Tampilkan postingan dengan label Perancis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perancis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Februari 2021

Paris, di Museum Picasso

 

Ketika berjalan-jalan di Le Marais saya melihat tanda jalan menuju Musée Picasso….., wow Museum Picasso ada disini?! Ini pastilah tidak boleh dilewatkan. Segera saya mengikuti arah menuju museum itu melewati jalan-jalan berbatu yang dijejeri café-café dan galeri-galeri yang keren menuju rue de Thorigny dimana Hôtel Salé tempat museum Picasso berada.

 Terletak di dalam Hôtel Salé bagunan agung abad ke 17, mahakarya Picasso terpampang di dinding-dinding dari ruangan-ruangan pameran yang cerah dan luas. Museum ini menyimpan lukisan, gambar-gamabar dan patung-patung karya Picasso. Pada hari itu pameran digabungkan dengan karya-karya Alexander Calder, yang juga sangat mengesankan. 

Pablo Picasso adalah pelukis dan pematung asal Spanyol yang terkenal, dianggap sebagai salah satu seniman yang paling berpengaruh di abad ke 20. Dia dikenal sebagai salah satu pendiri aliran Kubisme, sebuah gaya revolusioner seni modern guna menanggapi perubahan dunia modern. Ada orang yang berkata bahwa Kubisme itu seperti melihat ke cermin yang retak-retak dimana segalanya kacau balau. Seniman Kubisme menggunakan berbagai sudut pandang untuk memecah belah imaji-imaji menjadi berbagai bentuk geometris. Badan-badan diperlihatkan sebagai aturan dinamis dari volume dan bidang-bidang dimana latar belakang bercampur aduk dengan latar depan. Picasso tidak merasa bahwa seni harus menyalin alam dan ia tidak menyukai teknik seni perspektif tradisional, dia bilang: “Kalau subyek dari apa yang saya ingin ungkapkan memberi berbagai cara untuk mengekspresikannya saya tidak pernah ragu untuk mengadopsinya.”

Les Demoiselles d'Avignon - Wikimedia

Wanita-wanita memegang peranan penting dalam lukisan-lukisan Picasso yang mengungkapkan perasaan, pandangan psikologis dan drama keberadaan manusia. Dikenal sebagai seorang playboy, dia memiliki dua istri, enam kekasih gelap dan ratusan pacar selama perkawinannya. Hubungan romantisnya memberi inspirasi kepada begitu banyak lukisan, gambar-gambar dan patung-patung yang dibuatnya.  Dalam setiap lukisan kekasihnya terlihat hubungannya dengan berbagai masa yang menggambarkan kisah kehidupan pribadi yang menarik - kadang kala gembira, menantang, atau tragis diakhirnya. Wanita-wanita yang paling terkenal yang dikencaninya termasuk Fernande Olivier, Olga Khoklova, Marie-Thérèse Walter, Dora Maar, Françoise Gilot dan Jacqueline Roque. 

Sementara kekasih-kekasihnya merupakan inspirasi berharga bagi seninya, mereka jarang terlepas dari hubungan dengan bahagia. Jacqueline Roque, istri keduanya, dan Marie-Thérese Walter, ibu salah satu putrinya, mati bunuh diri, dan Olga Koklova, istri pertamanya, dan Dora Maar, teman kencannya,  menjadi agak hilang ingatan. 

TAMAT

Sumber:

https://news.masterworksfineart.com/2018/10/31/pablo-picasso-and-cubism

https://www.sapergalleries.com/PicassoWomen.html








Rabu, 05 Februari 2020

Wawancara dengan Emile


Photo: Wikimedia
Salah satu tulisan Emile yang kontroversial adalah novel “Lourdes” mengenai konflik antara agama dan naturalisme yang dipanggungkan di lokasi ziarah terkenal Lourdes, Perancis. Setelah membaca novel ini saya terdorong untuk berbincang-bincang dan mengkonfrontasikannya dengan kontroversi yang ditimbulkan oleh novel itu. Saya berusaha untuk menghubunginya banyak kali, namun dia tampaknya sibuk dan sedang berkelana di Perancis.


Lalu, saat saya berkunjung ke Lourdes di bulan Agustus, saya dengar bahwa Emile juga sedang di sana di tengah ribuan peziarah yang datang dari segala penjuru dunia. Saya sangat heran dia mau datang ke sini, mempertimbangkan reputasinya sebagai pendiri pergerakan kesusasteraan baru ‘Le Naturisme’, kembali kepada alam, sebuah bentuk realisme yang ekstrim yang menerangkan segala sesuatu berdasarkan gejala alamiah dan menyangkal segala suatu yang supranatural atau dicampurtangani ilahi.

Dengan tekad menemuinya, saya bertanya kepada orang-orang di sana mengenai keberadaanya, tapi tidaklah mudah. Setiap orang yang datang kesini memiliki minat tersendiri, dan tentunya mengincar selebritis bukanlah minat utama mereka. Namun, dengan sedikit keberuntungan, setelah pencarian panjang saya melihatnya ditengah sekelompok kecil peziarah yang sedang bernyanyi dan menari, dekat Grotto di samping sungai Gave de Pau.

Dia sepertinya sedang bergembira di sana dan ternyata orangnya ramah dan mudah didekati.  Setelah saling bertukar ‘Bonjour’, dan ‘bolehkah saya berbicara dengan anda’ dengan sopan,  dia setuju untuk berbincang di sana di pinggir sungai Gave de Pau. Saya tidak menyangka-nyangka, kepala saya meledak membayangkan pujian-pujian dan hadiah-hadiah yang akan saya dapat dari penerbit ‘stenote’.

Lalu saya buru-buru membuka perbincangan:
“Monsieur, Lourdes saat ini tampaknya sudah sangat jauh berkembang dibandingkan dengan saat Bernadette Soubirous hidup. Dulunya adalah perkampungan hijau dengan beberapa ratus penduduk, jauh dari jalan besar, pada masa Bernadette. Sekarang, lihatlah, ada sebuah basilica yang megah di pusatnya, dan gua Massabeille yang liar tempat penampakan Santa Maria sekarang di rapikan dan dihiasi bunga-bunga, dan banyak hotel-hotel dan restoran-restoran bagus yang mengelilingi tempat ini.”

Emile:
“Benar, di buku saya, saya menulis tentang perbandingan keadaan Lourdes masa kini dengan rumah Bernadette di Rue des Petits Floses yang dibiarkan sama seperti keadaan aslinya. Rumah itu tampak sederhana dan menyedihkan di daerah yang suram, dengan bagian muka yang sedih yang jendela-jendelanya tidak pernah terbuka. Di dalamnya seperti ruang gelap yang rendah, dindingnya yang rapuh, plesterannya lembab dan bernoda, rontok sedikit demi sedikit, penuh dengan retak-retak, dan menghitam seperti langit-langitnya. Ya, inilah ruangannya, dari sinilah semua asal muasalnya, 3 tempat tidur untuk 7 orang anggota keluarga Soubirous mengisi tempat kecil ini. Semuanya hidup di sini tampa udara, cahaya, dan hampir tanpa roti! Sungguh kesengsaraan yang mengerikan! Betapa hinanya, kemiskinan yang perlu dikasihani!”

Aku berkata:
“ Tak dapat dihindari bahwa orang-orang mengkritik Lourdes masa kini dalam hal hubungannya dengan praktek-praktek bisnis masa kini, komersialisasi. Sekitar 5 juta peziarah dari seluruh penjuru dunia mengunjungi Lourdes setiap tahunnya, membuatnya kota kedua di Perancis yang paling banyak dikunjungi, setelah Paris. Ada kekhawatiran bahwa dengan menjadi tempat ziarah yang melayani pengunjung masal, aktivitas komersial yang mengitari perziarahan akan meluruhkan kesucian tempat ini.”

Emile, mengutip bukunya:
“Tapi, memang, saya musti bilang bahwa anggota komunitas religious seharusnya tidak memiliki hotel. Tidak, tidak, itu tidaklah benar. Bukankah seharusnya mereka dari komunitas biarawati Blue Sisters, mereka dari Sisters of the Immaculate Conception, membatasi diri mereka ke fungsi mereka yang sebenarnya, pembuatan roti untuk sakramen, memperbaiki dan mencuci kain-kain gereja?

Alih-alih begitu, mereka malah mengubah biara mereka menjadi losmen yang besar, di mana wanita-wanita yang datang ke Lourdes sendirian dapat menemukan kamar tersendiri dan bisa makan di kamarnya maupun di ruang makan umum. Semuanya tentulah sangat bersih, diatur sangat rapih dan tidak mahal, berkat ribuan keleluasaan yang didapatkan para biarawati; kenyataannya tidak ada satupun hotel di Lourdes yang bisnisnya melebihi ini.”

Aku berkata:
“Karena formasi modernnya, bahkan ada tudingan bahwa Lourdes sudah menjadi sebuah Disneyland bagi orang dewasa. Kalau dipikir-pikir, boulevard-boulevard dan taman-tamannya mirip dengan yang di Disney town,  Rosary Basilica dapat dibandingkan dengan Istana Cinderella, prosesi Ave Maria bisa dibandingkan dengan karnaval “Happiness is here” di Disneyland, dan lilin-lilin yang dipakai di prosesi malam bisa dibandingkan dengan kembang api di Disneyland.”

Emile:
“Disneyland di Hong Kong memiliki kereta api khusus menuju tempatnya yang terpencil di pulau Lantau. Seluruh kereta dihiasi dengan Mickey Mouse luar dalam, semua bermotif wajah Mickey. Tempat duduknya diatur seperti ruang keluarga sehingga penumpang dapat merasa nyaman. Jendela-jendelanya berbentuk Mickey, pegangan tangan untuk penumpang berbentuk kupingnya Mickey, dan interiornya dihiasi patung-patung Mickey, Donald dan Goofy. Sehingga anda sudah merasa suasana Disney walaupun belum sampai ke theme park nya.

Di satu sisi, Gereja juga menggunakan kereta api secara inovatif untuk meningkatkan jumlah peziarah ke Lourdes. Mereka mengkoordinasikan kereta api khusus bagi peziarah, merancang gerbong-gerbong untuk mengangkut peziarah yang sakit dan yang cacat, dan mendapatkan diskon 20 hingga 30 persen bagi tiket kelas ekonomi.

Seperti yang saya tulis di buku saya, kereta-api kereta-api ke Lourdes adalah rumahsakit rumah sakit beroda bagi penderita penyakit tahap akhir, yang berisi penderitaan manusia yang bergegas akan harapan penyembuhan, dengan gencar mencari penghiburan di antara serangan-serangan penyakit  yang keparahannya meningkat terus, selalu dibayangi oleh ancaman kematian -  kematian yang bergegas, melaju di bawah kondisi yang mengerikan, seakan berada di tengah-tengah gerombolan penyamun.”

Aku berkata:
“Anda bergabung dengan sebuah kereta api ke Lourdes kala itu untuk melihat sendiri kondisi kereta api dan berdasarkan pengalaman ini anda menulis di buku anda penderitaan, gairah dan harapan para peziarah. Kesakitan, kekhawatiran dan kematian tersebut adalah pengalaman nyata anda di kereta api itu.”

Emile:
“Ya, misalnya Elise Rouquet adalah gadis 18 tahun yang nyata, ia menderita penyakit lupus yang memangsa hidung and mulutnya.  Lukanya telah menyebar, dan menyebar dalam setiap jam – dengan singkat semua gejala mengerikan penyakit ini sudah berkembang sepenuhnya. Dia menutupi seluruh wajahnya dengan syal untuk menyembunyikan penyakit itu. Dia hanya bisa makan potongan-potongan kecil roti, yang dihirup berhati-hati kedalam mulutnya yang sudah hilang bentuknya. Ketika dia membuka syalnya untuk makan, orang-orang bisa melihat wajahnya dengan lubang-lubang menganga yang sepertinya merupakan wajah kematian. Semua orang di gerbong itu menjadi pucat ketika menyaksikan penampakan yang mengerikan itu. Dan pikiran yang sama bangkit di dalam hati orang-orang yang penuh harapan itu. Oh Perawan Penuh Rahmat, Perawan Berkuasa, betapa akan menjadi mujizat benar jika penyakit ini disembuhkan!”

Aku berkata:
“Lalu, seperti yang anda tulis di buku anda, Elise Rouquet merasa tidak perlu pergi ke piscinas (tempat pemandian atau pembasuhan peziarah) untuk memandikan luka mengerikan yang memakan wajahnya, membasuh mukanya dengan air disitu sebagai lotion, setiap 2 jam sejak kedatangannnya pagi itu. Dokter Bonamy, yang menganjurkannya untuk meneruskan pemakaian air itu sebagai lotion dan menyuruhnya kembali setiap hari untuk diperiksa, setelah beberapa saat melihat ada tanda-tanda pemulihan – yang tak tersangkalkan. Jelas nampak bahwa penyakit lupus yang memakan wajahnya, menunjukan tanda-tanda pemulihan.

Elise Rouquet, sekarang lukanya sudah mulai sembuh, lalu membeli cermin kantung, yang bundar besar, di mana ia tidak usah gusar mengamati wajahnya, karena ia menganggap wajahnya cukup cantik dan mengamati dari menit ke menit kemajuan pemulihannya, saat wajahnya sekarang sudah manusiawi kembali, dan lalu dengan genitnya memoncongkan bibirnya dan mencoba berbagai senyuman.

Tapi, Monsieur, walaupun anda mengamati dan menulis tentang kesembuhan penyakit lupus ini, anda menyangkal bahwa ini adalah mujizat. Anda bahkan menampik untuk mengamati wajah Elise yang sedang dalam pemulihan dari dekat seperti yang dianjurkan dokter Bonamy, dan bahkan menjawab :’Bagi saya wajahnya masih jelek.’ Bagaimana and bisa menampik hal ini?”

Emile:
“Seperti yang saya tulis di Pendahuluan buku saya, saya mengakui bahwa saya menjumpai beberapa kasus penyembuhan yang nyata. Banyak kasus gangguan syaraf yang disembuhkan tanpa keraguan, dan ada kasus kesembuhan lain yang mungkin disebabkan oleh kesalahan diagnosis dari dokter-dokter yang memeriksa pasien-pasien tersebut. Kesembuhan yang begini didasarkan atas keteledoran profesi medis.

Seperti yang dikatakan doker Chassaigne para ahli medis menduga banyak penyakit-penyakit ini disebabkan olef syaraf. Ya, mereka menemukan bahwa banyak keluhan seperti ini sering disebabkan buruknya nutrisi pada kulit. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini belumlah dipelajari dan dimengerti dengan baik!  Beberapa ahli medis mulai membuktikan bahwa iman yang diteguhkan bahkan dapat menyembuhkan penyakit, di antaranya beberapa jenis lupus. Bagaimanapun sains adalah sia-sia, sains adalah lautan ketidaktentuan.”

Aku berkata:
“Anda datang ke Lourdes untuk mempelajari fenomena mujizat dari sudut pandang skeptis, namun tak teduga-duga anda mengamati 3 mujizat dalam satu kunjungan anda, sementara bagi banyak orang mereka tak mendengar satu mujizatpun, atau penampakan seakan mujizat, di banyak kunjungan-kunjungan ke sini.

Anda menulis tentang mujizat-mujizat itu dengan terperinci, selain Elise Rouquet ada gadis cilik petani Sophie Couteau yang kembali berkunjung ke Lourdes setelah ia disembuhkan setahun sebelumnya. Dia menderita selama 3 tahun luka menganga yang mengerikan di kakinya, kakinya bengkak dan sudah tak berbentuk. Kakinya selalu diperban karena selalu ada cairan kotor yang keluar dari luka itu. Doker yang membuka kakinya untuk melihat ke dalam, mengatakan bahwa ia harus mengeluarkan sebagian tulang; dan hal ini, cukup pasti akan menjadikan Sophie lumpuh seumur hidup.

Namun dia sembuh dalam sekejap setelah membasuh kakinya di piscina; dimana semua perbannya jatuh terlepas, dan seluruh kakinya sembuh seperti kondisi sehat semula.”

Emile:
“Saya menyelidiki hal ini secara mendalam. Saya dibilangi ada 3 atau 4 wanita di Lourdes yang dapat menjamin fakta-fakta seperti yang dibilang oleh Clementine Trove, nama asli Sophie. Saya mencari wanita-wanita itu. Namun tak seorangpun bisa menjamin apapun, tak seorangpun menyaksikannya, dan saya tak mendapatkan sesuatupun pembenaran akan cerita gadis cilik ini. Tapi gadis ini tidak kelihatan seperti pembohong, dan saya yakin dia sungguh percaya penyembuhannya adalah mujizat. Fakta-fakta lah yang berdusta.”

Aku berkata:
“Ada kasus lain lagi yang anda alami, penyembuhan Marie Lebranchu, anda namai La Grivotte di buku anda. Wanita 36 tahun ini menderita tuberculosis paru-paru yang mematikan selama 2 tahun, dan sudah sampai stadium akhir penyakitnya.”

Emile, mengutip bukunya:
“La Grivotte menangis deras ketika orang-orang tidak mau memandikannya di piscina. Mereka bilang penyakitnya mematikan, dan mereka tak dapat merendam seseorang dengan penyakit mematikan seperti ini ke dalam air yang dingin itu. Lalu ia sampai lelah berkata kepada mereka selama setengah jam bahwa mereka hanya menggusarkan Perawan Penuh Rahmat, karena ia yakin ia akan disembuhkan. Dia mulai menyebabkan skandal hingga salah seorang pastor datang dan mencoba menenangkannya. Lalu setelah mendapat ijin khusus dari pastor Forcade, dia mengharuskan dirinya untuk memohon dan meminta-minta dengan terisak-isak agar mereka merendamkannya.

Dan lalu terjadilah apa yang La Grivotte katakan akan terjadi. Belum lagi direndam selama 3 menit di air sedingin es itu – semua orang khawatir oleh detak penyakit mematikannya – ketika dia mendapatkan kekuatan kembali ke badannya seperti cambuk mencambuki seluruh badannya. Lalu kegembiraan yang berkobar-kobar merasukinya; berseri-seri, berjingkrak-jingkrak, dia tak bisa berdiam. Di malam sebelumnya dia terlihat terbaring di kursi roda, punah, batuk dan meludahkan darah, dengan wajah pucat pasi.”

Aku berkata:
“ Pada akhir buku itu, anda menulis bahwa La Grivotte kembali jatuh sakit dengan penyakitnya yang mematikan itu dan dalam keadaan sekarat di kereta api perjalanan balik ke rumah, yang menyarankan bahwa kesembuhannya tidaklah permanen dan bukanlah supranatural, tapi cuma kasus sugesti automatis di tengah suasana religious yang histeris.

Namun anda terus berhubungan dengan wanita itu lama sesudah kesembuhannya, dan pasti mengetahui bahwa penyakitnya tidak pernah kambuh lagi. Marie Lebranchu, nama asli La Grivotte, hidup sehat sampai tahun 1920.

Dokter Boissarie, atau doker Bonamy di buku anda, Presiden dari Medical Bereau, mempertanyakan kejujuran anda akan cerita anda, merujuk kepada perkataan anda bahwa anda datang ke Lourdes untuk melalukan penyelidikan yang imparsial.”

Emile:
“Saya menjawab dokter Boissarie bahwa sebagai seniman saya bisa berbuat apa saja dengan tulisan saya. Saya menulis untuk mengungkapkan pandangan saya tentang agama penderitaan manusia, penebusan rasa sakit, kemanusian yang menangis putus asa dengan penderitaan, seolah seperti orang lumpuh yang putus asa, kelumpuhan yang tak tersembuhkan, dan yang mana hanya mujizat dapat menyelamatkannya.”

Aku berkata:
“Hampir 7,000 kesembuhan didokumentasikan di perairan Lourdes. Gereja menyelidiki dengan seksama semua kasus ini dan mengakui hanya 67 di antaranya. Ke-67 kasus ini juga disetujyui sebagai mujizat oleh International Medical Committee of Lourdes (CMIL).

Ketiga mujizat yang anda amati, dari Clementine Trove (Sophie Couteau di buku anda), Marie Lemarchand (Elise Rouquet) dan Marie Lebranchu (La Griovote),  semua termasuk dalam 67 mujizat yang disetuhui oleh Gereja dan CMIL.”

Emile:
“Mujizat-mujizat Lourdes tidak dapat dibuktikan ataupun disanggah. Tidak satupun mujizat yang saya amati saya bisa menemukan bukti nyata yang menunjang atau menyanggah bahwa penyembuhan itu adalah mujizat. Bahkan jika saja saya menyaksikan semua orang sakit disembuhkan di Lourdes, saya tetap tidak akan percaya akan mujizat.”

Aku berkata:
“Monsiuer, terlepas dari kepercayaan anda, novel anda telah merangkum dengan baik rasa kasih sayang manusia, tragedinya, harapannya dan drama pejiarah penderita sakit, yang disembuhkan dan yang tak disembuhkan. Pemaparan tentang kenekatan dan rasa putus asa penderita penyakit, yang diabaikan oleh sains dan manusia, mengarahkan diri ke pada Kuasa yang lebih tinggi mengharapkan bantuan. Di sini fenomena Lourdes ditulis dan diamati dengan sangat baik, buku ini menggambarkan Lourdes dari segala aspek. Ada sekitar seratus karakter yang anda tulis, penderita sakit, pejiarah, pastor, suster, perawat, semua mereka terasa hidup dalam tulisan anda.

Lalu, bolehkah saya bertanya untuk terakhir kali, apakah benar Sophie bercerita: ‘Saya tidak membawa cukup perban untuk kaki saya, jadi sang Perawan Penuh Rahmat sangat berbaik hati menyembuhkan saya di hari pertama, karena saya akan kehabisan pembalut di keesokan harinya.”


Emile hanya tersenyum…..


TAMAT

Ini adalah wawancara imajiner mengenang Emile Zola.






Minggu, 21 Juli 2019

Malam Ave Maria di Lourdes



Penulis Perancis yang terkenal, Emile Zola, mengunjungi Lourdes pertama kalinya di September 1891 dan terkesima oleh banyaknya pejiarah yang mengunjungi Lourdes. Dia kembali di bulan Agustus tahun berikutnya yang merupakan saat yang paling sibuk bagi pejiarah, dan meluangkan waktu dengan pejiarah, melakukan wawancara dan pengamatan yang menjadi basis bagi novelnya ‘Lourdes’ yang terbit di tahun 1894.

Dalam kunjungannya Zola menyaksikan prosesi Ave Maria di malam hari dan menggambarkannya di novelnya: “Tigapuluh ribuan cahaya lilin membakar di sana, tegar dan senantiasa berkeliling, mempergegas kilauannya di bawah keheningan mega di mana planet-planet telah pucat. Kilauan cahaya menanjak bergandengan dalam kekangan lagu yang tak henti-henti. Dan gaung nyanyian yang tak henti-henti mengulangi refrain ‘Ave, Ave, Ave Maria’ itu seakan suara percikan api lilin-lilin dalam doa-doa agar jiwa-jiwa dapat diselamatkan.”

Setiap hari di antara bulan April dan Oktober di jam 5 sore pejiarah Lourdes menjawab permintaan Santa Maria dengan berkumpul untul Prosesi Ekaristi. Prosesi itu bermula dari altar udara terbuka di lapangan rumput di seberang sungai dari gua (grotto) dan diawali oleh pejiarah-pejiarah yang sakit dan diikuti oleh pastor, uskup atau kardinal yang memanggul Ekaristi Suci.

Lalu pada jam 9 malam para pejiarah dari berbagai tempat di dunia berkumpul untuk prosesi Ave Maria Lourdes. Prosesi itu bermula dari dekat gua dan berlanjut disekitar boulevard sampai di Rosary Square.
Prosesi ini diawali oleh para pejiarah yang sakit yang diikuti oleh para voluntir yang memanggul replica patung Santa Maria. Fokus dari prosesi dengan cahaya lilin ini adalah doa rosario.  Kelima dari sepuluh butiran rosario didoakan, diasanya dalam berbagai bahasa. Lagu Lourdes Hymn juga dinyanyikan, dalam bait-bait dengan berbagai bahasa. Mungkin ada doa-doa permohonan yang diikuti dengan lagu Laudate Mariam.

Dalam keheningan malam, setiap pejiarah membawa permohonan pribadinya ketika lagu Ave Maria dinyanyikan ber-ulang-ulang selama prosesi yang disinari cahaya lilin. Seperti yang ditulis Elie Zola di novelnya: “Gaung suara yang tak henti-henti mengulangi refrain 'Ave, Ave, Ave Maria’ itu menembus kulit seseorang sungguh-sungguh. Saya merasa seperti seluruh tubuh saya pada akhirnya ikut menyanyikannya.”

TAMAT




Kamis, 11 Juli 2019

Ave Maria di Pagi Hari di Lourdes


Lourdes adalah sebuah kota dagang kecil yang terletak di kaki pegunungan Pyreness di Perancis. Berada pada ketinggian 420 meter dan di lokasi sentral yang dilalui sungai Gave de Pau yang mengalir deras. Setiap tahun, Lourdes didatangi jutaan pejiarah, mereka datang untuk melihat lokasi dimana peristiwa penampakkan  yang tersohor dialami seorang gadis kecil bernama Bernadette Soubirous.


Para pejiarah bisa berkunjung untuk dibersihkan dari dosa-dosa dan disembuhkan dari penyakit mereka. Dipercayai bahwa air dari muara air dari gua itu bisa menyembuhkan orang-orang yang sakit.  Jutaan pengunjung dating ke Lourdes setiap tahunnya dengan harapan agar disembuhkan. Salah satu alas an bagi pejiarah untuk berkunjung ke Lourdes adalah untuk mandi di mata air, untuk berendam sepenuhnya dan minum untuk pembersihan dan penyembuhan. Permandian itu adalah symbol pembaptisan dan juga penguatan iman para pejiarah.

Sejarahnya berawal di tanggal 11 Februari 1858, ketika Bernadette Soubrious, gadis local berumur 14 tahun, pergi keluar dengan saudarinya Toinette, dan seorang kawan Jeanne, untuk mencari kayu api dekat gua di lokasi itu. Sekonyong-konyong, seorang wanita menampakkan diri mengenakan jubah putih cemerlang yang diikat dengan pita biru; tubuhnya diselebungi kerudung putih panjang sampai ke kakinya. Wanita itu kemudian memperkenalkan diri sebagai “the Immaculate Conception” yang merupakan salah satu gelar Santa Maria.

Santa Maria kemudian menampakkan diri 18 kali ke Bernadette, dan pada tanggal 25 Febuari Santa Maria meminta gadis itu untuk menggali sebuah mata air di tempat yang tidak pernah ditemukan sebelumnya. Santa Maria menyuruhnya “Pegilah dan minum dari mata air dan cucilah dirimu di sana.”  Walaupun tempat itu berlumpur, keesokan harinya, dari tanah itu mengalir air yang jernih. Tak lama kemudian dilaporkan adanya penyembuhan dari air yang diminum darinya, dan sejak saat itu banyak orang disembuhkan dari pembasuhan dan minum air itu.  Mata air Lourdes menjadi terkenal karena mujizat-mujizat yang dihubungkan dengannya.

Hal yang amat menonjol di mata para pengunjung awam adalah banyaknya orang-orang sakit dan cacat yang hadir di Lourdes. Semua yang didera oleh hidup dapat menemukan sekadar penghiburan di Lourdes.  Resminya, 80,000 an orang sakit dan cacat dari berbagai negeri dating ke Lourdes setiap tahun. Walaupun menderita penyakit atau cacat, mereka merasa berada di surga kedamaian dan suka cita.


TAMAT




Sabtu, 08 September 2018

Paris, di Latin Quarter


Daerah Latin Quarter terletak di daerah arrondissement 5 dan 6 di Paris. Terletak di tepi kiri sungai Seine, sekitar Sorbonne. Dikenal dengan kehidupan mahasiswa, suasana yang hidup, dan bistro-bistro, Latin quarter adalah tempat berbagai perguruan tinggi di samping universitas Sorbonne.

Meskipun telah beradaptasi dan hilangnya identitas nya yang terdahulu, banyak jalan-jalan di Latin Quarter melingkupi daerah yang dulunya merupakan pusat mahasiswa dan cendikiawan terus menarik perhatian turis-turis dan penduduk Paris.

Namanya didapatkan demikian karena bahasa Latin, yang dulunya banyak dipakai di dalam dan di sekitar Universitas Sorbonne di abad pertengahan, setelah filsuf abad ke 12 Pierre Abélard dan murid-muridnya tinggal di sini. Gereja St Nicolas du Chardonnet, yang terletak di sini, masih menyelenggarakan misa kudus dalam bahasa Latin sehingga sekarang (baca juga artikel ‘Paris, di St Nicolas du Chardonnet’ di blogspot ini).

Mahasiswa masih sering datang ke sini, walaupun tidak lagi berbahasa Latin. Universitas Sorbonne yang termasyur di dunia menerima sekitar 24,000 mahasiswa di 20 departemen yang berfokus pada kesenian, humaniora dan bahasa, terbagi di 12 kampus di Paris. Tujuh kampus terletak di Latin Quarter, termasuk bangunan bersejarah Universitas Sorbonne dan tiga terletak di Marais, Malesherbes and Clignancourt.  Paris Sorbonne juga mencakup CELSA, sekolah komunikasi dan jurnalisme Perancis yang prestigius, yang terletak di daerah suburb Neuilly-sur-Seine.

Riwayat Latin Quarter yang lumpuh karena demonstrasi sudah berlalu setengah abad. Mei 1968 sampai sekarang masih dianggap sebagai pergolakan terbesar yang menimpa masyarakat Perancis modern, dan merombak untuk selamanya bulevard-bulevard 3 jalur di arrondissement 5 di Paris sebagai perwujudan semangat pemberontakan Perancis yang terkenal.

Periode genting saat kerusuhan masal di Paris di saat Mei 1968 digerakan oleh demonstrasi-demonstrasi dan mogok masal dan juga pendudukan universitas-universitas dan pabrik-pabrik di seluruh Perancis. Pada puncak pergolakan itu, pemogokan itu menyebabkan perekonomian Perancis terlihat berhenti.

Pergolakan itu dimulai dengan serangkaian protes pendudukan mahasiswa terhadap kapitalisme, konsumerisme, imperialisme Amerika dan institusi-institusi tradisioanal, nilai-nilai dan peraturan. Protes-protes tersebut memacu pergerakan kesenian, dengan lagu-lagu, coretan dinding yang imajinatif, poster-poster dan slogan-slogan.

Filsuf terkenal Jean-Paul Sartre membangkitkan mahasiswa, perawat, dokter dan guru kedalam hiruk-pikuk protes dari mimbar yang di buat seadanya di bawah pohon oak di bulevard Saint Jacques, para demonstran melempar batu-batu dari belakang barikade di gerbang Sorbonne yang elegan, dan ributnya kerusuhan terdengar hingga Pantheon.

TAMAT




Sabtu, 01 September 2018

Paris, di St. Nicolas du Chardonnet


St. Nicolas du Chardonnet adalah sebuah gereja di pusat kota Paris, Perancis, terletak di arrondissement 5. Aslinya didirikan di abad ke 13, gereja itu direkonstruksi besar-besaran dari tahun 1656-1763. Banyak perubahan dilakukan di interior gereja St Nicolas ini dalam abad-abad yang lalu.

Semenjak tahun 1977, gereja ini dipakai oleh kelompok traditionalis Serikat St.Pius X. Di bawah serikat ini gereja menjalankan ibadat misa Latin tradisional sehingga saat ini.

Gereja St. Nicolas adalah salah satu dari sedikit gereja-gereja di kota sekular Paris yang secara rutin dan ekslusif menjalankan ibadat tradisional Misa Latin. Misa ini berfokus pada pengorbanan Hati Kudus Yesus Kristus di salib. Akan ada kesenyapan yang penuh hormat dan khusyuk sebelum, ketika dan setalah Misa tesrsebut.

Di dalam bagian pertama Misa itu, Mazmur 42 dinyanyikan:

Seperti rusa merindukan air sungai, demikian jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.

Aku merindukan Allah yang hidup, kapan aku boleh pergi beribadat di Rumah-Nya?

Siang malam aku menangis, hanya air mata makananku. Sepanjang hari musuhku bertanya, ‘Di mana Allahmu?’

St. Nicolas dary Myra dihormati banyak orang Kristen sebagai seorang kudus, karena banyak mujizat yang dipengaruhi olehnya. Ia sangat kaya karena orangtuanya meninggal ketika ia masih muda dan mewarisinya banyak uang. Setelah orangtuanya meninggal, diberitakan bahwa Nicolas membagi-bagi kekayaannya kepada orang miskin.

Reputasinya tersiar diantara orang-orang yang beriman, dan kebiasaan legendarisnya membagi-bagi hadiah menumbuhkan tradisi model Santa Claus di dunia modern.

TAMAT


Sabtu, 11 Agustus 2018

Wawancara dengan Albert


Photo: Wikimedia
Dia tinggal di Hôtel du Poirier di rue Ravignan di atas salah satu bukit-bukit di Montmatre, Paris. Tempat itu adalah salah satu tempat yang paling indah di Paris, namun kamar hotelnya gelap dan kosong, hanya ada satu meja untuk menulis.

Mudah dimengerti bagaimana di dalam kamar yang gelap ini, “seseorang merasa seperti orang asing, mendengar suara sebuah kota yang tiba-tiba menjadi asing. Saya bukan dari sini – juga bukan dari tempat lain yang manapun. Dan dunia menjadi hanyalah sebuah tempat tak dikenal di mana hatiku tidak bisa bersandar kemanapun”, begitu ditulisnya di buku catatannya.

Pagi itu dia kelihatan rileks dan menyapa aku dengan salaman yang hangat. Televisinya menyiarkan dengan lantang perayaan Worl Cup Perancis di Champ Elysees. Kerumunan orang seperti bergembira mabuk di nirwana dengan bendera Perancis yang melambai di mana-mana. Nampaknya dia sedang menonton perayaan ini di televisi sebelum aku mengetok pintunya.

Mengetahui bahwa dia adalah penggemar sepakbola yang kental, aku lalu berkata kepadanya:
“Selamat atas kemenangan Perancis di World Cup untuk kedua kalinya, anda pasti sangat bergembira.”

Matanya yang besar bersinar dan dia tersenyum lebar:
“Saya memang sangat bangga kepada mereka. Saya bisa melihat perencanaan yang teliti, kerja keras, disiplin yang ketat dan kecermelangan penembak muda Kylian Mbappé, penyerang tengah Paul Pogba yang gesit dan pertahanan yang tanpa menyerah dari N’Golo Kanté, Raphaël Varane dan Samuel Umtiti. Kerja sama tim yang bagus, sepak bola memang mengenai hal itu.  Dan juga seperti yang disebut Deschamps pelatih mereka: “Kami tidaklah bermain dengan luarbiasa tapi menunjukkan kualitas mental, dan mencetak empat gol bagaimanapun juga.” Pertandingan yang bagus.”

Aku berkata:
“Saya mendegar akan begitu bersemangatnya akan sepakbola, suatu saat anda pernah ditanya pilih sepakbola atau teater, jawaban anda adalah pastilah sepakbola tanpa ragu-ragu.”

Albert:
“Ya memang waktu saya masih muda saya bermain sebagai penjaga gawang untuk Racing University of Algiers, kami memenangkan African Champion Cup di saat itu. Saya belajar dari sepakbola tentang rasa kerjasama tim, kebersaudaraan dan kepentingan bersama,  ini adalah cara belajar yang bagus. Setelah beberapa lama setelah banyak yang saya lihat, pengetahuan saya secara pasti tentang moralitas dan tugas hidup manusia saya dapatkan dari olahraga ini.”

Aku berkata:
“ Percakapan yang bagus, Albert, saya bisa merasakan semangat yang tinggi dan keterlibatan anda akan sepakbola, penghargaan anda yang mendalam akan sepakbola, yang sangat kontras dengan rasa kekosongan, keterasingan, ketakperdulian di dalam hampir semua novel yang anda tulis. Sebagai contohnya bertolak belakang dengan rasa kegembiraan kemenangan anda atas World Cup, coba dengar apa yang anda tulis di pembukaan The Stranger yang menjadi salah satu pembukaan yang paling terkenal di dunia sastra : “Ibu meninggal hari ini, atau mungkin kemarin, aku tidak tahu.”

Albert:
“ Saya banyak meluangkan waktu di saat musim panas di pantai populer Les Sablettes di Algeria. Saya hidup melarat di masa kecil namun juga dengan semacam kesenangan lahiriah, dengan berenang, sinar matahari, pasir dan sepakbola. Saya lelaki Mediterranean, dengan badan sehat yang menyembah keindahan dan badan seperti orang Yunani kuno. Saya berada di antara kesengsaraan dan sinar matahari. Kesengsaraan menghentikan saya akan kepercayaan akan bahwa semua baik adanya di bawah matahari, dan akan sejarah; matahari mengajari saya bahwa sejarah bukanlah segalanya.  Kebersemangatan masa belasan tahun hidup saya terputus, ketika pada umur 17 tahun, dokter-dokter mendiagnosa TBC. Selalu bernapas pendek, saya terpaksa meninggalkan karir sepakbola yang cerah, dan akan terus menderita akan kambuhnya penyakit ini seumur hidup saya.

Pada umur 27 tahun saya meninggalkan Algeria setelah kehilangan pekerjaan ketika koran Alger républicain berhenti beroperasi. Saya mendapatkan pekerjaan di koran Paris-Soir yang membayar tiga ribu francs per bulan untuk bekerja lima jam per hari kerja, dalam pengaturan kerja yang terasa asing. Pekerjaan saya di koran ini tidaklah menarik, saya ditugasi untuk menata halaman empat, mengatur kolom-kolom dan jenis huruf yang berantakan. Setelah bekerja di pagi hari maupun malam hari, saya akan kembali ke kamar hotel saya yang gelap di Montmartre. Suatu ketika, dari atas Montmartre saya melihat Paris seperti kabut raksasa di bawah curah hujan, sebuah kota yang terasa penuh sesak namun juga kosong, dimana di mana hati saya tidak bisa bersandar kemanapun. Saya selalu melihat Paris dengan pandangan mata orang asing.”

Aku berkata:
“Bagaimanapun di  dalam kamar hotel di Montmartre yang gelap itu anda menulis novel anda yang terkenal The Stranger, novel dengan pembukaan yang terkenal itu, tentang Meursault yang mengalami perasaan terpisah dari kenyataan yang membuatnya serasa orang asing di kota kelahirannya di Algeria. Cerita itu memiliki rasa absurdisme yang amat kental, perasaan terputus segenapnya dari orang-orang lain, tidak berdampak, terkucil dan hilangnya makna hidup. Apakah makna absurdisme bagi anda?”

Albert:
 “Pada hari prosesi pemakaman ibunya di Marengo, perasaan yang paling intens yang dialaminya adalah teriknya matahari, silaunya langit yang tak tertahankan, yang membuatnya merasa pembuluh darah nya berdebar di keningnya.  Pemakaman ibunya sendiri tidak memberi suatu makna apapun baginya, dia tidak menangis, dia tidak peduli untuk melihat tubuh ibunya di dalam peti untuk terakhir kalinya.

Perjalanan kembalinya ke Algeria setelah pemakaman terasa bagaikan melegakan baginya. Setelah sampai dia memutuskan untuk pergi berenang dan bertemu Marie Cardona di kolam renang, lalu mereka berenang bersama, di sore hari mereka menonton filem komedi dari Fernadel dan bercinta di tempat tidur di malam harinya.

Bagaimanapun,  di keesokan sorenya dari balkoninya ia berkata: “Sebuah hari Minggu lagi yang berlalu, ibu dikuburkan, besork kembali bekerja, dan, benar-benar, tidak ada satu hal pun yang berubah.”

Aku berkata:
“Pandangan “Mediterranean” ini yang menjangkar pandangan anda kepada tempat di mana anda dibesarkan dan untuk membangkitkan rasa harmonis dan penghargaan akan kehidupan lahiriah.
Badan yang kecokelatan karena matahari menikmati pantai-pantai dan sinar matahri Algeria, berenang, bermain sepakbola, minum-minum dan gadis-gadis. Berlawanan dengan kehidupan Algeria yang penuh sinar matahari, Meursault berkata tentang Paris: “sebuah kota yang rada kotor, menurut saya. Banyak burung-burung dara dan halaman rumah yang gelap. Dan manusianya memiliki muka yang tercuci bersih, wajah yang putih.”

Namun matahari yang panas terik yang sama seperti pada hari pemakaman ibunya, yang memberinya rasa sakit di keningnya, dan yang membuat semua pembuluh darahnya berdebar di bawah kulitnya, cahaya matahari yang bersilau yang sama dan panas teriknya matahari yang sama yang menyebabkannya menembak mati seorang Arab, tidak ada alasan lain selain silaunya cahaya matahari yang meletihkan dan panas teriknya matahari.

Cerita ini menyarankan bahwa meskipun Meursault menikmati kehidupan di bawah sinar matahari Mediterranean, di sisi lain cahaya matahari yang membutakan menyebakannya tidak dapat memberi makna akan pemakaman ibunya, dan panas terik matahari yang sama, bukan sebab lain, yang membuatnya menembak mati seorang Arab.

Inikah alasan mengapa anda memberi judul novel ini The Stranger, hidup secara intens kehidupan Mediterranean, menikmati matahari, badan kecokelatan telanjang di pantai-pantai, gadis-gadis menari dengan berkeringat, namun terputus, tak peduli dan terkucilkan dari kehidupannya?”

Albert, mengutip novelnya The Fall:
“Saya ada di sini tanpa berada di sini: Saya absen pada saat ketika saya mengambil hampir seluruh ruang. Saya tidak pernah benar-benar tulus dan antusias kecuali ketika saya dulu menikmati olah raga, dan di dalam ketentaraan, ketika saya dulu bermain sandiwara untuk menghibur diri kami sendiri. Dalam kedua hal itu ada aturan main, yang tidak serius namun yang kami nikmati seakan-akan serius. Sampai sekarangpun, pada pertandingan hari Minggu di stadion yang penuh sesak, dan di dalam teater, yang saya cintai dengan penuh gairah, di situlah di kedua tempat itu saja di dunia, saya merasa murni.

Namun siapa yang bisa menganggap tingkah laku demikian adalah sah di hadapan cinta, kematian dan penghasilan orang miskin? Namun apa yang bisa kita perbuat? Saya bisa membayangkan cinta Isolde hanya di dalam novel atau di atas panggung. Kadang kala orang di tempat tidur kematiannya seakan meyakinkan saya akan peranan mereka. Kalimat –kalimat yang diucapkan oleh klien-klien saya yang malang selalu memberi kesan akan pola yang sama. Sehingga, hidup di antara manusia tanpa memperhatikan kepentingan mereka, saya tidak dapat mempercayai komitmen-komitmen yang saya buat. Saya cukup sopan dan malas untuk hidup sesuai dengan apa yang diharapkan dari profesi saya, keluarga saya atau kehidupan bermasyarakat saya, namun setiap saat dengan sejenis rasa acuh yang menodai segalanya.”

Aku berkata:
“ Dalam pentutupan The Stranger, Mersault yang menghadapi hukuman mati dengan guillotine mengakui bahwa eksistensi tidak bermakna, namun ia sekarang bersuka cita menikmati rasa sebagai orang hidup.”

Albert, mengutip Meursault:
“ Dan saya, juga, merasa siap untuk mengulangi kehidupan dari awal. Hal itu seakan-akan rasa marah yang meluap-luap telah mencuci bersih diri saya, mengosongkan saya akan harapan, dan, menerawang ke langit yang gelap yang disinari dengan tanda-tanda dan bintang-bintang, untuk pertama kalinya, pertama kali, saya membuka hati saya akan ketidaperdulian yang jinak dari alam semesta.  Untuk merasakan sebagai diri saya sendiri, memang, sangat bersahabat, membuat saya sadar bahwa saya berbahagia, dan saya masih bahagia. Untuk meraih segalanya, bagi saya agar tidak terlalu merasa kesepian, hal yang masih bisa diharapkan adalah bahwa pada hari pemacungan saya akan ada banyak penonton yang menyambut saya dengan lolongan: pancung dia.”

TAMAT
Ini adalah wawancara imajiner mengenang Alber Camus.


Senin, 02 Juli 2018

Wawancara dengan Victor


Photo: Wikimedia
Pada Jum’at pagi itu aku buru-buru menuju kafe Le Consulat untuk berbincang-bincang dengan Victor. Aku sangat bersemangat untuk menemuinya karena aku punya banyak pertanyaan tentang novelnya yang terkenal The Hunchback of Notre-Dame (Si Bongkok dari Notre-Dame). Ketika aku sampai dia sudah di sana menyeruput kopi une noisette yang hangat.


Aku berkata:
Bonjour Monsiuer, terimakasih untuk meluangkan waktu di tengah kesibukan anda. Saya punya banyak pertanyaan, mudah-mudahan kita bisa mendiskusikannya semua dan menyelesaikannya tepat pada waktunya.

Victor:
“Katakanlah, mon amie…”

Aku berkata:
“Monsiuer, judul asli dari novel anda yang terkenal “The Hunchback of Notre-Dame” sebenarnya adalah “The Notre-Dame of Paris” (Notre-Dame di Paris). Dengan judul asli ini apakah anda ingin menekankan kesejarahan Notre-Dame ataukah drama kemanusiaan yang dipanggungkan di Notre-Dame?”

Victor:
“Seperti yang diceritakan di Buku 3 bab 1 katedral Notre-Dame telah menua disebakan oleh banyaknya degradasi dan pengrusakan yang disebakan baik oleh waktu maupun oleh tindakan manusia. Waktu telah menyayat permukaannya di sana sini, dan menggerogoti dimana-mana; revolusi politik dan agama telah mengoyak jubahnya yang indah,  ukir-ukiran dan patung-patungnya, memecahkan jendela mawarnya, merusakkan kalung arabesques dan hiasan-hiasan mungilnya, menggulingkan patung-patungnya.
Lalu usaha restorasi membuatnya bahkan lebih norak dan dungu. Restorasi itu telah menerapkan, atas nama selera tinggi, pada luka-luka bagunan arsitektur gothic ini, kenorakan yang menyedihkan, pita-pita dari marmer, bola wool dari metal, ornamen berbentuk telur yang diliputi kusta sebenarnya, aksara-aksara asing, lingkaran spiral, gorden-gorden, karangan bunga, bingkai-bingkai, api batu, awan tembaga, malaikat cupid yang tembam, malaikat bocah berpipi gemuk.

Namun Notre-Dame adalah juga rumah bagi Quasimodo, si Bongkok buruk rupa dengan hati emas, juga rumah bagi Claude Frollo, pastor yang alim yang berubah menjadi setan, yang mengadopsi Quasimodo yang ditelantarkan orangtuanya selagi kecil di sebuah tempat tidur di Notre-Dame. Dan Esmeralda mengambil perlindungan Notre-Dame untuk beberapa saat bersembunyi dari kejaran tentara kerajaan. Notre-dame adalah juga panggung dimana Esmeralda, Frollo dan Jehan jatuh mati dengan tragis.”

Aku berkata:
“Penderitaan Quasimodo, si Bongkok dalam novel ini, sangat keterlaluan diluar kemanusiaan. Sebagai anak kecil dia ditelantarkan karena buruk rupanya, badannya bengkok, Cuma punya satu mata, kepalanya terletak langsung di punggungnya, tulang belakangnya melengkung, tulang dadanya menonjol, dan kakinya bengkok.
Para ibu yang melihat anak ini di tempat tidur Notre-Dame begitu terperanjat sehingga salah seorang bertanya: “Apakah ini, mbak?”, dan ibu yang lain berkata: “ apakah yang yang akan terjadi terhadap kita, kalau demikianlah anak-anak dibuat sekarang?”  dan yang seorang lagi: “pastilah berdosa untuk melihat anak ini.”

Victor:
“ Dia kemudian kehilangan pendengarannya sebagai pembunyi lonceng Notre-Dame, lonceng-lonceng itu telah merusakkan gendang telinganya, dia menjadi tuli.
Namun penderitaannya tidak sebanding dengan penderitaan Stephen Hawking. Dia didiagnosa dengan penyakit amyotrophic lateral sclerosis (ALS), suatu bentuk penyakit syaraf penggerak, ketika berumur 22 tahun dan tidak diharapkan untuk bertahan hidup beberapa tahun lagi. Penyakit ini menyebabkan kelemahan dari syaraf penggerak atas atau bawah, atau keduanya. Dia tidak bisa jalan, bergerak dan harus duduk di kursi roda, juga tidak bisa menulis dan berbicara. Dia lalu mulai menggunakan menu yang dikontrol oleh sistem komputer untuk berkomunikasi.

Aku berkata:
“Namun orang-orang menghormati dan menyayangi Stephen Hawking karena kecerdasannya, dimana hidupnya digunakan untuk memecahkan misteri alam semesta melalui fisika. Saya bisa membayangkan betapa menjengkelkannya buat dia untuk mempunyai penyakit yang menghambat pergerakannya dalam pencariannya akan “teori untuk semua hal.”
Dalam hal Quasimodo berbeda, orang-orang mengolok-oloknya selalu, dia bahkan dimahkotai Paus Orang-Orang Dungu waktu Festival Orang-Orang Dungu.”

Victor:
“Yang paling sulit baginya adalah kesadaran akan buruk rupanya di depan Esmeralda, dipandang oleh wanita yang dia sayangi dan cintai amat sangat… Di Buku 9 Bab 2 dia berkata kepada Esmeralda: “Aku menakutkan kamu. Aku sangat buruk, bukankah begitu? Janganlah memandang aku; dengarkan aku sajalah.”

Aku berkata:
“Ya, itu kejadian yang sangat menyayat hati, untuk merasa tidak nyaman di depan wanita yang dia sangat cintai hingga dia menyabung nyawa untuk menyelamatkan wanita ini dari hukuman mati, dan menggotongnya ke tempat suaka Notre-Dame sebagai pelarian.”

Victor:
“Lebih dari itu, di Buku 9 Bab 4 diceritakan: “Suatu saat Quasimodo datang pada saat Esmeralda sedang membelai Djali, kambing kesayangannya. Dia berdiri tak bergerak untuk beberapa menit di depan persektuan anggun dari kambing dan wanita gypsy ini; lalu akhirnya ia berkata, menggelengkan kepalanya yang besar dan salah bentuk, --“Nasib tak beruntung aku bahwa aku masih tampak teralu banyak seperti manusia. Aku akan sangat suka untuk menjadi hewan seperti kambing itu.”  Wanita itu memandangnya dengan penuh keheranan.”

Mendengar itu, aku terdiam sejenak… dan kemudian seakan ingin menghibur Quasimodo akan nasibnya yang tak beruntung aku berkata:
“Saya tak dapat melupakan kejadian di Buku 8 Bab 6, ketika Quasimodo menyelamatkan Esmeralda dari hukuman mati, yang dengan sergap menuju ke ke dua orang algojo seperti seekor kucing yang jatuh dari atap, menonjok mereka dengan tinjunya yang besar, menggotong Esmeralda dengan satu tangan, seperti seorang anak memegang bonekanya, dan berlari balik ke dalam Notre-Dame dengan satu tujuan, menggotong gadis muda di atas kepalanya dan berseru dengan suara lantang, ----“Suaka!”
Dan lalu ,”Suaka! Suaka!” para penonton bersorak-sorak; dan tepuk tangan beribu tangan membuat mata tunggal Quasimodo bersinar dengan kegembiraan dan kebanggaan.”

Victor:
“Ya di masa abad pertengahan hukum menyatakan bahwa Notre-Dame adalah tempat kebal hukum. Esmeralda tidak bisa dilukai oleh para algojo asalkan ia tetap tinggal di dalam dinding-dinding Notre-Dame.”

Aku berkata:
“Namun Notre-Dame adalah juga rumah dan tempat suaka bagi Claude Frollo pastor alim yang berubah setan. Orang ini pada mulanya adalah bagaikan malaikat yang mengadopsi Quasimodo walaupun cacat, buruk rupa, demi kasihnya bagi Jehan adik kecilnya sedarah.”

Victor:
“Dan Buku 4 bercerita: “Belas-kasih Claude bertambah dengan pandangan butuk rupa ini; dan ia bersumpah dalam hatinya untuk memelihara anak ini demi kasihnya akan adiknya, agar, apa saja kesalahan Jehan di masa depan, ia akan memiliki di sampingnya amal kasih ini yang dilakukan demi dia.
Ketika masih kecil, Quasimodo sering mencari pengungsian di antara kaki Claude Frollo, ketika anjing dan anak-anak menggonggong kepadanya. Claude Frollo juga mengajarnya berbicara, membaca dan menulis. Kita bisa berkata kemudian, karena rasa terimakasihnya Quasimodo mengasihi pastor ini melebihi seekor anjing, seekor kuda, seekor gajah menyayangi tuannya.”

Aku berkata:
“Lalu bagaimana jadinya pastor yang penuh kasih ini, malaikat ini, berubah menjadi  setan tukang sihir?”

Victor:
“dari dalam biara, reputasinya sebagai orang terpelajar terdengar oleh orang-orang. Dia belajar obat-obatan, astrologi dan ilmu kepercayaan. Obsesi terbarunya adalah ilmu kimia karena ia ingin membuat emas dari batu. Di masa abad pertengahan kita bisa bilang bagaimanapun, bahwa ilmu pengetahuan dari Mesir, tentang kerasukan dan sihir, bahkan yang paling putih, telah dianggap sebagai tindakan sihir.”

Aku berkata:
“Namun malaikat ini berubah menjadi setan sebenarnya, setelah dia jatuh cinta sedalamnya dengan Esmeralda, atau lebih tepatnya setelah dia terperangkap nafsu akan Esemeralda.”

Victor:
“Di dalam hatinya Claude Frollo percaya bahwa kejadian yang akan menimpa Esmeralda adalah takdir, di Buku 7 bab 5 diceritakan bagaimana Claude Frollo berkata dengan suara yang seperti datang dari kedalaman keberadaannya: “Lihatlah ini sebuah simbol bagi semuanya. Wanita itu terbang, ia gembira, ia baru dilahirkan; ia mencari mata air, udara terbuka, kebebasan: oh ya! namun biarkan ia bersentuhan dengan jaringan berbahaya, dan laba-laba yang timbul dari sana, laba-laba yang bersembunyi! Penari yang malang! malang, nasib lalat yang telah ditakdirkan! Biarkan hal-hal demikian terjadi, tuan Jacques, itu adalah takdir! Aduh! Claude engkaulah laba-laba itu.”

Aku berkata:
“Saya bisa melihat bahwa di babak ini Claude Frollo berbicara tentang bagaimana lalat itu mencari udara terbuka, sinar di hari yang terang, tapi tidak melihat kaca jendela yang menghadang ke dunia luar. Lalat itu tidak memiliki indera untuk menyadari jebakan sarang laba-laba di muka jendela dan ia terbang langsung dengan kepala di muka ke jaringan laba-laba.”

Victor:
“Kemudian ia berkata: “ Dan kalaupun engkau dapat meloloskan diri dari jaringan laba-laba yang ketat itu, dengan sayap mungilmu, engkau percaya akan bisa mencapai cahaya di luar? Aduh! kaca itu ada di depan, hadangan yang tak kelihatan, dinding kristal itu, lebih keras dari tembaga, yang memisahkan semua filsafat dari kebenaran, bagaimana engkau akan melampauinya? Oh, kesombongan ilmu! berapa banyaknya orang cerdik pandai terbang dari jauh, untuk menabrakan kepalanya kepadamu! Berapa banyak sistem sia-sia melemparkan diri mereka berdengung terhadap panel kekal itu.”

Aku berkata:
“Demikian pula kejadian yang menimpa Esmeralda, dia selamat dari hukuman mati karena Quasimodo melepaskan dan menyelamatkannya, membawanya ke suaka di Notre-Dame. Juga ketika para gelandangan menyerbu Notre-Dame, ia diselamatkan oleh Pierre Gringoire. “suaminya di atas kertas”, namun ia ternyata ia dijebak dan tertangkap lagi oleh Frollo.
Suster Gudule, ibunya yang sebenarnya, berusaha membebaskan Esmeralda dari jebakan Frollo, namun usaha ini gagal ketika Esmeralda tiba-tiba mengetahui bahwa Phoebus, lelaki yang ia cintai, berada di dalam pasukan yang mencarinya, shingga Esmeralda berteriak memanggil namanya agar menyelamatkan dia. Kejadian ini membuat pasukan kerajaan mengetahui persembunyian Esmeralda dan menangkapnya. Dengan demikian nasibnya telah ditentukan.”

Victor:
“Seperti bagaiman Dante menggambarkan Beatrice sebagai “Si Cantik dalam jubah putih”, demikian pula si cantik Esmeralda mati, dalam jubah putih. Esmeralda mati karena tindakannya sendiri karena cinta, walaupun bertepuk sebelah tangan, sebenarnya hanyalah cinta naksir. Mereka hanya bertemu beberapa kali, seperti halnya Dante dengan Beatrice, hanya beberapa kali. Tapi Phoebus tidak mencintai Esmeralda, ia hanya ingin tidur dengannya. Dia tidak mendengar Esmeralda memanggil namanya minta tolong dari tempat persembunyiannya, kejadian ini menyebabkan Esmeralda tertangkap menuju kematiannnya, dalam jubah putih.”

Aku berkata:
“ Anda tahu, Stephen Hawking yang menghabiskan hidupnya mengejar “teori untuk semua hal”, suatu saat ketika ditanya hal apakah yang paling banyak dipikikannya sehari-hari, dia berkata: “Wanita. Mereka adalah sebuah misteri yang utuh.”

Ini adalah wawancara imajiner mengenang Victor Hugo