Tampilkan postingan dengan label Tiongkok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tiongkok. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Januari 2022

Wawancara dengan Milton

 

Photo: Wikimendia

Secara akademis, Milton telah membangun dirinya sebagai ahli dalam hal inflasi dan perilaku konsumen. Ia meramalkan di tahun 1967 bahwa masa inflasi yang berkepanjangan tidak akan menurunkan tingkat pengangguran, yang secara langsung bertentangan dengan pandangan arus utama masa itu. Ramalannya benar, di perioda melonjaknya inflasi di tahun 1973, pengangguran di Amerika Serikat tetap tinggi, yang dikenal sebagai fenomena stagflasi, persis seperti yang ia peringatkan. 

Saya menjumpai pendukung ‘pasar bebas yang liberal’ di kantornya di ‘pangkalannya’ di Universitas Chicago untuk berbincang-bincang tentang pandangannya mengenai ekonomi. Kepribadiannya dan aroma kopi yang semerbak membantu menghangatkan cuaca dingin dan berangin kencang kota Chicago di hari itu.

  

Saya berkata:

 “Sebagai pemimpin dari Chicago school of economics, dan pemenang hadiah Nobel untuk Ekonomi di tahun 1976, majalah the Economist menggambarkan anda sebagai ‘ahli ekonomi yang paling berpengaruh di bagian kedua abad ke 20…. mungkin seluruhnya.’ Anda adalah pendukung kukuh keutamaan sistem ekonomi pasar bebas dengan intervensi pemerintah yang minimal. Anda bahkan lebih jauh lagi menulis Op-ed di harian the New York Times bahwa ‘Tanggung Jawab Sosial dari Bisnis adalah untuk Meningkatkan Labanya’, bahwa hanya ada satu tanggung jawab sosial bisnis- untuk menggunakan sumber dayanya dan terlibat dalam aktivitas-aktivitas yang dirancang untuk meningkatkan labanya selama ia tetap berada dalam aturan permainan, artinya, terlibat dalam persaingan terbuka dan bebas tanpa kecurangan atau penipuan. Ini pernyataan yang sangat kontroversial, mengingat belakangan ini tren korporasi, terutama yang besar, dianjurkan untuk menerima tanggung jawab sosial yang lebih luas.”

 

 Milton berkata:

 “Seperti yang saya tulis di New York Times, dalam dunia usaha bebas, sistem kepemilikan pribadi, seorang eksekutif korporasi adalah pegawai dari pemilik usaha bisnis tersebut. Dia memiliki tanggung jawab langsung kepada majikan-majikannya. Tanggung jawabnya itu adalah untuk menjalankan bisnis nya sesuai dengan keinginan pemilik saham, yang pada umumnya adalah mendapatkan uang sebanyak mungkin seraya mengikuti peraturan mendasar masyarakatnya, baik yang tertuang dalam hukum maupun yang merupakan perilaku etis.

Tentu saja, sang eksekutif juga adalah manusia yang mandiri. Sebagai manusia, dia mungkin punya banyak tanggung jawab yang dia ambil atau tanggapi secara sukarela – kepada keluarganya, kesadarannya, rasa amalnya, gerejanya, kelompoknya, kotanya, negaranya. Jika diinginkan, kita bisa menganggap tanggung jawab ini sebagai tanggung jawab sosial. Tapi dalam hal ini ia bertindak sebagai pelaku utama, bukan sebagai perantara; dia mengeluarkan uang atau waktu atau eneginya sendiri, bukannya uang majikannya atau waktu dan energi yang dia setujui akan digunakan untuk tujuan majikannya. Kalau hal ini adalah ‘tanggung jawab sosial’, maka hal ini adalah tanggung jawab sosial pribadi, bukan tanggung jawab dari bisnis."


Saya berkata:

“Di bulan Agustus 2019, kelompok Business Roundtable, organisasi yang mewakili korporasi-korporasi Amerika terbesar, menerbitkan pernyataan menghimbau agar semua usaha bisnis agar mengambil tanggung jawab yang lebih besar untuk memastikan bahwa kepentingan setiap pemilik saham diperhatikan dalam kebijaksanaan korporasi. Pernyataan itu juga menyatakan bahwa para pemilik saham bukan hanya memperhatikan keuntungan jangka pendek, tapi keuntungan jangka panjang, dan bahwa perhatian yang berlebihan akan keuntungan jangka pendek bisa merusak keuntungan jangka panjang"

Dan menjelang 2018, Larry Fink, CEO dari BlackRock, dana investasi terbesar di dunia, menyatakan kekhawatiran akan model keuntungan berapapun biayanya dari dunia korporasi menyebabkan biaya sosial yang berlebihan, terutama dalam hal lingkungan hidup, yang tak dapat dipertahankan. Ia menjanjikan akan menggunakan hak pilihnya dari triliunan dollar saham yang ia miliki untuk meningkatkan tanggung jawab sosial korporasi.”

 

Milton berkata:

“Fenomena yang lebih baru yang menghimbau para pemilik saham agar korporasi menjalankan tanggung jawab sosial, dalam hampir semua kasus, pada dasarnya yang terjadi adalah beberapa pemilik saham mencoba membuat pemilik saham lainnya, atau para konsumen atau para pegawai, untuk menyumbang tanpa suka rela untuk tujuan-tujuan sosial yang disukai para aktivis. Sejauh keberhasilannya, mereka memaksakan pajak dan membelanjakan hasilnya. Mereka pada dasarnya mengenakan pajak, di satu sisi, dan memutuskan bagaimana hasil pajak akan dibelanjakan, di sisi lainnya. Proses ini menimbulkan pertanyaan-pertanyaan politik pada dua tingkat: prinsip dan konsekuensi. Pada tingkat prinsip politik, pengenaan pajak dan pengeluaran hasil pajak sebenarnya merupakan fungsi pemerintahan. “


Saya berkata:

“Adam Smith terkenal berkata: ‘Bukan atas kebaikan tukang daging, pembuat bir, atau pembuat roti  yang kita harapkan untuk makan malam kita, tetapi atas perhatian mereka terhadap kepentingan mereka sendiri. Mereka menangani diri mereka sendiri, bukan untuk kemanusiaan  tetapi untuk cinta diri mereka, dan jangan pernah berbicara dengan mereka tentang kebutuhan diri kita sendiri tetapi tentang keuntungan mereka'. Kita tidak berkecimpung dalam bisnis untuk melayani kebaikan masyarakat apalagi untuk melakukan perbuatan altruistik; kita perlu menafkahi diri kita sendiri dan keluarga kita. Dalam dunia bisnis kedua belah pihak perlu mendapat keuntungan, yang menjual roti dan yang membelinya. . Dalam pengertian ini kita beruntung bahwa ada tukang roti, tukang daging, dan pembuat bir yang memperhatikan kepentingan mereka sendiri, karena pada akhirnya itulah yang terbaik untuk kepentingan kita.”


Milton berkata:

“Kepentingan-diri bukanlah keegoisan yang rabun. Hal itu adalah apapun yang diminati orang itu, apapun yang mereka hargai, apapun tujuan yang mereka kejar. Ilmuwan berusaha untuk memperluas batasan disiplin ilmunya, misionaris yang berusaha untuk mengubah orang-orang kafir menjadi penganut imannya , dermawan yang berusaha untuk memberikan kenyamanan kepada yang membutuhkan – semua mereka mengejar kepentingan mereka, sesuai pandangan mereka, sebagaimana mereka menilai mereka dengan nilai-nilai mereka sendiri.

Dunia berjalan atas individu-individu yang mengejar kepentingan mereka masing-masing… Catatan sejarah sangat jelas bahwa tidak ada alternatif lain, sejauh ditemukan, untuk meningkatkan nasib orang-orang biasa yang dapat memberi cahaya kepada kegiatan produktif yang dibebaskan oleh sistem kebebasan berusaha.”

 

Saya berkata:

“Namun demikian, kepentingan pribadi dan motif keuntungan sering keluar jalur, seperti yang kita alami dalam kasus Lehman Brothers pada tahun 2008. Segera setelah Lehman Brothers mengajukan kebangkrutan dan pasar global panik,  pasar-saham pun  ambruk. Pemerintah Amerika memberikan 9 triliun dollar pinjaman darurat kepada bank, dan menasionalisasi AIG, perusahaan asuransi terbesar di negara itu”.

 

Miton berkata:

“Terlebih dulu, beri tahu saya, apakah ada masyarakat yang anda kenal yang tidak berjalan di atas keserakahan? Anda pikir Rusia tidak berjalan di atas keserakahan? Anda pikir Tiongkok tidak berjalan di atas keserakahan? Apa itu keserakahan? Tentu saja tidak seorangpun dari kita yang serakah. Hanya orang lain yang serakah.

Dunia berjalan di atas individu-individu yang mengejar kepentingan mereka masing-masing. Pencapaian besar peradaban tidak datang dari kantor-kantor pemerintah. Einstein tidak membangun teorinya di bawah perintah seorang birokrat. Henry Ford tidak merevolusi industri mobil seperti itu. Dalam satu-satunya kasus di mana massa telah lolos dari jenis kemiskinan parah, satu-satunya kasus dalam sejarah yang tercatat adalah di mana mereka menjalankan kapitalisme dan perdagangan bebas yang meluas.

Jika anda ingin tahu di mana masyarakat mengalami yang paling buruk, justru dalam jenis masyarakat yang menolak dari sistem itu. Sehingga catatan sejarah benar-benar jelas bahwa tidak ada jalan alternatif, sejauh ditemukan, untuk meningkatkan nasib rakyat biasa.

Dalam ekonomi, banyak hal bisa salah seperti yang dikatakan Adam Smith: 'Ada banyak kehancuran di suatu negara' dan pemerintah dapat mengacaukan banyak hal, tetapi keinginan untuk memperbaiki diri kita sendiri masih dapat membuat pasar bekerja."

 

Saya berkata:

"Gordon Gecko dalam film Wall Street berkata: 'keserakahan - jika tidak ada cara yang lebih baik untuk mengatakannya - itu baik. Keserakahan itu benar. Keserakahan itu berhasil. Keserakahan itu menjelaskan, memotong penghalang, dan menangkap esensi dari semangat evolusi. Keserakahan, dalam segala bentuknya – kehausan akan kehidupan, uang, cinta, pengetahuan – telah mewarnai kebangkitan umat manusia.’

Lalu, bolehkah saya bertanya kepada anda apakah kapitalisme itu baik dari sudut pandang moralitas?”

 

Milton berkata:

“Masalahnya adalah bahwa nilai moral bersifat individual, bukan kolektif. Nilai-nilai moral berkaitan dengan apa yang diyakini masing-masing kita sendiri secara terpisah adalah benar. Apapun nilai-nilai individu kita sendiri: kapitalisme, sosialisme, perencanaan sentral kebutuhan kita, bukanlah tujuannya sendiri. Mereka membutuhkan dunia yang lebih memikat, manusiawi atau kerendahan hati dalam diri manusia. Kita harus bertanya apa hasil-hasilnya?

Tingkat ketidakadilan sosial dan siksaan di tempat seperti di penjara seperti di Rusia memiliki perbedaan besar daripada di negara-negara Barat di mana sebagian besar dari kita telah tumbuh dan di mana kita telah terbiasa hidup.

Di mana anda mendapatkan tingkat ketidaksetaraan terbesar di dunia? Di Uni Soviet ketidaksetaraan yang sangat besar dalam arti harfiah diperlihatkan oleh adanya kelompok kecil terpilih yang memiliki semua layanan dan fasilitas hidup dan masyarakat luas yang berada dalam standar hidup yang sangat, sangat rendah. Dan memang, lebih jelas, jika anda mengambil tingkat upah mandor dibandingkan tingkat upah pekerja biasa di Uni Soviet, rasionya jauh lebih besar daripada di Amerika Serikat.

Tiongkok juga merupakan negara dengan perbedaan pendapatan yang besar, di antara yang memiliki posisi politik yang kuat  dibandingkan dengan yang lainnya; di antara kota dan pedesaan;  di antara beberapa pekerja di kota dengan pekerja lainnya.

Kapitalisme, di sisi lain, adalah sistem organisasi yang mengandalkan kepemilikan pribadi dan pertukaran sukarela. Ini telah membuat orang menolaknya, itu membuat mereka menjauh  karena mereka pikir itu menekankan kepentingan pribadi secara sempit, karena mereka menolak gagasan orang mengejar kepentingan mereka sendiri daripada kepentingan yang lebih luas. Namun jika anda melihat hasilnya, jelas bahwa hasilnya sebaliknya.

Kalau anda memiliki kebebasan dan kemakmuran, tolok-ukur terbesar bagi kebebasan, kalau anda melihat negara-negara Barat di mana kebebasan berlaku. Ada lebih banyak keadilan sosial dan lebih kecil ketidaksetaraan. Jadi apakah kapitalisme berhasil meskipun nilai-nilai amoral yang melingkupinya? Hasil itu muncul karena masing-masing sistem, kapitalisme dan sosialisme, telah setia pada nilai-nilainya sendiri, atau lebih tepatnya sistem itu tidak memiliki nilai.

Yang menjadi perhatian kita dalam membahas nilai-nilai moral di sini adalah yang berkaitan dengan hubungan antar manusia. Penting untuk membedakan antara dua set pertimbangan moral, moralitas yang relevan bagi kita masing-masing dalam kehidupan pribadi kita. Bagaimana kita, masing-masing individu berperilaku, berperilaku dan kemudian apa yang relevan dengan sistem pemerintahan dan organisasi.”


Saya berkata:

“Selama beberapa dekade terakhir, Tiongkok telah menghasilkan kemajuan yang konsisten dalam pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Sementara sebagian besar pengamat setuju bahwa laju transformasi di Tiongkok luar biasa, beberapa tetap khawatir tentang meningkatnya ketimpangan pendapatan. Namun Tiongkok mengklaim bahwa kesenjangan tersebut mengecil karena pendapatan di pedesaan Tiongkok meningkat.”

 

Milton berkata:

“Di akhir 1979, saya tercengang ketika menerima undangan resmi untuk mengunjungi Tiongkok. Ini adalah fenomena yang menurut saya benar-benar luar biasa, dan saya dengan cepat menerimanya. Saya dan istri saya Rose tiba di China pada tahun 1980. Perjalanan itu bermasalah sejak awal. Kesan umum saat berjalan atau mengemudi di jalan di sana adalah suatu kejemuan, kekusaman dan kotoran. Hampir-hampir satu-satunya tempat yang ada cahaya dan keindahan dan kebersihan dan variasi adalah di atas panggung.

Negara sosialis yang miskin ini mengundang saya, dari antara banyak orang, untuk memberikan nasihat ekonomi tentang inflasi. Saya menyampaikan empat kuliah tentang topik-topik seperti "misteri uang" dan "dunia Barat pada 1980-an" kepada para pejabat dan cendekiawan. Saya menolak gagasan bahwa inflasi hanya muncul dalam masyarakat kapitalis. Inflasi bukanlah bawaan 'kapitalis' atau 'komunis'. Sebaliknya, pemerintah sendiri adalah akar penyebab inflasi, yang hanya dapat disembuhkan dengan 'pasar swasta yang bebas'."


Saya berkata:

 “Bagaimana tanggapan para pengunjung tentang kuliah anda?”

 

Milton berkata:

 “Mereka tampaknya sama sekali tidak menyadari komitmen saya akan pasar bebas. Bagi para ekonom Tionkok, ide-ide saya radikal. Dalam masyarakat yang belum menerima pasar swasta yang bebas, pendekatan ini tidak dapat diterima. Seorang ilmuwan Tiongkok menyebut 'kontradiksi internal kapitalisme', sebuah ungkapan standar Marxis tentang kesenjangan yang semakin lebar antara pendapatan pemilik dengan para buruhnya. Saya menegaskan bahwa tidak ada kontradiksi seperti itu, dan memberikan pengamatan saya tentang prediksi Marx yang salah tentang masa depan perkembangan kapitalis. Lalu saya katakan adalah fakta bahwa orang biasa akan selalu hidup lebih baik di negara-negara kapitalis daripada di negara-negara sosialis."

  

Saya berkata: 

“Lalu anda diundang ke Tiongkok lagi di tahun 1988, dalam rangka apa?”

 

 Milton berkata:

 “Dalam rangka konferensi tentang reformasi ekonomi yang diselenggarakan di Shanghai oleh Cato Institute dan Universitas Fudan. Saya menganjurkan penggunaan seluas mungkin, bukan pasar, tetapi 'pasar swasta bebas'. Kata 'bebas' dan 'swasta' lebih penting daripada kata 'pasar'. Setiap masyarakat, apakah komunis, sosialis, atau apa pun yang anda hendaki, menggunakan pasar. Sebaliknya, perbedaan yang penting adalah milik pribadi atau bukan milik pribadi. Siapa peserta pasar itu, apakah pegawai birokrat pemerintah yang beroperasi atas nama sesuatu yang disebut negara? Atau apakah mereka pribadi yang beroperasi secara langsung atau tidak langsung atas nama mereka sendiri?

 Di Tiongkok, pembebasan substansial dari banyak harga-harga, terutama harga barang-barang pertanian dan sejenisnya, tidak disertai dengan privatisasi sistem perbankan. Seperti yang saya pahami, pemerintah Tiongkok secara tidak langsung menentukan apa yang terjadi pada peredaran uang melalui kredit yang diberikannya kepada perusahaan-perusahaan negara. Salah satu akibatnya terjadi peningkatan pesat dalam jumlah uang dan, tidak mengherankan, lonjakan kenaikan harga yang cepat, sehingga inflasi, baik yang terbuka maupun yang ditunjang, telah memunculkan wajahnya.”

 

Saya berkata:

“Perjalanan anda berkembang menjadi yang paling dramatis, anda menerima kabar bahwa Zhao Ziyang, Sekretaris Jenderal Partai Komunis telah meminta untuk bertemu dengan anda. Apa yang kalian bicarakan?”


Milton berkata: 

“Zhao memaparkan tantangan yang dihadapi ekonomi Tiongkok, apa yang ingin mereka lakukan dalam menjalankan reformasi lebih lanjut adalah mengurangi jumlah komoditi yang harganya yang berada di bawah sistem dua-jalur dan kontrol negara. Namun, ketika mereka siap untuk melangkah lebih jauh menuju reformasi harga, mereka dihadapkan pada masalah yang sulit, terutama inflasi yang cukup besar. Dia menanyakan pandangan saya tentang dampak inflasi. Bisakah orang-orang menerima kejutan seperti itu, baik secara ekonomi maupun psikologis? Kemudian dia mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar lagi: ‘Mengapa inflasi terjadi di Tiongkok?’

Saya menyatakan bahwa sistem dua-jalur  sebagai salah satu penyebab inflasi karena menghasilkan begitu banyak inefisiensi dalam perekonomian, dari panjangnya antrian hingga kekurangan pasokan, dan melonjakkan harga di sektor-sektor yang terbuka bagi pengaruh pasar berdasarkan penawaran dan permintaan. Saya juga menolak tindakan 'setengah-setengah' lainnya yang menunda apa yang saya telah lihat sebagai satu-satunya solusi nyata: privatisasi dan pemasaran sepenuhnya.

Pembicaraan berlanjut, menyentuh usulan reformasi nilai tukar mata uang, pengelolaan perusahaan negara, dan kewenangan pemerintah pusat atas perekonomian. Zhao memohon saya untuk memahami keadaan khusus Tiongkok: tanpa sistem perbankan yang maju, Tiongkok tidak dapat memperketat jumlah peredaran uang untuk mengendalikan inflasi, seperti yang dilakukan pemerintah Amerika. Namun saya terus menganjurkan reformasi pasar yang cepat dan menyeluruh. Setelah hampir dua jam perbincangan sengit, kami mengakhiri percakapan itu tanpa konsensus tentang jalan terbaik untuk Tiongkok.”

  

Saya berkata:

 “Walapun demikian, anda diterima Kembali ke Tiongkok di tahun 1993 untuk pertemuan-pertemuan resmi. Bagaimana pandangan anda tentang Tiongkok saat itu?” 

 

Milton berkata:

 “Bepergian ke Shanghai dan Beijing, saya tercengang dengan pesatnya perkembangan di Tiongkok. Di akhir perjalanan, saya kembali ke Aula Besar Rakyat, tempat pertemuan saya yang berkesan dengan Zhao Ziyang, untuk bertemu dengan presiden baru China, Jiang Zemin. Dia menyampaikan apa yang saya anggap sebagai pidato kalengan tentang keberhasilan dan tantangan ekonomi Tiongkok, dan pertemuan itu berakhir dengan singkat saja. Saya menduga bahwa Jiang Zemin tidak benar-benar ingin mendengar apa yang kami telah katakan.”

 

 Saya berkata:

 “Terima kasih Milton atas wawancara besar ini.”

  

TAMAT

 Ini adalah wawancara imajiner untuk mengenang Milton Friedman.

 

Sumber-sumber:

https://newrepublic.com/article/159351/corporations-milton-friedman-free-market-economy

https://www.youtube.com/watch?v=27Tf8RN3uiM

https://paintedmonster.com/2018/07/26/phil-donahue-vs-milton-friedman/

https://thedailyhatch.org/2020/11/27/milton-friedman-is-capitalism-humane-transcript-and-video-of-9-27-77-speech-at-cornell/

https://theamericanscholar.org/milton-friedmans-misadventures-in-china/

https://www.cato.org/sites/cato.org/files/serials/files/policy-report/1988/12/v10n6.pdf

 



 




Senin, 07 Januari 2019

Wawancara dengan Pearl


Photo: Wikimedia
Ada satu restoran di Qingdao, kota di Utara Tiongkok, yang konon katanya sering dikunjungi Pearl ketika mampir di kota ini. Letaknya menghadap ke laut yang berombak teluk Qingdao, yang pantainya berpasir kerikil.
Aku berjanjian bertemu dengan wanita elegan ini di restoran itu. Pearl datang memakai baju kuning muda berbintik-bintik bunga kecil, rambutnya diikat rapi ke belakang dan ke atas. Senyumnya bersemai hangat, menghangatkan dinginnya Qingdao hari tu. 

Aku tidak membuang-buang waktu langsung bertanya:
“Terus terang saja, pada awal mula saya tidak terlalu berminat membaca ‘The Good Earth’ setelah membaca ringkasannnya. Selain itu Tiongkok masa kini bukan lagi negara yang asing kebudayaannya, dan banyak sifat-sifat mereka yang sudah umum diketahui masyarakat dunia, bahkan sifat-sifat demikian sudah menjadi gambaran stereotype masyarakat Tiongkok. Misalnya mengenai peran isteri yang harus tunduk kepada suami, pandangan bahwa wanita yang cantik kakinya harus kecil sehingga kakinya diikat sejak kanak-kanak, dan mengenai kehendak untuk memiliki anak lelaki untuk penerus marga keluarga dan perusahaannya, konsep banyak anak banyak rejeki, tradisi menghargai dan menghormati orangtua, mengenai perkawinan yang diatur orangtua,  dan sebagainya. 

Hal-hal tersebut tidak lagi mengherankan di masa kini dan tidak membangkitkan rasa ingin tahu, lagipula sulit membayangkan bagaimana seorang pengarang Amerika bisa menulis dengan baik kehidupan di Tiongkok. Namun kesan itu sirna seketika membaca beberapa halaman pertama buku itu, tentang bagaimana tingkah laku si pemuda Wang Lung ketika bangun pada hari perkawinannya dan siap-siap berdandan.”

Pearl, dengan tersenyum:
“ Adegan ini ini kalau dibikin filem, bisa komikal, menggambarkan bagaimana orang-orang di sana jarang mandi untuk menghemat air karna air sangat langka di situ, namun pada hari perkawinannya Wang Lung harus ‘merelakan’ memandikan seluruh tubuhnya dengan air dengan leluasa, karena pada hari itu seorang wanita akan melihat tubuhnya, yang belum pernah terjadi sejak ia dimandikan ibunya di masa kanak-kanak.”

Aku berkata:
“Sangat orisinil, dan anda dapat menggambarkan  kehidupan petani miskin di daratan Utara Tiongkok dengan hidup.  Sebagaimana bagi ayah Wang Lung minum air hangat yang dicampur daun teh adalah suatu kemewahan, biasanya dia minum air hangat saja, namun ia dipaksa Wang Lung dengan tertawa untuk minum karena hari tu adalah hari perkawinannya.”

Pearl, seakan melucu mengutip bukunya:
“ Teh nya akan dingin kalau tidak diminum’ kata Wang Lung, ‘Benar-benar’, kata orang tua itu setalah menyadari hal itu, dan langsung dengan lahapnya meneguk the panas tersebut, dia terjerumus kedalam kepuasan hewani, seperti anak kecil yang terpatok dengan makanannya.
Namun dia tidaklah terlalu pelupa untuk melihat Wang Lung menuang air secara leluasa dari tungku ke bak kayu untuk mandi. Dia menegakkan kepalanya dengan berkata kepada anaknya: ‘Wah air sebanyak itu cukup untuk menyiram sebuah sawah hingga panen.”

Aku berkata:
“Anda juga dengan sangat baik menggambarkan bagaimana ketergantungan para petani akan alam, tanah, cuaca, terjangan banjir, serangan burung-burung, air dan kebau pembajak sawah. Walaupun hal ini sudah umum diketahui, sudah suatu fenomena universal, namun anda menggambarkannya dengan mengesankan.”

Pearl, mengutip bukunya bab VIII:
“Pada musim kemarau akhirnya air di dalam kolam mengering dan berubah menjadi adonan tanah liat, dan bahkan air di dalam sumur turun sangat rendah sehingga isterinya, O-lan, berkata kepadanya: ‘ Kalau anak-anak kita harus minum and orang tua itu harus mendapatkan minuman hangatnya, maka tanaman harus dibiarkan kering.’ Wang Lung menjawab dengan marah yamg berubah menjadi isakan: ‘Namun mereka akan kelaparan kalau tanaman kelaparan.” Benarlah bahwa hidup mereka begitu tergantung pada tanah.”

Aku berkata:
“Selanjutnya, setelah semua beras habis di masa gersang yang panjang, mereka terpaksa membunuh dan memakan kerbau pembajak sawah yang sudah demikan kurus kering. Dan setelah semuanya dimakan habis, di musim dingin mereka terpaksa hijrah ke kota yang makmur di Selatan untuk bertahan dan mencari makan. Ternyata tidak semudah itu mendapat pekerjaan dan pendapatannya kecil. Setelah mendirikan gubuk-gubuk plastik di pinggir dinding kota, mereka hidup dari makanan ransum jatah sumbangan dermawan dan lalu mereka mengemis. Pengalaman mengemis ini anda gambarkan dengan sangat mengenaskan.”

Pearl:
“ O-lan, ibunya, berperan sangat baik dalam mendidik anak-anaknya mengemis. Dia belajar dari pengalaman masa kecilnya, dan begitulah ia mencari makan sebelum dijual sebagai budak. ‘Kasian tuan yang baik – kasian nyonya yang baik. Dengan hati yang baik – perbuatang baik untuk hidup di surga. Uang kecil, recehan yang anda buang – cukup untuk memberi makan anak yang kelaparan.’ Namun dasar anak-anak, mereka anggap itu main-main dan tertawa-tawa. O-lan terpaksa ‘mendidik’ mereka dengan menggebuki mereka sehingga menangis. Demikian dia mendidik anak-anak mereka mengemis, digebuki lagi kalau tertawa.”

Aku berkata:
“Kemudian setelah mereka kembali ke kampung halaman di Utara, kehidupan Wang Lung berubah sedikit demi sedikit menjadi makmur karena ditopang oleh kesuburan tanah, hujan yang berkecukupan, walaupun kadang-kadang ada angin ribut dan serangan burung dan serangga. Dia menabung uang hasil penjualan panen dan sedikit demi sedikit membeli tanah yang membuatnya memperluas sawah ladangnya.”

Pearl:
“Demikianlah biasanya orang yang semalkin kaya, dia sanggup menyewa buruh untuk bekerja di sawahnya, dia tidak perlu lagi bekerja berat di sawah, membajak, menanam bibit dan menuai.  Dia tinggal menuai hasil penjualan panennya. Dengan kekayaan dan waktu sengganngya datanglah rasa bosan dan kesepian, dan dengan kekosongan itu datanglah pula godaan dan hasrat untuk menikmati wanita lain karena isterinya O-lan tidaklah cantik. Dia terpesona ketika melihat wanita-wanita cantik di sebuah rumah hiburan, yang secantik wanita di lukisan-lukisan yang selama ini dia kira khayalan belaka.”

Aku berkata:
“ Dalam buku ini anda selain mencakup perihal kehidupan petani Tiongkok dengan baik, anda juga mencakup tema universal seperti kehidupan petani miskin yang menjadi kaya, yang kemudian mengkehendaki hal-hal yang sebelumnya tak terbayangkan olehnya, sehingga ia  melampiaskan hawa nafsu dengan kekuasaan uang.  Juga universal adalah gelagat gagalnya putra-putranya untuk meneruskan usaha sang ayah yang mengolah sawah yang berlimpah-limpah, demikian pula hal pertentangan kelas atas dan kelas bawah dalam masyarakat agraris.”

Pearl:
“Ketika saya menulis di Tiongkok mengenai kebiasaan orang Tiongkok, tentang orang Tiongkok, saya menggunakan lidah Tiongkok…. Konesekuansinya adalah ketika…. Menulis tentang orang Tiongkok ceritanya bergulir dengan sendirinya dalam benak saya segenapnya dalam idom-idiom Tiongkok, dan saya secara harafiah menterjemahkannya sambil jalan.”

Aku berkata:
“ Dengan demikian anda bisa menulis dengan realistis mengenai kehidupan petani Tiongkok yang intim dengan alam. Gaya penulisan anda lugas dan sederhana, tidak berbunga-bunga. 
Tokoh utama wanitanya, O-lan isteri Wang Lung, tidaklah cantik, mukanya persegi, wajah yang jujur, hidungnya pendek, lebar dengan lubang hidung yang besar hitam, dan mulutnya lebar, ada luka di wajahnya. Matanya kecil dengan warna hitam yang membosankan, dan diisi dengan suatu kesedihan yang tidak jelas diungkapkan.”

Pearl:
“Yang paling disesalkan Wang Lung adalah telapak kaki O-lan yang besar karena tidak diikat dari kecil sesuai tradisi Tiongkok. Tapak kaki yang kecil dianggap sebagai ciri wanita yang menarik, sehingga sejak kecil kaki anak perempuan diikat, ini sangat menyakitkan lho, terutama buat anak-anak kecil. Tapi berkat tapak kakinya yang besar O-lan kuat berjalan dan bekerja berat di sawah membantu suaminya, sedangkan wanita dengan kaki yang kecil , tidak lebih dari 3 inci, tidak kuat berjalan dan bekerja.
Selain pekerja keras yang patuh kepada suami, O-lan adalah juga pilar keluarga itu, dialah yang banyak membuat keputusan-keputusan yang sulit, dan dia memikul keputusan-keputusan sukar ini dengan penuh ketabahan. “


Aku berkata:
“ Karakter yang luar biasa, dia sadar dia tidak cantik dan suaminya sebenarnya tidak mencintainya. Namun ia cukup bahagia karena dapat melahirkan beberapa anak laki-laki bagi suaminya. Tradisi Tiongkok sangat menghargai ibu yang dapat melahirkan anak laki-laki, karena anak laki-laki ini yang akan meneruskan nama keluarga dan diharapkan selanjutnya berbakti dan merawat kepada orang tuanya di usia lanjut.”

Pearl:
“Begitulah realitas kehidupan petani Tiongkok masa itu, dan mungkin pada umumnya demikian, urusan perkawinan dan berkeluarga menjadi urusan yang praktis. “

Aku berkata:
“ Saya juga mengamati dalam novel ini, tiadanya penggambaran roman cinta yang menggebu-gebu bak Romeo dan Juliet, tidak ada kata-kata mesra dan puisi yang mengesankan. Yang ada nafsu menggebu-gebu Wang Lun setelah bertemu wanita penghibur Lotus yang cantik mungil, yang jauh lebih cantik dari O-lan.  Wang Lung merasakan menemukan kemesraan cinta dengan Lotus yang kemudian di jadikan gundiknya, ia tidak dapat mendapatkan kemesraan ini dari O-lan. 
Namun hampanya rasa cinta dan kemesraan terhadap O-lan anda gambarkan dengan sangat mengesankan dalam adegan saat-saat terakhir O-lan yang menderita penyakit yang mematikan. Rasa hampa itu sangat mengesankan.”

Pearl, menggambarkan saat itu:
“O-lan mengigau dalam sakitnya:’Saya sadar bahwa saya jelek dan tidak patut dicintai…” Mendengar ini Wang Lung tidaj sanggup menahan perasaannya dan menggenggam tangan O-lan dan dia mengelusnya, sebua tangan besar dan keras, kaku bagaikan telah mati.  Dan dia bingung dan sedih akan dirtinya sendiri terutama karena apa yang dikatakan O-lan adalah benar adanya, dan meskipun ia menggenggam tangannya, dengan sungguh berharap bahwa O-lan dapat merasakan kelembutan Wang Lung kepadanya, dia malu karna Wang Lung tak dapat merasakan kelembutan, tidak ada mencairnya hati seperti yang dapat didapatkan Lotus dengan mengambekan bibirnya. Ketika ia mengambil tangan kaku yang sekarat itu dia tidak mencintainya, dan bahkan rasa kasihannya dinodai oleh rasa penolakan terhadapnya.”

TAMAT

Ini adalah wawancara imajiner mengenang Pearl S. Buck






Sabtu, 10 November 2018

Beijing, di Taman di Forbidden City


Setelah kami selesai menelusuri Inner Court dari Forbidden City, kami sampai di taman di belakang di pojok Barat Laut  sebelum pintu gerbang keluar. Taman ini dinamai Jianfu Palace Garden (Taman Istana Kemapanan Kebahagiaan), yang memiliki luas 4,074 m2. Berhubung lokasinya, taman ini juga disebut Taman Barat.

Taman ini pada mulanya dibangun selagi pemerintahan dinasti Qing di tahun 1740, dalam pemerintahan Kaisar Qianlong. Taman Jianfu Palace ini adalah salah satu tempat favorit bagi Kaisar Qianlong. Sebagai seorang penyair yang produktif dan pengumpul benda seni, ia menulis banyak puisi mengenainya dan menyimpan banyak kesenian berharga dari koleksinya di sini.

Salah satu sifat kaisar Qianlong yang paling mengagumkan adalah begitu meluasnya minat dan keahliannya. Ia adalah ilmuwan klasik, ahli strategi militer yang tajam dan ahli ilmu beladiri, penyair yang menciptakan sekitar 44,000 puisi, dan pemburu yang terampil.

Ia juga adalah satu-satunya Kaisar Tiongkok yang bisa berbicara dalam 4 bahasa, seorang administrator yang sigap, memiliki spritualitas yang dalam dan pelindung berbagai ragam agama di Tiongkok, dan inovator yang giat di bidang seni dan ilmu.

Kaisa-kaisar selanjutnya memakai taman ini untuk menyelenggarakan upcara tahun baru Tiongkok, dimana di saat itu mereka membuat karya kaligrafi untuk menyambut tahun yang baru.

TAMAT
Sumber: Wikipedia







Minggu, 28 Oktober 2018

Beijing, di Ming Tombs


Setelah tour ke Badaling Great Wall, kita berjalan dengan bus sekitar 45 menit di siang hari menuju ke Ming Tombs. Terletak di Changping distrik daerah luar kota Beijing, tempat itu adalah tempat pemakaman 13 kaisar dan 23 ratu dari Dinasti Ming, dan juga banyak pangeran-pangeran, gundik-gundik dan pelayan-pelayannya.


Daerah itu, di lereng selatan gunung Tianshou, dikelilingi gunung-gunung di lembah yang murni, sunyi dipenuhi tanah gelap, air yang tenang dipilih berdasarkan prinisp-prinsip feng shui oleh kaisar ketiga Ming, Kaisar Yongle. Menurut prinsip fengshui, angin roh-roh jahat dan busuk yang turun dari Utara harus dibelokkan; maka dipilihlah lembah yang berbentuk busur di kaki gunung-gunung itu. Kaisar Yongle memilih lokasi penguburannya dan mendirikan makamnya di sini, yang dinamakan Changling Tomb.

Ke duabelas kaisar selanjutnya membangun pemakaman mereka di sekitar Changling sepanjang 230 tahun, meliputi daerah seluas lebih dari 120 km2. Tempat ini adalah pemakaman yang paling terpelihara dengan jumlah pemakaman kaisar-kaisar yang terbanyak.

Terkenal akan ekspansi perdagangan ke dunia luar yang membangun hubungan kultural dengan dunia Barat, dinasti Ming juga terkenal dengan drama, kesusasteraan dan porselen yang terkenal di seluruh dunia.

Dinasti Ming menyaksikan berkembangnya dunia percetakan di Tiongkok, dengan melimbahnya buku-buku yang diterbitkan buat rakyat umum. Buku-buku acuan menjadi populer, dan juga traktat-traktat religius, bacaan sekolah dasar, literatur Kongfucu dan petunjuk ujian pegawai negeri. Pada masa dinsati Ming inilah novel-novel panjang mulai menjadi populer. Banyak buku-buku berasal dari adaptasi dari kisah-kisah kuno yang diturunkan melalui tradisi lisan berabad-abad.

Salah satu ekspor yang paing disukai dari dinasti Ming adalah produk porselennya. Dinasti Ming menyaksikan perioda luar biasa akan inovasi pembuatan porselen. Dibuat dengan menggunakan gerinda untuk batu porselen, dicampur dengan tanah liat porselen dan memanggangnya sehingga tembus cahaya, teknik ini dikembangkan di masa dinasti Tang, tapi di sempurnakan di masa dinasti Ming. Walaupun berbagai warna ditampilkan pada sebuah jambangan, warna Ming yang klasik adalah putih dengan biru.


TAMAT
Sumber: Wikipedia








Sabtu, 13 Oktober 2018

Beijing, di the Great Wall


Ada begitu  banyak hal-hal yang dibilang dan ditulis tentang  the Great Wall of China, yang mencerminkan keagungan tembok besar ini. Kemasyurannya ditumbuhkan oleh begitu banyaknya puisi, sastra rakyat, drama, filem dan cerita-cerita yang ditulis oleh para pemimpin, sastrawan, seniman dan penyair.

Bahkan penulis terkenal Franz Kafka menulis sebuah cerita pendek di tahun 1917 tentang the Great Wall. Dalam gayanya yang khas, dia mempertanyakan mengapa sang kaisar menitahkan pembangunan tembok besar itu, dan tembok itu dibangun untuk menangkal musuh yang mana, dan mengapa sang kaisar menitahkan untuk membangun tembok itu terpotong-potong, bukannya kesatuan yang menerus ?

Dalam tulisannya itu dia bilang bahwa tembok itu dibangun untuk melindungi rakyat dari serangan musuh dari utara, meskipun tidak ada gelagat ancaman dari musuh dari utara.  Orang-orang utara digambarkan sebagai jin-jin, dengan mulut menganga lebar, gigi-giginya yang tajam tertanam di geraham, mata-mata yang tegang, yang seakan menyipit agar orang ketakutan, yang rahangnya akan menghancurkan dan merobek-robek. Kalau anak-anak sedang nakal, orang tuanya akan mempertunjukkan gambar-gambar jin ini di muka mereka, dan anak-anak itu akan menangis berbanjir air mata dan lari menuju orang tuanya. Selain itu orang Tiongkok tidak tau apa-apa tentang orang-orang dari dataran utara. Mereka tidak pernah melihat, dan kalau mereka tinggal di kampung, mereka tak akan pernah melihat orang-orang utara.

Jadi, Kafka menyarankan bahwa pembangunan Great Wall yang menakjubkan itu didasarkan atas  kabar angin semata yang disiarkan untuk menciptakan musuh palsu.  Ditulis di tahun 1917, pastilah Kafka tahu bahwa orang-orang dari utara, orang Monggol, orang Mancuria, benarlah menyerang Tiongkok beberapa kali. Namun serangan-serangan itu terjadi ratusan tahun kemudian dan  lagipula Kafka bukanlah menulis tentang sejarah, dia menulis tentang bagaimana rakyat menuruti titah sang kaisar walaupun tidak masuk akal.  Dia menulis bahwa rakyat itu tidak mengerti musuh dari utara itu apa dan mereka tidak mengerti mengapa sang kaisar menitahkan untuk membangun tembok itu terpotong-potong, yang meninggalkan regangan-regangan di tembok itu yang bisa dipakai musuh untuk masuk ke negeri mereka. Mereka tidak mengerti, mereka menuruti saja titah sang kaisar, atau begitulah yang mereka percayai. Kafka menulis bahwa mereka sebenarnya tidak tahu siapakah kaisar yang sedang bertahta, mereka hanya tahu kaisar-kaisar yang sudah lama mati!
Kafka menulis tentang situasi absurditas mengenai pembangunan the Great Wall itu.

Sebenarnya, kemudian di tahun 221SM Kaisar Qin Shi Huang menitahkan untuk menyambung potongan-potongan tembok yang dibangun oleh berbagai negeri-negeri bagian.  Setelah menyatukan Tiongkok tengah dan menegakkan dinasti Qin, sang kaisar ingin mengkonsolidasikan kekuasaannya dan memerintah negeri itu selamanya.  Dia mengirim seorang ahli nujum bernama Lu Sheng untuk mencari  jalan agar ia bisa hidup untuk selamanya. Setelah kembali dengan tangan kosong beberapa kali, Lu akhirnya kembali dengan membawa kabar angin bahwa sang kaisar akan digulingkan oleh orang nomaden dari utara.  Mendengar itu, sang kaisar takut setengah mati dan langsung menitahkan untuk menyambung potongan-potongan tembok itu dan memperpanjang dengan  tembok baru untuk melindungi garis batas di utara.  Amat mencengangkan untuk mengetahui bahwa keputusan proyek besar ini ternyata dibuat  atas dasar suatu kabar angin!

Kaisar Qin Shi Huang, kaisar Tiongkok yang pertama, sering dianggap sebagai inisiator pembangunan the Great Wall. Beberapa tembok-tembok telah dibangun dari abad ke 7 SM, yang kemudian disambung dan di perbesar, yang kesemuanya sekarang dinamai the Great Wall.  Termasuk dalam hasil karya Kaisar Qin Shi Huang ini adalah jaringan jalan nasional yang baru dan besar, dan juga kuburan kaisar ini yang sebesar sebuah kota yang dijaga oleh ribuan patung tentara Terracotta seukuran manusia sebenarnya.  Dia memerintah sampai kematiannya di tahun 210SM ketika sedang bekunjung ke Tiongkok Timur.

Menurut sejarah, ratusan tahun kemudian ada beberapa serangan dahsyat oleh orang Monggol dan Mancuria. Di tahun 1554, orang Monggol memanjat tembok itu dengan tali. Orang Tiongkok mengusir mereka dengan panah-panah, meriam-meriam kuno, pentungan dan bahkan batu-batu.  Walaupun tembok ini berguna untuk menangkal serangan-serangan, beberapa kali dalam sejarah tembok ini gagal menangkal musuh. Di tahun 1576 ada serangan dahsyat lagi dari orang Monggol.  Kali ini mereka masuk melewati regangan di tembok di daerah yang sangat terlantar dan terpencil sehingga saat itu dianggap tidak perlu dibangun tembok di sana. Dalam serangan ini pasukan Monggol membunuh sekitar 20,000 penduduk Tiongkok. Di tahun 1644 orang-orang Mancuria dari dinasti Qing menerobos masuk dari gerbang Shannai Pass dan menumbangkan dinasti yang paling bergairah membangun tembok besar itu, dinasti Ming, dan lalu dinasti Qing menjadi penguasa Tiongkok.

The Great Wall yang nampak pada masa kini didirikan sejak pemerintahan dinasti Ming, mereka membangun kembali banyak bagian tembok dengan batu dan bata, dan sering memperpanjang jalurnya melalui daerah-daerah yang sulit. Beberapa bagian masih dalam keadaan yang relatif baik atau telah direnovasi, namun sebagian lainnya sudah rusak atau dirusakkan karena faktor-faktor ideologis, dihancurkan untuk diambil bahan bangunannya, atau hilang ditelan waktu. Tembok ini menjadi pesona orang asing sejak lama, tembok ini sekarang dihargai sebagai simbol nasional dan tujuan populer bagi para turis.

Badaling Great Wall dekat Zhangjiakou adalah bentang  yang paling terkenal dari tembok ini, karena bagian ini adalah bagian yang pertama kali di buka untuk publik di Tiongkok, dan juga bagian yang dipamerkan kepada tamu-tamu kehormatan asing.

TAMAT
Sumber: The Great Wall by Franz Kafka, Wikipedia





Rabu, 03 Oktober 2018

Beijing, di Forbidden City


Dari luar, Forbidden City tidaklah tampak mengaggumkan, ia kelihatan seperti benteng atau penjara karena tembok tinggi merah yang mengelilinginya. Sebenarnya, di masa lalu memang tembok itu berfungsi untuk melindungi kaisar dari dunia luar, atau dalam halnya Pu Yi, Kaisar Terakhir, tembok itu mengasingkan atau memenjarakan dia di Forbidden City (baca juga blog sebelumnya tentang Pu Yi).

Masuk ke dalam, alamak seperti di dunia yang sangat berbeda, bangsal-bangsal besar, lapangan-lapangan besar, gapura-gapura besar,  ruangan yang luas, terlalu luas bagi istana atau penjara seorang kaisar. Ada berbagai bangsal-bangsal yang dihubungkan dengan bangsal lain oleh tangga- tangga, gapura-gapura, jembatan-jembatan dan lapangan-lapangan. Kota ini adalah contoh yang mengagumkan akan perencanaan yang dilakukan dalam skala besar namun seimbang, harmonis, anggun dan cantik.

Orang-orang Tiongkok percaya akan pentingnya keterpaduan antara jagad raya, kemanusian dan alam. Forbidden City diciptakan berdasarkan prinsip-prinsip tersebut mengenai kebijakan, harmoni, keseimbangan dan stabilitas. Semua prinsip ini mewakili esensi dan intisari pemikiran Konghucu.

Rancangan dan tata ruang Forbidden City mengikuti prinsip keteraturan kosmis yang idea dalam ideologi Konghucu mempetimbangkan bangunan ini sebagai tempat untuk upacara, ritus agama dan ruang hidup. Tata ruangnya mempertimbangkan segala aktifitas di dalam kota ini dilaksanakan dengan cara yang sesuai dengan status sosial dan hubungan kekeluargaan dari para tamu dan penghuninya.

Adegan kolosal yang tak terlupakan dari filem “The Last Emperor” dari Bernardo Bertolucci, upacara penobatan Kaisar Pu Yi yang berumur 3 tahun, diselenggarakan di Hall of Supreme Harmony. Setelah segel kerajaan di cetak di surat penobatannya, mengenakan jubah kecil kuning kerajaan dengan gambar naga, Pu Yi keluar dari bangsal itu dan melihat kepada masyarakat ramai di lapangan di bawahnya.  Ribuan pegawai pemerintah dan nelayan kerajaan berbaris sesuai pangkatnya di lapangan ini dan  sekitarnya. Mengikuti ritme nyanyian dan perintah, mereka semua menyembah kowtow kepda kaisar baru dengan bersujud berulang kali.

The Hall of Supreme Harmony, tempat dimana penobatan Puyi dan upacara-upcara besar lainnya diselenggarakan, adalah bangunan yang tertinggi dan terbesar di Forbidden City. Di belakangnya ada Hall of Central Harmony, yang lebih kecil yang pernah menjadi tempat sebagai ruang tunggu bagi kaisar yang disiapkan untuk menyelenggarakan upcara atau untuk penobatannya yang akan diselenggarakan di Hall of Supreme Harmony. Di belakang bangsal ini terletak Hall of Preserving Harmony, yang biasanya juga digunakan untuk acara-acara resmi, dan tempat para murid menyelesaikan berbagai pelajaran dan ujian di masa dinasti Qing.

Jalan terus ke muka dari Hall of Preserving Harmony dan melalui Gate of Heavenly Purity, maka anda akan masuk ke lapangan dalam. Lapangan dalam ini dulunya tempat tinggal keluarga kerajaan dan tidak terbuka bagi pejabat maupun penduduk biasa saat itu.

Ketiga istana yang paling penting terletak di lapangan dalam, namanya Palace of Heavenly Purity, The Hall of Union dan The Palace of Earthly Tranquility.

The Palace of Heavenly Purity dibangun sebagai tempat tinggal utama bagi kaisar, di mana kaisar tidur dan bekerja. Sejak pemerintahan kaisar Yongzheng, istana ini bukan lagi tempat tinggal kaisar. Hall of Mental Culvitation di dekatnya mengambil alih fungsi ini. Namun, tempat ini masih dipakai oleh kaisar untuk menyelenggarakn urusan pemerintahan yang rutin dan merayakan festival-festival besar dan upacara keagamaan.

Hall of Union, melambangkan perpaduan antara surga dan bumi yang membawa perdamaian. Istana ini adalah tempat tinggal Permaisuri, dan ia menyelenggarakan upacara-upacara di sni buat festival-festival besar dan perayaan untuk menerima penghormatan.  Sejak pemerintahan kaisar Qianlong, ruangan ini dipakai untuk menyimpan 25 segel kerajaan, setiap segel dibuat untuk kebutuhan tertentu. Segel-segel ini disimpan dalam kotak-kotak yang ditutupi dengan sutra damask sebagaimana dulu kala.

The Palace of Earthly Tranquility, dengan tembok-tembok bercat merah, lampion-lampion indah dan banyak huruh Tiongkok ‘Xi’ (sukacita), kamar tidur pengantin memperlihatkan kesenangan di seluruh tempat. Baik tirai tempat tidur maupun selimutnya disulami dengan gambar dari seratus anak-anak yang lincah dengan berbagai ekspresi, menyampaikan harapan agar kedua mempelai bisa mendapatkan banyak anak-anak. Kaisar dan permaisurinya biasanya tiggal di sini selama beberapa malam setelah pernikahan mereka.

TAMAT







Sabtu, 22 September 2018

Wawancara dengan Pu Yi


Photo: Wikimedia
Kesan yang disarankan oleh filem “The Last Emperor” dari Bernardo Bertolucci akan masa kecil Pu Yi sebagai seorang anak yang senang bermain, lucu, dan lugu, walau agak nakal seperti halnya anak kecil seumurnya. Seorang anak kecil 3 tahun yang mendadak diangkat menjadi Kaisar negeri Tiongkok, meninggalkan orangtua dan saudara-saudaranya untuk dipingit di dalam tembok Forbidden City, dilayani oleh para kasim yang loyal kepadanya. Anak kecil yang sedang gemar-gemarnya bermain diangkat menjadi Kaisar negeri raksasa. Bayangkan!

Kesan ini tertanam dalam benak saya sampai bertemu untuk berbincang-bincang dengannya di tempat pengungsiannya di Salt Tax Palace, di Manchuria.  Saat bertemu dengan dewasa ternyata kesan akan Pu Yi cilik yang disarankan filem itu sirna. Tentu saja,  sejarah masa kecilnya hanyalah kenangan masa kecilnya, kenangan indah yang hanyalah sebagian kecil dari sejarah hidupnya yang penuh gelombang.

Wajahnya pucat, kelihatan letih dan tidak suka bicara. Tatapan matanya terpaku di balik kacamata berbingkai hitam.  Ketika bersalaman dia dengan ramahnya mengangguk, namun senyumannya hanya berlangsung beberapa detik.

Aku membuka percakapan:

“Tentunya anda masih ingat hari pada saat anda dijemput dari rumah anda oleh pejabat istana pada waktu anda berumur 3 tahun untuk dibawa ke istana.”

Pu Yi:
“Di sore hari tanggal 13 November 1908, tanpa pemberitahuan sebelumnya, sebarisan para kasim dan pengawal yang dipimpin oleh bendahara istana meninggalkan Forbidden City menuju kediaman keluarga kami untuk menjemput saya untuk dijadikan kaisar yang baru. Saya menjerit dan menolak ketika para pejabat memerintahkan para kasim untuk menggendong saya. Orangtua saya tidak berkata apa-apa ketika mengetahui mereka akan kehilangan putra mereka. Ketika saya menangis dan menjerit karena tidak mau meninggalkan orangtua saya saya dimasukan ke dalam tandu yang akan membawa saya ke Forbidden City. Hanya pengasuh saya, Wang Wen-Chao , yang boleh mengiringi saya, dia dapat menenangkan saya dengan membiarkan saya menyusu padanya; inilah satu-satunya alasan mengapa dia dikutsertakan.”

Aku berkata:
“Lalu bagaimana suasana acara pengangkatan anda sebagai Kaisar pada tanggal 2 Desember 1908 ?”

Pu Yi:
“Acaranya berlangsung lama dan melelahkan, lagi pula hari itu dingin sekali. Sehingga ketika mereka
menandu saya menuju the Hall of Supreme Harmony dan mendudukkan saya di singgasana yang besar sekali saya tidak bisa menahan diri lagi. Ayah saya yang berlutut dibawah singgasana itu dan mendukung saya menyuruh saya untuk agar jangan gelisah, namun saya berontak dan mulai menangis, “Aku tidak suka di sini. Aku mau pulang ke rumah. Aku tidak suka di sini. Aku mau pulang ke rumah.” Ayah saya menjadi kebingungan sehingga berkucuran keringat. Ketika para pejabat menyembah-nyembah saya, tangisan saya makin keras. Ayah saya berusaha mendiamkan saya dengan berkata: “Jangan menangis. Jangan menangis. Ini akan segera berakhir. Ini akan segera berakhir.”

Ketika acara selesai, para pejabat bertanya-tanya di antara mereka seakan mengandai-andai: “Mengapa dia bilang: ‘Ini akan segera berakhir’? Apakah maksudnya ia ingin segera pulang ke rumah?”
Percakapan ini berlangsung dalam suasana yang sangat kelam, seakan-akan kata-kata ini adalah pertanda nasib buruk. Beberapa buku berkata bahwa kata-kata ini adalah ramalan karena dalam tiga tahun ternyata dinasti Qing memang berakhir, dan anak yang mau pulang ke rumah, benar-benar pulang ke rumah, dan mengakui bahwa para pejabat tersebut mempunyai firasat akan hal ini.”

Aku berkata:
“ Lalu bagaimana suasana pelengseran anda dari tahta kerajaan?”

Pu Yi:

“Setelah memberi pertunjukan buruk sekali sebagai kaisar selama tiga tahun saya memberi pertunjukan pelengseran yang amat buruk. Satu kejadian yang kuingat dengan jelas pada hari-hari terakhir. Ibu angkat saya  permaisuri Lung Yu duduk di atas sebuah perabot di dalam Mind Nurture Palace menghapus airmatanya dengan sapu tangan sementara seorang lelaki tua gemuk berlutut di bantal merah di depannya, airmata mengalir di wajahnya. Saya duduk di sebelah kanan ibu angkat saya merasa agak bingung dan bertanya-tanya mengapa kedua orang dewasa itu menangis.  Tidak ada orang lain selain kami bertiga dan sangat sunyi; orang gemuk itu menghisap ingusnya dengan keras ketika ia berbicara dan saya tidak bisa mengerti apa yang dikatakannya. Kemudian aku menyadari bahwa mereka baru saja diminta secara langsung oleh Jenderal Yuan Shi Kai untuk melengserkan aku dan mengakhiri dinasti Qing.”

Aku berkata:
“ Pada tanggal 12 Februari 9012 ibu angkat anda dengan resmi memeproklamirkan pelengseran anda sebagai Kaisar Tiongkok,  dan kemudian Tiongkok menjadi sebuah Republik, dan anda dikucilkan di Forbidden City. Bagaimana perasaan anda?”

Pu Yi:
“Tempat itu adalah dunia yang kecil dimana saya harus menghabiskan masa kecilku yang paling absurd sampai saya diusir oleh tentara nasional di tahun 1924. Saya menyebutnya absurd karena ketika Tiongkok disebut sebagai republik dan manusia telah masuk ke abad ke 20, saya masih hidup sebagaimana seorang kaisar, menghirup debu abad ke 19.
Kapanpun saya mengenang masa kecilku kepalaku terisi dengan kabut kuning. Lantai licin berwarna kuning, tandu saya berwarna kuning, bantal kursi saya kuning, bagian dalam topi dan baju saya kuning, tali pinggang saya kuning, piring mangkok makanan saya kuning, alas nasi, sampul buku saya, tirai jendela, tali kuda saya…. Semuanya kuning. Warna ini, yang disebut kuning cerah, hanya dipakai oleh rumah tangga kerajaan yang membuat saya merasa dari sejak kecil bahwa saya adalah unik dan memiliki sifat seperti dewa dibanding orang lainnya.”

Aku berkata:
“ Mungkin itu sebabnya anda menegur adik anda ketika ia memakai jubah dengan bagian dalam kuning, warna dinasti Qing, di istana.”

Pu Yi:
“ Dia menyangka warna itu warna aprikot. Aku menjawab bahwa warna itu adalah warna kuning cerah kerajaan. Adik saya itu lalu mohon maaf ‘Ya tuan… Ya tuan…, ‘ lalu menjauh dari saya dengan tangan di samping.  Aku bilang ‘Warna itu adalah kuning cerah, kamu tidak berhak memakainya.’… ‘Ya tuan…’,  jawabnya. Dengan ‘Ya tuan…’  ia menjawab sebagaimana  pelayan saya menjawab. Suara ‘Ya tuan…’ itu sudah lenyap sedemikian lama dan terdengar sangat lucu kalau diingat-ingat kembali.”

Aku berkata:
“Kenangan yang manis namun juga getir bagi anda. Namun sewaktu kecil anda tidaklah selalu lucu dan lugu seperti yang digambarkan filem ‘The Last Emperor’, saya dengar sejak kecil anda suka menyuruh mencambuk pelayan kasim anda, apakah benar?”

Pu Yi:
“Kemana saja saya pergi, orang-orang dewasa akan berlutut dan menyembah saya dengan kowtow dan mencegah tatapan mata sehingga saya lewat. Sang kaisar adalah dewa, saya tidak bisa dibantah atau dihukum. Mencambuk pelayan kasim menjadi kejadian rutin keseharian saya. Kekejaman saya dan kecintaan saya akan kekuasaan sudah sedemikian kuat yang membuat segala bujukan tidak mempan.

Namun kehidupan saya sejak kecil tidak lengkap tanpa menyebut para pelayan kasim. Mereka menunggui saya ketika saya makan, berpakaian dan tidur; mereka menemani saya ketika jalan-jalan dan pergi belajar; mereka memberi cerita-cerita; dan menerima hadiah dan pukulan dari saya, namun mereka tidak pernah meninggalkan saya. Mereka adalah budak-budak saya; dan juga guru-guru saya dari masa kecil.”

Aku berkata:
“ Namun sampai dewasa anda memperlakukan para pelayan kasim dengan semena-mena. Anda tidak mempercayai mereka dan menganggap mereka semua pencuri. Anda mencek dengan teliti semua pembukuan belanja untuk mencari pemalsuan. Anda juga memotong jatah makanan mereka untuk membuat mereka lebih menderita, yang membuat mereka kelaparan.”

Pu Yi:
“Mereka pada dasarnya adalah pencuri barang-barang berharga di istana, semua mereka, dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah, sama saja.  Sehabis acara perkawinan kami mutiara-mutiara dan batu jade dari mahkota permaisuri saya pada hilang semua. Kunci-kunci dirusak, tempat itu dibongkar dan pada suatu hari di bulan Juni 1923 kebakaran melanda sekitar Palace of Established Happiness. Saya mencurigai kebakaran ini untuk menutupi pencurian besar-besaran.

Saya dengar bahwa selama ini para pelayan kasim menyelundupkan barang=barang berharga dan menjualnya di toko-toko barang antik. Saya memerintahkan audit koleksi barang-barang istana, namun sebelum itu terjadi bagian istana itu terbakar.”

Aku berkata;
“Permaisuri anda, Wan Rong, yang didikan Barat, dikenal sebagai seorang wanita yang suka dansa dansi, main tennis, pakaian Barat,  make-up, musik jazz, main piano, naik kuda, membaca novel asing yang asusila, menulis puisi, dan bergaul dengan teman-temannya.“

Pu Yi:
“ Saya mengakui bahwa saya juga suka memberi barang-barang yang ke Barat-Baratan, terutama permen karet Wrigley, aspirin Bayer, mobil- mobil, gramophone dan filem. Saya menyukai teknologi filem yang baru, dan saya sangat menyukai filem-filem Harold Lloyd, sehingga saya suruh memasang proyektor filem di Forbidden City, walaupun diprotes oleh para pelayan kasim yang tak menyukai teknologi asing di sini.

Wan Rong suka pergi belanja dengan teman-temannya, pergi ke Central Plains, jalan-jalan, pergi minum di Shunde Shihlin Ji,  makan,  dan juga bisa pergi ke Asgard barber shop yang sangat populer, pergi ke teater untuk menonton "Shi Ming" dari Mei Lanfang. Dia masih suka menghambur-hamburkan uang seperti air seperti ia masih permaisuri.”

Aku berkata:
”Namun kata orang, Wan Rong mengeluh bahwa hidupnya sebagai permaisuri sangatlah membosankan karena sesuai peraturan sebagai permaisuri ia dilarang pergi keluar dansa dansi seperti yang disukainya, melainkan mengharuskannya mengisi hari-harinya dengan ritual tradisional yang dia rasakan tak berarti, dan semakin demikian sejak Tiongkok menjadi republik dan gelar permaisurinya hanyalah lambang belaka. Kemudian ia mulai menghisap candu selagi masa pengasingan, benarkah?”

Pu Yi:
“Saya menyarankannya karena saya lihat dia menjadi lebih mudah diatur kalau dia lagi sedang melambung oleh candu. Perkawinan kami semakin retak dan kami makin jarang bertemu, hanya pada saat makan.”

Aku berkata:
“Di autobiography anda “From Emperor to Citizen” anda berkata bahwa suatu saat adik lelaki Wan Rong memperkenalkan Wan Rong ke seorang pejabat militer Jepang. Wan Rong kemudian menjalin kasih dengan lelaki Jepang itu. Kemudian anda mengetahui bahwa ia hamil di tahun 1935, dan akan segera melahirkan, karena hubungannya dengan lelaki Jepang itu. Bagaimana perasaan anda?”

Pu Yi:
“Perasaan saya saat itu sulit dilukiskan. Aku marah, tapi tapi tidak ingin lelaki Jepang itu tahu. Yang saya bisa buat hanya melampiaskan kemarahan kepada Wan Rong secara pribadi.”

Aku berkata:
“Di dalam edisi asli autobiography itu, anda menulis bahwa setelah Wan Rong melahirkan bayi perempuan, anda  bilang kepadanya bahwa adik lelaki anda telah mengadopsi bayi itu dan Wan Rong harus memberi uang tunjangan bulanan untuk perawatannya.  Bagaimana perasaan Wan Rong saat itu?”

Pu Yi:
“ Sampai kematiannya, dia selalu didatangi mimpi yang sama, di mana anaknya hidup bersamanya. Setelah perang berakhir dan perceraian kami, kecanduannya akan opium makin menajdi-jadi dan tubuhnya melemah. Ia meninggal karena penyakit di tahun 1946.”

Aku berkata:
“Lalu bagaimana kabar bayi perempuannya?”

Pu Yi:
“Bayi itu sebenarnya meninggal setelah kelahirannya……. ”


Ini adalah wawancara imajiner untuk mengenang Pu Yi, Kaisar terakhir Tiongkok.
Sumber: Authobiography “From Emperor to Citizen”, South China Morning Post, Wikipedia.






Sabtu, 21 Juli 2018

Huangdao, Sakura bermekaran




Musim semi adalah salah satu waktu yang paling menarik untuk berkunjung ke China, dan hal itu mudah dimengerti. Cuacanya menghangat, daun-daun bertengger di pohon-pohon, dan terasa hawa perubahan akan datang.

Di akihir bulan Maret sampai April bunga Sakura akan mekar di berbagai tempat di China, termasuk di Huangdao.  Bunga sakura yang indah selalu menarik memukau pengunjung dengan kecantikannya, dalam berbagai warna dari putih hingga merah jambu.

Di China, bunga sakura diasosiasikan dengan kecantikan wanita dan dominasi, dan juga sebagai simbol seksualitas wanita. Bunga sakura pada pada akhirnya melambangkan kekuasaan dan kekuatan. Ia juga melambangkan cinta, yang dikenal sebagai memelihara emosi feminin.

Jadi jika anda datang ke Huangdao di musim semi anda akan bisa menikmati keindahan bunga sakura yang mekar di dalam kota.

Huangdao yang berarti “pulau kuning” dalam bahasa Cina adalah sebuah distrik di Qingdao, Shandong, China, terletak di Barat Daya dan sebelah barat pusat kota di pantai barat teluk Jiaozhou.

TAMAT





Jumat, 13 Juli 2018

Huangdao, pencahayaan gedung-gedung


Baru-baru ini, banyak gedung di Huangdao di beri cahaya di waktu malam, yang memberikan pertunjukan cahaya yang spektakuler di sekitar teluk Tang Dao Wan.  Pencahayaan LED yang dihubungkan dalam skala besar menghiasi gedung-gedung dan Animasi LED dipertunjukan di gedung-gedung ini.

Di waktu malam, cahaya lampu dari gedung-gedung ini dipantulkan pada teluk itu yang memberi kesan dramatis yang mempesona orang yang menlihatnya.  Lampu-lampu LED yang bersambungan itu menghasilkan efek cahaya yang dinamis dan gambar-gambar dipajang pada gedung-gedung itu, termasuk bunga-bunga yang sedang mekar.

Pencahayaan yang indah ini juga sangat efisien dalam menggunkan energi dan menunjukan kemajuan LED dalam teknik cahaya lampu gabungan.  Dikabarkan bahwa sistem cahaya LED akan menghemat listrik sampai 75% dan juga mengurangi biaya operational dan perawatan.

Jadi kalau anda ke Huangdao di waktu malam, lihatlah berbagai pencahayan gedung-gedung dengan animasi LED. 

Huangdao yang berarti “pulau kuning” dalam bahasa Cina adalah sebuah distrik dari Qingdao, Shandong, China, yang terletak di Barat Daya dan sebelah Barat dari pusat kota di pantai Barat teluk Jiaozhou.


TAMAT