Cari Blog Ini

Sabtu, 11 Agustus 2018

Wawancara dengan Albert


Dia tinggal di Hôtel du Poirier di rue Ravignan di atas salah satu bukit-bukit di Montmatre, Paris. Tempat itu adalah salah satu tempat yang paling indah di Paris, namun kamar hotelnya gelap dan kosong, hanya ada satu meja untuk menulis.

Mudah dimengerti bagaimana di dalam kamar yang gelap ini, “seseorang merasa seperti orang asing, mendengar suara sebuah kota yang tiba-tiba menjadi asing. Saya bukan dari sini – juga bukan dari tempat lain yang manapun. Dan dunia menjadi hanyalah sebuah tempat tak dikenal di mana hatiku tidak bisa bersandar kemanapun”, begitu ditulisnya di buku catatannya.

Pagi itu dia kelihatan rileks dan menyapa aku dengan salaman yang hangat. Televisinya menyiarkan dengan lantang perayaan Worl Cup Perancis di Champ Elysees. Kerumunan orang seperti bergembira mabuk di nirwana dengan bendera Perancis yang melambai di mana-mana. Nampaknya dia sedang menonton perayaan ini di televisi sebelum aku mengetok pintunya.

Mengetahui bahwa dia adalah penggemar sepakbola yang kental, aku lalu berkata kepadanya:
“Selamat atas kemenangan Perancis di World Cup untuk kedua kalinya, anda pasti sangat bergembira.”

Matanya yang besar bersinar dan dia tersenyum lebar:
“Saya memang sangat bangga kepada mereka. Saya bisa melihat perencanaan yang teliti, kerja keras, disiplin yang ketat dan kecermelangan penembak muda Kylian Mbappé, penyerang tengah Paul Pogba yang gesit dan pertahanan yang tanpa menyerah dari N’Golo Kanté, Raphaël Varane dan Samuel Umtiti. Kerja sama tim yang bagus, sepak bola memang mengenai hal itu.  Dan juga seperti yang disebut Deschamps pelatih mereka: “Kami tidaklah bermain dengan luarbiasa tapi menunjukkan kualitas mental, dan mencetak empat gol bagaimanapun juga.” Pertandingan yang bagus.”

Aku berkata:
“Saya mendegar akan begitu bersemangatnya akan sepakbola, suatu saat anda pernah ditanya pilih sepakbola atau teater, jawaban anda adalah pastilah sepakbola tanpa ragu-ragu.”

Albert:
“Ya memang waktu saya masih muda saya bermain sebagai penjaga gawang untuk Racing University of Algiers, kami memenangkan African Champion Cup di saat itu. Saya belajar dari sepakbola tentang rasa kerjasama tim, kebersaudaraan dan kepentingan bersama,  ini adalah cara belajar yang bagus. Setelah beberapa lama setelah banyak yang saya lihat, pengetahuan saya secara pasti tentang moralitas dan tugas hidup manusia saya dapatkan dari olahraga ini.”

Aku berkata:
“ Percakapan yang bagus, Albert, saya bisa merasakan semangat yang tinggi dan keterlibatan anda akan sepakbola, penghargaan anda yang mendalam akan sepakbola, yang sangat kontras dengan rasa kekosongan, keterasingan, ketakperdulian di dalam hampir semua novel yang anda tulis. Sebagai contohnya bertolak belakang dengan rasa kegembiraan kemenangan anda atas World Cup, coba dengar apa yang anda tulis di pembukaan The Stranger yang menjadi salah satu pembukaan yang paling terkenal di dunia sastra : “Ibu meninggal hari ini, atau mungkin kemarin, aku tidak tahu.”

Albert:
“ Saya banyak meluangkan waktu di saat musim panas di pantai populer Les Sablettes di Algeria. Saya hidup melarat di masa kecil namun juga dengan semacam kesenangan lahiriah, dengan berenang, sinar matahari, pasir dan sepakbola. Saya lelaki Mediterranean, dengan badan sehat yang menyembah keindahan dan badan seperti orang Yunani kuno. Saya berada di antara kesengsaraan dan sinar matahari. Kesengsaraan menghentikan saya akan kepercayaan akan bahwa semua baik adanya di bawah matahari, dan akan sejarah; matahari mengajari saya bahwa sejarah bukanlah segalanya.  Kebersemangatan masa belasan tahun hidup saya terputus, ketika pada umur 17 tahun, dokter-dokter mendiagnosa TBC. Selalu bernapas pendek, saya terpaksa meninggalkan karir sepakbola yang cerah, dan akan terus menderita akan kambuhnya penyakit ini seumur hidup saya.

Pada umur 27 tahun saya meninggalkan Algeria setelah kehilangan pekerjaan ketika koran Alger républicain berhenti beroperasi. Saya mendapatkan pekerjaan di koran Paris-Soir yang membayar tiga ribu francs per bulan untuk bekerja lima jam per hari kerja, dalam pengaturan kerja yang terasa asing. Pekerjaan saya di koran ini tidaklah menarik, saya ditugasi untuk menata halaman empat, mengatur kolom-kolom dan jenis huruf yang berantakan. Setelah bekerja di pagi hari maupun malam hari, saya akan kembali ke kamar hotel saya yang gelap di Montmartre. Suatu ketika, dari atas Montmartre saya melihat Paris seperti kabut raksasa di bawah curah hujan, sebuah kota yang terasa penuh sesak namun juga kosong, dimana di mana hati saya tidak bisa bersandar kemanapun. Saya selalu melihat Paris dengan pandangan mata orang asing.”

Aku berkata:
“Bagaimanapun di  dalam kamar hotel di Montmartre yang gelap itu anda menulis novel anda yang terkenal The Stranger, novel dengan pembukaan yang terkenal itu, tentang Meursault yang mengalami perasaan terpisah dari kenyataan yang membuatnya serasa orang asing di kota kelahirannya di Algeria. Cerita itu memiliki rasa absurdisme yang amat kental, perasaan terputus segenapnya dari orang-orang lain, tidak berdampak, terkucil dan hilangnya makna hidup. Apakah makna absurdisme bagi anda?”

Albert:
 “Pada hari prosesi pemakaman ibunya di Marengo, perasaan yang paling intens yang dialaminya adalah teriknya matahari, silaunya langit yang tak tertahankan, yang membuatnya merasa pembuluh darah nya berdebar di keningnya.  Pemakaman ibunya sendiri tidak memberi suatu makna apapun baginya, dia tidak menangis, dia tidak peduli untuk melihat tubuh ibunya di dalam peti untuk terakhir kalinya.

Perjalanan kembalinya ke Algeria setelah pemakaman terasa bagaikan melegakan baginya. Setelah sampai dia memutuskan untuk pergi berenang dan bertemu Marie Cardona di kolam renang, lalu mereka berenang bersama, di sore hari mereka menonton filem komedi dari Fernadel dan bercinta di tempat tidur di malam harinya.

Bagaimanapun,  di keesokan sorenya dari balkoninya ia berkata: “Sebuah hari Minggu lagi yang berlalu, ibu dikuburkan, besork kembali bekerja, dan, benar-benar, tidak ada satu hal pun yang berubah.”

Aku berkata:
“Pandangan “Mediterranean” ini yang menjangkar pandangan anda kepada tempat di mana anda dibesarkan dan untuk membangkitkan rasa harmonis dan penghargaan akan kehidupan lahiriah.
Badan yang kecokelatan karena matahari menikmati pantai-pantai dan sinar matahri Algeria, berenang, bermain sepakbola, minum-minum dan gadis-gadis. Berlawanan dengan kehidupan Algeria yang penuh sinar matahari, Meursault berkata tentang Paris: “sebuah kota yang rada kotor, menurut saya. Banyak burung-burung dara dan halaman rumah yang gelap. Dan manusianya memiliki muka yang tercuci bersih, wajah yang putih.”

Namun matahari yang panas terik yang sama seperti pada hari pemakaman ibunya, yang memberinya rasa sakit di keningnya, dan yang membuat semua pembuluh darahnya berdebar di bawah kulitnya, cahaya matahari yang bersilau yang sama dan panas teriknya matahari yang sama yang menyebabkannya menembak mati seorang Arab, tidak ada alasan lain selain silaunya cahaya matahari yang meletihkan dan panas teriknya matahari.

Cerita ini menyarankan bahwa meskipun Meursault menikmati kehidupan di bawah sinar matahari Mediterranean, di sisi lain cahaya matahari yang membutakan menyebakannya tidak dapat memberi makna akan pemakaman ibunya, dan panas terik matahari yang sama, bukan sebab lain, yang membuatnya menembak mati seorang Arab.

Inikah alasan mengapa anda memberi judul novel ini The Stranger, hidup secara intens kehidupan Mediterranean, menikmati matahari, badan kecokelatan telanjang di pantai-pantai, gadis-gadis menari dengan berkeringat, namun terputus, tak peduli dan terkucilkan dari kehidupannya?”

Albert, mengutip novelnya The Fall:
“Saya ada di sini tanpa berada di sini: Saya absen pada saat ketika saya mengambil hampir seluruh ruang. Saya tidak pernah benar-benar tulus dan antusias kecuali ketika saya dulu menikmati olah raga, dan di dalam ketentaraan, ketika saya dulu bermain sandiwara untuk menghibur diri kami sendiri. Dalam kedua hal itu ada aturan main, yang tidak serius namun yang kami nikmati seakan-akan serius. Sampai sekarangpun, pada pertandingan hari Minggu di stadion yang penuh sesak, dan di dalam teater, yang saya cintai dengan penuh gairah, di situlah di kedua tempat itu saja di dunia, saya merasa murni.

Namun siapa yang bisa menganggap tingkah laku demikian adalah sah di hadapan cinta, kematian dan penghasilan orang miskin? Namun apa yang bisa kita perbuat? Saya bisa membayangkan cinta Isolde hanya di dalam novel atau di atas panggung. Kadang kala orang di tempat tidur kematiannya seakan meyakinkan saya akan peranan mereka. Kalimat –kalimat yang diucapkan oleh klien-klien saya yang malang selalu memberi kesan akan pola yang sama. Sehingga, hidup di antara manusia tanpa memperhatikan kepentingan mereka, saya tidak dapat mempercayai komitmen-komitmen yang saya buat. Saya cukup sopan dan malas untuk hidup sesuai dengan apa yang diharapkan dari profesi saya, keluarga saya atau kehidupan bermasyarakat saya, namun setiap saat dengan sejenis rasa acuh yang menodai segalanya.”

Aku berkata:
“ Dalam pentutupan The Stranger, Mersault yang menghadapi hukuman mati dengan guillotine mengakui bahwa eksistensi tidak bermakna, namun ia sekarang bersuka cita menikmati rasa sebagai orang hidup.”

Albert, mengutip Meursault:
“ Dan saya, juga, merasa siap untuk mengulangi kehidupan dari awal. Hal itu seakan-akan rasa marah yang meluap-luap telah mencuci bersih diri saya, mengosongkan saya akan harapan, dan, menerawang ke langit yang gelap yang disinari dengan tanda-tanda dan bintang-bintang, untuk pertama kalinya, pertama kali, saya membuka hati saya akan ketidaperdulian yang jinak dari alam semesta.  Untuk merasakan sebagai diri saya sendiri, memang, sangat bersahabat, membuat saya sadar bahwa saya berbahagia, dan saya masih bahagia. Untuk meraih segalanya, bagi saya agar tidak terlalu merasa kesepian, hal yang masih bisa diharapkan adalah bahwa pada hari pemacungan saya akan ada banyak penonton yang menyambut saya dengan lolongan: pancung dia.”

TAMAT
Ini adalah wawancara imajiner mengenang Alber Camus.

Protected by Copyscape Duplicate Content Penalty Protection


2 komentar:

  1. Wah,hebat dan witty sekali wawancara ini.Saya ingin baca lebih banyak wawancara imaginative seperti ini :)

    BalasHapus