Setelah tour ke Badaling Great
Wall, kita berjalan dengan bus sekitar 45 menit di siang hari menuju ke Ming
Tombs. Terletak di Changping distrik daerah luar kota Beijing, tempat itu
adalah tempat pemakaman 13 kaisar dan 23 ratu dari Dinasti Ming, dan juga
banyak pangeran-pangeran, gundik-gundik dan pelayan-pelayannya.
Daerah itu, di lereng selatan
gunung Tianshou, dikelilingi gunung-gunung di lembah yang murni, sunyi dipenuhi
tanah gelap, air yang tenang dipilih berdasarkan prinisp-prinsip feng shui oleh
kaisar ketiga Ming, Kaisar Yongle. Menurut prinsip fengshui, angin roh-roh jahat
dan busuk yang turun dari Utara harus dibelokkan; maka dipilihlah lembah yang
berbentuk busur di kaki gunung-gunung itu. Kaisar Yongle memilih lokasi
penguburannya dan mendirikan makamnya di sini, yang dinamakan Changling Tomb.
Ke duabelas kaisar selanjutnya
membangun pemakaman mereka di sekitar Changling sepanjang 230 tahun, meliputi
daerah seluas lebih dari 120 km2. Tempat ini adalah pemakaman yang paling
terpelihara dengan jumlah pemakaman kaisar-kaisar yang terbanyak.
Terkenal akan ekspansi
perdagangan ke dunia luar yang membangun hubungan kultural dengan dunia Barat,
dinasti Ming juga terkenal dengan drama, kesusasteraan dan porselen yang terkenal
di seluruh dunia.
Dinasti Ming menyaksikan
berkembangnya dunia percetakan di Tiongkok, dengan melimbahnya buku-buku yang
diterbitkan buat rakyat umum. Buku-buku acuan menjadi populer, dan juga
traktat-traktat religius, bacaan sekolah dasar, literatur Kongfucu dan petunjuk
ujian pegawai negeri. Pada masa dinsati Ming inilah novel-novel panjang mulai
menjadi populer. Banyak buku-buku berasal dari adaptasi dari kisah-kisah kuno
yang diturunkan melalui tradisi lisan berabad-abad.
Salah satu ekspor yang paing
disukai dari dinasti Ming adalah produk porselennya. Dinasti Ming menyaksikan
perioda luar biasa akan inovasi pembuatan porselen. Dibuat dengan menggunakan
gerinda untuk batu porselen, dicampur dengan tanah liat porselen dan
memanggangnya sehingga tembus cahaya, teknik ini dikembangkan di masa dinasti
Tang, tapi di sempurnakan di masa dinasti Ming. Walaupun berbagai warna
ditampilkan pada sebuah jambangan, warna Ming yang klasik adalah putih dengan
biru.
Ada
begitu banyak hal-hal yang dibilang dan
ditulis tentang the Great Wall of China,
yang mencerminkan keagungan tembok besar ini. Kemasyurannya ditumbuhkan oleh
begitu banyaknya puisi, sastra rakyat, drama, filem dan cerita-cerita yang
ditulis oleh para pemimpin, sastrawan, seniman dan penyair.
Bahkan
penulis terkenal Franz Kafka menulis sebuah cerita pendek di tahun 1917 tentang
the Great Wall. Dalam gayanya yang khas, dia mempertanyakan mengapa sang kaisar
menitahkan pembangunan tembok besar itu, dan tembok itu dibangun untuk
menangkal musuh yang mana, dan mengapa sang kaisar menitahkan untuk membangun
tembok itu terpotong-potong, bukannya kesatuan yang menerus ?
Dalam
tulisannya itu dia bilang bahwa tembok itu dibangun untuk melindungi rakyat
dari serangan musuh dari utara, meskipun tidak ada gelagat ancaman dari musuh
dari utara. Orang-orang utara
digambarkan sebagai jin-jin, dengan mulut menganga lebar, gigi-giginya yang
tajam tertanam di geraham, mata-mata yang tegang, yang seakan menyipit agar
orang ketakutan, yang rahangnya akan menghancurkan dan merobek-robek. Kalau
anak-anak sedang nakal, orang tuanya akan mempertunjukkan gambar-gambar jin ini
di muka mereka, dan anak-anak itu akan menangis berbanjir air mata dan lari
menuju orang tuanya. Selain itu orang Tiongkok tidak tau apa-apa tentang
orang-orang dari dataran utara. Mereka tidak pernah melihat, dan kalau mereka
tinggal di kampung, mereka tak akan pernah melihat orang-orang utara.
Jadi, Kafka
menyarankan bahwa pembangunan Great Wall yang menakjubkan itu didasarkan atas kabar angin semata yang disiarkan untuk
menciptakan musuh palsu. Ditulis di
tahun 1917, pastilah Kafka tahu bahwa orang-orang dari utara, orang Monggol,
orang Mancuria, benarlah menyerang Tiongkok beberapa kali. Namun
serangan-serangan itu terjadi ratusan tahun kemudian dan lagipula Kafka bukanlah menulis tentang
sejarah, dia menulis tentang bagaimana rakyat menuruti titah sang kaisar
walaupun tidak masuk akal. Dia menulis
bahwa rakyat itu tidak mengerti musuh dari utara itu apa dan mereka tidak
mengerti mengapa sang kaisar menitahkan untuk membangun tembok itu
terpotong-potong, yang meninggalkan regangan-regangan di tembok itu yang bisa
dipakai musuh untuk masuk ke negeri mereka. Mereka tidak mengerti, mereka
menuruti saja titah sang kaisar, atau begitulah yang mereka percayai. Kafka
menulis bahwa mereka sebenarnya tidak tahu siapakah kaisar yang sedang
bertahta, mereka hanya tahu kaisar-kaisar yang sudah lama mati!
Kafka
menulis tentang situasi absurditas mengenai pembangunan the Great Wall itu.
Sebenarnya,
kemudian di tahun 221SM Kaisar Qin Shi Huang menitahkan untuk menyambung
potongan-potongan tembok yang dibangun oleh berbagai negeri-negeri bagian. Setelah menyatukan Tiongkok tengah dan
menegakkan dinasti Qin, sang kaisar ingin mengkonsolidasikan kekuasaannya dan
memerintah negeri itu selamanya. Dia
mengirim seorang ahli nujum bernama Lu Sheng untuk mencari jalan agar ia bisa hidup untuk selamanya.
Setelah kembali dengan tangan kosong beberapa kali, Lu akhirnya kembali dengan
membawa kabar angin bahwa sang kaisar akan digulingkan oleh orang nomaden dari
utara. Mendengar itu, sang kaisar takut
setengah mati dan langsung menitahkan untuk menyambung potongan-potongan tembok
itu dan memperpanjang dengan tembok baru
untuk melindungi garis batas di utara.
Amat mencengangkan untuk mengetahui bahwa keputusan proyek besar ini ternyata
dibuat atas dasar suatu kabar angin!
Kaisar Qin
Shi Huang, kaisar Tiongkok yang pertama, sering dianggap sebagai inisiator pembangunan
the Great Wall. Beberapa tembok-tembok telah dibangun dari abad ke 7 SM, yang
kemudian disambung dan di perbesar, yang kesemuanya sekarang dinamai the Great
Wall. Termasuk dalam hasil karya Kaisar
Qin Shi Huang ini adalah jaringan jalan nasional yang baru dan besar, dan juga kuburan
kaisar ini yang sebesar sebuah kota yang dijaga oleh ribuan patung tentara
Terracotta seukuran manusia sebenarnya.
Dia memerintah sampai kematiannya di tahun 210SM ketika sedang bekunjung
ke Tiongkok Timur.
Menurut
sejarah, ratusan tahun kemudian ada beberapa serangan dahsyat oleh orang Monggol
dan Mancuria. Di tahun 1554, orang Monggol memanjat tembok itu dengan tali.
Orang Tiongkok mengusir mereka dengan panah-panah, meriam-meriam kuno,
pentungan dan bahkan batu-batu. Walaupun
tembok ini berguna untuk menangkal serangan-serangan, beberapa kali dalam
sejarah tembok ini gagal menangkal musuh. Di tahun 1576 ada serangan dahsyat
lagi dari orang Monggol. Kali ini mereka
masuk melewati regangan di tembok di daerah yang sangat terlantar dan terpencil
sehingga saat itu dianggap tidak perlu dibangun tembok di sana. Dalam serangan
ini pasukan Monggol membunuh sekitar 20,000 penduduk Tiongkok. Di tahun 1644
orang-orang Mancuria dari dinasti Qing menerobos masuk dari gerbang Shannai
Pass dan menumbangkan dinasti yang paling bergairah membangun tembok besar itu,
dinasti Ming, dan lalu dinasti Qing menjadi penguasa Tiongkok.
The Great
Wall yang nampak pada masa kini didirikan sejak pemerintahan dinasti Ming,
mereka membangun kembali banyak bagian tembok dengan batu dan bata, dan sering
memperpanjang jalurnya melalui daerah-daerah yang sulit. Beberapa bagian masih
dalam keadaan yang relatif baik atau telah direnovasi, namun sebagian lainnya
sudah rusak atau dirusakkan karena faktor-faktor ideologis, dihancurkan untuk
diambil bahan bangunannya, atau hilang ditelan waktu. Tembok ini menjadi pesona
orang asing sejak lama, tembok ini sekarang dihargai sebagai simbol nasional
dan tujuan populer bagi para turis.
Badaling
Great Wall dekat Zhangjiakou adalah bentang
yang paling terkenal dari tembok ini, karena bagian ini adalah bagian
yang pertama kali di buka untuk publik di Tiongkok, dan juga bagian yang
dipamerkan kepada tamu-tamu kehormatan asing.
Dari luar, Forbidden City tidaklah tampak mengaggumkan, ia
kelihatan seperti benteng atau penjara karena tembok tinggi merah yang
mengelilinginya. Sebenarnya, di masa lalu memang tembok itu berfungsi untuk
melindungi kaisar dari dunia luar, atau dalam halnya Pu Yi, Kaisar Terakhir,
tembok itu mengasingkan atau memenjarakan dia di Forbidden City (baca juga blog
sebelumnya tentang Pu Yi).
Masuk ke dalam, alamak seperti di dunia yang sangat berbeda,
bangsal-bangsal besar, lapangan-lapangan besar, gapura-gapura besar,ruangan yang luas, terlalu luas bagi istana
atau penjara seorang kaisar. Ada berbagai bangsal-bangsal yang dihubungkan
dengan bangsal lain oleh tangga- tangga, gapura-gapura, jembatan-jembatan dan
lapangan-lapangan. Kota ini adalah contoh yang mengagumkan akan perencanaan
yang dilakukan dalam skala besar namun seimbang, harmonis, anggun dan cantik.
Orang-orang Tiongkok percaya akan pentingnya keterpaduan
antara jagad raya, kemanusian dan alam. Forbidden City diciptakan berdasarkan
prinsip-prinsip tersebut mengenai kebijakan, harmoni, keseimbangan dan
stabilitas. Semua prinsip ini mewakili esensi dan intisari pemikiran Konghucu.
Rancangan dan tata ruang Forbidden City mengikuti prinsip
keteraturan kosmis yang idea dalam ideologi Konghucu mempetimbangkan bangunan
ini sebagai tempat untuk upacara, ritus agama dan ruang hidup. Tata ruangnya
mempertimbangkan segala aktifitas di dalam kota ini dilaksanakan dengan cara
yang sesuai dengan status sosial dan hubungan kekeluargaan dari para tamu dan
penghuninya.
Adegan kolosal yang tak terlupakan dari filem “The Last
Emperor” dari Bernardo Bertolucci, upacara penobatan Kaisar Pu Yi yang berumur
3 tahun, diselenggarakan di Hall of Supreme Harmony. Setelah segel kerajaan di
cetak di surat penobatannya, mengenakan jubah kecil kuning kerajaan dengan
gambar naga, Pu Yi keluar dari bangsal itu dan melihat kepada masyarakat ramai
di lapangan di bawahnya.Ribuan pegawai
pemerintah dan nelayan kerajaan berbaris sesuai pangkatnya di lapangan ini
dansekitarnya. Mengikuti ritme nyanyian
dan perintah, mereka semua menyembah kowtow kepda kaisar baru dengan bersujud
berulang kali.
The Hall of Supreme Harmony, tempat dimana penobatan Puyi dan
upacara-upcara besar lainnya diselenggarakan, adalah bangunan yang tertinggi
dan terbesar di Forbidden City. Di belakangnya ada Hall of Central Harmony,
yang lebih kecil yang pernah menjadi tempat sebagai ruang tunggu bagi kaisar
yang disiapkan untuk menyelenggarakan upcara atau untuk penobatannya yang akan
diselenggarakan di Hall of Supreme Harmony. Di belakang bangsal ini terletak
Hall of Preserving Harmony, yang biasanya juga digunakan untuk acara-acara
resmi, dan tempat para murid menyelesaikan berbagai pelajaran dan ujian di masa
dinasti Qing.
Jalan terus ke muka dari Hall of Preserving Harmony dan
melalui Gate of Heavenly Purity, maka anda akan masuk ke lapangan dalam.
Lapangan dalam ini dulunya tempat tinggal keluarga kerajaan dan tidak terbuka
bagi pejabat maupun penduduk biasa saat itu.
Ketiga istana yang paling penting terletak di lapangan
dalam, namanya Palace of Heavenly Purity, The Hall of Union dan The Palace of
Earthly Tranquility.
The Palace of Heavenly Purity dibangun sebagai tempat
tinggal utama bagi kaisar, di mana kaisar tidur dan bekerja. Sejak pemerintahan
kaisar Yongzheng, istana ini bukan lagi tempat tinggal kaisar. Hall of Mental
Culvitation di dekatnya mengambil alih fungsi ini. Namun, tempat ini masih
dipakai oleh kaisar untuk menyelenggarakn urusan pemerintahan yang rutin dan
merayakan festival-festival besar dan upacara keagamaan.
Hall of Union, melambangkan perpaduan antara surga dan bumi
yang membawa perdamaian. Istana ini adalah tempat tinggal Permaisuri, dan ia menyelenggarakan
upacara-upacara di sni buat festival-festival besar dan perayaan untuk menerima
penghormatan.Sejak pemerintahan kaisar
Qianlong, ruangan ini dipakai untuk menyimpan 25 segel kerajaan, setiap segel
dibuat untuk kebutuhan tertentu. Segel-segel ini disimpan dalam kotak-kotak
yang ditutupi dengan sutra damask sebagaimana dulu kala.
The Palace of Earthly Tranquility, dengan tembok-tembok
bercat merah, lampion-lampion indah dan banyak huruh Tiongkok ‘Xi’ (sukacita),
kamar tidur pengantin memperlihatkan kesenangan di seluruh tempat. Baik tirai
tempat tidur maupun selimutnya disulami dengan gambar dari seratus anak-anak
yang lincah dengan berbagai ekspresi, menyampaikan harapan agar kedua mempelai
bisa mendapatkan banyak anak-anak. Kaisar dan permaisurinya biasanya tiggal di
sini selama beberapa malam setelah pernikahan mereka.
Kesan yang disarankan oleh filem “The Last Emperor” dari Bernardo
Bertolucci akan masa kecil Pu Yi sebagai seorang anak yang senang bermain, lucu,
dan lugu, walau agak nakal seperti halnya anak kecil seumurnya. Seorang anak
kecil 3 tahun yang mendadak diangkat menjadi Kaisar negeri Tiongkok,
meninggalkan orangtua dan saudara-saudaranya untuk dipingit di dalam tembok Forbidden
City, dilayani oleh para kasim yang loyal kepadanya. Anak kecil yang sedang
gemar-gemarnya bermain diangkat menjadi Kaisar negeri raksasa. Bayangkan!
Kesan ini tertanam dalam benak saya sampai bertemu untuk
berbincang-bincang dengannya di tempat pengungsiannya di Salt Tax Palace, di
Manchuria. Saat bertemu dengan dewasa
ternyata kesan akan Pu Yi cilik yang disarankan filem itu sirna. Tentu
saja,sejarah masa kecilnya hanyalah
kenangan masa kecilnya, kenangan indah yang hanyalah sebagian kecil dari
sejarah hidupnya yang penuh gelombang.
Wajahnya pucat, kelihatan letih dan tidak suka bicara.
Tatapan matanya terpaku di balik kacamata berbingkai hitam.Ketika bersalaman dia dengan ramahnya
mengangguk, namun senyumannya hanya berlangsung beberapa detik.
Aku membuka percakapan:
“Tentunya anda masih ingat hari pada saat anda dijemput dari
rumah anda oleh pejabat istana pada waktu anda berumur 3 tahun untuk dibawa ke
istana.”
Pu Yi:
“Di sore hari tanggal 13 November 1908, tanpa pemberitahuan
sebelumnya, sebarisan para kasim dan pengawal yang dipimpin oleh bendahara
istana meninggalkan Forbidden City menuju kediaman keluarga kami untuk
menjemput saya untuk dijadikan kaisar yang baru. Saya menjerit dan menolak
ketika para pejabat memerintahkan para kasim untuk menggendong saya. Orangtua
saya tidak berkata apa-apa ketika mengetahui mereka akan kehilangan putra
mereka. Ketika saya menangis dan menjerit karena tidak mau meninggalkan
orangtua saya saya dimasukan ke dalam tandu yang akan membawa saya ke Forbidden
City. Hanya pengasuh saya, Wang Wen-Chao , yang boleh mengiringi saya, dia
dapat menenangkan saya dengan membiarkan saya menyusu padanya; inilah
satu-satunya alasan mengapa dia dikutsertakan.”
Aku berkata:
“Lalu bagaimana suasana acara pengangkatan anda sebagai
Kaisar pada tanggal 2 Desember 1908 ?”
Pu Yi:
“Acaranya berlangsung lama dan melelahkan, lagi pula hari
itu dingin sekali. Sehingga ketika mereka
menandu saya menuju the Hall of Supreme Harmony dan
mendudukkan saya di singgasana yang besar sekali saya tidak bisa menahan diri
lagi. Ayah saya yang berlutut dibawah singgasana itu dan mendukung saya
menyuruh saya untuk agar jangan gelisah, namun saya berontak dan mulai
menangis, “Aku tidak suka di sini. Aku mau pulang ke rumah. Aku tidak suka di
sini. Aku mau pulang ke rumah.” Ayah saya menjadi kebingungan sehingga
berkucuran keringat. Ketika para pejabat menyembah-nyembah saya, tangisan saya
makin keras. Ayah saya berusaha mendiamkan saya dengan berkata: “Jangan
menangis. Jangan menangis. Ini akan segera berakhir. Ini akan segera berakhir.”
Ketika acara selesai, para pejabat bertanya-tanya di antara
mereka seakan mengandai-andai: “Mengapa dia bilang: ‘Ini akan segera berakhir’?
Apakah maksudnya ia ingin segera pulang ke rumah?”
Percakapan ini berlangsung dalam suasana yang sangat kelam,
seakan-akan kata-kata ini adalah pertanda nasib buruk. Beberapa buku berkata
bahwa kata-kata ini adalah ramalan karena dalam tiga tahun ternyata dinasti
Qing memang berakhir, dan anak yang mau pulang ke rumah, benar-benar pulang ke
rumah, dan mengakui bahwa para pejabat tersebut mempunyai firasat akan hal
ini.”
Aku berkata:
“ Lalu bagaimana suasana pelengseran anda dari tahta
kerajaan?”
Pu Yi:
“Setelah memberi pertunjukan buruk sekali sebagai kaisar
selama tiga tahun saya memberi pertunjukan pelengseran yang amat buruk. Satu
kejadian yang kuingat dengan jelas pada hari-hari terakhir. Ibu angkat
sayapermaisuri Lung Yu duduk di atas
sebuah perabot di dalam Mind Nurture Palace menghapus airmatanya dengan sapu
tangan sementara seorang lelaki tua gemuk berlutut di bantal merah di depannya,
airmata mengalir di wajahnya. Saya duduk di sebelah kanan ibu angkat saya
merasa agak bingung dan bertanya-tanya mengapa kedua orang dewasa itu menangis.Tidak ada orang lain selain kami bertiga dan
sangat sunyi; orang gemuk itu menghisap ingusnya dengan keras ketika ia
berbicara dan saya tidak bisa mengerti apa yang dikatakannya. Kemudian aku
menyadari bahwa mereka baru saja diminta secara langsung oleh Jenderal Yuan Shi
Kai untuk melengserkan aku dan mengakhiri dinasti Qing.”
Aku berkata:
“ Pada tanggal 12 Februari 9012 ibu angkat anda dengan resmi
memeproklamirkan pelengseran anda sebagai Kaisar Tiongkok, dan kemudian Tiongkok menjadi sebuah Republik,
dan anda dikucilkan di Forbidden City. Bagaimana perasaan anda?”
Pu Yi:
“Tempat itu adalah dunia yang kecil dimana saya harus
menghabiskan masa kecilku yang paling absurd sampai saya diusir oleh tentara
nasional di tahun 1924. Saya menyebutnya absurd karena ketika Tiongkok disebut
sebagai republik dan manusia telah masuk ke abad ke 20, saya masih hidup
sebagaimana seorang kaisar, menghirup debu abad ke 19.
Kapanpun saya mengenang masa kecilku kepalaku terisi dengan
kabut kuning. Lantai licin berwarna kuning, tandu saya berwarna kuning, bantal
kursi saya kuning, bagian dalam topi dan baju saya kuning, tali pinggang saya
kuning, piring mangkok makanan saya kuning, alas nasi, sampul buku saya, tirai
jendela, tali kuda saya…. Semuanya kuning. Warna ini, yang disebut kuning
cerah, hanya dipakai oleh rumah tangga kerajaan yang membuat saya merasa dari
sejak kecil bahwa saya adalah unik dan memiliki sifat seperti dewa dibanding
orang lainnya.”
Aku berkata:
“ Mungkin itu sebabnya anda menegur adik anda ketika ia
memakai jubah dengan bagian dalam kuning, warna dinasti Qing, di istana.”
Pu Yi:
“ Dia menyangka warna itu warna aprikot. Aku menjawab bahwa
warna itu adalah warna kuning cerah kerajaan. Adik saya itu lalu mohon maaf ‘Ya
tuan… Ya tuan…, ‘ lalu menjauh dari saya dengan tangan di samping.Aku bilang ‘Warna itu adalah kuning cerah,
kamu tidak berhak memakainya.’… ‘Ya tuan…’,jawabnya. Dengan ‘Ya tuan…’ ia
menjawab sebagaimanapelayan saya
menjawab. Suara ‘Ya tuan…’ itu sudah lenyap sedemikian lama dan terdengar
sangat lucu kalau diingat-ingat kembali.”
Aku berkata:
“Kenangan yang manis namun juga getir bagi anda. Namun
sewaktu kecil anda tidaklah selalu lucu dan lugu seperti yang digambarkan filem
‘The Last Emperor’, saya dengar sejak kecil anda suka menyuruh mencambuk
pelayan kasim anda, apakah benar?”
Pu Yi:
“Kemana saja saya pergi, orang-orang dewasa akan berlutut
dan menyembah saya dengan kowtow dan mencegah tatapan mata sehingga saya lewat.
Sang kaisar adalah dewa, saya tidak bisa dibantah atau dihukum. Mencambuk
pelayan kasim menjadi kejadian rutin keseharian saya. Kekejaman saya dan
kecintaan saya akan kekuasaan sudah sedemikian kuat yang membuat segala bujukan
tidak mempan.
Namun kehidupan saya sejak kecil tidak lengkap tanpa
menyebut para pelayan kasim. Mereka menunggui saya ketika saya makan,
berpakaian dan tidur; mereka menemani saya ketika jalan-jalan dan pergi
belajar; mereka memberi cerita-cerita; dan menerima hadiah dan pukulan dari
saya, namun mereka tidak pernah meninggalkan saya. Mereka adalah budak-budak
saya; dan juga guru-guru saya dari masa kecil.”
Aku berkata:
“ Namun sampai dewasa anda memperlakukan para pelayan kasim
dengan semena-mena. Anda tidak mempercayai mereka dan menganggap mereka semua
pencuri. Anda mencek dengan teliti semua pembukuan belanja untuk mencari
pemalsuan. Anda juga memotong jatah makanan mereka untuk membuat mereka lebih
menderita, yang membuat mereka kelaparan.”
Pu Yi:
“Mereka pada dasarnya adalah pencuri barang-barang berharga
di istana, semua mereka, dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah, sama
saja.Sehabis acara perkawinan kami
mutiara-mutiara dan batu jade dari mahkota permaisuri saya pada hilang semua.
Kunci-kunci dirusak, tempat itu dibongkar dan pada suatu hari di bulan Juni
1923 kebakaran melanda sekitar Palace of Established Happiness. Saya mencurigai
kebakaran ini untuk menutupi pencurian besar-besaran.
Saya dengar bahwa selama ini para pelayan kasim
menyelundupkan barang=barang berharga dan menjualnya di toko-toko barang antik.
Saya memerintahkan audit koleksi barang-barang istana, namun sebelum itu terjadi bagian
istana itu terbakar.”
Aku berkata;
“Permaisuri anda, Wan Rong, yang didikan Barat, dikenal
sebagai seorang wanita yang suka dansa dansi, main tennis, pakaian Barat,make-up, musik jazz, main piano, naik kuda,
membaca novel asing yang asusila, menulis puisi, dan bergaul dengan
teman-temannya.“
Pu Yi:
“ Saya mengakui bahwa saya juga suka memberi barang-barang
yang ke Barat-Baratan, terutama permen karet Wrigley, aspirin Bayer, mobil-
mobil, gramophone dan filem. Saya menyukai teknologi filem yang baru, dan saya
sangat menyukai filem-filem Harold Lloyd, sehingga saya suruh memasang
proyektor filem di Forbidden City, walaupun diprotes oleh para pelayan kasim
yang tak menyukai teknologi asing di sini.
Wan Rong suka pergi belanja dengan teman-temannya, pergi ke
Central Plains, jalan-jalan, pergi minum di Shunde Shihlin Ji, makan, dan juga bisa pergi ke Asgard barber shop yang
sangat populer, pergi ke teater untuk menonton "Shi Ming" dari Mei
Lanfang. Dia masih suka menghambur-hamburkan uang seperti air seperti ia masih
permaisuri.”
Aku berkata:
”Namun kata orang, Wan Rong mengeluh bahwa hidupnya sebagai
permaisuri sangatlah membosankan karena sesuai peraturan sebagai permaisuri ia
dilarang pergi keluar dansa dansi seperti yang disukainya, melainkan
mengharuskannya mengisi hari-harinya dengan ritual tradisional yang dia rasakan
tak berarti, dan semakin demikian sejak Tiongkok menjadi republik dan gelar
permaisurinya hanyalah lambang belaka. Kemudian ia mulai menghisap candu selagi
masa pengasingan, benarkah?”
Pu Yi:
“Saya menyarankannya karena saya lihat dia menjadi lebih
mudah diatur kalau dia lagi sedang melambung oleh candu. Perkawinan kami
semakin retak dan kami makin jarang bertemu, hanya pada saat makan.”
Aku berkata:
“Di autobiography anda “From Emperor to Citizen” anda
berkata bahwa suatu saat adik lelaki Wan Rong memperkenalkan Wan Rong ke
seorang pejabat militer Jepang. Wan Rong kemudian menjalin kasih dengan lelaki
Jepang itu. Kemudian anda mengetahui bahwa ia hamil di tahun 1935, dan akan
segera melahirkan, karena hubungannya dengan lelaki Jepang itu. Bagaimana
perasaan anda?”
Pu Yi:
“Perasaan saya saat itu sulit dilukiskan. Aku marah, tapi
tapi tidak ingin lelaki Jepang itu tahu. Yang saya bisa buat hanya melampiaskan
kemarahan kepada Wan Rong secara pribadi.”
Aku berkata:
“Di dalam edisi asli autobiography itu, anda menulis bahwa
setelah Wan Rong melahirkan bayi perempuan, andabilang kepadanya bahwa adik lelaki anda telah
mengadopsi bayi itu dan Wan Rong harus memberi uang tunjangan bulanan untuk
perawatannya.Bagaimana perasaan Wan
Rong saat itu?”
Pu Yi:
“ Sampai kematiannya, dia selalu didatangi mimpi yang sama,
di mana anaknya hidup bersamanya. Setelah perang berakhir dan perceraian kami,
kecanduannya akan opium makin menajdi-jadi dan tubuhnya melemah. Ia meninggal
karena penyakit di tahun 1946.”
Aku berkata:
“Lalu bagaimana kabar bayi perempuannya?”
Pu Yi:
“Bayi itu sebenarnya meninggal setelah kelahirannya……. ”
Ini adalah wawancara imajiner untuk mengenang Pu Yi, Kaisar
terakhir Tiongkok.
Sumber: Authobiography “From Emperor to Citizen”, South
China Morning Post, Wikipedia.