Dalam perjalanan menuju Vatican, kami melihat
sebuah bangunan bulat besar yang menyerupai kue tart coklat, di tepi sungai
Tiber. Bangunan ini adalah Castel Sant’Angelo, yang juga dijuluki ‘Kue
Perkawinan’ oleh penduduk lokal karena bentuknya yang menyerupai kue. Sekarang
bangunan ini berfungsi sebagai museum dan memiliki sejarah panjang yang bermula
dari jaman Roma kuno. Mula-mula bangunan ini adalah kuburan dari Kaisar Hadrian
di tahun 138, lalu menjadi benteng pertahanan di tahun 401, dan lalu berfungsi
juga sebagai penjara selama berabad-abad. Di antara narapidananya ada pematung Benvenuto
Cellini yang dituduh atas kejahatan sodomi; filsuf Giordano Bruno, yang dihukum
mati karna murtad terhadap gereja; Giuseppe Balsamo, dikenal sebagai dukun
palsu; Beatrice Cenci, wanita terhormat yang dihukum mati atas tuduhan membunuh
ayahnya yang kasar. Penjara ini juga menjadi panggung drama untuk lakon ketiga
dari opera Tosca karya Giacomo Puccini. Dalam lakon tragis ini, Tosca, yang
hancur hati atas kematian kekasihnya, melompat dari dinding penjara menuju
kematian untuk menghindari penangkapan oleh musuhnya.
Di puncak bangunan ini kita bisa melihat
patung malaikat yang menggenggam pedang tapi bukan dengan posisi menantang,
melainkan malaikat ini digambarkan menurunkan pedangnya untuk disarungkan
kembali. Mengapa demikian? Menurut legenda, di akhir abad ke 6, ada pandemi
yang sangat dahsyat yang melanda daerah ini, ribuan orang sakit dan mayat-mayat
bertumpuk di jalanan. Penyakit ini merambat ke Utara sampai ke Denmark dan ke
Barat ke Irlandia, lalu ke Afrika, Timur Tengah dan Asia Kecil.
Paus Gregory lalu memimpin prosesi melalui
kota ini, berdoa ke Tuhan untuk menyelamatkan orang-orang yang masih
hidup.Menatap ke kuburan tua Kaisar
Hadrian, yang sudah lama jatuh tak terpakai dan runtuh, Paus Gregory mendapat
penglihatan akan sebentuk bersinar di atas kuburan besar itu. Ia adalah
Malaikat Michael, dengan sayapnya yang melebar, bersinar terang memegang pedang
berdarah yang lalu diturunkan memasukkannya ke dalam sarungnya kembali. Paus
melihat penampakan ini sebagai tanda akan berakhirnya pandemi yang meraja lela
selama 50 tahun. Dan memanglah setelah penampakan ini, pandemi berakhir,
sehingga bangunan itu dinamai Castel Sant Angelo – Istana Malaikat Kudus.
Patung tembaga Malaikat Michael yang berdiri sekarang di puncak bangunan ini
diciptakan di tahun 1748 oleh Peter Anton von Verschaffelt, pematung Flemish,
untuk menggantikan patung marmer yang sudah rusak dimakan waktu.
Photo: Wikimedia
Castel Sant’Angelo lambat laun berubah menjadi
benteng dan di tahun 1277 diambil alih oleh Tahta Suci. Paus-Paus menggunakan tempat ini sebagai
pelarian di dalam struktur benteng ini dalam keadaan bahaya. Keadaan di dalam
benteng ini mungkin kurang nyaman, sehingga Paus Paulus III menghias banyak ruangan di
sini dengan fresko-fresko yang indah, sebagian besar dikerjakan oleh Perino del Vaga. Ruangan
yang paling indah tentunya adalah Sala Paolina, yang dinding dan
langit-langitnya dihias dengan mewah. Di awal abad ke 14, tepat ini menjadi
kediaman musim panas bagi Paus. Di tahun 1901 bangunan ini diubah menjadi
sebuah museum nasional, dengan nama Museo Nazionale di Castel Sant’Angelo.
Berjalan kaki sekitar 1 km dari Fontana di
Trevi, kita akan menjumpai Spanish Steps (Tangga Spanyol). Berjalan kaki hanya
sekitar 15 menit, namun di tempat ini, kita bisa menjumpai banyak
bangunan-bangunan menarik di setiap sudut, jadi perjalanan bisa lebih lama
kalau anda juga ingin melihat-lihat.
Tangga besar Spanish Steps ini berawal dari
Piazza di Spagna (Lapangan Spanyol) naik menuju ke gereja Trinità dei Monti.
Dengan 135 anak tangga, dibangun di tahun 1725 dan dirancang oleh Alessandro
Specki dan Francesco De Santis, adalah tempat favorit bagi turis untuk duduk,
rileks dan menikmati pemandangan Piazza di Spagna di bawah. Piazza di Spagna
sendiri adalah lokasi kedutaan Spanyol untuk Vatican di abad ke 17. Jadi nama
Spanyol di teruskan menjadi nama lapangan dan tangga ini juga.
Ketika saya menaiki Spanish Steps di sebuah
siang di musim semi, dalam sementara waktu saya teringat lagu “Credo” dari
kelompok rock Refugee:
Aku
percaya akan jeda yang teratur
Seperti sebuah liburan
di Roma
Dan aku kerap
berhenti untuk udara
Ketika aku menaiki Tangga
Spanyol
Memang saya kerap berhenti untuk udara, dan
mendekati puncak tangga itu saya juga berhenti dan melihat ke bawah ke Piazza
di Spagna. Lapangan ini adalah sebuah tempat penting yang menghubungkan ke
tempat-tempat bersejarah di kota ini dan tempat nongkrong terkenal bagi
penduduk lokal maupun asing. Banyak jalan-jalan Roma yang paling ikonik
bercabang dari lapangan ini, seperti Via del Condotti, Via del Babuino, Via
della Propaganda dan Via Sistina.
Di tengah lapangan itu terdapat Fontana della
Barcaccia, air mancur yang menampilkan sebuah kapal yang setengah tenggelam.
Patung batu ini dirancang oleh Pietro Bernini, ayah dari Gian Lorenzo Bernini.
Nama Fontana della Barcaccia berarti “Air Mancur Kapal Tua” karena bentuknya
seperti kapal tenggelam berdasarkan sebuah legenda rakyat. Menurut legenda ini,
ketika sungai Tiber meluap di tahun 1598, banjir membawa sebuah kapal kecil ke
Piazza di Spagna. Ketika air surut, kapal itu terdampar di tengah lapangan ini,
dan menjadi inspirasi bagi kreasi Bernini.
Saya dengan senang hati mengunjungi gubuknya Martin, yang sering
disebut sebagai “die Hütte", di Todtnauberg, di pinggir Black Forest,
diJerman bagian Selatan. Dia menganggap
pengasingan yang disediakan oleh hutan ini sebagai lingkungan terbaik untuk
mendalami pemikiran filosofisnya, dan inilah tempat dia menulis bukunya yang
paling terkenal ‘Being and Time” (Keberadaan
dan Waktu).
Gubuk ini kecil saja, 6 meter kali tujuh, dengan
langit-langit
yang menggantung rendah mencakupi tiga ruangan: dapur, yang juga ruang tempat
tinggal, kamar tidur dan ruangan kerja. Tersebar dengan jarak yang lebar di sepanjang dasar
lembah yang sempit dan di lereng yang sama curamnya di seberangnya, terdapat
rumah-rumah petani dengan atap besar menggantung. Di tempat yang lebih tinggi
lereng padang rumput mengarah ke hutan dengan pohon cemara yang gelap, tua dan
menjulang… Ini adalah dunia kerjanya.
Hari itu ia mendaki gunung, lalu turun dengan
ski, dia adalah pendaki gunung yang rutin dan pemain ski yang ulung. Saya
menyalaminya di muka pintu gubuk profesor yang pendek dan gempal ini dengan mata warna gelap yang
tajam, mukanya memerah karna matahari. Kami duduk di dekat maja kopi, siap
untuk mendiskusikan ‘Being and Time’.
Aku berkata:
“Menurut Platon, kebenaran ditentukan oleh
bagaimana hal ini berhubungan dengan dunia dan apakah hal ini secara akurat
sesuai dengan dunia itu, keyakinan yang benar dan pernyataan yang benar sesuai
dengan fakta. Apa kebenaran menurut anda?”
Martin, berbicara perlahan dan terarah:
“Bagi Platon, dan mereka yang mengikuti,
kebenaran berarti ketepatan faktual, korespondensi antara pengetahuan,
penilaian, dan objek. Pandangan kebenaran ini menyiratkan bahwa pengalaman
kebenaran terstruktur dalam kaitannya dengan hubungan antara subjek dan objek.
Ada perbedaan esensial antara memandang kebenaran ketepatan faktual, dan kebenaran
sebagai ke-takterselubungan, Aletheia. Kebenaran sebagai ketepatan faktual
telah mengabaikan pengalaman kebenaran sebagai celah yang membiarkan
ke-takterselubungan muncul. Dalam ke-takterselubungan, kebenaran tidak saja,
kebenaran tidak hanya terletak dalam penilaian, tetapi dalam mengadanya manusia
itu sendiri.Untuk mengambil hal-hal
nyata dari yang terselubung menjadi yang takterselubung, Aletheia, membutuhkan
'cahaya' tertentu. Cahaya ini adalah hal mengada (Dasein) itu sendiri, mengada
di dunia. Karena sikap terbuka Dasein, yang melibatkan keterlibatan dengan
dunia secara keseluruhan, ia mampu menyingkapkan keterselubungan, membuka
dunianya sendiri.”
Aku berkata:
“Anda diberitakan mengamati lukisan ‘Sepasang Sepatu’ dari Van Gogh di suatu
pameran lukisan di Amsterdam dan anda terkesan dengan lukisan itu. Ceritakan
bagaimana kesan anda akan lukisan itu.”
Photo: Wikimedia
Martin, tersenyum:
“Selama kita hanya membayangkan sepasang
sepatu secara umum, atau hanya melihat sepasang sepatu kosongyang tidak terpakai sebagai sepatu yang hanya
tampil dalam lukisan, kita tidak akan pernah menemukan apa sebenarnya
keberadaan dari perlengkapan itu sebenarnya. Dari lukisan Van Gogh kita bahkan
tidak tahu di mana posisi sepatu ini. Tidak ada apa pun di sekitar sepatu
petani ini atau di mana sepatu mungkin berada - hanya ruang yang tidak
tertentu. Bahkan tidak ada gumpalan tanah dari ladang atau jalanan ladang yang
menempel pada sepatu itu, yang setidaknya akan mengisyaratkan penggunaannya.
Sepasang sepatu petani dan tidak lebih dari itu. Namun…
Dari bukaan gelap bagian dalam sepatu yang
sudah usang, tapak pekerja yang kelelahkan itu menatap ke muka. Dalam kekakuan
dan keusangan sepatu yang memberatkan itu, ada ketekunan yang terkumpul dari
perjalanan petani wanita yang lamban melalui alur-alur ladang yang tersebar
luas dan senantiasa seragam disapu angin kencang. Di kulit sepatu terdapat
kelembapan dan kesuburan tanah. Di bawah sol sepatu meluncur kesepian alur-alur
ladang di saat malam tiba. Dalam sepasang sepatu bergetar panggilan sunyi
bumi,hadiah terselubungnya biji-biji
gandum yang matang dan penolakan diri yang tak terjelaskan dalam kegetiran hampa
ladang yang dingin.”
Aku berkata:
“Pandangan anda tentang lukisan sepatu tua
yang usang ini sangat menarik, hal ini menyingkapkan wujud sepatu dan dunia
petani wanita itu kepada kami. Lukisan itu memberi tahu kita apa sebenarnya
sepatu itu, dan itu tidak terlepas dari entitas-entitas di dunia, termasuk yang
menyingkapkan keterselubungan entitas itu dan juga diri sendiri, Dasein.
Menurut buku anda “Being and Time” hal ini adalah Dasein otentik, Being-in-the
world , Keberadaan di dunia, yang otentik, sebagai pemahaman Dasein tentang
kebenaran.
Martin:
“Ke-takterselubungan dapat terjadi secara
otentik, tanpa serangkaian sifat yang diwariskan. Entitas pada awalnya berwujud
tetapi tetap terselubung dalam hal yang paling otentik dirinya. Keotentikan
sebaliknya, terdiri dari pembelajaran Dasein untuk “mengungkap dunia dengan
caranya sendiri… menyingkapkan dunia adalah… selalu dicapai sebagai pembersihan
dari keterselubungan dan ketidakjelasan, sebagai pemutus penyamaran yang
dengannya Dasein menghadang jalannya sendiri.”
Saya berkata:
“Anda selanjutnya menjelaskan bahwa Dasein
otentik berarti menjadi dirinya sendiri, bukan orang lain, Dasein yang tidak
tunduk pada pernyataan massa, publik, yang anda sebut sebagai 'das Man', atau
'mereka'. Dasein otentik tidak memilih untuk mengikuti selera, minat, mode,
budaya pop yang dijadikan barang konsumsi. Dasein otentik dengan demikian menentang
Dasein publik yang tidak autentik, yang merupakan Dasein ketika tunduk pada
kendali ‘bukan-diri-sendiri’, publik, 'mereka', das Man. Dasein otentik memilih
kemungkinannya sendiri dan bertindak berdasarkan kemungkinan itu, menutup
kuping terhadap suara das Man dan dengannya pemahaman publik tentang dunia.”
Martin:
“Ya, Dasein adalah otentik dirinya sendiri
hanya sejauh, sebagai Keberadaan yang peduli, Keberadaan yang mendampingi,Keberadaan bersama dan Keberadaan bersama
yang prihatin, ia memproyeksikan dirinya pada potensi-untuk-Keberadaan-nya yang
paling pribadi, dan bukannya terhadap kemungkinan das Man. Menjadi otentik
membutuhkan proses penegasan diri dan pembebasan diri dari godaan pemahaman
yang tidak otentik. Dalam keadaan normal, secara hidup sehari-hari di dunia,
Dasein di bawah dominasi pemahaman yang tidak
autentik. Dasein memiliki kecenderungan untuk tenggelam dalam kegundahan dan
kemungkinan yang ditampilkan dunia sebagai berharga.
Das Man menghibur Dasein dengan menyembunyikan
kebenaran darinya, tindakan yang Dasein terlibat. Hasilnya, Dasein tersebut
dalam kesehariannya dibebaskan dari beban oleh das Man. Tidak hanya itu; dengan
membebaskannya dari beban Keberadaannya, das Man terus melibatkan Dasein dengan
jika Dasein memiliki kecenderungan untuk mudah menyerap segala sesuatu dan
membuatnya mudah. Dan karena das Man terus-menerus melibatkan Dasein tersebut
dengan membebaskan beban dari Keberadaannya, das Man mempertahankan dan
meningkatkan dominasinya yang merongrong.Ketidak -otentikan adalah cara hidup yang ‘menenangkan’.
Aku berkata:
“Apa yang anda maksud dengan Ketidak-otentikan
sebagai cara hidup yang ‘menenangkan’?
Martin:
“Dalam menggunakan sarana transportasi umum
dan menggunakan layanan informasi seperti koran, setiap
Orang Lain adalah seperti yang berikut. . . . Kita menikmati dan
menyenangkan diri kita sendiri sebagaimana Mereka, de Man, menikmatinya; kita
membaca, melihat, dan menilai tentang sastra dan seni sebagaimana yang Mereka
lihat dan nilai; dan juga kita menyusut kembali dari 'massa besar' saat mereka
menyusut kembali; kami menemukan apa yang 'mengejutkan' ketika menurut Mereka
mengejutkan.”
Saya berkata:
“Dalam 'The Question Concerning Technology'
anda memandang teknologi secara negatif. Teknologi, terlepas dari kontribusinya
bagi umat manusia di era modern ini, anda gambarkan sebagai ancaman utama bagi
Dasein yang otentik.”
Martin:
“Kehadiran teknologi mengancam pengungkapan,
mengancamnya dengan kemungkinan bahwa semua pengungkapan akan dikonsumsi secara
sistematis dan bahwa segala sesuatu akan memunculkan diri hanya dalam
ke-takterselubungan sumber daya yang tersedia. Aktivitas manusia tidak pernah
bisa langsung melawan bahaya ini. Prestasi manusia sendiri tidak akan pernah
bisa menghapuskannya. Tetapi refleksi manusia dapat merenungkan fakta bahwa
semua kekuatan penyelamat harus memiliki esensi yang lebih tinggi daripada yang
terancam punah, meskipun pada saat yang sama menyerupainya.”
Saya berkata:
“Dalam hal apa teknologi berbahaya bagi
keberadaan manusia?”
Martin:
“Zaman modern kita saat ini adalah zaman
teknologi yang memanifestasikan cara tertentu dalam memahami dan menafsirkan
dunia, permesinan, seperti halnya das Man memanifestasikan pemahaman publik
tentang dunia.
Permesinan, sebagai mode pemahaman teknologi,
adalah suatu "goyangan keberadaan”. Permesinan memperluas goyangannya
sebagai kekuatan yang mengancam. Dengan memperoleh kekuasaan, kekuatan yang
mengancam ini berkembang sebagai kemampuan penaklukan yang segera dapat meledak
dan selalu dapat berubah kemampuan untuk menaklukkan. ... Sejauh di zaman permesinan
yang diberdayakan dengan kekuatan mengancam yang tak terbatas, manusia juga mencengkeram
dirinya sebagai hewan makhluk hidup, satu-satunya hal yang tersisa bagi manusia
itu sendiri. . . adalah penampakan pernyataan diri di hadapan makhluk-makhluk.
Tetapi 'zaman teknologi' jauh lebih dari
sekadar kendali atau perbudakan manusia oleh teknologi. Pemahaman yang dominan
tentang realitas di zaman teknologi sebagian besar dicakup oleh istilah
'keterberhitungan,' yang berarti bahwa segala sesuatu yang nyata dipahami dalam
istilah satuan tertentu, dapat dihitung, dapat diatur, dari apa yang dapat
diproduksi atau digunakan untuk produksi.
Permesinan memelihara lebih dahulu perhitungan
yang sepenuhnya dapat diawasi demi menaklukkan memberdayakan makhluk menuju aturan yang dapat
dijelajahi. Permesinan memelihara lebih dulu pemahaman tertentu tentang makhluk-makhluk
sehingga mereka dapat dijelajahi karena dapat dihitung. Penjelajahan ke makhluk-makhluk
ditentukan oleh perhitungan; untuk memahami arti makhluk-makhluk , seseorang
harus dapat memahaminya dengan cara yang dapat dihitung. Realitas diatur,
dipesan, sesuatu dihitung dan digabungkan dari bagian-bagian.
Apa yang dapat berada, menurut zaman
teknologi, harus dapat dihitung; dunia dipahami sebagai yang dapat dihitung,
target dan tujuan dipahami dalam hal perhitungan dan produktivitas, yaitu,
sebagai entitas tertentu yang terdiri dari kekuatan potensial yang dapat dikendalikan
demi tujuan.
Saya berkata:
“Dengan berbicara begitu, seandainya ada yang
bisa dilakukan, apakah yang bisa dilakukan seseorang?
Martin:
“Di mana pun manusia membuka mata dan
telinganya, membuka hatinya, dan menyerahkan dirinya untuk merenung dan
berjuang, membentuk dan bekerja, memohon dan berterima kasih, dia menemukan
dirinya di mana-mana sudah dibawa ke dalam yang takterselubung.
Sikap yang tepat manusia adalah memperlambat,
menarik napas, dan mengamati dunia sekitar. Manusia selalu berada di dunia yang
penuh dengan makna yang datang dari luar dirinya, dan langkah terpenting untuk
menyadarinya, dengan menjauh dari kesibukan modern dan membiarkan dunia itu
sendiri menampilkan dirinya apa adanya, tanpa mencoba untuk menguasainya. ”
Saya berkata:
“Dalam ‘The Origin of the Work of Art’ anda
mengatakan bahwa hakikat seni adalah puisi dan hakikat puisi, sebagai gantinya,
adalah pendirian kebenaran. Sebuah karya seni memiliki kemampuan untuk mendirikan
dunia. Dunia adalah keterbukaan yang membuka diri dari jalan-jalan lebar
keputusan sederhana dan penting dalam takdir manusia bersejarah. Seni
menciptakan makna dengan membiarkan kebenaran muncul, yang dengannya Keberadaan
menjadi dapat dipahami. Makna sebuah karya seni tidak dapat dipisahkan dari
percakapan yang digagas dan dikehendaki senimannya.
Bisakah Anda menjelaskan hal ini. ”
Martin:
“Puisi, sebagai penampakan yang mencerahkan,
yang terungkap dari keterselubungan dan menunju ke depan ke dalam gambaran
sosok itu, adalah keterbukaan yang dijadikan oleh puisi, dan memang sedemikian
rupa sehingga hanya sekarang, di tengah-tengah makhluk-makhluk, keterbukaan
membawa makhluk-makhluk menuju terang dan nyaring.
Saya
ingin mengutip puisi 'Autumn' (Musim Gugur) dari Friedrich Hölderlin:
Kilau alam lebih mengungkapkan,
Dimana dengan banyak kegembiraan hari akan
berakhir,
Ini adalah tahun yang melengkapi dirinya
dengan kemegahan,
Dimana buah datang bersama dengan pancaran
sinar.
Dengan demikian, bola bumi dihiasi, dan jarang
terjadi keributan
Suara lewat ladang terbuka, matahari menghangat
Pada hari musim gugur yang lembut, ladang terbentang
Sebagai pemandangan yang sangat luas, angin
sepoi-sepoi bertiup
Melalui dahan dan cabang, bergemerisik dengan senang
hati,
Ketika sudah menuju kekosongan yang ladang-ladang
memberi jalan.
Makna utuh dari gambaran yang cerah ini tetap
hidup
Sebagai gambaran, kemegahan keemasan melayang
di mana-mana
Puisi Hölderlin ini mampu menyadarkan kita
yang 'mencengangkan' dan ke keajaiban yang 'luar biasa' dalam 'yang biasa'. Kita
memikirkan gambaran dataran yang megah. Namun dataran belum menjadi alam itu
sendiri, 'ada' (sein) bukanlah 'Keberadaan' (Dasein) itu sendiri. Alam
memungkinkan memancarkan semua yang dimiliki daratan. Dalam tampilan daratan,
yang dianugerahkan oleh alam, kilauan alam lebih mengungkapkan, katakanlah,
esensi ilahi. “
TAMAT:
Ini adalah wawancara
imajiner mengenang Martin Heidegger.
Sumber-sumber:
Derek R. O’Connell-
Heidegger’s Authenticity
https://core.ac.uk/download/pdf/158301888.pdf
MJ Geertsema -
Heidegger’s onto-poetology: the poetic projection of Being
Kemana saja kita pergi, monumen-monumen megah
biasanya terdapat di lapangan luas yang terkenal untuk menonjolkan keberadaan
yang megah dan keutamaan monumen itu. Kita bisa dengan mudah menavigasi
keberadaan monumen karena lokasinya pastilah umum diketahui dan kita bisa
melihat lokasi itu dari kejauhan. Tapi
monumen yang akan kita kunjungi ini berbeda, monumen ini terjebak di lapangan
sempit yang dikelilingi bangunan-bangunan, restoran-restoran dan toko-toko di
tengah kota. Banyak jalanan menuju ke tempat ini, jalan-jalan kecil yang
melalui bangunan-bangunan kuno, restoran-restoran dan toko-toko. Di kelilingi
bangunan-bangunan, ketika kita berjalan kita tidak bisa melihat apa yang di
muka dari kejauhan. Sehingga, datang dari via del Lavatore, ketika belok di
tikungan, monumen ini tiba-tiba muncul di depan mata kita dengan keagungannya,
dengan suara air terjun yang khas. Patung-patung dari tokoh-tokoh mitologi
Yunani kuno mencolok dari kolam air mancur, menampilkan drama di air yang
hijau. Orang-orang berkerumun di pinggir kolam, dan
mencoba mengartikan apa yang ingin diceritakan oleh penampilan ini.
Monumen ini adalah Fontana di Trevi, kolam air
mancur megah yang menampilkan Oceanus, Dewa Lautan, personifikasi ilahi dari
lautan, berdiri
di atas kereta karang untuk menjinakkan air. Kereta karang itu ditarik oleh kuda-kuda bersayap yang dikendalikan
oleh dua Triton, salah satu Triton berkutat dengan seekor kuda yang liar,
sedang Triton yang lain mengendalikan kuda yang jinak. Tema “Taming of the Waters” (Penjinakan
Air-Air) digambarkan dengan gaya baroque yang agung di punggung Palazzo Poli. Dirancang
oleh arsitek Itali Nicola Salvi di tahun 1732 dan diselesaikan oleh by Giuseppe
Panini di tahun 1762 sesudah kematian
Nicola Salvi, dan didekorasi oleh seniman-seniman dari sekolah Bernini. Tampak
depan dan karang-karangnya dibangun menggunakan Travertine, batuan alamiah yang
elegan yang dibentuk oleh mata air panas dekat Tivoli.
Di masa Roma kuno, air disembah sebagai zat
ilahi dan keberadaan air dalam jumlah besar adalah simbol kemewahan dan karena
itu suatu ekspresi kekuasaan. Air Fontana di Trevi disalurkan oleh Aqua Virgo
duct, sebuah aqueduct (saluran air) yang semulanya dibangun oleh Marcus Agrippa
di tahun 19 BC. Aqueduct berfungsi sebagai penyalur air bersih dari sumber air
di dataran tinggi sekitar 13 km jauhnya melalui saluran-saluran di atas
arkade-arkade dan di bawah tanah. Hanya
mengandalkan gravitasi aqueduct menyalurkan air cukup untuk hampir semua
masyarakat, namun adequate hanya memiliki gradasi kemiringan yang kecil untuk
menyalurkannya. Rancangan dan konstruksi untuk membangun aqueduct yang
menyalurkan air dengan volume besar dengan jarak yang jauh dan medan yang
berbeda-beda menunjukkan kekayaan masyarakat yang membangunnya. Dalam konteks
ini, tema “Taming of the Waters” menggambarkan dengan dramatis sang Dewa Lautan
Yunani Oceanus yang menjinakkan air-air seperti halnya aqueduct Roma kuno mengatur
perjalanan
air dan kemampuan masyarakatnya yang mengagumkan untuk mengarahkan dan menguasai air.
Ke sebelas aqueduct di masa Roma kuno mencukpi
penyaluran air ke kota untuk lebih dari satu juta penduduk, namun Aqua Virgo
duct yang berakhir di Fontana di Trevi merupakan satu-satunya aqueduct yang
masih dipakai di masa kini karena sebagian besar salurannya berada di bawah
tanah. Saat ini, sebagian besar airnya didaur ulang untuk memelihara lingkungan
hidup, namun sumber airnya masih dari Aqua Virgo duct masa dulu.
Di dalam kerumunan pengunjung kita bisa
melihat beberapa orang melemparkan koin ke dalam air mancur melalui bahunya.
Kebiasaan ini berasal dari ribuan tahun sebelum Masehi, dimana barang-barang
berharga dilemparkan ke sumber air untuk menyenangkan dewa-dewa air. Dimasa
modern ini, kita masih melakukannya dengan harapan untuk bisa kembali ke Roma.
Sekitar 3,000 Euro dilempar ke dalam kolam air mancur ini setiap hari, uangnya
dikumpulkan setiap malam dan disumbangkan ke amal yang menolong orang-orang
yang kekurangan.
Fontana di Trevi benar-benar kolam air mancur
yang dramatis yang menorehkan kenangan indah tentang Roma, sehingga ketika kita
meninggalkan Roma saat ini dengan berkata “Arrivederci Roma”, Selamat Tinggal,
kita berharap mendengar “Bentornato a Roma”, Selamat Datang Kembali ke Roma”,
lain kali………….