Tampilkan postingan dengan label Jepang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jepang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Agustus 2020

Wawancara dengan Haruki


Photo: pinktentacle.com
Baru-baru ini saya mengikuti drama TV Jepang “Aibou” (Partners) sebuah drama detektif serial di internet. Dramanya cukup menarik, seperti halnya banyak filem detektif Jepang drama serial ini memiliki alur cerita yang kompleks, sebegitu kompleksnya hingga sulit ditelan. Nampaknya penulis drama itu membuat jalur ceritanya kompleks agar makin misterius, membuatnya makin sulit menebak ‘siapakah yang melakukannya’. Selain itu, kisahnya kadang mencerminkan kebudayaan dan tradisi Jepang yang unik, seperti sikap yang menjunjung tinggi kesempurnaan dalam perbuatan, kejujuran, kebanggaan akan profesi, kehormatan dan pengorbanan bagi masyarakat, yang terpilin dengan tindakan kejahatan dalam drama ini.

Namun, ketika saya sampai di episode 9 dan 10 dari Season 11 drama ini, saya terkesiap menontonnya, karena ceritanya didasari tradisi yang sangat aneh dan mengherankan. Saya tak bisa membayangkan seseorang melakukan tindakan ini di dunia nyata. Namun, mengenal bahwa drama serial ini sering memasukkan tradisi Jepang dalam ceritanya, tindakan ini pastilah nyata, bukan fiksi.

Tindakan kejahatannya terjadi di sebuah daerah pegunungan yang terpencil yang diselimuti hutan yang lebat, sebuah tempat yang terasa sangat teduh dan damai hingga sulit membayangkan sebuah kejahatan bisa terjadi di sini. Kejahatan itu terjadi terdorong oleh sebuah praktek dari abad ke 11 yang disebut Sokushinbutsu, sebuah tindakan memumikan diri oleh seorang biksu agar menjadi “seorang Buddha dalam badan ini”. Di dalam praktek Sokushinbutsu sang biksu dengan sengaja mematikan diri agar melestarikan badannya menjadi mummi, dengan kehendak mencari nirwana.

Saya sangat penasaran untuk mengetahui apakah yang melandasi tradisi religious ini, bagaimana sampai bisa terjadi begini? Jadi saya menghubungi Haruki, seorang biksu yang saya kenal, yang berdiam di Kuil Churenji  di Dewa Sanzan, distrik Yamagata. Saya mengambil perjalanan 4 jam dengan Shinkansen dan kereta api express dari Tokyo ke stasiun terdekat di Tsuruoka. Perjalanannya melalui daerah yang paling teduh di Jepang, melihat daerah pedalaman, pegunungan, ditandai dengan kuil-kuil yang tersembunyi di hutan lebat. Setelah sampai di Tsuroka saya mengambil bus ke Kuil Churenji untuk menemui Haruki, namun karena kuil itu tidak terbuka bagi publik hari itu, kami pergi ke sebuah warung teh di dekat situ untuk bercakap-cakap.

Aku membuka percakapan:
“Tempat yang sangat teduh di distrik Yamagata ini dikatakan sebagai salah satu tempat yang paling indah untuk berjalan-jalan di Jepang. Saya beruntung bisa melihat keindahan tempat ini yang dikelilingi pegunungan diselimuti pohon-pohon cedar yang tinggi-tinggi membentuk hutan yang lebat, yang membuat kita merasa pohon-pohon itu menjangkau ke atas untuk memberi penampungan dan perlindungan terhadap badai. Pegunungan yang menjulang tinggi dianggap musuh dan daerah angker bagi manusia untuk menjelajahinya, sementara hutan memberi kita rasa damai yang luar biasa.

Jadi, saya kira kita bisa mengerti bahwa di jaman dulu agama Shinto kuno (Koshinto) menyembah alam, yang dikenal sebagai animisme di dunia Barat. Keindahan dan keteduhan tempat ini sangatlah luar biasa hingga mereka menganggap setiap elemen alam ini adalah ilahi. Gunung, lautan dan sungai semuanya adalah roh ilahi atau dewa (‘kami’ dalam Bahasa Jepang), sebagaimana halnya matahari, bulan dan Bintang Utara. Angin dan halilintar juga adalah ‘kami’. Singkatnya Koshinto berpegangan bahwa tidak ada di dunia atau di kosmos yang tidak memiliki energi ilahi; ‘kami’ berada di mana saja.
Gunung Yudono di mana Kuil Churenji berada, juga dianggap  sebagai salah satu gunung yang dikeramatkan diantara 3 gunung-gunung Dewa Sanza. Bisakah anda memberi sedikit gambaran.”
Haruki:
“Gunung-gunung memiliki peranan penting di dalam agama di Jepang sejak jaman dulu kala. Gunung yang tinggi dianggap angker dan berbahaya, namun mereka disembah sebagai sumber dari sungai yang memberi kehidupan yang menyuburkan sawah dan desa-desa di bawah. Menjulang ke langit dan seringkali tertutup oleh awan, gunung-gunung seperti itu dianggap sebagai surga dan diperlalukan dengan kekaguman dan hormat. Tanpa harus menjadi Shinto, semua manusia dapat memiliki kesan seperti ini tentang gunung-gunung.

Gunung Yudono adalah salah satu pusat dari penyembahan gunung di Dewa sanzan (“tiga gunung Dewa”) di distrik Yamagata. Ketiga gunung itu adalah Haguro-san, Gas-san dan Yudono-san; Haguro-san mewakili kelahiran, Gas-san mewakili kematian dan Yudono-san mewakili kelahiran kembali, gunung-gunung itu biasanya dikunjungi sesuai urutan itu.

Dewa Sanzan adalah pusat dari Shugendo, suatu agama berdasarkan penyembahan gunung, campuran antara Buddhis dan tradisi Shinto. Para penganut Shugendo, melakukan tindakan pengorbanan diri sebagai jalan untuk mentransedensikan dunia jasmaniah.”

Aku berkata:
“ Lalu bagaimana jadinya penyembahan gunung menjadi pusat dari Sokushinbutsu, sebuah praktek memummikan diri seorang biksu?”

Haruki:
“Sokushinbutsu adalah salah satu praktek bertapa yang berat dari Shugendo, biksu-biksu berusaha memelihara badan mereka menjadi mummi melalui diet yang ekstrem dan meditasi. Para biksu percaya bahwa pencerahan dapat dicapai di dunia kini, dan mereka percaya bahwa dengan meninggalkan suatu jejak Buddha di dunia ini dalam wujud Sokushinbutsu, mereka dapat memberi keselamatan kepada penduduk di sini, bahkan setelah kematian sang biksu.”

Aku berkata:
“Bagaimana mereka melakukan mummifikasi diri itu?”

Haruki:
“Ritus mummifikasi diri ini sangat panjang dan sangat menyakitkan. Hal ini bukanlah pengorbanan yang sederhana dan biksu itu menghabiskan hidupnya setelah proses panjang penistaan yang tahap akhirnya berlangsung sekitar 1000 hari. Makanan para biksu terbatas pada apa yang bisa ditemukan di gunung, sepert kacang-kacangan, tunas tanaman, buah berrie, kulit pohon dan jarum pinus. Bentuk makanan ini disebut mokujikigyo, yang secara harafiah berarti “latihan memakan pohon”. Ketika sang biksu tidak mencari makanan ia menghabiskan waktunya bertapa di gunung. Makanan ini dimaksudkan untuk menguatkan mental, dan dari segi biologis diet yang berat dimaksudkan untuk menghilangkan lemak, otot dan kelembaban. Efek yang diharakan adalah mencegah pembusukan jasad setelah kematian. Sang biksu juga meminum the beracun dari kulit pohon (toxicodendron verniculum)  yang diharapkan akan mempercepat kematian dan membuat badan menjadi lebih tidak ramah terhadap bakteri dan parasite yang akan membusukkan jasad setelah kematian. Kulit pohon itu memiliki kadar racun yang sama tingginya seperti di tanaman poison ivy.

Setelah itu, sang biksu akan berhenti makan semuanya, minum sedit air asin selama 100 hari. Pada akhir periode ini, sang biksu dianggap imannya siap untuk masuk ke ‘nyujo’ atau diam dalam meditasi.  Ketika sang biksu merasa ajalnya mendekat, murid-muridnya akan menurunkannya ke dalam kotak pinus di bawah lubang sedalam 3 meter berdinding batuan, liang kubur yang ukurannya hanya cukup untuk sang biksu duduk dalam posisi lotus, posisi bertapa. Ruangan yang kosong diisi dengan arang untuk menyerap kelembaban.

Setelah liang kubur itu ditutup, dua pipa bambu akan ditanamkan dari atas untuk menyalurkan  air minum dan menyalurkan udara untuk ventilasi. Lonceng- lonceng diikat ke ujung bambu itu untuk sang biksu memberi isyarat bahwa ia masih hidup. Ketika bunyi lonceng tidak lagi terdengar, pipa bambu tersebut akan dicabut dan lubangnya ditutup.

Selama tiga tahun dan tiga bulan, jenazah sang biksu didiamkan di lubang bawah tanah itu. Kemudian pada akhirnya, jenazahnya akan diangkat ke atas. Kalau tidak ditemukan pembusukan, jasad itu ditetapkan sebagai Sokushinbutsu yang sebenarnya dan disemayamkan di altar di kuil.”

Aku berkata:
“Apakah proses ini tidak dianggap sebagai bunuh diri?”

Haruki:
“Walapun pada permukaannya tampak seperti bunuh diri, penganut Buddhis menganggapnya sebagai “peninggalan badan”. Setelah memadamkan hawa nafsu dalam dirinya, sang biksu dapat masuk ke nirwana tanpa halangan melalui proses kematian. Kematian itu adalah pengorbanan dirinya didorong oleh rasa cinta kasih untuk kebaikan semua mahluk hidup, misalnya ketika pandemik ganas mewabah. Namun bagaimanapun praktek ini dilarang oleh Restorasi Meiji, ketika Shinto dipisahkan dari Buddhisme dan ditetapkan sebagai agama resmi Jepang.”

Aku berkata:
“Bagaimana praktek Sokushinbutsu berawal?”

Haruki:
“Praktek ini muncul di Tiongkok diabad ke 4 dan di Jepang di awal abad ke 9. Menurut legenda Jepang, biksu Kukai,  yang juga dikenal sebagai Kobo Daishi setelah kematiannya, memasuki meditasi yang mendalam, atau ‘samadi’ di akhir hidupnya sampai kematiannya, di gunung Koya di Selatan Osaka. Biksu Kukai adalah pendiri Shingon, sekte marjinal Buddhisme. Tujuh puluh tahun setelah kematiannya seorang petinggi biksu berdasarkan perintah kerajaan pergi ke atas gunung Koya untuk membuka kuburannya dan menemukan bahwa tubuhnya masih utuh. Menurut legenda Kukai saat itu belumlah mati melainkan masuk ke dalam meditasi kekal dan masih hidup di gunung Koya, menunggu penampakan Maitreya, Buddha masa depan.”

Aku berkata:
“Lalu dimanakah tubuh Kobo Daishi disimpan? Apakah terbuka bagi publik?”

Haruki:
“Mausoleum dari Kobo Daishi terletak di gunung Koya dan adalah tempat yang paling suci di gunung itu. Pintu mausoleum tidak pernah dibuka kecuali setiap 50 tahun oleh uskup agung gunung Koya untuk memotong kuku dan rambutnya dan menukar pakaiannya yang kemudian dipakai untuk membuat amulet bagi pengikutnya. Kobo Daishi dianggap sedang bertapa di mausoleumnya, tapi jasadnya sama sekali tidak diperlihatkan. Jasadnya haruslah dianggap sebagai peninggalan yang mewakili “Esensi Buddha” yang murni yang menjadi peninggalan suci serupa stupa.”

Aku berkata:
“Tapi di kuil Churenji pengunjung dapat melihat jasad Tetsumonkai, walaupun dilarang pengambil foto.”

Haruki:
“Ya, jasad terkenal Tetsumonkai dipertunjukkan di kuil ini duduk di altar khusus. Telapak tangannya menghadap ke atas, ia diperagakan untuk bermeditasi terus menerus, sesuai dengan kehendaknya ketika ia memasuki ajal 2 abad yang lalu. Jasadnya dengan tengkorak yang seakan menyeringai diberi jubah oranye, syal berwarna ungu dan kecoklatan dan topi keemasan, bak seorang petinggi biksu. Ia memberi bukti akan seseorang yang berhasil dalam usahanya menjadi mummi yang dihormati.”

Aku berkata:
“Siapakah Tetsumonkai itu?”

Haruki:
“Tetsumonkai adalah yang paling terkenal di antara Sokushinbutsu. Dilahirkan sebagai Sunada Tetsu di tahun 1759, dia adalah pegawai sungai yang menggali sumur-sumur dan mengirim kayu dengan sampan, dan dikenal dengan temperamennya yang bagai badai. Suatu hari, menurut salah satu legenda, ia menikam kaki salah seorang petugas yang mengawasi konstruksi sungai karena ia naik pitam akan keangkuhannya. Cerita lainnya menggambarkan ia membunuh seorang samurai ketika berkelahi memperebutkan seorang pelacur favorit. Bagaimanapun, Tetsu melarikan diri dari pengejaran dan bergabung dengan sekolah biarawan di Churenji di umur 20 tahunan akhir menuju kehidupan prihatin dan kemudian ia diberi nama Tetsumonkai.

Selama hidupnya sebagai biksu, catatan menunjukkan bahwa Tetsumonkai banyak melakukan perjalanan dan dihormati sebagai orang suci yang dikaitkan dengan berbagai legenda. Suatu saat ketika mengunjungi Edo, ia menyaksikan mewabahnya penyakit mata yang menimbulkan penderitaan luar biasa. Ia lalu mencolok matanya sendiri dan mencabutnya dan mempersembahkannya ke sungai Sumida sebagai doa bagi penyembuhan. Riset selanjutnya menunjukkan bahwa memang mata kirinya tidak ada di mummi nya, yang dengan suatu hal mengkonfirmasikan cerita tersebut. 

Karya misionaris Tetsumonkai berpusat di daerah Shonai, namun monument-monumennya menunjukkan bahwa karyanya menyebar dari daerah kanto hingga Hokkaido. Dia dikenang mengumpulkan 10,000 pekerja voluntir untuk membangun jalan baru melalui sebuah gunung yang menghubungkan pelabuhan Kamo ke Tsuroka, untuk perdagangan. Ia meninggalkan dampak abadi bagi banyak orang saat itu. Hingga kini, ada festival-festival berdasaran ajaran Tetsumonkai.

Namun, mungkin legenda yang paling menarik adalah kisah lain yang berkaitan dengan mutilasi diri. Pada suatu saat, dikatakan bahwa Tetsumonkai dikunjungi seorang pelacur, mungkin pelacur yang sama yang ia perebutkan dengan sang samurai. Wanita itu berusaha meyakinkan Tetsumonkai untuk kempali ke kota bersamanya, tapi ia menolak. Untuk membuktikan keinsafannya dan dedikasi akan hidup dalam pengorbanan, dia menghilang dan lalu kembali dengan bungkusan kecil buat wanita itu. Di dalam nya adalah testikelnya yang penuh darah. Dia telah memotongnya.

Diceritakan bahwa testikelnya kemudian dianggap para pelacur di sebuah border local sebagai tanda keberungan, dan akhirnya dikirim ke kuil Nangakuji di Tsuruoka, dan kemudian dilestarikan sebagai relik. Seakan menambah bobot kebenaran legenda itu, memang ditemukan bahwa mummi Tetsumonkai tidak mempunyai testikel.

Aku berkata:
“Apakah benar kuil itu menyimpan testikel dari Tetsumonkai?”

Haruki:
“Benar, tapi tidak dipertunjukkan ke public. Golongan darah Tetsumonkai adalah grup B, demikian pula golongan darah yang ditemukan di testikel yang ditemukan di Nangakuji, menurut riset ilmiah masa lalu. Para akademisi saat itu menyimpulkan bahwa sangat besar kemungkinan bahwa testikel yang dikeringkan itu milik seorang yang bertahan akan siksa fisik yang ekstrim karena pelatihan meditasi sebelum dikuburkan pada usia 71.”

Aku berkata:
“Apakah mummi Sokushinbutsu sama dengan mummi di Mesir?”

Haruki:
“Tubuh para Firaun dibalsem di jaman dulu Mesir. Organ tubuh bagian dalam semuanya dikeluarkan dan diganti dengan tanaman yang berkhasiat. Tubuhnya jadinya hanyalah pembungkus daging kering dan tulang.
Sebaliknya, mummi Sokushinbutsu melestarikan organ tubuh bagian dalam karena proses pemummian berjalan ketika ia masih hidup dan organ tubuh bagian dalam dianggap pusat energi vital. Tubuh beberapa mummi di gunung Yudono, untuk melestarikannya dengan sempurna, kadang-kadang juga dilapisi dengan pernis kering. Sehingga pentingnya pemujaan akan Sokushinbutsu menyiratkan bahwa mummi itu bukan sekedar “sisa tubuh”, atau “cangkang kosong”, mummi tersebut dianimasikan, penuh vitalitas; yang berada di bumi dan juga di kelimpahan irwana.”

Haruki:
“Mummi Sokusinbutsu memberi jendela yang menarik ke dalam kebudayaan Jepang kuno melalui praktek-praktek belas kasih, kesulitan hidup, pengorbanan dan semangat religiositas yang intens untuk mendapatkan sukma Buddha dalam daging. Konsep Barat akan kematian fisik adalah suatu proses pemutusan kehidupan yang terjadi dengan cepat dan parah, sedangkan konsep Timur memandang kematian sebagai suatu proses yang bertahap.

Pemujaan Sokushinbutsu memelihara orang-orang suci hidup dan memberikan perspektif yang unik akan perjuangan manusia menggapai Nirwana, sebelum dan sesudah kematian.”


THE END

Wawancara ini adalah wawancara imajiner mengenai Sokushinbutsu

Sumber:







Sabtu, 15 September 2018

Tokyo Disneyland, Lagu-lagu Latin


Pertunjukan Minnie Oh! Minnie! Di Tokyo Disneyland adalah pertunjukan dengan energi tinggi yang berisi lagu-lagu Latin dan dansa. Minnie Mouse adalah bintang pertunjukan warna warni ini bersama Donald, Goofy, Chip & Dale, dan tentunya, Mickey Mouse.

Pertunjukannya menyajikan lagu-lagu dalam bahasa Inggeris, Jepang dan Spanyol. Ada dua penyanyi utama yang menggerakkan pertunjukan ini, dan juga menampilkan penari-penari hebat dalam kostum-kostum yang indah. Beberapa kostumnya memiliki bulu-bulu, sayap-sayap, warna warni cerah, yang sangat menarik. Para karakter Disney juga turun dari panggung, agar pertunjukan itu lebih menggembirakan.

Semua pemain bergabung dalam kegembiraan dan dansa bersama, yang menuju ke pertunjukan Latin yang panas di akhir pertunjukan di Theatre Orleans. Pertunjukan berakhir dengan semua karater Disney berpose ketika layar diturunkan.
Tokyo Disneyland adalah Disney park pertama yang dibangun di luar Amerika Serikat, dibuka di tahun 1983.  Taman ini dibangun dengan gaya yang sama seperti Disneyland di California dan Magic Kingdon di Florida.

Taman ini mempunyai tujuh  daerah bertema: the World Bazzar; ke empat Disneylands tradisional: Adventureland, Westernland, Fantasyland dan Tomorrowland; dan dua mini-lands: Critter Country dan Mickey's Toontown.

TAMAT



Sabtu, 25 Agustus 2018

Tokyo Disneyland, di the Small World


 “It’s a Small world” adalah perjalanan di kegelapan di atas air yang terletak di daerah Fantasyland di Tokyo Disneyland. Perjalanan ini menampilkan lebih dari 300 boneka robot yang berkostum tradisional dari berbagai kebudayaan di dunia.

Dengan kostum tradisional negara mereka, anak-anak sedunia menari dan bernyanyi, ketika kita menjelajahi dari Eropa, melalui Asia, Afrika, Amerika, dan kepulauan Pasifik Selatan.

Tokyo Disneyland adalah Disney park pertama yang dibangun di luar Amerika Serikat, dibuka di tahun 1983.  Taman ini dibangun dengan gaya yang sama seperti Disneyland di California dan Magic Kingdon di Florida.

Taman ini mempunyai tujuh  daerah bertema: the World Bazzar; ke empat Disneylands tradisional: Adventureland, Westernland, Fantasyland dan Tomorrowland; dan dua mini-lands: Critter Country dan Mickey's Toontown.

Banyak dari daerah-daerah itu mencerminkan daerah asli Disneyland yang berdasarkan Filem dan fantasi Disney Amerika. Fantasyland termasuk Peter Pan's Flight, Snow White's Scary Adventures, Dumbo the Flying Elephant, berdasarkan filem Disney dan karakter-karakternya.

TAMAT




Minggu, 27 Mei 2018

Dari Jalanan Tokyo Ke Kuil Kasuga Taisha



Berjalan-jalan di Tokyo di sore hari kita bisa melihat banyak orang membanjiri pedestrian yang besar-besar. Nampaknya orang sini, meskipun mereka terkenal pekerja keras dalam waktu kerja yang panjang, tidaklah langsung pulang ke rumah setelah pulang kerja. Mereka suka makan angin di jalanan, berkunjung ke toko-toko, warung kopi dan bar-bar sepulang kerja. Suasananya meriah, mereka banyak hanya ngobrol di depan bar-bar atau di lapangan-lapangan di Shinjuku.


Daerah Shinjuku selalu hiruk pikuk dan sibuk, karena ini merupakan pusat bisnis di pagi hari dan daerah hiburan di malam hari. Daerah ini pada mulanya bertumbuh sebagai daerah pusat pengiriman pos bagi para pendatang, dan lambat laun berubah menjadi daerah kesibukan kota setelah stasiun kereta apinya dibuka setelah masa Meiji. Selanjutnya, banyak jalur kereta api digunakan oleh sebagian besar penduduk yang tinggal di Timur Tokyo, bertemu di Shinjuku, yang mengembangkan stasiun ini menjadi terminal yang sangat besar dan sibuk.


Kalau anda peminat gaya pakaian anak muda, tidak ada tempat lain di dunia di mana kita bisa melihat kebudayaan anak muda di jalanan yang begitu dinamis, berwarna warni, dan belia dengan gaya yang berubah tiap hari seperti yanng terjadi di Jepang, terutama di Tokyo, pusat busana baru yang mananjak di dunia.


Kalau anda mencari gaya busana tertentu bagi muda-mudi, Takeshita Street, dan sekelilingnya, adalah tempatnya, yang menjajakan tak terbilang banyaknya gaya-gaya unik.  Anda bisa mendapatkan baju pemain band, gaya puteri raja, gaya goth, dan bahkan kostum-kpstum beraneka ragam. Ini yang membuat jalan ini begitu unik dan populer. Anda bisa membeli apa saja, mulai dari sepatu boot sampai tutup telinga, dan t-shirt pemain band sampai pernak pernik dalam gaya bermacam-macam yang anda tidak bisa dapatkan di tempat asal anda – dengan harga yang terjangkau pula.


Sulit dibayangkan bagaimana busana kultur pop Jepang telah berkembang dengan gejala yang begitu bebas yang menonjolkan keunikan pribadi di negara yang menghargai kebersamaan, mementingkan harmoni, kesopanan, hirarki dan tradisi.


Jauh dari keramaian kota, ada dunia yang lain. Di tengah hutan pepohonan, melalui jalan setapak yang berkelok-kelok dengan 3000 lentera di sepanjang jalan, berdirilah kuil Kasuga Taisha. Kuil ini adalah kuil Shinto, lokasinya sengaja dipilih di dalam hutan pepohonan. Agama Shinto sangatlah erat berhubungan dengan alam dan berjalan di tengah hitan pepohonan membuat anda merasa berjalan di dunia yang lain, walaupun letaknya hanya beberapa kilometer dari jalanan yang ramai.


Ke 3000 lentera tersebut merupakan simbol dari ke 3000 kuil Kasuga yang tersebar di seluruh Jepang. Setiap lentera merupakan sumbangan dari seorang warga untuk berterimakasih dan dukungan terhadap kuil itu. Tulisan di setiap lentera  menunjukan dewa yang mana lentera itu dipersembahkan, atau nama penyumbang lentera itu.

TAMAT






Sabtu, 19 Mei 2018

Wawancara dengan Katsushika



Photo: Wikimedia

Aku menemukan karya Katsushika ketika menengok-nengok suvenir di depan sebuah toko suvenir di gunung Fuji di stasion nomor 5, tampak gambar- gambar dari sebuah ombak besar menggulung dengan latar belakang gunung Fuji yang tertempel di gelas, kipas, gantungan kunci dan tee shirts. 

Entah bagaimana keunikan gambar itu berkesan di ingatan sebagai suatu gaya lukisan Jepang, dengan kata lain gambar itu memperlambangkan sebagai sesuatu yang Jepang, gambar itu menjadi ikonik. Bukan main kuatnya pengaruh gambar itu.

Kemudian, ketika membaca internet kuketemukan bahwa gambar itu adalah “The Great Wave off Kanagawa” (“Ombak Dahsyat Dekat Kanagawa”), karya ukir cetak kayu yang dicptakan oleh Katsushika Hokusai, yang merupakan bagian dari karya ukir cetak kayunya Thirty-six Views of Mount Fuji (Tigapulu- enam Pemandangan Gunung Fuji). 


Lalu aku berusaha menghubungi Katsushika-san untuk sebuah wawancara, dan berhasil bertemu dengannya di suatu pagi yang cerah di kediamannya. 


Aku berkata:

“Katsushika-san, karya anda yang terkenal “The Great Wave off Kanagawa” dan karya-karya lain yang paling penting dari serial Gunung Fuji dibuat di awal “fase akhir” hidup anda. Anda sudah memiliki karir yang panjang dengan ukiyo-e – seni dunia melambung- dengan karya cetak indah tentang pedagang kelontong yang bergegas, wanita penghibur dalam kimono dan peziarah yang terpesona akan bulan di atas Edo (Tokyo jaman dulu) kota tempat tinggal anda. Namun, keandalan kreatifitas anda sepertinya berkembang di fase akhir hidup anda, di usia tujuhpuluhan. Mengapa anda “melambung” begitu terlambat?" 


Katsushika-san:

“Tahun 1820-an adalah masa sulit bagi saya, saya disambar petir di umur 50, dapat serangan jantung di umur 60 tahunan yang membutuhkan saya beradaptasi kembali dengan pekerjaan seni saya. Jadi saya hanya berbuat sedikit di umur 60 tahunan; isteri saya menjadi sakit dan salah satu puteri saya meninggal. Saya bisa mengatasi situasi ini karena saat itu saya kaya dari hasil pekerjaan saya.

Tapi selanjutnya saya dihadapi nasib sial cucu saya yang punya banyak hutang dari kebiassan judinya dan saya harus membayar semua hutangnya. Namun di sekitar tahun 1828, saya kirim cucu saya ke tempat jauh di Utara Jepang di mana dia tidak bisa berjudi. Lalu saya bebas untuk bekonsentrasi pada kreatifitas saya berkarya. Walaupun, bahkan ketika menggambar The Thirty-six Views, saya jarang cukup makan. Edo diserang oleh cacar dan banjir, dan kebakaran di tahun 1839 menghancurkan seluruh karya studio saya.

Salah satu faktor bagi melambungnya karya saya adalah munculnya warna cat biru Prussian di pasar, yang diimport dari dunia Barat. Sebagai pigmen sintetis, warna ini lebih bertahan lama dan menurunkan harga sedemikian rupa sehingga bisa digunakan sebagai bayangan warna dalam cetakan untuk pertama kalinya.

Sebuah gambar yang dicetak sepenuhnya dalam nada warna Prussian melukiskan  pemandangan dengan suasana seperti pada saat sebelum senja. Gambaran ombak dahsyat yang dimasukkan di bagian tengah, dengan gunung Fuji nun jauh di latar belakang, membuat ombak biru membuih di bagian muka memberi dimensi yang lebih dalam bagi gambar ini.”


Aku berkata:

“ Periode ukiyo-e – seni dunia melambung – menggambarkan Jepang yang melambung, atau Jepang yang makmur, yang biasanya menggambarkan segi riang gembira kehidupan kota – termasuk wanita penghibur dan pemain kabuki. Itu adalah masa hedonis dunia Jepang, yakni hidup untuk saat ini, berpesta, dansa, mabuk-mabukan, diiringi membengkaknya perekonomian Edo (Jepang tempo dulu). Seni dunia melambung, ukiyou-e, menanjak dengan permintaan pasar, gambar-gambar kabuki, wanita cantik, geisha, wanita penghibur menjadi populer dan dipajang di rumah-rumah.Sehingga anda juga melambung, karya cetak kayu anda laris terjual saat itu.

Lalu munculah karya cetak kayu anda The Great Wave yang menggambarkan ombak besar yang akan menelan kedua perahu nelayan. Apakah itu merupakan suatu “peringatan tsunami” terhadap dunia melambung yang akan datang dalam beberapa menit?”



Katsushika-san:

“tu bukan tsunami, ombak besar, tapi bukan tsunami. Gambar itu untuk dekorasi, yang memperlihatkan salah satu dari berbagai pandangan terhadap Gunung Fuji yang agung, dalam warna biru Prussian. Bagi saya, dunia lebihlah panoramik, dan kesenangan terletak dalam membuat representasi grafis yang baru bagi setiap fenomena visual. Sehingga, lebih dari 5000 cetakan dari the Great Wave dibuat dan terjual di masa itu.”


Aku berkata:

“Memang anda dikenal sebagai seorang bisnisman yang andal, anda memiliki intuisi yang baik tentang minat populer.  Anda juga pandai mempromosikan diri sendiri, menciptakan lukisan-lukisan sangat besar dengan bantuan murid-murid anda. Di suatu festival di Edo di tahun 1804, anda membuat lukisan potret sepanjang 180 meter dari seorang biarawan Budhis dengan mengunakan sapu sebagai kuas.  Beberapa tahun kemudian, anda mempublikasikan serial buku sketsa yang paling laris dengan lukisan setinggi bangunan 3 lantai menggambarkan pelopor Zen Buddisme.”


Katsushika-san:

“Dari sejak umur 6 tahun, saya punya kecenderungan untuk menggambar segala macam bentuk, dan dari umur 50 gambar-gambar saya sering dipublikasikan; namun sampai umur 70 tahun, tidak satupun yang saya gambar layak diperhatikan…. Jadi ketika saya mencapai 80 tahun, saya berharap untuk dapat meningkatkan mutu, dan di 90 tahun untuk dapat melihat lebih lanjut prinsip-prinsip mendasar dari segala hal, sehingga pada umur 100 tahun saya akan mencapai tingkat ilahi dalam karya seni saya, dan pada umur 110, setiap titik dan setiap sapuan akan nampak hidup.” 


Aku berkata:

“Anda melukis berbagai naga, mahluk yang berumur panjang, lusinan jumlahnya.  Anda  juga melukis burung phoenix, burung kebangkitan, dan gunung Fuji; berganti-ganti, dengan tangguh, bertahan lebih lama dari semua pelukis sejawat anda, penulis kaligrafi, pembuat ukiran cetak kayu, dan penjual buku berwarna yang banting tulang agar bisa hidup di Edo, Tokyo lama.

Anda mengganti nama anda begitu seringnya, sekitar 30 kali, seringkali sehubungan dengan pergantian gaya seni dan prodcuksi anda, yang dipakai untuk membelah-belah hidup anda dalam perioda-perioda.”


Katsushika-san berkata sambil tersenyum:

“Di usia tujuhpuluha-an, saya bernama Manji, yang berarti “hal hal kesepuluhribuan” atau “segalanya”.  Itulah yang ingin saya lukiskan - segalanya. Batu nisan saya akan bertuliskan nama saya yang terakhir, Gakyo Rojin Manji, yang berarti “Orang tua yang Gila akan Lukisan.”


Aku berkata:

“Anda juga membuat gambar-gambar manga.  Ada 15 jilid gambar-gambar manga yang merupakan esiklopedia gambar untuk segala hal di muka bumi ini: kodok, ular, samurai, pegulat sumo, payung, pasar ikan, pembajak sawah, lautan dan teko teh. Anda juga membuat ‘shunga’, atau gambar-gambar ‘musim semi ‘erotis Jepang’, yang cukup gamblang secara seksual seperti “the Dream of Fisherman’s Wife” (Mimpi Isteri Nelayan) yang menjadi salah satu gambar cetak erotis Jepang yang paling tersohor.”  




Katsushika-san:

“Shunga adalah karya seni seksual yang gamblang, yang dibuat dengan kesempurnaan teknik yang persis sama dengan karya seni dalam format lain oleh seniman yang sama. The Dream of Fisherman’s Wife adalah berdasarkan kisah Puteri Tamatori, yang populer di masa Edo.

Dalam cerita ini, Tamori adalah seorang wanita penyelam pencari kerang yang sederhana yang menikah dengan Fujiwara no Fuhito dari klan Fujiwara, dan lalu yang mengejar Ryujin, naga dewa laut, yang mencuri mutiara keluarga suaminya. Bersumpah untuk membantu, Tamatori menyelam menuju dasar laut mencari istana bawah laut Ryugo-jo tempat tinggal Ryujin, namun ia kemudian dikejar oleh dewa itu dan pasukan mahluk bawah lautnya, termasuk para gurita.

Ia membelah buah dadanya untuk menyembunyikan perhiasan itu di dalamnya; hal ini membuatnya bisa berenang lebih cepat dan melarikan diri, namun dia mati karena lukanya sesaat setelah muncul kepermukaan.

Kisah Tamatori adalah bahan populer untuk seni ukiyo-e. Seniman Utagawa Kuniyoshi menciptakan karyanya berdasarkan kisah ini, yang sering menampilkan gurita-gurita, di antara mahluk-mahluk yang  mengejar penyelam yang bertelanjang dada itu.

The Dream of the Fisherman's Wife bukanlah satu-satunya karya seni yang menggambarkan hubungan erotis antara seorang wanita dan gurita. Beberapa ukiran-ukiran netsuke periode awal menunjukan gurita menggumul tubuh wanita telanjang.”


Aku berkata:

“Lalu siapakah pelanggan seni Shunga ini?”


Katsushika-san:

“Di masa Edo bukan hanya lelaki yang menghargai Shunga, namun juga wanita menjadi pelanggannya. Kemudian, jelas ada minat dari yang muda dan tua akan Shunga, tanpa peduli status atau lokasi, dan termasuk orang-orang kota, petani, dan juga intelek kelas satu dan penguasa Shogun.  Kita juga bisa melihat bahwa Shunga bukan sekedar pemuas nafsu seksual, tapi ditujukan untuk menggambarkan berbagai aspek dari seksualitas.”


Aku berkata:

“Terima kasih Katsushika-san atas obrolan yang menarik ini, semoga anda panjang umur dan sukses selalu dengan karya anda….”                                       



Ini adalah wawancara imajiner mengenang Katsushika Hokusai.


Sumber: Wkipedia




Sabtu, 12 Mei 2018

Tokyo Disneyland, di Istana


Tokyo Disneyland adalah Disney park pertama yang dibangun di luar Amerika Serikat, dibuka di tahun 1983.  Taman ini dibangun dengan gaya yang sama seperti Disneyland di California dan Magic Kingdon di Florida.

Taman ini mempunyai tujuh  daerah bertema: the World Bazzar; ke empat Disneylands tradisional: Adventureland, Westernland, Fantasyland dan Tomorrowland; dan dua mini-lands: Critter Country dan Mickey's Toontown.

Banyak dari daerah-daerah itu mencerminkan daerah asli Disneyland yang berdasarkan Filem dan fantasi Disney Amerika. Fantasyland termasuk Peter Pan's Flight, Snow White's Scary Adventures, Dumbo the Flying Elephant, berdasarkan filem Disney dan karakter-karakternya.

Istana Cinderella adalah istana dongeng di pusat Tokyo Disneyland.  Istana itu merupakan ikon internasional terkenal dan atraksi utama untuk taman Disneyland.  Ruang utama dongeng Cinderella terletak di dalam istana itu dimana berbagai karya seni dipamerkan yang memperlihatkan jalan cerita Cinderella itu.

Di lobi dan koridor, pengunjung akan menemukan 8 dinding mozaik yang memperlihatkan bagaimana Cinderella berubah dari puteri yang disayangi , menjadi pembantu rumah tangga, dan kemudian menjadi seorang Puteri.

Dinding mural mozaik itu dirancang oleh Dorothea Redmond dan dibuat dan dipasang di situ oleh satu kelompok seniman yang terdiri dari 6 orang pimpinan ahli mozaik Hanns-Joachim Scharff. Panel- panel ornamen sebesar 4.6 x 3.0 meter  dibentuk melengkung dalam gaya Gothic.

Dibutuhkan 22 bulan untuk menyelesaikan dinding mural tersebut yang terdiri dari lebih dari 300,000  potongan gelas Italui dan smalti kasar (gelas yang dibuat khusus untuk mozaik yang yang dipakai oleh tukang mozaik tradisional Itali) dalam lebih dari 500 warna.

Banyak potongan gelas yang dipotong tangan disambung dengan perak sterling dan emas 14 karat (58%) dan ada potongan-potongan yang sekecil kepala paku payung.

Kalau hiasan mural ini dilihat dengan seksama, orang bisa melihat bahwa setiap saudara tiri Cinderella yang jahat diperlihatkan dengan sedikit warna tambahan- salah satu wajah dari saudara tiri jelas “merah dengan kemarahan”, sedangkan yang lainnya sedikit “hijau dengan cemburu” ketika mereka melihat Cinderella mencoba sepatu kaca.

Sumber: Wikipedia






Sabtu, 05 Mei 2018

Nara, di Kuil Todai-ji.



Nara adalah ibukota daerah Nara yang terletak di daerah Kansai, Jepang. Nara pernah menjadi ibukota Jepang dari tahun 710 ke 794, sehingga periode ini dinamai periode Nara.

Todai-ji atau Kuil Timur Agung, yang terletak di kota Nara, adalah sebuah kompleks kuil Buddhis yang dulunya merupakan salah satu dari Tujuh Kuil Agung yang berkuasa.  Todai-ji adalah kompleks bangunan-bangunan yang mencakup bangunan kayu yang terbesar di dunia, yang ruang utamanya diisi patung tembaga Buddha yang kolosal.


Pengaruh Buddhisme berkembang di era Nara selagi pemerintahan Kaisar Shomu dan permaisurinya Komyo yang menggabungkan doktrin Buddhis dengan kebijaksanaan politik – mempromosikan Buddhism sebagai pelindung utama Negara.
Di tahun 741, menurut laporan diperintahkan oleh keinginan sang Permaisuri, Kaisar Shomu memerintahkan semua kuil–kuil dan biara-biara untuk dibangun di seluruh 66 propinsi Jepang dibawah pengawasan kerajaan baru Todai-ji yang akan dibangun di ibukota Nara.
Kuil Todai-ji yang luas dibangun sebagai simbol kekuasaan kerajaan, dan dibutuhkan lebih dari 15 tahun untuk menyelesaikannya dengan biaya besar. Motif kaisar Shomu untuk membangun Kuil Todai-ji dalam skala demikian besar nampaknya merupakan gabungan antara yang spritual dan yang pragmatis: dalam usahanya mempersatukan berbagai kelompok di Jepang dan di bawah pemerintahan sentralistisnya, Kaisar Shomu juga mempromosikan kesatuan spriritual.
Todai-ji kemudian akan menjadi kuil utama dari sistem biara-biara dan menjadi pusat dari ritual nasional. Pembangunannya mengumpulkan tenaga ahli  bangunan di Jepang  dengan teknologi mutakhir. Bangunan itu adalah arsitektur untuk mengagumkan orang-orang – mempertunjukkan kekuasaan, prestise dan kealiman kerajaan Jepang.
Di tengah kuil Buddhis ini, anda akan menumukan patung Buddha Agung yang terbesar, atau Daibutsu, terbuat dari tembaga. Tinggi patung ini 15 meter dan beratnya 500 ton.
Sang Buddha duduk bersila dengan tapak tangan kanan terjulur ke muka. Sikap ini berarti “ jangan takut” dan “ pengalihan rasa cemburu dan iri” menjadi kebijaksanaan menyeluruh.
Menjangan, yang dianggap juru bicara dewa-dewa dalam agama Shinto, berkeliaran dengan bebasnya di lapangan. Menurut legenda seorang dewa mitologis, Takemikazuchi, turun ke Nara dengan menjangan putih untuk melindungi ibukota Heijokyo.
Menjangan-menjangan yang berada di Nara adalah menjangan Sika atau menjangan bertotol yang juga dikenal sebagai menjangan menunduk karena sering kali menundukkan kepalanya ketika diberi makanan.
Anda akan menemukan banyak menjangan di sini dan anda dapat memberinya makanan, namun anda perlu membeli makanannya dulu.
Sumber: Wikimedia






Rabu, 25 April 2018

Wawancara dengan Akira



Photo: Wikimedia

“Akira-san”, aku berkata,” Saya harus mengakui bahwa filem anda Throne of Blood dan Ran memperkenalkan saya kepada Shakespeare.  Ceritanya sangat mencengangkan, tragis dan gelap namun anda dengan handal menerjemahkannya ke dalam sinema, dalam hitam putih dan berwarna. Di dalam Ran, yang merupakan adaptasi dari King Lear, dunia yang gelap dan keji digambarkan dengan indah secara sinematis, yang menonjolkan warna-warna kostum Jepang dan warna darah. Apakah ini kurang lebih cara anda memandang dunia?”

Akira-san:
“ Tragedi adalah bagian dari kehidupan Jepang yang sering dilanda gempa, tsunami dan perperangan. Gempa bumi Kanto adalah pengalaman yang sangat mengerikan bagi saya, dan juga yang sangat penting. Dari padanya saya mempelajari bukan saja kekuatan alam yang dahsyat, namun juga hal luar biasa yang mendasari hati manusia.  Dasar sungai Edogawa telah melonjak dan memperlihatkan pula-pulau baru dari lumpur. Seluruh distrik itu diliputi oleh debu yang menari dan berpusar yang dengan keabuannya memberi matahari berkesan seperti masa gerhana. Orang-orang yang berdiri di kiri kanan saya di tempat itu mencari segenap dunia bagaikan pelarian dari neraka, dan segenap pemandangan terlihat aneh dan menakutkan. Saya berdiri memegang ke salah satu pohon sakura yang tertanam di sepanjang sungai itu, dan masih gemetar ketika saya memandang tempat itu dan berpikir, “Ini pastilah kiamatnya dunia.”

Aku berkata:
“Di dalam Throne of Blood, yang merupakan adaptasi dari Macbeth, ada adegan dengan tumpukan tengkorak manusia yang membentuk gundukan-gundukan. Apakah seperti ini pemandangan setelah gempa Kanto berlalu?”

Akira-san:
“Ketika gempa bumi itu berlalu, kakak saya Heigo mengajak saya melihat reruntuhan. Daratan yang terbakar terpampang sepanjang mata melihat memiliki warna merah kecoklatan seperti gurun pasir merah. Kebakaran itu membuat semua yang terbuat dari kayu berubah menjadi debu, yang sekarang terbang ke atas dihembus angin. Di tengah hamparan kemerahan yang memuakkan ini tergeletak segala macam mayat yang bisa terbayangkan. Ketika saya secara tidak sengaja mengalihkan pandangan saya, Heigo menghentak saya. “Akira, lihat dengan seksama sekarang.” Saya tidak bisa mengerti maksud kakak saya dan hanya bisa mendongkol atas paksaannya untuk menatap pandangan yang mengerikan ini. Pemandangan yang paling mengerikan adalah ketika kami berdiri di tepi sungai Sumidagawa yang menjadi merah dan memandang kumpulan mayat yang terbenam ke pinggir sungai itu. Saya merasa lutut saya lemas ketika saya mulai pingsan, namun kakak saya meraih kerah saya dan menegakkan saya kembali.  Dia berkata lagi : “Lihat dengan seksama, Akira.” Saya menyerah dengan menggertakkan gigi dan melihat.
Kemudian hari dia berkata: “Kalau engkau menutup mata terhadap penglihatan yang menakutkan, engkau akhirnya akan menjadi takut. Kalau engkau melihatnya secara langsung, tak ada yang ditakutkan.”  Menoleh kembali ke perjalanan itu, saya menyadari bahwa hal itu pasti menakutkan juga bagi kakak saya. Itu adalah perjalanan untuk mengalahkan rasa takut.”

Aku berkata:
“Anda pernah bilang bahwa kakak anda Heigo banyak mempengaruhi anda akan hasrat anda akan dunia sinema. Bagaiman dia mempengaruhi anda?”

Akira-san:
“Heigo adalah seorang narator profesional untuk filem bisu. Tugas narator bukan hanya menceritakan jalan cerita filem, mereka mempertegas bagian yang emosionil dengan memperdengarkan suara dan efek suara dan memberikan penjelasan yang menggugah akan kejadian dan gambaran di layar – lebih menyerupai narator dari teater boneka Bunraku. Narator yang paling populer adalah seorang bintang tersendiri, mengambil tugas di teater tertentu. Di bawah pimpinan narator terkenal Tokugawa Musei, sebuah pergerakan yang sama sekali baru berlangsung. Dia dan kelompoknya menekankan narasi dengan kualitas tinggi dari filem-filem asing yang disutradarai dengan baik.
Dalam hal filem dan sastra saya banyak bergantung kepada anjuran kakak saya. Dia ketagihan sastra Russia. Namun di saat yang sama dia menulis dengan berbagai nama samaran untuk program-program filem. Khususnya dia menulis tentang seni sinema filem asing, yang banyak dipromosikan setelah Perang Dunia Pertama. Saya mengambil perhatian khusus akan filem-filem yang dianjurkan kakak saya. Sejak sekolah dasar saya berjalan sampai sejauh Asakusa untuk menonton filem yang dia bilang bagus.”

Aku berkata:
“Kemudian apa yang terjadi ketika sinema berganti dari filem bisu ke filem bersuara?”

Akira-san:
 “Ketika filem bisu ditinggalkan, demikian juga kebutuhan akan para narator, dan penghidupan Heigo terpukul amat sangat. Pada mulanya semua seperti berjalan dengan baik karena saat itu kakak saya adalah narator utama di sebuah bioskop filem perdana, Taikatsukan di Asakusa, di mana dia mempunyai penggemar tersendiri.
Lalu menjadi jelas bahwa semua filem asing semenjak saat itu akan menjadi filem bersuara, dan teater-teater yang mempertunjukkannya memutuskan secara menyeluruh bahwa mereka tidak membutuhkan para narator lagi. Para narator diberhentikan secara masal, dan, mendengar hal itu, mereka mogok kerja. Kakak saya, sebagai pemimpin pemogokan, menjalani masa yang sangat sulit.”

Aku berkata:
“Seperti apa yang sudah terjadi, perubahan sinema tidak terelakkan, dari bisu ke suara, dari hitam putih ke warna, dan dari seluloid ke digital.”

Akira-san:
Di tengah segala itu, suatu hari saya dengar kakak saya mencoba bunuh diri. Saya kira penyebabnya adalah pahitnya posisinya sebagai pemimpin pemogokan para narator, yang telah gagal. Kakak saya sepertinya menerima fakta bahwa para narator tidak akan lagi diperlukan ketika teknologi perfileman bergerak ke arah bersuara. Ketika dia menyadari perjuangannya akan kalah, fakta bahwa dia harus menerima penugasan sebagai pemimpin pemogokkan pastilah tak terbayangkan sakitnya baginya.

Aku berkata:
“Bukankah dia pernah bilang ke ibu anda bahwa dia akan mati sebelum mencapai umur tigapuluh tahun?”

Akira-san:
“Kakak saya selalu bilang begitu. Dia menganggap kalau seseorang hidup melewati umur tiga puluh tahun, apa yang terjadi padanya hanyalah menjadi lebih jelek dan jahat, karena itu dia tidak berniat begitu. Saya menganggap enteng kata-kata kakak saya, tapi beberapa bulan setelah saya menepis kerisauan ibu saya akan hal itu, kakak saya meninggal dunia. Seperti yang dia janjikan, dia meninggal sebelum mencapai usia tiga puluh. Di usia dua puluh tujuh dia bunuh diri.”

Aku berkata:
 “Ada orang-orang yang bilang bahwa anda seperti kakak anda. Namun dia adalah negatif dan anda positif. Anda membuat filem bagus baik dalam hitam putih maupun filem berwarna, anda sutradara filem Jepang pertama yang menerima penghargaan internasional.”

Alira-san:
“Pada masa itu filem-filem Jepang cenderung terasa hambar, seperti teh hijau disiram di nasi. Saya melihat seorang wanita membaca buku selama pertunjukan filem produk dalam negeri Jepang. Filem-filem Jepang kehilangan masa belianya, kehilangan semangat dan aspirasi yang tinggi. Filem-filem… seperti hasil karya seorang yang letih, tua, yang membuat penilaian sempit, kering dari rasa, dan yang hatinya tersumbat.”

Aku berkata:
“Penghargaan internasional pertama yang anda terima adalah Rashomon yang menerima Golden Lion di festival filem Venesia di tahun 1951. Diperagakan di Jepang abad ke 11, suatu masa ketika api, gempa, sampar, bandit dan perperangan. Suatu masa ketika pemerintah pusat dirongrong oleh pertumbuhan pergerakan politik dan kekuatan militer.  Ada pemberontakan, kebakaran, gempa, dan tindak kriminal yang kejam di ibu kota. Saat itu adalah perioda yang tampaknya tidak ada hukum, dan negara ini berada di tepi jurang kehancuran.
Filem itu dimulai di Gerbang Rashomon, Gerbang Utama kota Kyoto. Gerbang itu dalam kondisi hancur, demikian pula kotanya. Hujan dalam hitam putih mengucur deras ke Gerbang Rashomon memberi kesan dunia yang buram. Gerbang yang hancur, dengan ukurannya yang kelihatannya megah dan fundasinya yang kokoh yang telah menjadi reruntuhan. Pakaian orang-orang di situ lusuh, gelap, kotor dan basah.”

Akira-san:
“Filem itu mendalami hati manusia bagaikan pisau bedah dokter, memperlihatkan seadanya komplesitas yang gelap dan liku-liku yang penuh keganjilan.  Denyutan hati nurani yang ganjil ini akan diperlihatkan dengan menggunakan permainan cahaya dan bayangan yang dirancang dengan seksama. Cahaya dan bayangan, mewakili bukan saja baik dan jahat, tapi juga rasionalitas dan tindakan impulsif. Terutama bagian awal, yang membawa penonton melalui cahaya dan bayangan dalam hutan ke dunia di mana hati manusia tersesat, benar-benar pekerjaan kamera yang mengagumkan dari Miyagawa Kazuo.”

Aku berkata:
“ Jalan cerita dan karakter-karakternya menarik, mencakupi berbagai jenis karakter yang memberi kesaksian-kesaksian yang subyektif, alternatif, memihak diri sendiri dan  bertentangan tentang suatu pembunuhan. Melalui penggunaan yang cerdik dari kamera dan flashbacks, anda mengungkapkan kompleksitas sifat manusia ketika empat orang menceritakan kesaksian yang berbeda tentang pembunuhan seorang samurai dan pemerkosaan isterinya.”

Akira-san:
“Manusia tidak dapat jujur kepada dirinya sendiri tentang dirinya sendiri. Mereka tidak dapat berbicara tentang dirinya sendiri tanpa menghiasinya. Pergelaran ini memperlihatkan manusia seperti itu yang tidak bisa hidup tanpa berbohong untuk membuat dirinya merasa lebih baik dari sebenarnya. Karakter-karakter tersebut bahkan menipu diri mereka sendiri; mereka menolak untuk menghadapi atau mengakui kebenaran karena mereka takut padanya. Pandangan umum adalah bahwa semua lelaki dan wanita seperti itu, dan menjadi sifat manusia untuk berbohong dan menghiasi realitas bahkan bagi dirinya sendiri. Seperti yang dikatakan pendeta di filem itu, kalau manusia tidak saling mempercayai, bumi ini lebih baik menjadi neraka.”

Aku berkata:
“Pada akhir filem itu ada adegan seorang bayi yang ditelantarkan yang menangis sangat keras. Mulanya kita tidak dapat mengerti bagaimana bayi ini datang ke Gerbang Rashomon, sekonyong-konyong saja. Kemudian saya menemukan bacaan bahwa tempat itu selain tempat membuang mayat juga menjadi tempat yang diketahui sebagai tempat meninggalkan bayi-bayi yang tak dikehendaki. Kemudian saya dapat memahami adegan ini, bukanlah suatu adegan yang bukan pada tempatnya seperti yang dikira sebagian penonton.”

Akira-san:
“Kita melihat bahwa si penebang pohon itu menerima bayi yang ditelantarkan dan membawanya pulang untuk dipelihara, walaupun dia sendiri sudah punya 6 orang anak. Hal ini melambangkan bahwa manusia memilih melakukan hal-hal yang baik.  Ini penting, karena penebang pohon itu sepanjang adegan sampai saat itu hanyalah berdiam diri, memilih untuk tidak terlibat dengan apa yang dilihatnya, “Aku tidak ingin terlibat”, katanya. Dengan memilih untuk mengambil anak itu dia memberi harapan kepada pendeta itu bahwa manusia adalah baik adanya dan bahwa dunia bukanlah milik orang-orang yang hanya memikirkan diri sendiri.”

Ini adalah wawancara imajiner untuk mengenang Akira Kurosawa.

Sumber: “Something Like an Autobiography” by Akira Kurosawa