Berjalan sepanjang satu kilometer di
Omotesando adalah pengalaman yang istimewa. Dikenal sebagai Champs-Elysees-nya
Tokyo, jalan dengan jajaran pohon zelkova di tepinya, memperkenalkan berbagai
toko bermerek dunia. Omote yang berarti ‘dari depan’ dan Sando yang berarti
‘datang’, berfungsi sebagai jalan masuk utama menuju kuil Meiji sejak jaman
Taisho. Masa kini, jalan lebar yang menghubungkan kuil Meiji sampai jalan
Aoyama dijalani berjuta orang di sisinya untuk berbelanja di toko-toko bermerek
mewah.
Jalanan yang lebih sempit, berliku-liku di
Ura-Harujuku di belakang kedua sisi Omotesando juga menarik. Di jalanan ini,
kita bisa menemukan toko-toko pakaian yang tak terlalu bermerek namun menarik,
café-café bertema dan beberapa restoran Jepang terbaik di Tokyo.
Namun walaupun kita datang ke Tokyo bukan buat
berbelanja, berjalan sepanjang Omotesando saja cukup menyegarkan, menikmati
suasananya, dan mengamati arsitektur bangunan yang lain dari lain yang dirancang
oleh arsitek-arsitek superstar Jepang seperti Tadao Ando, Toyo Ito, Jun Aoki,
Hiroshi Nakamura dan Norihiko Dan.
Tadao Ando merancang Omotesando Hills shopping mall,
dengan muka sepanjang 250 m sepanjang jalan itu, setiap lantai dibangun
sepanjang lereng untuk menciptakan kesinabungan dengan jalanan, dan memberi
ruang tambahan bagi publik. Taman disediakan di atap bangunan, untuk menyambung
suasana dari pohon-pohon zelkova sepanjang jalan itu.
Photo: Wikimedia
Toyo
Ito merancang bangunan khusus buat Tod’s, pembuat sepatu dan tas bermerek
terkenal dari Itali. Degan bentuk-L dan bagian depan yang sempit, dinding beton
memberi kesan seperti jejeran pohon zelkova sehubungan dengan alam di
Omotesando. Di mana banyak butik-butik mewah bermerek dibangun, dengan memilih
beton sebagai bahan utama arsitek ini dengan berani tampil berbeda dan kokoh
dibandingkan dengan bangunan-bangunan gelas kaca di sekitarnya.
Photo: Wikimedia
Jun
Aoki merancang Gedung Louis Vuitton menurut kesan tumpukan koper-koper, karena
Louis Vuitton terkenal akan koper-koper dan tas-tas ciptaan mereka. Setiap
koper merupakan sebuah ruangan khusus yang dihubungkan dengan koridor-koridor.
Bangunan dengan tekstur lunak logam di bagian muka memberi kesan seakan guguran
daun-daun pohon zelkova di muka Gedung itu.
Photo: Wikimedia
Bangunan
8 lantai Hugo Boss rancangan Norihiko Dan di kelilingi oleh bangunan Tod’s
berbentuk-L. Jadi dia merancang bangunan itu melonggarkan pengaruh bangunan
Tod’s dengan menciptakan bentuk-bentuk vertikal yang dikombinasikan dengan
lingkaran lantai-lantai. Hal ini tampaknya menonjolkan bangunan Tod’s, dan menciptakan simbiose yang harmonis.
Tekstur bangunan ini dibentuk oleh kolom-kolom dari baja dengan penampilan
tekstrur serupa kayu.
Photo: Wikimedia
Shopping
mall lainnya, Tokyu Plaza, muncul sebagai benteng mode pakaian. Struktur yang
unik ini dirancang oleh Hiroshi Nakamura, arsitek pemenang penghargaan.
Bangunan ini secara resmi menjadi kandang dari berbagai retailer busana besar,
dan juga buat beberapa retailer Jepang yang lebih kecil. Elevator muka yang
dindingnya terbuat dari cermin-cermin kelihatan menarik dari jauh, namun ketika
kita menaiki elevator kepala cukup pusing melihat semua refleksi di
cermin-cermin itu. Hal ini seperti berjalan di dalam terowongan dengan dinding
terbuat dari bola-bola gemerlap diskotek. Mewah, tapi bukan buat para
minimalis.
Katedral ini, di pinggir Fiume Adige di
daerah paling utara Verona, dapat dicapai dengan hanya jalan kaki sebentar dari
jemabatan Ponte Pietra. Tempat ini sebenarnya sebuah kompleks, karena tempat
ini meliputi pembaptisan Giovanni in Fronte, gereja Santa Elena, reruntuhan
bangunan pertama basilica jaman paleo-Kristen, biara para Canons, dan
perpustakaan Capitoline.
Katedral Santa Maria Matricolare, adalah
campuran fantastis dari gaya Veronese Romanesque dengan elemen-elemen Gothic.
Interior katedral ini sebagian besar mewakili gaya sebuah gereja Romanesque,
yang terbagi menjadi tiga lorong oleh pilar-pilar dari marmer merah Verona yang
mendukung lengkungan langit-langit gaya Gothic.
Ketika kita memasuki katedral ini, hal
pertama yang menarik anda adalah kapel-kapel di pinggir ruangan dengan dekorasi
mewah, yang menampilkan karya seni beberapa abad di bawah kuasa Venesia. Di
kapel pertama di sebelah kiri digantungkan lukisan Titian tentang “Kenaikan ke
Surga”. Lukisan agung ini, memperlihatkan para rasul berlutut dan memandang
Santa Maria terangkat ke angkasa di dalam awan-awan yang menjulang. Lukisan ini
sempat diambil oleh Napoleon I ke Paris sewaktu kekuasaannya, namun
dikembalikan ke Verona setelah ia meninggalkan Eruopa.
Daerah terkudus katedral ini tertutup oleh
lengkungan layer paduan suara yang diciptakan oleh Sanmicheli dan didekorasikan
dengan Salib karya Giambattista da Verona. Daerah altarnya sendiri memiliki
fresco-fresco karya Francesco Torbido, berdasarkan gambar-gamabr dari Guilio
Romano.
Dari belakang katedral ini kita akan
melewati gereja kecil S. Giovanni in Fonte yang di waktu lampau dipakai sebagai
tempat pembaptisan. Kolam pembaptisan yang berbentuk octagonal di tengah gereja
itu diukir dari blok marmer tunggal. Kolam baptis ini diciptakan oleh pemahat
Verona bernama Brioloto.
Di samping gereja pembaptisan ini ada
gereja Santa Elena. Di dinding muka gereja ini ada sebuah tablet Latin yang
menyatakan bahwa penyair Dante Alighieri berada di sisni di tahun 1320 untuk
menyampaikan idenya "Quaestio de Aqua et Terra", yang merupakan bahan
penting mengenai kosmologi di abad pertengahan.
Di altar gereja ini terpajang lukisan dari Felice
Brusasorzi yang menggambarkan Madonna di singasana dengan sang Putra, Santo
Stefanus, Santo Zeno, Santo Giorgio dan Santa Elena.
Sebuah gereja yang dibuat untuk Santo
Giorgio dan Zeno di lokasi ini diresmikan di antara tahun 842 dan 847, namun
hancur oleh gempa bumi di tahun 1117. Gereja yang sekarang dibuat dengan
merekonstruksikan gereja yang runtuh, yang diselesaikan di tahun 1140.
Judul bukunya yang terkenal Crime and
Punishment (Kejahatan dan Hukuman) tidaklah menganjurkan bahwa buku ini adalah
sebuah novel, melainkan bunyinya bagaikan sebuah buku filsafat atau sosial politik. Jadi, pada
awalnya buku ini tidak menarik bagi saya karena sudah ada begitu banyak buku
yang menulis tentang topik ini. Namun Ketika saya membaca ulasan tentang buku
ini, kelihatannya menarik dan memacu saya untuk membacanya, walaupun saya kira akan ada diskusi filsafat
mengenai topik ini. Memang ada, namun ditulis seperti diskusi biasa diantara
mahasiswa. Tidaklah sulit untuk mengikutinya.
Lalu, setelah membaca buku yang sangat menarik
ini, saya mengambil kereta api dari Moscow menuju St. Petersburg di musim
dingin untuk menemui penulis besar ini. Kami bertemu di apartemen di pojok
jalan Grazhdanskaya 19 dimana Raskolnikov pernah tinggal. Sepintas lalu, Fyodor
tampak seperti seorang penulis yang pemalu, pucat, dan tertutup, dan dia
bergerak dengan amat kikuk dan tersentak-sentak. Namun bola matanya yang kelabu
biru yang tajam memberi kesan karakter yang Tangguh, memandang saya dengan
dalam seakan ingin melihat kedalam batin saya dan menilai saya.
Sebenarnya, orang ini dikenal akan
keberaniannya dan rasa keadilan yang sangat kuat, mengkritik korupsi yang
dilakukan aparatur negara dan menolong petani-petani miskin. Namun saya tidak
akan menanyakan mengenai suatu kejadian traumatis dalam hidupnya, karena
mungkin sudah banyak orang yang bertanya kepadanya. Banyak orang tahu tentang apa
yang terjadi di tanggal 22 Desember 1849, ketika Fyodor muda di kirim ke
Lapangan Semyonov untuk menemui nasibnya – menghadap regu penembak hukuman
mati, sebagai hukuman atas keterlibatannya dengan Petrashevsky Circle, sebuah
kelompok sastrawan yang dianggap merongrong Tsar dan Gereja. Ketika regu
penembak mulai membidik senapan mereka ke kelompok ini, seorang kurir datang ke
lapangan itu melambaikan bendera putih pada menit terakhir. Dia mengumumkan
pengampunan dari Tsar Nicholas, untuk “menunjukkan belas kasih”. Namun, hal ini bukanlah belas
kasih, sebenarnya adalah suatu cara untuk menteror kelompok ini, suatu
penyiksaan psikologis yang lalim. Fyodor menulis pengalaman ini di novel The
Idiot (Si Dungu). Sebenarnya, seluruh cerita kehidupannya sendiri bisa ditulis
dalam sebuah novel, dan akan menjadi novel yang luar biasa.
Namun, saat ini saya lebih baik berbicara
dengannya tentang penjahat di Crime and Punishment (Kejahatan dan Hukuman),
jadi, tanpa membuang waktu saya mulai bertanya padanya:
“Sang protagonis, Rodion Romanovich
Raskolnikov, pria 23 tahun, bekas mahasiswa ilmu Hukum membunuh seorang
perempuan tua untuk mendapatkan uangnya, dengan dua pukulan sisi tumpul sebuah
kapak. Dengarkan: ‘Dia mengeluarkan kapak itu seperlunya, mengayunkannya dengan
kedua tangan, hampir tidak sadar akan dirinya sendiri, dan hampir tanpa usaha,
hampir secara mekanis, mengayun sisi tumpul kapak itu ke kepala perempuan itu.’
Hal ini direnungkan, direncanakan, pembunuhan
berdarah, namun dia kira ini bukan kejahatan, dengarkan ini: ‘ Ketika dia
sampai pada kesimpulan-kesimpulan ini, dia memutuskan bahwa dalam kasusnya ini
tidak ada nada reaksi yang mengerikan, bahwa alasan dan keinginannya akan tetap
tidak terganggu pada saat menjalankan gagasannya, karena alasan sederhana bahwa
gagasannya adalah 'bukan kejahatan....'
Bagaimana dia bisa berpikir bahwa pembunuhan
yang mengerikan ini terhadap seorang perempuan tua tak berdaya bukanlah
kejahatan?
Fyodor:
“Perempuan tua itu, Alyona Ivanovna, adalah
seorang broker penggadaian, yang menghisap darah orang miskin sedemikian rupa
sehingga dia digambarkan sebagai ‘Tidak lebih dari kehidupan seekor kutu, dari
kumbang hitam, pada kenyataannya kurang, karena wanita tua itu melakukan hal
yang membahayakan. Dia menindas kehidupan orang lain.’
Sementara Raskolnikov hidup dalam kemiskinan
yang amat sangat di sebuah kamar sewaan di Saint Petersburg. ‘Ruangan itu memiliki
penampilan terlanda kemiskinan dengan kertas dinding kuning kusam yang
mengelupas dari dinding, yang sangat rendah atapnya sehingga seorang dengan
ketinggian diatas rata-rata merasa tidak nyaman didalamnya dan merasa setiap
saat kepalanya akan menyondol langit-langit. Dia tertindas oleh kemiskinan.”
Saya berkata:
“Ketika menjadi mahasiswa Raskolnikov menulis
sebuah artikel berjudul ‘Tentang Kejahatan’, yang menurut penuturan teman
karibnya Razumihin: ‘Ada saranan bahwa ada orang-orang tertentu yang bisa… hal
ini, bukan sesungguhnya bisa melakukan, namun memiliki hak sempurna untuk melanggar
moralitas dan kejahatan, dan bahwa hukum tidak berlaku bagi mereka. Hak akan
perbuatan jahat? Tapi bukanlah disebabkan oleh pengaruh lingkungan?”
Fyodor berkata:
“Dalam artikel ini semua orang terbagi antara
‘yang biasa’ dan ‘yang luar biasa’. Orang biasa harus hidup berbakti, tidak
berhak untuk melanggar hukum, karena, apa anda tidak melihat, mereka orang
biasa. Tapi orang luar biasa berhak melakukan kejahatan apapun dan melanggar
hukum secara apapun, hanya karena mereka orang luar biasa. Namun, Raskolnikov
tidak berpendapat bahwa orang luar biasa niscaya akan melanggar moral, seperti
yang anda namakan. Kenyataannya, Raskonikov meragukan apakah artikel itu dapat
diterbitkan. Dia mengisyaratkan bahwa
seorang ‘luar biasa’ berhak… hal ini bukanlah hak resmi, namun hak batiniah
untuk memutuskan dengan kesadarannya sendiri untuk melangkahi…. kendala-kendala
tertentu, dan hanya dalam kasus dimana hal ini penting sebagai pemenuhan
praktis akan pandangannya, kadang kala, mungkin, demi kebaikan seluruh
kemanusiaan.”
Saya berkata:
“Kendati pandangannya akan kejahatan,
Raskolnikov menemukan dirinya ditimbuni kebingungan, paranoia, dan kejijikan
akan apa yang telah dia lakukan. Dia selalu bertempur dengan rasa salah dan
takut dan menghadapi konsekuensi tindakannya. Konflik psikologis dilukiskan
dengan sangat baik di buku ini, saya kira ini adalah bagian yang paling menarik
dari novel ini, sangat intens, penuh ketegangan, tentang pergulatan batin sang
pembunuh. Anda menggambarkan bagaimana Raskolnikov bergulat dengan kejahatan
itu bahkan sejak pertama kali dia mengandung ide untuk membunuh perempuan tua
itu.”
Fyodor, mengutip bagian pertama dari bab
pertama:
“Ketika dia berada di jalanan dia berteriak,
‘Oh Tuhan, betapa menjijikkan hal ini semua! dan dapatkah saya, dapatkah saya
mungkin… Tidak, ini semua omong kosong, ini semua sampah!’ dia menambahkan
dengan tegas. ‘Dan bagaimana hal yang
mengerikan ini bisa masuk kedalam kepala saya? Betapa hati saya dapat begitu kotor.
Ya, kotor di atas segalanya, menjijikkan, membencikan, membencikan! – dan
sepanjang bulan ini saya berbuat…..’
Dan di saat lain dia berteriak: ‘Tuhan yang
mahabaik!’ Dapatkah, dapatkah, bahwa saya akan benar-benar mengambil kapak,
bahwa saya akan memukul nya di kepala, membelah tengkoraknya terbuka…. Bahwa
saya akan menjinjit di darah kental hangat, memecahkan kunci, mencuri dan
bergemetar; menyembunyikan, semuanya tercecer dalam darah… dengan kapak ini…
Tuhan yang mahabaik, dapatkah hal itu terjadi?”
Saya berkata:
“Dan mimpi buruk yang dia alami selagi masa
kanak-kanak menyaksikan pembunuhan berdarah kuda betina kecil yang menyeramkan:
‘Bawa kapak kepadanya! Matikan dia secepatnya,’ berteriak orang ketiga… Sang
korban membuka moncongnya, menarik napas panjang, lalu mati…. ‘Papa! Mengapa
mereka… membunuh… kuda malang itu!’ Dalam mimpinya dia terisak, tapi napasnya tersegal,
dan kata-katanya meledak seperti tangisan dari himpitan dadanya.”
Fyodor:
“Walaupun demikian, hal itu tidak
menghentikannya, sebuah percakapan sepele yang terdengar olehnya antara seorang
mahasiswa dengan seorang polisi menguatkan tekadnnya untuk membunuh. Mahasiswa
itu dengan sekenanya berkata: ‘Bunuhlah dia dan ambil uangnya, sehingga setelah
itu dengan uang itu membantu ada berbakti kepada pelayanan semua manusia dan
kebutuhan bersama’….’Tentu saja, dia tidak layak untuk hidup. Disamping itu,
apalah gunanya hidup dari seorang perempuan yang sakit sifatnya, bodoh, dan
sikap yang jelek di antara keberadaan selebihnya! Tidak lebih dari kehidupan
seekor kutu, dari kumbang hitam, pada kenyataannya kurang, karena wanita tua
itu melakukan hal yang membahayakan.’
Raskolnikov berpikir tentang bagaimana samanya
pemikiran mereka tentang perempuan ini dan berhubungan dengan teori ‘orang luar
biasa’ nya, dia pikir hal ini bukanlah sekedar kebetulan, mengapa dia harus
mendengar pada saat itu pembicaraan itu tentang ide-idea yang sama. Seakan
telah ditakdirkan, sebuah isyarat yang menjurus, membuat Raskolnikov berpikir
dia adalah orang yang terpilih untuk membunuh perempuan itu.”
Aku berkata:
“Lalu anda menulis bagaimana dia merencanakan
membunuh perempuan itu, caranya dan waktunya. Bagaimana dia menyiapkan jerat
untuk menyembunyikan kapak didalam mantelnya sehingga tidak terlihat dari luar,
bagaimana dia mencuri kapak itu, bagaimana dia mengalihkan perhatian perempuan
itu untuk sesaat, untuk mendapatkan waktu untuk mengayun kapak itu, apa yang
berada di benaknya ketika ia berjalan dari apartemennya ke rumah perempuan itu,
menaiki tangga menuju apartemen perempuan itu. Napasnya terenggah-enggah dan
mukanya menjadi pucat. Untuk suatu saat di muka pintu dia berpikir ‘Akankah
saya pulang saja?’ ‘Apakah saya tidak tampak jelas-jelas gelisah? Dia orang
yang sukar percaya…. Mustinya saya tunggu sebentar… sampai jantung saya
berhenti berdebar-debar?”
Fyodor:
“Namun ia melakukannya. Dia mengayunkan
kapaknya lagi dan lagi dengan sisi tumpulnya di tempat yang sama. Darahnya
menyembur seperti dari gelas yang dibalik, badannya jatuh kebelakang. Dia
melangkah mundur, membiarkannya jatuh, dan dengan segera membungkuk diatas
wajahnya; dia telah mati. Matanya seperti mencuat dari rongganya, alisnya dan
seluruh wajahnya kusam dan menggeliat kekejangan.”
Saya berkata:
“Lalu tanpa terduga adik tiri perempuannya
pulang ke rumah dan melihat badan yang sudah mati. ‘Ia menatap mayat kakaknya dengan termanggu-manggu, putih
seperti kertas dan tampak seperti tak mempunyai kekuatan untuk berteriak.”
Fyodor:
“Raskolnikov bergegas menuju kepadanya dengan
kapak; mulut perempuan itu menciut menyedihkan, seperti mulut bayi, ketika bayi
mulai ketakutan, menatap langsung kepada apa yang menakutkannya dan saat akan
berteriak. Dan Lizaveta yang malang itu demikian sederhana dan sudah demikian
luluh dan ketakutan sampai dia bahkan tidak mengangkat tangannya untuk
melindungi wajahnya, walaupun gerakan itu adalah yang paling penting dan
alamiah pada saat itu, karena kapak itu diangkat dimuka wajahnya. Ia hanya
mengangkat tangan kirinya yang kosong, tapi bukan ke wajahnya, perlahan
mengangkatnya kedepan seakan mendorong Raskolnikov untuk menjauh. Kapak itu
mengayun dengan sisi tajam tepat di tengkoraknya dan terbelah dengan satu
ayunan tepat di ubun-ubun. Lizaveta langsung jatuh berdedam. Raskolnikov
kehilangan akal, menyambar buntelannya, menjatuhkannya lagi dan lari ke pintu
keluar.”
Aku berkata:
“ Sangat tragis Fyodor…. Saya kira hukuman
Raskolnikov mulai ketika ia harus membunuh Lizaveta yang tak bersalah karena ia
berada di tempat yang salah pada saat yang salah. Pikiran ini muncul dalam
hatinya: ‘Tapi amat aneh, mengapa saya hampir tidak berpikir tentang Lizaveta,
seakan saya belum membunuhnya? Lizaveta! Perempuan berhati lembut yang malang,
dengan mata yang lembut…. Perempuan-perempuan tersayang! Mengapa mereka tidak
menangis? Mengapa mereka tidak mengerang? Mereka menyerahkan segalanya… Mata
mereka sangat halus dan lembut…! Lembut!”
Saya melihat mata Fyodor yang tajam biru
keabu-abuan melunak, dia tidak bergerak, diam…. wajahnya yang pucat, kurus,
berwarna tanah diliputi titik-titik merah gelap. Lalu kami berkata “Прощай”
(selamat tinggal) dengan hangat.
TAMAT
Ini adalah wawancara imajiner mengenang Fyodor
Dostoyevsky.
Sumber: Crime and Punishment oleh Fyodor Dostoyevsky.
Saya tidak mengetahui tentang Alexander Calder
sampai ketika saya melihat pamerannya di
Musée Picasso di Paris, karya seninya dipamerkan bersama karya Picasso.
Alexander Calder dikenal sebagai penemu patung dari kawat dan juga karya seni
yang bergerak, sejenis seni kinetis yang tergantung kepada perhitungan berat
yang cermat untuk mendapatkan keseimbangan dan suspensi di udara. Ia tidak
membatasi karya seninya dalam patung; ia juga membuat lukisan, perhiasan permata,
panggung teater dan kostum.
Salah satu karya penting Alexander Calder adalah karya monumental "Floating Clouds"
(1952-1953) di Aula Magna (Central University of Venezuela) dari University
City of Caracas di Venezuela. Karya ini termasuk dalam Unesco World Heritage
Site. Awan-wan karya Calder dirancang khusus untuk menggabungkan seni dengan
teknologi, yang membuat auditorium ini salah satu dari 5 auditorium
universitas di dunia dengan kualitas suara terbaik.
Photo: Wikimedia
Ketika ia tinggal di Perancis dari tahun 1926
sampai 1933, ia dengan cermat membangun karya seni tiga dimensi menggunakan
kawat yang memberi kesan seperti ‘lukisan dalam ruangan’, ia membuat
representasi yang menarik dari burung, sapi, gajah, kuda dan hewan lainnya,
termasuk karya luar biasa Romulus dan Remus di tahun 1928 yang menggambarkan
mitologi pencipta Roma sedang disusui serigala betina.
Ia juga menciptakan tableau para pemain sirkus, tapi
Alexander Calder secara khusus merekomendasikan sendiri karya potret seluruh
tubuh yang sensasional dari Josephine Baker penari di era jazz dan potret
setengah badan dari banyak teman-teman seniman Paris, seperti Miso, penggubah
lagu Edgard Varèse, dan sosialita Kiki
de Montparnasse.
Photo: Wikimedia
Dengan energi yang tampak tak habis-habisnya, Alexander
Calder memperluas jenis-jenis karya bergeraknya dari bentuk bola ke bentuk
cakram ke bentuk organis dari tumbuhan dan hewan. Perang Dunia II menyebabkan kekurangan bahan dari lembaran logam, dan ia
lalu beralih ke potongan-potongan dari kayu, pecahan gelas dan keramik, kaleng
minuman dan barang-barang sisa lainnya yang dapat ia temukan di rumahnya di
Roxbury, dan menciptakan rangkaian yang dijuluki ‘Constellations’ dan beberapa
karya yang paling banyak disukai, termasuk Finny Fish, di tahun 1948.