tembok, gerbang dan
benteng yang terpisah. Berbagai zona di kompleks istana ini mencakupi the Outer
Court, the Central Court, dan the Inner Court dan juga Kuil Emerald Buddha.
Untuk mendapatkan material yang diperlukan untuk membangun Grand palace, Raja
Rama I memerintahkan rakyatnya untuk pergi ke Ayutthaya yang sudah hancur,
untuk mencabut dan memngambil batu bata dan batuan-batuan lainnya yang dengan
susah payah dikirim dengan kapal kearah hulu sungai untuk membangun istana yang
baru itu.
Bagian dari kompleks Grand Palace, kuil Wat
Phra Kaeo (Kuil Emerald Buddha) adalah kuil yang paling sakral di Thailand dan
rumah bagi Emerald Buddha. Chaophraya Chakri, yang kemudian menjadi Raja Rama
I, mengambil Emerald Buddha dari Vientiane ketika ia menaklukkan kota ini di tahun 1778.
Dia membangun kuil dan mengabadikan Emerald Buddha disitu sebagai simbol
kembalinya kebangsaan Siam.
Kisah sejarah dan mitos patung ini menciptakan
kepercayaan yang penting mengenai Emerald Buddha. Dipercayai bahwa patung ini
melindungi sebuah kerajaan, kota mereka atau ibukota. Jika seorang raja turun
tahta dengan paksa atau dikalahkan di suatu peperangan, Emerald Buddha akan
dirampas dan diletakkan di ibu kota pemenang peperangan. Patung ini dianggap
memiliki kekuatan spiritual dan dijadikan ikon yang sangat penting bagi rakyat
Thailand.
Tapi saya tercengang melihat Emerald Buddha
yang legendaris ini tampak begitu kecil, tingginya 66 cm, yang bertengger di
ketinggian pada sebuah panggung setinggi 9 meter yang hampir mencapai
langit-langit kuil itu. Emerald Buddha, yang diukir dari sebuah batu tunggal
jade berwarna hijau keabu-abuan, ditinggikan dari kepala pengunjung sebagai
tanda penghormatan. Anda juga musti duduk dengan kaki yang mengarah ke belakang
sebagai tanda penghormatan.
Bagi saya yang paling mengesankan dari Kuil
Emerald Buddha adalah tembok-tembok luarnya yang penuh dekorasi. Tembok-tembok
itu dihiasi
dengan lukisan-lukisan dinding dalam pemerintahan Raja Rama I yang menampilkan
adegan-adegan dari Ramakien, yang merupakan versi Thailand untuk epic Hindu,
Ramayana. Di dalam Ramakien, nama-nama, kebudayaan, alat-alat perang dan bahkan
topografinya dihubungkan dengan kerajaan Thailand. Rama yang merupakan
inkarnasi dari dewa Hindu Wisnu, di dalam Ramakien dia adalah inkarnasi dari
Buddha. Kerajaannya Ayodhya di dalam epic Ramayana digantikan dengan Ayutthaya,
ibu kota purba dari Thailand.
Sepanjang
jalanan di Bangkok, kita bisa melihat bahwa kota ini adalah surge konsumerisme.
Papan-papan iklan ada dimana-mana, besar dan terang benderang, mengiklankan
bisnis-bisnis dari Samsung hingga Toyota. Bahkan bangunan-bangunan tinggi
ditempeli dengan papan-papan iklan raksasa. Dalam satu hal iklan-iklan itu
tampak mengagumkan.
Juga di
stasiun kereta metro, anda tak bisa menjadi bosan menunggu kereta layang karena
ada banyak layar-layar iklan warna warni dengan wajah cantik para artis
menawarkan kosmetik, jus buah, dan, tentu saja, berbagai pakaian. Kelihatannya
para ‘influencers’ ini seperti mengikuti kita kemana saja seperti para pedagang
asongan di jalanan menawarkan barang dagangan mereka, dan mengejar anda kala
anda tidak memberi perhatian kepada mereka, mulai ketika anda menunggu kereta
hingga anda sampai ke tujuan. Dan, iya, bahkan di dalam kereta ada banyak layar
televise menampilkan iklan-iklan. Para artis di situ merupakan penjaja dagangan
virtual, dengan senyum lebar dan gigi putih, menari dan melompat-lompat dengan
dinamis yang mengikuti anda kemana saja, kontras dengan para pedagang asongan
jalanan dengan pakaian kusut, muka terbakar matahari, yang menawarkan barang
dengan wajah iba seakan mengemis.
Ketika
kereta layang tiba di stasiun persimpangan Siam, baiklah kita lupakan para
pedagang asongan itu, karena kita tiba di shopping mall Siam Paragon, suri
teladan (paragon) segala shopping mall. Menempati salah satu lokasi
persimpangan yang paling sibuk di kota ini, shopping mall ini mengambil
keuntungan akan lokasinya yang unggul dengan menjadi jalur penting bagi
distrik-distrik di sekitarnya. Menurut Arcadis, perusahaan yang merancang
bangunan ini, disainnya mencerminkan tingkat kemewahan yang dibayangkan team
Arcadis dengan sebuah atrium kaca yang dramatis yang berfungsi sebagai gerbang
utama ke mall ini. Mungkin prestasi terbesar arsiteknya – dan tantangannya –
adalah bagaimana mereka mengolah segi-segi sirkulasi dan tata letak shopping
mall ini.
Di dalam,
tempat ini merupakan taman-impian bagi butik-butik kelas atas yang berjejer di
lobby, mulai dari Louis Vuitton, Hermes, Chanel, diikuti oleh Fendi, Bottega
Venetta. Jendela-jendela toko didekorasi menarik dengan fashion- fashion
mutakhir dari butik tersebut, pakaian-pakaian, tas-tas, sepatu-sepatu dll. Yang
dijajakan sesuai musim, saat itu temanya adalah ‘Tahun Baru Anjing’. Jadi,
anjing-anjing hiasan dipajang bermain dengan tas, sepatu, dompet di dalam kaca
jendela toko itu. Kita bisa bilang bahwa jendela-jendela toko di situ tampak
dibuat cukup kreatif dengan sendirinya, jendela-jendela itu menghasut selera
konsumtif kita. Kita bisa lihat beberapa turis dari Tiongkok mengantri dengan
taatnya di muka pintu Louis Vuitton.
Mewah adalah
istilah meremehkan bagi shopping mall ini, karena mall ini tidak hanya diisi
oleh butik-butik kelas atas, tapi juga diisi oleh showroom bagi mobil-mobil
yang sangat mahal dan ekslusif, Rolls Royce, Aston Martin, Bentley, Lamborghini,
Maserati, Ducati dan Porsche. Mobil-mobil itu tampak sangat sempurna, namun di
dalam showroom kaca tampak seperti mobil mainan berskala besar dalam kotak
kaca. Dan para pramuniaga nampak bosan sendiri karena tidak orang yang masuk ke
dalam showroom itu.
Tapi itu
belum semua….., ada Ocean Aquarium di basement, multiplex cinemas dengan 15
layar besar, Thai Art Gallery, KidZania untuk anak-anak belajar dan bermain,
toko buku Jepang Kinokuniya, Paragon department store, sebuah super market dan tidak lupa
menyebutkan restoran-restoran kelas atas. Bahkan ada sebuah Opera Theatre di
lantai 5!
Ketika
menuruni escalator saya bisa mendengar di latar belakang lagu dari REM ‘Shiny
Happy People’:
‘Whoa, here
we go…
Everyone
around, love them, love them.
Put it in
your hands, take it, take it.
There's no
time to cry, happy, happy…’
‘Ayo, inilah
dia….
Semua orang
disekitar kita, cintailah mereka, cintailah mereka.
Taruhlah di
dalam tanganmu, ambillah, ambillah.
Tak ada
waktu untuk menangis, berbahagia, berbahagia….’
Baru-baru ini saya
mengikuti drama TV Jepang “Aibou” (Partners) sebuah drama detektif serial di internet. Dramanya cukup menarik,
seperti halnya banyak filem detektif Jepang drama serial ini memiliki alur
cerita yang kompleks, sebegitu kompleksnya hingga sulit ditelan. Nampaknya
penulis drama itu membuat jalur ceritanya kompleks agar makin misterius, membuatnya makin
sulit menebak ‘siapakah yang melakukannya’. Selain itu, kisahnya kadang
mencerminkan kebudayaan dan tradisi Jepang yang unik, seperti sikap yang menjunjung
tinggi kesempurnaan dalam perbuatan, kejujuran, kebanggaan akan profesi,
kehormatan dan pengorbanan bagi masyarakat, yang terpilin dengan tindakan kejahatan
dalam drama ini.
Namun, ketika saya sampai
di episode 9 dan 10 dari Season 11 drama ini, saya terkesiap menontonnya,
karena ceritanya didasari tradisi yang sangat aneh dan mengherankan. Saya tak
bisa membayangkan seseorang melakukan tindakan ini di dunia nyata. Namun,
mengenal bahwa drama serial ini sering memasukkan tradisi Jepang dalam ceritanya,
tindakan ini pastilah nyata, bukan fiksi.
Tindakan kejahatannya
terjadi di sebuah daerah pegunungan yang terpencil yang diselimuti hutan yang
lebat, sebuah tempat yang terasa sangat teduh dan damai hingga sulit
membayangkan sebuah kejahatan bisa terjadi di sini. Kejahatan itu terjadi
terdorong oleh sebuah praktek dari abad ke 11 yang disebut Sokushinbutsu,
sebuah tindakan memumikan diri oleh seorang biksu agar menjadi “seorang Buddha
dalam badan ini”. Di dalam praktek Sokushinbutsu sang biksu dengan sengaja
mematikan diri agar melestarikan badannya menjadi mummi, dengan kehendak
mencari nirwana.
Saya sangat penasaran
untuk mengetahui apakah yang melandasi tradisi religious ini, bagaimana sampai
bisa terjadi begini? Jadi saya menghubungi Haruki, seorang biksu yang saya
kenal, yang berdiam di Kuil Churenji di
Dewa Sanzan, distrik Yamagata. Saya mengambil perjalanan 4 jam dengan
Shinkansen dan kereta api express dari Tokyo ke stasiun terdekat di Tsuruoka. Perjalanannya
melalui daerah yang paling teduh di Jepang, melihat daerah pedalaman,
pegunungan, ditandai dengan kuil-kuil yang tersembunyi di hutan lebat. Setelah
sampai di Tsuroka saya mengambil bus ke Kuil Churenji untuk menemui Haruki,
namun karena kuil itu tidak terbuka bagi publik hari itu, kami pergi ke sebuah
warung teh di dekat situ untuk bercakap-cakap.
Aku membuka percakapan:
“Tempat yang sangat teduh di
distrik Yamagata ini dikatakan sebagai salah satu tempat yang paling indah untuk
berjalan-jalan di Jepang. Saya beruntung bisa melihat keindahan tempat ini yang
dikelilingi pegunungan diselimuti pohon-pohon cedar yang tinggi-tinggi membentuk
hutan yang lebat, yang membuat kita merasa pohon-pohon itu menjangkau ke atas
untuk memberi penampungan dan perlindungan terhadap badai. Pegunungan yang menjulang
tinggi dianggap musuh dan daerah angker bagi manusia untuk menjelajahinya, sementara
hutan memberi kita rasa damai yang luar biasa.
Jadi, saya kira kita bisa
mengerti bahwa di jaman dulu agama Shinto kuno (Koshinto) menyembah alam, yang
dikenal sebagai animisme di dunia Barat. Keindahan dan keteduhan tempat ini
sangatlah luar biasa hingga mereka menganggap setiap elemen alam ini adalah
ilahi. Gunung, lautan dan sungai semuanya adalah roh ilahi atau dewa (‘kami’
dalam Bahasa Jepang), sebagaimana halnya matahari, bulan dan Bintang Utara.
Angin dan halilintar juga adalah ‘kami’. Singkatnya Koshinto berpegangan bahwa
tidak ada di dunia atau di kosmos yang tidak memiliki energi ilahi; ‘kami’
berada di mana saja.
Gunung Yudono di mana Kuil
Churenji berada, juga dianggapsebagai
salah satu gunung yang dikeramatkan diantara 3 gunung-gunung Dewa Sanza.
Bisakah anda memberi sedikit gambaran.”
Haruki:
“Gunung-gunung memiliki
peranan penting di dalam agama di Jepang sejak jaman dulu kala. Gunung yang
tinggi dianggap angker dan berbahaya, namun mereka disembah sebagai sumber dari
sungai yang memberi kehidupan yang menyuburkan sawah dan desa-desa di bawah.
Menjulang ke langit dan seringkali tertutup oleh awan, gunung-gunung seperti
itu dianggap sebagai surga dan diperlalukan dengan kekaguman dan hormat. Tanpa
harus menjadi Shinto, semua manusia dapat memiliki kesan seperti ini tentang
gunung-gunung.
Gunung Yudono adalah salah
satu pusat dari penyembahan gunung di Dewa sanzan (“tiga gunung Dewa”) di distrik
Yamagata. Ketiga gunung itu adalah Haguro-san, Gas-san dan Yudono-san;
Haguro-san mewakili kelahiran, Gas-san mewakili kematian dan Yudono-san
mewakili kelahiran kembali, gunung-gunung itu biasanya dikunjungi sesuai urutan
itu.
Dewa Sanzan adalah pusat
dari Shugendo, suatu agama berdasarkan penyembahan gunung, campuran antara
Buddhis dan tradisi Shinto. Para penganut Shugendo, melakukan tindakan
pengorbanan diri sebagai jalan untuk mentransedensikan dunia jasmaniah.”
Aku berkata:
“ Lalu bagaimana jadinya penyembahan gunung menjadi pusat dari Sokushinbutsu,
sebuah praktek memummikan diri seorang biksu?”
Haruki:
“Sokushinbutsu adalah
salah satu praktek bertapa yang berat dari Shugendo, biksu-biksu berusaha
memelihara badan mereka menjadi mummi melalui diet yang ekstrem dan meditasi.
Para biksu percaya bahwa pencerahan dapat dicapai di dunia kini, dan mereka
percaya bahwa dengan meninggalkan suatu jejak Buddha di dunia ini dalam wujud
Sokushinbutsu, mereka dapat memberi keselamatan kepada penduduk di sini, bahkan
setelah kematian sang biksu.”
Aku berkata:
“Bagaimana mereka
melakukan mummifikasi diri itu?”
Haruki:
“Ritus mummifikasi diri
ini sangat panjang dan sangat menyakitkan. Hal ini bukanlah pengorbanan yang
sederhana dan biksu itu menghabiskan hidupnya setelah proses panjang penistaan
yang tahap akhirnya berlangsung sekitar 1000 hari. Makanan para biksu terbatas
pada apa yang bisa ditemukan di gunung, sepert kacang-kacangan, tunas tanaman,
buah berrie, kulit pohon dan jarum pinus. Bentuk makanan ini disebut
mokujikigyo, yang secara harafiah berarti “latihan memakan pohon”. Ketika sang
biksu tidak mencari makanan ia menghabiskan waktunya bertapa di gunung. Makanan
ini dimaksudkan untuk menguatkan mental, dan dari segi biologis diet yang berat
dimaksudkan untuk menghilangkan lemak, otot dan kelembaban. Efek yang diharakan
adalah mencegah pembusukan jasad setelah kematian. Sang biksu juga meminum the
beracun dari kulit pohon (toxicodendron verniculum)yang diharapkan akan mempercepat kematian dan
membuat badan menjadi lebih tidak ramah terhadap bakteri dan parasite yang akan
membusukkan jasad setelah kematian. Kulit pohon itu memiliki kadar racun yang
sama tingginya seperti di tanaman poison ivy.
Setelah itu, sang biksu
akan berhenti makan semuanya, minum sedit air asin selama 100 hari. Pada akhir
periode ini, sang biksu dianggap imannya siap untuk masuk ke ‘nyujo’ atau diam
dalam meditasi.Ketika sang biksu merasa
ajalnya mendekat, murid-muridnya akan menurunkannya ke dalam kotak pinus di bawah
lubang sedalam 3 meter berdinding batuan, liang kubur yang ukurannya hanya
cukup untuk sang biksu duduk dalam posisi lotus, posisi bertapa. Ruangan yang
kosong diisi dengan arang untuk menyerap kelembaban.
Setelah liang kubur itu
ditutup, dua pipa bambu akan ditanamkan dari atas untuk menyalurkanair minum dan menyalurkan udara untuk
ventilasi. Lonceng- lonceng diikat ke ujung bambu itu untuk sang biksu memberi
isyarat bahwa ia masih hidup. Ketika bunyi lonceng tidak lagi terdengar, pipa
bambu tersebut akan dicabut dan lubangnya ditutup.
Selama tiga tahun dan tiga
bulan, jenazah
sang biksu didiamkan di lubang bawah tanah itu. Kemudian pada akhirnya, jenazahnya
akan diangkat ke atas. Kalau tidak ditemukan pembusukan, jasad itu ditetapkan
sebagai Sokushinbutsu yang sebenarnya dan disemayamkan di altar di kuil.”
Aku berkata:
“Apakah proses ini tidak
dianggap sebagai bunuh diri?”
Haruki:
“Walapun pada permukaannya
tampak seperti bunuh diri, penganut Buddhis menganggapnya sebagai “peninggalan
badan”. Setelah memadamkan hawa nafsu dalam dirinya, sang biksu dapat masuk ke
nirwana tanpa halangan melalui proses kematian. Kematian itu adalah pengorbanan
dirinya didorong oleh rasa cinta kasih untuk kebaikan semua mahluk hidup,
misalnya ketika pandemik ganas mewabah. Namun bagaimanapun praktek ini dilarang
oleh Restorasi Meiji, ketika Shinto dipisahkan dari Buddhisme dan ditetapkan
sebagai agama resmi Jepang.”
Aku berkata:
“Bagaimana praktek
Sokushinbutsu berawal?”
Haruki:
“Praktek ini muncul di
Tiongkok diabad ke 4 dan di Jepang di awal abad ke 9. Menurut legenda Jepang,
biksu Kukai,yang juga dikenal sebagai
Kobo Daishi setelah kematiannya, memasuki meditasi yang mendalam, atau ‘samadi’
di akhir hidupnya sampai kematiannya, di gunung Koya di Selatan Osaka. Biksu
Kukai adalah pendiri Shingon, sekte marjinal Buddhisme. Tujuh puluh tahun
setelah kematiannya seorang petinggi biksu berdasarkan perintah kerajaan pergi
ke atas gunung Koya untuk membuka kuburannya dan menemukan bahwa tubuhnya masih
utuh. Menurut legenda Kukai saat itu belumlah mati melainkan masuk ke dalam
meditasi kekal dan masih hidup di gunung Koya, menunggu penampakan Maitreya,
Buddha masa depan.”
Aku berkata:
“Lalu dimanakah tubuh Kobo
Daishi disimpan? Apakah terbuka bagi publik?”
Haruki:
“Mausoleum dari Kobo
Daishi terletak di gunung Koya dan adalah tempat yang paling suci di gunung
itu. Pintu mausoleum tidak pernah dibuka kecuali setiap 50 tahun oleh uskup
agung gunung Koya untuk memotong kuku dan rambutnya dan menukar pakaiannya yang
kemudian dipakai untuk membuat amulet bagi pengikutnya. Kobo Daishi dianggap
sedang bertapa di mausoleumnya, tapi jasadnya sama sekali tidak diperlihatkan.
Jasadnya haruslah dianggap sebagai peninggalan yang mewakili “Esensi Buddha”
yang murni yang menjadi peninggalan suci serupa stupa.”
Aku berkata:
“Tapi di kuil Churenji
pengunjung dapat melihat jasad Tetsumonkai, walaupun dilarang pengambil foto.”
Haruki:
“Ya, jasad terkenal
Tetsumonkai dipertunjukkan di kuil ini duduk di altar khusus. Telapak tangannya menghadap ke
atas, ia diperagakan untuk bermeditasi terus menerus, sesuai dengan kehendaknya
ketika ia memasuki ajal 2 abad yang lalu. Jasadnya dengan tengkorak yang seakan
menyeringai diberi jubah oranye, syal berwarna ungu dan kecoklatan dan topi
keemasan, bak seorang petinggi biksu. Ia memberi bukti akan seseorang yang
berhasil dalam usahanya menjadi mummi yang dihormati.”
Aku berkata:
“Siapakah Tetsumonkai
itu?”
Haruki:
“Tetsumonkai adalah yang
paling terkenal di antara Sokushinbutsu. Dilahirkan sebagai Sunada Tetsu di
tahun 1759, dia adalah pegawai sungai yang menggali sumur-sumur dan mengirim
kayu dengan sampan, dan dikenal dengan temperamennya yang bagai badai. Suatu
hari, menurut salah satu legenda, ia menikam kaki salah seorang petugas yang
mengawasi konstruksi sungai karena ia naik pitam akan keangkuhannya. Cerita
lainnya menggambarkan ia membunuh seorang samurai ketika berkelahi
memperebutkan seorang pelacur favorit. Bagaimanapun, Tetsu melarikan diri dari
pengejaran dan bergabung dengan sekolah biarawan di Churenji di umur 20 tahunan
akhir menuju kehidupan prihatin dan kemudian ia diberi nama Tetsumonkai.
Selama hidupnya sebagai
biksu, catatan menunjukkan bahwa Tetsumonkai banyak melakukan perjalanan dan dihormati
sebagai orang suci yang dikaitkan dengan berbagai legenda. Suatu saat ketika
mengunjungi Edo, ia menyaksikan mewabahnya penyakit mata yang menimbulkan
penderitaan luar biasa. Ia lalu mencolok matanya sendiri dan mencabutnya dan
mempersembahkannya ke sungai Sumida sebagai doa bagi penyembuhan. Riset
selanjutnya menunjukkan bahwa memang mata kirinya tidak ada di mummi nya, yang
dengan suatu hal mengkonfirmasikan cerita tersebut.
Karya misionaris
Tetsumonkai berpusat di daerah Shonai, namun monument-monumennya menunjukkan bahwa karyanya
menyebar dari daerah kanto hingga Hokkaido. Dia dikenang mengumpulkan 10,000
pekerja voluntir untuk membangun jalan baru melalui sebuah gunung yang
menghubungkan pelabuhan Kamo ke Tsuroka, untuk perdagangan. Ia meninggalkan
dampak abadi bagi banyak orang saat itu. Hingga kini, ada festival-festival
berdasaran ajaran Tetsumonkai.
Namun, mungkin legenda
yang paling menarik adalah kisah lain yang berkaitan dengan mutilasi diri. Pada
suatu saat, dikatakan bahwa Tetsumonkai dikunjungi seorang pelacur, mungkin
pelacur yang sama yang ia perebutkan dengan sang samurai. Wanita itu berusaha
meyakinkan Tetsumonkai untuk kempali ke kota bersamanya, tapi ia menolak. Untuk
membuktikan keinsafannya dan dedikasi akan hidup dalam pengorbanan, dia
menghilang dan lalu kembali dengan bungkusan kecil buat wanita itu. Di dalam
nya adalah testikelnya yang penuh darah. Dia telah memotongnya.
Diceritakan bahwa
testikelnya kemudian dianggap para pelacur di sebuah border local sebagai tanda
keberungan, dan akhirnya dikirim ke kuil Nangakuji di Tsuruoka, dan kemudian
dilestarikan sebagai relik. Seakan
menambah bobot kebenaran legenda itu, memang ditemukan bahwa mummi Tetsumonkai
tidak mempunyai testikel.
Aku
berkata:
“Apakah
benar kuil itu menyimpan testikel dari Tetsumonkai?”
Haruki:
“Benar,
tapi tidak dipertunjukkan ke public. Golongan darah Tetsumonkai adalah grup B,
demikian pula golongan darah yang ditemukan di testikel yang ditemukan di
Nangakuji, menurut riset ilmiah masa lalu. Para akademisi saat itu menyimpulkan
bahwa sangat besar kemungkinan bahwa testikel yang dikeringkan itu milik
seorang yang bertahan akan siksa fisik yang ekstrim karena pelatihan meditasi
sebelum dikuburkan pada usia 71.”
Aku
berkata:
“Apakah
mummi Sokushinbutsu sama dengan mummi di Mesir?”
Haruki:
“Tubuh
para Firaun dibalsem di jaman dulu Mesir. Organ tubuh bagian dalam semuanya
dikeluarkan dan diganti dengan tanaman yang berkhasiat. Tubuhnya jadinya
hanyalah pembungkus daging kering dan tulang.
Sebaliknya,
mummi Sokushinbutsu melestarikan organ tubuh bagian dalam karena proses
pemummian berjalan ketika ia masih hidup dan organ tubuh bagian dalam dianggap
pusat energi vital. Tubuh beberapa mummi di gunung Yudono, untuk
melestarikannya dengan sempurna, kadang-kadang juga dilapisi dengan pernis
kering. Sehingga pentingnya pemujaan akan Sokushinbutsu menyiratkan bahwa mummi
itu bukan sekedar “sisa tubuh”, atau “cangkang kosong”, mummi tersebut
dianimasikan, penuh vitalitas; yang berada di bumi dan juga di kelimpahan
irwana.”
Haruki:
“Mummi
Sokusinbutsu memberi jendela yang menarik ke dalam kebudayaan Jepang kuno
melalui praktek-praktek belas kasih, kesulitan hidup, pengorbanan dan semangat
religiositas yang intens untuk mendapatkan sukma Buddha dalam daging. Konsep
Barat akan kematian fisik adalah suatu proses pemutusan kehidupan yang terjadi
dengan cepat dan parah, sedangkan konsep Timur memandang kematian sebagai suatu
proses yang bertahap.
Pemujaan
Sokushinbutsu
memelihara orang-orang suci hidup dan memberikan perspektif yang unik akan
perjuangan manusia menggapai Nirwana, sebelum dan sesudah kematian.”
THE END Wawancara ini adalah wawancara imajiner mengenai Sokushinbutsu
Banyak candi-candi dan monumen
terkenal di Bangkok terletak di tepi
sungai Chao Phraya yang mengalir melalui kota ini dan jalan terbaik untuk
mengunjungi tempat-tempat ini adalah dengan kapal atau sampan bermotor.
Kapal-kapal ini menawarkan alternatif yang menyegarkan terhadap lalulintas Bangkok yang terkenal
kemacetannya.
Wat Arun, atau Temple of
Dawn (Candi Matahari Terbit), adalah sebuah candi Buddhis (wat) yang paling
terkenal di sepanjang tepi sungai Chao Phraya. Semula saya mengacaukan nama
Temple of Dawn dengan ‘Temple of
Doom’ filemnya Indiana Jones. Sebenarnya candi ini dinamai
Temple of Dawn karena cahaya matahari yang muncul pertama kali di pagi hari
akan mencerminkan candi itu di permukaan sungai Chao Phraya yang memberikan panorama
yang indah seperti di filem. Juga,
nama Temple of Dawn diambil dari nama dewa Hindu Aruna,
penggiring Surya, matahari. ‘Arun’ dalam Bahasa Sansekerta berarti sinar dari
matahari terbit, jadi Arun sering kali dipersonafikasi sebagai sinar matahari
terbit dan menjadi simbol dari Fajar.
Ketika perperangan dengan
tentara Burma
dan Tiongkok di tahun 1760-an Kerajaan Ayutthaya hancur berantakan. Salah satu
jenderal Siam yang berperang, Phya
Taksin, memandang reruntuhan candi Wat Makok di saat
matahari terbit dari sungai Chao Phraya dan bersumpah akan membangun kembali
candi itu setelah perang berakhir.
Jenderal Phya Taksin memimpin
pembebasan Siam dari pendudukan Burma di tahun 1767, dan kemudian menyatukan
Siam ketika ia jatuh ketangan beberapa komandan perang. Sebagai raja Siam, dia lalu menetapkan
kota Thonburi sebagai ibu kota baru di dekat candi Wat Makok, karena kota
Ayutthaya sudah hancur lebur dirusak oleh penyerbu. Dia membangun kembali Wat
Makok dan menamakannya Wat Jaeng, Temple of Dawn. Candi ini sangat dihormati,
dan untuk suatu saat menyimpan relik Buddhisyang paling agung, Emerald Buddha.
Phya
Taksin kemudian ditumbangkan dan dibunuh di dalam sebuah
pemberontakan oleh seorang sahabat lama Maha Ksatriyaseuk yang kemudian
dinobatkan sebagai Raja Pama I, pendiri kerajaan Rattanakosin dan dinasti
Chakri, yang sejak saat itu berkuasa di Thailand.
Rama II memperbaiki candi
Wat Jaeng yang telah ditinggalkan sejak Phya Taksin ditumbangkan. Dia menjalankan sebuah
proyek pembangunan yang ambisius yang meninggikan pagoda utama dan merancang
kembali penampilan candi itu.Dia juga
menamakannya Wat Arun, mempertahankan tema Fajar tapi menghubungkannya dengan
India, asal muasal Buddisme. Pembangunan yang dimulai oleh Rama II diselesaikan
oleh Rama III di sekitar tahun 1857. Ini adalah candi yang kita lihat saat ini,
menjulang ke atas langit Bangkok sebagai salah satu bangunan yang paling ikonik
di Thailand.
Mempertahankan gaya
arsitektur Thai saat itu, Wat Arun penuh dengan ornamen. Pagoda yang besar di
tengah, disebut Prang, sebuah pagoda berbentukstupa, diilhami oleh tradisi arsitektur Khmer. Prang utama itu tingginya
sekitar 80 meter, diliputi dengan kulit kerang lautdan porselen berwarna. Prang ini dianggap
sebagai Prang yang paling tinggi di Thailand dan dikelilingi oleh empat Prang
kecil. Setiap sudut candi ini memiliki patung-patung dewa pelindung di ke empat
arah mata-angin. Pengelompokan ke lima Prang ini mewakili Gunung Meru, gunung
utama di dalam kosmologi Buddhis, berdasarkan
kosmologi Hindu sebagai tempat tinggal para dewa dan pusat dunia fisik dan
spiritual.
Bangkok di pagi hari mungkin lebih mencerminkan Bangkok yang
sebenarnya, dan bukannya kesan turistik yang dimilikinya di siang dan malam
hari. Hal itu tidaklah mengherankan, sebagian besar turis mencari tempat-tempat
yang menarik di siang hari dan hiburan di malam hari. Tak banyak turis yang mau
bangun pagi sekali untuk melihat penduduk Bangkok berbenah dan bergegas pergi
ke tempat kerja, untuk menghindari kemacetan di jalan.
Lebih sedikit lagi turis yang bangun sebelum jam 6 pagi
untuk melihat para biksu turun ke jalanan untuk menerima sedekah makanan untuk
hari itu. Saya kebetulan bangun pagi di suatu hari dan pergi dengan kamera saya
untuk melihat jalanan di pagi hari dan mengunjungi kuil Wat That Thong di pusat
kota Bangkok, daerah Ekkamai, yang tidak termasuk di dalam itinerary kebanyakan
turis.
Di jalanan dan di kuil Wat That Thong, saya melihat banyak
biksu dengan jubah oranye berjalan-jalan dengan sebuah mangkok besar di tangan.
Berdasarkan tradisi Buddhis Theravada, para biksu bangun pagi jam 4, lalu
berdoa ke Buddha dan bermeditasi, lalu sarapan pagi yang ringan. Kemudian
mereka turun kejalanan untuk mendapatkan sedekah makanan di daerah itu, kembali
ke biara dan makan bersama sebelum tengah hari.
Para ibu telah terbiasa memasak makanan buat para biksu dan
memberi sedekah sejak awal terbitnya Buddhisme lebih dari 2,500 tahun yang
lalu. Khususnya, pemberian makan sedekah ini adalah tradisi Buddhis Theravada,
yang merupakan mayoritas di Thailand, Kamboja, Myanmar, Sri Lanka dan Laos.
Dengan memberi makan kepada biksu setiap hari, para umatnya akan memperdalam
imannya, dan dengan berbuat demikian akan berguna untuk bagi santapan rohani
mereka.
Jadi, pada hari itu saya berkenan untuk memberi sedekah
makanan buat biksu-biksu, tapi kita harus ingat bahwa sebagian besar
biksu-biksu itu adalah vegetarian. Makanannya sebaiknya sederhana saja, karena
para biksu pada umumnya harus memakan makanan apa saja yang diberikan kepada
mereka. Tapi makanan ini bukanlah ‘sedekah’ dalam pandangan dunia Barat. Hal ini
lebih merupakan hubungan simbolis akan realitas spiritual dan untuk menunjukan
kerendahan hati dan penghormatan di tengah masyarakat yang sekular. Memang,
yang terbaik adalah makanan dari dapur kita, karena tujuannya bukanlah sekedar
memberi makan kepada para biksu tapi juga untuk menunjukkan ketanpa-pamrihan
pemberi dan komitmen terhadap kepercayaan. Hal ini adalah tugas duniawi para
awam, guna memelihara hubungan langsung dengan sang Buddha.
Musik populer Korea atau K-Pop sudah menjadi fenomena global
yang menampilkan campuran melodi-melodi yang menarik, koreografi yang luwes dan
efek-efek panggung. Suksesnya K-pop juga ditunjang oleh penyanyi-penyanyi yang
menawan yang belajar dan berlatih selama bertahun-tahun di studio yang sangat
meletihkan guna menyanyi dan berdansa dengan sinkronisasi yang sempurna.
Lagu-lagunya biasanya berisi salah satu atau campuran dari music pop, rock, hip
hop, R&B dan music elektronik.
Di bulan Oktober, ‘Hi Seoul Festival berlangsung di
Gwanghwamun Square. Festival ini adalah pertunjukan kesenian yang besar untuk
mempromosikan kesatuan internasional dengan memungkinkan orang-orang
berkomunikasi melalui music dan pertunjukan-pertunjukan non verbal, melampaui
batas-batas bahasa, ras dan usia. Ratusan pertunjukan-pertunjukan diperagakan
oleh team-team dari seluruh dunia selama festival seminggu ini.
Salah satu pertunjukannya adalah tentulah Pop band. Musik
pop Korea sudah berada di Korea untuk beberapa waktu, tapi baru sekitar 10
tahun belakangan ini K-pop memasuki dunia musik mainstream. Muda-mudi Korea
menyukai K-Pop bands dan berbangga bahwa K-pop mulai dihargai di taraf
internasional.
Berjalan dari Gwanghwamun gate (istana
Gyeongbokgung) menuju kota, saya melihat ada sebuah avenue yang asyik dan
gembira. Avenue ini dikelilingi Gedung-gedung tinggi, dan dinamakan Gwanghwamun
Square. Mengamati avenue ini, lalu saya teringat inilah lokasi dari filem
action Iris, filem serial drama TV yang popular di Korea, dimana aksi
kejar-kejaran yang mendebarkan, dan perkelahian terjadi. Kim Hyeon-jun (Lee
Byung-hun) dan Kim Sun-hwa (Kim So-yeon) berada di Gwanghwamun Square untuk
mencari bom yang ditanam oleh teroris disini di episode 17.
Avenue yang menuju istana sudah ada sejak Seoul
menjadi ibukota Korea. Avenue in lebar buat perjalanan raja dan romobongannya
dari istana ke tujuan lainnya. Di abad ke 20 avenue itu masih lebar, dengan 16
jalur mobil, namun di tahun 2009 Pemerintah memutuskan untuk membuat lapangan
nasional dengan mengubah 10 jalur menjadi lapangan untuk publik untuk
bergembira dan bersosialisasi. Demikianlah terjadinya Gwanghwamun Square.
Di tengah lapangan ini berdirilah patung dari Raja
Sejong yang Agung, raja ke-empat dan yang paling dihormati dari dinasti Joeseon
dan pencipta Hangeul, alphabet Korea. Kebetulan saya melihat filem The King’s
Letters di penerbangan dengan Asiana, sebuah filem sejarah yang menggambarkan
Raja Sejong mengambil risiko mempertaruhkan reputasinya untuk menciptakan
Hangeul, alphabet Korea bagi rakyatnya. Filem itu cukup menarik untuk ditonton,
menimbang topic yang membosankan dan akademis tentang pembentukan bahasa Korea
tertulis. Pastilah tidak mudah membuat filem yang menarik dari topic yang
demikian.
Lebih jauh, terdapat patung Admiral Yi Shun-shin,
komandan angkatan laut yang terkenal akan kejayaannya terhadap angkatan laut
Jepang ketika penyerbuan Jepang ke Korea (1592-1598) dan seorang pahlawan bagi
rakyat Korea. Di depan patung itu terdapat miniature kapal kura-kura yang
dibuat sang Admiral, dan disetiap pojok ada gendang yang dipakai untuk
meningkatkan moral para prajurit menuju medan perang.
Pada bulan Oktober itu, ‘Hi Seoul Festival’ sedang
berlangsung di Gwanghwamun Square. Festival itu adalah festival besar tahunan
bagi pertunjukan kesenian untuk mempromosikan kebersatuan international dengan memungkinkan
orang-orang berkomunikasi melalui music dan pertunjukan non-verbal, melampaui
batas-batas bahasa, ras dan usia. Ratusan pertunjukan dari kelompok-kelompok
dari seluruh dunia dipanggungkan selama seminggu festival ini.
Namun, festival ini bukan hanya perayaan.
Berhubung tragedy kapal Sewol baru terjadi beberapa bulan sebelumnya, ada
kenangan bagi korban-korban tenggelamnya kapal itu dipertunjukan disana. Ada
poster-poster yang menggambarkan kesedihan orang tua, kawan dan saudara-saudara
para korban, beberapa poster menunjukan kemarahan atas cara pemerintah menangani
tragedi ini.
Dari ke 476 penumpang dan awak kapal, 304
meninggal di kecelakaan itu, yang terbanyak adalah para pelajar sekitar 250
orang dari SMA Danwon, kota Ansan. Tenggelamnya kapal MV Sewol menimbulkan reaksi
sosial dan politik yang meluas di Korea Selatan. Banyak orang mengkritik kapten
dan sebagian besar awak kapalnya. Juga dikritik operator kapal ferry itu dan
pemerintah yang mengawasi operasi kapal itu, termasuk pemerintahan presiden
Park Geun-hye akan tindakannya untuk mengendalikan bencana itu.
Ketika saya memasuki ruang pertemuan utama dari Istana
Gyeongbokgung, saya menatap ke langit-langit dan saya takjub melihat ornamen
warna warni, merah, biru dan hijau, yang berbunga-bunga di bagian sudut-sudut
atap. Saya bisa melihat gambaran agung
dari naga-naga di langit-langit itu, menunjukan dua ekor naga kuning terbang di
langit. Di dalam tradisi Timur, warna kuning diasosiasikan dengan lokasi sentral,
jadi kuning adalah warna pusat kekekuasaan.
Sejak jaman dulu naga-naga adalah bagian dari mitologi
Timur, dan juga simbol utama bagi kekuasaan dan martabat raja. Naga yang
terbang ke angkasa melambangkan yang diharapkan agar seorang yang bijaksana
akan naik takhta. Hal ini berasal dari mitologi dimana seekor naga yang sudah
lama disembunyikan di laut bangkit dan terbang ke atas menuju langit. Jadi naga-naga terbang yang digambarkan di
langit-langit, dan juga yang di kanopi di atas takhta raja melambangkan posisi
sentral raja, dari mana ia memerintah dunia sekitarnya dengan kekuasaan dan
martabat.
Berjalan sekeliling situ, saya juga melihat banyak lagi
figur hewan-hewan di istana itu, hewan-hewan ini merupakan simbol keberuntungan
yang menandakan panjang umur, kedamaian dan kesejahteraan, dan kebahagiaan.
Termasuk diantaranya qilin, gajah, rusa, dan bangau terpatri di ruang pertemuan
dari Istana Gyeongbokgung. Ada pula hewan-hewan yang diaksudkan untuk mengusir
roh-roh jahat dan menghindarkan ketidakberuntungan. Diantaranya adalah cheollok
yang terlihat di jembatan Yeongjegyo di Istana itu, ketika roh-roh jahat atau
orang jahat menyeberangi jembatan itu, hewan-hewan mitologis ini menyerang dan
mengusir mereka.
Raja Taejo, raja pertama dan pendiri dinasti Joseon, di
tahun 1392 memutuskan untuk memindahkan pemerintahan ke Hanyang (Seoul
sekarang) di tahun ketiga pemerintahannya, dan memulai pembangunan Istana
Gyeongbokgung di tahun 1394. Lokasinya dikelilingi 4 gunung, gunung Bugaksan di
sebelah Utara, gunung Namsan di Selatan, gunung Naksan di Timur dan gunung
Imwangsan di Barat. Tata letak gunung-gunung ini dipercayai akan member
fengshui yang bagus bagi Gyeongbokgung.
Pembangunan dari istana mulai di bulan Desember 1394 dibawah
pengawasan Jeong Do-jeon, seorang menteri pemerintahan yang berpengaruh, dan
rekannya Sim Deokpu. Jeong Do-jeon yang juga adalah sarjana Confusius yang
terkemuka, merancang istana itu mencerminkan filosofi dari Confusianisme. Dia
ingin merefleksikan prinsip-prinsip dinasti Joseon berdasarkan idealisme
Confusius. Menurut Confusianisme seseorang
haruslah melatih jiwa dan badannya sebelum dia bisa mengajar orang lain dan
memerintah dunia.
Karenanya Jong Do-jeon menyarankan bahwa istana itu
janganlah menjadi simbol kedaulatan kekuasaan, tapi sebuah tempat dimana raja
mengolah jiwanya dan memerintah rakyatnya dengan bantuan pegawai pemerintah
yang baik. Dia ingin membangun istana yang bukannya megah atau menawan, tapi
rada sederhana dan anggun. Membangun istana yang mewah bukanlah salah satu
nilai dari Confusianisme.
Jong Do-jeon also gave name to the palace Gyeongbokgung, which
means the ‘Palace of Shining Blessings’. ‘Gyongbok’ is a word borrowed from one
of the Confucian scriptures which means ‘to enjoy good fortune and prosper’. The
word ‘gung’ means palace, so ‘Gyeongbokgung’ suggested good wishes to the new
dynasty.
Jong Do-jeon juga memberi nama istana itu Gyeongbokgung,
yang berarti ‘Istana dengan Rahmat bersinar’. ‘Gyongbok’ adalah kata yang
diambil dari salah satu kitab Confucius yang berarti ‘nikmati keberuntungan dan
makmur.’ Kata ‘gung’ berarti istana, jadi ‘Gyeongbokgung’ menyarankan harapan
baik bagi dinasti yang baru.
Di sore hari ketika jalanan di Myeongdong ditutup bagi
lalu-lintas, gerobak-gerobak jajanan mulai berdatangan menyajikan berbagai
panganan Korea. Ketika lampu-lampu neon dihidupkan asap dari panggangan
menyerbak ke udara memancing air liur.Anda dapat menelusuri gerobak demi gerobak memilih panganan berdasarkan
bentuk dan aromanya.
Namun, tidak seperti Bangkok di mana anda dapat makan makanan
besar di pinggir jalan, di Seoul jenis makanan piggir jalan lebih menjurus ke
jajanan yang bisa dimakan sambil berdiri atau jalan, melayani pendusuk Seoul
yang berjalan dari subway ke subway.
Di tengah padatnya ruas-ruas jalan di Myeongdong,
gerobak-gerobak makanan berbaris di antara hotel-hotel, toko-toko kecantikan,
restoran , café dan kelab malam. Myeongdong adalah tempat tujuan utama bagi
wisatawan di Seoul. Dari gerobak ke gerobak anda bisa mencari panganan, namun
anda harus mencicipi dulu Tteokbokki, yang merupakan adonan nasi dengan ikan,
telur, bawang dan saus merah asam manis. Padatnya adonan nasi itu
dikombinasikan dengan aroma bawang dan biji-biji wijen membuatnya panganan
sedap di malam yang sejuk. Harga satu porsi Tteokbokki antara 2000 ke 4000 KRW.
Photo by 709 K, Wikimedia
Bersama Tteokbokki yang agak pedas, anda bisa memakannya
dengan Gimbap, nasi gulung seperti lemper atau sushi, yang berisi nasi ketan –
‘bap’ yang digulung dalam lembaran rumput laut – ‘Gim’, diisi dengan berbagai
bahan seperti sayuran, ikan tuna, stick kepiting, acar dan berbagai variasi.
Seporsi hidangan dari 3 atau 4 potongan Gimbap berharga sekitar 1500 KRW.
Photo by cutekirin, Wikimedia
Lalu anda bisa mencoba Hweori Gamja atau kentang tornado
yang merupakan panganan jalanan yang sangat populer di Korea. Kentang Tornado
merupakan kentang goring yang dipotong spiral seperti tornado, yang kemudian
dicelup kedalam berbagi macam saus. Sausnya bisa keju, sambal merah, madu atau
gula merah. Kentang Tornado ini panganan yang sedap, mudah dimakan sambil
jalan-jalan di pasar malam Myeongdong.
Photo by tragrpx, Wikimedia
Setelah makan berbagai panganan anda lalu dapat makan menu
utama, Sundae. Jangan salah ini bukan ice cream, ini adalah sosis darah ala
Korea. Walaupun keliatannya tidak merangsang selera, warnanya hitam, ternyata
rasanya enak. Sundae ini berasal dari periode Goryeo, yang dicatat dalam buku
masakan abad 19, dan dimaksudkan untuk dihidangkan untuk acara- acara khusus.
Tergantung penjualnya, sosis darah ini dapat diisi dengan daging, bihun dan
berbagai sayuran. Seporsi harganya sekitar 6000 KRW.
Photo by SauceSupreme, Wikimedia
Nah, sekarang anda pasti sudah kenyang, kalau belum cobalah
Ppopgi. Ini adalah gula-gula jaman dulu, biasanya dijual dan dibuat oleh
generasi tua Korea. Ppopgi ini terbuat hanya dari dua bahan yakni baking soda
dan gula, namun teknik dan timing adalah factor-faktor penting untuk pembuatan
ppopgi yang benar. Setiap ppopgi memiliki berbagai pola cetakan, dulu ketika
anak-anak dapat memakan ppopgi di sekitar pola cetakan tanpa mematahkannya,
mereka akan mendapat ppopgi gratis dari penjualnya. Cobalah, ppopgi itu lebih
keras dari pada penampilannya.
Kita bisa katakan bahwa jalanan Myeongdong,
pusat perbelanjaan di Seoul, adalah wajah Korea modern yang dikendalikan oleh
“Hallyu” atau “Gelombang Korea” yang merupakan istilah kolektif bagi
perkembangan yang fenomenal dari kebudayaan pop Korea yang mencakup segalanya
mulai dari musik, filem, drama samapai ke pakaian dan makanan. Gelombang Korea mulanya menyebar ke Tiongkok
dan Jepang sekitar tahun 2000, dan kemudian ke Asia Tenggara dan beberapa Negara
di dunia di mana ia terus memiliki pengaruh yang kuat dan menjadi salah satu
fenomena kebudayaan terbesar di Asia.
Saat kita berjalan di Myeongdong kita
bisa melihat berbagai tanda mata dari K-pop dan K-drama di toko-toko, mulai
dari calendar, cangkir kopi, ke T-shirts, kaus kaki dan bahkan keripik kentang,
hampir segalanya menampilkan wajah selebritis terkemuka negara ini. Kita bisa
melihat wajah dari group K-pop Girl’s Generation, Blackpink, atau boy group Exo
, Super Juniordi baju dan alat tulis
menulis, dan kita bisa melihat jejak-jejak dariWinter Sonata, Autumn in My Heart, atau My Sassy Girl dipajangan untuk
mengingatkan kita akan filem drama TV Korea yang terkenal.
Masa kini kebudayaan pop Korea juga
mempengaruhi baik wanita maupun pria di Asia untuk menyukai produk pemeliharaan
kulit dan make-up buatan Korea.Yoona
dari group Girls’ Generation yang terpilih sebagai model bagi Innisfree, dan
Taeyeon yang juga dari Girls’ Generation mewakili Nature Republic , dengan
image bersih mereka berhasil meluncurkan kosmetik-kosmetik buatan Korea menjadi
merek yang dikenal secara global. Maka di tahun-tahun ini kosmetik Korea mendobrak
Asia di hampir semua penjuru. Dari face masks dan body cream sampai ke cairan
pembersih dan hand lotions, Korea memiliki produk-produk kecantikan yang
merupakan salah satu yang terbaik dan yang paling terjangkau di pasar. Oleh
karena itu baik toko kosmetik kecil maupun departments store di Myeongdong
selalu dipenuhi pembelanja yang mencari produk-produk dari The Faceshop,
Innisfree, Missha, Nature, Tony Moly, Etude House dsb.
Myeongdong yang dalam bahasa Korea
berarti “terowongan terang” atau “gua terang” barangkaliimage-nya telah dibentuk oleh kesan terang,
mengkilat dan terpoles dari tempat ini dan idola-idola popKorea. Anda bisa melihat dimana-mana
iklan-iklan di “terowongan terang” ini menampilkan wajah-wajah cantik
mempromosikan pakaian dengan merek mewah, kosmetik yang memuluskan dan aneka
asesori pakaian. Baik di billboard yang
gemerkap maupun di layar TV, jaket, topi dan baju bisa menjadi ikonik ketika
dipakai oleh Chanyeoul dari Exo, Nayeon dari Twice atau Suga dari BTS.
Department Store yang bertingkat-tingkat dan toko-toko kecil tumbuh menjamur
bertindak sebagai panggung yang mengajak anda untuk membeli pakaian-pakaian
bergaya mutakhir, dengan seorang K-pop idol dari karton berdirimenyambut anda di muka pintu.