Cari Blog Ini

Senin, 30 April 2018

Kyoto, di Kuil Kinkaku-ji



Kinkaku-ji yang berarti Kuil Paviliun Emas adalah sebuah kuil Zen Budhist yang terletak di kaki bukit Kinugasa yang landai, di Utara Kyoto, Jepang.  Kedua lantai atas kuil ini seluruhnya diliputi daun emas. Bayangan kuil yang dihiasi dengan mewah dalam daun emas ini terlefleksi dengan indah di air danau Kyokochi, yang menjadi danau cermin kuil tersebut.


Paviliun itu yang merupakan bagian dari Kinkaku-ji, taman-taman dan bangunan lainnya, dikatakan dirancang untuk merealisasikan surga Buddhist di dunia. Pada mulanya kegunaan Paviliun ini adalah untuk menjadi tempat tinggal Shogun Ashikaga Yoshimitsu pada masa pensiunnya. Yoshimitsu adalah seorang yang paling berkuasa di masa Muromachi di Jepang. Dia menciptakan fundasi politik yang solid bagi Muromachi shougunate dan mengembalikan hubungan baik antara Jepand dan Cina. Paviliun itu kemudian dijadikan sebuah kuil Zen setelah meninggalnya Yoshimitsu di tahun 1408, dan selanjutnya befungsi sebagai kuil tempat menyimpan relik suci.


Lantai pertama paviliun ini dibuat dalam gaya istana Jepang dan dulunya digunakan untuk pertunjukan teater Noh atau drama tari klasik Jepang. Lantai dua dibuat dalam gaya samurai dan dulunya digunakan sebagai tempat untuk menulis puisi. Lantai ini dibuat dalam gaya Bukke yang diterapkan dalam tempat tinggal para samurai. Di dalamnya sekarang diletakkan Kannon Bodhisattva, sebagai dewi pengasih Kannon membantu orang-orang yang tertekan. Lantai tiga dibuat dalam gaya Cina kuno dan dulunya dipakai untuk meditasi.


Atapnya dibuat dari rajutan rumbia berbentuk piramid. Di atas bangunan itu terdapat ornamen burung Phoenix yang terbuat dari tembaga. Dalam mitologi Jepang, burung Phoenix membawa kehendak baik ketika ia turun dari awan-awan dan biasanya diperlihatkan duduk di atas gerbang menuju kuil Shinto. Ornamen ini menghiasi atap kuil Kinkaku, yang merupakan simbol rumah tangga kerajaan.


Dari luar, orang bisa melihat lapisan emas yang meliputi lantai-lantai bagian atas paviliun itu. Lapisan daun emas yang meliputi bangunan lantai atas menandakan apa yang terletak di dalamnya: altar pemujaan. Bagian luar merupakan refleksi bagian dalamnya. Elemen-elemen alamiah, kematian, agama digabung bersama guna menciptakan hubungan antara Paviliun dan pengaruh dari luar.


Kompleks taman merupakan contoh yang amat baik dari rancangan taman di periode Muromachi. Periode ini dianggap sebagai masa klasik dari rancangan taman Jepang. Hubungan antara bangunan dan lingkungannya banyak ditonjolkan di masa itu. Hal itu merupakan cara untuk mengintegrasikan struktur di dalam taman itu secara artistik.  Rancangan taman dicirikan oleh pengurangan ukuran, memiliki kegunaan utama, dan tatanan yang menyolok. Pendekatan minimalis diterapkan dalam rancangan taman, dengan menciptakan lahan yang lebih luas dengan skala lebih kecil di sekeliling sebuah struktur.
Sumber: Wikipedia




Tidak ada komentar:

Posting Komentar