Tampilkan postingan dengan label Korea. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Korea. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Mei 2020

Hi Seoul Festival, Musik Pop


Musik populer Korea atau K-Pop sudah menjadi fenomena global yang menampilkan campuran melodi-melodi yang menarik, koreografi yang luwes dan efek-efek panggung. Suksesnya K-pop juga ditunjang oleh penyanyi-penyanyi yang menawan yang belajar dan berlatih selama bertahun-tahun di studio yang sangat meletihkan guna menyanyi dan berdansa dengan sinkronisasi yang sempurna. Lagu-lagunya biasanya berisi salah satu atau campuran dari music pop, rock, hip hop, R&B dan music elektronik.

Di bulan Oktober, ‘Hi Seoul Festival berlangsung di Gwanghwamun Square. Festival ini adalah pertunjukan kesenian yang besar untuk mempromosikan kesatuan internasional dengan memungkinkan orang-orang berkomunikasi melalui music dan pertunjukan-pertunjukan non verbal, melampaui batas-batas bahasa, ras dan usia. Ratusan pertunjukan-pertunjukan diperagakan oleh team-team dari seluruh dunia selama festival seminggu ini.

Salah satu pertunjukannya adalah tentulah Pop band. Musik pop Korea sudah berada di Korea untuk beberapa waktu, tapi baru sekitar 10 tahun belakangan ini K-pop memasuki dunia musik mainstream. Muda-mudi Korea menyukai K-Pop bands dan berbangga bahwa K-pop mulai dihargai di taraf internasional.

TAMAT





Sabtu, 28 Maret 2020

Seoul, di Gwanghwamun Square


Berjalan dari Gwanghwamun gate (istana Gyeongbokgung) menuju kota, saya melihat ada sebuah avenue yang asyik dan gembira. Avenue ini dikelilingi Gedung-gedung tinggi, dan dinamakan Gwanghwamun Square. Mengamati avenue ini, lalu saya teringat inilah lokasi dari filem action Iris, filem serial drama TV yang popular di Korea, dimana aksi kejar-kejaran yang mendebarkan, dan perkelahian terjadi. Kim Hyeon-jun (Lee Byung-hun) dan Kim Sun-hwa (Kim So-yeon) berada di Gwanghwamun Square untuk mencari bom yang ditanam oleh teroris disini di episode 17.

Avenue yang menuju istana sudah ada sejak Seoul menjadi ibukota Korea. Avenue in lebar buat perjalanan raja dan romobongannya dari istana ke tujuan lainnya. Di abad ke 20 avenue itu masih lebar, dengan 16 jalur mobil, namun di tahun 2009 Pemerintah memutuskan untuk membuat lapangan nasional dengan mengubah 10 jalur menjadi lapangan untuk publik untuk bergembira dan bersosialisasi. Demikianlah terjadinya Gwanghwamun Square.

Di tengah lapangan ini berdirilah patung dari Raja Sejong yang Agung, raja ke-empat dan yang paling dihormati dari dinasti Joeseon dan pencipta Hangeul, alphabet Korea. Kebetulan saya melihat filem The King’s Letters di penerbangan dengan Asiana, sebuah filem sejarah yang menggambarkan Raja Sejong mengambil risiko mempertaruhkan reputasinya untuk menciptakan Hangeul, alphabet Korea bagi rakyatnya. Filem itu cukup menarik untuk ditonton, menimbang topic yang membosankan dan akademis tentang pembentukan bahasa Korea tertulis. Pastilah tidak mudah membuat filem yang menarik dari topic yang demikian.

Lebih jauh, terdapat patung Admiral Yi Shun-shin, komandan angkatan laut yang terkenal akan kejayaannya terhadap angkatan laut Jepang ketika penyerbuan Jepang ke Korea (1592-1598) dan seorang pahlawan bagi rakyat Korea. Di depan patung itu terdapat miniature kapal kura-kura yang dibuat sang Admiral, dan disetiap pojok ada gendang yang dipakai untuk meningkatkan moral para prajurit menuju medan perang.

Pada bulan Oktober itu, ‘Hi Seoul Festival’ sedang berlangsung di Gwanghwamun Square. Festival itu adalah festival besar tahunan bagi pertunjukan kesenian untuk mempromosikan kebersatuan international dengan memungkinkan orang-orang berkomunikasi melalui music dan pertunjukan non-verbal, melampaui batas-batas bahasa, ras dan usia. Ratusan pertunjukan dari kelompok-kelompok dari seluruh dunia dipanggungkan selama seminggu festival ini.

Namun, festival ini bukan hanya perayaan. Berhubung tragedy kapal Sewol baru terjadi beberapa bulan sebelumnya, ada kenangan bagi korban-korban tenggelamnya kapal itu dipertunjukan disana. Ada poster-poster yang menggambarkan kesedihan orang tua, kawan dan saudara-saudara para korban, beberapa poster menunjukan kemarahan atas cara pemerintah menangani tragedi ini.

Dari ke 476 penumpang dan awak kapal, 304 meninggal di kecelakaan itu, yang terbanyak adalah para pelajar sekitar 250 orang dari SMA Danwon, kota Ansan. Tenggelamnya kapal MV Sewol menimbulkan reaksi sosial dan politik yang meluas di Korea Selatan. Banyak orang mengkritik kapten dan sebagian besar awak kapalnya. Juga dikritik operator kapal ferry itu dan pemerintah yang mengawasi operasi kapal itu, termasuk pemerintahan presiden Park Geun-hye akan tindakannya untuk mengendalikan bencana itu.

TAMAT
Sumber: Wikipedia






Jumat, 06 Maret 2020

Seoul, di Istana Gyeongbokgung



Ketika saya memasuki ruang pertemuan utama dari Istana Gyeongbokgung, saya menatap ke langit-langit dan saya takjub melihat ornamen warna warni, merah, biru dan hijau, yang berbunga-bunga di bagian sudut-sudut atap.  Saya bisa melihat gambaran agung dari naga-naga di langit-langit itu, menunjukan dua ekor naga kuning terbang di langit. Di dalam tradisi Timur, warna kuning diasosiasikan dengan lokasi sentral, jadi kuning adalah warna pusat kekekuasaan.

Sejak jaman dulu naga-naga adalah bagian dari mitologi Timur, dan juga simbol utama bagi kekuasaan dan martabat raja. Naga yang terbang ke angkasa melambangkan yang diharapkan agar seorang yang bijaksana akan naik takhta. Hal ini berasal dari mitologi dimana seekor naga yang sudah lama disembunyikan di laut bangkit dan terbang ke atas menuju langit.  Jadi naga-naga terbang yang digambarkan di langit-langit, dan juga yang di kanopi di atas takhta raja melambangkan posisi sentral raja, dari mana ia memerintah dunia sekitarnya dengan kekuasaan dan martabat.

Berjalan sekeliling situ, saya juga melihat banyak lagi figur hewan-hewan di istana itu, hewan-hewan ini merupakan simbol keberuntungan yang menandakan panjang umur, kedamaian dan kesejahteraan, dan kebahagiaan. Termasuk diantaranya qilin, gajah, rusa, dan bangau terpatri di ruang pertemuan dari Istana Gyeongbokgung. Ada pula hewan-hewan yang diaksudkan untuk mengusir roh-roh jahat dan menghindarkan ketidakberuntungan. Diantaranya adalah cheollok yang terlihat di jembatan Yeongjegyo di Istana itu, ketika roh-roh jahat atau orang jahat menyeberangi jembatan itu, hewan-hewan mitologis ini menyerang dan mengusir mereka.

Raja Taejo, raja pertama dan pendiri dinasti Joseon, di tahun 1392 memutuskan untuk memindahkan pemerintahan ke Hanyang (Seoul sekarang) di tahun ketiga pemerintahannya, dan memulai pembangunan Istana Gyeongbokgung di tahun 1394. Lokasinya dikelilingi 4 gunung, gunung Bugaksan di sebelah Utara, gunung Namsan di Selatan, gunung Naksan di Timur dan gunung Imwangsan di Barat. Tata letak gunung-gunung ini dipercayai akan member fengshui yang bagus bagi Gyeongbokgung.

Pembangunan dari istana mulai di bulan Desember 1394 dibawah pengawasan Jeong Do-jeon, seorang menteri pemerintahan yang berpengaruh, dan rekannya Sim Deokpu. Jeong Do-jeon yang juga adalah sarjana Confusius yang terkemuka, merancang istana itu mencerminkan filosofi dari Confusianisme. Dia ingin merefleksikan prinsip-prinsip dinasti Joseon berdasarkan idealisme Confusius. Menurut  Confusianisme seseorang haruslah melatih jiwa dan badannya sebelum dia bisa mengajar orang lain dan memerintah dunia.

Karenanya Jong Do-jeon menyarankan bahwa istana itu janganlah menjadi simbol kedaulatan kekuasaan, tapi sebuah tempat dimana raja mengolah jiwanya dan memerintah rakyatnya dengan bantuan pegawai pemerintah yang baik. Dia ingin membangun istana yang bukannya megah atau menawan, tapi rada sederhana dan anggun. Membangun istana yang mewah bukanlah salah satu nilai dari Confusianisme.

Jong Do-jeon also gave name to the palace Gyeongbokgung, which means the ‘Palace of Shining Blessings’. ‘Gyongbok’ is a word borrowed from one of the Confucian scriptures which means ‘to enjoy good fortune and prosper’. The word ‘gung’ means palace, so ‘Gyeongbokgung’ suggested good wishes to the new dynasty.

Jong Do-jeon juga memberi nama istana itu Gyeongbokgung, yang berarti ‘Istana dengan Rahmat bersinar’. ‘Gyongbok’ adalah kata yang diambil dari salah satu kitab Confucius yang berarti ‘nikmati keberuntungan dan makmur.’ Kata ‘gung’ berarti istana, jadi ‘Gyeongbokgung’ menyarankan harapan baik bagi dinasti yang baru.

TAMAT

Sumber: kto.visitkorea.or.kr ; https://artsandculture.google.com/theme/animals-in-the-palaces/xQIy6nRWUZs6JA?hl=en ;







Minggu, 24 November 2019

Seoul, di Myeongdong Malam Hari



Di sore hari ketika jalanan di Myeongdong ditutup bagi lalu-lintas, gerobak-gerobak jajanan mulai berdatangan menyajikan berbagai panganan Korea. Ketika lampu-lampu neon dihidupkan asap dari panggangan menyerbak ke udara memancing air liur.  Anda dapat menelusuri gerobak demi gerobak memilih panganan berdasarkan bentuk dan aromanya.

Namun, tidak seperti Bangkok di mana anda dapat makan makanan besar di pinggir jalan, di Seoul jenis makanan piggir jalan lebih menjurus ke jajanan yang bisa dimakan sambil berdiri atau jalan, melayani pendusuk Seoul yang berjalan dari subway ke subway.

Di tengah padatnya ruas-ruas jalan di Myeongdong, gerobak-gerobak makanan berbaris di antara hotel-hotel, toko-toko kecantikan, restoran , café dan kelab malam. Myeongdong adalah tempat tujuan utama bagi wisatawan di Seoul. Dari gerobak ke gerobak anda bisa mencari panganan, namun anda harus mencicipi dulu Tteokbokki, yang merupakan adonan nasi dengan ikan, telur, bawang dan saus merah asam manis. Padatnya adonan nasi itu dikombinasikan dengan aroma bawang dan biji-biji wijen membuatnya panganan sedap di malam yang sejuk. Harga satu porsi Tteokbokki antara 2000 ke 4000 KRW.

Photo by 709 K, Wikimedia
Bersama Tteokbokki yang agak pedas, anda bisa memakannya dengan Gimbap, nasi gulung seperti lemper atau sushi, yang berisi nasi ketan – ‘bap’ yang digulung dalam lembaran rumput laut – ‘Gim’, diisi dengan berbagai bahan seperti sayuran, ikan tuna, stick kepiting, acar dan berbagai variasi. Seporsi hidangan dari 3 atau 4 potongan Gimbap berharga sekitar 1500 KRW.

Photo by cutekirin, Wikimedia

Lalu anda bisa mencoba Hweori Gamja atau kentang tornado yang merupakan panganan jalanan yang sangat populer di Korea. Kentang Tornado merupakan kentang goring yang dipotong spiral seperti tornado, yang kemudian dicelup kedalam berbagi macam saus. Sausnya bisa keju, sambal merah, madu atau gula merah. Kentang Tornado ini panganan yang sedap, mudah dimakan sambil jalan-jalan di pasar malam Myeongdong.

Photo by tragrpx, Wikimedia
Setelah makan berbagai panganan anda lalu dapat makan menu utama, Sundae. Jangan salah ini bukan ice cream, ini adalah sosis darah ala Korea. Walaupun keliatannya tidak merangsang selera, warnanya hitam, ternyata rasanya enak. Sundae ini berasal dari periode Goryeo, yang dicatat dalam buku masakan abad 19, dan dimaksudkan untuk dihidangkan untuk acara- acara khusus. Tergantung penjualnya, sosis darah ini dapat diisi dengan daging, bihun dan berbagai sayuran. Seporsi harganya sekitar 6000 KRW.


Photo by SauceSupreme, Wikimedia

Nah, sekarang anda pasti sudah kenyang, kalau belum cobalah Ppopgi. Ini adalah gula-gula jaman dulu, biasanya dijual dan dibuat oleh generasi tua Korea. Ppopgi ini terbuat hanya dari dua bahan yakni baking soda dan gula, namun teknik dan timing adalah factor-faktor penting untuk pembuatan ppopgi yang benar. Setiap ppopgi memiliki berbagai pola cetakan, dulu ketika anak-anak dapat memakan ppopgi di sekitar pola cetakan tanpa mematahkannya, mereka akan mendapat ppopgi gratis dari penjualnya. Cobalah, ppopgi itu lebih keras dari pada penampilannya.

Photo by도자놀자 , Wikimedia

TAMAT



Sabtu, 02 November 2019

Seoul, di Myeongdong Pagi Hari


Kita bisa katakan bahwa jalanan Myeongdong, pusat perbelanjaan di Seoul, adalah wajah Korea modern yang dikendalikan oleh “Hallyu” atau “Gelombang Korea” yang merupakan istilah kolektif bagi perkembangan yang fenomenal dari kebudayaan pop Korea yang mencakup segalanya mulai dari musik, filem, drama samapai ke pakaian dan makanan.  Gelombang Korea mulanya menyebar ke Tiongkok dan Jepang sekitar tahun 2000, dan kemudian ke Asia Tenggara dan beberapa Negara di dunia di mana ia terus memiliki pengaruh yang kuat dan menjadi salah satu fenomena kebudayaan terbesar di Asia.


Saat kita berjalan di Myeongdong kita bisa melihat berbagai tanda mata dari K-pop dan K-drama di toko-toko, mulai dari calendar, cangkir kopi, ke T-shirts, kaus kaki dan bahkan keripik kentang, hampir segalanya menampilkan wajah selebritis terkemuka negara ini. Kita bisa melihat wajah dari group K-pop Girl’s Generation, Blackpink, atau boy group Exo , Super Junior  di baju dan alat tulis menulis, dan kita bisa melihat jejak-jejak dari  Winter Sonata, Autumn in My Heart, atau My Sassy Girl dipajangan untuk mengingatkan kita akan filem drama TV Korea yang terkenal.
                      
Masa kini kebudayaan pop Korea juga mempengaruhi baik wanita maupun pria di Asia untuk menyukai produk pemeliharaan kulit dan make-up buatan Korea.  Yoona dari group Girls’ Generation yang terpilih sebagai model bagi Innisfree, dan Taeyeon yang juga dari Girls’ Generation mewakili Nature Republic , dengan image bersih mereka berhasil meluncurkan kosmetik-kosmetik buatan Korea menjadi merek yang dikenal secara global. Maka di tahun-tahun ini kosmetik Korea mendobrak Asia di hampir semua penjuru. Dari face masks dan body cream sampai ke cairan pembersih dan hand lotions, Korea memiliki produk-produk kecantikan yang merupakan salah satu yang terbaik dan yang paling terjangkau di pasar. Oleh karena itu baik toko kosmetik kecil maupun departments store di Myeongdong selalu dipenuhi pembelanja yang mencari produk-produk dari The Faceshop, Innisfree, Missha, Nature, Tony Moly, Etude House dsb.

Myeongdong yang dalam bahasa Korea berarti “terowongan terang” atau “gua terang” barangkali  image-nya telah dibentuk oleh kesan terang, mengkilat dan terpoles dari tempat ini dan idola-idola pop  Korea. Anda bisa melihat dimana-mana iklan-iklan di “terowongan terang” ini menampilkan wajah-wajah cantik mempromosikan pakaian dengan merek mewah, kosmetik yang memuluskan dan aneka asesori pakaian.   Baik di billboard yang gemerkap maupun di layar TV, jaket, topi dan baju bisa menjadi ikonik ketika dipakai oleh Chanyeoul dari Exo, Nayeon dari Twice atau Suga dari BTS. Department Store yang bertingkat-tingkat dan toko-toko kecil tumbuh menjamur bertindak sebagai panggung yang mengajak anda untuk membeli pakaian-pakaian bergaya mutakhir, dengan seorang K-pop idol dari karton berdiri  menyambut anda di muka pintu.

TAMAT