Sabtu, 12 Juni 2021

Wawancara dengan Bapak Deng

 

Foto: Wikimedia

Ketika saya mengunjungi Huangshan di provinsi Anhui, pengantar saya menunjukkan tempat di mana Bapak Deng sering duduk dimasa lenggangnya untuk menikmati pemandangan pegunungan yang menakjubkan, terapung di atas awan-awan. Tempat ini tampaknya tempat favorit Bapak Deng dan dia memilih daerah pegunungan ini untuk menyampaikan ‘Pidato Huang Shan’ untuk mempromosikan tempat ini sebagai tempat utama untuk merevitalisasi kan industri pariwisata, dan untuk menyampaikan arah pariwisata Tiongkok dimasa depan. Beberapa tahun kemudian, pasar pariwisata Tiongkok ditransformasikan menjadi salah satu pasar pariwisata yang paling disimak dunia, jumlah lawatan domestik mencapai 6 milyar di tahun 2019, yang menunjukkan kenaikan eksponensial dibandingkan jumlah lawatan di Tiongkok sepuluh tahun sebelumnya. 

Dikenal sebagai “Bapak Reformasi” Tiongkok, Bapak Deng di tahun 1978 mengumumkan kebijaksanaan baru, “Kebijaksanaan Pintu Terbuka”, untuk membuka pintu bagi semua bisnis asing yang ingin mengelola bisnis di Tiongkok. Kebijaksanaan “reformasi dan keterbukaan” (gaige kaifang) memberi landasan bagi transisi yang sukses dari ekonomi terencana menuju ekonomi pasar, yang mencapai tingkat pertumbuhan tinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tingkat pertumbuhan rata-rata tahunan 9,7 persen menarik ratusan juta orang Tiongkok keluar dari kemiskinan. Kebijaksanaan reform dan keterbukaan juga menggiring menuju perubahan mendasar dari norma-norma Mao Zedong, mengganti kolektivisme dengan kesesuaian dengan kinerja individual dan keberagaman. 

Cukup sudahlah berbicara tentang dia, saya sangat ingin mewawancarainya dan membuat permohonan kepada kantor CPC (Communist Party of China) di Beijing. Mengetahui ketatnya birokrasi kantor di sini saya tak begitu berharap segera mendapat persetujuan dan bahkan mungkin tidak akan pernah disetujui, saya hanya mencoba keberuntungan saya. Saya tahu tidak banyak wartawan asing yang mendapat kesempatan mewawancarainya secara pribadi, Mike Wallace, Oriana Fallaci, Ezra Vogel misalnya, siapa lagi? 

Lalu setelah 4 bulan, saya menemukan amplop merah di kotak pos apartemen saya, surat itu adalah dari kantor CPC menyatakan kebersediaan bertemu Bapak Deng bulan depan. Wow benarkah ini? Saya berhasil! Ini adalah wawancara pertama saya dengan toko politik, dan dari Tiongkok! 

Jadi di hari Sabtu, di kantor CPC di Chang’an Avenue di Beijing, saya berjumpa seorang kecil mengenakan jubah Mao abu-abu, kaos kaki putih dan sepatu Neiliansheng hitam. Saya tidak mengira bahwa dia adalah Bapak Deng, dia tampak sangat rendah hati bagi seorang pemimpin besar. Pastinya, dia tidak seperti yang suatu saat diucapkan Henry Kissinger, “orang kecil yang jahat”. 

 

Saya berkata:

“Selamat siang Bapak Deng, anda dikenal sebagai pemimpin de facto Tiongkok, dalam hal walapun anda bukan ketua CPC dan bukan pula Presiden Tiongkok, namun anda adalah pembuat kebijaksanaan utama dan pembaru Tiongkok selama puluhan tahun yang membawa pembangunan besar-besaran Tiongkok. Anda adalah anggota Standing Committee of the Political Bureau dan ketua CCP’s Central Military Commission, namun nampaknya anda menghindar untuk menjadi pemimpin tertinggi Tiongkok.” 

 

Bapak Deng:

“Begini, kita musti ingat bahwa Ketua Mao sebagian besar hidupnya, ia membuat kebaikan bagi Tiongkok. Banyak kali ia menyatukan Tiongkok, dan menyelamatkan partai dan negara dari berbagai krisis. Pemikiran Mao Zedong memimpin kita menuju kemenangan dalam revolusi dan hal ini akan terus menjadi milik yang berharga negeri kami, dan kami akan terus mengingatnya sebagai pendiri partai dan negeri kami.

Karena kepemimpinannya ia diperlakukan seperti seorang kaisar yang mengingatkan akan masa kerajaan negeri ini di masa lalu. Rakyatnya membentuk kultus individu Mao Zedong, yang dipelopori oleh pendukung-pendukung fanatik, media masa, propaganda dan buku-buku yang mengangkat statusnya menjadi pemimpin pemberani yang bercela. Seluruh rakyat mengikuti cara berpakaiannya yang sederhana, menghafal ucapan-ucapannya dari Buku Merah kecil dan hidup dibawah pandangan potret-potretnya yang menyolok.

Ia lalu menjadi otoriter dan memimpin negeri ini secara patriarkal, aturan satu-orang, yang merupakan ciri-ciri feodal. Ia lalu enggan mendengar pendapat pejabat lainnya, tidak mendengar pendapat-pendapat yang berbeda. Kita tidak bisa bilang bahwa semua kritikan itu benar, namun ia juga tidak siap mendengarkan pendapat-pendapat yang benar yang bukan saja dari saya tapi juga anggota partai lainnya. Pada saat itu, ia makin menjauh dari keterkaitan dengan realitas. Misalnya, ia tidak secara konsisten melaksanakan demokrasi terpusat dan garis massa, dan ia gagal melembagakan hal-hal itu selama hidupnya. Demokrasi terpusat terganggu dan demikian pula kepemimpinan kolektif.

Saya menentang gagasan kepemimpinan seumur hidup, kultus individu, dan kepemimpinan satu-orang dan hendak menghindari munculnya orang kuat seperti Mao. Saya mendukung ideologi pragmatisme dan menekankan di atas segalanya perlunya reformasi mendasar terhadap partai, terutama dengan menghidupkan kembali musyawarah dalam tubuh partai dan proses pengambilan keputusan, yang dikenal sebagai kepemimpinan kolektif.”

 

Saya berkata:

“Dunia mengamati kemajuan pesat yang dicapai Tiongkok dalam pembangunan ekonomi di puluhan tahun yang lalu, tapi banyak pemikir Barat berpendapat bahwa reformasi Tiongkok dan kebijaksanaan buka pintu hanya mencapai keberhasilan besar dalam modernisasi ekonomi, dengan tanpa kemajuan yang berarti dalam demokratisasi politik. Beberapa di antara mereka bahkan lebih jauh menyatakan bahwa penyebab keberhasilan modernisasi ekonomi Tiongkok tepatnya adalah karena Tiongkok tidak memiliki reformasi demokrasi sejalan dengan reformasi ekonomi.”

 

Bapak Deng:

“Dalam abad ini Tiongkok adalah tanah bagi raja-raja perang, serangan tentara-tentara, banjir, bencana kelaparan dan revolusi. Sepuluh jutaan orang mati karena kekejaman, atau celakanya karena kelaparan.

Saya bilang kepada Presiden Bush di tahun 1989 bahwa jika seluruh satu milyar rakyat kami menjalani pemilu dengan banyak partai, kami tentulah akan mengalami perang sipil besar-besaran. Hal yang lebih utama dari semua persoalan di Tiongkok adalah stabilitas, jadi untuk mencegah kekacauan dan kekejaman kami menentang pluralisme politik.

Namun, seperti yang saya utarakan kepada Oriana Fallaci dari Washington Post, saya bisa bilang bahwa setelah digulingkannya Kelompok Geng Empat kami sangat menekankan pemajuan demokrasi sosialis. Tanpa menanggalkan, tentunya, kediktatoran proletariat. Demokrasi dan kediktatoran proletariat adalah dua aspek dari satu antitesa, dan saya sebaiknya menambahkan bahwa  demokrasi proletar jauh lebih baik dari demokrasi kapitalis.”


Saya berkata:

“Saya menerka bahwa maksud anda dengan demokrasi proletar adalah konsep utama demokrasi yang dijunjung elite Tiongkok yang mencoba menggabungkan demokrasi dengan otoritas, kediktatoran dan sentralisme.”

 

Bapak Deng:

“Esensi dan inti demokrasi sosialis adalah rakyat adalah tuan dari negeri ini, dan adalah sistem dengan kerja sama banyak pihak dan konsultasi politik di bawah kepemimpinan CCP. Kami menjalankan demokrasi terpusat, yang merupakan integrasi berdasarkan demokrasi, dengan demokrasi di bawah arahan sentrailsme. Demokrasi terpusat adalah bagian integral dari sistem sosialis. Di bawah sistem ini, kepentingan pribadi harus tunduk kepada kepentingan kolektif, kepentingan dari bagian keseluruhan, dan kebutuhan jangka panjang yang mendesak.”

 

Saya berkata:

“John Naisbitt, peneliti Amerika yang tersohor tentang ilmu-ilmu masa depan, meramalkan bahwa ‘demokrasi vertikal’ baru, yang menggabungkan partisipasi massa dari bawah ke atas dengan perintah pusat dari atas ke bawah, muncul di Tiongkok, dan nampaknya akan menjadi alternatif dari ‘demokrasi horisontal’ gaya Barat. Kita dapat mengamati bahwa ‘demokrasi vertikal’ ini bekerja dengan baik untuk mencapai pembangunan ekonomi dengan cepat di Tiongkok. Dunia kagum akan reformasi ekonomi yang menyolok di bawah kepemimpinan anda, namun dari mata pengamat Barat reformasi politik berjalan lamban. Meskipun ada muncul secara acak beberapa kebebasan bersuara, seperti di perioda ‘Tembok Demokrasi’ di ujung tahun tujuhpuluhan, kebebasan politik hampir tidak berkembang sama sekali.”

 

Bapak Deng:

“Saya sangat memahami masalah ini. Kalau kami gagal melakukan reformasi politik, kami tidak akan dapat melestarikan keberhasilan yang kami buat dalam reformasi ekonomi. Tanpa reformasi politik, reformasi ekonomi tak dapat berhasil…… Jadi dalam analisa akhir, keberhasilan dari semua reformasi yang lain tergantung kepada reformasi politik. Kami memperbolehkan reformasi politik, tapi dengan syarat bahwa tiga elemen demokrasi sosialis Tiongkok dijunjung: pertama, kebutuhan rakyat di atas  pemerintah, yang merupakan prinsip utama demokrasi; kedua, kepemimpinan CCP dan sentralisme, yang perlu bagi demokrasi; dan ketiga, koletivisme, yang juga merupakan prinsip penting untuk memecahkan masalah konflik dari berbagai kepentingan di dunia nyata.”

 

Saya berkata:

“Saya pikir, sementara ada persetujuan umum bahwa demokrasi secara harafiah berarti ‘pengaturan oleh rakyat’ konsep Partai Komunis tentang ‘rakyat’ berbeda dengan konsep Barat. Konsep Barat yang liberal mengenai ‘rakyat’ adalah semua-termasuk, yang mengacu kepada semua anggota masyarakat dan memandang masyarakat sebagai agregat individu-individu dengan kemajemukan berbagai kelompok sosial dan kepentingan. Sebagai pembanding, dalam pandangan Partai Komunis, ‘rakyat’ adalah sebuah konsep kolektivisme. Penekanannya berada pada pencapaian kepentingan kolektif, dan bukannya berdasarkan, atau bahkan mengakui, kemandirian individual dan ekspresi kepentingan individual.”


Bapak Deng:

“ Yang dibutuhkan Tiongkok adalah demokrasi sosialis, karena ini adalah demokrasi rakyat, dan bukannya demokrasi borjuis, demokrasi individual. Kami menjalankan demokrasi terpusat, yang merupakan integrasi berdasarkan demokrasi, dengan demokrasi di bawah arahan sentralisme. Demokrasi sentralisme adalah bagian integral dari sistem sosialis. Di bawah sistem ini, kebutuhan pribadi harus tunduk kepada kebutuhan kolektiv, yakni kebutuhan bagian dari keseluruhan. Tujuan dari demokrasi sosialis, bukanlah untuk mengakui individualisme atau pluralisme, melainkan untuk mempersatukan rakyat untuk mencapai kebutuhan dan tujuan bersama.”

 

Saya berkata:

“Menurut media Barat, anda memerintahkan tindakan militer melalui hukum darurat untuk menindas gerakan demonstrasi yang muncul di Tiananmen Square di tahun 1989, meskipun beberapa pemimpin menolak tindakan militer itu. Tindakan ini menimbulkan banjir darah dan dalam 48 jam Tiananmen Square ditertibkan. Menurut laporan intelijen sekitar 1000 orang mati dan beberapa lusin tentara dan polisi terbunuh oleh para demonstran. Apakah anda memerintahkan tindakan berdarah ini, ataukah ini adalah suatu kesalahan militer, Bapak Deng?”

 

Bapak Deng:

“Saya menghargai tentara sebagai ‘benteng pertahanan besi bagi negara’ dan menekankan bahwa Tiongkok akan melanjutkan kebijaksanaan mendasar bagi reformasi ekonomi dan keterbukaan kepada dunia luar. Kejadian ini mendorong kami untuk memikirkan masa depan dan masa lalu dengan kepala dingin. Hal ini akan memungkinkan kami untuk melaksanakan tujuan kami dengan lebih stabil, lebih baik dan bahkan lebih cepat dan memperbaiki kesalahan-kesalahan kami lebih cepat.

Kami tak dapat mentolelir kekacauan. Kami akan menetapkan hukum darurat lagi jika kekacauan-kekacauan terjadi lagi. Tujuan kami adalah menjaga kestabilan sehingga kami dapat melanjutkan pembangunan, dan logika kami sederhana saja: dengan begitu banyak manusia dan begitu sedikit sumber daya, Tiongkok tidak dapat mencapai apapun tanpa keamanan dan kesatuan politik dan kestabilan tatanan sosial.

Kami tidak dapat menangani kekacauan ketika kami sibuk membangun. Kalau hari ini kami ada demonstrasi besar dan keesokan harinya kami mendengar banyak pendapat-pendapat diberitakan dan coretan-coretan dinding, kami tidak akan punya energi lagi untuk menyelesaikan apapun. Karena itulah kami berkeras untuk membersihkan lapangan itu.”

 

Aku berkata:

“Ada kejadian dramatis ketika tindakan militer di Tiananmen Square yang menarik perhatian seluruh dunia. Media masa Barat menamakan nya insiden ‘The Tank Man’ (Manusia Tank), seorang lelaki membawa kantong belanjaan di potret dan direkam video berdiri di depan sejejeran Tank militer meninggalkan Tiananmen Square melalui Chang’an Avenue. Ketika pengemudi tank mencoba mengalihkan perjalanan , ‘Manusia Tank’ ini juga bergerak menghadang jalan tank itu. Dia berbuat begitu terus berdiri menentang di muka tank-tank itu selama beberapa waktu, lalu naik ke atas tank membuka pintu tank terdepan untuk berbicara dengan tentara di dalamnya. Setelah kembali ke posisinya di muka tank-tank itu, orang ini ditarik oleh sekelompok orang. Nasib ‘Manusia Tank’ ini setelah demonstrasi tidak diketahui, dan bagi dunia ‘Manusia Tank’ itu tetap tanpa wajah dan tanpa nama.

Bolehkah saya bertanya Bapak Deng, siapakah lelaki yang menghentikan tank-tank itu, dan bagaimana nasibnya?”

 

Bapak Deng duduk tak bergerak di kursinya yang terlalu besar, kakinya hampir tak menyentuh lantai. Tiba-tiba seorang petugas menghampirinya dan berbisik sesuatu di telinganya, Bapak Deng mengangguk dan kemudian  menyatakan bahwa ia ada rapat lain di agendanya dan harus pergi sekarang. Dengan demikian wawancara berakhir….

 

TAMAT

Artikel ini adalah wawancara imajiner mengenang Deng Xiaoping

 

Sources:

https://chinachannel.org/2019/02/07/reform-opening/

https://www.griffith.edu.au/__data/assets/pdf_file/0040/299857/Regional-Outlook-Paper-41-Zhou-web.pdf

https://www.nytimes.com/1997/02/20/world/deng-xiaog-a-political-wizard-who-put-china-on-the-capitalist-road.html



https://www.vox.com/2014/6/2/5772016/this-1989-speech-is-one-of-the-most-important-in-chinas-history-and




Rabu, 19 Mei 2021

Tokyo, di Omotesando

 

Berjalan sepanjang satu kilometer di Omotesando adalah pengalaman yang istimewa. Dikenal sebagai Champs-Elysees-nya Tokyo, jalan dengan jajaran pohon zelkova di tepinya, memperkenalkan berbagai toko bermerek dunia. Omote yang berarti ‘dari depan’ dan Sando yang berarti ‘datang’, berfungsi sebagai jalan masuk utama menuju kuil Meiji sejak jaman Taisho. Masa kini, jalan lebar yang menghubungkan kuil Meiji sampai jalan Aoyama dijalani berjuta orang di sisinya untuk berbelanja di toko-toko bermerek mewah. 

Jalanan yang lebih sempit, berliku-liku di Ura-Harujuku di belakang kedua sisi Omotesando juga menarik. Di jalanan ini, kita bisa menemukan toko-toko pakaian yang tak terlalu bermerek namun menarik, café-café bertema dan beberapa restoran Jepang terbaik di Tokyo. 

Namun walaupun kita datang ke Tokyo bukan buat berbelanja, berjalan sepanjang Omotesando saja cukup menyegarkan, menikmati suasananya, dan mengamati arsitektur bangunan yang lain dari lain yang dirancang oleh arsitek-arsitek superstar Jepang seperti Tadao Ando, Toyo Ito, Jun Aoki, Hiroshi Nakamura dan Norihiko Dan. 

Tadao Ando merancang Omotesando Hills shopping mall, dengan muka sepanjang 250 m sepanjang jalan itu, setiap lantai dibangun sepanjang lereng untuk menciptakan kesinabungan dengan jalanan, dan memberi ruang tambahan bagi publik. Taman disediakan di atap bangunan, untuk menyambung suasana dari pohon-pohon zelkova sepanjang jalan itu.

Photo: Wikimedia

Toyo Ito merancang bangunan khusus buat Tod’s, pembuat sepatu dan tas bermerek terkenal dari Itali. Degan bentuk-L dan bagian depan yang sempit, dinding beton memberi kesan seperti jejeran pohon zelkova sehubungan dengan alam di Omotesando. Di mana banyak butik-butik mewah bermerek dibangun, dengan memilih beton sebagai bahan utama arsitek ini dengan berani tampil berbeda dan kokoh dibandingkan dengan bangunan-bangunan gelas kaca di sekitarnya.

Photo: Wikimedia

Jun Aoki merancang Gedung Louis Vuitton menurut kesan tumpukan koper-koper, karena Louis Vuitton terkenal akan koper-koper dan tas-tas ciptaan mereka. Setiap koper merupakan sebuah ruangan khusus yang dihubungkan dengan koridor-koridor. Bangunan dengan tekstur lunak logam di bagian muka memberi kesan seakan guguran daun-daun pohon zelkova di muka Gedung itu.

Photo: Wikimedia

Bangunan 8 lantai Hugo Boss rancangan Norihiko Dan di kelilingi oleh bangunan Tod’s berbentuk-L. Jadi dia merancang bangunan itu melonggarkan pengaruh bangunan Tod’s dengan menciptakan bentuk-bentuk vertikal yang dikombinasikan dengan lingkaran lantai-lantai. Hal ini tampaknya menonjolkan bangunan Tod’s, dan menciptakan simbiose yang harmonis. Tekstur bangunan ini dibentuk oleh kolom-kolom dari baja dengan penampilan tekstrur serupa kayu.

Photo: Wikimedia

Shopping mall lainnya, Tokyu Plaza, muncul sebagai benteng mode pakaian. Struktur yang unik ini dirancang oleh Hiroshi Nakamura, arsitek pemenang penghargaan. Bangunan ini secara resmi menjadi kandang dari berbagai retailer busana besar, dan juga buat beberapa retailer Jepang yang lebih kecil. Elevator muka yang dindingnya terbuat dari cermin-cermin kelihatan menarik dari jauh, namun ketika kita menaiki elevator kepala cukup pusing melihat semua refleksi di cermin-cermin itu. Hal ini seperti berjalan di dalam terowongan dengan dinding terbuat dari bola-bola gemerlap diskotek. Mewah, tapi bukan buat para minimalis.

Photo: Wikimedia


TAMAT

Sumber:

http://designart.jp/en/architecture/omotesandohills/

https://www.arch2o.com/tods-omotesando-building-toyo-ito-associates-architects/

https://architecturetokyo.wordpress.com/2017/06/15/2002-louis-vuitton-omotesando-jun-aoki/

https://www.archdaily.com/770864/omotesando-keyaki-building-norihiko-dan-and-associates








Sabtu, 24 April 2021

Verona, di Katedral

 

Katedral ini, di pinggir Fiume Adige di daerah paling utara Verona, dapat dicapai dengan hanya jalan kaki sebentar dari jemabatan Ponte Pietra. Tempat ini sebenarnya sebuah kompleks, karena tempat ini meliputi pembaptisan Giovanni in Fronte, gereja Santa Elena, reruntuhan bangunan pertama basilica jaman paleo-Kristen, biara para Canons, dan perpustakaan Capitoline.

Katedral Santa Maria Matricolare, adalah campuran fantastis dari gaya Veronese Romanesque dengan elemen-elemen Gothic. Interior katedral ini sebagian besar mewakili gaya sebuah gereja Romanesque, yang terbagi menjadi tiga lorong oleh pilar-pilar dari marmer merah Verona yang mendukung lengkungan langit-langit gaya Gothic.

Ketika kita memasuki katedral ini, hal pertama yang menarik anda adalah kapel-kapel di pinggir ruangan dengan dekorasi mewah, yang menampilkan karya seni beberapa abad di bawah kuasa Venesia. Di kapel pertama di sebelah kiri digantungkan lukisan Titian tentang “Kenaikan ke Surga”. Lukisan agung ini, memperlihatkan para rasul berlutut dan memandang Santa Maria terangkat ke angkasa di dalam awan-awan yang menjulang. Lukisan ini sempat diambil oleh Napoleon I ke Paris sewaktu kekuasaannya, namun dikembalikan ke Verona setelah ia meninggalkan Eruopa.

Daerah terkudus katedral ini tertutup oleh lengkungan layer paduan suara yang diciptakan oleh Sanmicheli dan didekorasikan dengan Salib karya Giambattista da Verona. Daerah altarnya sendiri memiliki fresco-fresco karya Francesco Torbido, berdasarkan gambar-gamabr dari Guilio Romano.

Dari belakang katedral ini kita akan melewati gereja kecil S. Giovanni in Fonte yang di waktu lampau dipakai sebagai tempat pembaptisan. Kolam pembaptisan yang berbentuk octagonal di tengah gereja itu diukir dari blok marmer tunggal. Kolam baptis ini diciptakan oleh pemahat Verona bernama Brioloto.

Di samping gereja pembaptisan ini ada gereja Santa Elena. Di dinding muka gereja ini ada sebuah tablet Latin yang menyatakan bahwa penyair Dante Alighieri berada di sisni di tahun 1320 untuk menyampaikan idenya "Quaestio de Aqua et Terra", yang merupakan bahan penting mengenai kosmologi di abad pertengahan.

Di altar gereja ini terpajang lukisan dari Felice Brusasorzi yang menggambarkan Madonna di singasana dengan sang Putra, Santo Stefanus, Santo Zeno, Santo Giorgio dan Santa Elena.

Sebuah gereja yang dibuat untuk Santo Giorgio dan Zeno di lokasi ini diresmikan di antara tahun 842 dan 847, namun hancur oleh gempa bumi di tahun 1117. Gereja yang sekarang dibuat dengan merekonstruksikan gereja yang runtuh, yang diselesaikan di tahun 1140.


TAMAT

Sumber:

https://www.chieseverona.it/en/our-churches/the-cathedral-complex




Sabtu, 03 April 2021

Wawancara dengan Fyodor

 

Photo: Wikimedia

Judul bukunya yang terkenal Crime and Punishment (Kejahatan dan Hukuman) tidaklah menganjurkan bahwa buku ini adalah sebuah novel, melainkan bunyinya bagaikan sebuah buku filsafat atau sosial politik. Jadi, pada awalnya buku ini tidak menarik bagi saya karena sudah ada begitu banyak buku yang menulis tentang topik ini. Namun Ketika saya membaca ulasan tentang buku ini, kelihatannya menarik dan memacu saya untuk membacanya,  walaupun saya kira akan ada diskusi filsafat mengenai topik ini. Memang ada, namun ditulis seperti diskusi biasa diantara mahasiswa. Tidaklah sulit untuk mengikutinya. 

Lalu, setelah membaca buku yang sangat menarik ini, saya mengambil kereta api dari Moscow menuju St. Petersburg di musim dingin untuk menemui penulis besar ini. Kami bertemu di apartemen di pojok jalan Grazhdanskaya 19 dimana Raskolnikov pernah tinggal. Sepintas lalu, Fyodor tampak seperti seorang penulis yang pemalu, pucat, dan tertutup, dan dia bergerak dengan amat kikuk dan tersentak-sentak. Namun bola matanya yang kelabu biru yang tajam memberi kesan karakter yang Tangguh, memandang saya dengan dalam seakan ingin melihat kedalam batin saya dan menilai saya. 

Sebenarnya, orang ini dikenal akan keberaniannya dan rasa keadilan yang sangat kuat, mengkritik korupsi yang dilakukan aparatur negara dan menolong petani-petani miskin. Namun saya tidak akan menanyakan mengenai suatu kejadian traumatis dalam hidupnya, karena mungkin sudah banyak orang yang bertanya kepadanya. Banyak orang tahu tentang apa yang terjadi di tanggal 22 Desember 1849, ketika Fyodor muda di kirim ke Lapangan Semyonov untuk menemui nasibnya – menghadap regu penembak hukuman mati, sebagai hukuman atas keterlibatannya dengan Petrashevsky Circle, sebuah kelompok sastrawan yang dianggap merongrong Tsar dan Gereja. Ketika regu penembak mulai membidik senapan mereka ke kelompok ini, seorang kurir datang ke lapangan itu melambaikan bendera putih pada menit terakhir. Dia mengumumkan pengampunan dari Tsar Nicholas, untuk “menunjukkan belas kasih”. Namun, hal ini bukanlah belas kasih, sebenarnya adalah suatu cara untuk menteror kelompok ini, suatu penyiksaan psikologis yang lalim. Fyodor menulis pengalaman ini di novel The Idiot (Si Dungu). Sebenarnya, seluruh cerita kehidupannya sendiri bisa ditulis dalam sebuah novel, dan akan menjadi novel yang luar biasa. 

Namun, saat ini saya lebih baik berbicara dengannya tentang penjahat di Crime and Punishment (Kejahatan dan Hukuman), jadi, tanpa membuang waktu saya mulai bertanya padanya:

 “Sang protagonis, Rodion Romanovich Raskolnikov, pria 23 tahun, bekas mahasiswa ilmu Hukum membunuh seorang perempuan tua untuk mendapatkan uangnya, dengan dua pukulan sisi tumpul sebuah kapak. Dengarkan: ‘Dia mengeluarkan kapak itu seperlunya, mengayunkannya dengan kedua tangan, hampir tidak sadar akan dirinya sendiri, dan hampir tanpa usaha, hampir secara mekanis, mengayun sisi tumpul kapak itu ke kepala perempuan itu.’ 

Hal ini direnungkan, direncanakan, pembunuhan berdarah, namun dia kira ini bukan kejahatan, dengarkan ini: ‘ Ketika dia sampai pada kesimpulan-kesimpulan ini, dia memutuskan bahwa dalam kasusnya ini tidak ada nada reaksi yang mengerikan, bahwa alasan dan keinginannya akan tetap tidak terganggu pada saat menjalankan gagasannya, karena alasan sederhana bahwa gagasannya adalah 'bukan kejahatan....' 

Bagaimana dia bisa berpikir bahwa pembunuhan yang mengerikan ini terhadap seorang perempuan tua tak berdaya bukanlah kejahatan?

 

Fyodor:

“Perempuan tua itu, Alyona Ivanovna, adalah seorang broker penggadaian, yang menghisap darah orang miskin sedemikian rupa sehingga dia digambarkan sebagai ‘Tidak lebih dari kehidupan seekor kutu, dari kumbang hitam, pada kenyataannya kurang, karena wanita tua itu melakukan hal yang membahayakan. Dia menindas kehidupan orang lain.’

Sementara Raskolnikov hidup dalam kemiskinan yang amat sangat di sebuah kamar sewaan di Saint Petersburg. ‘Ruangan itu memiliki penampilan terlanda kemiskinan dengan kertas dinding kuning kusam yang mengelupas dari dinding, yang sangat rendah atapnya sehingga seorang dengan ketinggian diatas rata-rata merasa tidak nyaman didalamnya dan merasa setiap saat kepalanya akan menyondol langit-langit. Dia tertindas oleh kemiskinan.”

 

Saya berkata:

“Ketika menjadi mahasiswa Raskolnikov menulis sebuah artikel berjudul ‘Tentang Kejahatan’, yang menurut penuturan teman karibnya Razumihin: ‘Ada saranan bahwa ada orang-orang tertentu yang bisa… hal ini, bukan sesungguhnya bisa melakukan, namun memiliki hak sempurna untuk melanggar moralitas dan kejahatan, dan bahwa hukum tidak berlaku bagi mereka. Hak akan perbuatan jahat? Tapi bukanlah disebabkan oleh pengaruh lingkungan?”

 

Fyodor berkata:

“Dalam artikel ini semua orang terbagi antara ‘yang biasa’ dan ‘yang luar biasa’. Orang biasa harus hidup berbakti, tidak berhak untuk melanggar hukum, karena, apa anda tidak melihat, mereka orang biasa. Tapi orang luar biasa berhak melakukan kejahatan apapun dan melanggar hukum secara apapun, hanya karena mereka orang luar biasa. Namun, Raskolnikov tidak berpendapat bahwa orang luar biasa niscaya akan melanggar moral, seperti yang anda namakan. Kenyataannya, Raskonikov meragukan apakah artikel itu dapat diterbitkan.  Dia mengisyaratkan bahwa seorang ‘luar biasa’ berhak… hal ini bukanlah hak resmi, namun hak batiniah untuk memutuskan dengan kesadarannya sendiri untuk melangkahi…. kendala-kendala tertentu, dan hanya dalam kasus dimana hal ini penting sebagai pemenuhan praktis akan pandangannya, kadang kala, mungkin, demi kebaikan seluruh kemanusiaan.”

 

Saya berkata:

“Kendati pandangannya akan kejahatan, Raskolnikov menemukan dirinya ditimbuni kebingungan, paranoia, dan kejijikan akan apa yang telah dia lakukan. Dia selalu bertempur dengan rasa salah dan takut dan menghadapi konsekuensi tindakannya. Konflik psikologis dilukiskan dengan sangat baik di buku ini, saya kira ini adalah bagian yang paling menarik dari novel ini, sangat intens, penuh ketegangan, tentang pergulatan batin sang pembunuh. Anda menggambarkan bagaimana Raskolnikov bergulat dengan kejahatan itu bahkan sejak pertama kali dia mengandung ide untuk membunuh perempuan tua itu.”

 

Fyodor, mengutip bagian pertama dari bab pertama:

“Ketika dia berada di jalanan dia berteriak, ‘Oh Tuhan, betapa menjijikkan hal ini semua! dan dapatkah saya, dapatkah saya mungkin… Tidak, ini semua omong kosong, ini semua sampah!’ dia menambahkan dengan tegas.  ‘Dan bagaimana hal yang mengerikan ini bisa masuk kedalam kepala saya? Betapa hati saya dapat begitu kotor. Ya, kotor di atas segalanya, menjijikkan, membencikan, membencikan! – dan sepanjang bulan ini saya berbuat…..’

Dan di saat lain dia berteriak: ‘Tuhan yang mahabaik!’ Dapatkah, dapatkah, bahwa saya akan benar-benar mengambil kapak, bahwa saya akan memukul nya di kepala, membelah tengkoraknya terbuka…. Bahwa saya akan menjinjit di darah kental hangat, memecahkan kunci, mencuri dan bergemetar; menyembunyikan, semuanya tercecer dalam darah… dengan kapak ini… Tuhan yang mahabaik, dapatkah hal itu terjadi?”

 

Saya berkata:

“Dan mimpi buruk yang dia alami selagi masa kanak-kanak menyaksikan pembunuhan berdarah kuda betina kecil yang menyeramkan: ‘Bawa kapak kepadanya! Matikan dia secepatnya,’ berteriak orang ketiga… Sang korban membuka moncongnya, menarik napas panjang, lalu mati…. ‘Papa! Mengapa mereka… membunuh… kuda malang itu!’ Dalam mimpinya dia terisak, tapi napasnya tersegal, dan kata-katanya meledak seperti tangisan dari himpitan dadanya.”

 

Fyodor:

“Walaupun demikian, hal itu tidak menghentikannya, sebuah percakapan sepele yang terdengar olehnya antara seorang mahasiswa dengan seorang polisi menguatkan tekadnnya untuk membunuh. Mahasiswa itu dengan sekenanya berkata: ‘Bunuhlah dia dan ambil uangnya, sehingga setelah itu dengan uang itu membantu ada berbakti kepada pelayanan semua manusia dan kebutuhan bersama’….’Tentu saja, dia tidak layak untuk hidup. Disamping itu, apalah gunanya hidup dari seorang perempuan yang sakit sifatnya, bodoh, dan sikap yang jelek di antara keberadaan selebihnya! Tidak lebih dari kehidupan seekor kutu, dari kumbang hitam, pada kenyataannya kurang, karena wanita tua itu melakukan hal yang membahayakan.’

 Raskolnikov berpikir tentang bagaimana samanya pemikiran mereka tentang perempuan ini dan berhubungan dengan teori ‘orang luar biasa’ nya, dia pikir hal ini bukanlah sekedar kebetulan, mengapa dia harus mendengar pada saat itu pembicaraan itu tentang ide-idea yang sama. Seakan telah ditakdirkan, sebuah isyarat yang menjurus, membuat Raskolnikov berpikir dia adalah orang yang terpilih untuk membunuh perempuan itu.”

 

Aku berkata:

“Lalu anda menulis bagaimana dia merencanakan membunuh perempuan itu, caranya dan waktunya. Bagaimana dia menyiapkan jerat untuk menyembunyikan kapak didalam mantelnya sehingga tidak terlihat dari luar, bagaimana dia mencuri kapak itu, bagaimana dia mengalihkan perhatian perempuan itu untuk sesaat, untuk mendapatkan waktu untuk mengayun kapak itu, apa yang berada di benaknya ketika ia berjalan dari apartemennya ke rumah perempuan itu, menaiki tangga menuju apartemen perempuan itu. Napasnya terenggah-enggah dan mukanya menjadi pucat. Untuk suatu saat di muka pintu dia berpikir ‘Akankah saya pulang saja?’ ‘Apakah saya tidak tampak jelas-jelas gelisah? Dia orang yang sukar percaya…. Mustinya saya tunggu sebentar… sampai jantung saya berhenti berdebar-debar?”

 

Fyodor:

“Namun ia melakukannya. Dia mengayunkan kapaknya lagi dan lagi dengan sisi tumpulnya di tempat yang sama. Darahnya menyembur seperti dari gelas yang dibalik, badannya jatuh kebelakang. Dia melangkah mundur, membiarkannya jatuh, dan dengan segera membungkuk diatas wajahnya; dia telah mati. Matanya seperti mencuat dari rongganya, alisnya dan seluruh wajahnya kusam dan menggeliat kekejangan.”

 

Saya berkata:

“Lalu tanpa terduga adik tiri perempuannya pulang ke rumah dan melihat badan yang sudah mati. ‘Ia menatap  mayat kakaknya dengan termanggu-manggu, putih seperti kertas dan tampak seperti tak mempunyai kekuatan untuk berteriak.”

 

Fyodor:

“Raskolnikov bergegas menuju kepadanya dengan kapak; mulut perempuan itu menciut menyedihkan, seperti mulut bayi, ketika bayi mulai ketakutan, menatap langsung kepada apa yang menakutkannya dan saat akan berteriak. Dan Lizaveta yang malang itu demikian sederhana dan sudah demikian luluh dan ketakutan sampai dia bahkan tidak mengangkat tangannya untuk melindungi wajahnya, walaupun gerakan itu adalah yang paling penting dan alamiah pada saat itu, karena kapak itu diangkat dimuka wajahnya. Ia hanya mengangkat tangan kirinya yang kosong, tapi bukan ke wajahnya, perlahan mengangkatnya kedepan seakan mendorong Raskolnikov untuk menjauh. Kapak itu mengayun dengan sisi tajam tepat di tengkoraknya dan terbelah dengan satu ayunan tepat di ubun-ubun. Lizaveta langsung jatuh berdedam. Raskolnikov kehilangan akal, menyambar buntelannya, menjatuhkannya lagi dan lari ke pintu keluar.”

 

Aku berkata:

“ Sangat tragis Fyodor…. Saya kira hukuman Raskolnikov mulai ketika ia harus membunuh Lizaveta yang tak bersalah karena ia berada di tempat yang salah pada saat yang salah. Pikiran ini muncul dalam hatinya: ‘Tapi amat aneh, mengapa saya hampir tidak berpikir tentang Lizaveta, seakan saya belum membunuhnya? Lizaveta! Perempuan berhati lembut yang malang, dengan mata yang lembut…. Perempuan-perempuan tersayang! Mengapa mereka tidak menangis? Mengapa mereka tidak mengerang? Mereka menyerahkan segalanya… Mata mereka sangat halus dan lembut…! Lembut!”

 Saya melihat mata Fyodor yang tajam biru keabu-abuan melunak, dia tidak bergerak, diam…. wajahnya yang pucat, kurus, berwarna tanah diliputi titik-titik merah gelap. Lalu kami berkata “Прощай” (selamat tinggal) dengan hangat.

 

TAMAT

 Ini adalah wawancara imajiner mengenang Fyodor Dostoyevsky.

 Sumber: Crime and Punishment oleh Fyodor Dostoyevsky.