Begitu kulihat pintu agak
terbuka dalam sekelebat aku berlari keluar. Kuturuni tangga dari lantai dua ke
lantai satu yang langsung menuju halaman. Halaman itu berumput tebal, dengan
pagar yang tak terlalu tinggi yang dengan mudah kupanjati dan aku terus terjun
keluar. Alangkah leluasanya rasanya berada di luar, aku dengan girang berlari di
trotoar jalan tanpa menengok kanan kiri, aku hanya ingin menghirup segarnya
udara luar yang masih pagi ini. Kulintasi ayam-ayam yang berkotek-kotek panik
ketika aku lewati. Terus aku berlari, melewati penjual rokok, kedai bakso dan
tempat parkir motor. Untung tidak ada yang menghalangi.
Aku memang selalu menunggu
kesempatan seperti ini untuk ngabur ke luar. Alasannya sih mencari udara segar,
tapi sebenarnya aku rindu sama si Lu Lu. Dia itu piaraannya sang Youtuber yang
ngetop se-antero nusantara
yang rumahnya terletak beberapa jalanan dari sini. Iya, namanya Lu Lu. Dengan
tak sabar aku terus berlari, kulewati klinik dokter hewan, mudah-mudahan dia
tidak memergoki aku dan mengenali aku, janganlah, bisa panjang ceritanya kalau
kepergok. Tak kusadari kadang-kadang ada mobil lewat di sebelah aku berlari,
hampir menyerempet aku. Yang lebih gawat adalah sepeda motor ojek online, atau lebih
dikenal sebagai ojol, yang meluncur dari belakang ataupun depan. Kadang-kadang
naik trotoar mengusik para pejalan kaki dengan membunyikan klaksonnya yang
nyaring. Berisik,mengganggu ketenangan alam pagi itu.
Selanjutnya baca di novel pertama saya di link Gramedia ini, silahkan login/daftar untuk membacanya:
Saya beranjak menuju gunung Huang Shan di
propinsi Anhui, untuk menemui Li Bai, salah satu penyair Tiongkok yang paling
ternama. Di latar belakangi gunung-gunung berkabut, ia menemui saya bersila di
depan sebuah meja kecil di beranda sebuah warung. Tak ketinggalan secawan
anggur disajikan bagi dia dan saya. Saya bilang ‘tak ketinggalan’ karena sudah
menjadi tradisi di Tiongkok untuk menyajikan anggur atau minuman keras lainnya
kepada tamu sebagai penghormatan. Selain itu Li Bai memiliki reputasi sebagai
sang Penyair Mabuk, karena kegemarannya akan minuman keras sampai mabuk, namun
mampu menulis puisi-puisi menarik dalam keadaan mabuk.
Tampaknya Li Bai ingin memencilkan diri di daerah
sekitar sini, untuk menulis puisi-puisinya, dekat dengan rakyat biasa, setelah
‘dikucilkan’ dari Akademi Kerajaan oleh Kaisar Xuanzong di Chang’an (nama kuno
kota Xi’an). Ia dikucilkan karena
intrik-intrik menteri-menteri yang iri kepada bakatnya menulis puisi-puisi yang
indah. Dia berkelana dari gunung ke gunung, memperdalam Taoisme dan menulis
banyak puisi-puisinya di situ.
Saya menemui Li Bai menjelang fajar di Bright
Peak Summit gunung Huangshan untuk menikmati cahaya keemasan matahari yang
menyeruduk perlahan-lahan dari balik gunung-gunung. Kami berdiam diri saja
sementara Li Bai seperti menulis sebuah puisi, dia memang begitu, bisa secara
spontan menulis puisi ketika terperangah akan sesuatu yang dijumpainya.
Beberapa lama kemudian dia memperlihatkan puisinya:
“Tiga
puluh enam puncak aneh, Dewa-dewa dengan topi simpul hitam.
Matahari
pagi menyinari puncak-puncak pohon, Di sini, di dunia pegunungan langit ini.
Orang-orang
Tiongkok, angkat wajahmu! Selama seribu tahun bangau datang dan pergi.
Jauh
di sana diam-diam aku amati seorang pengumpul kayu bakar,
Mencabut
batang kayu dari celah-celah batu.”
Saya menanggapinya:
“Gunung sering muncul dalam puisi anda, begitukan?”
Li Bai, tersenyum, mengutip pusinya yang lain:
“Anda bertanya apa
alasan saya tinggal di gunung hijau,
Saya tersenyum,
tetapi tidak menjawab, hati saya santai.
Bunga persik terbawa
jauh oleh air yang mengalir,
Selain itu, saya
memiliki surga dan bumi di dunia manusia.”
Saya berkata:
“Surga dan bumi di dunia manusia, wah …sungguh
sangat kental dengan pemahaman Taoisme, yang memandang Alam Semesta sebagai satu kesatuan organik
yang saling berhubungan. Tidak ada yang ada secara terpisah dari yang lain.”
Li Bai:
“Saya
membaca 'Liu Jia' pada usia lima tahun, sebuah buku Tao kuno yang telah lenyap, dan mengikuti seratus sekolah
pada usia sepuluh tahun.Pada usia lima belas tahun, saya dan Dongyanzi, seorang pertapa Tao,
pergi ke gunung Minshan untuk tinggal di sana dalam pengasingan. Saya tinggal
di sana selama beberapa tahun. Kami memelihara banyak burung eksotis di hutan
tempat tinggal dan bekerja sebagai peternak hewan. Burung-burung cantik dan
jinak ini, karena terbiasa kami beri makan,
sehingga mereka datang secara teratur
untuk meminta makanan. Seolah-olah
mereka dapat memahami bahasa orang, dengan panggilan, mereka terbang dari
mana-mana lalu turun, bahkan dapat mematuk tangan orang. Dengan adanya gandum, mereka
tidak takut sama sekali.”
Saya berkata:
“Sebelum anda mengasingkan diri ke daerah ini,
kabarnya anda pernah menjadi pejabat tinggi mengabdi kepada Kaisar Xuanzong di
Chang’an. Bagaimanakah itu terjadi?”
Li Bai:
“Saya berkeliaran di sekitar Zhejiang dan
Jiangsu dan akhirnya berteman dengan Wu Yun, seorang pendeta Tao terkenal, yang
punya hubungan erat dengan Kaisar Xuanzong. Suatu hari Wu Yun dipanggil oleh
Kaisar untuk menghadiri istana kekaisaran, dan ia memberi pujian besar tentang saya. Pujiannya
membuat Kaisar Xuanzong memanggilku ke istana Chang'an. Tampaknya Kaisar, para
bangsawan, dan orang biasa sama-sama terpesona oleh bakat dan perangaiku.
Mulanya ia memberi saya jabatan sebagai penerjemah karena saya menguasai bahasa
selain bahasa Tiongkok. Akhirnya Kaisar memberi saya jabatan di Akademi Hanlin,
akademi kerajaan yang berfungsi untuk memberikan keahlian ilmiah dan puisi bagi
Kaisar”.
Saya berkata:
“Tentunya anda menulis puisi-puisi bagi Kaisar
Xuanzong?”
Li Bai:
“Saya menulis beberapa puisi tentang Yang
Guifei, permaisuri favorit Kaisar yang cantik dan terkasih.”
Saya berkata:
“Boleh saya mendengar salah satunya?”
Li Bai:
“Awan mengingatkan
saya pada pakaiannya, bunga mengingatkan saya pada wajahnya,
Angin musim semi
bertiup ke pegangan tangga, embunnya sangat subur.
Jika kita tidak bisa
bertemu di atas Gunung Batu Giok,
Kemudian kita pasti
akan bertemu satu sama lain di teras batu giok yang berjemur di bawah sinar
bulan.”
Saya berkata:
“Hmmm… dengan menyebut Gunung Batu Giok, puisi
ini menggambarkan bahwa sang permaisuri demikian menawan seperti dari peri
dunia kayangan, dan kalian akan bertemu di dunia fana di bawah sinar rembulan…Kesan
Taoismenya sangat terasa ya, alam kayangan dan bumi merupakan satu keutuhan
yang indah dan harmonis.
Salah satu puisi lainnya yang anda tulis
semenjak duduk di istana adalah mengenai mabuknya minum anggur. Suatu tema yang jarang
diungkapkan sebagai puisi, karena dianggap tidak bernilai, tidak indah, dan
terlalu’fana’. Anda tampaknya sangat mendalami
rasa kemabukan mungkin karena memang anda terkenal gemar minum minuman keras
sampai mabuk, dan anda bahkan menulis
puisi -puisi yang terbaik dalam keadaan mabuk. Salah satu puisi anda yang
terkenal adalah “Minum sendirian di bawah Bulan”, yang sanggup menuangkan rasa
kemabukan dan kesepian secara puitis dan romantis, yang digemari publik karena perasaan
itu ‘membumi’ sesuai dengan kebiasaan sesungguhnya orang-orang Tiongkok dari
segala kalangan suka mabuk-mabukan.”
Li
Bai, menerawang ke langit lalu mengutip
“Minum sendirian di bawah Bulan”:
“Di antara bunga-bunga
menunggu sebotol anggur.
Saya menuangkan minuman untuk
diri saya sendiri, tidak ada orang yang saya cintai di dekat saya.
Mengangkat cangkir saya, saya
mengundang bulan yang cerah
dan mengalih ke bayanganku.
Kami sekarang bertiga.
Tapi bulan tidak mengerti
minum,
dan bayanganku mengikuti
tubuhku seperti budak.
Untuk sementara waktu, bulan
dan bayangan akan menjadi teman saya,
sukacita singgah yang harus berlangsung sepanjang
musim semi.
Aku bernyanyi, dan bulan
hanya goyah di langit;
Aku menari dan bayanganku
berputar-putar seperti orang gila.
Saat masih jernih, kami
bersenang-senang bersama!
Tapi tersandung mabuk,
masing-masing terhuyung-huyung sendirian.
Terikat selamanya, tanpa
henti kita berkeliaran:
bersatu kembali pada akhirnya
di sungai bintang yang jauh.”
Saya berkata:
“Wow, sangat mengesankan perasaan kesepiannya
yang dipadukan dengan tarian alam semesta. Puitis ,romantis dan sekali lagi
sangat kental rasa Taoismenya.
Namun, dengan puisi-puisi yang anda tulis begitu
indah mengapa anda sampai terpental dari Istana?”
Li Bai:
“Gara-gara si Gao Lishi pejabat kasim yang paling besar
pengaruh politiknya di istana. Dia iri kepada saya dan bersama pejabat-pejabat dengki
lainnya bersekongkol menyingkirkan saya dengan berbagai intrik. Mengenal
kebiasaan saya akan minum sampai mabuk itu, pada suatu hari mereka memperangkap
saya minum sampai mabuk. Lalu dalam keadaan mabuk saya dihadapkan ke Kaisar untuk
dipermalukan. Kaisar marah lalu mengusir saya dari istana, sehingga saya
memutuskan untuk meninggalkan Chang’an…”
Saya berkata:
“Bagaimana perasaan anda meninggalkan
Chang’an?”
Li Bai, mengutip puisinya ‘Kota Choan’ nama
lain dari ‘Kota Chang’an’ atau Xi’an:
Burung phoenix
sedang bermain di beranda mereka.
Burung phonix pergi,
sungai mengalir sendirian.
Bunga dan rumput
Menutupi jalan yang
gelap
di mana terletak rumah
dinasti Go.
Kain cerah dan topi
cerah Shin
Sekarang menjadi dasar
bukit-bukit tua.
Tiga Gunung jatuh
melalui surga yang jauh,
Pulau Bangau Putih
memisahkan kedua aliran itu.
Sekarang awan tinggi
menutupi matahari
Dan saya tidak bisa
melihat Choan dijauhan
Dan saya sedih.
TAMAT
Artikel ini adalah
wawancara imajiner untuk mengenang Li
Bai
Judul bukunya yang terkenal Crime and
Punishment (Kejahatan dan Hukuman) tidaklah menganjurkan bahwa buku ini adalah
sebuah novel, melainkan bunyinya bagaikan sebuah buku filsafat atau sosial politik. Jadi, pada
awalnya buku ini tidak menarik bagi saya karena sudah ada begitu banyak buku
yang menulis tentang topik ini. Namun Ketika saya membaca ulasan tentang buku
ini, kelihatannya menarik dan memacu saya untuk membacanya, walaupun saya kira akan ada diskusi filsafat
mengenai topik ini. Memang ada, namun ditulis seperti diskusi biasa diantara
mahasiswa. Tidaklah sulit untuk mengikutinya.
Lalu, setelah membaca buku yang sangat menarik
ini, saya mengambil kereta api dari Moscow menuju St. Petersburg di musim
dingin untuk menemui penulis besar ini. Kami bertemu di apartemen di pojok
jalan Grazhdanskaya 19 dimana Raskolnikov pernah tinggal. Sepintas lalu, Fyodor
tampak seperti seorang penulis yang pemalu, pucat, dan tertutup, dan dia
bergerak dengan amat kikuk dan tersentak-sentak. Namun bola matanya yang kelabu
biru yang tajam memberi kesan karakter yang Tangguh, memandang saya dengan
dalam seakan ingin melihat kedalam batin saya dan menilai saya.
Sebenarnya, orang ini dikenal akan
keberaniannya dan rasa keadilan yang sangat kuat, mengkritik korupsi yang
dilakukan aparatur negara dan menolong petani-petani miskin. Namun saya tidak
akan menanyakan mengenai suatu kejadian traumatis dalam hidupnya, karena
mungkin sudah banyak orang yang bertanya kepadanya. Banyak orang tahu tentang apa
yang terjadi di tanggal 22 Desember 1849, ketika Fyodor muda di kirim ke
Lapangan Semyonov untuk menemui nasibnya – menghadap regu penembak hukuman
mati, sebagai hukuman atas keterlibatannya dengan Petrashevsky Circle, sebuah
kelompok sastrawan yang dianggap merongrong Tsar dan Gereja. Ketika regu
penembak mulai membidik senapan mereka ke kelompok ini, seorang kurir datang ke
lapangan itu melambaikan bendera putih pada menit terakhir. Dia mengumumkan
pengampunan dari Tsar Nicholas, untuk “menunjukkan belas kasih”. Namun, hal ini bukanlah belas
kasih, sebenarnya adalah suatu cara untuk menteror kelompok ini, suatu
penyiksaan psikologis yang lalim. Fyodor menulis pengalaman ini di novel The
Idiot (Si Dungu). Sebenarnya, seluruh cerita kehidupannya sendiri bisa ditulis
dalam sebuah novel, dan akan menjadi novel yang luar biasa.
Namun, saat ini saya lebih baik berbicara
dengannya tentang penjahat di Crime and Punishment (Kejahatan dan Hukuman),
jadi, tanpa membuang waktu saya mulai bertanya padanya:
“Sang protagonis, Rodion Romanovich
Raskolnikov, pria 23 tahun, bekas mahasiswa ilmu Hukum membunuh seorang
perempuan tua untuk mendapatkan uangnya, dengan dua pukulan sisi tumpul sebuah
kapak. Dengarkan: ‘Dia mengeluarkan kapak itu seperlunya, mengayunkannya dengan
kedua tangan, hampir tidak sadar akan dirinya sendiri, dan hampir tanpa usaha,
hampir secara mekanis, mengayun sisi tumpul kapak itu ke kepala perempuan itu.’
Hal ini direnungkan, direncanakan, pembunuhan
berdarah, namun dia kira ini bukan kejahatan, dengarkan ini: ‘ Ketika dia
sampai pada kesimpulan-kesimpulan ini, dia memutuskan bahwa dalam kasusnya ini
tidak ada nada reaksi yang mengerikan, bahwa alasan dan keinginannya akan tetap
tidak terganggu pada saat menjalankan gagasannya, karena alasan sederhana bahwa
gagasannya adalah 'bukan kejahatan....'
Bagaimana dia bisa berpikir bahwa pembunuhan
yang mengerikan ini terhadap seorang perempuan tua tak berdaya bukanlah
kejahatan?
Fyodor:
“Perempuan tua itu, Alyona Ivanovna, adalah
seorang broker penggadaian, yang menghisap darah orang miskin sedemikian rupa
sehingga dia digambarkan sebagai ‘Tidak lebih dari kehidupan seekor kutu, dari
kumbang hitam, pada kenyataannya kurang, karena wanita tua itu melakukan hal
yang membahayakan. Dia menindas kehidupan orang lain.’
Sementara Raskolnikov hidup dalam kemiskinan
yang amat sangat di sebuah kamar sewaan di Saint Petersburg. ‘Ruangan itu memiliki
penampilan terlanda kemiskinan dengan kertas dinding kuning kusam yang
mengelupas dari dinding, yang sangat rendah atapnya sehingga seorang dengan
ketinggian diatas rata-rata merasa tidak nyaman didalamnya dan merasa setiap
saat kepalanya akan menyondol langit-langit. Dia tertindas oleh kemiskinan.”
Saya berkata:
“Ketika menjadi mahasiswa Raskolnikov menulis
sebuah artikel berjudul ‘Tentang Kejahatan’, yang menurut penuturan teman
karibnya Razumihin: ‘Ada saranan bahwa ada orang-orang tertentu yang bisa… hal
ini, bukan sesungguhnya bisa melakukan, namun memiliki hak sempurna untuk melanggar
moralitas dan kejahatan, dan bahwa hukum tidak berlaku bagi mereka. Hak akan
perbuatan jahat? Tapi bukanlah disebabkan oleh pengaruh lingkungan?”
Fyodor berkata:
“Dalam artikel ini semua orang terbagi antara
‘yang biasa’ dan ‘yang luar biasa’. Orang biasa harus hidup berbakti, tidak
berhak untuk melanggar hukum, karena, apa anda tidak melihat, mereka orang
biasa. Tapi orang luar biasa berhak melakukan kejahatan apapun dan melanggar
hukum secara apapun, hanya karena mereka orang luar biasa. Namun, Raskolnikov
tidak berpendapat bahwa orang luar biasa niscaya akan melanggar moral, seperti
yang anda namakan. Kenyataannya, Raskonikov meragukan apakah artikel itu dapat
diterbitkan. Dia mengisyaratkan bahwa
seorang ‘luar biasa’ berhak… hal ini bukanlah hak resmi, namun hak batiniah
untuk memutuskan dengan kesadarannya sendiri untuk melangkahi…. kendala-kendala
tertentu, dan hanya dalam kasus dimana hal ini penting sebagai pemenuhan
praktis akan pandangannya, kadang kala, mungkin, demi kebaikan seluruh
kemanusiaan.”
Saya berkata:
“Kendati pandangannya akan kejahatan,
Raskolnikov menemukan dirinya ditimbuni kebingungan, paranoia, dan kejijikan
akan apa yang telah dia lakukan. Dia selalu bertempur dengan rasa salah dan
takut dan menghadapi konsekuensi tindakannya. Konflik psikologis dilukiskan
dengan sangat baik di buku ini, saya kira ini adalah bagian yang paling menarik
dari novel ini, sangat intens, penuh ketegangan, tentang pergulatan batin sang
pembunuh. Anda menggambarkan bagaimana Raskolnikov bergulat dengan kejahatan
itu bahkan sejak pertama kali dia mengandung ide untuk membunuh perempuan tua
itu.”
Fyodor, mengutip bagian pertama dari bab
pertama:
“Ketika dia berada di jalanan dia berteriak,
‘Oh Tuhan, betapa menjijikkan hal ini semua! dan dapatkah saya, dapatkah saya
mungkin… Tidak, ini semua omong kosong, ini semua sampah!’ dia menambahkan
dengan tegas. ‘Dan bagaimana hal yang
mengerikan ini bisa masuk kedalam kepala saya? Betapa hati saya dapat begitu kotor.
Ya, kotor di atas segalanya, menjijikkan, membencikan, membencikan! – dan
sepanjang bulan ini saya berbuat…..’
Dan di saat lain dia berteriak: ‘Tuhan yang
mahabaik!’ Dapatkah, dapatkah, bahwa saya akan benar-benar mengambil kapak,
bahwa saya akan memukul nya di kepala, membelah tengkoraknya terbuka…. Bahwa
saya akan menjinjit di darah kental hangat, memecahkan kunci, mencuri dan
bergemetar; menyembunyikan, semuanya tercecer dalam darah… dengan kapak ini…
Tuhan yang mahabaik, dapatkah hal itu terjadi?”
Saya berkata:
“Dan mimpi buruk yang dia alami selagi masa
kanak-kanak menyaksikan pembunuhan berdarah kuda betina kecil yang menyeramkan:
‘Bawa kapak kepadanya! Matikan dia secepatnya,’ berteriak orang ketiga… Sang
korban membuka moncongnya, menarik napas panjang, lalu mati…. ‘Papa! Mengapa
mereka… membunuh… kuda malang itu!’ Dalam mimpinya dia terisak, tapi napasnya tersegal,
dan kata-katanya meledak seperti tangisan dari himpitan dadanya.”
Fyodor:
“Walaupun demikian, hal itu tidak
menghentikannya, sebuah percakapan sepele yang terdengar olehnya antara seorang
mahasiswa dengan seorang polisi menguatkan tekadnnya untuk membunuh. Mahasiswa
itu dengan sekenanya berkata: ‘Bunuhlah dia dan ambil uangnya, sehingga setelah
itu dengan uang itu membantu ada berbakti kepada pelayanan semua manusia dan
kebutuhan bersama’….’Tentu saja, dia tidak layak untuk hidup. Disamping itu,
apalah gunanya hidup dari seorang perempuan yang sakit sifatnya, bodoh, dan
sikap yang jelek di antara keberadaan selebihnya! Tidak lebih dari kehidupan
seekor kutu, dari kumbang hitam, pada kenyataannya kurang, karena wanita tua
itu melakukan hal yang membahayakan.’
Raskolnikov berpikir tentang bagaimana samanya
pemikiran mereka tentang perempuan ini dan berhubungan dengan teori ‘orang luar
biasa’ nya, dia pikir hal ini bukanlah sekedar kebetulan, mengapa dia harus
mendengar pada saat itu pembicaraan itu tentang ide-idea yang sama. Seakan
telah ditakdirkan, sebuah isyarat yang menjurus, membuat Raskolnikov berpikir
dia adalah orang yang terpilih untuk membunuh perempuan itu.”
Aku berkata:
“Lalu anda menulis bagaimana dia merencanakan
membunuh perempuan itu, caranya dan waktunya. Bagaimana dia menyiapkan jerat
untuk menyembunyikan kapak didalam mantelnya sehingga tidak terlihat dari luar,
bagaimana dia mencuri kapak itu, bagaimana dia mengalihkan perhatian perempuan
itu untuk sesaat, untuk mendapatkan waktu untuk mengayun kapak itu, apa yang
berada di benaknya ketika ia berjalan dari apartemennya ke rumah perempuan itu,
menaiki tangga menuju apartemen perempuan itu. Napasnya terenggah-enggah dan
mukanya menjadi pucat. Untuk suatu saat di muka pintu dia berpikir ‘Akankah
saya pulang saja?’ ‘Apakah saya tidak tampak jelas-jelas gelisah? Dia orang
yang sukar percaya…. Mustinya saya tunggu sebentar… sampai jantung saya
berhenti berdebar-debar?”
Fyodor:
“Namun ia melakukannya. Dia mengayunkan
kapaknya lagi dan lagi dengan sisi tumpulnya di tempat yang sama. Darahnya
menyembur seperti dari gelas yang dibalik, badannya jatuh kebelakang. Dia
melangkah mundur, membiarkannya jatuh, dan dengan segera membungkuk diatas
wajahnya; dia telah mati. Matanya seperti mencuat dari rongganya, alisnya dan
seluruh wajahnya kusam dan menggeliat kekejangan.”
Saya berkata:
“Lalu tanpa terduga adik tiri perempuannya
pulang ke rumah dan melihat badan yang sudah mati. ‘Ia menatap mayat kakaknya dengan termanggu-manggu, putih
seperti kertas dan tampak seperti tak mempunyai kekuatan untuk berteriak.”
Fyodor:
“Raskolnikov bergegas menuju kepadanya dengan
kapak; mulut perempuan itu menciut menyedihkan, seperti mulut bayi, ketika bayi
mulai ketakutan, menatap langsung kepada apa yang menakutkannya dan saat akan
berteriak. Dan Lizaveta yang malang itu demikian sederhana dan sudah demikian
luluh dan ketakutan sampai dia bahkan tidak mengangkat tangannya untuk
melindungi wajahnya, walaupun gerakan itu adalah yang paling penting dan
alamiah pada saat itu, karena kapak itu diangkat dimuka wajahnya. Ia hanya
mengangkat tangan kirinya yang kosong, tapi bukan ke wajahnya, perlahan
mengangkatnya kedepan seakan mendorong Raskolnikov untuk menjauh. Kapak itu
mengayun dengan sisi tajam tepat di tengkoraknya dan terbelah dengan satu
ayunan tepat di ubun-ubun. Lizaveta langsung jatuh berdedam. Raskolnikov
kehilangan akal, menyambar buntelannya, menjatuhkannya lagi dan lari ke pintu
keluar.”
Aku berkata:
“ Sangat tragis Fyodor…. Saya kira hukuman
Raskolnikov mulai ketika ia harus membunuh Lizaveta yang tak bersalah karena ia
berada di tempat yang salah pada saat yang salah. Pikiran ini muncul dalam
hatinya: ‘Tapi amat aneh, mengapa saya hampir tidak berpikir tentang Lizaveta,
seakan saya belum membunuhnya? Lizaveta! Perempuan berhati lembut yang malang,
dengan mata yang lembut…. Perempuan-perempuan tersayang! Mengapa mereka tidak
menangis? Mengapa mereka tidak mengerang? Mereka menyerahkan segalanya… Mata
mereka sangat halus dan lembut…! Lembut!”
Saya melihat mata Fyodor yang tajam biru
keabu-abuan melunak, dia tidak bergerak, diam…. wajahnya yang pucat, kurus,
berwarna tanah diliputi titik-titik merah gelap. Lalu kami berkata “Прощай”
(selamat tinggal) dengan hangat.
TAMAT
Ini adalah wawancara imajiner mengenang Fyodor
Dostoyevsky.
Sumber: Crime and Punishment oleh Fyodor Dostoyevsky.
Salah satu tulisan Emile yang
kontroversial adalah novel “Lourdes” mengenai konflik antara agama dan
naturalisme yang dipanggungkan di lokasi ziarah terkenal Lourdes, Perancis.
Setelah membaca novel ini saya terdorong untuk berbincang-bincang dan
mengkonfrontasikannya dengan kontroversi yang ditimbulkan oleh novel itu. Saya
berusaha untuk menghubunginya banyak kali, namun dia tampaknya sibuk dan sedang
berkelana di Perancis.
Lalu, saat saya berkunjung ke Lourdes di
bulan Agustus, saya dengar bahwa Emile juga sedang di sana di tengah ribuan
peziarah yang datang dari segala penjuru dunia. Saya sangat heran dia mau datang
ke sini, mempertimbangkan reputasinya sebagai pendiri pergerakan kesusasteraan
baru ‘Le Naturisme’, kembali kepada alam, sebuah bentuk realisme yang ekstrim
yang menerangkan segala sesuatu berdasarkan gejala alamiah dan menyangkal
segala suatu yang supranatural atau dicampurtangani ilahi.
Dengan tekad menemuinya, saya bertanya
kepada orang-orang di sana mengenai keberadaanya, tapi tidaklah mudah. Setiap
orang yang datang kesini memiliki minat tersendiri, dan tentunya mengincar
selebritis bukanlah minat utama mereka. Namun, dengan sedikit keberuntungan,
setelah pencarian panjang saya melihatnya ditengah sekelompok kecil peziarah
yang sedang bernyanyi dan menari, dekat Grotto di samping sungai Gave de Pau.
Dia sepertinya sedang bergembira di sana
dan ternyata orangnya ramah dan mudah didekati.Setelah saling bertukar ‘Bonjour’, dan ‘bolehkah saya berbicara dengan
anda’ dengan sopan,dia setuju untuk
berbincang di sana di pinggir sungai Gave de Pau. Saya tidak menyangka-nyangka,
kepala saya meledak membayangkan pujian-pujian dan hadiah-hadiah yang akan saya
dapat dari penerbit ‘stenote’.
Lalu saya buru-buru membuka
perbincangan:
“Monsieur, Lourdes saat ini tampaknya
sudah sangat jauh berkembang dibandingkan dengan saat Bernadette Soubirous
hidup. Dulunya adalah perkampungan hijau dengan beberapa ratus penduduk, jauh
dari jalan besar, pada masa Bernadette. Sekarang, lihatlah, ada sebuah basilica
yang megah di pusatnya, dan gua Massabeille yang liar tempat penampakan Santa
Maria sekarang di rapikan dan dihiasi bunga-bunga, dan banyak hotel-hotel dan
restoran-restoran bagus yang mengelilingi tempat ini.”
Emile:
“Benar, di buku saya, saya menulis
tentang perbandingan keadaan Lourdes masa kini dengan rumah Bernadette di Rue
des Petits Floses yang dibiarkan sama seperti keadaan aslinya. Rumah itu tampak
sederhana dan menyedihkan di daerah yang suram, dengan bagian muka yang sedih
yang jendela-jendelanya tidak pernah terbuka. Di dalamnya seperti ruang gelap
yang rendah, dindingnya yang rapuh, plesterannya lembab dan bernoda, rontok
sedikit demi sedikit, penuh dengan retak-retak, dan menghitam seperti
langit-langitnya. Ya, inilah ruangannya, dari sinilah semua asal muasalnya, 3
tempat tidur untuk 7 orang anggota keluarga Soubirous mengisi tempat kecil ini.
Semuanya hidup di sini tampa udara, cahaya, dan hampir tanpa roti! Sungguh
kesengsaraan yang mengerikan! Betapa hinanya, kemiskinan yang perlu
dikasihani!”
Aku berkata:
“ Tak dapat dihindari bahwa orang-orang
mengkritik Lourdes masa kini dalam hal hubungannya dengan praktek-praktek
bisnis masa kini, komersialisasi. Sekitar 5 juta peziarah dari seluruh penjuru
dunia mengunjungi Lourdes setiap tahunnya, membuatnya kota kedua di Perancis
yang paling banyak dikunjungi, setelah Paris. Ada kekhawatiran bahwa dengan
menjadi tempat ziarah yang melayani pengunjung masal, aktivitas komersial yang
mengitari perziarahan akan meluruhkan kesucian tempat ini.”
Emile, mengutip bukunya:
“Tapi, memang, saya musti bilang bahwa
anggota komunitas religious seharusnya tidak memiliki hotel. Tidak, tidak, itu
tidaklah benar. Bukankah seharusnya mereka dari komunitas biarawati Blue
Sisters, mereka dari Sisters of the Immaculate Conception, membatasi diri
mereka ke fungsi mereka yang sebenarnya, pembuatan roti untuk sakramen, memperbaiki
dan mencuci kain-kain gereja?
Alih-alih begitu, mereka malah mengubah
biara mereka menjadi losmen yang besar, di mana wanita-wanita yang datang ke
Lourdes sendirian dapat menemukan kamar tersendiri dan bisa makan di kamarnya maupun
di ruang makan umum. Semuanya tentulah sangat bersih, diatur sangat rapih dan
tidak mahal, berkat ribuan keleluasaan yang didapatkan para biarawati;
kenyataannya tidak ada satupun hotel di Lourdes yang bisnisnya melebihi ini.”
Aku berkata:
“Karena formasi modernnya, bahkan ada
tudingan bahwa Lourdes sudah menjadi sebuah Disneyland bagi orang dewasa. Kalau
dipikir-pikir, boulevard-boulevard dan taman-tamannya mirip dengan yang di
Disney town,Rosary Basilica dapat
dibandingkan dengan Istana Cinderella, prosesi Ave Maria bisa dibandingkan
dengan karnaval “Happiness is here” di Disneyland, dan lilin-lilin yang dipakai
di prosesi malam bisa dibandingkan dengan kembang api di Disneyland.”
Emile:
“Disneyland di Hong Kong memiliki kereta
api khusus menuju tempatnya yang terpencil di pulau Lantau. Seluruh kereta
dihiasi dengan Mickey Mouse luar dalam, semua bermotif wajah Mickey. Tempat
duduknya diatur seperti ruang keluarga sehingga penumpang dapat merasa nyaman.
Jendela-jendelanya berbentuk Mickey, pegangan tangan untuk penumpang berbentuk
kupingnya Mickey, dan interiornya dihiasi patung-patung Mickey, Donald dan
Goofy. Sehingga anda sudah merasa suasana Disney walaupun belum sampai ke theme
park nya.
Di satu sisi, Gereja juga menggunakan
kereta api secara inovatif untuk meningkatkan jumlah peziarah ke Lourdes.
Mereka mengkoordinasikan kereta api khusus bagi peziarah, merancang
gerbong-gerbong untuk mengangkut peziarah yang sakit dan yang cacat, dan
mendapatkan diskon 20 hingga 30 persen bagi tiket kelas ekonomi.
Seperti yang saya tulis di buku saya,
kereta-api kereta-api ke Lourdes adalah rumahsakit rumah sakit beroda bagi penderita
penyakit tahap akhir, yang berisi penderitaan manusia yang bergegas akan
harapan penyembuhan, dengan gencar mencari penghiburan di antara
serangan-serangan penyakit yang keparahannya
meningkat terus, selalu dibayangi oleh ancaman kematian -kematian yang bergegas, melaju di bawah
kondisi yang mengerikan, seakan berada di tengah-tengah gerombolan penyamun.”
Aku berkata:
“Anda bergabung dengan sebuah kereta api
ke Lourdes kala itu untuk melihat sendiri kondisi kereta api dan berdasarkan
pengalaman ini anda menulis di buku anda penderitaan, gairah dan harapan para
peziarah. Kesakitan, kekhawatiran dan kematian tersebut adalah pengalaman nyata
anda di kereta api itu.”
Emile:
“Ya, misalnya Elise Rouquet adalah gadis
18 tahun yang nyata, ia menderita penyakit lupus yang memangsa hidung and
mulutnya.Lukanya telah menyebar, dan
menyebar dalam setiap jam – dengan singkat semua gejala mengerikan penyakit ini
sudah berkembang sepenuhnya. Dia menutupi seluruh wajahnya dengan syal untuk
menyembunyikan penyakit itu. Dia hanya bisa makan potongan-potongan kecil roti,
yang dihirup berhati-hati kedalam mulutnya yang sudah hilang bentuknya. Ketika
dia membuka syalnya untuk makan, orang-orang bisa melihat wajahnya dengan
lubang-lubang menganga yang sepertinya merupakan wajah kematian. Semua orang di
gerbong itu menjadi pucat ketika menyaksikan penampakan yang mengerikan itu.
Dan pikiran yang sama bangkit di dalam hati orang-orang yang penuh harapan itu.
Oh Perawan Penuh Rahmat, Perawan Berkuasa, betapa akan menjadi mujizat benar
jika penyakit ini disembuhkan!”
Aku berkata:
“Lalu, seperti yang anda tulis di buku
anda, Elise Rouquet merasa tidak perlu pergi ke piscinas (tempat pemandian atau
pembasuhan peziarah) untuk memandikan luka mengerikan yang memakan wajahnya, membasuh
mukanya dengan air disitu sebagai lotion, setiap 2 jam sejak kedatangannnya
pagi itu. Dokter Bonamy, yang menganjurkannya untuk meneruskan pemakaian air
itu sebagai lotion dan menyuruhnya kembali setiap hari untuk diperiksa, setelah
beberapa saat melihat ada tanda-tanda pemulihan – yang tak tersangkalkan. Jelas
nampak bahwa penyakit lupus yang memakan wajahnya, menunjukan tanda-tanda
pemulihan.
Elise Rouquet, sekarang lukanya sudah
mulai sembuh, lalu membeli cermin kantung, yang bundar besar, di mana ia tidak
usah gusar mengamati wajahnya, karena ia menganggap wajahnya cukup cantik dan
mengamati dari menit ke menit kemajuan pemulihannya, saat wajahnya sekarang
sudah manusiawi kembali, dan lalu dengan genitnya memoncongkan bibirnya dan
mencoba berbagai senyuman.
Tapi, Monsieur, walaupun anda mengamati
dan menulis tentang kesembuhan penyakit lupus ini, anda menyangkal bahwa ini
adalah mujizat. Anda bahkan menampik untuk mengamati wajah Elise yang sedang
dalam pemulihan dari dekat seperti yang dianjurkan dokter Bonamy, dan bahkan menjawab
:’Bagi saya wajahnya masih jelek.’ Bagaimana and bisa menampik hal ini?”
Emile:
“Seperti yang saya tulis di Pendahuluan
buku saya, saya mengakui bahwa saya menjumpai beberapa kasus penyembuhan yang
nyata. Banyak kasus gangguan syaraf yang disembuhkan tanpa keraguan, dan ada
kasus kesembuhan lain yang mungkin disebabkan oleh kesalahan diagnosis dari
dokter-dokter yang memeriksa pasien-pasien tersebut. Kesembuhan yang begini
didasarkan atas keteledoran profesi medis.
Seperti yang dikatakan doker Chassaigne
para ahli medis menduga banyak penyakit-penyakit ini disebabkan olef syaraf.
Ya, mereka menemukan bahwa banyak keluhan seperti ini sering disebabkan
buruknya nutrisi pada kulit. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini belumlah
dipelajari dan dimengerti dengan baik!Beberapa ahli medis mulai membuktikan bahwa iman yang diteguhkan bahkan
dapat menyembuhkan penyakit, di antaranya beberapa jenis lupus. Bagaimanapun
sains adalah sia-sia, sains adalah lautan ketidaktentuan.”
Aku berkata:
“Anda datang ke Lourdes untuk
mempelajari fenomena mujizat dari sudut pandang skeptis, namun tak teduga-duga
anda mengamati 3 mujizat dalam satu kunjungan anda, sementara bagi banyak orang
mereka tak mendengar satu mujizatpun, atau penampakan seakan mujizat, di banyak
kunjungan-kunjungan ke sini.
Anda menulis tentang mujizat-mujizat itu
dengan terperinci, selain Elise Rouquet ada gadis cilik petani Sophie Couteau
yang kembali berkunjung ke Lourdes setelah ia disembuhkan setahun sebelumnya.
Dia menderita selama 3 tahun luka menganga yang mengerikan di kakinya, kakinya
bengkak dan sudah tak berbentuk. Kakinya selalu diperban karena selalu ada
cairan kotor yang keluar dari luka itu. Doker yang membuka kakinya untuk
melihat ke dalam, mengatakan bahwa ia harus mengeluarkan sebagian tulang; dan
hal ini, cukup pasti akan menjadikan Sophie lumpuh seumur hidup.
Namun dia sembuh dalam sekejap setelah
membasuh kakinya di piscina; dimana semua perbannya jatuh terlepas, dan seluruh
kakinya sembuh seperti kondisi sehat semula.”
Emile:
“Saya menyelidiki hal ini secara
mendalam. Saya dibilangi ada 3 atau 4 wanita di Lourdes yang dapat menjamin
fakta-fakta seperti yang dibilang oleh Clementine Trove, nama asli Sophie. Saya
mencari wanita-wanita itu. Namun tak seorangpun bisa menjamin apapun, tak
seorangpun menyaksikannya, dan saya tak mendapatkan sesuatupun pembenaran akan
cerita gadis cilik ini. Tapi gadis ini tidak kelihatan seperti pembohong, dan
saya yakin dia sungguh percaya penyembuhannya adalah mujizat. Fakta-fakta lah
yang berdusta.”
Aku berkata:
“Ada kasus lain lagi yang anda alami, penyembuhan
Marie Lebranchu, anda namai La Grivotte di buku anda. Wanita 36 tahun ini
menderita tuberculosis paru-paru yang mematikan selama 2 tahun, dan sudah
sampai stadium akhir penyakitnya.”
Emile, mengutip bukunya:
“La Grivotte menangis deras ketika
orang-orang tidak mau memandikannya di piscina. Mereka bilang penyakitnya
mematikan, dan mereka tak dapat merendam seseorang dengan penyakit mematikan seperti
ini ke dalam air yang dingin itu. Lalu ia sampai lelah berkata kepada mereka
selama setengah jam bahwa mereka hanya menggusarkan Perawan Penuh Rahmat,
karena ia yakin ia akan disembuhkan. Dia mulai menyebabkan skandal hingga salah
seorang pastor datang dan mencoba menenangkannya. Lalu setelah mendapat ijin
khusus dari pastor Forcade, dia mengharuskan dirinya untuk memohon dan
meminta-minta dengan terisak-isak agar mereka merendamkannya.
Dan lalu terjadilah apa yang La Grivotte
katakan akan terjadi. Belum lagi direndam selama 3 menit di air sedingin es itu
– semua orang khawatir oleh detak penyakit mematikannya – ketika dia
mendapatkan kekuatan kembali ke badannya seperti cambuk mencambuki seluruh badannya. Lalu kegembiraan yang berkobar-kobar merasukinya;
berseri-seri, berjingkrak-jingkrak, dia tak bisa berdiam. Di malam sebelumnya
dia terlihat terbaring di kursi roda, punah, batuk dan meludahkan darah, dengan
wajah pucat pasi.”
Aku berkata:
“ Pada akhir buku itu, anda menulis
bahwa La Grivotte kembali jatuh sakit dengan penyakitnya yang mematikan itu dan
dalam keadaan sekarat di kereta api perjalanan balik ke rumah, yang menyarankan
bahwa kesembuhannya tidaklah permanen dan bukanlah supranatural, tapi cuma
kasus sugesti automatis di tengah suasana religious yang histeris.
Namun anda terus berhubungan dengan
wanita itu lama sesudah kesembuhannya, dan pasti mengetahui bahwa penyakitnya
tidak pernah kambuh lagi. Marie Lebranchu, nama asli La Grivotte, hidup sehat
sampai tahun 1920.
Dokter Boissarie, atau doker Bonamy di
buku anda, Presiden dari Medical Bereau, mempertanyakan kejujuran anda akan
cerita anda, merujuk kepada perkataan anda bahwa anda datang ke Lourdes untuk
melalukan penyelidikan yang imparsial.”
Emile:
“Saya menjawab dokter Boissarie bahwa
sebagai seniman saya bisa berbuat apa saja dengan tulisan saya. Saya menulis
untuk mengungkapkan pandangan saya tentang agama penderitaan manusia, penebusan
rasa sakit, kemanusian yang menangis putus asa dengan penderitaan, seolah
seperti orang lumpuh yang putus asa, kelumpuhan yang tak tersembuhkan, dan yang
mana hanya mujizat dapat menyelamatkannya.”
Aku berkata:
“Hampir 7,000 kesembuhan
didokumentasikan di perairan Lourdes. Gereja menyelidiki dengan seksama semua
kasus ini dan mengakui hanya 67 di antaranya. Ke-67 kasus ini juga disetujyui
sebagai mujizat oleh International Medical Committee of Lourdes (CMIL).
Ketiga mujizat yang anda amati, dari
Clementine Trove (Sophie Couteau di buku anda), Marie Lemarchand (Elise
Rouquet) dan Marie Lebranchu (La Griovote),semua termasuk dalam 67 mujizat yang disetuhui oleh Gereja dan CMIL.”
Emile:
“Mujizat-mujizat Lourdes tidak dapat
dibuktikan ataupun disanggah. Tidak satupun mujizat yang saya amati saya bisa
menemukan bukti nyata yang menunjang atau menyanggah bahwa penyembuhan itu
adalah mujizat. Bahkan jika saja saya menyaksikan semua orang sakit disembuhkan
di Lourdes, saya tetap tidak akan percaya akan mujizat.”
Aku berkata:
“Monsiuer, terlepas dari kepercayaan
anda, novel anda telah merangkum dengan baik rasa kasih sayang manusia,
tragedinya, harapannya dan drama pejiarah penderita sakit, yang disembuhkan dan
yang tak disembuhkan. Pemaparan tentang kenekatan dan rasa putus asa penderita
penyakit, yang diabaikan oleh sains dan manusia, mengarahkan diri ke pada Kuasa
yang lebih tinggi mengharapkan bantuan. Di sini fenomena Lourdes ditulis dan
diamati dengan sangat baik, buku ini menggambarkan Lourdes dari segala aspek. Ada
sekitar seratus karakter yang anda tulis, penderita sakit, pejiarah, pastor,
suster, perawat, semua mereka terasa hidup dalam tulisan anda.
Lalu, bolehkah saya bertanya untuk
terakhir kali, apakah benar Sophie bercerita: ‘Saya tidak membawa cukup perban
untuk kaki saya, jadi sang Perawan Penuh Rahmat sangat berbaik hati
menyembuhkan saya di hari pertama, karena saya akan kehabisan pembalut di
keesokan harinya.”
Emile hanya tersenyum…..
TAMAT
Ini adalah wawancara imajiner mengenang
Emile Zola.
Dia tinggal di Hôtel du Poirier di rue
Ravignan di atas salah satu bukit-bukit di Montmatre, Paris. Tempat itu adalah
salah satu tempat yang paling indah di Paris, namun kamar hotelnya gelap dan
kosong, hanya ada satu meja untuk menulis.
Mudah dimengerti bagaimana di dalam
kamar yang gelap ini, “seseorang merasa seperti orang asing, mendengar suara
sebuah kota yang tiba-tiba menjadi asing. Saya bukan dari sini – juga bukan
dari tempat lain yang manapun. Dan dunia menjadi hanyalah sebuah tempat tak
dikenal di mana hatiku tidak bisa bersandar kemanapun”, begitu ditulisnya di
buku catatannya.
Pagi itu dia kelihatan rileks dan
menyapa aku dengan salaman yang hangat. Televisinya menyiarkan dengan lantang
perayaan Worl Cup Perancis di Champ Elysees. Kerumunan orang seperti bergembira
mabuk di nirwana dengan bendera Perancis yang melambai di mana-mana. Nampaknya
dia sedang menonton perayaan ini di televisi sebelum aku mengetok pintunya.
Mengetahui bahwa dia adalah penggemar
sepakbola yang kental, aku lalu berkata kepadanya:
“Selamat atas kemenangan Perancis di
World Cup untuk kedua kalinya, anda pasti sangat bergembira.”
Matanya yang besar bersinar dan dia
tersenyum lebar:
“Saya memang sangat bangga kepada
mereka. Saya bisa melihat perencanaan yang teliti, kerja keras, disiplin yang
ketat dan kecermelangan penembak muda Kylian Mbappé, penyerang tengah Paul
Pogba yang gesit dan pertahanan yang tanpa menyerah dari N’Golo Kanté, Raphaël
Varane dan Samuel Umtiti. Kerja sama tim yang bagus, sepak bola memang mengenai
hal itu. Dan juga seperti yang disebut
Deschamps pelatih mereka: “Kami tidaklah bermain dengan luarbiasa tapi
menunjukkan kualitas mental, dan mencetak empat gol bagaimanapun juga.” Pertandingan
yang bagus.”
Aku berkata:
“Saya mendegar akan begitu
bersemangatnya akan sepakbola, suatu saat anda pernah ditanya pilih sepakbola
atau teater, jawaban anda adalah pastilah sepakbola tanpa ragu-ragu.”
Albert:
“Ya memang waktu saya masih muda saya
bermain sebagai penjaga gawang untuk Racing University of Algiers, kami memenangkan
African Champion Cup di saat itu. Saya belajar dari sepakbola tentang rasa
kerjasama tim, kebersaudaraan dan kepentingan bersama, ini adalah cara belajar yang bagus. Setelah beberapa
lama setelah banyak yang saya lihat, pengetahuan saya secara pasti tentang
moralitas dan tugas hidup manusia saya dapatkan dari olahraga ini.”
Aku berkata:
“ Percakapan yang bagus, Albert, saya
bisa merasakan semangat yang tinggi dan keterlibatan anda akan sepakbola,
penghargaan anda yang mendalam akan sepakbola, yang sangat kontras dengan rasa
kekosongan, keterasingan, ketakperdulian di dalam hampir semua novel yang anda
tulis. Sebagai contohnya bertolak belakang dengan rasa kegembiraan kemenangan
anda atas World Cup, coba dengar apa yang anda tulis di pembukaan The Stranger
yang menjadi salah satu pembukaan yang paling terkenal di dunia sastra : “Ibu
meninggal hari ini, atau mungkin kemarin, aku tidak tahu.”
Albert:
“ Saya banyak meluangkan waktu di saat
musim panas di pantai populer Les Sablettes di Algeria. Saya hidup melarat di
masa kecil namun juga dengan semacam kesenangan lahiriah, dengan berenang,
sinar matahari, pasir dan sepakbola. Saya lelaki Mediterranean, dengan badan
sehat yang menyembah keindahan dan badan seperti orang Yunani kuno. Saya berada
di antara kesengsaraan dan sinar matahari. Kesengsaraan menghentikan saya akan
kepercayaan akan bahwa semua baik adanya di bawah matahari, dan akan sejarah;
matahari mengajari saya bahwa sejarah bukanlah segalanya. Kebersemangatan masa belasan tahun hidup saya
terputus, ketika pada umur 17 tahun, dokter-dokter mendiagnosa TBC. Selalu
bernapas pendek, saya terpaksa meninggalkan karir sepakbola yang cerah, dan
akan terus menderita akan kambuhnya penyakit ini seumur hidup saya.
Pada umur 27 tahun saya meninggalkan
Algeria setelah kehilangan pekerjaan ketika koran Alger républicain berhenti
beroperasi. Saya mendapatkan pekerjaan di koran Paris-Soir yang membayar tiga
ribu francs per bulan untuk bekerja lima jam per hari kerja, dalam pengaturan
kerja yang terasa asing. Pekerjaan saya di koran ini tidaklah menarik, saya
ditugasi untuk menata halaman empat, mengatur kolom-kolom dan jenis huruf yang
berantakan. Setelah bekerja di pagi hari maupun malam hari, saya akan kembali
ke kamar hotel saya yang gelap di Montmartre. Suatu ketika, dari atas
Montmartre saya melihat Paris seperti kabut raksasa di bawah curah hujan,
sebuah kota yang terasa penuh sesak namun juga kosong, dimana di mana hati saya
tidak bisa bersandar kemanapun. Saya selalu melihat Paris dengan pandangan mata
orang asing.”
Aku berkata:
“Bagaimanapun di dalam kamar hotel di Montmartre yang gelap
itu anda menulis novel anda yang terkenal The Stranger, novel dengan pembukaan
yang terkenal itu, tentang Meursault yang mengalami perasaan terpisah dari kenyataan
yang membuatnya serasa orang asing di kota kelahirannya di Algeria. Cerita itu
memiliki rasa absurdisme yang amat kental, perasaan terputus segenapnya dari
orang-orang lain, tidak berdampak, terkucil dan hilangnya makna hidup. Apakah
makna absurdisme bagi anda?”
Albert:
“Pada hari prosesi pemakaman ibunya di
Marengo, perasaan yang paling intens yang dialaminya adalah teriknya matahari,
silaunya langit yang tak tertahankan, yang membuatnya merasa pembuluh darah nya
berdebar di keningnya. Pemakaman ibunya
sendiri tidak memberi suatu makna apapun baginya, dia tidak menangis, dia tidak
peduli untuk melihat tubuh ibunya di dalam peti untuk terakhir kalinya.
Perjalanan kembalinya ke Algeria
setelah pemakaman terasa bagaikan melegakan baginya. Setelah sampai dia
memutuskan untuk pergi berenang dan bertemu Marie Cardona di kolam renang, lalu
mereka berenang bersama, di sore hari mereka menonton filem komedi dari
Fernadel dan bercinta di tempat tidur di malam harinya.
Bagaimanapun, di keesokan sorenya dari balkoninya ia
berkata: “Sebuah hari Minggu lagi yang berlalu, ibu dikuburkan, besork kembali
bekerja, dan, benar-benar, tidak ada satu hal pun yang berubah.”
Aku berkata:
“Pandangan “Mediterranean” ini yang
menjangkar pandangan anda kepada tempat di mana anda dibesarkan dan untuk
membangkitkan rasa harmonis dan penghargaan akan kehidupan lahiriah.
Badan yang kecokelatan karena matahari
menikmati pantai-pantai dan sinar matahri Algeria, berenang, bermain sepakbola,
minum-minum dan gadis-gadis. Berlawanan dengan kehidupan Algeria yang penuh
sinar matahari, Meursault berkata tentang Paris: “sebuah kota yang rada kotor,
menurut saya. Banyak burung-burung dara dan halaman rumah yang gelap. Dan
manusianya memiliki muka yang tercuci bersih, wajah yang putih.”
Namun matahari yang panas terik yang
sama seperti pada hari pemakaman ibunya, yang memberinya rasa sakit di
keningnya, dan yang membuat semua pembuluh darahnya berdebar di bawah kulitnya,
cahaya matahari yang bersilau yang sama dan panas teriknya matahari yang sama
yang menyebabkannya menembak mati seorang Arab, tidak ada alasan lain selain
silaunya cahaya matahari yang meletihkan dan panas teriknya matahari.
Cerita ini menyarankan bahwa meskipun
Meursault menikmati kehidupan di bawah sinar matahari Mediterranean, di sisi
lain cahaya matahari yang membutakan menyebakannya tidak dapat memberi makna
akan pemakaman ibunya, dan panas terik matahari yang sama, bukan sebab lain,
yang membuatnya menembak mati seorang Arab.
Inikah alasan mengapa anda memberi
judul novel ini The Stranger, hidup secara intens kehidupan Mediterranean,
menikmati matahari, badan kecokelatan telanjang di pantai-pantai, gadis-gadis
menari dengan berkeringat, namun terputus, tak peduli dan terkucilkan dari
kehidupannya?”
Albert, mengutip novelnya The Fall:
“Saya ada di sini tanpa berada di
sini: Saya absen pada saat ketika saya mengambil hampir seluruh ruang. Saya
tidak pernah benar-benar tulus dan antusias kecuali ketika saya dulu menikmati
olah raga, dan di dalam ketentaraan, ketika saya dulu bermain sandiwara untuk
menghibur diri kami sendiri. Dalam kedua hal itu ada aturan main, yang tidak
serius namun yang kami nikmati seakan-akan serius. Sampai sekarangpun, pada
pertandingan hari Minggu di stadion yang penuh sesak, dan di dalam teater, yang
saya cintai dengan penuh gairah, di situlah di kedua tempat itu saja di dunia,
saya merasa murni.
Namun siapa yang bisa menganggap
tingkah laku demikian adalah sah di hadapan cinta, kematian dan penghasilan
orang miskin? Namun apa yang bisa kita perbuat? Saya bisa membayangkan cinta
Isolde hanya di dalam novel atau di atas panggung. Kadang kala orang di tempat
tidur kematiannya seakan meyakinkan saya akan peranan mereka. Kalimat –kalimat
yang diucapkan oleh klien-klien saya yang malang selalu memberi kesan akan pola
yang sama. Sehingga, hidup di antara manusia tanpa memperhatikan kepentingan
mereka, saya tidak dapat mempercayai komitmen-komitmen yang saya buat. Saya
cukup sopan dan malas untuk hidup sesuai dengan apa yang diharapkan dari
profesi saya, keluarga saya atau kehidupan bermasyarakat saya, namun setiap
saat dengan sejenis rasa acuh yang menodai segalanya.”
Aku berkata:
“ Dalam pentutupan The Stranger,
Mersault yang menghadapi hukuman mati dengan guillotine mengakui bahwa
eksistensi tidak bermakna, namun ia sekarang bersuka cita menikmati rasa
sebagai orang hidup.”
Albert, mengutip Meursault:
“ Dan saya, juga, merasa siap untuk
mengulangi kehidupan dari awal. Hal itu seakan-akan rasa marah yang meluap-luap
telah mencuci bersih diri saya, mengosongkan saya akan harapan, dan, menerawang
ke langit yang gelap yang disinari dengan tanda-tanda dan bintang-bintang,
untuk pertama kalinya, pertama kali, saya membuka hati saya akan
ketidaperdulian yang jinak dari alam semesta.
Untuk merasakan sebagai diri saya sendiri, memang, sangat bersahabat,
membuat saya sadar bahwa saya berbahagia, dan saya masih bahagia. Untuk meraih
segalanya, bagi saya agar tidak terlalu merasa kesepian, hal yang masih bisa
diharapkan adalah bahwa pada hari pemacungan saya akan ada banyak penonton yang
menyambut saya dengan lolongan: pancung dia.”
TAMAT
Ini
adalah wawancara imajiner mengenang Alber Camus.
Pada Jum’at
pagi itu aku buru-buru menuju kafe Le Consulat untuk berbincang-bincang dengan
Victor. Aku sangat bersemangat untuk menemuinya karena aku punya banyak
pertanyaan tentang novelnya yang terkenal The Hunchback of Notre-Dame (Si
Bongkok dari Notre-Dame). Ketika aku sampai dia sudah di sana menyeruput kopi
une noisette yang hangat.
Aku
berkata:
Bonjour
Monsiuer, terimakasih untuk meluangkan waktu di tengah kesibukan anda. Saya
punya banyak pertanyaan, mudah-mudahan kita bisa mendiskusikannya semua dan
menyelesaikannya tepat pada waktunya.
Victor:
“Katakanlah,
mon amie…”
Aku
berkata:
“Monsiuer,
judul asli dari novel anda yang terkenal “The Hunchback of Notre-Dame”
sebenarnya adalah “The Notre-Dame of Paris” (Notre-Dame di Paris). Dengan judul
asli ini apakah anda ingin menekankan kesejarahan Notre-Dame ataukah drama
kemanusiaan yang dipanggungkan di Notre-Dame?”
Victor:
“Seperti
yang diceritakan di Buku 3 bab 1 katedral Notre-Dame telah menua disebakan oleh
banyaknya degradasi dan pengrusakan yang disebakan baik oleh waktu maupun oleh
tindakan manusia. Waktu telah menyayat permukaannya di sana sini, dan
menggerogoti dimana-mana; revolusi politik dan agama telah mengoyak jubahnya
yang indah,ukir-ukiran dan patung-patungnya,
memecahkan jendela mawarnya, merusakkan kalung arabesques dan hiasan-hiasan
mungilnya, menggulingkan patung-patungnya.
Lalu
usaha restorasi membuatnya bahkan lebih norak dan dungu. Restorasi itu telah menerapkan,
atas nama selera tinggi, pada luka-luka bagunan arsitektur gothic ini, kenorakan
yang menyedihkan, pita-pita dari marmer, bola wool dari metal, ornamen
berbentuk telur yang diliputi kusta sebenarnya, aksara-aksara asing, lingkaran
spiral, gorden-gorden, karangan bunga, bingkai-bingkai, api batu, awan tembaga,
malaikat cupid yang tembam, malaikat bocah berpipi gemuk.
Namun
Notre-Dame adalah juga rumah bagi Quasimodo, si Bongkok buruk rupa dengan hati
emas, juga rumah bagi Claude Frollo, pastor yang alim yang berubah menjadi
setan, yang mengadopsi Quasimodo yang ditelantarkan orangtuanya selagi kecil di
sebuah tempat tidur di Notre-Dame. Dan Esmeralda mengambil perlindungan
Notre-Dame untuk beberapa saat bersembunyi dari kejaran tentara kerajaan.
Notre-dame adalah juga panggung dimana Esmeralda, Frollo dan Jehan jatuh mati
dengan tragis.”
Aku
berkata:
“Penderitaan
Quasimodo, si Bongkok dalam novel ini, sangat keterlaluan diluar kemanusiaan.
Sebagai anak kecil dia ditelantarkan karena buruk rupanya, badannya bengkok,
Cuma punya satu mata, kepalanya terletak langsung di punggungnya, tulang
belakangnya melengkung, tulang dadanya menonjol, dan kakinya bengkok.
Para ibu
yang melihat anak ini di tempat tidur Notre-Dame begitu terperanjat sehingga
salah seorang bertanya: “Apakah ini, mbak?”, dan ibu yang lain berkata: “
apakah yang yang akan terjadi terhadap kita, kalau demikianlah anak-anak dibuat
sekarang?”dan yang seorang lagi: “pastilah
berdosa untuk melihat anak ini.”
Victor:
“ Dia
kemudian kehilangan pendengarannya sebagai pembunyi lonceng Notre-Dame,
lonceng-lonceng itu telah merusakkan gendang telinganya, dia menjadi tuli.
Namun
penderitaannya tidak sebanding dengan penderitaan Stephen Hawking. Dia
didiagnosa dengan penyakit amyotrophic lateral sclerosis (ALS), suatu bentuk
penyakit syaraf penggerak, ketika berumur 22 tahun dan tidak diharapkan untuk
bertahan hidup beberapa tahun lagi. Penyakit ini menyebabkan kelemahan dari
syaraf penggerak atas atau bawah, atau keduanya. Dia tidak bisa jalan, bergerak
dan harus duduk di kursi roda, juga tidak bisa menulis dan berbicara. Dia lalu
mulai menggunakan menu yang dikontrol oleh sistem komputer untuk berkomunikasi.
Aku
berkata:
“Namun
orang-orang menghormati dan menyayangi Stephen Hawking karena kecerdasannya, dimana
hidupnya digunakan untuk memecahkan misteri alam semesta melalui fisika. Saya
bisa membayangkan betapa menjengkelkannya buat dia untuk mempunyai penyakit
yang menghambat pergerakannya dalam pencariannya akan “teori untuk semua hal.”
Dalam
hal Quasimodo berbeda, orang-orang mengolok-oloknya selalu, dia bahkan
dimahkotai Paus Orang-Orang Dungu waktu Festival Orang-Orang Dungu.”
Victor:
“Yang
paling sulit baginya adalah kesadaran akan buruk rupanya di depan Esmeralda, dipandang
oleh wanita yang dia sayangi dan cintai amat sangat… Di Buku 9 Bab 2 dia
berkata kepada Esmeralda: “Aku menakutkan kamu. Aku sangat buruk, bukankah
begitu? Janganlah memandang aku; dengarkan aku sajalah.”
Aku
berkata:
“Ya, itu
kejadian yang sangat menyayat hati, untuk merasa tidak nyaman di depan wanita
yang dia sangat cintai hingga dia menyabung nyawa untuk menyelamatkan wanita ini
dari hukuman mati, dan menggotongnya ke tempat suaka Notre-Dame sebagai
pelarian.”
Victor:
“Lebih
dari itu, di Buku 9 Bab 4 diceritakan: “Suatu saat Quasimodo datang pada saat
Esmeralda sedang membelai Djali, kambing kesayangannya. Dia berdiri tak
bergerak untuk beberapa menit di depan persektuan anggun dari kambing dan
wanita gypsy ini; lalu akhirnya ia berkata, menggelengkan kepalanya yang besar
dan salah bentuk, --“Nasib tak beruntung aku bahwa aku masih tampak teralu
banyak seperti manusia. Aku akan sangat suka untuk menjadi hewan seperti
kambing itu.”Wanita itu memandangnya
dengan penuh keheranan.”
Mendengar
itu, aku terdiam sejenak… dan kemudian seakan ingin menghibur Quasimodo akan
nasibnya yang tak beruntung aku berkata:
“Saya
tak dapat melupakan kejadian di Buku 8 Bab 6, ketika Quasimodo menyelamatkan
Esmeralda dari hukuman mati, yang dengan sergap menuju ke ke dua orang algojo
seperti seekor kucing yang jatuh dari atap, menonjok mereka dengan tinjunya
yang besar, menggotong Esmeralda dengan satu tangan, seperti seorang anak
memegang bonekanya, dan berlari balik ke dalam Notre-Dame dengan satu tujuan,
menggotong gadis muda di atas kepalanya dan berseru dengan suara lantang,
----“Suaka!”
Dan lalu
,”Suaka! Suaka!” para penonton bersorak-sorak; dan tepuk tangan beribu tangan
membuat mata tunggal Quasimodo bersinar dengan kegembiraan dan kebanggaan.”
Victor:
“Ya di
masa abad pertengahan hukum menyatakan bahwa Notre-Dame adalah tempat kebal
hukum. Esmeralda tidak bisa dilukai oleh para algojo asalkan ia tetap tinggal
di dalam dinding-dinding Notre-Dame.”
Aku
berkata:
“Namun
Notre-Dame adalah juga rumah dan tempat suaka bagi Claude Frollo pastor alim
yang berubah setan. Orang ini pada mulanya adalah bagaikan malaikat yang
mengadopsi Quasimodo walaupun cacat, buruk rupa, demi kasihnya bagi Jehan adik
kecilnya sedarah.”
Victor:
“Dan
Buku 4 bercerita: “Belas-kasih Claude bertambah dengan pandangan butuk rupa
ini; dan ia bersumpah dalam hatinya untuk memelihara anak ini demi kasihnya
akan adiknya, agar, apa saja kesalahan Jehan di masa depan, ia akan memiliki di
sampingnya amal kasih ini yang dilakukan demi dia.
Ketika
masih kecil, Quasimodo sering mencari pengungsian di antara kaki Claude Frollo,
ketika anjing dan anak-anak menggonggong kepadanya. Claude Frollo juga
mengajarnya berbicara, membaca dan menulis. Kita bisa berkata kemudian, karena
rasa terimakasihnya Quasimodo mengasihi pastor ini melebihi seekor anjing,
seekor kuda, seekor gajah menyayangi tuannya.”
Aku
berkata:
“Lalu
bagaimana jadinya pastor yang penuh kasih ini, malaikat ini, berubah menjadi setan tukang sihir?”
Victor:
“dari dalam
biara, reputasinya sebagai orang terpelajar terdengar oleh orang-orang. Dia
belajar obat-obatan, astrologi dan ilmu kepercayaan. Obsesi terbarunya adalah
ilmu kimia karena ia ingin membuat emas dari batu. Di masa abad pertengahan
kita bisa bilang bagaimanapun, bahwa ilmu pengetahuan dari Mesir, tentang
kerasukan dan sihir, bahkan yang paling putih, telah dianggap sebagai tindakan
sihir.”
Aku
berkata:
“Namun
malaikat ini berubah menjadi setan sebenarnya, setelah dia jatuh cinta
sedalamnya dengan Esmeralda, atau lebih tepatnya setelah dia terperangkap nafsu
akan Esemeralda.”
Victor:
“Di
dalam hatinya Claude Frollo percaya bahwa kejadian yang akan menimpa Esmeralda
adalah takdir, di Buku 7 bab 5 diceritakan bagaimana Claude Frollo berkata
dengan suara yang seperti datang dari kedalaman keberadaannya: “Lihatlah ini
sebuah simbol bagi semuanya. Wanita itu terbang, ia gembira, ia baru
dilahirkan; ia mencari mata air, udara terbuka, kebebasan: oh ya! namun biarkan
ia bersentuhan dengan jaringan berbahaya, dan laba-laba yang timbul dari sana,
laba-laba yang bersembunyi! Penari yang malang! malang, nasib lalat yang telah
ditakdirkan! Biarkan hal-hal demikian terjadi, tuan Jacques, itu adalah takdir!
Aduh! Claude engkaulah laba-laba itu.”
Aku
berkata:
“Saya
bisa melihat bahwa di babak ini Claude Frollo berbicara tentang bagaimana lalat
itu mencari udara terbuka, sinar di hari yang terang, tapi tidak melihat kaca
jendela yang menghadang ke dunia luar. Lalat itu tidak memiliki indera untuk
menyadari jebakan sarang laba-laba di muka jendela dan ia terbang langsung
dengan kepala di muka ke jaringan laba-laba.”
Victor:
“Kemudian
ia berkata: “ Dan kalaupun engkau dapat meloloskan diri dari jaringan laba-laba
yang ketat itu, dengan sayap mungilmu, engkau percaya akan bisa mencapai cahaya
di luar? Aduh! kaca itu ada di depan, hadangan yang tak kelihatan, dinding
kristal itu, lebih keras dari tembaga, yang memisahkan semua filsafat dari
kebenaran, bagaimana engkau akan melampauinya? Oh, kesombongan ilmu! berapa banyaknya
orang cerdik pandai terbang dari jauh, untuk menabrakan kepalanya kepadamu!
Berapa banyak sistem sia-sia melemparkan diri mereka berdengung terhadap panel
kekal itu.”
Aku
berkata:
“Demikian
pula kejadian yang menimpa Esmeralda, dia selamat dari hukuman mati karena
Quasimodo melepaskan dan menyelamatkannya, membawanya ke suaka di Notre-Dame. Juga
ketika para gelandangan menyerbu Notre-Dame, ia diselamatkan oleh Pierre
Gringoire. “suaminya di atas kertas”, namun ia ternyata ia dijebak dan
tertangkap lagi oleh Frollo.
Suster
Gudule, ibunya yang sebenarnya, berusaha membebaskan Esmeralda dari jebakan
Frollo, namun usaha ini gagal ketika Esmeralda tiba-tiba mengetahui bahwa
Phoebus, lelaki yang ia cintai, berada di dalam pasukan yang mencarinya,
shingga Esmeralda berteriak memanggil namanya agar menyelamatkan dia. Kejadian
ini membuat pasukan kerajaan mengetahui persembunyian Esmeralda dan
menangkapnya. Dengan demikian nasibnya telah ditentukan.”
Victor:
“Seperti
bagaiman Dante menggambarkan Beatrice sebagai “Si Cantik dalam jubah putih”,
demikian pula si cantik Esmeralda mati, dalam jubah putih. Esmeralda mati
karena tindakannya sendiri karena cinta, walaupun bertepuk sebelah tangan, sebenarnya
hanyalah cinta naksir. Mereka hanya bertemu beberapa kali, seperti halnya Dante
dengan Beatrice, hanya beberapa kali. Tapi Phoebus tidak mencintai Esmeralda,
ia hanya ingin tidur dengannya. Dia tidak mendengar Esmeralda memanggil namanya
minta tolong dari tempat persembunyiannya, kejadian ini menyebabkan Esmeralda
tertangkap menuju kematiannnya, dalam jubah putih.”
Aku
berkata:
“ Anda
tahu, Stephen Hawking yang menghabiskan hidupnya mengejar “teori untuk semua
hal”, suatu saat ketika ditanya hal apakah yang paling banyak dipikikannya sehari-hari,
dia berkata: “Wanita. Mereka adalah sebuah misteri yang utuh.”
Ini
adalah wawancara imajiner mengenang Victor Hugo