Musik populer Korea atau K-Pop sudah menjadi fenomena global
yang menampilkan campuran melodi-melodi yang menarik, koreografi yang luwes dan
efek-efek panggung. Suksesnya K-pop juga ditunjang oleh penyanyi-penyanyi yang
menawan yang belajar dan berlatih selama bertahun-tahun di studio yang sangat
meletihkan guna menyanyi dan berdansa dengan sinkronisasi yang sempurna.
Lagu-lagunya biasanya berisi salah satu atau campuran dari music pop, rock, hip
hop, R&B dan music elektronik.
Di bulan Oktober, ‘Hi Seoul Festival berlangsung di
Gwanghwamun Square. Festival ini adalah pertunjukan kesenian yang besar untuk
mempromosikan kesatuan internasional dengan memungkinkan orang-orang
berkomunikasi melalui music dan pertunjukan-pertunjukan non verbal, melampaui
batas-batas bahasa, ras dan usia. Ratusan pertunjukan-pertunjukan diperagakan
oleh team-team dari seluruh dunia selama festival seminggu ini.
Salah satu pertunjukannya adalah tentulah Pop band. Musik
pop Korea sudah berada di Korea untuk beberapa waktu, tapi baru sekitar 10
tahun belakangan ini K-pop memasuki dunia musik mainstream. Muda-mudi Korea
menyukai K-Pop bands dan berbangga bahwa K-pop mulai dihargai di taraf
internasional.
Berjalan dari Gwanghwamun gate (istana
Gyeongbokgung) menuju kota, saya melihat ada sebuah avenue yang asyik dan
gembira. Avenue ini dikelilingi Gedung-gedung tinggi, dan dinamakan Gwanghwamun
Square. Mengamati avenue ini, lalu saya teringat inilah lokasi dari filem
action Iris, filem serial drama TV yang popular di Korea, dimana aksi
kejar-kejaran yang mendebarkan, dan perkelahian terjadi. Kim Hyeon-jun (Lee
Byung-hun) dan Kim Sun-hwa (Kim So-yeon) berada di Gwanghwamun Square untuk
mencari bom yang ditanam oleh teroris disini di episode 17.
Avenue yang menuju istana sudah ada sejak Seoul
menjadi ibukota Korea. Avenue in lebar buat perjalanan raja dan romobongannya
dari istana ke tujuan lainnya. Di abad ke 20 avenue itu masih lebar, dengan 16
jalur mobil, namun di tahun 2009 Pemerintah memutuskan untuk membuat lapangan
nasional dengan mengubah 10 jalur menjadi lapangan untuk publik untuk
bergembira dan bersosialisasi. Demikianlah terjadinya Gwanghwamun Square.
Di tengah lapangan ini berdirilah patung dari Raja
Sejong yang Agung, raja ke-empat dan yang paling dihormati dari dinasti Joeseon
dan pencipta Hangeul, alphabet Korea. Kebetulan saya melihat filem The King’s
Letters di penerbangan dengan Asiana, sebuah filem sejarah yang menggambarkan
Raja Sejong mengambil risiko mempertaruhkan reputasinya untuk menciptakan
Hangeul, alphabet Korea bagi rakyatnya. Filem itu cukup menarik untuk ditonton,
menimbang topic yang membosankan dan akademis tentang pembentukan bahasa Korea
tertulis. Pastilah tidak mudah membuat filem yang menarik dari topic yang
demikian.
Lebih jauh, terdapat patung Admiral Yi Shun-shin,
komandan angkatan laut yang terkenal akan kejayaannya terhadap angkatan laut
Jepang ketika penyerbuan Jepang ke Korea (1592-1598) dan seorang pahlawan bagi
rakyat Korea. Di depan patung itu terdapat miniature kapal kura-kura yang
dibuat sang Admiral, dan disetiap pojok ada gendang yang dipakai untuk
meningkatkan moral para prajurit menuju medan perang.
Pada bulan Oktober itu, ‘Hi Seoul Festival’ sedang
berlangsung di Gwanghwamun Square. Festival itu adalah festival besar tahunan
bagi pertunjukan kesenian untuk mempromosikan kebersatuan international dengan memungkinkan
orang-orang berkomunikasi melalui music dan pertunjukan non-verbal, melampaui
batas-batas bahasa, ras dan usia. Ratusan pertunjukan dari kelompok-kelompok
dari seluruh dunia dipanggungkan selama seminggu festival ini.
Namun, festival ini bukan hanya perayaan.
Berhubung tragedy kapal Sewol baru terjadi beberapa bulan sebelumnya, ada
kenangan bagi korban-korban tenggelamnya kapal itu dipertunjukan disana. Ada
poster-poster yang menggambarkan kesedihan orang tua, kawan dan saudara-saudara
para korban, beberapa poster menunjukan kemarahan atas cara pemerintah menangani
tragedi ini.
Dari ke 476 penumpang dan awak kapal, 304
meninggal di kecelakaan itu, yang terbanyak adalah para pelajar sekitar 250
orang dari SMA Danwon, kota Ansan. Tenggelamnya kapal MV Sewol menimbulkan reaksi
sosial dan politik yang meluas di Korea Selatan. Banyak orang mengkritik kapten
dan sebagian besar awak kapalnya. Juga dikritik operator kapal ferry itu dan
pemerintah yang mengawasi operasi kapal itu, termasuk pemerintahan presiden
Park Geun-hye akan tindakannya untuk mengendalikan bencana itu.
Ketika saya memasuki ruang pertemuan utama dari Istana
Gyeongbokgung, saya menatap ke langit-langit dan saya takjub melihat ornamen
warna warni, merah, biru dan hijau, yang berbunga-bunga di bagian sudut-sudut
atap. Saya bisa melihat gambaran agung
dari naga-naga di langit-langit itu, menunjukan dua ekor naga kuning terbang di
langit. Di dalam tradisi Timur, warna kuning diasosiasikan dengan lokasi sentral,
jadi kuning adalah warna pusat kekekuasaan.
Sejak jaman dulu naga-naga adalah bagian dari mitologi
Timur, dan juga simbol utama bagi kekuasaan dan martabat raja. Naga yang
terbang ke angkasa melambangkan yang diharapkan agar seorang yang bijaksana
akan naik takhta. Hal ini berasal dari mitologi dimana seekor naga yang sudah
lama disembunyikan di laut bangkit dan terbang ke atas menuju langit. Jadi naga-naga terbang yang digambarkan di
langit-langit, dan juga yang di kanopi di atas takhta raja melambangkan posisi
sentral raja, dari mana ia memerintah dunia sekitarnya dengan kekuasaan dan
martabat.
Berjalan sekeliling situ, saya juga melihat banyak lagi
figur hewan-hewan di istana itu, hewan-hewan ini merupakan simbol keberuntungan
yang menandakan panjang umur, kedamaian dan kesejahteraan, dan kebahagiaan.
Termasuk diantaranya qilin, gajah, rusa, dan bangau terpatri di ruang pertemuan
dari Istana Gyeongbokgung. Ada pula hewan-hewan yang diaksudkan untuk mengusir
roh-roh jahat dan menghindarkan ketidakberuntungan. Diantaranya adalah cheollok
yang terlihat di jembatan Yeongjegyo di Istana itu, ketika roh-roh jahat atau
orang jahat menyeberangi jembatan itu, hewan-hewan mitologis ini menyerang dan
mengusir mereka.
Raja Taejo, raja pertama dan pendiri dinasti Joseon, di
tahun 1392 memutuskan untuk memindahkan pemerintahan ke Hanyang (Seoul
sekarang) di tahun ketiga pemerintahannya, dan memulai pembangunan Istana
Gyeongbokgung di tahun 1394. Lokasinya dikelilingi 4 gunung, gunung Bugaksan di
sebelah Utara, gunung Namsan di Selatan, gunung Naksan di Timur dan gunung
Imwangsan di Barat. Tata letak gunung-gunung ini dipercayai akan member
fengshui yang bagus bagi Gyeongbokgung.
Pembangunan dari istana mulai di bulan Desember 1394 dibawah
pengawasan Jeong Do-jeon, seorang menteri pemerintahan yang berpengaruh, dan
rekannya Sim Deokpu. Jeong Do-jeon yang juga adalah sarjana Confusius yang
terkemuka, merancang istana itu mencerminkan filosofi dari Confusianisme. Dia
ingin merefleksikan prinsip-prinsip dinasti Joseon berdasarkan idealisme
Confusius. Menurut Confusianisme seseorang
haruslah melatih jiwa dan badannya sebelum dia bisa mengajar orang lain dan
memerintah dunia.
Karenanya Jong Do-jeon menyarankan bahwa istana itu
janganlah menjadi simbol kedaulatan kekuasaan, tapi sebuah tempat dimana raja
mengolah jiwanya dan memerintah rakyatnya dengan bantuan pegawai pemerintah
yang baik. Dia ingin membangun istana yang bukannya megah atau menawan, tapi
rada sederhana dan anggun. Membangun istana yang mewah bukanlah salah satu
nilai dari Confusianisme.
Jong Do-jeon also gave name to the palace Gyeongbokgung, which
means the ‘Palace of Shining Blessings’. ‘Gyongbok’ is a word borrowed from one
of the Confucian scriptures which means ‘to enjoy good fortune and prosper’. The
word ‘gung’ means palace, so ‘Gyeongbokgung’ suggested good wishes to the new
dynasty.
Jong Do-jeon juga memberi nama istana itu Gyeongbokgung,
yang berarti ‘Istana dengan Rahmat bersinar’. ‘Gyongbok’ adalah kata yang
diambil dari salah satu kitab Confucius yang berarti ‘nikmati keberuntungan dan
makmur.’ Kata ‘gung’ berarti istana, jadi ‘Gyeongbokgung’ menyarankan harapan
baik bagi dinasti yang baru.
Di sore hari ketika jalanan di Myeongdong ditutup bagi
lalu-lintas, gerobak-gerobak jajanan mulai berdatangan menyajikan berbagai
panganan Korea. Ketika lampu-lampu neon dihidupkan asap dari panggangan
menyerbak ke udara memancing air liur.Anda dapat menelusuri gerobak demi gerobak memilih panganan berdasarkan
bentuk dan aromanya.
Namun, tidak seperti Bangkok di mana anda dapat makan makanan
besar di pinggir jalan, di Seoul jenis makanan piggir jalan lebih menjurus ke
jajanan yang bisa dimakan sambil berdiri atau jalan, melayani pendusuk Seoul
yang berjalan dari subway ke subway.
Di tengah padatnya ruas-ruas jalan di Myeongdong,
gerobak-gerobak makanan berbaris di antara hotel-hotel, toko-toko kecantikan,
restoran , café dan kelab malam. Myeongdong adalah tempat tujuan utama bagi
wisatawan di Seoul. Dari gerobak ke gerobak anda bisa mencari panganan, namun
anda harus mencicipi dulu Tteokbokki, yang merupakan adonan nasi dengan ikan,
telur, bawang dan saus merah asam manis. Padatnya adonan nasi itu
dikombinasikan dengan aroma bawang dan biji-biji wijen membuatnya panganan
sedap di malam yang sejuk. Harga satu porsi Tteokbokki antara 2000 ke 4000 KRW.
Photo by 709 K, Wikimedia
Bersama Tteokbokki yang agak pedas, anda bisa memakannya
dengan Gimbap, nasi gulung seperti lemper atau sushi, yang berisi nasi ketan –
‘bap’ yang digulung dalam lembaran rumput laut – ‘Gim’, diisi dengan berbagai
bahan seperti sayuran, ikan tuna, stick kepiting, acar dan berbagai variasi.
Seporsi hidangan dari 3 atau 4 potongan Gimbap berharga sekitar 1500 KRW.
Photo by cutekirin, Wikimedia
Lalu anda bisa mencoba Hweori Gamja atau kentang tornado
yang merupakan panganan jalanan yang sangat populer di Korea. Kentang Tornado
merupakan kentang goring yang dipotong spiral seperti tornado, yang kemudian
dicelup kedalam berbagi macam saus. Sausnya bisa keju, sambal merah, madu atau
gula merah. Kentang Tornado ini panganan yang sedap, mudah dimakan sambil
jalan-jalan di pasar malam Myeongdong.
Photo by tragrpx, Wikimedia
Setelah makan berbagai panganan anda lalu dapat makan menu
utama, Sundae. Jangan salah ini bukan ice cream, ini adalah sosis darah ala
Korea. Walaupun keliatannya tidak merangsang selera, warnanya hitam, ternyata
rasanya enak. Sundae ini berasal dari periode Goryeo, yang dicatat dalam buku
masakan abad 19, dan dimaksudkan untuk dihidangkan untuk acara- acara khusus.
Tergantung penjualnya, sosis darah ini dapat diisi dengan daging, bihun dan
berbagai sayuran. Seporsi harganya sekitar 6000 KRW.
Photo by SauceSupreme, Wikimedia
Nah, sekarang anda pasti sudah kenyang, kalau belum cobalah
Ppopgi. Ini adalah gula-gula jaman dulu, biasanya dijual dan dibuat oleh
generasi tua Korea. Ppopgi ini terbuat hanya dari dua bahan yakni baking soda
dan gula, namun teknik dan timing adalah factor-faktor penting untuk pembuatan
ppopgi yang benar. Setiap ppopgi memiliki berbagai pola cetakan, dulu ketika
anak-anak dapat memakan ppopgi di sekitar pola cetakan tanpa mematahkannya,
mereka akan mendapat ppopgi gratis dari penjualnya. Cobalah, ppopgi itu lebih
keras dari pada penampilannya.
Kita bisa katakan bahwa jalanan Myeongdong,
pusat perbelanjaan di Seoul, adalah wajah Korea modern yang dikendalikan oleh
“Hallyu” atau “Gelombang Korea” yang merupakan istilah kolektif bagi
perkembangan yang fenomenal dari kebudayaan pop Korea yang mencakup segalanya
mulai dari musik, filem, drama samapai ke pakaian dan makanan. Gelombang Korea mulanya menyebar ke Tiongkok
dan Jepang sekitar tahun 2000, dan kemudian ke Asia Tenggara dan beberapa Negara
di dunia di mana ia terus memiliki pengaruh yang kuat dan menjadi salah satu
fenomena kebudayaan terbesar di Asia.
Saat kita berjalan di Myeongdong kita
bisa melihat berbagai tanda mata dari K-pop dan K-drama di toko-toko, mulai
dari calendar, cangkir kopi, ke T-shirts, kaus kaki dan bahkan keripik kentang,
hampir segalanya menampilkan wajah selebritis terkemuka negara ini. Kita bisa
melihat wajah dari group K-pop Girl’s Generation, Blackpink, atau boy group Exo
, Super Juniordi baju dan alat tulis
menulis, dan kita bisa melihat jejak-jejak dariWinter Sonata, Autumn in My Heart, atau My Sassy Girl dipajangan untuk
mengingatkan kita akan filem drama TV Korea yang terkenal.
Masa kini kebudayaan pop Korea juga
mempengaruhi baik wanita maupun pria di Asia untuk menyukai produk pemeliharaan
kulit dan make-up buatan Korea.Yoona
dari group Girls’ Generation yang terpilih sebagai model bagi Innisfree, dan
Taeyeon yang juga dari Girls’ Generation mewakili Nature Republic , dengan
image bersih mereka berhasil meluncurkan kosmetik-kosmetik buatan Korea menjadi
merek yang dikenal secara global. Maka di tahun-tahun ini kosmetik Korea mendobrak
Asia di hampir semua penjuru. Dari face masks dan body cream sampai ke cairan
pembersih dan hand lotions, Korea memiliki produk-produk kecantikan yang
merupakan salah satu yang terbaik dan yang paling terjangkau di pasar. Oleh
karena itu baik toko kosmetik kecil maupun departments store di Myeongdong
selalu dipenuhi pembelanja yang mencari produk-produk dari The Faceshop,
Innisfree, Missha, Nature, Tony Moly, Etude House dsb.
Myeongdong yang dalam bahasa Korea
berarti “terowongan terang” atau “gua terang” barangkaliimage-nya telah dibentuk oleh kesan terang,
mengkilat dan terpoles dari tempat ini dan idola-idola popKorea. Anda bisa melihat dimana-mana
iklan-iklan di “terowongan terang” ini menampilkan wajah-wajah cantik
mempromosikan pakaian dengan merek mewah, kosmetik yang memuluskan dan aneka
asesori pakaian. Baik di billboard yang
gemerkap maupun di layar TV, jaket, topi dan baju bisa menjadi ikonik ketika
dipakai oleh Chanyeoul dari Exo, Nayeon dari Twice atau Suga dari BTS.
Department Store yang bertingkat-tingkat dan toko-toko kecil tumbuh menjamur
bertindak sebagai panggung yang mengajak anda untuk membeli pakaian-pakaian
bergaya mutakhir, dengan seorang K-pop idol dari karton berdirimenyambut anda di muka pintu.